
YATRA, MANTRA, DAN TANTRA
Presentation
•
Religious Studies
•
3rd Grade
•
Practice Problem
•
Medium
Yudi Arta
Used 32+ times
FREE Resource
32 Slides • 4 Questions
1
YATRA, MANTRA, DAN TANTRA
by Yudi Arta
2
RANGKUMAN
Dalam melaksanakan puja bhakti kepada Brahman, umat Hindu diberikan kebebasan untuk dapat mewujudkan bentuk Śraddhā tersebut. Secara umum bentuk bhakti umat Hindu dapat dilakukan dengan melibatkan aspek: yantra, tantra, mantra, yajña, dan yoga. Yantra adalah alat atau simbol-simbol keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian. Tantra adalah kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci.
3
Mantra adalah doa-doa yang harus diucapkan oleh umat kebanyakan, pinandita, pandita sesuai dengan kewenangan dan tingkatannya. Ketiga aspek itu dilaksanakan secara terpadu dengan berbasiskan “ketulus-ikhlasan” sehingga membangun satu aktifitas yang disebut yajña. Yajña yaitu persembahan yang tulus ikhlas atas dasar kesadaran untuk dipersembahkan sehingga dapat meningkatkan kesucian. Jika hal ini dilaksanakan secara intens maka akan mempengaruhi gelombang- gelombang pikiran menjadi stabil dan kuat
Dan Yoga adalah mengendalikan gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Tuhan, yang dapat dilakukan melalui Astangga Yoga (yama, niyama, asana, pranayama, prathyahara, dharana, dhyana, dan samadhi
4
YANTRA
Dalam kamus Sanskerta, kata yantra memiliki arti mengikat, menyimpulkan sebuah peralatan, instrumen, mesin dan sebuah jimat. Yantra umumnya berarti alat untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan. Di dalam pemujaan yantra adalah sarana tempat memusatkan pikiran. Yantra adalah garis-garis lurus, lengkung yang dipadukan yang merupakan basis dari energi alam semesta yang merupakan perwujudan Devata, Selain itu yantra adalah suatu lukisan geometri dari tipe tertentu yang mempunyai makna serta mempunyai bentuk yang berbeda-beda sehingga pada masing-masing bentuk memiliki struktur dan komposisi dari suatu Deva tertentu. Yantra merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang dalam hal melakukan pemujaan serta persembahan kehadapan Tuhan. Secara garis besar Yantra adalah bentuk "niyasa" (simbol = pengganti yang sebenarnya) dibuat untuk mengkonsentrasikan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi
5
Yantra merupakan kebutuhan dasar untuk menggambarkan semua simbol- simbol, semua wujud suci, altar, pura dan mudra. Yantra dipergunakan dalam upacara pemujaan, Devata dihadirkan dengan menggambar melalui yantra dan memanggil nama yang gaib. Yantra dapat diekspresikan ke dalam aspek internal dari setiap bentuk ciptaan. Sifat alami manusia dan binatang-binatang, seperti halnya Deva-Deva dapat diekspresikan melalui yantra
Yantra dapat berbentuk diagram, dilukis atau dipahatkan di atas logam, kertas atau benda-benda lain dan disucikan seperti menyucikan pretima, kemudian dilakukan pemujaan melalui sarana yantra tersebut, seperti pemujaan melalui pratima, arca (patung), dan sebagainya. Mantra yang berbeda digunakan untuk melakukan pemujaan yang berbeda, demikian pula halnya dengan penggunaan yantra-yantra. Menurut Ensiklopedi Hindu, yantra merupakan simbol seperti banten atau alat-alat upacara
6
KEGUNAAN YANTRA
Yantra adalah dipergunakan oleh seseorang yang telah suci (pribadi, pemangku, pendeta atau sulinggih) dalam memuja Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi-Nya. Selain itu, yantra lebih banyak mengejawantah ke dalam berbagai lambang-lambang atau simbol beserta peralatan, sarana dan prasarana ritual bersangkutan.
7
Yantra adalah garis-garis lurus dan garis-garis lengkung yang dipadukan sedemikian rupa, yang merupakan basis dari energi dan alam semesta sebagai perwujudan devata. “Yantra adalah wujudnya, mantra adalah jiwanya dan devata adalah atma yang menghidupkannya. Perbedaan antara yantra dengan devata adalah seperti halnya badan dan roh”. Yantra diyakini merupakan basis alami, atau kebenaran, indeogram daripada tulisan-tulisan yang muncul.
Segala bentuk garis, titik, garis lurus, tanda tambah, lingkaran, segi tiga dan sebagainya mengandung arti simbolis berhubungan dengan gerak alami. Hal ini dapat dikombinasikan lebih kompleks untuk menjadi gambaran kekuatan tertentu atau sifat wujud dalam beberapa aspek penciptaan. Tidak ada bentuk, tidak ada gerakan yang mungkin tidak direduksi melalui pertolongan yantra dengan analisis yang benar dan penggambaran kekuatan penciptaan dari alam semesta yang kita sebut sebagai yang suci. Yantra walapun digambarkan di atas lembaran sebagai suatu yang menumbuhkan kesan bentuk tiga dimensi merupakan wujud dari yantra. Bentuk yantra tiga dimensi itu sendiri sebagai wujud bayangan yang statis dalam gerak, berkombinasi dengan kekuatan hidup yang menggambarkan Devata tertentu. Yantra merupakan kebutuhan dasar untuk menggambarkan semua simbol-simbol, semua wujud suci, semua arca, semua bangunan suci, altar, pura dan mudra.
8
MENULIS YANTRA
Dalam menulis yantra,ada ketentuan yang harus diikuti agar yantra nantinya memiliki energi untuk membantu apa yang diinginkan.Apabila ketentuan penulisan yantra kurang diperhatikan bisa jadi yantra tersebut hanyalah mejadi sebuah goresan tanpa memiliki kekuatan apapun. Ada beberapa hal yang diperhatikan menulis yantra yakni:
Waktu ,Tempat dan arah penulisan, setiap yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda-beda demikian juga dalam pembuatannya disesuaikan dengan waktu dan tempat dalam menulisnya.Menulis yantra di pagi hari dengan menghadap ke matahari terbit, maka yantra ditulis dari arah timur ke barat. yantra ini umumnya digunakan untuk meningkatkan daya spiritual atau untuk kesucian.Membuat yantra untuk mendamaikan biasanya ditulis pada malam hari dengan posisi menghadap ke utara.Yantra untuk mencapai kesuksesan ditulis pada siang hari dengan posisi menghadap ke Barat.Dan berbagai waktu dapat dipergunakan menulis yantra yang mana disesuaikan dengan tujuan yantra yang akan ditulis.
Alat untuk menulis Yantra, biasanya dalam memnulis yantra pena yang digunakan terbuat dari bermacam-macam jenis misalnya pena terbuat tangkai melati,tangkai pohon delima,bulu burung ataupun tebuat dari dari logam.
9
10
Dalam tradisi Hindu, yantra umumnya digunakan untuk melakukan upakara puja dengan mengikut-sertakan bija mantra sesuai yantra tersebut. Banyaknya jenis puja dan setiap puja menggunakan yantra maka penggunaan mantra juga menjadi berbeda. Adapun bentuk-bentuk yantra dalam kesusteraan Hindu antara lain:
a. Bhu Pristha yantra; adalah yantra yang biasanya dibuat secara timbul atau dipahat pada suatu bahan tertentu. Bhu Pristha yantra biasanya hanya ditulis pada selembar kertas atau kain.
b. Meru Pristha yantra; adalah yantra yang berbentuk seperti gunung atau piramid dimana di bagian dasar penampangnya dibuat lebar atau besar semakin keatas semakin mengecil misalnya bentuk meru pada bangunan pelinggih yang ada di Bali.
11
c. Meru parastar yantra; adalah bentuk yantra yang dipotong sesuai garis yantra tersebut atau dipotong bagian tertentu.
d. Ruram Pristha yantra; adalah yantra dimana bagian dasarnya membentuk mandala segi empat dan diatasnya dibentuk sebuah bentuk tertelungkup atau seperti pundak kura-kura
e. Patala yantra: adalah yantra yang di bagian atas bentuknya lebih besaran dari pada bentuk bagian bawahnya yang ‘kecil’. Bentuk ini kebalikan dari meru Pristha yantra
Bentuk-bentuk yantra dikembangkan dan diberi sentuhan artistik modern sehingga yantra tidak lagi kelihatan seperti barang seni atau sebuah perhiasan belaka, tetapi disesuaikan dengan makna dan ciri yantra serta kebutuhan si pemakainya. Sesuai perkembangan jaman sekarang banyak sekali yantra dibentuk kecil, misalanya dalam bentuk kalung, gelang dan cincin
12
Mantra
Ya indra sasty-avrato anuûvàpam-adevayuá,svaiá sa evair mumurat poûyam rayiý sanutar dhei taý tataá.
Terjemahannya;
Tuhan Yang Maha Yang Maha Esa, orang yang tidak beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah lamban dan mengantuk, mati oleh perbuatannya sendiri. Berikanlah semua kekayaan yang dikumpulkan oleh orang semacam itu, kepada orang lain’ (Ågveda VIII. 97.3).
13
dalam bahasa Sanskerta dari kata “Man” artinya pikiran dan “Tra” artinya menyebrangkan. Mantra adalah media untuk menyeberangkan pikiran dari yang tidak suci atau tidak benar menjadi semakin suci dan semakin benar (Wiana, 2004:184). Mantra memiliki tujuan untuk melindungi pikiran dari jalan sesat menuju jalan yang benar dan suci. Menurut Danielou (dalam Titib 2003:437) bahasa yang benar yang merupakan ucapan suci yang digunakan dalam pemujaan disebut dengan mantra. Kata mantra berarti “bentuk pikiran”, sehingga seseorang yang mampu memahami makna yang terkandung di dalam mantra dapat merealisasikan apa yang digambarkan di dalam mantra tersebut
14
Mantra adalah kumpulan dari pada kata-kata yang mempunyai arti mistik, serta umumnya berasal dari bahasa Sanskerta dan dinamai Bijaksara, Mantra disusun dengan menggunakan aksara-aksara tertentu yang diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedangkan huruf-huruf itu sebagai perlambang dari bunyi tersebut. Mantra mempunyai getaran atau suara tersendiri sehingga untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan “suara” atau ritme, dan warna atau bunyi. Apabila mantra tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa lain, mantra itu tidak memiliki warna yang sama, sehingga terjemahannya hanya sekedar kalimat, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan, mantra adalah merupakan susunan kata yang berunsur puisi, seperti ritme dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib, Mantra sebagai sebuah pola gabungan kata-kata bahasa Veda yang diidentikkan dengan Deva atau Devi tertentu.
15
Mantra adalah sebuah kata-kata atau kalimat suci yang bersumber dari kitab suci veda, khususnya dalam teks dharma pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa beserta dengan berbagai macam manifestasi- Nya pada saat pelaksanaan Panca Yajna dalam kehidupan dan penerapan ajaran Hindu.
Mantra sebagai sebuah kekuatan kata yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan keinginan spiritual atau keinginan material, yang dapat dipergunakan untuk kesejahteraan ataupun penghancuran diri seseorang. Mantra seperti suatu tenaga yang bertindak sesuai dengan rasa bakti seseorang yang mempergunakannya. Sabda adalah Brahman, karena itu Ia menjadi penyebab Brāhmanda
16
Mantra adalah catur Veda yaitu: Åg veda, Yayur veda, Sama veda, dan Atharwa veda. Mantra merupakan bunyi, suku kata, kata, atau sekumpulan kata-kata yang dipandang mampu “menciptakan perubahan” seperti misalnya perubahan spiritual. Penggunaan mantra sekarang tersebar melalui berbagai gerakan spiritual yang berdasarkan atau cabang dari berbagai praktik dalam tradisi dan agama ketimuran. Mantra Aum atau Om dalam aksara Devanagari. Mantra merupakan sebuah kata atau kombinasi beberapa buah kata yang sangat kuat atau ampuh, yang didengar oleh orang bijak dan dapat membawa seseorang yang mengucapkannya melintasi lautan kelahiran kembali, inilah yang merupakan arti mantra yang tertingi
17
menyatakan hubungan mantra dan yantra dengan manifestasi mental energi sebagai berikut: Mantra-mantra, suku kata Sanskerta yang tertulis pada yantra, sejatinya merupakan ‘perwujudan pikiran’ yang merepresentasikan keilahian atau kekuatan kosmik, yang menggunakan pengaruh mereka dengan getaran suara. Mantra juga dikenal masyarakat Indonesia sebagai rapalan untuk maksud dan tujuan tertentu “maksud baik maupun maksud kurang baik”. Dalam dunia sastra, mantra adalah jenis puisi lama yang mengandung daya magis.
18
Selain merupakan salah satu sarana komunikasi dan permohonan kepada Tuhan, mantra dengan kata yang berirama memungkinkan orang semakin rileks dan masuk pada keadaan kerasukan/ kesurupan. Dalam kalimat mantra yang kaya metafora dengan gaya bahasa yang hiperbola tersebut membantu perapal melakukan visualisasi terhadap keadaan yang diinginkan dalam tujuan mantra. Kalimat mantra yang diulang-ulang menjadi afirmasi, pembelajaran di level tidak sadar dan membangun apa yang para psikolog dan motivator menyebutnya sebagai sugesti diri. Sedangkan Prapancha Sara menyatakan bahwa: “Brāhmanda diresapi oleh sakti, yang terdiri atas Dhvani, yang juga disebut Nada, Prana, dan sebagainya”. Manifestasi dari Sabda menjadi wujud kasar (Sthūla) itu tidak bisa terjadi terkecuali Sabda itu ada dalam wujud halus (Suksma)
19
Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa Mantra merupakan aspek dari Brahman dan seluruh manfestasi Kulakundalini. Secara filosofis sabda itu adalah guna dari akasa atau ruang ethernal. Tetapi sabda itu bukan produksi akasa. Sabda memanifestasikan diri di dalam akasa. Sabda itu adalah Brahman, seperti halnya di antariksa, gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (Vāyu); karena itu di dalam rongga jiwa atau di rongga tubuh yang menyelubungi jiwa, gelombang bunyi dihasilkan sesuai dengan gerakan- gerakan Praóa vāyu dan proses menarik napas dan mengeluarkan napas.
20
Kata tantra berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna “memperluas”. Tantra merupakan salah satu dari sekian banyak konsep pemujaan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, di mana manusia kagum pada sifat-sifat ke-Maha- Kuasaan-Nya sehingga memiliki keinginan untuk mendapatkan kesaktian.
I MADE YUDIARTA,SPd.
TANTRA
21
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003:1141 menjelaskan tantra ‘tantrisme’ adalah ajaran dalam Agama Hindu yang mengandung unsur mistik dan magis. Mistik dapat dipahami sebagai eksistensi tertinggi kesadaran manusia, di mana ragam perbedaan (“kulit”) akan lenyap, eksistensi melebur ke dalam kesatuan mutlak hal ikhwal, nilai universalitas, alam kesejatian hidup, atau ketiadaan.
Kesadaran tertinggi ini terletak di dalam batin atau rohaniah, mempengaruhi perilaku batiniah (bawa) seseorang, dan selanjutnya mewarnai pola pikirnya. Atau sebaliknya, pola pikir telah dijiwai oleh nilai mistisisme yakni eksistensi kesadaran batin. Meskipun demikian, eksistensi mistik yang sesungguhnya tidaklah berhenti pada perilaku batin (bawa) saja, lebih utama adalah perilaku jasad (solah). Artinya, mistik bukanlah sekedar teori namun lebih kearah manifestasi atau mempraktikkan perilaku batin ke dalam aktivitas hidup sehari-harinya dalam berhubungan dengan sesama manusa dan makhluk lainnya.
22
Diantara kita tentu ada yang tidak ingin menjadi seorang agamis, yang hanya terpaku pada simbol-simbol agama berupa penampilan fisik, jenis pakaian, cara bicara, bahasa, gerak-gerik, bau minyak wanginya. Ada baiknya diantara kita menjadi seorang praktisi (penghayat) akan teori-teori agama sehingga tidak hanya pintar berbicara. Hal itu menjadi hak setiap orang untuk memilih, masing-masing tentu akan membawa dampak yang berbeda-beda. Damarjati Supadjar, mengemukakan bahwa ciri-ciri mistisisme adalah sebagai berikut: Mistisisme adalah persoalan praktik; Secara keseluruhan, mistisisme adalah aktivitas spiritual; Jalan dan metode mistisisme adalah cinta kasih sayang; Mistisisme menghasilkan pengalaman psikologis yang nyata; dan Mistisisme sejati tidak mementingkan diri sendiri
23
Jika kita cermati dari kelima ciri mistisisme di atas dapat ditarik benang merah bahwa mistik berbeda dengan sikap klenik, gugon tuhon, bodoh, puritan, irasional. Sebaliknya mistik merupakan tindakan atau perbuatan yang adiluhung, penuh keindahan, atas dasar dorongan dari budi pekerti luhur atau akhlak mulia. Mistik sarat akan pengalaman-pengalaman spiritual. Yakni bentuk pengalaman-pengalaman halus, terjadi sinkronisasi antara logika rasio dengan “logika” batin. Pelaku mistik dapat memahami fenomena atau eksistensi di luar diri (gaib) sebagai kenyataan yang logis atau masuk akal. Sebab akal telah mendapat informasi secara runtut, juga memahami rumus- rumus yang terjadi di alam gaib.
24
Tantra adalah bagian dari çaktisme, yaitu pemujaan kepada Ibu semesta. Dalam proses pemujaannya, para pemuja ‘çakta’ tersebut menggunakan mantra, yantra, tantra, yoga, dan puja serta melibatkan kekuatan alam semesta dan membangkitkan kekuatan kundalini.” Disebut çaktiisme karena yang dijadikan obyek persembahannya adalah çakti. Çakti dilukiskan sebagai Devi, sumber kekuatan atau tenaga. “Çakti is the symbol of bala or strength” Çakti adalah simbol dari bala atau kekuatan. Pada sisi lain çakti juga disamakan dengan energi atau kala
25
tantrisme lebih sering dinyatakan sebagai suatu paham kepercayaan yang memusatkan pemujaan pada bentuk çakti yang berisi tentang tata cara upacara keagamaan, filsafat, dan cabang ilmu pengetahuan lainnya, yang ditemukan dalam percakapan antara Deva Siwa dan Devi Parwati. Tantra bukan merupakan sebuah sistem filsafat yang bersifat padu (koheren), tantra merupakan akumulasi dari berbagai praktek dan gagasan yang memiliki ciri utama penggunaan ritual, ditandai dengan pemanfaatan sesuatu yang bersifat duniawi, untuk menggapai dan mencapai sesuatu yang bersifat rohani, serta penyamaan atau pengidentikan antara unsur mikrokosmos dengan unsur makrokosmos. tantra memanfaatkan prana (energi semesta) yang mengalir di seluruh alam semesta (termasuk dalam badan manusia) untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan itu bisa berupa tujuan material, bisa pula tujuan spiritual, atau gabungan keduanya. Para penganut tantra meyakini bahwa pengalaman mistis adalah merupakan suatu keharusan yang menjamin keberhasilan seseorang dalam menekuni tantra.
26
Replace this with your body text.
Duplicate this text as many times as you would like.
Some text here about the topic of discussion.
Replace this with a header
27
Tantra dalam perkembangannya sering menggunakan simbol-simbol material termasuk simbok-simbol erotis. Tantra sering diidentikkan dengan ajaran kiri yang mengajarkan pemenuhan nafsu seksual, pembunuhan dan kepuasan makan daging. Padahal beberapa perguruan tantra yang saat ini mempopulerkan diri sebagai tantra putih menjadikan; mabuk-mabukan, makan daging dan hubungan seksual sebagai sadhana dasar pantangan dalam meniti jalan tantra.
28
Konsep ini berpangkal pada percakapan Devi Parwati dengan Deva Siva yang menguraikan turunnya Devi Durga ke Bumi pada zaman Kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku. Dalam beberapa sumber Devi Durga juga disebut “Candi”. Mulai saat itulah pada mulanya muncul istilah candi ‘candikaghra’ untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja Deva dan arwah yang telah suci. Peran Devi Durga dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan perilaku disebut kalimosada ‘kali-maha- usada’ yang artinya Devi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam zaman kekacauan moral, pikiran dan perilaku; sedangkan misi beliau turun ke bumi disebut Kalika-Dharma.
29
Prinsip- prinsip tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik- praktiknya dalam buku Agama. Sebagian buku-buku kuno itu telah hilang dan sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia untuk menjaga kerahasiaan tantra terhadap mereka yang tak memperoleh inisiasi. Setidaknya terdapat 64 jenis kitab yang memuat ajaran Tantrayana, antara lain: Maha nirwana tantra, Kularnawa tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya tantra, Tantra sara, dan sebagainya.
Dalam perkembangan selanjutnya, praktik ajaran tantra dinyatakan selalu mewarnai kebudayaan dan keagamaan yang berkembang di nusantara. Hal ini dapat dilihat dari berbagai jenis peninggalan seperti; prasasti, candi dan arca-arca yang bercorak tantrisme. Kebanyakan isi kitab-kitab tantra masih dirahasiakan dari arti yang sebenarnya dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Orang-orang Hindu, termasuk para sarjana besar pada umumnya tidak mendiskusikan tantra. Berbeda dengan Agama Hindu pada umumnya, sebagian dari tantra percaya kepada kenikmatan hidup material. Tidak seorangpun mengetahui secara tepat kapan ajaran tantra dimulai atau Mahareshi siapa yang memulainya. Bukti menunjukkan bahwa tantrisme ada selama zaman veda. Bahkan Sankara menyebut keberadaannya dalam bukunya Saundarya Lahari.
30
tantra adalah pengetahuan mengenai energi kundalini yang luas yang belum dimanfaatkan di dalam tubuh manusia. Tantra juga melakukan penelitian mengenai ilmu kimia, astrologi, astronomi, palmistry “ilmu meramal melalui rajah tangan”, cosmologi “ilmu tentang alam semesta, awal perkembangan dan akhirnya” bahkan teori atom. Mantra-mantra Hindu yang ada sampai saat ini banyak bernapaskan ajaran tantra. Yantra dan bentuk-bentuk geometral yang dihubungkan dengan mantra, juga merupakan ajaran yang sama pentingnya dari tantra untuk kemanusiaan.
Disepanjang Sushumna, ada tujuh pusat-pusat bathin ‘psychic centers’; mulai dari muladhara chakra. Elemen ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun harus dipercaya berbentuk seperti bunga teratai dengan warna-warna yang berbeda dan masing-masing mengendalikan kegiatan dari organ indriya yang berbeda. Muladhara Chakra berada pada dasar dari tulang belakang, memiliki empat daun bunga dan mengendalikan indra penciuman. Swadishthana Chakra berada pada dasar kelamin, memiliki enam daun bunga dan mengendalikan indra perasa. Manipura Chakra berposisi di seberang pusar, mempunyai sepuluh daun bunga dan mengendalikan pandangan. Anahata Chakra posisinya sejajar dengan hati, mempunyai dua-belas daun bunga dan mengendalikan indra peraba
31
Wisuddha Chakra berada pada jakun kerongkongan, memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan indra pendengaran. Ajna Chakra berkedudukan di antara alis, memiliki dua daun bunga dan mengendalikan pikiran. Sahasrara Chakra terletak di atas titik paling atas dari kepala, mempunyai seribu daun bunga. Seorang Yogi yang mendalami ajaran kundalini dengan memiliki posisi chakra seperti tersebut di atas dapat dinyatakan telah meperoleh ‘kesadaran Kosmis’.
Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan Kundalini atau kekuatan ular. Ia berbaring seperti seekor ular dalam gulungan atau bentuk yang tidak aktif pada dasar dari tulang belakang di Muladhara chakra. Tiga dari saraf yang paling penting dari tubuh manusia, Sushumna, Ida dan Pinggala, juga berawal dari titik yang sama disebut Muladhara chakra.
32
Dipercayai bahwa ketika manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini. Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dalam satu garis lurus. Dipercayai bahwa ketika manusia mengembangkan spiritualitas dengan meditasi atau latihan pranayama, kekuatan ini bangkit ke atas perlahan-lahan melalui saraf Sushumna. Bergeraknya ke atas secara perlahan dari kekuatan Kundalini ini dikenal sebagai kebangkitan dari Kundalini. Kekuatan ini begerak ke atas secara perlahan-lahan dan mantap dalam satu garis lurus.
33
Multiple Choice
Kata tantra berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna
memperbesar
memperkecil
memperluas
mempersempit
34
Multiple Choice
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003:1141 menjelaskan tantra ‘tantrisme’ adalah ajaran dalam Agama Hindu yang mengandung unsur
mistik dan gaib
mistik dan magis
magis dan gaib
sakral dan mistik
35
Multiple Choice
Menurut Kitab-kitab Tantra, ada kekuatan hebat yang sangat rahasia di dalam tubuh manusia yang disebut kekuatan
tantris
sradha
cakra
kundalini
36
Multiple Choice
Wisuddha Chakra berada pada jakun kerongkongan, memiliki enam belas daun bunga dan mengendalikan indra......
pendengaran
perasa
pengelihatan
YATRA, MANTRA, DAN TANTRA
by Yudi Arta
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 36
SLIDE
Similar Resources on Wayground
28 questions
Aqidah Akhlak 4 Kalimat Thayyibah 1
Lesson
•
4th Grade
32 questions
Materi Kelas 4; Bertemu Kisa Gotami
Lesson
•
4th Grade
28 questions
Presntasi dan assesmen akhir bab 5 klas 4 sd
Lesson
•
4th Grade
33 questions
iReady math review
Lesson
•
3rd Grade
31 questions
ADAPTASI MAKHLUK HIDUP
Lesson
•
3rd Grade
29 questions
PPT 24 MEI 2021
Lesson
•
3rd Grade
30 questions
TEMA 5 SUBTEMA 4 KELAS 3
Lesson
•
3rd Grade
30 questions
Metode Penafsiran Al-Qur'an
Lesson
•
University
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
29 questions
Alg. 1 Section 5.1 Coordinate Plane
Quiz
•
9th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
11 questions
FOREST Effective communication
Lesson
•
KG
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade