Search Header Logo
Modul Negosiasi

Modul Negosiasi

Assessment

Presentation

Practice Problem

Hard

Created by

Nila Amita

FREE Resource

47 Slides • 0 Questions

1

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

1

2

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

2

BUTIR-BUTIR PENTING BUKU NONFIKSI DAN NOVEL

BAHASA INDONESIA

KELAS X

PENYUSUN

Muhamad Yusup, M.Pd.

SMA NEGERI 82 JAKARTA

3

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

3

DAFTAR ISI

PENYUSUN ........................................................................................................................................................ 2

DAFTAR ISI ....................................................................................................................................................... 3

GLOSARIUM ..................................................................................................................................................... 4

PETA KONSEP ................................................................................................................................................. 5

PENDAHULUAN ............................................................................................................................................. 6

A. Identitas Modul ............................................................................................................. 6

B. Kompetensi Dasar ......................................................................................................... 6

C. Deskripsi Singkat Materi ............................................................................................... 6

D. Petunjuk Penggunaan Modul ........................................................................................ 6

E. Materi Pembelajaran ..................................................................................................... 7

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 ................................................................................................................ 8

Ikhtisar Buku Nonfiksi ................................................................................................................................ 8

A.Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................... 8

B.Uraian Materi ................................................................................................................ 8

C.Rangkuman ................................................................................................................. 15

D.Latihan Soal ................................................................................................................ 16

E.Penilaian Diri .............................................................................................................. 23

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 ............................................................................................................. 24

RINGKASAN NOVEL .................................................................................................................................. 24

A.Tujuan Pembelajaran ................................................................................................... 24

B.Uraian Materi .............................................................................................................. 24

C.Rangkuman ................................................................................................................. 34

D.Latihan Soal ................................................................................................................ 35

E.Penilaian Diri .............................................................................................................. 42

EVALUASI ....................................................................................................................................................... 43

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................................... 47

4

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

4

GLOSARIUM

Alinea

: Bagian wacana yang menungkapkan suatu pikiran yang lengkap atau

satutemayang dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke
dalam atau spasi yang lebih.

Ilustrasi

: Penjelasan tambahaha berupa contoh, bandingan untuk lebih memperjelas

paparan atau tulisa.

Integrasi : Pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat
Khatam : Selasai, tamat
Standar : Ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan, pedoman

5

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

5

PETA KONSEP

BUTIR-BUTIR PENTING BUKU

NONFIKSI DAN NOVEL

Dua Buku
Nonfiksi

Ikhtisar

Satu Novel

Ringkasan

6

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

6

PENDAHULUAN

A. Identitas Modul

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas

: X

Alokasi Waktu

: 8 X45 Menit

Judul Modul

: Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel

B. Kompetensi Dasar

3. 9 Menyebutkan butir-butir penting dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan satu

novel yang dibacakan.

4. 9 Menyusun ikhtisar dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan ringkasan dari satu

novel yang dibaca.

C. Deskripsi Singkat Materi

Tetap semangat dan jaga kesehatan, ya! Kesehatan merupakan hal yang utama,

kesehatan itu sangat penting dan mahal harganya. Coba bayangakan jika kalian sakit dan
tidak bisa melakukan apa-apa, tidak enak, bukan? Oleh karena itu, jagalah kesehatan kalian
dengan makan yang teratur dan disiplin diri sendiri untuk selalu menjaga kebersihan.

Salam Literasi, Ayo membaca! Itulah slogan yang diucapkan dalam pertemuan-

pertemuan kegiatan literasi baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Oh, ya, mengapa
kita membahas tentang literasi? Karena modul yang akan kita bahas kali ini adalah mengenai
pengayaan membaca buku nonfiksi dan fiksi. Pada buku nonfiksi kalian akan disajikan dua
buku sebagai bahan bacaan kalian yang pada akhirnya kalian akan diminta untuk
mengikhtisar. Adapun, untuk buku fiksi, fiksi yang dipilih pada kesempatan ini adalah novel.
Kalian akan membaca novel dan meringkas novel tersebut. Pertanyaan awal untuk kalian,
samakah atau berbedakah antara ikhtisar dan ringkasan? untuk mengetahui jawabannya,
kalian harus mempelajari modul ini sampai tuntas.

D. Petunjuk Penggunaan Modul

Supaya belajar kalian dapat bermakna maka yang perlu kalian lakukan adalah :

1.Pastikan kalian mengerti target kompetensi yang akan dicapai
2.Mulailah dengan membaca materi
3.Kerjakan soal latihannya
4.Jika sudah lengkap mengerjakan soal latihan, cobalah buka kunci jawaban yang

ada pada bagian akhir dari modul ini. Hitunglah skor yang kalian peroleh

5.Jika skor masih dibawah 70, cobalah baca kembali materinya, usahakan jangan

mengerjakan ulang soal yang salah sebelum kalian membaca ulang materinya

6.Jika skor kalian sudah minimal tujuh puluh, kalian bisa melanjutkan ke

pembelajaran berikutnya.

7

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

7

E. Materi Pembelajaran

Modul ini terbagi menjadi 2 kegiatan pembelajaran dan di dalamnya terdapat uraian materi,
contoh soal, soal latihan dan soal evaluasi.

Pertama :

Ikhtisar buku nonfiksi


Kedua

: Ringkasan novel

Modul ini akan sangat bermanfaat bagi kalian. Kalian dapat lebih peka memahami
keadaan sekeliling kalian. Kepekaan kalian itu akan dapat digunakan untuk
membiasakan membaca baik buku nonfiksi maupun buku fiksi. Pada modul ini
kalian akan mempelajari menulis ikhtisar buku nonfiksi dan menulis ringkasan
novel. Jika ada kata-kata yang tidak dipahami, kalian dapat mencermati glosarium
sebagai gambaran makna katanya. Yuk, kita langsung menuju materi!

8

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

8

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

Ikhtisar Buku Nonfiksi

A.Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan

Kalian mampu menulis ikhtisar buku nonfiksi dengan kreatif, inovatif, dan semangat agar
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga cepat dalam menangkap dan
menyimpulkan informasi dalam suatu bacaan.

B.Uraian Materi

Sebelum kalian melakukan kegiatan ikhtisar dua buku nonfiksi. Kalian harus pahami

terlebih dahulu, apakah itu ikhtisar. Ikhtisar adalah sebuah penyajian singkat dari sebuah
karangan asli yang tidak perlu memberikan seluruh isi dari karangan asli secara proporsional

Dalam hal tersebut, menurut para ahli, ikhtisar adalah sebuah penulisan dari pokok-

pokok masalah penulisannya tidak diharuskan berurutan, akan tetapi boleh dengan secara
acak atau juga disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar tanpa mengubah tema dari sebuah
wacana. Ikhtisar ini berfungsi sebagai garis-garis besar dari masalah di dalam sebuah wacana
yang berukuran pendek atau sedang.

Penulis ikhtisar tersebut dapat langsung mengemukakan inti atau pokok dari suatu

masalah dan problematika dalam pemecahannya.

Sebagai ilustrasi, ada beberapa bagian atau isi dari beberapa bab, dapat diberikan untuk

dapat menjelaskan inti atau pokok dari masalah tersebut. Sementara bagian yang lain yang
kurang penting bisa dihilangkan. Dari segi bentuk ikhtisar ini lebih bebas dibandingkan
dengan ringkasan.

Ciri-Ciri Ikhtisar
1. Tidak mempertahankan urutan gagasan.

2. Bebas mengombinasikan sebuah kata-kata dengan syarat tidak menyimpang dari inti.

3. Tujuannya untuk mengambil sebuah inti.

Fungsi ikhtisar
1.Untuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata.

2.Memahami serta mengetahui isi sebuah buku atau sebuah karangan.

3.Membimbing serta menuntun seseorang agar dapat memahami inti dari suatu isi.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan untuk membuat ikhtisar yang

kreatif dan inovatif. Untuk itu ,kalian cermati dua kutipan buku nonfiksi berikut!

Kutipan buku nonfiksi 1

9

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

9

Minat Baca Anak Indonesia

Membaca buku itu penting! Semua orang tahu dan pasti setuju. Oleh sebab itu, menjadi

beralasan mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Dengan kebiasaan dan
kecintaan membaca sejak dini, mereka menjadi lebih mudah mempelajari apa pun, termasuk
pelajaran di sekolah yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik.

Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana minat baca anak Indonesia? Berdasarkan

riset lima tahunan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yang melibatkan
siswa SD, Indonesia berada pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia
hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maka. dan Afrika Selatan.

Sedikitnya ada tiga realitas di balik temuan PIRLS tersebut. Pertama, jumlah

perpustakaan SD di Indonesia sangat minim. Mengapa demikian? Karena mayoritas anak
kenal dan mulai membaca buku dari perpustakaan sekolah, meskipun saat ini TBM sudah
bertebaran di mana-mana.

Berdasarkan data terakhir, terdapat 169.031 SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia.

Artinya, jika tiap sekolah memiliki satu perpustakaan, seperti yang diamanahkan oleh UU
Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, ada 169.031 perpustakaan.Tentu anak-anak
akan memperoleh kemudahan mengakses bahan bacaan. Namun, yang terjadi tidak begitu.
Di Indonesia, SD yang memiliki perpustakaan sekitar 1 persen lebih sedikit dari data jumlah
sekolah. Persentase sekecil itu pun belum ditilik lebih dalam. Jika iya, saya pastikan angkanya
akan semakin menciut. Misalnya, seberapa banyak koleksi buku yang dimiliki? Apakah
keragaman bacaan yang dimiliki sudah memenuhi harapan pembaca? Bagaimana kondisi
sarana (bangunan) dan prasana perpustakaan (misalnya, buku dan rak). Belum lagi jika
pertanyaan kunci ini dilontarkan: yang mengelola perpustakaan adalah pustakawan atau
sekadar guru piket yang dikaryakan sehingga sekadar menjadi tempat buku-buku kumal dan
berdebu ditumpuk, tanpa ada program-program kreatif yang ditujukan untuk memasarkan
perpustakaan?

Realitas kedua dari fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah tidak adanya

integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan dengan kewajiban
siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan mencari sumber
pembelajaran di luar buku pegangan dari guru.

Satu contoh sederhana, kita tidak memiliki standar minimal mengenai bacaan wajib

yang harus dikhatamkan siswa di tiap jenjang pendidikan, entah berdasarkan jumlah maupun
judul tertentu. Apalagi pengecekan tingkat kemajuan bacaan siswa secara bertahap dan rutin,
baik yang menyangkut bacaan yang diwajibkan, bacaan yang dianjurkan, dan bacaan
menyangkut pengetahuan umum.

Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung

untuk Nusantara (nonfiksi)

Penulis

: Gol A Gong dan Agus M. Irkham

Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv

10

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

10

Realitas ketiga, rendahnya minat baca anak Indonesia karena pengalaman pra-

membaca dan membaca, atau berkenalan dengan buku, yang dialami anak kurang
menyenangkan-jika enggan menyebutnya buruk. Buku, sebagai media yang lazim digunakan
untuk mengukur tingkat minat baca, dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang tidak
menarik. Bahkan, menimbulkan trauma.

Biasanya, buku yang pertama kali diperkenalkan kepada anak-anak adalah buku

pelajaran yang tebal menurut ukuran mereka. Isinya melulu tulisan, tidak bergambar, dan
hurufnya pun kecilTentu saja keharusan membaca buku seperti itu laksana menyuruh anak
membenci buku secara berj amaah.

Namun, giliran anak-anak tengah mendapatkan keasyikan membaca buku dalam

bentuk komik atau cergam, orangtua buru-buru melarang keras, disertai semburan kata
ancaman. Orangtua memfatwakan anak-anak bahwa membaca komik dan cergam hanya
akan membuat mereka malas belajar dan bodoh. Padahal , komik bisa menjadi pintu masuk
untuk mengembangkan imajinasi serta ragam bacaan anak ketingkat yang lebih luas. Apa
yang dibaca sesungguhnya mengikuti perkembangan wawaan, cara berpikir, dan
berkebutuhan mereka.

Di luar itu, promosi buruk orangtua tentang buku juga turut menyukseskan rendahnya

minat baca anak. Promosi buruk tersebut berupa ketiadaan bahan bacaan di rumah serta
minusnya keledanan dari orangtua.

Kutipan buku nonfiksi 2

Kakek

Rumah kakek nenek saya hanya satu blok dari rumah saya di kota New York. Waktu

itu kami masih kecil. Kakek sering pada malam hari mengajak saya jalan-jalan ketika musim
panas tiba.

Pada suatu malam, ketika saya dan kakek berjalan bersama, saya bertanya kepadanya

tentang apa perbedaan keadaan sekarang dengan dulu. Kakek menjawab bahwa pada zaman
dulu ketika dia masih kecil, jamban-jamban berada di luar rumah, bukan seperti sekarang
yang berupa toilet mengkilap. Dulu semua orang menggunakan kuda, bukan mobil. Orang-
orang berkomunikasi jarak jauh dengan surat, tidak seperti sekaan Vang bisa dilakukan
dengan telepon. Zaman dulu juga masih menggunakan lilin, di mana sekarang, listrik sudah
ada di mana-mana.

Jenis buku nonfiksi (motivasi)
Judul

: Buku Untuk Dibaca

Penulis

: Erick Namara

Penerbit

: Citra Media Pustaka,

Yogyakarta, 2016

Tebal buku : 380 halaman + ix

11

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

11

Saya mendengarkannya dan membayangkan semua keadaan sulit tersebut, tetapi

tetap tidak bisa terbayang. Lalu saya menanyakan lagi kepadanya satu hai, ”Kakek, apa hal
paling susah yang pernah terjadi dalam hidup kakek?”

Kakek menghentikan iangkahnya. Dia memandang langit dan tidak berkata apa-apa

selama beberapa saat. Lalu dia berlutut, menggenggam kedua tangan saya, dan dengan
berlinangan air mata, dia mengatakan, "Ketika ibumu dan adik-adiknya masih kecil-kecil.
Nenekmu sakit parah. Untuk bisa sembuh, dia harus dirawat di satu tempat bernama
Sanatorium. Dan itu butuh waktu yang lama sekali.”

"Tidak ada orang yang bisa merawat ibu dan paman-pamanmu itu kalau kakek sedang

pergi kerja, jadi mereka kakek titipkan di panti asuhan. Para biarawati membantu kakek
mengurusi anak-anakku itu, sementara kakek harus melakukan dua atau tiga bekerjaan.
Kakek sangat butuh uang agar nenek bisa sembuh dan semua orang bisa berkumpul lagi di
rumah, bersama.”

"Yang paling sulit dalam hidup kakek adalah,” lanjut kakek masih dengan air matanya

yang berlinang, ”kakek harus menaruh mereka di panti asuhan. Setiap minggu, kakek selalu
mengunjungi mereka. Tetapi para biarawati tidak pernah menizinkan kakek untuk
mengobroi bersama ibumu dan paman-pamanmu. Kakek bahkan tidak bisa menyentuh
mereka. Kakek hanya bisa memperhatikan mereka bermain dari balik sebuah cermin satu
arah. Kakek bisa melihat mereka, tetapi mereka tidak bisa melihat kakek”.

Kakek kemudian menghapus air matanya sebentar, tetapi air matanya tetap keluar

lagi.

”Kakek selalu membawakan mereka permen setiap minggu. Berharap mereka tahu

bahwa itu pemberian kakek. Bahwa kakek tidak pernah meninggalkan mereka. Kakek hanya
bisa menaruh kedua tangan kakek di atas cermin itu selama tiga puluh menit penuh. Kakek
tidak akan pernah beranjak dari sana selama waktu itu. Karena itu adalah waktu yang
diberikan para biarawati. Kakek kadang berharap mereka melihat kakek, dan bahagia
melihat kakek.”

Saya tidak berkata apa-apa dan hanya bisa mendengar kakek. Merasakan pedihnya

perasaan kakek meski waktu itu saya masih kecil. Saya tidak pernah melihat kakek saya
menangis, dan melihat itu, saya pun ingin menangis.

“Satu tahun, kakek tidak bisa menyentuh anak-anak kakek. Kakek sangat merindukan

mereka. Kakek mengerti alasan para biarawati itu, bahwa jika mereka melihat kakek, itu akan
semakin berat bagi mereka karena setelah itu, kami harus berpisah kembali. Karena itu kakek
tidak bisa memaksa para biarawati mengizinkan kakek menemui mereka, anak-anak kakek.
Ibumu dan pamanDamanmu.”

Kakek masih menangis. Dia |a|u memeluk saya eraterat. Saya mengatakan kepada

kakek kemudian bahwa saya memiliki kakek terbaik di seluruh dunia dan bahwa saya sangat
menyayanginya.

Lima belas tahun berlalu setelah itu, dan saya tidak pernah menceritakan kejadian

istimewa itu kepada siapa pun. Bahkan ketika kami semua kemudian pindah ke negara bagian
yang berbeda. Lima belas tahun berlalu, dan saya tidak pernah menceritakan acara jalan-jalan
istimewa dengan Grandpa itu kepada siapa pun. Dari tahun ke tahun kami tetap rajin jalan-
jalan, sampai keluarga saya dan kakek-nenek saya pindah ke negara bagian yang berbeda.

Setelah nenek meninggal dunia, kakek mengalami penurunan daya ingat. Saya yakin,

itu adalah tekanan yang sangat berat baginya. Saya kemudian memohon kepada ibu agar
memperbolehkan kakek tinggal bersama kami, tetapi ibu menolaknya.

Saya merengek bahwa ini adalah kewajiban keluarga untuk memikirkan kakek juga.
Ibu lalu sedikit marah, dan membentak, “Kenapa?! Dia sendiri sama sekali tidak

pernah peduli pada apa yang terjadi pada kami, anak-anaknya”

Saya kemudian menyadari apa yang ibu maksud, dan berkata, ”Dia selalu

memperhatikan dan menyayangi kalian."

Ibu saya menjawab, ”Kamu tidak mengerti apa yang kamu ndiri bicarakan!”
“Hal yang paling sulit bagi kakek adalah ketika harus menaruh ibu, paman Eddie dan

paman Kevin di panti asuhan,” kataku lirih, tetapi cukup untuk didengar.

12

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

12

"Siapa yang menceritakan itu?” tanya ibu.
Ibu sama sekali tidak pernah menceritakan masa lainnya kepada kami, termasuk

ketika dia dititipkan di panti asuhan. Jadi wajar jika dia merasa heran dan bertanya dari mana
saya tahu kejadian itu.

“Bu, ketika itu, kakek selalu datang ke sana menjenguk ibu dan paman-paman setiap

minggu. Kakek selalu memperhatikan kalian dari belakang cermin satu arah itu. Kakek selalu
membawakan permen setiap kali dia datang. Dia tidak pernah satu kali pun absen apapun
keadaannya. Dia sangat membenci kenyataan bahwa selama setahun itu sama sekali tidak
bisa memeluk ibu dan paman.”

“Kamu bohong!” ibu emosi. ”Dia tidak pernah datang! Tidak pernah ada yang datang

menjenguk kamil”

”Lalu bagaimana aku tahu kunjungan Itu kalau dia tidak cerita dan benar-benar

melakukannya? Bagaimana aku bisa tahu oIeh-oleh apa yang dibawanya setiap minggu. Dia
benarbenar datang. Dia selalu datang. Ibu dan paman selalu menerima Permen. Kenapa
hanya pada hari tertentu. Apakah anak yang lainnya menerima permen yang sama juga?
Kenyataannya adalah para biarawati itu yang tidak pernah mengizinkan kakek menemui ibu
dan paman. Kata mereka, itu akan mempersulit keadaan karena ibu dan paman pasti tidak
akan mau berpisah dengan kakek begitu melihat kakek. Padahal kakek harus mencari uang
untuk kesembuhan nenek.”

Ibu terdiam.
”Kakek mencintai ibu dan paman-paman. Selalu begitu.”
Setelah saya menceritakan kebenaran itu, hubungan kakek dan ibu berubah. Ibu jadi

menyadari bahwa ayahnya selalu mencintainya. Keadaanlah yang memaksa kakek
menitipkan mereka di panti asuhan. Dan akhirnya kakek tinggal bersama kami sampai akhir
hidupnya.

*****

Cinta sering tidak terlihat kasat mata. Bahkan ketika kita ingin melihatnya. Kadang-

kadang, cinta pun butuh untuk dijelaskan, baik oIeh dirinya sendiri maupun orang lain.
Karena sebuah penjelasan bisa membuat mereka memahami. Itulah kenapa saling berbicara
itu penting. Untuk saling memahami daripada menghakimi.

Seberapa sering kita menjadi teman bicara orang-orang yang kita sayangi ?
Sudahkah kalian membaca dengan cermat kedua kutipan tersebut? Apa yang

pertama kalian lihat? ya benar! kover dan identitas bukunya. Apa lagi setelah itu? Kalian
akan ikuti penjelasan berikut.
Cermati langkah-langkah menyusun ikhtisar!

1.Mengenali identitas Buku

Hal yang pertama kalian lakukan adalah, berkenalan terlebih dahulu dengan

bukunya, yaitu kenalilah identitas bukunya!

Apakah identitas buku? sama halnya dengan kalian yang memiliki identitas, buku

juga memiliki identitas, seperti, judul, pengarang, penerbit, dan sebagainya.

Contoh identitas kutipan buku nonfiksi 1
Judul buku

: Gempa Literasi dari Kampung untuk Nusantara (nonfiksi)

Penulis

: Gol A Gong dan Agus M. Irkham

Penerbit

: Gramedia, Jakarta, 2012

Tebal buku

: 510 hlm. xv

Kover

: Warna dasar putih dan biru, terdapat gambar tangan yang sedang

memegang bola dunia. Tangan tersebut bercorakkan tulisan. dan di bawah
terdapat judul bukunya.


Contoh identitas kutipan buku nonfiksi 2
Judul buku

: Buku Untuk Dibaca , All About Love, Life, and Hope

13

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

13

Penulis

: Erick Namara

Penerbit

: Citra Media Utama, Yogyakarta, 2016

Tebal buku

: 380 + x

Kover : Warna dasar cokelat muda, tulisan judul buku warna hitam dengan huruf

balok tebal dan menonjol, tulisan anak judul merah huruf kaptal, di bawah
tulisan ada barcode tiga warna putih hitam dan logo Android warna hijau.

2.Cermati isi dalam setiap paragraf

Untuk mendapatkan maksud atau kesan umum dari sudut pandang pengarang aslinya,

kalian bisa mencari gagasan utama atau gagasan pokoknya.

Misalnya:
Kutipan buku nonfiksi 1
Semua orang mengetahui membaca buku itu penting.

Minat baca anak Indonesia.

Rendahnya minat baca Indonesia tidak ada integrasi antara pelajaran dan kewajiban.

Tidak adanya standar minimal yang harus dihatamkan oleh siswa.

Rendahnya minat baca anak Indonesia karena pengalaman yang kurang
menyenangkan.

Buku yang diperkenalkan kepada anak buku pelajaran yang tebal.


Kutipan buku nonfiksi 2
Rumah kakek di kota New York.

Saya menanyakan perbedaan sekarang dengan dulu.

Saya mendengarkan dan membayangkan keadaan masa sulit

3.Menyusun kerangka tulisannya

Setelah kalian membaca dan menemukan inti dari setiap paragraf, kalian rangkas inti

paragraf tersebut . Dalam penulisan inti kalimat , gunakan kalimat sendiri tetapi isinya tidak
hilang dan boleh tidak beraturan mengambil inti pada setiap paragraf .

Contoh:

Kutipan buku nonfiksi 1
Semua orang mengetahui membaca buku itu penting. Namun sayangnya, minat
baca anak Indonesia didapatkan sangat kurang. Hal ini terjadi disebabkan anak
Indonesia mendapatkan pengalaman yang kurang menarik. Buku-buku awal yang
diperkenalkan kepada mereka adalah buku-buku pelajaran yang cukup tebal. Hal inilah
di antaranya yang membuat anak Indonesia enggan membaca. Memang benar bahwa
rendahnya minat baca anak Indonesia tidak ada integrasi antara pelajaran dan
kewajiban, tetapi anak-anak Indonesia harus tetap membaca. Setiap siswa harus
memiliki suatu kesadaran dan kewajiban untuk membaca walaupun tidak adanya
standar minimal yang harus diselesaikan oleh siswa.

Kutipan buku nonfiksi 2
Rumah kakek berada di kota New York. Ketika saya dan kakek berjalan bersama,
saya penasaran perbedaan kota New York dahulu dengan yang sekarang. Mendengar
cerita kakek, saya dapat membayangkan keadaan masa sulit pada saat itu.

4.Memeriksa tulisan aslinya

14

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

14

Dalam hal ini, perlu kalian perhatikan dari buku aslinya, bahwa setelah kalian membaca

kemudian melakukan ikhtisar kalian dapat bebas mengombinasikan kata-kata, asalkan tidak
menyimpang dari inti yang disampaikan penulisnya. Kalian juga tidak perlu
mempertahankan gagasan utama yang menurut kalian tidak penting, begitu pula urutannya.


Bagaimana sudah paham? Tentunya kalian sudah memahami apa yang akan lakukan

untuk membuat ikhtisar?
Bila kalian sudah memahami, cermati kutipan buku selanjutnya dan hasil ikhtisarnya!

Paku

Ada seorang anak yang sangat pemarah. Ayahnya dan anak itu kemudian sepakat membuat
permainan untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah. Ayah itu
kemudian memberikan sekantung paku.
Permainan itu pun mulai dimainkan. Pada hari pertama, anak itu ternyata sudah memakukan
48 paku. Lalu sesuai dengan kesepakatan, si Anak pun akan mengurangi jumlah paku yang
ditancapkannya itu apabila dia berhasil menahan amarahnya. Anak itu sangat kesusahan
untuk mengambil paku yang telah ditancapkan pada kayu. Karena kesusahan itulah dia
berusaha untuk menahan amarahnya.
Akhirnya, bertambah harl, jumlah paku yang menanam di pagar semakin berkurang. Anak
tersebut peian-pelan bisa mengendalikan amarahnya. Dan pada saat anak itu mulai bisa
mengendalikan amarahnya, dia pun mengatakan ha! itu pada ayahnya. Tetapi ayahnya
meminta untuk menunggu beberapa hari lagi. Jika memang tidak ada paku yang ditancapkan,
berarti dia sudah berhasil meredakan amarahnya.
Beberapa hari kemudian, ternyata anak itu memang berhasil meredakan amarahnya.
Ayahnya menawarkan permainan baru. Ketika dia tidak marah dalam sehari, maka bisa
mencabut satu paku. Dan dimulai dari beberapa hari lalu.
Si anak merasa senang. Dan dia setuju dengan permainan baru itu. Maka dimulailah setiap
hari dia mencabut paku karena berhasil menahan amarahnya.
Hari terus berlalu dan anak itu selalu mencabut paku hampir setiap hari. Pada suatu hari, dia
melihat hanya tersisa satu paku saja. Dia berteriak girang. Permainan hampir selesai. Besok
adalah hari terakhir. Dia tidak boleh kalah.
Keesokan harinya dia berusaha dengan keras supaya usahanya berhasil dalam
mengendalikan amarah. Apa pun godaannya, dia berusaha mengendalikannya. Dan ternyata
dia berhasil melakukannya.
Dia pun berlari kepada ayahnya dan bermaksud menunjukkan ayahnya bahwa dia menang.
Paku terakhir akan dicabutnya. Ayahnya pun mengikutinya.
Setelah paku itu dicabut, anak itu tersenyum bangga, Ayah itu kemudian menepuk pundak
anaknya. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-Iubang di
pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini
di hati orang lain."

*****

Setiap luka yang kita terima dari orang lain, kita mungkin bisa memaafkannya. Tetapi soal
melupakannya? Belum tentu mampu. Dan juga pandangan kita kepada orang itu juga
mungkin berubah selamanya.
Apa yang kita lakukan pun berlaku seperti itu. Apa yang kita katakan, tindakan kita, semuanya
berpengaruh pada orang lain. Bisa memberi arti, bisa juga melukai. Dan keduanya samasama
akan membekas di hati mereka. Karena itu pertimbangkan dengan baik sebelum melakukan
apa pun kepada orang Iain.

Contoh ikhtisar:

15

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

15

Seorang ayah membuat kesepakatan dengan anaknya dengan cara permaianan.

Permainan itu berupa menancapkan paku ke pagar kayu bila si anak itu marah. Hari pertama
anak tersebut memakukan paku sebanyak 48 paku. Hari demi hari si anak dapat
mengendalikan amarahnya dan tidak lagi menancapkan paku ke pagar kayu. Kemudian
ayahnya menawarkan permainan baru, yaitu bila bisa menahan marah si anak harus
mencaut paku yang ada di pagar kayu. Kemudian untuk beberpa hari si anak berhasil kembali
menahan amarahnya. Si anak memberitahukan kepada ayahnya bahwa dia telah menang
dalam permaian itu. Si anak menunjukan kepada ayahnya bahwa dia akan mencabut paku
terakhir dan dia merasa bangga dan tersenyum. Kemudian ayahnya mengatakan bahwa
anaknya telah berhasil tetapi lubang-lubang di pagar kayu tidak akan seperti sebelumnya.
Kemudian ayahnya mengatakan bahwa kata-kata yang dilontarkan akan membekas di hati
orang lain.

C.Rangkuman

Ikhtisar adalah sebuah penyajian singkat dari sebuah karangan asli tidak perlu
memberikan seluruh isi dari karangan asli secara proporsional.

1.Ciri- ciri Ikhtisar

a.Tidak mempertahankan urutan gagasan
b.Bebas mengominasikan sebuah kata-katadengan syarat tidak menyimpang dari

inti

c.Tujuannya untuk mengambil inti.

2.Fungsi ikhisar

a.Unuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata
b.Menemukan serta mengetahui isi seluruh buku atau karangan
c.Membimbing serta menuntun seseorang agar dapat memahami inti dari suatu

isi

3.Langkah-langkah menulis ikhtisar

a.Mengenali identitas buku
b.Cermati isi dalam setiap paragraf
c.Menyusun kerangka tulisannya
d.Memeriksa tulisan aslinya.

16

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

16

D.Latihan Soal

Cermati informasi buku nonfiksi 1!

Tulisan Saya Jelek

Kepercayaan diri penting dimiliki bagi siapa saja yang ingin menulis. Dengan memiliki

kepercayaan diri, berbagai tantangan menulis pasti akan dihadapi. Dan ia sukses. Namun, lain
hal dengan orang yang tak mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Karena tidak PD dengan
diri maupun tulisannya sendiri, ia pun menghakimi tulisannya dengan berkata: tulisan saya
jelek.

Tentu ini sebuah kebiasaan buruk. Sebab, sejelek apa pun suatu, karya, ia tetap harus

dihargai. Bukankah demikian kata orang bijak? Baik atau buruk sebuah tulisan tolok ukurnya
apa? Problemnya, kita acap mengambil kesimpulan yang kadang terburuburu dalam menilai
tulisan.

Misalnya, ada kebiasaan buruk yang orang tanpa sadar melakukan, yakni

membandingkan tulisannya dengan tulisan orang lain sekelas tokoh nasional, misal dengan
tulisan Gus Dur (alm.), Amien Rais, Rosihan Anwar (alm.) dan atau dengan yang lain. Atau, ia
membandingkan tulisannya dengan tulisan yang kerap dimuat di media nasional.

Bagi, saya, tindakan ini tak salah, tapi cukup rentan berbahaya, apalagi jika dilakukan

penulis pemula yang bermental labil. Ia membandingkan tulisannya dengan tulisan para
tokoh dan atau membandingkan dengan tulisan yang telah dimuat di Kompas misalnya, tentu
kualitas tulisannya jauh lebih rendah dibanding dengan tulisan para penulis hebat tersebut.

Secara logika, jika perbandingan itu dilakukan tentu tak berimbang. Masa tulisannya

dibandingbandingkan dengan tulisan para tokoh yang dalam proses kreatif menulis jauh
lebih dulu ia berproses dibanding dengan penulis pemula yang baru kemarin sore menulis.
Hasilnya, sudah dapat ditebak, tulisan orang lain lebih baik dan tulisan kita sendiri jelek.
Maka, saran saya hindari kebiasaan ini.

Akan tetapi, jika kebiasaan membanding-bandingkan tulisan sendiri dengan tulisan

orang lain dalam kerangka proses belajar menulis yang konstruktif (membangun), tak jadi
masalah. Tapi, dengan catatan, kita meski berjiwa besar, bersikap terbuka (inklusif), jangan
anti-kritik, jangan takut salah, apalagi bersikap psimistis, bila ditemukan tulisan Anda lebih
baik dari tulisan orang lain.

Parahnya lagi jika kita beranggapan bahwa tulisan Anda tidak bakal terbit di media.

Tidak dapat dipungkiri, perasaan takut tulisannya tak dimuat media kerap kali muncul dalam
diri penulis. Apalagi, jika ingin tulisannya diterbitkan di koran, jurnal ilmiah, jurnal
internasional, yang dipenuhi dengan persaingan ketat antar-penulis. Jika ada orang yang
berpikir seperti ini, bagai pepatah layu sebelum berkembang. Sementara, dalam istilah

Judul buku : Menaklukan Media
Penulis : Andi Andrianto
Penerbit : Elex Media Komputindo,

Jakarta, 2011

Tebal buku : 184 halaman

17

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

17

militer mati sebelum berperang. Kasihan sekali. Buang saja ke laut meminjam istilah politisi
“nyentrik” Ruhut Sitompul.

Sebetulnya, untuk menghindar dari tudingan itu, saran saya segeralah menjauh dari

pelbagai asumsi bahwa tulisan Anda tak bakal terbit. Yang penting Anda lakukan adalah terus
menulis, jangan kapok apabila tulisan Anda tak dimuat, jangan takut dengan penulis lain. Dan
jangan berhenti menulis di separuh jalanketika Anda sedang menulis.

Sebab banyak orang gagal dan atau menghindar dari aktivitas menulis karena ia takut

dan bahkan tak punya kepercayaan diri bahwa ia akan sanggup menyelesaikan sebuah
tulisan, bahkan hanya untuk menuntaskan artikel yang panjangnya hanya 5000 karakter.
Orang tipe seperti ini , biasanya memiliki pengalaman yang kurang baik dalam menulis.
Ketika ia coba menulis, ia gagal menuntaskan tulisan akibat malas atau kekurangan ide.

Parahnya lagi, ada pula orang yang berpikir tak dapat membuat tulisan utuh hanya

karena ia pernah mendengar dari orang yang salah yang mengatakan menulis itu sukar.
Padahal ia belum pernah praktik menulis. Parah betul bukan? Ibaratnya ia minum air padahal
isinya racun. Seperti itulah gambaran tipe orang seperti ini.

Lantas, bagaimana mengatasi situasi ini? Awalnya, hilangkan pikiran bahwa tulisan

Anda jelek, tulisan tak bisa diterbitkan media dan jauhi asumsi bahwa Anda tak dapat
menyelesaikan sebuah tulisan. Dan ketika Anda menulis, tiba-tiba ide mandeg dan Anda
bingung untuk melanjutkan tulisannya, sebaiknya tulisan tersebut diendapkan saja lebih dulu
dan Anda melakukan aktivitas lain sembari Anda tetap berpikir dengan tulisan Anda tadi.
Percayalah ide segar itu kembali akan datang dan Anda bisa menuntaskan tulisan hebat Anda.
Coba saja !

Yupz, inilah dalih-dalih orang menghindar untuk menulis. Tentu, di lapangan masih

banyak lagi alasan orang belum atau tidak menulis. Alasan orang belum menulis yang saya
sampaikan di atas hanya bagiankecil dari beribu-ribu alasan seseorang menepis diri tak
menulis.

So, dalih belum menulis harus dihilangkan, jika ingin dapat menulis. Caranya? Menurut

Feby dalam tulisannya “Dalih”, dalih dapat dilawan dengan kita berdalih pula. Alasan orang
belum menulis sebagaimana yang saya tulis di atas merupakan dalih negatif yang dapat
dikalahkan dengan dalih positif. Begitu kata Feby.

Cermati informasi buku nonfiksi 2!

Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung

untuk Nusantara (nonfiksi)

Penulis : Gol A Gong dan Agus M.

Irkham

Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv

18

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

18

Pertalian Minat Baca, Harga Buku, dan Daya Beli


Lebih dulu mana, ayam atau telur? Pertanyaan metaforis itu bakal muncul ketika kita

mencoba menghubungkan minat baca, harga buku, dan daya beli. Pada pembaca buku
berlaku demikian: minat baca tinggi tak serta-merta membuat daya beli tinggi. Dalih klisenya
harga buku mahal. Mendapat sangkaan itu, penerbit pun berkelit. Bagaimana mungkin harga
buku bisa murah, daya beli terhadap buku saja rendah. Buku yang dicetak belum tentu ludes
dalam setahun. Belum lagi harga kertas yang terus naik dan pengenaan pajak buku. Penerbit
terpaksa mencetak buku dalam jumlah yang tidak efisien. Karena tidak efisien, harga pokok
produksi pun menjadi tinggi.

Menariknya, ketika buku tertentu laris sehingga biaya produksinya ringan, harga jual

buku tidak menjadi murah, atau minimal lebih rendah dibandingkan dengan harga buku
cetakan pertama. Harga buku hasil proses produksi yang sangat eiisien tersebut masih sama
dengan harga buku hasil produksi yang tidak efisien. Satu amsal menggiring kita pada
simpulan sementara bahwa tidak ada jaminan setelah harga buku betul-betul dapat ditekan
lantas daya beli meningkat. Dalam kenyataannya, daya beli tidak sematamata dipengaruhi
oleh faktor harga-meskipun sering dijadikan kedok. Terbukti, beberapa buku yang harganya
tergolong mahal bisa terjual ratusan ribu eksemplar dan terus diburu orang. ”

Lantas, pertanyaannya adalah, apa yang harus dilakukan un' tuk mengurai benang

kusut pola hubungan antara minat baca, harga buku, dan daya beli itu?

Tulisan ini tidak berpretensi menjelaskan dan menjawab pertanyaan di atas. Sekadar

beriur interupsi kecil: ternyata buku, yang dinilai sebagai produk budaya, lebih sering hanya
menjadi tempelan, belum benar-benar terintegrasi ke dalam budaya. Akibat yang paling
kentara adalah sulitnya menyusun formulasi yang cespleng antara minat baca, harga buku,
dan daya beli.

Belum lagi, tantangan dan tentangan yang ditimbulkan oleh melejitnya perkembangan

audio (radio) dan visual (televisi) mengakibatkan terjadinya loncatan budaya. Dari kelisanan
primer (primary orality), saat belum ada kemampuan baca-tulis, ke kelisanan sekunder
(secondary orality), ketika kemampuan baca-tulis tidak begitu dibutuhkan karena sumber
informasi lebih bersifat audiovisual (Kleden, 1999). Goenawan Mohamad menyebutnya dari
visual wayang langsung ke visual film.

Simpulan bahwa di Indonesia, buku masih digunakan sebagai tempelan dapat

ditelusuri dari asumsi berikut: selama ini, secara umum, buku sering dipahami sebagai tanda
tahap perkembangan keterbukaan dan modernisasi suatu bangsa. Citra yang terbentuk dari
orang yang karib dengan buku adalah terpelajar, tercerahkan, mempunyai empati yang lebih
besar dibandingkan dengan orang yang steril buku.

Empati adalah kemampuan untuk merasakan berada dalam posisi orang lain.

Kemampuan itu bisa saja dimiliki karena buku merupakan hasil kreasi yang sifatnya
personal. Pengalaman orang lain atau komunitas dilipat, kemudian dihidangkan kepada
pembaca dalam bentuk lembaran-lembaran kertas. Buku menjadi sarana orang mengasah
dan memunculkan empati. Pendeknya, buku dan kemajuan berada dalam satu pola hubungan
searah. Pada titik itu buku menjadi variabel independen (sebab). Jika ini yang kita pahami,
bentuk kebijakan yang harus ditempuh mencapai tingkat kemajuan minat baca dan bangsa
yang lebih tinggi adalah dengan mendorong para pengarang, penulis, dan penerjemah untuk
menyiapkan banyak naskah yang berkualitas. Pada saat yang sama, penerbit-penerbit buku
harus didirikan. Pemerintah pun harus mengeluarkan kebijakan yang friendly pada industri
perbukuan, misalnya melalui penghapusan pajak penulis dan penerbit sehingga harga buku
lebih terjangkau. Secara otomatis, minat baca masyarakat akan meningkat.

Betulkah begitu? Mungkinkah yang terjadi justru sebaliknya? Lantaran orang

terpelajar, tercerahkan, sadar akan pentingnya informasi dan pengetahuan, terdidik, lantas
ia menjadi suka baca buku-sumber informasi dan pengetahuan. Dengan demikian, aktivitas
membaca buku bersifat variabel dependen (akibat). Jadi, jika ingin masyarakat kita gemar
membaca (dan menulis), yang harus diperbaiki adalah soal-soal yang berkaitan dengan

19

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

19

penyelenggaraan pendidikan-baik sarana maupun kurikulumnya-bukan pada harga buku,
karena pertimbangan membeli buku sudah tidak lagi pada harganya, tetapi kebutuhan.
Kurikulum pendidikan diarahkan pada kecintaan membaca buku dan mendaras bacaan
sehingga di tiap tes guru bisa mengecek kemajuan bacaan peserta didik, menyangkut bacaan
wajib (required reading), bacaan yang dianjurkan (recommended reading), serta bacaan yang
menyangkut pengetahuan umum (general knowledge).

Buku, baik sebagai variabel independen maupun dependen, sejatinya menyimpan

kebenarannya masing-masing. Artinya, salah satu atau keduanya dapat menjadi pintu masuk
guna mengurai pola jalin minat baca, harga buku, dan daya beli yang ruwet itu. Tak terkecuali
pamrih mencerdaskan bangsa. Namun, yang terjadi di negeri kita sebaliknya. Bukan salah
satu, melainkan kedua pintu itu sama sekali tidak dimasuki. Buku dan pendidikan sama-sama
dinilai sebagai entitas yang semata-mata berdimensi ekonomi dan politik. Tidak ada sangkut
pautnya dengan budaya.


Berdasarkan kedua informasi buku nonfiksi tersebut, isilah tabel berikut sesuai dengan
yang telah dicontohkan pada kegiatan pembelajaran 1!

No.

Identitas Buku

Ikhtisar

1.

---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------

-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
------------------------------

2.

---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------

-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------

20

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

20

---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------------------------
---------------------------------

-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------
-----------------------------------------------------

21

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

21

Kunci Jawaban dan Pembahasan


Kunci Jawaban Latihan 1

No.

Identitas Buku

Ikhtisar

1.

Judul buku : Menaklukan

Media

Penulis : Andi

Andrianto

Penerbit : Elex Media

Komputindo,
Jakarta, 2011

Tebal buku : 184 halaman

Memiliki kepercayaan diri penting bagi siapa saja yang

ingin menulis. Baik buru tulisan harus tetap dihargai.
Terkadang ada kebaiasan buruk membandingkan dengan
tulisan orang lain sekelas tokoh nasional. Tindakan
tersebut tidak salah tetapi cukup rentan bagi penulis
pemula. Secara logika perbandingan itu tidak seimbang.
Kebiasaan membandingkan-bandingkan tulisan sendiri
dengan orang lain tak jadi masalah untuk membangun diri.
Jangan sampai berpikiran tulisan Anda tidak bakal terbit di
media. Untuk menghindar tudingan itu lakuakan terus
menulis.Banyak orang gagal dalam menulis karena tak
sanggup menyelesaikan tulisannya. Hilngkan pikiran
bahwa tulisan Anda jelek .


2.

Judul buku : Gempa Literasi

dari Kampung
untuk
Nusantara
(nonfiksi)

Penulis : Gol A Gong dan

Agus M. Irkham

Penerbit : Gramedia,

Jakarta, 2012

Tebal buku : 510 hlm. xv

Pernahkah Anda mendengar pepatah Lebih dulu mana,

ayam atau telur? Pertanyaan metaforis itu bakal muncul
ketika kita mencoba menghubungkan minat baca, harga
buku, dan daya beli. Akan lebih bila menarik buku tertentu
laris sehingga biaya produksinya ringan, harga jual buku
tidak menjadi murah. Tulisan ini menjawab pertanyaan di
atas. Sekadar beriur interupsi kecil: ternyata buku, yang
dinilai sebagai produk budaya, lebih sering hanya menjadi
tempelan, belum benar-benar terintegrasi ke dalam
budaya . Kemudian muncul tentangan yang ditimbulkan
oleh melejitnya perkembangan audio (radio) dan visual
(televisi) mengakibatkan terjadinya loncatan budaya. Di
Indonesia buku masih digunakan sebagai tempelan dapat
ditelusuri dari asumsi berikut: selama ini, secara umum,
buku sering dipahami sebagai tanda tahap perkembangan
keterbukaan dan modernisasi suatu bangsa.

Rubrik Penilaian

22

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

22

Latihan 1

No

Jawaban Benar

Jawaban Salah

Skor

1.


Judul buku : Menaklukan Media
Penulis : Andi Andrianto
Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011
Tebal buku : 184 halaman

Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung untuk

Nusantara (nonfiksi)

Penulis : Gol A Gong dan Agus M. Irkham
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv


1







1

2

Memiliki kepercayaan diri penting bagi siapa

saja yang ingin menulis. Baik buru tulisan harus tetap
dihargai.

Terkadang

ada kebaiasan

buruk

membandingkan dengan tulisan orang lain sekelas
tokoh nasional. Tindakan tersebut tidak salah tetapi
cukup rentan bagi penulis pemula. Secara logika
perbandingan

itu tidak

seimbang.

Kebiasaan

membandingkan-bandingkan tulisan sendiri dengan
orang lain tak jadi masalah untuk membangun diri.
Jangan sampai berpikiran tulisan Anda tidak bakal
terbit di media. Untuk menghindar tudingan itu
lakuakan terus menulis.Banyak orang gagal dalam
menulis

karena

tak sanggup

menyelesaikan

tulisannya. Hilangkan pikiran bahwa tulisan Anda
jelek .

Pernahkah Anda mendengar pepatah lebih dulu

mana, ayam atau telur? Pertanyaan metaforis itu
bakal muncul ketika kita mencoba menghubungkan
minat baca, harga buku, dan daya beli. Akan lebih bila
menarik

buku

tertentu

laris sehingga

biaya

produksinya ringan, harga jual buku tidak menjadi
murah. Tulisan ini menjawab pertanyaan di atas.
Sekadar beriur interupsi kecil: ternyata buku, yang
dinilai sebagai produk budaya, lebih sering hanya
menjadi tempelan, belum benar-benar terintegrasi ke
dalam budaya . Kemudian muncul tentangan yang
ditimbulkan oleh melejitnya perkembangan audio
(radio)

dan visual

(televisi)

mengakibatkan

terjadinya loncatan budaya. Di Indonesia buku masih
digunakan sebagai tempelan dapat ditelusuri dari
asumsi berikut: selama ini, secara umum, buku sering
dipahami

sebagai

tanda

tahap

perkembangan

keterbukaan dan modernisasi suatu bangsa.


1














1

Jawaban benar nilai skor 1
Jawaban salah skor 0

Soal 6 bila semuanya benar nilai seratus

23

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

23

E.Penilaian Diri

Berilah tanda centang (√) pada format di bawah ini sesuai dengan jawaban kalian!

No.

Pernyataan

Penilaian
Ya

Tidak

1 Saya senang membaca segala jenis buku

2. Saya punya target jumlah buku yang dibaca perbulan

3. Saya hanya menyukai jenis buku fiksi

4 Saya tertarik untuk menulis ikhtisar

5 Saya akan menulis ikhtisar berbagai buku

24

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

24

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

RINGKASAN NOVEL

A.Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini diharapkan kalian mampu menyusun ringkasan

novel dengan kreatif, inovatif dan semangat agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari
sehingga dapat mengambil manfaat atau pelajaran dari novel yang dibaca.

B.Uraian Materi

Pada kegiatan pembelajaran 2 ini, kalian akan mempelajari menyusun ringkasan novel.

Yuk, kita mulai pelajaran ini!

Sebelum lebih lanjut menyusun ringkasan novel perlu kalian ketahui apakah itu

ringkasan. Apakah sama dengan ikhtisar yang telah kalian pelajari?


Mulailah dari menulis sebuah karangan sederhana menuju yang lebih kompleks! Nasihat

ini mungkin perlu dicamkan bagi para penulis pemula. Nah, Sebelum Kalian mencoba
menulis yang berat berlatih menulis ringkasan terlebih dahulu.

Dengan menulis ringkasan kalian terlatih untuk menulis, juga dapat menambah

wawasan kalian tentang sesuatu sebagai bekal seorang penulis. Hal itu disebabkan kalian
harus membaca terlebih dahulu sebuah tulisan yang akan kalian ringkas. Pada bagian ini akan
diuraikan berbagai masalah yang berhubungan dengan ringkasan mulai dari pengertian
sampai dengan langkah-langkah meringkas.


Ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli tetapi dengan tetap

mempertahankan urutan isi dan sudut pandangan pengarang asli, sedangkan perbandingan
bagian atau bab dari karangan asli secara proporsional tetadipertahankan dalam bentuknya
yang singkat itu

Ringkasan memiliki perbedaan dengan ikhtisar, meskipun sering kedua istilah itu

disampaikan, tapi sebenarnya kedua istilah itu bebeda. Sebab ringksan merupakan hasil dari
karangan yang asli tetapi dalam penyajiannya harus tetapi mempertahankan urutan dan
rumusan yang asli dari pengarangnya.

Membuat ringkasan adalah sebuah keterampilan. Tidak semua orang mampu dengan
cermat dan tepat membuat ringkasan dari bahan bacaan yang dibacanya. Mengapa demikian?
Karena pada hakikatnya hasil meringkas itu adalah sebuah karya reproduksi dari karya lain.

Adapun ciri-ciri ringkasan sebagai berikut.

1.Pengungkapan kembali bentuk kecil dari sebuah karangan.
2.Mereproduksi kembali apa kata pengarang.
3.Mempertahankan urutan-urutan gagasan yang membangun sosok (badan) karangan.
4.Penyusun ringkasan terikat oleh penataan, isi, dan sudut pandang pengarangnya.
5.Kalimatnya pendek-pendek dan senada dengan kalimat pengarang aslinya.

Mengungkapkan kembali sebuah karangan atau naskah bacaan dalam bentuk yang
padat. Dalam meringkas kita mengambil intisari atau ide-ide pokok suatu bacaan
sehingga menjadi bentuk yang lebih padat.

25

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

25

6.Memproduksi kembali apa yang diungkapkan pengarang dalam tulisannya. Kita

mengambil intisari yang kemudian ditulis ulang dengan bahasa kita sendiri apa yang
diungkapkan oleh sang penulis.

7.Menjaga urutan ide-ide pokok sehingga terbangun ringkasan dari naskah asli. Dalam

meringkas kita harus tetap merunut ide-ide pokok sehingga ringkasan yang kita buat
tetap mewakili naskah bacaan aslinya.

8.Susunan ringkasan, sudut pandang, dan isi mengikuti naskah asli. Meskipun kita

menuliskan kembali, namun tidak boleh keluar dari susunan naskah aslinya.

9.Menuliskan kalimat-kalimat pendek yang mewakili tulisan pengarang. Pada

prinsipnya, meringkas berarti membuat tulisan menjadi tulisan lebih pendek. Oleh
karena itu, kalimat-kalimat dalam ringkasanpun pendek dan padat namun tidak
menghilangkan unsur-unsur estetika dari naskah aslinya.

1.Cara membuat ringkasan

Membuat ringkasan dari buku bacaan yang baru dibaca adalah bagian kemampuan
membaca itu sendiri. Seorang pembaca yang baik dan berhasil, adalah pembaca yang
mampu menceritakan kembali secara ringkas isi buku yang baru dibacanya, terutama
bila hal berkaitan dengan kepentingan membaca cermat. Bukankah hasil akhir dari
membaca, adalah pembaca dapat memahami isi buku secara cermat? Petunjuk yang
nyata adalah bila pembaca mampu mengungkapkan kembali isi bacaan itu. Ada juga
orang yang memang rajin membuat ringkasan buku yang dibacanya. Artinya, setiap kali
kita selesai membaca minimal dalam satu kalimat. Catatan itu pada umumnya berupa
ringkasan. Persoalannya sekarang bagaimana membuat ringkasan itu secara tepat.

Dalam meringkas, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, serta penjelasan-penjelasan
yang rinci dihilangkan sehingga jadilah sari tulisan tanpa hiasan. Meskipun demikian,
peringkas harus tetap mempertahankan urutan pikiran penulis asli beserta
pendekatannya.

Dengan membuat reproduksi, belum tentu pengarang sudah mengerjakan segala
sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
ringkasan dapat ditulis dengan baik, di antaranya:
1.Sebaiknya dalam menyusun ringkasan mempergunakan kalimat tunggal daripada

kalimat majemuk.

2.Ringkaslah kalimat menjadi frase dan frase menjadi kata.
3.Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan

dalam ringkasan. Alinea yang mengandung ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat
dihilangkan, kecuali yang dianggap penting.

4.Jika memungkinkan buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski

terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk
menjelaskan gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau
rangkaian kata sifat yang terdapat dalam naskah.

5.Pertahankan semua gagasan asli dan urutan naskahnya. Tetapi yang sudah dicatat

dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat ringkasan
yang dibuat oleh penulis. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau pikiran
penulis yang dimasukkan ke dalam ringkasan.

6.Dalam sebuah ringkasan ditentukan pula panjangnya, maka dari itu kalian harus

membuat seperti apa yang diminta bila diminta membuat ringkasan menjadi
seperatus dari karangan asli. Agar memastikan apakah ringkasan dan yang dibuat
sudah seperti yang diminta silakan hitung jumlah seluruh kata dalam karangan
kemudian bagilah dengan serarus. Hasil dari pembagian itulah yang merupakan
panjang karangan yang harus ditulis. Perhitungan jumlah kata ini bukan berarti

26

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

26

seseorang menghitung secara riil jumlah kata yang ada. Tapi hanya suatu perkiraan
yang dianggap mendekati kenyataan.

2.Tujuan membuat ringkasan

Tujuan dari membuat ringkasan yaitu untuk membantu seseorang agar bisa

membaca sebuah buku dalam waktu singkat dan menghemat waktu
Manfaat Ringkasan
Manfaat ringkasan sebagai sarana untuk membantu kita dalam mengingat isi
sebuah buku atau suatu uraian yang begitu panjang. Adapun beberapa manfaat
antara lain sebagai berikut.
1.Menemukan secara cepat informasi yang dibutuhkan.
2.Menemukan bagian-bagian penting isi buku.
3.Dapat menggambarkan keadaan mengenai isi buku.
4.Waktu yang digunakan untuk membaca jauh lebih singkat.
5.Membantu keperluan yang sifatnya praktis. Misalnya butuh intisari buku dalam

waktu yang singkat.

3.Syarat dan dasar membuat ringkasan

Syarat ringkasan sebagai berikut:

1.Bentuk penyajian singkat dari suatu karangan asli.
2.Mempertahankan urutan pembahasan dan sudut pandang pengarangatau

penulisnya.

3.Tetap memperhatikan perbandingan bagian atau bab dari karangan asli .

Dasar-dasar membuat ringkasan yang baik dan teratur yaitu:

1.Membaca naskah asli, penulis ringkasan harus membaca naskah asli beberapa kali

untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang serta sudut pandangnya.

2.Mencatat pokok-pokok pikiran, semua pokok pikiran yang penting dicatat atau

digarisbawahi. Pokok pikiran disebut gagasan utama. Gagasan utama terletak dalam
kalimat utama. Kalimat utama dapat terletak di awal, akhir, awal dan akhir, serta di
seluruh paragraf. Hal ini berguna untuk membantu penulis ringkasan dalam
menentukan apa saja yang perlu dan tidak perlu ditulis dalam ringkasan.

3.Membuat reproduksi, penulis ringkasan menyusun kembali suatu karangan singkat

(ringkasan) berdasarkan catatan pokok pikiran tersebut. Penulis ringkasan perlu
memperhatikan urutan penulisan ringkasan, yaitu harus sesuai dengan urutan dalam
bacaan aslinya. Selain itu, penulis ringkasan juga perlu menghindari penggunaan
kalimat dari tulisan aslinya. Oleh karenanya, ringkasan juga dikatakan sebagai hasil
penulisan kembali suatu cerita dengan menggunakan bahasa penulisnya sendiri.

Langkah-langkah meringkas

1.Bacalah teks secara cermat dan efektif, sampai kamu dapat menangkap gagasan

utama, kesan umum, sudut pandang, dan tema utama dari teks.

2.Catatlah bagian-bagian yang kalian anggap penting.
3.Tulislah informasi berdasarkan bagian-bagian yang kalian anggap penting tersebut.
4.Tulislah ulang intisari bacaan ke dalam bentuk kalimat tidak langsung,

bergayaorang ketiga (penceritaan). Gunakan bahasa sendiri, bukan bahasa
teks/bukuyang diambil secara utuh, menyeluruh, lengkap, sekalipun dalam
bentukpenuturan yang singkat.

5.Tidak memasukkan pikiran, ilustrasi, atau contoh sendiri.

27

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

27

6.Tidak mengubah keseimbangan dan penekanan pengarang asli.
7.Menyusun draf atau kerangka untuk membuat intisari bacaan.
8.Susun draft menjadi bentuk ringkasan yang baik.

Nah, kalian telah membaca teori tentang ringkasan . Tentunya kalian telah

memahaminya. Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan untuk membuat
ringksan yang kreatif dan inovatif. Untuk itu kalian cermati kutipan novel berikut!



Kalian pernah melihat buku ini atau pernah membacanya, seru bukan? Nah, pada
pembelajaran kali ini kita akan membahas novel dan bagaimana cara menemukan nilai nilai
yang terkandung di dalamnya. Selain itu, kalian akan menulis ringkasan novel. Akan tetapi,
sebelum membahas itu semua yuk kita baca terlebih dahulu , siapa sih penulisnya, dimana
diterbitkan, ada berapa halaman. Penasarankan isi menceritakan apa? Pasti kalian jatuh cinta
setelah membacanya, yuk, kita baca !

Papan Pembatas Kelas

Aku baru selesai dari kantin bersama Nandan, Hadi, dan Rani.
Dilan gak ada. Dilan jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau benar dia sedang
mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin untuk bertemu denganku? Kenapa lebih memilih
kumpul bersama teman-temannya di warung Bi_Eem?
Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku. Bicara denganku. Setidaknya
dengan itu, aku bisa tahu langsung darinya, benarkah dia suka ngeganja seperti yang
dikatakan oleh Nandan dan Dito?
Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang dikatakan
oleh Nandan?
Jika aku ingin tahu tentang Dilan, aku tidak bermaksud mau mengorek kehidupannya.
Siapalah aku ini. Dilan bukan pacarku, apa urusanku memikirkan dirl dan kehidupannya. Tapi
dorongan untuk ingin tahu lebih banyak tentang Dilan selalu muncul setiap waktu, terutama
sejak adanya informasi akan banyak hal buruk tentang dia. Aku gak ingin percaya jika itu baru
sebatas cuma rumor, apalagi datangnya dari Nandan. Kalau faktanya memang benar Dilan
suka ngeganja, suka mabuk dan playboy, ya sudah itu adalah dirinya, dan mungkin aku akan
segera menjauh.
Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku
penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!

Judul buku : Dilan , Dia Adalah

Dilanku Tahun 1990
(fiksi)

Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books,
Bandung, 2014
Tebal buku : 346 halaman

28

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

28

Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi gini?
--ooo-
Dari kantin, sebelum mau masuk ke kelas, aku berpapasan dengan Dilan. Dia sedang
jalan bersama kawan-kawannya. Kutebak, pasti baru datang dari warung Bi Eem.
"Milea!" dia manggil dan lalu mendekat. Kuhentikan langkahku. Sedangkan Nandan, Hadi
dan Rani terus berjalan karena aku minta mereka untuk jalan duluan.
”Ya?”
“Boleh gak aku ikut pelajaran di kelasmu lagi?"
Dia senyum. Aku juga.
“Nanti kamu dimarah lagi,” kataku.
“Gak apa-apa. Aku orang yang siap dimarah," katanya sambil senyum.
Aku diam. Lalu kutanya dia sambi| kupandang matanya.
“Kamu mau bikin aku senang gak?"
Aku nyaris gak percaya bahwa aku bisa nanya kepadanya.
“Iya?"
“Kalau gitu," kataku. “Ikuti mauku," kataku tersenyum.
“Emang apa maumu?"
“Jangan ikut belajar di kelasku!" kataku sambil aku govangkan jari telunjukku. Aslinya sih
aku suka ada Dilan di kelasku, tapi aku merasa gak enak ke temen-temen
Dilan ketawa.
“Oke, kalau begitu," katanya.
Di saat yang bersamaan, Ibu Sri lewat. Dia mau masuk ke kelasku. Dilan menyapanya dan
nanya ke dia:
"Bu, boleh ikut belajar di kelas Ibu?”
“Heh? Kamu, kan, punya jadwal sendiri,” jawab Ibu Sri. “Ayo, pada masuk! Sudah bel.”
“Siap grak!”
Aku senyum melihat cara Dilan menghormat Ibu Sri, dia tegakkan badannya, lalu tangannya
ia tempelkan di jidat. itu benar-benarjadi seperti hormat kepada komandan, atau seperti
kepada bendera.
Habis itu, Dilan pergi.
Aku masuk kelas untuk mengikuti pelajaran beri. kutnya. Itu adalah pelajaran Pendidikan
Moral Pancasila (sekarang PKN), dengan Ibu Sri sebagai gurunya. Ya, aku masih ingat.
Tapi yang lebih aku ingat bukan Ibu Srinya, melainkan kejadiannya, yaitu pada waktu Ibu
Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, tiba-tiba papan pembatas kelas bagian sebelah
kanan itu roboh, jatuh menimpa ke arah kami. Papan pembatas kelas itu jatuh, menimpa
papan tulis dan menggulingkan Presiden Indonesia, Soeharto, dalam bentuknya sebagai foto
yang dikasih pigura.
Kami semua kaget, ibu Sri juga. Dia lari sambil teriak menyebut nama Tuhan: “Allahu
akbar!l” dan juga menyebut nama salah satu keluarganya: “Mamaaaa l” (sejak itu aku tahu
Ibu Sri memanggil ibunya dengan sebutan 'Mama').
Kami semua lari, berusaha menghindar, karena tahu itu bahaya. Kami lari ke arah
belakang bagian ke|as.
Dari tempat kami ngungsi, kami menyaksikan sendin bagaimana papan pembatas ke|as
itu roboh bersama dua orang yang masih menggantung di atasnya. Dan, Pemirsa saksikanlah
bersama-sama, kedua orang itu adalah:
Piyan dan Di|an!
Aku tidak ingin percaya, tapi itu nyata.
Lalu, bagaimana hal itu bisa terjadi?
Aku dapat penjelasan langsung dari Di|an setelah beberapa bulan kemudian.
Katanya, waktu itu, di kelas sedang tidak ada pelajaran, gurunya tidak datang karena sakit.
Di|an dan Piyan, berusaha naik ke atas pembatas kelas itu, tujuannya untuk mencapai lubang
ventilasi yang ada di tembok bagian atas.
”Ih! Ngapaiiiin?” kutanya.
”Ngintip kamu, ha ha ha ha.”

29

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

29

”Ha ha ha ha. Kamu jadi beneran masuk ke kelas Ibu Sri.”
"Iya! Ha ha ha. Masuk dengan cara lain."
“Ha ha ha."
“Risiko tinggi mencintaimu.”
“Ha ha ha.”
Tapi itulah yang terjadi. Mau gimana lagi.
Wati, teman sekelasku, mungkin dia jengkel. Dihampirinya Di|an, untuk kemudian dia lempar
dengan buku pelajaran, sambil ngomong: Maneh wae, Siah“ itu bahasa Sunda, kira-kira
artinya: "Elu lagi! Elu lagi!"
Dia juga menjewer Piyan: “Maneh deui! Mimilu !” juga bahasa Sunda, kira-kira artinya:
"Kamu juga lagi, ikut-ikutan."
Dilan tidak melawan. Piyan hanya meringis. Aku Iangsung ingin tahu siapa Wati sebenarnya?
Kenapa dia berani ke Dilan? Kenapa dia berani ke Piyan? Di saat mana, aku merasa yakin
orang lain tak akan berani melakukannya. Dan. kenapa keduanya tidak melawan ketika
diperlakukan macam itu oleh Wati?
Selidik punya selidik, ternyata Wati itu tidak lain adalah saudara Dilan. Pantesan! ibunya
Wati adalah adik dari ayahnya Dilan.
Ya. Tuhan, kenapa aku baru tahu?
Dilan dan Piyan, lalu dibawa Pak Suripto ke ruang guru dengan cara yang kasar menurutku!
Saat itu, anehnya aku tidak cemas. Anehnya aku percaya, Diian pasti bisa menghadapinya
dengan tenang.
--000--
Tapi sejak adanya peristiwa itu, aku tidak pernah melihat Dilan selama dua hari, di
lingkungan sekolah dan di mana pun.
Mungkin. dia sakit. Mungkin, dia diskors. Aku tidak tahu dan aku ingin tahu ke mana. Tapi
bingung harus bertanya ke siapa? Nanya ke Nandan atau Rani, khawatir mereka akan
menyangka yang bukan-bukan. Nyangka aku perhatian Atau apalah , meskipun iya begitu,
tapi jangan sampai mereka tahu.
Jadi?
Ya, aku bingung. Gak ada jalan lain rasanya. Aku cuma bisa berharap aku akan tahu dengan
sendirinya.
--ooo--
Keinginanku bisa ke kantin berdua dengan Wati, akhirnya kesampaian.
Di kantin, ada Nandan, Rani, dan Jenar yang ingin gabung makan satu meja dengan kami,
tapi kubilang aku ada urusan dengan Wati. Untung mereka bisa ngerti, dan kemudian pada
duduk di meja lain.
Pasti kamu tahu tujuanku ngobrol dengan Wati. Meskipun malu, harus kuakui, bahwa dari
Wati aku ingin dapat informasi lebih banyak tentang Dilan. Setidaknya Wati itu saudaranya,
pasti lebih banyak tahu tentang Dilan dibanding orang lain.
Maksudku, aku ingin jelas menyangkut tentang banyak informasi buruk yang kudapat
tentang Dilan. Bukan mau ikut campur. Aku mengerti, hidup Dilan adalah urusannya.
Bagaimanapun dirinya, apalah urusanku dengan dia. Aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan
pacarnya.
Apakah aku normal kalau aku ingin tahu semua hai tentang Dilan? Kalau enggak, biarin, deh,
gak normal juga. Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat jendela. Aku merasa harus
hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuan asliku ngobrol dengan dia.
Setelah ngobrol tentang hal lain yang kuanggap gak penting, aku mulai berusaha
mengarahkan pembicaraan supaya membahas pada pokok yang kumaui:
"Eh, ngomong-ngomong, kemarin, waktu Si Dilan jatuh: kamu lempar dia pake buku, kok,
kamu berani, sih?"
”Oh? Ha ha ha. Berani, lah!” jawab Wati. ”Habisnya kesel. Dia itu nakal tau? Di rumahnya juga
begitu!”
“Kamu saudaraan, ya?”
”Iya. Ibuku adik ayahnya."

30

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

30

”Oh, pantes!” kataku. ”Kaget aja, pas lihat kamu berani mukul dia, ha ha ha.”
“Ha ha ha. Kesel,” jawab Wati. ”Nakal dia itu.”
”Nakal gimana?”
“Ah, banyak!” kata Wati. ”Pernah, tuh, waktu malam minggu, kapan, ya, pokoknya dia motong
ayam ibuku. Diambil di kandang gak bilang-bilang."
“Oh, ya?” Aku senyum.
”Disate tau gak?! Dimakan sama temen-temennya di belakang rumah dia!”
“Ha ha ha. Mabuk-mabukan, ya?”
“Enggak, lah !”
"Taunya enggak?"
“Tau aja.”
“Ngambil ayam ibu kamu?” tanyaku. ”Kok, berani?"
“Pas ditegur ibuku, dia bilangnya salah ngambil. Gelan gak kelihatan katanya.”
“Ha ha ha.”
"Padahal, kamu tau gak? Ayahnya itu galak,” kata Wati. “Ayahnya tentara."
”Oh? Ya?!”
Aku nyaris terperangah mendengar bahwa ayahnya Diian adaiah juga tentara.
“Iya.”
”Cabang apa?”
”Gak tau, tuh,” jawab Wati. “Gak ngerti.”
”Ooh …”
"Nakal banget dia itu.”
”Si Dilan pasti pacarnya banyak, tuh!” kataku.
”Ah, siapa? Gak punya pacar dia mah. Terlalu cuek ke cewek!"
”Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya."
”Iya, kali."
”Emang belum punya pacar?"
”Gak tau, tuh," jawab Wati. ”Eh, kok, jadi ngomongin Si Dilan, sih?!”
“Iya,” kataku, pura-pura sama baru menyadari hai itu. Padahal masih banyak yang ingin
kutahu tentang Dilan. termasuk kenapa dia tidak pernah kulihat selama dua hari ini, tapi gak
jadi karena kuatir Wati akan curiga kenapa aku bertanya soal itu,
---ooo---

Nah, kalian telah membaca bagian dari novel Dilan, tentunya kalian telah mendapatkan
pelajaran dari novel tersebut, kalian dapat memetik pelajaran yang terjadi dalam kehidupan
tokoh Dilan. Dalam kehidupan sehari-hari banyak yang diambil dari nilai-nilai dari novel
tersebut.
Novel merupakan salah satu karya sastra. Biasanya di dalam karya sastra banyak sekali
nilai-nilai kehidupan yang bisa kita ambil, yaitu nilai moral, sosial, religius, budaya,
pendidikan, (a) Nilai moral adalah nilai dalam novel yang berhubungan dengan perangai,
budi pekerti, atau tingkah laku manusia terhadap sesamanya. Biasanya nilai ini dapat
diketahui melalui deskripsi tokoh, hubungan antartokoh, dialog, dan lain-lain. (b) Nilai sosial
adalah nilai dalam cerpen/novel yang berhubungan dengan masalah sosial dan hubungan
manusia dengan masyarakat (interaksi sosial antar-manusia). Biasanya nilai ini dapat
diketahui dengan penggambaran hubungan antar-tokoh. (c) Nilai religius adalah nilai dalam
novel yang berhubungan dengan kepercayaan atau ajaran agama tertentu. Biasanya nilai ini
dapat diketahui dengan simbol agama tertentu, kutipan atau dalil dari suatu kitab suci, dan
penggambaran nilai-nilai kehidupan yang dilandasi ajaran agama yang bersifat universal. (d)
Nilai budaya adalah nilai dalam novel yang berhubungan dengan adat istiadat, kebudayaan,
serta kebiasaan suatu masyarakat. Biasanya nilai ini dapat diketahui dengan penggambaran
adat istiadat, bahasa dan gaya bicara tokoh yang mencerminkan bahasa tertentu, dan
kebiasaan yang berlaku pada tempat para tokoh.(e) Nilai Pendidikan adalah nilai dalam novel
yang berhubungan dengan pengubahan tingkah laku dari baik ke buruk (pengajaran) atau

31

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

31

bisa

juga

berhubungan

dengan sesuatu

hal yang mempunyai

latar

belakang

pendidikan/pengajaran.
Selanjutnya kalian akan mempelajari bagaimana menulis ringkasan yang benar. Yuk,
kita mulai saja bagaimana meringkas yang benar !

Hal yang Terpenting dalam Buku Novel

Hal yang pertama kalian lakukan adalah, berkenalan terlebih dahulu dengan bukunya, yaitu
kenalilah identitas bukunya!

1.Identitas buku

Apakah identitas buku? sama halnya dengan kalian yang memiliki identitas, buku
juga memiliki identitas, seperti, judul, pengarang, penerbit, dan sebagainya
Judul buku : Dilan , Dia Adalah Dilanku Tahun 1990
Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books, Bandung, 2014
Tebal buku : 346 halaman
Kover : Warna dasar biru muda,tulisan judul berwarna putih, berikutnya ada

gambar siswa SMA berseragam putih ab-abu bertolak pinggang dan
motor model lama berwarna cokelat muda, di bawahnya bertliskan
nama pengarang.

2.Cermati isi dari setiap paragraf
Untuk mendapatkan maksud atau kesan umum dari sudut pandang pengarang
aslinya, kalian bisa mencari gagasan utama atau gagasan pokoknya.
Misalnya:

Dilan gak ada. Dilan jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau benar dia

sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin untuk bertemu denganku?
Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung Bi_Eem?

Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang

dikatakan oleh Nandan

"Milea!" dia manggil dan lalu mendekat. Kuhentikan langkahku. Sedangkan

Nandan, Hadi dan Rani terus berjalan karena aku minta mereka untuk jalan duluan.

“Jangan ikut belajar di kelasku!" kataku sambil aku goyangkan jari

telunjukku. Aslinya sih aku suka ada Dilan di kelasku, tapi aku merasa gak enak ke
temen-temen

Tapi yang lebih aku ingat bukan Ibu Srinya, melainkan kejadiannya, yaitu pada

waktu Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, tiba-tiba papan pembatas kelas
bagian sebelah kanan itu roboh, jatuh menimpa ke arah kami.

Dilan tidak melawan. Piyan hanya meringis. Aku Iangsung ingin tahu siapa

Wati sebenarnya? Kenapa dia berani ke Dilan? Kenapa dia berani ke Piyan? Di saat
mana, aku merasa yakin orang lain tak akan berani melakukannya. Dan. kenapa
keduanya tidak melawan ketika diperlakukan macam itu oleh Wati?

Tapi sejak adanya peristiwa itu, aku tidak pernah melihat Dilan selama dua

hari, di lingkungan sekolah dan di mana pun.

Apakah aku normal kalau aku ingin tahu semua hai tentang Dilan? Kalau

enggak, biarin, deh, gak normal juga. Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat
jendela. Aku merasa harus hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuan asliku ngobrol
dengan dia.

”Si Dilan pasti pacarnya banyak, tuh!” kataku.
”Ah, siapa? Gak punya pacar dia mah. Terlalu cuek ke cewek!"
”Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya."
”Iya, kali."

32

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

32

”Emang belum punya pacar?"
”Gak tau, tuh," jawab Wati. ”Eh, kok, jadi ngomongin Si Dilan, sih?!”
“Iya,” kataku, pura-pura sama baru menyadari hai itu. Padahal masih banyak

yang ingin kutahu tentang Dilan. termasuk kenapa dia tidak pernah kulihat selama
dua hari ini, tapi gak jadi karena kuatir Wati akan curiga kenapa aku bertanya soal itu,

3.Menyusun kerangka tulisannya

Setelah kalian membaca dan menemukan inti dari setiap paragraf, kalian

rangkai inti paragraf tersebut. Kalian menuliskannya harus sesuai dengan urutan
karangan asli. Contoh berikut;


Dilan gak ada. Dilan jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau benar

dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin untuk bertemu denganku?
Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung Bi_Eem?
Benarkah dia itu playboy, punya banyak pacar di mana-mana, seperti yang dikatakan
oleh Nandan

"Milea!" dia manggil dan lalu mendekat. Kuhentikan langkahku. Sedangkan

Nandan, Hadi dan Rani terus berjalan karena aku minta mereka untuk jalan duluan.

“Jangan ikut belajar di kelasku!" kataku sambil aku goyangkan jari telunjukku.

Aslinya sih aku suka ada Dilan di kelasku, tapi aku merasa gak enak ke temen-temen.
Tapi yang lebih aku ingat bukan Ibu Srinya, melainkan kejadiannya, yaitu pada waktu
Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, tiba-tiba papan pembatas kelas bagian
sebelah kanan itu roboh, jatuh menimpa ke arah kami. Dilan tidak melawan. Piyan
hanya meringis. Aku Iangsung ingin tahu siapa Wati sebenarnya? Kenapa dia berani
ke Dilan? Kenapa dia berani ke Piyan? Di saat mana, aku merasa yakin orang lain tak
akan berani melakukannya. Dan. kenapa keduanya tidak melawan ketika
diperlakukan macam itu oleh Wati? Tapi sejak adanya peristiwa itu, aku tidak pernah
melihat Dilan selama dua hari, di lingkungan sekolah dan di mana pun. Apakah aku
normal kalau aku ingin tahu semua hai tentang Dilan? Kalau enggak, biarin, deh, gak
normal juga. Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat jendela. Aku merasa harus
hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuan asliku ngobrol dengan dia.

”Si Dilan pasti pacarnya banyak, tuh!” kataku.
”Ah, siapa? Gak punya pacar dia mah. Terlalu cuek ke cewek!"
”Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya."
”Iya, kali."

”Emang belum punya pacar?"
”Gak tau, tuh," jawab Wati. ”Eh, kok, jadi ngomongin Si Dilan, sih?!”
“Iya,” kataku, pura-pura sama baru menyadari hai itu. Padahal masih banyak

yang ingin kutahu tentang Dilan. termasuk kenapa dia tidak pernah kulihat selama
dua hari ini, tapi gak jadi karena kuatir Wati akan curiga kenapa aku bertanya soal itu

4.Memeriksa keaslian tulisannya
Dalam hal ini perlu kalian perhatikan dari buku aslinya, bahwa setelah kalian
membaca. Kalian tulis ringkasan sesuai dengan urutan peristwa yang pastinya tetap
mempertahankan isi agar tetap utuh isinya walaupun sudah kalian ringkas.

Bagaimana, sudah paham kalian tentang apa yang akan lakukan untuk membuat
ringkasan?

33

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

33

5.Nilai yang terkandung dalam novel Dilan
Contoh:

Nilai moral

Katanya, waktu itu, di kelas sedang tidak ada pelajaran, gurunya tidak datang karena
sakit. Di|an dan Piyan, berusaha naik ke atas pembatas kelas itu, tujuannya untuk
mencapai lubang ventilasi yang ada di tembok bagian atas.

Bila kalian sudah memahami, cermati kutipan buku selanjutnya dan hasil
ringkasannya !

Sebelum kalian menulis ringkasan novel , cermati contoh ringkasan novel

berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterbitkan oleh Lentera
Dipantara, Jakarta.

Nama pemuda itu Minke, satu nama yang aneh memang untuk seorang yang mengalir

darah ningrat jawa di tubuhnya. Apa pula arti nama itu? Dia juga belum mengerti benar.
Konon, nama itu diberikan secara tidak langsung dan tidak sengaja oleh gurunya Meneer
Ben Rooseboom pada saat masih duduk di klas satu E.L.S. Mr. Ben mula-mulanya memang
sudah mulai bosan dan jengkel melihat perangai dari Minke yang belum mengerti sama
sekali Belanda pada saat itu, setiap pertanyaan yang diberikan oleh Mr. Ben hanya
membuat Minke melongok kebingungan dan tidak pernah juga menjawab. Dua kali sudah
Minke terus mengulang di klas satu itu dan bertemu dengan dua orang Belanda yang selalu
usil mengganggu.

Pada satu kesempatan Mr. Ben tengah menerangkan. Vera, satu dari dua orang

belanda usil di kelas mencubit paha Minke sekeras dia mampu sampai membuat Minke
berteriak kesakitan. Seketika Mr. Ben guru berkebangsaan Eropa itu memerah mukanya
dan berkata dengan penuh emosi “Diam kau monk…. Minke”! sejak itu nama Minke mulai
melekat pada dirinya terutama di kalangan teman-temannya. Entah itu panggilan
meremehkan, meledek, atau menghargai. Toh dia pribumi, berada di tengah orang-orang
eropa, berapa pula harga pribumi di mata orang eropa itu?

Minke kini berstatus sebagai pelajar H.B.S. di sana guru-gurunya banyak bercerita

tentang kebesaran peradaban eropa yang gilang gemilang. Tidak ketinggalan ilmu
pengetahuan eropa yang terus juga menemukan hal-hal baru yang semakin menimbun dan
menyisihkan pengetahuan dan tradisi nenek moyang bangsa timur, Hindia khususnya.

Judul buku :Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara,

Jakarta, 2015

Tebal buku : 535 hlm.

34

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

34

Pengetahuan eropa itu pula yang membuat pribadi dan kebiasaan Minke menjadi berbeda
dari orang-orang sebangsanya.

Suatu hari Minke pergi menghadiri sebuah pesta di Wonokromo, Surabaya. Bersama

dengan Robert Suurhof, barangtentu Suurhof adalah teman sekelasnya di H.B.S. Seorang
Indon yang arogan. Dia tidak mau mengakui darah pribumi yang mengalir di tubuhnya.
Watak inlander yang paling orisinil!

Kepergian ke pesta ini adalah ajakan dari Suurhof yang memang menaruh hati pada

darah jelita tuan rumah dari pesta itu. Dia sengaja mengajak Minke sebagai perbandingan
untuk menonjolkan sosoknya yang sangat proporsionis untuk seorang pemuda yang
benar-benar maskulin. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Puspita itu, Annelies Mellema
namanya. Perpaduan antara Ratu Wilhelmina dan Putri-putri ningrat jawa. Matanya yang
kebiru-biruan, rambutnya yang lepas tergerai, kulitnya putih, rebutan dewa-dewa terlebih
lagi pemuda, begitu simpati dan tertarik pada Minke. Suurhof justru banyak mengobrol
dengan Robert Mellema, kakak dari Annelies. Sesekali melepaskan pandangan yang penuh
dengan kecurigaan dan kecemburuan pada dua sejoli yang baru bertemu dan masih tersipu
satu sama lain, Minke dan Annelies.

Annelies menyadari sorot pandangan itu, maka ditariknya Minke berpindah ke ruang

belakang. Ruang belakang nampak sangat futuristik, Minke dan Annelies saling bercakap-
cakap. Sampai sesosok wanita yang begitu bersahaja perawakan dan pribadinya sebagai
seorang pribumi datang menyapa. Dialah Nyai Ontosoroh, ibu dari Annelies. Annelies
kemudian mengajukan sebuah demonstrasi, “Ada tamu bu, Minke namanya. Pelajar H.B.S.”
Perkenalan dengan Nyai Ontosoroh berlangsung sangat lengang dan terbuka, tidak lagi
terasa adat dan kepribadian jawa pada Nyai Ontosoroh yang belakangan telah
dipanggilnya Mama atas pemintaan Nyai Ontosoroh sendiri. Hal demikian yang membuat
Minke merasakan sebuah keganjalan dan banyak sekali teka-teki dari nuansa dan
peristiwa yang dialaminya satu per satu di rumah yang sekaligus perusahaan yang sangat
populer di Surabaya ini. Borderij Buitenzorg nama perusahaannya.

Annelies dan Minke semakin dekat saja, seakan mereka memang sudah digariskan

untuk saling bertemu dan saling jatuh cinta. Setelah makan siang, Annelies mengajak
Minke ke tempat pemerahan susu sapi. Di sana terlihat pemandangan yang sangat riuh,
laki-laki dan wanita bekerja saling berbaur, tidak ada rasa canggung dan perasaan curiga
satu sama lain. Tentu ini hal yang sangat menarik sekaligus mengherankan. Minke
menyaksikan anasir yang ekslusif, yang seharusnya belum terjadi di zamannya di awal
abad ke-20 ini.

C.Rangkuman

Ringkasan mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Pengungkapan kembali bentuk kecil dari sebuah karangan.

2. Mereproduksi kembali apa kata pengarang.

3. Mempertahankan urutan-urutan gagasan yang membangun sosok (badan)
karangan.

4. Penyusun ringkasan terikat oleh penataan, isi, dan sudut pandang pengarangnya.

5. Kalimatnya pendek-pendek dan senada dengan kalimat pengarang aslinya.
Mengungkapkan kembali sebuah karangan atau naskah bacaan dalam bentuk yang
padat. Dalam meringkas kita mengambil intisari atau ide-ide pokok suatu bacaan
sehingga menjadi bentuk yang lebih padat.

35

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

35

Langkah-langkah meringkas
1. Bacalah teks secara cermat dan efektif, sampai dapat menangkap gagasan utama,
kesan umum, sudut pandang, dan tema utama dari teks.

2. Catatlah bagian-bagian yang dianggap penting.

3. Tulislah informasi berdasarkan bagian-bagian yang dianggap penting tersebut.

4. Tulislah ulang intisari bacaan ke dalam bentuk kalimat tidak langsung, bergaya
orang ketiga (penceritaan). Gunakan bahasa sendiri, bukan bahasa teks/buku yang
diambil secara utuh, menyeluruh, lengkap, sekalipun dalam bentuk penuturan
yang singkat.

5. Tidak memasukkan pikiran, ilustrasi, atau contoh sendiri.

6. Tidak mengubah keseimbangan dan penekanan pengarang asli.

7. Menyusun draf atau kerangka untuk membuat intisari bacaan.

8. Susun draft menjadi bentuk rangkuman yang baik

D.Latihan Soal

Cermati penggalan novel berikut !

Seharian, Humaira tidak keluar dari kamarnya. Dia hanya menangis dan

menangis saja sambil menatapi fato ayah dan hnya Fikri pun sedang bersedih, tapi ia
lebih bisa menerima kenyataan bahwa semua adalah milik Allah dan alan kembali
kepada-Nya.

Semua yang ada di alam semesta adalah ciptaan-Nya, adah: tak luput dari

pantauan-Nya. Tak ada satu pun yang kini dati-Nya, meskipun itu hanya satu hembusan
napas neko: Semut. Memang sedih ketika yang dicintai, apalagi aang tua sendiri harus
diambil kembali oleh pcmilik-Nya. Terapi, semua bukanlah bentuk hukuman dari-Nya,
uhinkan petunjuk bahwa Dia itu ada, mutlak menggengzam nyawa semua hamba-Nya,
serta mengatur hidup dan Inti.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa dan (tidak pula) pada dirimu sendiri,

malainhan telah tertulis dalam kitab (Laubul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya.
Saanggubnya, yang demikian itu mudah bagi Allah. (Karni jelaskan yang demikian itu)
supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan jangan supaya
kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Alah
tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

Demikian Sang Penggenggam nyawa berfirman. Tidak ada pengecualian untuk

semua hamba-Nya. Tidak pula ada penguluran waktu, walau sekejap saja, jika ajal
sudzh ditentukan.

Judul buku : Ketika Tuhan Jatuh

Cinta

Penulis : Wahyu Sujani
Penerbit : Diva Press, Jogyakarta,

2013

Tebal buku : 442 halaman

36

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

36

Kita sejatinya hanya hamba yang lemah, tak berdaya. Namun, selalu alpa hingga

merasa apa yang ada di hadapan kita mutlak milik kita, hingga banyak yang
menyombongkan diri. Kita sejatinya tidak memiliki apa-apa. Ingatlah ketika kita
pertama kali dilahirkan. Sama sekali tidak membawa apa pun. Kita lalu tumbuh dan
berkembang, berpikir untuk bertahan hidup, hingga Allah mengaruniakan rezeki yang
berlimpah dan orang-orang yang kita cintai. Semua sejatinya titipan Allah. Jika saatnya
tiba, semua itu akan diambil kembali oleh-Nya.

Hidup dan mati adalah ujian dari Allah. Bisakah kita bersabar dalam menghadapi

hidup yang menggetirkan ketika ditinggalkan orang yang kita cintai? Ataukah kita
justru berpaling dari-Nya karena mengganggap Dia tidal adil? Semua adalah ayat-ayat-
Nya yang ditunjukkan kepada manusia untuk diimani. Air mata adalah karunia dari
Allah untuk melegakan kesesakan di dalam dada. Namun. air mata juga bisa membawa
durhaka jika dikeluarkan untuk menangisi takdir-Nya yang tak mungkin diubah.

Nabi. tercinta kita pun seperti manusia biasa yang tak luput dari emosi. Beliau

pun selalu menangis ketika orang –orang yang dicintainya dipanggil oleh Sang Rabb.
Tapi, beliau menjadi teladan bagi pengikutnya dengan mengatakan bahwa manusia
boleh menangis, namun tidak untuk meratap

Dia tidak menciptakan alam semesra tanpa tujuan. Dia menciptakan malam

untuk waktu beristirahat dan bermunajat, menciptakan siang untuk mencari rezeki,
menciptakan langit sebagai petunjuk, menciptakan bumi untuk menetap, dan
menciptakan hidup dan mati untuk lebih memperkenalkan diri-Nya kepada setiap
hamba.

Perumpamaan manusia yang selalu bersedih atas takdirN ya, ibarat dia sedang

menanam api neraka yang kelak akan dituainya. Perumpamaan manusia yang bersabar
atas takdirNya, ibarat dia yang sedang menanam benih pahala yang akan dituai pula
kelak. Tak pernah Allah menyakiti hati hamba-Nya sesakit apa pun bencana yang
diterima sang hamba. Sebaliknya, si hamba itulah yang tanpa sadar sering menyakiti
Allah dengan dosa-dosa yang dianggapnya ringan, namun sejatinya besar di mata-Nya.

“Jangan kau buat suasana di rumah ini semakin berduka Ibu sama bapak sudah

kembali ke tempat yang semestinya. Mereka orang-orang yang shalih dan shalihah.
Karena itulah, Allah sangat merindukan mereka hingga memanggil keduanya. Banyak
kisah orang jahat yang matinya lama. Itu karena Allah sedang memberi tenggang waktu
padanya apakah akan segera bertobat, ataukah tetap dalam keingkarannya, karena
Allah hanya rindu pada hamba yang datang pada-Nya dengan penuh kesucian dan
keikhlasan. Nah. seperti orang tua kita. Mereka dipanggil oleh Allah setelahmelakukan
perjalanan ibadah. Mendoakan orang-orang shalih yang telah berjasa menyebarkan
agama Islam di negeri kita ini. Jadi, nggak perlu berlarut-larut kamu meratapi
kepergian mereka. Kakak pun sangat sedih. Karena perjuangan mereka, kita bisa
sebesar ini. Tapi, kalau kita tidak mengikhlaskan kepergian mereka, itu berarti didikan
agama yang mereka berikan pada kita sia-sia belaka.

“Bapak pernah bilang, janganlah kita jadi orang yang terlalu berlebihan dalam

segala hal. Karena semua yang memakai kata “terlalu” akan berdampak tidak baik juga
untuk kita. Dengar Humaira, “Barang siapa yang bersusah karena urusan dunia, sama
saja dia marah kepada-Ku. Dan, barang siapa yang menampar mukanya atas kematian
seseorang, maka ia sama saja dengan mengambil tombak untuk memerangi Aku.”
Dalam hadits, Rasulullah bersabda demikian. Jadi, apakah kamu mau dirnasukkan ke
dalam golongan hamba yang berani memerangi Allah?

“Sudahlah. Kalau terus-menerus menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu.

Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa pun yang terjadi di kemudian hari,
harus kita hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-satunya orang terdekat yang
dititipkan Allah pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah terjadi tidak menjadikan kita
terpisah lagiKakak tidak mau kehilangan orang yang Kakak sayangi untuk kedua
kalinya.”

37

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

37

Dengan penuh kasih sayang, Fikri membelai kepala adiknya. Tak bisa ditahan,

matanya pun berkaca-kaca ketika menatap foto almarhum orang tuanya.

“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau. mengantarkan kerajinan lagi sambil

ngambil uang setoran di Jalan Otista. Apa kamu mau ikut, lalu kita jalan-jalan? Nanti,
Kakak beliin gamis yang bagus buatmu...,” lanjut Fikri, saat teringat telepon Tante Shio,
dua hari kemarin, yang pesan kerajinan lagi.

Humaira gelengkan kepala pelan, sambil mengusap wajahnya yang sembab

dengan punggung tangannya.

“Ira ingin di sini saja. Kalau Kakak mau pergi, silakan. Ira nggak apa-apa.”
“Ya, sudah. Kalau gitu, jangan nangis terus. Nanti,
Kakak beliin gamis yang bagus untukmu. Kamu sukanya warna putih, kan? Kakak

tahu ukuran baju kamu.”

Humaira mengangguk lagi, lalu membalikkan badan menghadap dinding, tidak

mau diganggu lagi. Fikri kemudian keluar, pergi dengan membawa beberapa
kerajinannya.

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar !

1.Ringkaslah penggalan novel Ketika Tuhan Jatuh Cinta

…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………


2.Temukan nilai-nilai yang terkandung pada penggalan novel Ketika Tuhan Jatuh

Cinta

No.

Kutipan

Nilai yang terkandung

1.

…………………………………………………………………….

………………………………..

2.

……………………………………………………………………

………………………………..

3.

…………………………………………………………………..

………………………………

4.

…………………………………………………………………..

……………………………

38

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

38

Kunci Jawaban dan Pembahasan

Kunci Jawaban latihan

1.Ringkasan novel (Ketika Tuhan Jatuh Cinta)

Humaira masih menagis di dalam kamarnya dan Fikri pun bersedih tetapi masih menerima
kenyataan bahwa semua adalah akan kembali kepada-Nya. Sang Penggenggam nyawa
berfirman. Tidak ada pengecualian untuk semua hamba-Nya. Tidak pula ada penguluran
waktu, walau sekejap saja, jika ajal sudah ditemukan.

‘Jangan kau buat suasana di rumah ini semakin beduka. Ibu sama bapak sudah

kembali ke tempat yang semstinya. Mereka orang-orang yang shalih dan shalihah. Karena
itulah, Allah sangat merindukan mereka hingga memanggil keduanya. “Bapak pernah
bilang, janganlah kita jadi orang yang terlalu berlebihan dalam segala hal. Karena semua
yang memakai kata “terlalu” akan berdampak tidak baik juga untuk kita. Dengar Humaira,
“Barang siapa yang bersusah karena urusan dunia, sama saja dia marah kepada-Ku. Dan,
barang siapa yang menampar mukanya atas kematian seseorang, maka ia sama saja
dengan mengambil tombak untuk memerangi Aku.” Dalam hadits, Rasulullah bersabda
demikian. Jadi, apakah kamu mau dirnasukkan ke dalam golongan hamba yang berani
memerangi Allah?

“Sudahlah. Kalau terus-menerus menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu.

Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa pun yang terjadi di kemudian hari, harus
kita hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-satunya orang terdekat yang dititipkan Allah
pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah terjadi tidak menjadikan kita terpisah lagi. Kakak
tidak mau kehilangan orang yang Kakak sayangi untuk kedua kalinya.”

Dengan penuh kasih sayang, Fikri membelai kepala adiknya. Tak bisa ditahan,

matanya pun berkaca-kaca ketika menatap foto almarhum orang tuanya.
“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau. mengantarkan kerajinan lagi sambil ngambil uang
setoran di Jalan Otista. Humaira menolak ajakan Fikri . Fikri meawarkan akan membelikan
gamis putih dan Humaira menyetujui dengan anggukan.

2.Nilai-nilai yang terkandung dalam novel

No.

Kutipan

Nilai yang terkandung

1.

“Bapak pernah bilang, janganlah kita jadi orang yang
terlalu berlebihan dalam segala hal. Karena semua yang
memakai kata “terlalu” akan berdampak tidak baik

Nilai pendidikan

2.

“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau. mengantarkan
kerajinan lagi sambil ngambil uang setoran di Jalan
Otista. Apa kamu mau ikut, lalu kita jalan-jalan? Nanti,
Kakak beliin gamis yang bagus buatmu...,”


Nilai sosial


3.

Demikian Sang Penggenggam nyawa berfirman. Tidak
ada pengecualian untuk semua hamba-Nya. Tidak pula
ada penguluran waktu, walau sekejap saja, jika ajal
sudzh ditentukan

Nilai agama

4.

“Sudahlah. Kalau terus-menerus menangis, tidak

baik juga untuk kesehatanmu. Sekarang, tinggal kita
berdua di rumah ini. Apa pun yang terjadi di kemudian

Nilai moral

39

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

39

hari, harus kita hadapi bersama. Sekarang, kamulah
satu-satunya orang terdekat yang dititipkan Allah pada
Kakak. Kakak harap. apa yang sudah terjadi tidak
menjadikan

kita terpisah

lagiKakak

tidak

mau

kehilangan orang yang Kakak sayangi untuk kedua
kalinya.”

Rubrik Penilaian

Latihan 1

No. Jawaban Benar

Jawaban Salah

Skor

1.
Humaira masih menangis di dalam kamarnya
dan Fikri pun bersedih tetapi masih menerima
kenyataan bahwa semua adalah akan kembali
kepada-Nya.

Sang

Penggenggam

nyawa

berfirman. Tidak ada pengecualian untuk
semua hamba-Nya. Tidak pula ada penguluran
waktu, walau sekejap saja, jika ajal sudah
ditemukan.

‘Jangan kau buat suasana di rumah ini

semakin beduka. Ibu sama bapak sudah
kembali ke tempat yang semstinya. Mereka
orang-orang yang shalih dan shalihah. Karena
itulah, Allah sangat merindukan mereka
hingga memanggil keduanya. “Bapak pernah
bilang, janganlah kita jadi orang yang terlalu
berlebihan dalam segala hal. Karena semua
yang memakai kata “terlalu” akan berdampak
tidak baik juga untuk kita. Dengar Humaira,
“Barang siapa yang bersusah karena urusan
dunia, sama saja dia marah kepada-Ku. Dan,
barang siapa yang menampar mukanya atas
kematian seseorang, maka ia sama saja dengan
mengambil tombak untuk memerangi Aku.”
Dalam hadits, Rasulullah bersabda demikian.
Jadi, apakah kamu mau dirnasukkan ke dalam
golongan hamba yang berani memerangi
Allah?

“Sudahlah.

Kalau

terus-menerus

menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu.
Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa
pun yang terjadi di kemudian hari, harus kita
hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-
satunya orang terdekat yang dititipkan Allah
pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah
terjadi tidak menjadikan kita terpisah lagi.
Kakak tidak mau kehilangan orang yang Kakak
sayangi untuk kedua kalinya.”



1

40

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

40

Dengan penuh kasih sayang, Fikri

membelai kepala adiknya. Tak bisa ditahan,
matanya pun berkaca-kaca ketika menatap
foto almarhum orang tuanya.
“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau.
mengantarkan kerajinan lagi sambil ngambil
uang setoran di Jalan Otista. Humaira menolak
ajakan

Fikri

. Fikri

meawarkan

akan

membelikan gamis putih dan Humaira
menyetujui dengan anggukan.

Keterangan
Jawaban benar nilai skor 1
Jawaban salah skor 0

Soal 6 bila semuanya benar nilai seratus

Rubrik Penilaian
Laiahan 2

No

Jawaban Benar

Jawaban Salah

Skor

1.

“Bapak pernah bilang, janganlah kita jadi orang
yang terlalu berlebihan dalam segala hal.
Karena semua yang memakai kata “terlalu” akan
berdampak tidak baik


“Oh, ya, kebetulan hari ini Kakak mau.
mengantarkan kerajinan lagi sambil ngambil
uang setoran di Jalan Otista. Apa kamu mau ikut,
lalu kita jalan-jalan? Nanti, Kakak beliin gamis
yang bagus buatmu...,”

Demikian Sang Penggenggam nyawa berfirman.
Tidak ada pengecualian untuk semua hamba-
Nya. Tidak pula ada penguluran waktu, walau
sekejap saja, jika ajal sudzh ditentukan

“Sudahlah.

Kalau

terus-menerus

menangis, tidak baik juga untuk kesehatanmu.
Sekarang, tinggal kita berdua di rumah ini. Apa
pun yang terjadi di kemudian hari, harus kita
hadapi bersama. Sekarang, kamulah satu-
satunya orang terdekat yang dititipkan Allah
pada Kakak. Kakak harap. apa yang sudah
terjadi tidak menjadikan kita terpisah lagiKakak
tidak mau kehilangan orang yang Kakak sayangi
untuk kedua kalinya.”


1




1




1





1

41

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

41

2 Nilai pendidikan

Nilai sosial

Nilai agama

Nilai moral

1

1

1

1

Jawaban benar nilai skor 1
Jawaban salah skor 0

Soal 6 bila semuanya benar nilai seratus

42

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

42

E.Penilaian Diri

Berilah tanda centang (√) pada format di bawah ini sesuai dengan jawaban kalian!

No.

Pernyataan

Penilian

Ya

Tidak

1
Saya senang membaca novel romantis

2.
Saya senang membaca novel yang sudah difilmkan

3.
Saya tidak suka novel yang rumit

4
Saya sering akan menulis ringkasan novel

5
Saya suka membaca ringkasan novel

43

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

43

EVALUASI


Pilihlah jawaban A, B, C, D atau E yang paling tepat !

1.Berikut yang merupakan pengertian ikhtisar adalah…
A.penulisan pokok-pokok masalah penulisannya tidak harus berurutan, boleh secara

acak atau disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar tanpa mengubah tema sebuah
wacana.

B. penyajian singkat dari suatu karangan asli, namun tetap mempertahankan urutan isi

dan sudut pandang pengarang asli

C. penulisan pokok-pokok masalah penulisannya yang harus berurutan, tidak boleh

secara acak atau disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar tanpa mengubah tema
sebuah wacana

D.penyajian singkat dari suatu karangan asli, namun tidak tetap mempertahankan

urutan isi dan sudut pandang pengarang asli

E.penulisan pokok-pokok masalah penulisannya yang harus berurutan, tidak boleh

secara acak atau disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar dengan mengubah tema
sebuah wacana


2.Perbedaan ringkasan dan ikhtisar adalah….
A.Ikhtisar tidak mempertahankan urutan gagasan yang membangun karangan itu,
terserah pada pembuat ikhtisar, sedangkan ringkasan tetap memperlihatkan sosok
dasar dari aslinya dan inti tidak meninggalkan urutan dasar yang melandasinya

B.Ikhtisar tetap mempertahankan urutan gagasan yang membangun karangan itu,
terserah pada pembuat ikhtisar sedangkan ringkasan tidak memperlihatkan sosok
dasar dari aslinya dan inti tidak meninggalkan urutan dasar yang melandasinya.

C. Ikhtisar mempertahankan urutan gagasan yang membangun karangan itu, terserah
pada pembuat ikhtisar, sedangkan ringkasan belum memperlihatkan sosok dasar
dari aslinya dan inti tidak meninggalkan urutan dasar yang melandasinya

D.Ikhtisar mempertahankan urutan gagasan yang membangun karangan itu, terserah

pada pembuat ikhtisar, sedangkan ringkasan akan memperlihatkan sosok dasar dari
aslinya dan inti tidak meninggalkan urutan dasar yang melandasinya

E. Ikhtisar tidak mempertahankan urutan gagasan yang membangun karangan itu,
terserah pada pembuat ikhtisar, sedangkan ringkasan tidak memperlihatkan sosok
dasar dari aslinya dan inti tidak meninggalkan urutan dasar yang melandasinya.

3.Tujuan penulisan ikhtisar adalah untuk..

A. mengambil inti dari sebuah bacaan, buku, atau sejenisnya

B. memudahkan pembaca dalam membeli buku

C.menjabarkan sebuah karangan

D.memendekkan isi buku
E.Mengambil seluruh isi buku


4.Cermati teks berikut !

Bicara soal mempercantik bulu mata, rasanya ganjil jika tak menyebut maskara. Mastuta

memang merupakan salah satu kosmetik yang ampuh mempercantik tampilan bulu mata.
Tak heran bila torehan mastuta berhasil menciptakan citra bulu mata lentik memancarkan
daya pikat.Warna dasar mastuta adalah hitam, cokelat, dan cokelat kehitaman. Warna
cokelat menciptakan tampilan warna naturaldan sering dipilih wanita dengan warna kulit
kuning langsat. Sementara mastuta hitam sering dipilih kulit warna gelap

44

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

44

Ikhtisar yang tepat berdasarkan teks tersebut adalah....
A.Mastuta merupakan kosmestik yang dapat mempercantik bulu mata dan memiliki
tiga warna dasar yaitu, cokelat, hitam dan cokelat kehitaman

B.Alat untuk mempercantik bulu mata adalah mastuta yang dapat memancarkan daya
pikat dan memiliki beraneka warna dasar

C.Mempercantik dengan mastuta dapat menciptakan kesan bulu mata menjadi lebih
lentik dan memberikan daya pikat

D.Mastuta adalah kosmetik untuk memperindah bulu mata dan banyak dipilih pemilik

warna kuning langsat maupun kulit gelap

E.Torehan mastuta dapat mempercantik setiap wanita yang memakainya dan menarik
semua perhatian yang melihatnya.

5.Cermati urutan menulis ikhtisar !

(1) Menulis ikhtisar.
(2) Membuat kerangka bacaan dengan menuliskan pikiran utama atau pikiran pokok

yang terdapat dalam naskah.

(3) Mengedit ikhtisar dengan kaidah bahasa Indonesia
(4) Membaca naskah asli beberapa kali “setidak-tidaknya dua kali”.

Urutan langkah-langkah menulis ikhtisar yang tepat adalah.…
A.(1)-(2)-(3)-(4

B.(2)-(4)-(1)-(3)

C.(3)-(4)-(2)-(1)

D.(4)-(2)-(1)-(3)
E.(4)-(2)-(3)-(1)


6.Untuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata, merupakan kegunaan dari.…
A.Ringkasan

B.Rangkuman

C.Kesimpulan

D.Sinopsis
E.Ikhtisar

Cermati teks beikut !

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior
yang sangat dihormati oleh para penengak hukum. “Tapi aku datang tidak sebagai putramu,”
kata pengacara muda itu, “Aku datang kemari sebagai seorang pengacara muda yang ingin
menegakkan keadilan negeri yangsedang kacau ini.”
Pengacara tua yang bercambang dan berjenggot memutih itu tidak terkejut. Ia menatap
putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.
“Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?”
Pengacara muda tertegun, “Ayahanda bertanya kepadaku?”
“Ya, kepada kamu, bukan sebagai purtaku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian
keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.”

7.Nilai moral yang terungkap dalam kutipan tersebut adalah ....

A.sikap ayah yang tidak mengakui prestasi anaknya.

B.sikap seorang anak pengacara mudah yang tidak patuh.

C.seorang pengacara menegakkan keadilan dan kebenaran.

D.sikap kukuh pengacara muda untuk menegakkan keadilan.
E.seorang pengacara muda yang tidak menghormati ayahnya.

45

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

45



Cermati teks berikut !


Aku ingin membahagiakan Arai. Aku ingin berbuat sesuatu seperti yang ia lakukan pada
Jimbron. Seperti yang selalu ia lakukan padaku. Aku sering melihat sepatuku yang
menganga seperti buaya berjemur tahu-taku sudah rekat kembali, Arai diam-diam
memakunya. Aku juga selalu heran melihat kancing bajuku yang lepas tiba-tiba lengkap lagi,
tanpa banyak cincong Arai menjahitnya

8.Keterkaitan hal yang ditemukan dalam kehidupan nyata dalam kutipan novel tersebut

adalah…
A.Setiap orang ingin membalas kebaikan sahabatnya

B.Setiap orang ingin berutang budi pada sahabatnya.

C.Setiap orang ingin melihat sahabatnya selalu tersenyum

D.Setiap orang ingin mendapat yang terbaik dari sahabatnya.
E.Setiap orang ingin memberikan yang terbaik pada sahabat.

Cermati kutipan novel berikut !

Hidup selalu menghadapkan kita pada pertukaran, pertukaran antara apa yang kita dapatkan
dan apa yang kita korbankan, pertukaran antara prinsip yang kita pegang dan nama baik yang
kita pertaruhkan. Adakalanya pertukaran itu sulit, yaitu antara apa yang kita anggap benar
dan orang lain menganggap apa yang kita anggap benar itu salah. Dalam pertukaran itu setiap
hari kita membuat pilihan dan keputusan, dan masing-masing punya risikonya sendiri-
sendiri.


9.Ringkasan yang sesuai dengan kutipan tersebut adalah …

A.Hidup selalu menghadapkan kita pada pertukaran. Dalam pertukaran itu kita
membuat pilihan dan punya risikonya sendiri-sendiri .

B.Hidup selalu menghadapkan kita pada pertukaran, pertukaran itu setiap hari kita
membuat pilihan dan keputusan, dan masing-masing punya risikonya sendiri-sendiri.

C.Adakalanya pertukaran itu sulit, yaitu antara apa yang kita anggap benar dan orang
lain menganggap apa yang kita anggap benar itu salah

D.Hidup selalu menghadapkan kita pada pertukaran, pertukaran antara apa yang kita

dapatkan dan apa yang kita korbankan

E.Dalam pertukaran itu setiap hari kita membuat pilihan dan keputusan, dan masing-
masing punya risikonya sendiri-sendiri.


Cermati penggalan novel berikut !

Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak
bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima
dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya
dengan baik justru membawa kedamaian.

10.Ringkasan yang sesuai dengan kutipan tersebut adalah …

A.Seseorang tidak selamanya akan menetap dalam hati kita

B.Seseorang ada dalam hati kita adakalanya tidak ada dalam impian kita

C.Adakalanya seseorang ada dalam hati kita namun tidak ada dalam kehidupan kita

D.Seseorang ada dalam hati kita adakalanya suatu saat pergi dari kehidupan kita
E.Seseorang dalam hidup kita adakalanya kita bisa hidup bersamanya sampai mati.

46

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

46

Kunci Jawaban Evaluasi

No

Jawaban

1.

A

2,

A

3.

A

4.

A

5.

D

6.

E

7.

C

8.

A

9.

A

10.

C

47

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

47

DAFTAR PUSTAKA




Andrianto, Andi. 2011. Menaklukan Media. Jakarta: Elex Media Komputindo

Ananta, Pramoedya. 2015. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipanantra.

Baiq, Pidi. 2016. Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Bandung : Mizan.

Gong Gola dan Agus M. 2012. Gempa Literasi.Jakarta : Gramedia.

Namara, Erick. 2016. Buku Untuk Dibaca. Jogyakata: Citra Media Pustaka.

Sujani, Wahyu. 2013. Ketika Tuhan Jatuh Cinta. Jogyakarta: Diva Press.


https://www.situsbahasa.com/2011/12/perbedaan-rangkuman-dan-ikhtisar.html

http://syafruddin41.blogspot.com/2013/01/perbedaan-rangkumanringkasan-
sinopsis.html

https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-ringkasan/

http://sekolahbagiilmu.blogspot.com/2017/12/12-nilai-kehidupan-dalam-
cerpennovel.html

media

Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel Bahasa Indonesia Kelas X KD 3.9

@2020, Direktorat SMA, Direktorat Jenderal PAUD, DIKDAS dan DIKMEN

1

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 47

SLIDE