Search Header Logo
Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia

Assessment

Presentation

•

World Languages

•

5th Grade

•

Easy

Created by

fitriani soleha

Used 1+ times

FREE Resource

13 Slides • 3 Questions

1

Bahasa Indonesia (KD 3.8 dan 4.8)

Tema 8 Subtema 1​

​

By fitriani soleha

2

Menuliskan Peristiwa yang Terdapat pada Teks Nonfiksi

Isi teks biasanya terdiri dari beberapa paragraf dan di dalam paragraf ada beberapa kalimat. Isi teks akan lebih mudah diingat apabila ditulis dalam bentuk peta pikiran. Peta pikiran adalah suatu bagan yang digunakan untuk menggambarkan berbagai gagasan suatu teks.

Kelas 5B SDN Harjamukti 3

3

​Peristiwa dalam teks nonfiksi dapat ditemukan dengan membaca teks secara saksama. Urutan peristiwa dalam teks dapat diketahui dengan cara membaca teks secara berurutan dari awal hingga akhir teks.Dalam mencatat peristiwa, kita dapat memetakannya dengan membuat kolom-kolom paragraf atau peta pikiran.

Kelas 5B SDN Harjamukti 3

4

Bacaan “Semut dan Beruang” pada halaman 11-13.

Semut dan Beruang

​

​Pada suatu hari, Beri si Beruang melihat ke dalam mata air. Beri mengeluh, “Sepertinya air di mata air ini semakin sedikit saja. Pasti bangsa semut terlalu banyak mengambil air!” Beri lalu menundukkan kepala, melihat ke tanah dengan teliti. Ah, ia melihat seekor semut hitam berjalan membawa guci mungil di pundak. “Berhenti, semut!” teriaknya. “Aku tak akan membiarkanmu mengambil air di sumber airku lagi. Kamu sudah terlalu banyak mengambil air. Berhenti atau kucakar kau!” ancam Beri Beruang. Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan teriakan Beri. Ia merangkak ke bawah beberapa helai daun kering. Ia terus berjalan menuju sumber mata air. Beri mencakar dan mengendus daun-daun sambil berteriak, “Tak ada gunanya sembunyi! Aku bisa menemukanmu!”

5

​Semut hitam berteriak dari arah belakang Beri, “Kenapa kamu pelit sekali? Bayi-bayi semut di lembah semut sangat kehausan. Air di mata air ini kan masih banyak sekali. Bahkan masih cukup untuk seribu rusa.” “Dengar kataku!” geram Beri sambil membalik tubuhnya. “Aku tak akan memberikanmu air lagi. Semua semut dilarang mengambil air di sini lagi!” Semut Hitam terdiam sebentar. Lalu katanya, “Apa boleh buat, kalau kau sudah memutuskan begitu! Tapi aku tetap akan mengambil air untuk bayi-bayi semut di lembah!” Beri beruang sangat marah. Namun, Semut Hitam sudah menghilang lagi ke bawah daun-daun kering. Beri mencarinya, tetapi ia tidak melihat apa-apa di rumput. Akhirnya ia kembali dengan jengkel ke sarangnya di dekat pohon oak. Semut-semut yang haus menunggu di lembah semut. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mereka berbaris menuju mata air. Salah satu semut melihat guci air milik Semut Hitam yang tergeletak di jalan.

6

​“Pasti Semut Hitam mendapat masalah. Lihatlah! Ini gucinya, tapi dia tidak tampak!” Mereka memungut guci itu dan terus berjalan.​

Saat itu seekor kelinci mengintip dari balik semak. Kelinci itu mengangkat telinganya dan berbisik, “Jangan pergi ke mata air itu. Pulanglah, kalian dalam bahaya. Beri sedang marah. Ia bilang, air di mata airnya berkurang. Ia akan mencakar semut-semut yang berani mengambil air dari mata airnya!” Akan tetapi semut-semut itu tidak takut. “Mana beruang itu sekarang?” tanya mereka. “Ia sedang di rumahnya beristirahat,” jawab Kelinci. Semut-semut itu berbaris seperti tali sepatu di rumput. Mereka melihat seekor tupai duduk di pohon dan bertanya, “Apa kami sedang berjalan tepat ke arah sarang beruang?” “Ya, ya, ini memang jalan ke arah sarangnya,” jawab Tupai. “Tapi sebaiknya kalian balik ke rumah. Beri beruang dari tadi berteriak terus. Katanya, kalau kalian mengambil air dari mata airnya, ia akan mencakar kalian.”

7

​Akan tetapi semut-semut itu tak mau kembali. Mereka terus berbaris seperti tali sepatu di tanah. Hari hampir malam ketika mereka tiba di depan pohon oak tua. Mereka melihat sekeliling, dan menemukan sebuah retakan di tanah. Mereka masuk ke dalamnya, dan mulai menggali sebuah lubang. “Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menggali?” tanya Tikus Tanah yang merasa terganggu dari tidurnya. “Kami ingin menangkap Beri beruang. Kami sedang membuat jebakan untuknya,” kata para semut. “Bahaya sekali!” seru Tikus Tanah. “Dia pasti sudah menangkap Semut Hitam saudara kami. Ia juga berniat mencakar kami, hanya karena kami mengambil air dari mata air!” kata semutsemut. “Aku akan menolong kalian menggali di bawah sarangnya. Aku pernah hampir tertangkap dia dahulu.” Seharian itu, para semut dan Tikus Tanah menggali lubang di bawah sarang Beri. Mereka terus menggali selama sepuluh hari. Beri beruang sama sekali tidak curiga.

8

Suatu malam di hari kesepuluh, Beri beruang kembali ke sarangnya dengan hati gembira. Ia berhenti di depan rumahnya di pohon oak dan berkata pada dirinya, “Aku sudah makan dan minum sampai kenyang. Satu-satunya yang bikin aku jengkel adalah semut-semut itu. Mereka masih berani mengambil air dari mata airku! Besok akan aku hancurkan lembah semut itu! Akan kucakar mereka dengan cakarku seperti ini…” Beri beruang mulai mencakar ke segala arah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya dan… BRRUUKK… Lantai sarangnya jebol. Beri beruang jatuh ke lubang di bawah sarangnya. Lubang itulah yang telah digali para semut dan Tikus Tanah. Beri Beruang harus terus tinggal di lubang itu, kecuali ada penjaga hutan yang menemukannya. Semut-semut itu akhirnya hidup damai di lembah semut. Saat itu Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah. Ternyata ia hanya terpeleset di jalan. Jadi tidak ada yang merusak kebahagiaan mereka sekarang. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.

(Sumber: bobo.kidnesia.com)

​

9

​

Urutan Peristiwa pada cerita tersebut adalah sebagai berikut :

  • Suatu hari Beri Beruang melihat air berkurang, dan dia menuduh bangsa semut yang mengambil air tersebut.

  • Ketika ada seekor semut yang akan mengambil air Beri menegur semut tersebut.

  • Namun sang semut tidak mempedulikannya.

  • Beri Beruang marah dan mencari sang semut, namun tidak ketemu. Akhirnya ia kembali ke sarangnya.

  • Semut-semut yang haus segera menuju mata air. Salah satu semut melihat guci di tepi jalan dan mengira semut hitam mendapat masalah.

  • Seekor kelinci mencoba memperingatkan semut namun tidak dihiraukannya.

​

10

​​

  • Semut-semut itu malah menuju ke sarang beruang.

  • Seekor tikus memberitahu semut bahwa Beri Beruang sedang marah-marah.

  • ​Semut-semut tersebut terus berbaris menuju sarang berung.

  • Semut-semut dibantu tikus menggali lobang di bawah sarang Beruang.

  • Suatu malam ketika Beruang menghentakan kaki ke lantai sarangnya, dan bruuk lantai sarangnya jebol.

  • Berung jatuh ke lobang yang digali semut.

  • Semut-semut itu akhirnya hidup damai di lembah.

​

11

Open Ended

Jelaskan peristiwa pada cerita “Semut dan Beruang” dengan bahasamu sendiri. Tulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

12

Bunga Paling Berharga

​

Kelas 5B SDN Harjamukti 3

Bacaan “Bunga Paling Berharga” pada halaman 39-40​
Makale tinggal di sebuah desa yang selalu kekeringan. Hujan jarang turun di desa itu sehingga tidak banyak tetumbuhan. Jangankan bunga-bungaan, semak-semak pun jarang ditemui. Suatu hari, sebelum berakhirnya pelajaran, Bu Mala memberi seluruh siswanya masing-masing sebuah buku tulis. Buku tulis itu halaman-halaman dalamnya berwarna putih dan bersampul merah. Indah sekali. “Buku tulis itu untuk kalian. Kalian boleh menulis apa saja di dalamnya,” kata Bu Mala. “Saya mau menuliskan catatan harian di buku ini,” kata Nola. “Saya mau menggambar wajah setiap orang yang saya temui,” kata Wendi yang hobi menggambar. “Saya mau membuat herbarium,” kata Makale. Bu Mala memandang Makale dengan penuh keheranan mendengar ucapan Makale. “Kamu mau membuat herbarium?” tanya Bu Mala kepada Makale. “Ya. Seorang pelancong pernah menunjukkan buku herbariumnya kepada saya. Herbarium itu sangat indah,” jawab Makakale. “Tetapi, untuk membuat herbarium kamu akan membutuhkan banyak daun. Tahukah kamu?”
tanya Bu Mala. ​

13

Kelas 5B SDN Harjamukti 3

Makale menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Atau bunga...” “Di mana kamu akan mencarinya?” tanya teman-teman Makale. Makale memandang keluar jendela. Tidak tampak tanaman sama sekali. “Saya akan mendapatkannya,” kata Makale sambil tersenyum. Hari berganti hari. Waktu berlalu dengan cepat. Buku tulis merah milik para siswa Bu Mala telah berisi berbagai cerita, gambar, dan foto. Hanya buku tulis Makale yang masih kosong. Pada suatu hari, sebuah awan hitam berhenti di atas desa tempat tinggal Makale. Tak lama kemudian awan hitam itu mencurahkan hujan yang sangat deras. Benih-benih tumbuhan yang terkubur di dalam tanah tandus desa itu pun tumbuh. Sepetak kebun terbentuk. Bunga-bunga merah kecil memenuhi petak kebun itu. Makale senang. Dipetiknya sekuntum bunga merah. Hanya satu. Kemudian, ditempelkannya bunga itu di dalam buku tulis merahnya. Hari berikutnya, bunga-bunga lainnya telah layu karena terbakar matahari. Di dalam kelas, Makale berseru dengan gembira. “Saya sudah membuat herbarium saya, Bu Mala.” Bu Mala membuka buku tulis merah Makale. Herbarium itu hanya satu halaman. Hanya ada satu bunga di dalamnya. Namun, bunga itu paling berharga di dunia karena hanya mekar sehari dalam setahun.

Disadur dari “52 Dongeng di hari Kamis”; Jakarta: BIP.​

14

Open Ended

Tulislah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada cerita " Bunga Paling Berharga"

15

Open Ended

Tuliskan urutan-urutan peristiwa pada cerita "Bunga Paling Berharga".

16

TERIMA KASIH
ANAK HEBAT

Kelas 5B SDN Harjamukti 3

pattern-tertiary
Bahasa Indonesia (KD 3.8 dan 4.8)

Tema 8 Subtema 1​

​

By fitriani soleha

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 16

SLIDE