Search Header Logo
HINDARI SIFAT FOYA-FOYA,RIYA',SUM'AH TAKABUR HASAD

HINDARI SIFAT FOYA-FOYA,RIYA',SUM'AH TAKABUR HASAD

Assessment

Presentation

Education

9th - 12th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

GIAN PUTRADINATA

Used 2+ times

FREE Resource

8 Slides • 0 Questions

1

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

LAMPIRAN MATERI

ISRAF-TABZIR, RIYA-SUM’AH, TAKABUR, HASAD.

1. Menghindari Sifat Hidup Berfoya-Foya

Kebanyakan manusia memiliki cenderungan terhadap uang dan harta melimpah. Meskipun

ada manusia yang tidak begitu tertarik dengan harta duniawi, mereka berlaku zuhud dengan lebih
mengutamakan kehidupan akhirat. Jenis manusia seperti ini jumlahnya sangatlah kecil. Secara
kodrat alamiah, manusia memang memiliki tabiat mencintai harta. Pada saat uang dan hartanya
melimpah, perilakunya bisa berubah menjadi lebih konsumtif. Ia akan mudah membuat keputusan
untuk membeli barang-barang mewah, meskipun barang tersebut kurang begitu penting bagi diri dan
keluarganya.

Sesungguhnya gaya hidup seperti itu salah, karena termasuk kategori menghamburkan harta,

pemborosan dan berfoya-foya. Berfoya-foya merupakan pola pikir, sikap dan tindakan yang tidak
seimbang dalam memperlakukan harta.

Harta merupakan cobaan bagi pemiliknya, jika harta digunakan dengan baik maka harta bisa

bermanfaat baginya, sebaliknya kalau harta dikelola secara salah maka akan mencelakakannya. Harta
bisa menjadi tercela jika dijadikan tujuan utama oleh pemiliknya, dan dalam proses mencarinya tidak
diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. Islam melarang perilaku berlebih-lebihan atau
melampaui batas (israf) dan boros (tabzir) dalam membelanjakan harta, keduanya termasuk
perbuatan setan. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk hidup bersahaja, seimbang dan
proporsional. Perhatikan Q.S al-Isra’/17: 26-27 berikut ini!

اًريِذْبَ ت ْرِ ذَبُ ت َلََو ِليِبَّسلٱ َنْبٱَو َينِكْسِمْلٱَو ۥُهَّقَح َٰبَْرُقْلٱ اَذ ِتاَءَو

َّشلٱ َنَٰوْخِإ ۟آوُ ناَك َنيِرِ ذَبُمْلٱ َّنِإاًروُفَك ۦِهِ بَرِل ُنَٰطْيَّشلٱ َناَكَو ۖ ِينِطَٰي

Artinya: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada
Tuhannya”. (Q.S al-Isra’/17: 26-27).
Ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa pemboros merupakan saudara setan. Berkaitan dengan
sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas (israf), Allah Swt. berirman dalam Q.S al-Furqan/25: 67
berikut ini

اًماَوَ ق َكِلٰذ َْينَب َناَكَو اْوُُتُْقَ ي َْلََو اْوُ فِرْسُي َْلَ اْوُقَفْ نَا ٓاَذِا َنْيِذَّلاَو

Artinya: “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang orang yang apabila
menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara
wajar”. (Q.S al-Furqan/25: 67).

Kata tabzir diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur`an, sedangkan kata israf diulang

sebanyak dua puluh tiga kali dengan berbagai bentuknya. Ayat di atas menyatakan secara tegas
larangan tabzir dan israf. Sikap tabzir dan israf memiliki kemiripan perngertian dan makna. Tabzir
(boros) adalah perilaku membelanjakan harta tidak pada jalannya. Dengan kata lain, yang dimaksud
pemborosan yaitu mengeluarkan harta tidak haq. Apabila seseorang mengeluarkan harta sangat banyak
tetapi untuk hal-hal yang dibenarkan oleh Islam, maka bukan termasuk pemborosan. Sebaliknya, jika
seseorang mengeluarkan harta meskipun sedikit, tetapi untuk hal-hal yang dilarang agama, maka ia
termasuk pemboros.

Allah Swt. sangat tidak menyukai seseorang yang mempergunakan harta secara berlebihan

(israf) dan tanpa manfaat. Mereka menghamburkan harta sia-sia dan melupakan hak-hak orang lain
atas hartanya. Seseorang disebut berperilaku israf apabila ia membelanjakan harta melewati batas
kepatutan menurut ajaran Islam, dan tidak ada nilai manfaatnya untuk kepentingan dunia maupun
akhirat. Sifat israf ini dipengaruhi oleh godaan uang dan harta pada seseorang yang lemah imannya.

Contoh perilaku tabzir dan israf
Berikut ini beberapa contoh perilaku tabzir dan israf daalam kehidupan sehari-hari:

Contoh tabzir dan israf dalam makan dan minum:

2

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

Seseorang mengambil banyak makanan dan minuman pada suatu acara tasyakuran. Ia takut

tidak mendapat bagian, tanpa sama sekali tidak mempertimbangkan daya tampung perut. Akhirnya ia
tidak sanggup menghabiskan makanan dan minuman tersebur.
Contoh tabzir dan israf dalam berbicara:

Berkata-kata yang tidak penting dan tidak perlu, baik secara langsung bertemu dengan lawan

bicara ataupun melalui media elektronik, termasuk media sosial. Contoh lain misalnya,
menggunakan kuota internet untuk searching dan chatting hal-hal yang tidak perlu.
Contoh tabzir dan israf dalam penampilan:

Memakai perhiasan emas di kedua tangan, leher, jari jemari, dan kaki pada saat pertemuan

warga. Berpakaian mahal, mewah lengkap dengan tas import dari luar negeri. Selain di atas, masih
banyak lagi contoh perilaku tabzir dan israf dalam kehidupan sehari-sehari.
Dampak negatif sifat hidup berfoya-foya

Banyak dampak negatif dari sikap hidup berfoya-foya, di antaranya:

1) Terlalu sibuk mengurusi kebahagiaan duniawi, melalaikan akhirat

Dunia dianggap sebagai tempat persinggahan terakhir, padahal akhiratlah tujuan akhir

kehidupan manusia. Mereka sibuk mencari kebahagiaan dunia dengan menumpuk-numpuk harta
hingga melupakan hidup di akhhirat
2) Menimbulkan sifat iri, dengki, dan pamer

Membelanjakan secara berlebihan dan boros serta memamerkannya kepada orang lain akan

memicu sifat iri, dengki dari orang lain. Sifat ini akan memicu konlik di tengah masyarakat
3) Dapat memicu frustasi apabila hartanya habis

Pengeluaran harta yang tidak terkontrol karena memperturutkan gengsi dan hawa nafsu akan

mengakibatkan frustasi. Mereka sangat khawatir apabila hartanya habis dan tidak bisa lagi membeli
sesuatu untuk memuaskan keinginannya.
4) Berpotensi menimbulkan sifat kikir

Kekhawatiran berlebihan atas kekurangan harta membuat mereka bersifat kikir dan tidak

mau berbagi dengan sesama. Karena takut jatuh miskin, akhirnya tidak ada kepedulian kepada fakir
miskin yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Cara menghindari sifat hidup berfoya-foya:
Agar terhindar dari sifat hidup berfoya-foya, lakukanlah hal-hal berikut

ini
1)Membelanjakan harta sesuai dengan skala priorias kebutuhan

Antara kebutuhan primer, sekunder dan tersier harus dibuat prioritas mana yang harus dipenuhi

terlebih dahulu.
2) Membiasakan bersedekah dan membantu orang lain

Harta kita yang sebenarnya adalah harta yang disedekahkan kepada orang lain. Kebiasaan

bersedekah akan membangkitkan rasa empati kepada orang lain. Lebih dari itu, akan mempererat
hubungan antar sesama warga masyarakat.
3) Bergaya hidup sederhana

Hidup apa adanya akan membuat hati dan pikiran tenteram. Ia akan merasa bahagia apabila

melihat orang lain hidup berkecukupan. Dan akan tergerak untuk membantu orang lain yang
membutuhkan.
4) Selalu bersyukur

Menerima dengan senang hati atas semua karunia dari-Nya akan membuahkan ketenangan

batin. Seseorang yang syukur bil qalb (syukur dalam hati) akan menyadari sepenuhnya bahwa segala
nikmat itu adalah bentuk kasih sayang Allah Swt. Kemudian tumbuh keyakinan bahwa Allah Swt.
telah menjamin rejeki semua mahkluk ciptaan-Nya. Tidak mungkin Allah Swt. akan membiarkan
manusia hidup sengsara. Di samping syukur bil qalb, bersyukur juga dapat diungkapkan bil lisan,
yakni dengan mengucapkan kalimat tahmid (alhamdulillah) dan berdoa kepada Allah Swt. dan
syukur bil arkan, yakni dengan menggunakan nikmat sesuai peruntukkannya.
5) Bertindak selektif dan terencana
Merencanakan kehidupan di masa datang akan membuat seseorang lebih selektif dalam memutuskan
penggunaan harta. Membiasakan diri menyisihkan uang saku untuk ditabung merupakan sikap bijak.
Lebih dari itu, sikap hemat dan bijak dalam menggunakan kuota internet juga harus dibiasakan
dalam kehidupan sehari-hari.

3

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

6) Bersikap rendah hati

Harta merupakan titipan dari Allah Swt. agar dipergunakan di jalan-Nya. Sesungguhnya

kehidupan dunia merupakan ladang untuk beramal demi kebahagiaan akhirat. Oleh karenanya,
seseorang harus menjauhi perasaan paling kaya dan paling hebat. Kekayaan seseorang di muka bumi
ini tidak ada artinya dibanding kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Sebagai pelajar seharusnya kalian
menghindari perasaan paling pintar, paling kuat dan paling hebat di kelas atau sekolah.

Islam melarang umatnya bersifat berlebihan dan kikir. Antara sifat berlebihan dan kikir

merupakan dua kutub yang berlawanan, namun keduanya merupakan sifat tercela yang harus
dihindari. Orang kikir atau bakhil akan mementingkan diri sendiri, yang penting dirinya kecukupan,
semua kebutuhan terpenuhi, dan ia tidak peduli atas derita yang dialami orang lain. Ia tidak akan mau
mengorbankan hartanya, tenaganya, waktunya untuk kepentingan agama Islam. Kebakhilan akan
merugikan diri sendiri, bahkan mendapat siksa di akhirat kelak. Perhatikan Q.S. Ali Imran/3: 180
berikut ini

هِلْضَف ْنِم ُٰ للّا ُمُهىٰتٰا ٓاَِبِ َنْوُلَخْبَ ي َنْيِذَّلا ََّبََسَْيَ َلََو ٖ َوُه ْلَب ۗ ْمَُّلَّ اًْيَْخ َوُه هِب اْوُلَِبَ اَم َنْوُ قَّوَطُيَس ۗ ْمَُّلَّ ٌّرَش ٖ َمْوَ ي

ْيِْبَخ َنْوُلَمْعَ ت اَِبِ ُٰ للّاَو ِۗضْرَْلَاَو ِتٰوٰمَّسلا ُثاَْيِْم ِٰ ِللَّو ۗ ِةَمٰيِقْلا

٠ Artinya: “Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada
mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi
mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat.
Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang
kamu kerjakan." (Q.S. Ali Imran/3: 180)

Rasululullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis berikut ini;

Artinya: “Dari Jabir bin Abdullah r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jauhilah (takutlah) oleh
kalian perbuatan zalim, karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan Jauhilah
oleh kalian sifat kikir, karena kikir telah mencelakakan umat sebelum kalian, yang mendorong
mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan bagi mereka”. (H.R.
Muslim)

2. Menghindari Sifat Riya’ dan Sum’ah

Secara

bahasa,

sum’ah

berarti

memperdengarkan.

Secara

istilah,

sum’ah

yaitu

memberitahukan atau memperdengarkan amal ibadah yang dilakukan kepada orang lain agar dirinya
mendapat pujian atau sanjungan. Sedangkan riya’, secara bahasa berarti menampakkan atau
memperlihatkan. Secara istilah, riya’ yaitu melakukan ibadah dengan niat supaya mendapat pujian
atau penghargaan dari orang lain.

Riya’ dan sum’ah merupakan sifat tercela yang menyebabkan amal ibadah menjadi sia-sia.

Sifat riya’ dan sum’ah bisa muncul pada diri seseorang pada saat melakukan ibadah ataupun
setelah melakukannya. Rasulullah Saw. menegaskan bahwa riya’ termasuk syirik yaitu syirik yang
samar dan tersembunyi. Hal ini dikarenakan sifat riya’ terkait dengan niat dalam hati, sedangkan isi
hati manusia hanya diketahui oleh Allah Swt. Perhatikan irman Allah Swt. dalam Q.S. al-Baqarah/2:
264 berikut ini

هَلاَم ُقِفْنُ ي ْيِذَّلاَك ۙىٰذَْلَاَو ِ نَمْلِبِ ْمُكِتٰقَدَص اْوُلِطْبُ ت َلَ اْوُ نَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّ يَٰٓيٰ ٖ ُنِمْؤُ ي َلََو ِساَّنلا َءَۤئَِر ِۗرِخْٰلَا ِمْوَ يْلاَو ِٰ للِّبِ

هُلَ ثَمَف ٖ هَباَصَاَف باَرُ ت ِهْيَلَع ٍناَوْفَص ِلَثَمَك ٖ هَكََتَُف لِباَو ٖ ىِدْهَ ي َلَ ُٰ للّاَو ۗ اْوُ بَسَك اَّ ِمِ ٍءْيَش ىٰلَع َنْوُرِدْقَ ي َلَ ۗ اًدْلَص

نْيِرِفٰكْلا َمْوَقْلاَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-
nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria
(pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya
(orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat,
maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka
kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kair." (Q.S. al-Baqarah/2: 264)

Dalam Musnad Ahmad terdapat sebuah hadis Nabi Saw. berikut ini:

4

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

Artinya: “Dari Mahmud bin Labid berkata, Rasulullah Saw. berkata: “Syirik kecil adalah suatu
penyakit yang sangat berbahaya bagi kalian, lalu para sahabat bertanya, apakah syirik kecil itu ya
Rasulullah? Jawab beliau: Riya’, besok di hari kiamat, Allah menyuruh mereka mencari pahala
amalnya, kepada siapa tujuan amal mereka itu, irman-Nya, ‘carilah manusia yang waktu hidup di
dunia, kamu beramal tujuannya hanya untuk dipuji atau disanjung oleh mereka, mintalah pahala
kepada mereka itu”. (H.R. Ahmad).
Syarat diterimanya amal ada tiga:

1)Beramal dengan landasan ilmu,
2)Berniat ikhlas karena Allah Swt.,
3)Melakukan dengan sabar dan ikhlas

Riya’ dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu riya’ khalish dan riya’ syirik. Riya’ khalish yaitu

melakukan ibadah hanya untuk mendapat pujian dari manusia semata. Sedangkan riya’ syirik yaitu
melakukan suatu perbuatan karena niat menjalankan perintah Allah, dan sekaligus juga karena ingin
mendapatkan sanjungan dari orang lain.

Ditinjau dari bentuknya, riya’ dibagi menjadi dua, yaitu riya’ dalam niat dan riya’ dalam

perbuatan. Beberapa contohnya tersaji dalam tabel berikut ini!

Contoh Perbuatan

Riya’ dalam niat

Riya’ dalam perbuatan

Seseorang berkata bahwa ia ikhlas
beribadah karena Allah padahal
dalam

hatinya tidak

demikian,

maka hal ini termasuk riya’ dalam
niat.

1. Seseorang memperlihatkan badan yang kurus dan wajah pucat agar

disangka sedang berpuasa dan menghabiskan waktu malam untuk shalat
tahajud.

2. Seseorang memakai baju muslim lengkap dengan surbannya agar disangka

sebagai orang shaleh.

Seseorang memperlihatkan tanda hitamdi dahi agar disangka sebagai ahli
sujud.

Riya’ dan sum’ah merupakan penyakit hati yang merusak amal seseorang. Kedua sifat ini

sulit terdeteksi, namun memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat atau dirasakan. Seseorang yang bersifat
riya’ dan sum’ah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1)Selalu menyebut dan mengungkit amal baik yang pernah dilakukan
2)Beramal hanya sekadar ikut-ikutan bersama orang lain
3)Malas atau enggan melakukan amal shaleh apabila tidak dilihat oleh orang lain
4)Melakukan amal kebaikan apabila sedang berada di tengah khalayak ramai
5)Amalannya selalu ingin dilihat dan didengar agar dipuji oleh orang lain
6)Ekspresi amal berbeda karena sedang dilihat oleh orang lain atau tidak
7)Tampak lebih rajin dan bersemangat dalam beramal saat mendapat sanjungan, sebaliknya

semangatnya akan turun apabila mendapat cemoohan dari orang lain
Perbuatan riya’ dan sum’ah akan berdampak negatif bagi pelakunya dan masyarakat secara

umum. Dampak negatif tersebut antara lain:

1)Muncul rasa tidak puas atas amal yang telah dikerjakan
2)Muncul rasa gelisah saat melakukan amal kebaikan
3)Merusak nilai pahala dari suatu ibadah, bahkan bisa hilang sama sekali
4)Mengurangi kepercayaan dan simpati dari orang lain
5)Menyesal apabila amalnya tidak diperhatikan oleh orang lain
6)Menimbulkan sentimen pribadi dari orang lain karena adanya perasaan iri dan dengki

Mengingat dampak negatif dari sifat riya’ dan sum’ah di atas, maka sudah seharusnya umat

Islam menghindari sifat tersebut. Memang bukan perkaramudah, sebab pada dasarnya manusia itu

5

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

senang mendapat sanjungan dan pujian. Berikut ini beberapa cara menghindari sifat riya’ dan
sum’ah:
1) Meluruskan niat

Semua amal tergantung kepada niat. Apabila niatnya karena Allah Swt, maka akan diterima

amal tersebut. Sebaliknya, apabila ada keinginan agar dipuji oleh orang lain, maka akan sia-sia. Oleh
karenanya, sangat penting meluruskan niat sebelum melakukan amal ibadah.
2) Menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt.

Kebanyakan manusia sering melupakan nikmat yang diterima dari Allah Swt. Mereka

beranggapan bahwa harta dan kedudukan yang diperoleh merupakan hasil kerja kerasnya. Anggapan
seperti inilah yang memicu sifat riya’ dan sum’ah. Padahal, semua itu adalah amanah dan pemberian
dari Allah Swt.
3) Memohon pertolongan Allah Swt.

Manusia merupakan makhluk lemah dan penuh keterbatasan. Tak mungkin ia dapat

menyelesaikan semua masalah tanpa bantuan pihak lain. Posisinya sebagai makhluk yang lemah
mengharuskannya berdoa memohon pertolongan dari-Nya, termasuk mohon kekuatan agar terhindar
dari sifat riya’ dan sum’ah
4) Memperbanyak rasa syukur

Pada hakikatnya setiap amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang merupakan karunia dari

Allah Swt. Maka sudah seharusnya kita bersyukur kepada-Nya. Dengan sering mengungkapkan
syukur ini, kita tidak akan berharap mendapat pujian dari orang lain. Jangan sampai kita pamer ibadah
hanya karena ingin memperoleh banyak teman, atau agar memperoleh jabatan tinggi. Ingatlah bahwa
pujian dari manusia hanya pujian semu, bersifat sementara dan ada maksud tertentu.
5) Memperbanyak ingat kematian

Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan akhirat kekal abadi. Pujian dari manusia

tidak punya arti apapun. Dan tidak mungkin menjadi sebab diperolehnya pahala dari Allah Swt.
Justru pujian dari manusia berpotensi membuat kita lalai, dan menjerumuskan ke neraka.
6) Membiasakan hidup sederhana

Meskipun memiliki uang, harta melimpah, pangkat dan kedudukan tinggi, haruslah tetap

hidup sederhana. Kesederhanaan akan membuat seseorang menjadi lebih ikhlas dalam melakukan
setiap amal ibadah. Adapun pujian dari orang lain tidak akan berpengaruh terhadap keikhlasannya.
Benteng amal itu ada tiga, yaitu
(1). Merasa bahwa hidayah itu datangnya dari Allah Swt., (2). Berniat meraih ridha Allah Swt.
agar dapat mengalahkan hawa nafsu,
(3). Berharap pahala dari Allah Swt. dengan menghilangkan riya’ dan sum’ah.
3. Menghindari Sifat Takabbur

Takabur adalah sikap seseorang yang menunjukkan sifat sombong atau merasa lebih kuat,

lebih hebat dibanding orang lain. Orang takabur selalu meremehkan dan merendahkan orang lain,
tidak mau mengakui kehebatandan keberhasilan orang lain, dan menolak kebenaran. Pendapat orang
lain dianggap tidak ada gunanya, dan tak mau menerima saran dari orang lain. Sifat takabur termasuk
penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah Swt., karena membuat seseorang ingin terus menerus
menunjukkan kehebatan dirinya di hadapan orang lain.

Allah Swt.berirman dalam Q.S al-A’raf/7: 40 berikut ini

َلََو ِءۤاَمَّسلا ُباَوْ بَا ْمَُلَّ ُحَّتَفُ ت َلَ اَهْ نَع اْوَُبَْكَتْساَو اَنِتٰيِٰبِ اْوُ بَّذَك َنْيِذَّلا َّنِا ِ مَس ِْفِ ُلَمَْلْا َجِلَي ٰ تَّح َةَّنَْلْا َنْوُلُخْدَي

ْينِمِرْجُمْلا ىِزَْنَ َكِلٰذَكَو ۗ ِطاَيِْلْاَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri
terhadapnya, tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk
surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada
orang-orang yang berbuat jahat.” (Q.S al-A’raf/7: 40).

Bahkan dalam Q.S al-A’raf/7: 36 secara tegas dinyatakan bahwa orang takabur akan

dimasukkan ke neraka.

نْوُدِلٰخ اَهْ يِف ْمُه ِِۚراَّنلا ُبٰحْصَا َكِٕى
ٰۤلوُا ٓاَهْ نَع اْوَُبَْكَتْساَو اَنِتٰيِٰبِ اْوُ بَّذَك َنْيِذَّلاَوَ

6

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

Artinya: “Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri

terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”. (Q.S al-A’raf/7: 36)
Ayat di atas diperkuat oleh sebuah hadis berikut ini

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. berkata: ‘Rasulullah Saw. bersabda, Allah Yang Maha Mulia

lagi Maha Agung berirman: ‘Kemuliaan adalah pakaian Ku dan kebesaran (kesombongan) adalah
selendang-Ku, maka barangsiapa yang menyaingi Aku dalam salah satunya maka Aku pasti akan
menyiksanya” (Riwayat Muslim)

Sifat takabur akan berdampak negatif bagi kehidupan seseorang, di antaranya:

1)Dibenci oleh Allah Swt. dan rasul-Nya
2)Dibenci dan dijauhi oleh masyarakat
3)Mata hatinya terkunci dari memperoleh hidayah kebenaran
4)Mendapatkan siksa dan kehinaan di akhirat
5)Dimasukkan kedalam neraka

Karena sifat takabur sangat dibenci oleh Allah Swt. maka tentunya seseorang harus berusaha

sekuat tenaga untuk menghindari sifat tersebut. Beberapa cara menghindari sifat takabur di antaranya
adala:
1) Menyadari kekurangan dan kelemahan dirinya

Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, penting untuk

menyadari kekurangan dan kelemahan tersebut agar tidak merasa lebih hebat dari orang lain.
2) Menyadari bahwa hidup di dunia hanya sementara

Pada saat yang sudah ditentukan, kematian akan menjemput setiap manusia. Itu artinya,

kehidupan di dunia hanya sebentar dan sementara. Banyak orang menjadi takabur karena melupakan
hal ini. Mereka mengira bahwa kehidupan dunia kekal selamanya, hingga lupa bekal hidup di akhirat.
3) Berusaha selalu menghargai orang lain

Sikap menghargai orang lain dapat ditumbuhkan dengan selalu berpikir positif. Kekurangan

dan kelemahan yang ada pada orang lain bukan untuk dicaci maki, tetapi untuk dimaklumi dan dibantu
sesuai kemampuan. Jika sudah mampu menghargai orang lain, maka dengan sendirinya sifat
takabur akan hilang.
4) Bersifat rendah hati (tawadhu’)

Rendah hati merupakan lawan dari sifat takabur. Setiap kelebihan yang dimiliki oleh

seseorang merupakan karunia dari Allah Swt. Bisa saja nikmat dan karunia tersebut dicabut oleh Allah
Swt. dari diri seorang hamba.
5) Ikhlas dalam melakukan ibadah

Allah Swt. akan menerima amal ibadah yang dilakukan dengan ikhlas. Banyak melakukan

amal ibadah dapat menjerumuskan seseorang kepada sifat takabur. Hal ini bisa dihindari dengan selalu
berusaha ikhlas dalam melakukan ibadah. Keikhlasan dalam beribadah akan menghilangkan sifat
takabur.

4. Menghindari Sifat Hasad

Setiap manusia diciptakan oleh Allah Swt. memiliki kekurangan dan kelebihan masing-

masing. Seseorang yang memiliki banyak kelebihan bukan berarti tanpa kekurangan. Demikian pula
sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak kekurangan bukan berarti tanpa kelebihan. Tak seorang
pun di dunia ini yang sempurna. Ketidakmampuan dalam mengelola kekurangan diri serta berlebihan
dalam menunjukkan kelebihan akan berakibat muncunya sifat hasad.

Hasad adalah sifat seseorang yang merasa tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain

karena memperoleh suatu nikmat dan berusaha menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini muncul
pada diri seseorang dikarenakan adanya rasa benci terhadap segala sesuatu yang dimiliki orang lain,
baik berupa harta benda ataupun jabatan. Misalnya, ketika ada teman membeli gadget baru, kalian
merasa tidak senang dengan keadaan tersebut, sedangkan kalian belum bisa mempunyai barang
tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa ada dua sifat hasad yang dibolehkan, hal ini sesuai dengan sabda

Nabi Saw. berikut:

Artinya: “Dari Abdullah bin Mas’ud r.a., berkata: “Nabi Saw. bersabda: ‘Tidak boleh hasad

kecuali pada dua orang: (1). Orang yang diberi harta kekayaan oleh Allah lalu digunakan untuk

7

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

menegakkan haq dan kebaikan, (2). Orang yang diberi oleh Allah hikmah (ilmu) lalu diamalkan dan
diajarkan kepada orang lain.” (HR. Bukhari)
Allah Swt. secara tegas melarang sifat hasad. Perhatikan Q.S an-Nisa’/4: 32 di bawah ini:

هِب ُٰ للّا َلَّضَف اَم اْوَّ نَمَتَ ت َلََو ٖ َّ ِمِ بْيِصَن ِلاَجِ رلِل ۗ ٍضْعَ ب ىٰلَع ْمُكَضْعَ ب اوُلَ ْسَوۗ َْبََسَتْكا اَّ ِمِ بْيِصَن ِءۤاَسِ نلِلَو ۗ اْوُ بَسَتْكا ا

هِلْضَف ْنِم َٰ للّا ٖۗ اًمْيِلَع ٍءْيَش ِ لُكِب َناَك َٰ للّا َّنِا

Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada

sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka
usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada
Allah sebagian dari karuniaNya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S an-Nisa’/4:
32).

Menurut Imam Ghazali, ada tiga jenis hasad yang membahayakan manusia, yaitu:

1) Mengharapkan hilangnya kenikmatan yang dimiliki orang lain, dan ia mendapatkan nikmat
tersebut
2) Mengharapkan hilangnya kebahagiaan orang lain, sekalipun ia tidak mendapatkan apa yang
membuat orang tersebut bahagia. Asalkan orang lain jatuh menderita, maka ia merasa bahagia.
3) Merasa tidak ridha terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada orang lain, meskipun
ia tidak mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut. Ia benci apabila orang lain dapat
menyamai atau melebihi apa yang diterimanya dari Allah Swt.

Sifat hasad akan menghilangkan kebaikan yang dimiliki seseorang, hal ini sesuai sabda Nabi

Saw. berikut ini:

Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda:’ jauhilah hasad (dengki),

karena hasad dapat memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar”. (H.R. Abu Dawud)

Berdasarkan redaksi hadis di atas dapat diketahui bahwa kata hasad dalam bentuk mufrad

(tunggal) dan kata hasanat merupakan bentuk jamak yang berarti kebaikan-kebaikan. Maknanya, satu
kali berbuat hasad akan mengakibatkan hangusnya berbagai amal kebaikan yang pernah dilakukan.
Selain di atas, banyak dampak negatif lain dari sifat hasad, di antaranya adalah:
1) Menentang takdir Allah Swt.

Orang yang bersifat hasad merasa tidak senang atas nikmat yang dimiliki oleh orang lain.

Padahal semua itu atas takdir dan kehendak dari Allah Swt. Maka pada hakikatnya sifat hasad sama
dengan menentang takdir Allah Swt.
2) Hati menjadi susah

Setiap kali melihat orang lain mendapatkan nikmat, maka hatinya menjadi susah. Hatinya

terasa gelisah dan sengsara karena menyaksikan kebahagiaan orang lain.
3) Menghalangi keinginan berdoa kepada Allah Swt.

Orang yang hasad selalu sibuk memperhatikan dan memikirkan nikmat yang dimiliki orang

lain, sehingga ia tidak pernah berdoa kepada Allah Swt agar diberi karunia dan kenikmatan.
4) Meremehkan nikmat dari Allah Swt.

Ia menganggap bahwa dirinya tidak diberi nikmat oleh Allah Swt., sedangkan orang yang ia

dengki dianggap memperoleh nikmat yang lebih besar darinya. Ini berarti ia meremehkan nikmat
yang diberikan Allah Swt. kepadanya.
5) Merendahkan martabat orang lain

Apabila seseorang hasad kepada orang lain, maka ia akan selalu mengawasi nikmat yang

diberikan Allah Swt. kepada orang-orang di sekitarnya. Ini dilakukan agar ia dapat menjauhkan
semua orang dari orang yang ia benci tersebut. Caranya, dengan merendahkan martabatnya,
menceritakan keburukannya, dan meremehkan kebaikannya.

Lalu, bagaimanakah cara menghindari sifat hasad? Berikut ini merupakan cara menghindari

sifat hasad:
1) Meyakini keadilan Allah Swt.

Allah Swt. memberikan rejeki dan nikmat kepada semua manusia secara adil dan sesuai

kebutuhan hamba-Nya. Apabila kita meyakini keadilan Allah Swt. tersebut maka sifat hasad akan
hilang dari diri kita.
2) Memperbanyak rasa syukur

8

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

Bersyukur merupakan salah satu cara agar selalu ingat atas nikmat dari Allah Swt. Rasa

syukur juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa semua manusia punyak hak yang sama untuk
memperoleh nikmat dari Allah Swt.
3) Menjaga sifat rendah hati (tawadhu’)

Masih banyak orang yang lebih susah dibanding kita, oleh karenanya perlu bersikap rendah

hati dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian akan menghilangkan sifat rakus dan hasad pada
diri kita.
4) Senang membantu orang lain

Selalu ringan tangan dan ikhlas membantu akan menjadikan diri kita mampu merasakan

kesulitan yang sedang dialami orang lain. Rasa empati seperti ini akan menghilangkan sifat hasad
kepada orang lain.
5) Mempererat tali silaturahmi

Sifat hasad muncul karena seseorang kurang mengenal dengan baik kepribadian orang lain.

Dengan mempererat tali silaturahmi maka akan tumbuh rasa persaudaraan antara sesama dan
menghilangkan sifat hasad.
6) Mendahulukan kepentingan umum

Orang yang hasad selalu tidak peduli dengan kebutuhan orang lain. Ia menginginkan agar

selalu ingin dilayani, diutamakan dan didahulukan. Sifat hasad bisa dihilangkan dengan selalu
berusaha mendahulukan kepentingan umum.

media

Blog PAI: rianabi.wordpress.com
Channel YT PAI: https://www.youtube.com/channel/UCwxyRtGT5AIGl05DMl0kEQg

LAMPIRAN MATERI

ISRAF-TABZIR, RIYA-SUM’AH, TAKABUR, HASAD.

1. Menghindari Sifat Hidup Berfoya-Foya

Kebanyakan manusia memiliki cenderungan terhadap uang dan harta melimpah. Meskipun

ada manusia yang tidak begitu tertarik dengan harta duniawi, mereka berlaku zuhud dengan lebih
mengutamakan kehidupan akhirat. Jenis manusia seperti ini jumlahnya sangatlah kecil. Secara
kodrat alamiah, manusia memang memiliki tabiat mencintai harta. Pada saat uang dan hartanya
melimpah, perilakunya bisa berubah menjadi lebih konsumtif. Ia akan mudah membuat keputusan
untuk membeli barang-barang mewah, meskipun barang tersebut kurang begitu penting bagi diri dan
keluarganya.

Sesungguhnya gaya hidup seperti itu salah, karena termasuk kategori menghamburkan harta,

pemborosan dan berfoya-foya. Berfoya-foya merupakan pola pikir, sikap dan tindakan yang tidak
seimbang dalam memperlakukan harta.

Harta merupakan cobaan bagi pemiliknya, jika harta digunakan dengan baik maka harta bisa

bermanfaat baginya, sebaliknya kalau harta dikelola secara salah maka akan mencelakakannya. Harta
bisa menjadi tercela jika dijadikan tujuan utama oleh pemiliknya, dan dalam proses mencarinya tidak
diniatkan untuk beribadah kepada Allah Swt. Islam melarang perilaku berlebih-lebihan atau
melampaui batas (israf) dan boros (tabzir) dalam membelanjakan harta, keduanya termasuk
perbuatan setan. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk hidup bersahaja, seimbang dan
proporsional. Perhatikan Q.S al-Isra’/17: 26-27 berikut ini!

اًريِذْبَ ت ْرِ ذَبُ ت َلََو ِليِبَّسلٱ َنْبٱَو َينِكْسِمْلٱَو ۥُهَّقَح َٰبَْرُقْلٱ اَذ ِتاَءَو

َّشلٱ َنَٰوْخِإ ۟آوُ ناَك َنيِرِ ذَبُمْلٱ َّنِإاًروُفَك ۦِهِ بَرِل ُنَٰطْيَّشلٱ َناَكَو ۖ ِينِطَٰي

Artinya: “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang
dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada
Tuhannya”. (Q.S al-Isra’/17: 26-27).
Ayat di atas secara tegas mengatakan bahwa pemboros merupakan saudara setan. Berkaitan dengan
sikap berlebih-lebihan atau melampaui batas (israf), Allah Swt. berirman dalam Q.S al-Furqan/25: 67
berikut ini

اًماَوَ ق َكِلٰذ َْينَب َناَكَو اْوُُتُْقَ ي َْلََو اْوُ فِرْسُي َْلَ اْوُقَفْ نَا ٓاَذِا َنْيِذَّلاَو

Artinya: “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang orang yang apabila
menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara
wajar”. (Q.S al-Furqan/25: 67).

Kata tabzir diulang sebanyak tiga kali dalam Al-Qur`an, sedangkan kata israf diulang

sebanyak dua puluh tiga kali dengan berbagai bentuknya. Ayat di atas menyatakan secara tegas
larangan tabzir dan israf. Sikap tabzir dan israf memiliki kemiripan perngertian dan makna. Tabzir
(boros) adalah perilaku membelanjakan harta tidak pada jalannya. Dengan kata lain, yang dimaksud
pemborosan yaitu mengeluarkan harta tidak haq. Apabila seseorang mengeluarkan harta sangat banyak
tetapi untuk hal-hal yang dibenarkan oleh Islam, maka bukan termasuk pemborosan. Sebaliknya, jika
seseorang mengeluarkan harta meskipun sedikit, tetapi untuk hal-hal yang dilarang agama, maka ia
termasuk pemboros.

Allah Swt. sangat tidak menyukai seseorang yang mempergunakan harta secara berlebihan

(israf) dan tanpa manfaat. Mereka menghamburkan harta sia-sia dan melupakan hak-hak orang lain
atas hartanya. Seseorang disebut berperilaku israf apabila ia membelanjakan harta melewati batas
kepatutan menurut ajaran Islam, dan tidak ada nilai manfaatnya untuk kepentingan dunia maupun
akhirat. Sifat israf ini dipengaruhi oleh godaan uang dan harta pada seseorang yang lemah imannya.

Contoh perilaku tabzir dan israf
Berikut ini beberapa contoh perilaku tabzir dan israf daalam kehidupan sehari-hari:

Contoh tabzir dan israf dalam makan dan minum:

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 8

SLIDE