Search Header Logo
Materi teks Hikayat Belum Final

Materi teks Hikayat Belum Final

Assessment

Presentation

World Languages

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Minang Adt

FREE Resource

8 Slides • 0 Questions

1

media

1

Materi Ajar Rencana Aksi 2





MATERI AJAR TEKS
HIKAYAT

Oleh

Bakri, S.Pd

2

media

2

Materi Ajar Rencana Aksi 2

Mengidentifikasi nilai-nilai dalam
hikayat yang masih sesuai dengan

kehidupan saat ini

Menjelaskan kesesuaian nilai-nilai

dalam hikayat dengan kehidupan saat
ini dalam teks eksposisi lisan maupun

tulisan hikayat

Mengembangkan makna (Isi dan

nilai) hikayat

Mengidentifikasi

nilai

dan isi hikayat

Membandingkan nilai-nilai dan

kebahasaan cerita rakyat (hikayat)

dan cerpen

Mengembangkan hikayat ke

dalam bentuk cerpen

MELESTARIKAN NILAI KEARIFAN
LOKAL MELALUI CERITA RAKYAT

Mengidentifikasi Karakteristik Hikayat

Mengidentifikasi nilai-nilai yang

terdapat dalam hikayat

Membandingkan penggunaan bahasa

dalam cerpen dan hikayat

Mengidentifikasi karakteristik bahasa

dalam hikayat

Menceritakan kembali isi hikayat ke

dalam bentuk cerpen

Membandingkan nilai dalam hikayat

dengan dalam cerpen

Deskripsi Singkat

Kalian pernah membaca cerita rakyat? Cerita rakyat seperti apa yang pernah kamu

baca? Salah satu jenis cerita rakyat adalah hikayat. Seperti cerita rakyat lainnya, hikayat
memiliki banyak nilai-nilai kehidupan. Pada pelajaran ini kita akan belajar memahami nilai
kearifan lokal yang terkandung dalam cerita rakyat. Untuk membekali kemampuanmu, pada
pelajaran ini kamu akan belajar:

1.mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat (hikayat)

baik lisan maupun tulis;

2.mengembangkan makna (isi dan nilai-nilai) dalam cerita rakyat (hikayat) baik secara

lisan maupun tertulis dalam bentuk teks eksposisi;

3.membandingkan nilai-nilai dan kebahasaan cerita rakyat dengan cerpen;
4.mengembangkan cerita rakyat (hikayat) ke dalam bentuk cerpen dengan

memerhatikan isi dan nilai-nilai

Untuk membantu kalian dalam mempelajari dan mengembangkan kompetensi dalam
berbahasa, pelajari peta konsep di bawah ini dengan saksama.



















3

media

3

Materi Ajar Rencana Aksi 2

Kompetensi Dasar Dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

Kompetensi Dasar (KD)

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)

3.8Membandingkan

nilai-nilai

dan

kebahasaan cerita rakyat dan cerpen

3.8.1Menganalisis

nilai-nilai

dan

kebahasaan cerita rakyat dan cerpen
(C4)

3.8.2Membandingkan penggunaan nilai-
nilai dan kebahasaan dalam cerpen
dan hikayat (C5)

4.8Mengembangkan

cerita

rakyat

(hikayat) ke dalam bentuk cerpen
dengan memerhatikan isi dan nilai-
nilai.

4.8.1Merancang cerita rakyat (hikayat) ke
dalam

bentuk

cerpen

dengan

memerhatikan isi dan nilai-nilai

4.8.2Membuat kembali isi cerita rakyat ke
dalam

bentuk

cerpen

dengan

memerhatikan isi dan nilai-nilai

Tujuan Pembelajaran

1.Dengan kegiatan menyaksikan vidio, membaca materi, berdiskusi dan

menggali

informasi

(Condition)

peserta

didik

(Audiens)

mampu

menganalisis nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat
(hikayat) baik lisan maupun tulis (Behavior) dengan teliti dan tepat
(Degree) (C4)

2.Setelah kegiatan menyaksikan vidio, membaca materi, berdiskusi dan

menggali

informasi

(Condition)

peserta

didik

(Audiens)

mampu

membandingkan

penggunaan

bahasa

dalam

cerpen

dan

hikayat

(Behavior) dengan baik dan benar (C5)

3.Dengan melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, berdiskusi dan

menggali informasi (Condition) peserta didik (Audiens) mampu merancang
cerita rakyat (hikayat) ke dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi
dan nilai-nilai (Behavior) dengan baik dan benar

4.Setelah kegiatan melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, dan

berlatih menyusun cerita rakyat ke dalam bentuk cerpen (Condition)
peserta didik (Audiens) mampu membuat kembali isi cerita rakyat ke
dalam bentuk cerpen dengan memerhatikan isi dan nilai-nilai (Behavior)
dengan baik dan benar


Petunjuk Belajar

1.Bacalah teks materi ajar di bawah ini dengan cermat!

2.Pahami isi dari setiap penjelasan kegiatan yang akan dilakukan!

3.Setelah membaca teks, jawablah pertanyaan-pertanyan yang telah

disediakan di Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD).

4.Bahan ajar ini berisi materi terkait dengan Lembar Kegiatan Peserta

Didik (LKPD) yang akan dikerjakan!

4

media

4

Materi Ajar Rencana Aksi 2

Uraian Materi

3.8 Membandingkan Nilai dan Kebahasaan Hikayat dengan Cerpen

Kegiatan 1

Membandingkan Nilai Dalam Hikayat dengan Cerpen

Pada dasarnya, hikayat memiliki beberapa kesamaan dengan cerpen. Keduanya memiliki

kesamaan dalam hal:

1.Bercerita tentang kisah hidup tokoh dengan segala permasalahannya,
2.Memiliki alur cerita
3.Menggunakan gaya bahasa
4.Mengandung pesan atau nilai-nilai kehidupan, seperti nilai keagamaan, nilai sosial, nilai moral,

dan nilai pendidikan, dan nilai budaya.

Adapun perbedaan yang ada di antara hikayat dan cerpen ditinjau dari segi aspek bahasa

Hikayat

Bahasa melayu klasik

Cerpen

Bahasa Indonesia

Adapun perbedaan yang ada di antara hikayat dan cerpen ditinjau dari segi aspek latar cerita

Hikayat

Lingkungan kerabat kerajaan

Lerpen

lingkungan masyarakat biasa

Adapun perbedaan yang ada di antara hikayat dan cerpen ditinjau dari segi aspek jalan cerita

Hikayat

berputar

Cerpen

Tunggal

Adapun perbedaan yang ada di antara hikayat dan cerpen ditinjau dari segi aspek nama pengarang

Hikayat

Anonim

Cerpen

Tertulis

Adapun perbedaan yang ada di antara hikayat dan cerpen ditinjau dari segi aspek nasib tokoh

Hikayat

Berubah nasib

Cerpen

Tidak berubah nasib

Nilai adalah suatu yang berharga, bermutu, menunjukan kualitas, dan berguna bagi manusia.

Dalam karya sastra berwujud makna di balik apa yang ditulis melalui unsur instrinsik seperti perilaku,
dialog, peristiwa, setting, dan sebagainya. Menurut Suherli, dkk. terdapat enam nilai dalam hikayat,
yaitu:

a.Nilai budaya

Nilai yang diambil dari budaya yang berkembang secara turun menurun di masyarakat
(berhubungan dengan budaya melayu) Ciri khas nilai-nilai budaya dibandingkan nilai lainnya
adalah masyarakt takut meninggalkan atau menentang nilai tersebut karena ‘takut’ sesuatu yang
buruk akan menimpanya.

b.Nilai moral Nilai yang berhubungan dengan masalah moral. Pada dasarnya nilai moral berkaitan

dengan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan budi pekerti, perilaku, atau tata susila yang dapat
diperoleh pembaca dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya.

c.Nilai agama/ religi

Nilai yang berhubungan dengan masalah keagaman. Nilai religi biasanya ditandai dengan
penggunaan kata dan konsep Tuhan, mahluk ghaib, dosa, pahala, serta surga-neraka.

d.Nilai pendidikan/ edukasi

Nilai yang berhubungan dengan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang/kelompak
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan

e.Nilai estetika

Nilai yang berhubungan dengan keindahan dan seni.

5

media

5

Materi Ajar Rencana Aksi 2

f.Nilai social
Nilai yang berhubungan dengan kehidupan di dalam masyarakat. Biasanya berupa
nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kemasyarakatan. Indikasi nilai sosial
dikaitkan dengan kepatuhan dan kepantasan bila diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.

Dengan memelajari cerita rakyat kalian akan mengetahui tentang budaya, moral, agama,
pendidikan, sasial dan nilai-nilai kehidupan lain. Dari cerita hikayat, kita dapatmemetiknilai-
nilaikehidupansebagaicerminbagi kehidupan kita. Pada pembelajaran yang telah lalu kalian
telah memahami nilai teks cerita rakyat. Sebenarnya bahwa banyak nilai dalam cerita
rakyat/hikayat yang masih sesuaidengan kehidupan masa kini. Sebagai karya sastra modern
yang mengangkat nilai-nilaikehidupanmasa kini, dapat diduga bahwa banyak nilai dalam
hikayat yang bersesuaian dengan nilai.


Kegiatan 2

Mengidentifikasi Karakteristik Bahasa Hikayat
Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang berbeda dengan narasi lain. Adapun
karakteristik hikayat antara lain (a) terdapat kemustahilan dalam cerita, (b) kesaktian tokoh-
tokohnya, (c) anonim, (d) istana sentris, dan (e) menggunakan alur berbingkai/cerita
berbingkai. Berikut contoh karakteristik bahasa hikayat yang terdapat dalam teks “Hikayat
Indera Bangsawan” pada bagian A di atas.
a.Kemustahilan

Salah satu ciri hikayat adalah kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa maupun
dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal yang tidak logis atau tidak bisa dinalar.

b.Kesaktian

Selain kemustahilan, seringkali dapat kita temukan kesaktian para tokoh dalam hikayat.

c.Anonim

Salah satu ciri cerita rakyat, termasuk hikayat, adalah anonim. Anonim berarti tidak
diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal tersebut disebabkan cerita
disampaikan secara lisan. Bahkan, dahulu masyarakat mempercayai bahwa cerita yang
disampaikan adalah nyata dan tidak ada yang sengaja mengarang.

d.Istana sentris

Hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan. Dalam Hikayat Indera Bangsawan, hal
tersebut dapat dibuktikan dengan tokoh yang diceritakan adalah raja dan anak raja, yaitu
Raja Indera Bungsu, putranya Syah Peri dan Indera Bangsawan, Putri Ratna Sari, Raja
Kabir, dan Putri Kemala Sari. Selain itu, latar tempat dalam cerita tersebut adalah negeri
yang dipimpin oleh raja serta istana dalam suatu kerajaan.

Hikayat disajikan dengan menggunakan bahasa Melayu klasik. Ciri bahasa yang dominan

dalam hikayat adalah banyak penggunaan konjungi pada setiap awal kalimat dan penggunaan
kata arkais.
Perhatikan contoh kutipan hikayat berikut ini.

Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut.

Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agaria dapat memperlalaikan
perempuan itu. Hatta setiapmalam, Bibi Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu,
dan setiap berpamitan dengan bayan. Maka diberilah ia cerita-cerita hingga sampa24 kisah dan
24 malam. Burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap
perbuatannya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.


Dalam kutipan tersebut, konjungsi maka digunakan hingga tiga kali. Diskusikanlah

dengan temanmu apakah makna dan fungsi konjungsi tersebut sama dengan makna konjungsi
maka dalam bahasa Indonesia saat ini?

Selain banyak menggunakan konjungsi, hikayat menggunakan kata- kata arkais. Hikayat

6

media

6

Materi Ajar Rencana Aksi 2

merupakan karya sastra klasik. Artinya, usia hikayat jauh lebih tua dibandingkan usia Negara
Indonesia. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia (berasal dari bahasa
Melayu), tidak semua kata dalam hikayat kita jumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata
yang sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing tersebut disebut sebagai kata-kata arkais.



Kegiatan 3

Membandingkan Penggunaan Bahasa dalam Cerpen dan Hikayat

Hikayat dan cerpen sama-sama merupakan teks narasi fiksi. Keduanya mempunyai unsur

intrinsik yang sama yaitu tema, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar, gaya bahasa, dan
alur.

Sekarang kamu akan mempelajari perbandingan bahasa dalam cerpen dan hikayat. Kaidah

bahasa yang dominan dalam cerpen adalah penggunaan gaya bahasa (majas) dan penggunaan
konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan urutan kejadian.

a. Penggunaan Majas

Penggunaan majas dalam cerpen dan hikayat berfungsi untuk membuat cerita

lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada berbagai jenis
majas yang digunakan baik dalam cerpen dan hikayat. Di antara majas yang sering digunakan
dalam cerpen maupun hikayat adalah majas antonomasia, metafora, hiperbola dan majas
perbandingan.

Meskipun sama-sama menggunakan gaya bahasa, tetapi gaya bahasa yang digunakan

dalam hikayat berbeda penyajiannya dengan gaya bahasa dalam cerpen. Perhatikan penggunaan
majas antonomasia dalam penggalan hikayat berikut ini

Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki

berkeliling di negeri antah berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa. Ke mana
mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai
penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarah- darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan
menangislah Si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di
hutan, siangnya berjalan mencari rezeki

Si Miskin dalam kutipan hikayat di atas merupakan contoh majas antonomasia yaitu

majas yang menyebut seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang menonjol. Bandingkan
dengan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan novel Putri Tidur dan Pesawat Terbang
karya Gabriel Garcia Marquez berikut ini.

“Pilih mana,” katanya, “tiga, empat, atau tujuh?” “Empat.”
Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Selama lima belas tahun saya bekerja di sini,” katanya, “Anda orang pertama yang tidak

memilih tujuh.”

Ia menulis nomor kursi di boarding pass-ku dan mengembalikannya bersama dokumen-

dokumenku, lalu memandangku untuk kali pertama dengan matanya yang berwarna anggur,
sebuah hiburan sampai aku bisa melihat si Cantik lagi. Kemudian ia memberi tahu bahwa bandara
baru saja ditutup dan semua penerbangan ditunda

Majas simile juga banyak digunakan dalam hikayat maupun cerpen. Majas simile adalah

majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung
atau kata pembanding. Kata penghubung atau kata pembanding yang biasa digunakan
antara lain: seperti, laksana, bak, dan bagaikan.

7

media

7

Materi Ajar Rencana Aksi 2

Perhatikan contoh berikut ini.

Maka si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, Si
Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak
itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu.

Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti
warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika
itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar
belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu.

b. Penggunaan Konjungsi

Baik cerpen maupun hikayat merupakan teks narasi yang banyak menceritakan urutan
peristiwa atau kejadian. Untuk menceritakan urutan peristiwa atau alur tersebut, keduanya
menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian. Perhatikan contoh
penggunaan konjungsi pada penggalan hikayat berikut ini.

Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu minta izinlah dia

kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada istrinya itu, jika ada barang suatu
pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor unggas itu, hubaya-hubaya jangan tiada, karena
fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari pada senjata. Hatta beberapa lama di tinggal
suaminya, ada anak Raja Ajam berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.
Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka pada suatu
malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak menemui anak raja itu. Maka
bernasihatlah ditentang perbuatannya yang melanggar aturan Allah Swt. Maka marahlah istri
Khojan Maimun dan disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai
mati. Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur.

Konjungsi “sebelum” yang bergaris bawah dalam penggalan hikayat di atas

menunjukkan urutan waktu sedang konjungsi “lalu” menyatakan urutan kejadian.
Penggunaan konjungsi yang tepat sangat penting untuk mengembangkan alur cerita.
Bandingkan dengan penggunaan konjungsi dalam penggalan cerpen berikut ini.

Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kam- pong halamannya,

perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perihnya, hingga seluruh
pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat ribuan kunang-kunang berlesatan
mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang
maut yang selalu menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum
suaminya

Konjungsi “ketika” dalam kutipan di atas menyatakan hubungan waktu, sedangkan

konjungsi “selanjutnya” menyatakan urutan peristiwa.



4.8 Mengembangkan Cerita Rakyat ke dalam Bentuk Cerpen

Kegiatan 1

Membandingkan Alur Cerita dalam Hikayat dan Cerpen

Kamu telah memahami perbedaan karakteristik bahasa hikayat dengan cerpen.

Dalam subbagian ini, kamu akan belajar mengembangkan imajinasi dan kreasi untuk

8

media

8

Materi Ajar Rencana Aksi 2

menuliskan kembali isi hikayat dalam bentuk cerpen.

Salah satu unsur intrinsik yang sangat menentukan keberhasilan sebuah cerpen

atau hikayat dalam menyampaikan cerita adalah alur. Alur adalah rangkaian peristiwa yang
mempunyai hubungan sebab akibat yang membentuk satu rangkaian cerita yang utuh.

Salah satu karekteristik alur dalam hikayat selain beralur maju adalah menggunakan

alur berbingkai. Alur mundur dalam sebuah cerita berarti cerita dimulai dari masa lalu ke

masa kini, atau dari masa kini ke masa yang akan datang. Alur berbingkai artinya di

dalam cerita ada cerita lain. Alur berbingkai dalam hikayat biasanya disajikan dengan
menghadirkan tokoh lain yang bercerita tentang suatu kisah. Perhatikan contoh alur
berbingkai dalam kutipan hikayat berikut ini.

Dalam cerita yang lain pula, Bayan bercerita mengenai pengorbanan seorang isteri.

Seorang puteri raja yang kejam telah membunuh 39 orang suaminya. Suaminya yang
keempat puluh telah berjaya menginsafkannya dengan sebuah cerita mengenai seekor rusa
betina yang sanggup menggantikan pasangannya, rusa jantan, untuk disembelih.


Dalam kutipan di atas tampak Burung Bayan sedang menyampaikan sebuah cerita

kepada tuannya. Inilah yang dimaksud alur cerita berbingkai.
Berbeda dengan hikayat yang selalu menggunakan alur mundur, alur dalam cerpen bisa
berpola maju, mundur, bahkan maju mundur (campuran).

Kegiatan 2

Menceritakan Kembali Isi Hikayat ke dalam Bentuk Cerpen

Kamu telah membandingkan isi dan kaidah kebahasaan hikayat dan cerpen,

berikutnya kamu akan belajar mengubah isi cerita hikayat ke dalam bentuk cerpen. Berikut
ini hal yang perlu kamu perhatikan ketika mengubah isi cerita hikayat ke dalam cerpen.
1.Mengubah alur cerita dari alur berbingkai menjadi alur tunggal.
2.Menggunakan bahasa Indonesia saat ini.
3.Menggunkan gaya bahasa yang sesuai.
4.Tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalam hikayat.

Rangkuman

1.Hikayat adalah salah satu jenis cerita rakyat yang disajikan dengan menggunakan bahasa

Melayu klasik.

2.Karakteristik hikayat antara lain (a) merupakan kisah kemustahilan, (b) tokoh-tokohnya

mempunyai kesaktian, (c) istana sentris, dan (d) anonim (pengarang cerita tidak
diketahui).

3.Nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat sama dengan nilai-nilai dalam cerpen.

Sebagian di antara nilai dalam hikayat yang masih sesuai dengan nilai kehidupan masa
kini.

4.Dari segi bahasa, hikayat mempunyai kekhasan yaitu menggunakan bahasa Melayu

klasik yang ditandai dengan penggunaan banyak kata penghubung dan kata-kata arkais.

5.Persamaan hikayat dan cerpen antara lain dapat dilihat dari penggunaan gaya bahasa

dan pengembangan alur.

Daftar Pustaka

1.Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta:

Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

2.Suherli, dkk. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat

Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.

media

1

Materi Ajar Rencana Aksi 2





MATERI AJAR TEKS
HIKAYAT

Oleh

Bakri, S.Pd

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 8

SLIDE