Search Header Logo
Latihan PAK bab 1

Latihan PAK bab 1

Assessment

Presentation

Religious Studies

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

YUSTIANA YUSTIANA

FREE Resource

5 Slides • 0 Questions

1

media

1

BAB 1

BERTUMBUH DAN SEMAKIN BERHIKMAT

Bahan Alkitab: 1 Samuel 3:19; 2:26; 1 Korintus 3:1-9

Chili Davis, seorang pelatih bisbol Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Growing old is mandatory;
growing up is optional.” Dalam bahasa Indonesia ungkapan ini dapat diterjemahkan demikian, “Bertambah
umur sudah seharusnya terjadi. Namun menjadi dewasa adalah pilihan.” Maksudnya, setiap orang pasti
bertambah usianya. Setiap hari, minggu, bulan, dan tahun, usia kita terus berjalan. Kita tidak mungkin
menghentikannya sampai tiba waktunya ketika kita menutup mata dan meninggal dunia kelak. Namun
bertumbuh menjadi dewasa dalam pemikiran, sikap, dan perilaku, adalah pilihan. Tidak setiap orang yang
dewasa umurnya juga dewasa pemikiran, sikap dan perilakunya. Setiap orang harus memutuskan untuk berubah
menjadi dewasa dalam hal-hal tersebut, sehingga ia menjadi bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan di
dalam hidupnya.

Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat yang terkenal itu, pernah mengatakan, “Yang penting
bukanlah tahun-tahun di dalam hidupmu, melainkan hidup yang kamu jalani di dalam tahun-tahun usiamu itu.”
Di sini kembali kita melihat bahwa bukan panjangnya usia, atau sejauh mana umur kita sekarang, melainkan
bagaimana kita mengisi tahun-tahun usia itu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang
lain.

Kisah Tonya Harding

Tonya Harding (lahir 1970) adalah seorang pemain sepatu es (ice-skating) terkenal di Amerika Serikat. Pada
tahun 1994 ia terlibat dalam sebuah pelanggaran hukum ketika bekas suaminya, Jeff Gillooly, berkomplot
dengan Shawn Eckhardt dan Shane Stant, dan menyerang saingannya dalam olahraga sepatu es, Nancy
Kerrigan, dalam sebuah latihan persiapan Kejuaraan Sepatu Es Keindahan di AS. Kerrigan dipukul di bagian
pahanya, hanya beberapa sentimeter di atas lututnya, dengan sebuah tongkat polisi lipat. Untunglah kaki
Kerrigan tidak patah, hanya luka-luka, tetapi hal itu telah membuat Kerrigan mengundurkan diri dari kejuaraan
nasional. Harding memenangi kejuaraan itu (Daily Mail, “ Agony of the ice queen”, 14 September 2013).
Namun peristiwa ini kemudian terbongkar oleh polisi. Polisi dan hakim membuktikan bahwa Harding
mengetahui rencana serangan terhadap Kerrigan. Harding mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman percobaan
tiga tahun penjara, 500 jam pelayanan masyarakat, dan denda $160.000. Gelar juaranya tahun 1994 dicabut, dan
seumur hidupnya Harding dilarang ikut serta dalam semua kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi
sepatu es nasional di seluruh AS, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Apa yang kita temukan dalam kisah di atas? Kisah ini menggambarkan bagaimana seseorang yang sudah
dewasa menurut usianya, ternyata tidak mampu menghadapi masalahnya secara dewasa. Tonya Harding,
misalnya, harus menghadapi Nancy Kerrigan, lawannya yang tangguh dalam pertandingan sepatu es. Ia
khawatir tidak bisa memenangkan pertandingan itu dengan mengalahkan Nancy di arena pertandingan. Karena
itu ketika seseorang memutuskan untuk mencelakakan Nancy, ia pun berdiam diri, atau bahkan menyetujui apa
yang direncanakan oleh Jeff Gillooly untuk mencelakakannya. Ini adalah sebuah contoh tentang emosi yang
negatif. Emosi seperti ini seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang tidak matang pribadinya, tidak siap
menerima kekalahan secara terhormat, dan karena itu bersedia melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Dengan kata lain, secara fisik mereka sudah bertumbuh, tetapi secara emosional dan kepribadian mereka tetap
seperti anak kecil. Mereka tidak bisa berpikir dengan matang dan bertanggung jawab. Hal seperti ini dapat kita
temukan pula di berbagai aspek kehidupan.

Kematangan Pribadi dan Emosi

Salah satu cara yang paling mudah untuk menilai kematangan pribadi seseorang adalah dengan
mengamati ekspresi emosinya. Emosi adalah pengalaman sadar yang subyektif, yang terutama sekali dicirikan
oleh ungkapan-ungkapan psiko-fisiologis, reaksi biologis, dan keadaan mental. Dalam kehidupan sehari- hari,
emosi seringkali terlepas begitu saja ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya. Akibatnya,
perkataan dan tindakannya pun jadi tidak terkendali. Contohnya, apa yang dilakukan oleh Tonya Harding dan
kawan- kawannya. Setelah semuanya terjadi dan mereka dinyatakan bersalah, lalu dijatuhi hukuman, mungkin
mereka baru menyesali apa yang telah mereka lakukan. Emosi seseorang biasanya bisa dilihat melalui bahasa

2

media

2

tubuh, mimik, atau suara orang tersebut melalui gerakan-gerakan atau intonasi suara, walaupun tidak sama
persis dengan orang lain tetap bisa kita lihat. Ada orang yang ingin memperlihatkan ekspresi emosinya kepada
orang lain supaya orang lain memahami apa yang dirasakannya. Tetapi, ada juga orang yang berusaha
menyembunyikan emosinya supaya tidak diketahui orang lain, tentu dengan berbagai pertimbangan yang
dimiliki oleh orang tersebut. Sepanjang perjalanan hidup ini, kita akan berhadapan dengan bermacam- macam
orang. Selama itu pula kita akan banyak menerima pendapat tentang diri kita atau tentang apa yang kita
lakukan. Ada yang memberi pandangan positif, namun ada juga yang negatif. Pendapat atau pandangan orang
lain itu sedikit banyak memberi pengaruh pada bagaimana cara kita memandang diri kita sendiri. Bukan hanya
pendapat orang lain yang mempengaruhi diri kita, pandangan kita terhadap diri sendiri juga dapat
mempengaruhi cara kita memandang atau menilai diri kita sendiri. Pada akhirnya, hal itu akan berpengaruh
pada perkembangan emosi kita. Safaria dan Saputra (2009) memberikan contoh tentang bermacam-macam
ekspresi jasmani yang bisa muncul dari emosi seseorang, misalnya: • Emosi marah: wajahnya memerah,
nafasnya menjadi sesak, otot-otot tangan akan menegang, dan energi tubuhnya memuncak. • Emosi takut:
mukanya menjadi pucat, jantungnya berdebar-debar. Ekman dan Friesen seperti dikutip oleh Walgito (1994),
menyebutkan tiga macam emosi yang dikenal dengan display rules (penampilannya pada wajah atau tubuh
manusia), yaitu: 1. Masking: keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau menutupi emosi yang
dialaminya. Misalnya, seorang perawat marah karena sikap pasien yang menyepelekan pekerjaannya.
Kemarahannya diredam atau ditutupi sehingga gejala kejasmaniannya tidak tampak. 2. Modulation: keadaan
seseorang yang dapat mengurangi emosi yang dialaminya. Misalnya, karena marah, ia mengomel-ngomel
(gejala jasmani) tetapi kemarahannya tidak meledak-ledak. 3. Simulation: orang tidak mengalami emosi, tetapi
seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian. Simulasi digunakan untuk
membayangkan apa yang mungkin dialami orang lain dengan mencoba menempatkan diri kita pada situasi
orang tersebut. Dengan cara ini, kita bisa lebih mampu berempati dengan orang lain. Berdasarkan pembagian
emosi di atas, faktor yang paling penting dalam mengembangkan emosi yang sehat adalah pengenalan yang
benar tentang diri sendiri serta kesediaan untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang matang dan
bertanggung jawab. Matang, artinya tidak berpikir kekanak-kanakan, hanya peduli akan kepentingan dan
keuntungan dirinya sendiri. Bertanggung jawab, artinya memperhitungkan setiap tindakannya, apa untung rugi
dari tindakan yang akan saya ambil ini? Apakah saya akan menyakiti orang lain dengan keputusan yang saya
ambil? Pada saat yang sama juga ia akan berpikir secara bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia akan
bertanya, apakah keputusan yang akan saya ambil ini hanya menguntungkan orang lain, namun pada saat yang
sama merugikan dan menghancurkan diri saya?

Belajar dari Alkitab

1. Samuel, Hofni, dan Pinehas Bersaudara Di dalam Alkitab kita dapat menemukan banyak sekali
contoh tentang pribadi yang tidak dewasa, tidak matang, dan tidak bertanggung jawab. Namun di pihak lain
Alkitab juga mengajarkan kepada kita bagaimana cara hidup orang yang matang dan bertanggung jawab itu.
Itulah pribadi yang Allah kehendaki di dalam hidup kita. Dalam Kitab 1 Samuel 3:19 dikatakan, “Dan Samuel
makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”
Samuel adalah salah satu pribadi teladan yang kita temukan dalam Alkitab. Sejak masa kecil, Samuel telah
diserahkan oleh Hana, ibunya, kepada Imam Eli untuk dibesarkan dan dididik di bait suci Allah di Silo. Hana
yang lama tidak mempunyai anak, bernazar kepada Allah, bahwa apabila ia dikaruniai seorang anak oleh Allah,
maka ia akan menyerahkan anak itu kepada Allah. Itulah sebabnya Samuel kemudian diantarkan ke Silo untuk
dididik oleh Imam Eli. Yang menarik ialah Eli ternyata juga mempunyai dua orang anak laki-laki, yaitu Hofni
dan Pinehas. Kisah tentang kedua anak Eli ini digambarkan dalam ayat-ayat yang muncul sebelum ayat yang
menggambarkan keadaan Samuel, 12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak
mengindahkan TUHAN, 13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang
mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu
bergigi tiga di tangannya 14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga
atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri.
Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. 15 Bahkan sebelum
lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu:
“Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang
dimasak, hanya yang mentah saja.” 16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar
dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga
harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.” 17 Dengan demikian sangat

3

media

3

besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk
TUHAN.

Gambaran ini berlawanan seratus persen dengan gambaran yang diberikan mengenai Samuel. Di satu
pihak kita menemukan Hofni dan Pinehas yang egois, mementingkan diri sendiri, dan tampaknya juga pemarah.
Kitab 1 Samuel ini menceritakan bahwa setiap kali ada orang yang datang mempersembahkan korban
sembelihan, Hofni dan Pinehas akan menyuruh para pelayan imam untuk mengambilkan daging yang paling
atas, yang paling enak, untuk mereka makan sendiri. Padahal, seharusnya bagian itu dibakar sampai hangus
sebagai lambang persembahan yang penuh kepada Allah. Hofni dan Pinehas tidak rela membiarkan daging itu
hangus begitu saja. “Ini bagian yang paling nikmat. Mengapa kita harus menjadi orang bodoh dan
membiarkannya hangus begitu saja,” mungkin demikian yang muncul dalam benak pikiran mereka. Itulah
sebabnya mereka mengambil apa yang bukan menjadi hak mereka. Mereka mencuri, atau dalam istilah
sekarang, kasus ini dikenal sebagai korupsi. Demikian pula halnya dengan para pelayan imam itu. Mereka takut
menghadapi anak-anak tuan mereka, sehingga mereka mengikuti begitu saja apa yang diperintahkan kepada
mereka. Mereka tidak berani membantah perintah Hofni dan Pinehas, sebab mereka adalah anak-anak dari tuan
mereka. Mungkinkah mereka takut dimarahi oleh Imam Eli? Mungkinkah mereka berpikir bahwa anak-anak
Imam Eli tidak boleh dibantah, karena mereka anak- anak hamba Tuhan? Apapun juga alasannya, tampaknya
para pelayan ini pun hanya memikirkan keselamatan mereka sendiri. Hanya berusaha mencari aman. Sementara
itu, bagaimana dengan Samuel? Ia digambarkan sebagai anak yang makin besar dan disertai Tuhan. Ia semakin
besar dan semakin disukai oleh Tuhan maupun manusia. Bagaimana ini bisa terjadi? Tentulah ini disebabkan
oleh kedewasaan Samuel, kematangan pribadinya dan emosinya, dan sikapnya yang tidak egois atau
mementingkan diri sendiri. Samuel selalu memikirkan pentingnya pelayanannya kepada Allah dan umat Israel.

2. Perpecahan di Gereja Korintus Sebuah kisah lain tentang sikap yang tidak dewasa dan bertanggung
jawab dapat kita temukan di kalangan gereja perdana di Korintus. Dalam 1 Korintus 3:1-9 kita menemukan
kisah tentang pertikaian yang terjadi di gereja Korintus. Gereja itu terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok
yang masing-masing saling membanggakan diri sendiri. Muncul orang-orang yang mengklaim “Aku dari
golongan Paulus,” atau “Aku dari golongan Apolos.” Mungkin pula ada kelompok-kelompok lain yang
mengaku “Aku golongan dari Yesus,” sementara yang lainnya mereka anggap bukan pengikut Yesus atau tidak
mempunyai Yesus. Masing-masing kelompok ini menganggap diri mereka lebih baik, lebih hebat, bahkan lebih
tinggi daripada yang lainnya.

Dalam 1 Korintus 13:11 Rasul Paulus berkata, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti
kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi
dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”

Dari sini jelas bahwa “Bertambah umur terjadi dengan sendirinya, tetapi menjadi dewasa adalah
pilihan.” Untuk bisa bertumbuh dan menjadi dewasa, kita harus berusaha meninggalkan sikap kekanak-kanakan
kita, cara berkata- kata, merasa, dan berpikir seperti kanak-kanak. Kita harus bisa mengendalikan emosi kita
dan mempertimbangkan setiap keputusan kita sebelum kita tergesa-gesa mengatakan sesuatu dan memutuskan
untuk bertindak. Kita perlu bertanya terlebih dahulu, apakah dampak kata-kata dan tindakan saya itu bagi saya
dan bagi orang lain? Samuel bertumbuh dari kanak-kanak menjadi dewasa dan mengalami semuanya dengan
indah. Kitab 1 Samuel 2:26 melukiskan, “Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai,
baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.” Ini semua terjadi karena ia hidup dengan firman Tuhan.
“Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang
dibiarkan-Nya gugur” (1 Sam. 3:19).

Penerapan

Thomas Huxley, seorang pemikir Inggris, pernah mengatakan, “Jangan kita lupakan, bahwa apa yang
kita sebut sebagai alasan-alasan yang rasional untuk keyakinan kita, seringkali adalah upaya-upaya yang sangat
tidak rasional untuk membenarkan naluri-naluri kita.” Apa maksud Huxley dengan kata-katanya ini?
Maksudnya, seringkali kita berusaha untuk membenarkan naluri-naluri kita yang egois, yang emosional, yang
tidak peduli terhadap orang lain, dengan alasan-alasan yang tampaknya rasional. Misalnya, seorang remaja laki-
laki yang menuntut agar pacarnya memenuhi kebutuhan seksualnya dengan mengatakan, “Kamu harus buktikan
bahwa kamu betul-betul sayang aku. Kalau kamu betul-betul sayang aku, kamu mestinya rela tidur dengan
aku.”

4

media

4

Seorang gadis yang tidak emosional, yang mampu mengendalikan pikiran dan emosinya dengan baik,
akan menolak permintaan ini. Apa yang terjadi kalau setelah ia menyerahkan kegadisannya, laki-laki ini
kemudian meninggalkannya? Apa yang terjadi kalau dia menjadi hamil karena keputusannya itu? Siapa yang
mau bertanggung jawab? Selain itu, ia harus bertanya pula apakah tubuhnya secara fisiologis sudah siap untuk
melahirkan bayi? Data-data medis menunjukkan bahwa perempuan yang hamil dan melahirkan pada usia yang
terlalu muda cenderung mengalami kematian pada proses melahirkan karena memang tubuhnya tidak siap untuk
proses yang sangat berat itu. Semua ini harus menjadi dasar pertimbangan yang matang, dan di situ kedewasaan
kamu akan terlihat dan diuji. Masa remaja adalah masa yang menyenangkan sekaligus menyulitkan karena ini
adalah masa transisi. Akan tiba masanya kamu akan bertumbuh dan menjadi dewasa. Seiring dengan
perkembangan menuju kedewasaan itu, kamu juga akan mengalami perkembangan emosi dan menemukan jati
diri kamu. Itulah sebabnya kamu perlu menemukan dan mengenal terlebih dahulu akan konsep dirimu sendiri.
Kamu harus memiliki konsep diri yang positif dan berusaha mengubah dirimu serta cara pandangmu terhadap
persoalan di dalam hidup sehingga kamu akan dapat menanggapi segala permasalahan dengan cara yang positif
pula. Kita sudah melihat bagaimana sifat kekanak-kanakan, egoisme, emosi, bisa menyebabkan kita mengambil
keputusan-keputusan yang keliru dan bahkan merugikan kita. Kita sudah melihat bahwa pemahaman tentang
diri sendiri yang kadang-kadang harus berani menerima kekurangan dan kekalahan justru adalah sikap yang
penting sebagai ciri-ciri kedewasan kita. Kita juga sudah melihat betapa pentingnya hidup bersama dengan
firman Tuhan setiap hari supaya kita bisa bertumbuh menjadi dewasa, matang, dan bertanggung jawab dalam
hidup kita. Bila kita setia mempelajari dan menjalankan firman Tuhan dalam hidup kita - bahkan sejak kita
masih kanak-kanak maka kita akan dibimbing ke dalam kehidupan yang berhikmat, seperti yang diperlihatkan
oleh Samuel dan Salomo

Rangkuman

Kedewasaan bukanlah sekadar sebuah proses biologis, melainkan juga proses mental, proses psikologis.
Orang yang bertumbuh menjadi semakin besar dan bertambah usia tidak dengan sendirinya menjadi dewasa.
Dari ilmu psikologi, kita belajar bahwa kedewasaan itu dicirikan oleh kemampuan mengendalikan diri, berpikir
matang, penuh pertimbangan untuk masa depan, bukan hanya keputusan-keputusan untuk kepentingan sesaat
saja. Dari Alkitab kita juga belajar bahwa kedewasaan itu dicirikan oleh kebijaksanaan atau hikmat.
Masalahnya, hikmat tidak kita peroleh secara otomatis, tidak juga diperoleh dengan belajar setinggi-tingginya.
Hikmat tidak berkaitan dengan usia, kekayaan, atau tingkat pendidikan yang tinggi. Alkitab menjelaskan bahwa
hikmat dimulai dengan pengenalan akan Firman Tuhan (“Karena TUHAN-lah yang memberikan hikmat, dari
mulut- Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” Amsal 2:6).

5

media

5

TUGAS

1.Dalam Amsal 2:6 dikatakan, “Karena TUHAN-lah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang
pengetahuan dan kepandaian.” Menurut kamu apakah artinya kalimat ini?
2.Dalam Kitab I Raja-raja 4:29-30 dikatakan, 29 “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan
pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, 30 sehingga hikmat
Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” Hikmat Salomo
dapat kita temukan di dalam cerita ketika Salomo dihadapkan dengan sebuah persoalan yang sangat
berat. Dua orang ibu datang kepadanya, masing-masing memperebutkan seorang bayi yang mereka akui
sebagai bayi mereka (1 Raj. 3:16-28). Bagaimanakah kelanjutan cerita tersebut? Bacalah perikop 1
Raja-raja 3:16- 28 dan kisahkan kembali ceritanya. Lalu coba jelaskan apa makna ayat 1 Raja- raja
3:28 yang berbunyi, “Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja,
maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam
hatinya untuk melakukan keadilan.”
3.Lihatlah bagan di bawah ini, dan coba gambarkan sikap dan perbuatan apa yang seharusnya kamu
lakukan dalam setiap situasi untuk menunjukkan kepribadianmu yang dewasa dan bertanggung jawab.
a.Situasi: Temanmu meminta contekan dan gurumu mengetahuinya. Kamu dihukum guru, sementara
temanmu tidak.
Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………
.………………………..…......................…………………....……............…………
b. Situasi: Tim sepakbola sekolahmu kalah dalam pertandingan melawan sekolah lain dan diejek-ejek.
Reaksi

kamu:

.………………………..……………………....……............…………
.………………………..……………………....……..................................…………

c. Situasi: Kamu ditegur teman karena berpacaran dengan seseorang yang tidak disukai temanmu itu.

Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………

.………………………..……………………....……............…………......…………
d. Situasi: Kamu tidak ikut dalam kerja kelompok tetapi karena guru kamu tidak tahu, maka ia
memberikan nilai yang sama untuk kamu dengan anggota kelompok lain.
Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………
.......................………………………..……………………....……............…………
.………………………..……………………....……............………….....................
e. Situasi: Ada seorang teman menurut kamu suka sekali membantah pernyataan-pernyataan kamu
sehingga membuat kamu kesal.
Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………
.......................………………………..……………………....……............…………
f. Situasi: Teman baik kamu berhasil menjadi juara sementara kamu hanya menduduki tempat ketiga.
Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………
........................………………………..……………………....……............…………
g. Situasi: Kamu seorang murid perempuan, dan pacar kamu, salah seorang teman laki-laki kamu di
kelas, menuntut agar kamu melakukan hubungan terlarang dengannya, sebagai tanda bahwa kamu
benar-benar mencintainya.
Reaksi kamu: .………………………..……………………....……............…………
.………………………..……………………....……............………….....................
8. Sebutkanlah minimal tiga hal yang menunjukkan kematangan emosional dirinya, serta sikap yang
menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab.
a. ......................................................................................................................................
b. ......................................................................................................................................
c. ......................................................................................................................................


media

1

BAB 1

BERTUMBUH DAN SEMAKIN BERHIKMAT

Bahan Alkitab: 1 Samuel 3:19; 2:26; 1 Korintus 3:1-9

Chili Davis, seorang pelatih bisbol Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Growing old is mandatory;
growing up is optional.” Dalam bahasa Indonesia ungkapan ini dapat diterjemahkan demikian, “Bertambah
umur sudah seharusnya terjadi. Namun menjadi dewasa adalah pilihan.” Maksudnya, setiap orang pasti
bertambah usianya. Setiap hari, minggu, bulan, dan tahun, usia kita terus berjalan. Kita tidak mungkin
menghentikannya sampai tiba waktunya ketika kita menutup mata dan meninggal dunia kelak. Namun
bertumbuh menjadi dewasa dalam pemikiran, sikap, dan perilaku, adalah pilihan. Tidak setiap orang yang
dewasa umurnya juga dewasa pemikiran, sikap dan perilakunya. Setiap orang harus memutuskan untuk berubah
menjadi dewasa dalam hal-hal tersebut, sehingga ia menjadi bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan di
dalam hidupnya.

Abraham Lincoln, presiden Amerika Serikat yang terkenal itu, pernah mengatakan, “Yang penting
bukanlah tahun-tahun di dalam hidupmu, melainkan hidup yang kamu jalani di dalam tahun-tahun usiamu itu.”
Di sini kembali kita melihat bahwa bukan panjangnya usia, atau sejauh mana umur kita sekarang, melainkan
bagaimana kita mengisi tahun-tahun usia itu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang
lain.

Kisah Tonya Harding

Tonya Harding (lahir 1970) adalah seorang pemain sepatu es (ice-skating) terkenal di Amerika Serikat. Pada
tahun 1994 ia terlibat dalam sebuah pelanggaran hukum ketika bekas suaminya, Jeff Gillooly, berkomplot
dengan Shawn Eckhardt dan Shane Stant, dan menyerang saingannya dalam olahraga sepatu es, Nancy
Kerrigan, dalam sebuah latihan persiapan Kejuaraan Sepatu Es Keindahan di AS. Kerrigan dipukul di bagian
pahanya, hanya beberapa sentimeter di atas lututnya, dengan sebuah tongkat polisi lipat. Untunglah kaki
Kerrigan tidak patah, hanya luka-luka, tetapi hal itu telah membuat Kerrigan mengundurkan diri dari kejuaraan
nasional. Harding memenangi kejuaraan itu (Daily Mail, “ Agony of the ice queen”, 14 September 2013).
Namun peristiwa ini kemudian terbongkar oleh polisi. Polisi dan hakim membuktikan bahwa Harding
mengetahui rencana serangan terhadap Kerrigan. Harding mengaku bersalah dan dijatuhi hukuman percobaan
tiga tahun penjara, 500 jam pelayanan masyarakat, dan denda $160.000. Gelar juaranya tahun 1994 dicabut, dan
seumur hidupnya Harding dilarang ikut serta dalam semua kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi
sepatu es nasional di seluruh AS, baik sebagai pemain maupun pelatih.

Apa yang kita temukan dalam kisah di atas? Kisah ini menggambarkan bagaimana seseorang yang sudah
dewasa menurut usianya, ternyata tidak mampu menghadapi masalahnya secara dewasa. Tonya Harding,
misalnya, harus menghadapi Nancy Kerrigan, lawannya yang tangguh dalam pertandingan sepatu es. Ia
khawatir tidak bisa memenangkan pertandingan itu dengan mengalahkan Nancy di arena pertandingan. Karena
itu ketika seseorang memutuskan untuk mencelakakan Nancy, ia pun berdiam diri, atau bahkan menyetujui apa
yang direncanakan oleh Jeff Gillooly untuk mencelakakannya. Ini adalah sebuah contoh tentang emosi yang
negatif. Emosi seperti ini seringkali ditampilkan oleh orang-orang yang tidak matang pribadinya, tidak siap
menerima kekalahan secara terhormat, dan karena itu bersedia melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Dengan kata lain, secara fisik mereka sudah bertumbuh, tetapi secara emosional dan kepribadian mereka tetap
seperti anak kecil. Mereka tidak bisa berpikir dengan matang dan bertanggung jawab. Hal seperti ini dapat kita
temukan pula di berbagai aspek kehidupan.

Kematangan Pribadi dan Emosi

Salah satu cara yang paling mudah untuk menilai kematangan pribadi seseorang adalah dengan
mengamati ekspresi emosinya. Emosi adalah pengalaman sadar yang subyektif, yang terutama sekali dicirikan
oleh ungkapan-ungkapan psiko-fisiologis, reaksi biologis, dan keadaan mental. Dalam kehidupan sehari- hari,
emosi seringkali terlepas begitu saja ketika seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya. Akibatnya,
perkataan dan tindakannya pun jadi tidak terkendali. Contohnya, apa yang dilakukan oleh Tonya Harding dan
kawan- kawannya. Setelah semuanya terjadi dan mereka dinyatakan bersalah, lalu dijatuhi hukuman, mungkin
mereka baru menyesali apa yang telah mereka lakukan. Emosi seseorang biasanya bisa dilihat melalui bahasa

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 5

SLIDE