
Falsafah Huma Betang Dalam Simbol Suku Dayak Kal-Teng
Presentation
•
Education
•
10th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
rospala hanisah
FREE Resource
63 Slides • 0 Questions
1
π1
2
2
Fase
: E
Sarana dan Prasarana
3
3
?
1.
2.
3.
4.
5.
6.
4
4
Kegiatan Pendahuluan
1.
2.
3.
4.
5.
5
5
JENIS ASESMEN
Asesmen diagnostic Kognitif
Asesmen Formatif
Asesmen Sumatif
BENTUK ASESMEN
Sikap (profil pelajar Pancasila)
: Observasi Guru
Tertulis
: Soal Latihan
Perfrom
: Prestasi
REMEDIAL
PENGAYAAN
1.
2.
3.
4.
6
6
masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah:
pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan,
atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Tradisi: adat kebiasaan
moyang) yang masih
.
Formatif : Menuliskan
yang berkaitan
dengan Falsafah Batang Garing suku Dayak Kalimantan Tengah .
dan mengisi titik-titik.
7
7
BAB 1
HUMA BETANG
8
8
disebut pemukiman keluarga, terdiri dari satu buah rumah induk dan beberapa bangunan
pelengkap lain seperti sandong (tempat tulang), pasah lisu (tempat lesung), pasah parei
(lumbung padi), pasah pali (tempat pemujaan), serta kandang ternak. Rumah induk
Suku Dayak Ngaju
merupakan suku terbesar yang ada
di provinsi Kalimantan Tengah.
Warisan budaya suku Dayak Ngaju
salah satunya adalah rumah
Betang. Rumah Betang adalah
rumah adat masyarakat Kalimantan
Tengah. Huma Betang dikenal
secara luas dengan istilah “rumah
besar”. Rumah ini ditinggali oleh
banyak orang dengan beragam
agama dan kepercayaan, namun
tetap hidup berdampingan.
Rumah betang ini terkenal karena pernah digunakan untuk menyelenggarakan
rapat perdamaian antara suku-suku Dayak se-Kalimantan yang saling bertikai pada kurun
waktu abad 17-18 yang dikenal dengan”Rapat Damai Tumbang Anoi”. 1
Pada awalnya Betang merupakan pemukiman tradisional masyarakat Dayak
1 Riwut, Kalimantan Membangun, Percetakan Negara. Jakarta, 1979
9
9
berupa ikan untuk kebutuhan sehari-hari dan merupakan sumber penghidupan yang
merupakan bangunan terbesar berada di tengah-tengah kavling yang dikelilingi oleh
bangunan-bangunan kecil lainnya. Halaman depan memiliki luasan yang besar sebagai
kegiatan upacara-upacara adat, areal bermain, serta kegiatan berkumpul lainnya. Komplek
pemukiman masyarakat tradisional tepi sungai memiliki orientasi menghadap sungai
sehingga membentuk pola linear dari kampung Sungai merupakan jalur transportasi utama
bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi
bekerja ke ladang dimana ladang masyarakat Kalimantan Tengah biasanya jauh dari
pemukiman penduduk, atau melakukan perdagangan (zaman dulu masyarakat Kalimantan
Tengah biasanya berdagang dengan menggunakan sistem barter yaitu dengan saling
menukarkan hasil ladang, kebun maupun ternak.2
Sungai sangat mudah ditemukan di berbagai tempat, dan sungai juga merupakan
objek yang sudah tidak asing lagi, meskipun kelas sungainya berbeda.3 Sungai memiliki
peran penting dalam kehidupan manusia, terutama bagi masyarakat dayak yang tinggal di
bantaran sungai. Mereka berhubungan langsung dengan sungai, bahkan kegiatan yang
dilakukan masyarakat pun berhubungan dengan sungai.
Terdapat tiga hal mendasar pandangan masyarakat Dayak Ngaju pada keberadaan
sungai:
1.Sungai adalah sumber penghidupan dari dalam sungai terdapat kekayaan melimpah
2Hamidah, N., & Garib, Studi Arsitektur Rumah Betang Kalimantan Tengah. Jurnal Arsitektur: Arsitektur
Melayu dan Lingkungan, 2014, h. 19-35
3Putra, M. A. H., Handy, M. R. N., Subiyakto, B., Rusmaniah, R., & Norhayati, N., Identifikasi Nilai
Budaya Masyarakat Sungai Jelai Basirih Selatan Sebagai Sumber Belajar IPS. PAKIS (Publikasi Berkala
Pendidikan Ilmu Sosial, 2022
10
1
0
menjanjikan untuk anak cucu.
2.Sungai adalah sarana transportasi utama. Di daerah pedalaman Kalimantan sungai
merupakan sarana transportasi yang paling mudah, murah dan cepat. Dengan
menggunakan peralatan sampan kecil masyarakat dapat mencapai tempat yang jauh
melalui sungai ini.
3.Sungai sebagai sarana interaksi sosial. Keberadaan sungai memegang peranan penting
bagi usaha-usaha perdagangan barter bahan mentah dengan bahan pokok sehari-hari
dengan masyarakat luar. Sungai sebagai sarana hubungan sosial antara masyarakat
tradisional Dayak dengan masyarakat dari daerah lain.
Rumah Betang berbentuk memanjang serta terdapat sebuah tangga dan pintu
masuk ke dalam betang. Tangga yang digunakan sebagai alat penghubung pada rumah
betang disebut hejot. Bangunan Betang biasanya berukuran besar dan dibangun
menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi yaitu kayu ulin, selain kuat kayu ini
juga anti rayap. Pada halaman depan rumah betang selain terdapat balai yang digunakan
sebagai tempat menerima tamu, terdapat juga sapundu. Sapundu merupakan sebuah
patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran
khas dan berfungsi untuk mengikat binatang yang akan dikurbankan untuk prosesi
11
1
1
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5(1), 2019, h. 36-43
berkembang pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Budaya huma betang
mengandung nilai-nilai positif yang dapat mendukung pembinaan rasa persatuan dan
upacara adat. Pada bagian belakang dari rumah betang dapat ditemukan sebuah balai
yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan untuk menyimpan alat- alat
pertanian seperti lisung atau halu. Pada bagian depan atau belakang betang terdapat juga
sandung. Sandung merupakan sebuah tempat menyimpan tulang-belulang keluarga yang
telah meninggal serta telah melewati proses acara tiwah.4
Filosofi merupakan suatu kebenaran yang dianggap benar. Untuk diketahui
bahwa filosofi Huma Betang (Rumah Betang) di Kalimantan Tengah sangat menjunjung
tinggi perdamaian dan anti-kekerasan serta hidup toleransi yang tinggi antar-umat
beragama, Farada (Ibnu Elmi, 2018). Falsafah huma betang merupakan salah satu budaya
yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Rumah
betang/huma betang tidak hanya menjadi bangunan fisik tempat tinggal masyarakat Suku
Dayak saja akan tetapi menjadi bangunan jantung dari struktur sosial kehidupan. Struktur
sosial utama adalah adanya nilai yaitu kebersamaan didalam perbedaan(together in
diversity), artinya ada semangat kesatuan dan persatuan, etos kerja dan toleransi yang
tinggi untuk mengelola secara bersama-sama segala perbedaan yang ada dan mampu
berkompetisi secara jujur sehingga perbedaan yang ada menjadi sebuah kekuatan untuk
bersatu bukan sebagai jurang pemisah.
Budaya huma betang merupakan salah satu budaya yang tumbuh dan
4Sugiyanto, R., Azahari, A. R., Kartiwa, W., & Sapriline, Internalisasi Falsafah Rumah Betang Untuk
Membentuk Sikap Toleransi: Internalization Of Falsafah Betang Houses To Form A Tolerance Attitude. Tunas:
12
1
2
Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5(1), 36-43
rukun dan damai demi menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. Budaya huma betang
memiliki nilai-nilai positif seperti nilai religius, kebersamaan, kejujuran, toleransi, saling
menghormati, kerja keras, musyawarah, gotong royong, mencintai alam, disiplin.5
kesatuan bangsa di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural, secara khusus
penduduk di Kalimantan Tengah yang juga multikultural. Nilai dianggap sebagai sesuatu
yang baik, yang berguna dan dianggap penting oleh masyarakat. Sesuatu dikatakan
memiliki nilai apabila memiliki manfaat. Nilai dalam masyarakat bersumber dari norma
yang ada di masyarakat. Norma berisi perintah dan larangan yang harus dipatuhi oleh
masyarakat demi terwujudnya nilai-nilai. Nilai dan norma merupakan dua hal yang saling
berkaitan dan sangat penting bagi terwujudnya kehidupan bersama yang aman, tentram,
5Sugiyanto, R., Azahari, A. R., Kartiwa, W., & Sapriline, S. (2019). Internalisasi Falsafah Rumah Betang
Untuk Membentuk Sikap Toleransi: Internalization Of Falsafah Betang Houses To Form A Tolerance Attitude.
13
1
3
BAB II
FALSAFAH HUMA BETANG PADA
MASYARAKAT DAYAK
KALIMANTAN TENGAH
14
1
4
Huma betangmerupakan rumah adat berbentuk Rumah Panjang yangada di Kalimantan tengah
yang dimana dihuni oleh beberapa kepala keluarga yang ada di dalamnya. Budaya huma betang merupakan
cerminankebersamaan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kalimantan tengah. Di Rumah Betang
(Rumah Panjang) ini, setiap individu dalam rumah tangga danmasyarakat diatur secara sistematis
melalui kesepakatan Bersama sebagaimana dalam hokum adat. Indonesia mengakui adat istiadat yang
hidupdiantara masyarakat di Indonesia, termasuk adat istiadt filosofi Hma Betang (filosofis)
di Kalimantan Tengah. Ini berlaku secara sosiologis di masyarakat dan juga berlaku berdasarkan
pengalamanhiduporang Dayak yangmenetapkan norma atau aturan perilaku Huma Betang.
15
15
BAB III
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM
SIMBOL HUMA BETANG SUKU DAYAK
KALIMANTAN TENGAH
16
16
Menurut Suzanne K.Langer, simbol merupakan media bagi sebuah konsep mengenai
objek. Ada beberapa macam simbol, yang pertama yaitu simbol diskursif artinya berupa
penjelasan tentang sesuatu, digunakan di dalam bahasa tulis maupun lisan untuk berkomunikasi.
Kedua yaitu simbol presentatif, berupa deskripsi atau pelukisan, bahasa penampakan mengenai
suatu arti yang tidak daat dijelaskan. Simbol seni melebihi dari kedua macam simbol tersebut.
Referen merupakan setiap hal berupa sesuatu, fakta, objek, kualitas pengalaman, peristiwa,
denotasi, designatum, benda- benda, dan sebagainya. Konsep yaitu konotasi, pikiran, ide, respon
psikologis, dan sebagainya. Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk kata maupun gambar.
Di dalam buku Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob Sumardjo mengatakan bahwa
masyarakat primordial Indonesia mempunyai pemahaman mengenai ruang yang berbeda –
beda, berkembang berasaskan pada mata pencaharian masyarakatnya. Terdapat beberapa
wilayah yang penduduknya merupakan bagian masyarakat peramu, pemburu, sawah dan
peladang. Pemahaman mengenai ruang terdiri atas Pola Dua, Pola Tiga, Pola Lima atau
Sembilan[Sumardjo, 2010].
Gambar 1. Skema Hubungan Antara Simbol dan Kedua Realitas
Sumber : Sumardjo (2010, p.102)
17
17
Masyarakat Dayak Ngaju adala masyarakat yang berladang. Dengan demikian, teori
estetika mengenai pola tiga paling sesuai digunakan untuk bisa menguraikan beberapa
simbol. Pola tiga di dalam kebudayaan pra-modern Indonesia mengalami perkembangan di
lingkungan masyarakat primordial yang dapat hidup dengan cara berladang. Kaum peladang
merupakan mereka yang dapat hidup dari kegiatan bercocok tanam padi pada lahan kering,
dimana biasanya ada di daerah perbukitan. Untuk kaum peladang, hidup merupakan
memelihara kehidupan. Estetika pola tiga terfokus terhadap terbentuknya simbol-simbol
paradoks (bertentangan) berupa “dunia tengah” yang dapat mengharmonikan segala hal yang
dua-listik-antagonistik. Pola tiga cenderung pada horisontalis, yaitu lebih mengutamakan
pada paradoks duniawi daripada paradoks surgawi [Sumardjo, 2010].
Kepercayaan Dayak Ngaju
Kepercayaan di dalam masyarakat Dayak Ngaju pada masa lampau berasal dari agama
Kaharingan, mite-mite pada penciptaan, legenda tatum. Tatum adalah kisah tentangasal-usul
dan petualangan nenek moyang suku Dayak saat awal memasuki daerah Kalimantan Tengah,
disampaikan dari generasi ke generasi di dalam bahasa Sangen maupun Sangiang yang
berupa pantun-pantun maupun bahasa berirama [Nahan, 2010]. Berasaskan terhadap
kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju, alam terbagi menjadi tiga dunia. Alam Atas (Lewu
Liau) bisa juga disebut dengan Tasik tambenteran balau,laut babandan intan yang bermakna
kemilau emas, laut berjembatan emas yang dipimpin oleh Ranying Mahatara Langit; Alam
Tengah disebut Pantai Danom Kalonen yaitu bumi daerah manusia berpijak; Alam Bawah
yang disebut juga dengan Basuhun bulau, Saramai rabia yang juga dikuasaioleh Bawin Jata
Balawang Bulau atau wanita Jata berpintukan emas.
18
18
Bangunan rumah Betang Toyoi terletak di Desa Tumbang Malahoi, Kabupaten Gunung
Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Betang Toyoi menghadap kepada Sungai Baringai yang
juga merupakan anak sungai Rungan bagian cabang dari sungai Kahayan. Rumah Betang Toyoi
terletak di tengah-tengah pmukiman warga desa Tumbang Malahoi dengan area luas tanah
39,04 m dan panjang 62,11 m. Betang ini merupakan sebuah rumah yang menjadi peninggalan
Almarhum Panji Bin Toyoi yang dibangun pada Tahun 1869 dan bertempat pada area 1 hektar.
Beliau jga merupakan tokoh masyarakat yang berperan sebagai pelopor pembangunan Betang
Toyoi. Dapat dikatakan bahwa Betang merupakan pemberian nama yang selaras dengan
pendirinya. Untuk dapat membangun rumah ini diperlukan sekitar 300 orang laki-laki dan
perempuan.
Gambar 1. Rumah Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Beberapa aspek yang akan dibahas dari rumah Betang yaitu sebuah orientasi bangunan,
struktur dan bentuk bangunan, organisasi ruang, unsur pembentuk ruang, unsur pengisi ruang,
unsur transisi, dan ragam hias yang ada di dalam rumah Betang. Dari tiap aspek, akan terlihat
19
19
beberapa simbol presentatif. Kemudian, akan dideskripsikan untuk bisa membuat simbol
diskursifnya. Setelah simbol presentatif dan diskursif ditemukan, maka bisa dilaksanakan
análisis untuk bisa mengetahui konsep yang ada didalam tiap unsur Betang.
Gambar 2. Suasana lingkungan Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
20
20
1) Orientasi, Arah Hadap, dan Tata Letak Bangunan
Simbol Presentatif
Gambar 3. Orientasi, arah hadap, dan tata letak Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Dideskripsikan dari orientasi mata angin, yang mengarah pada sungai dan gunung,
kondisi lingkungan serta kondisi pemukiman. Betang Toyoi berorientasi ke arah timur laut
dan arah hadap Betang Toyoi merupakan Sungai Baringei yang merupakan anak Sungai
Rungan serta menghadap kepada Bukit Raya yang terletak di sebelah utara. Di sekitar Betang
Toyoi ada pemukiman rumah warga (kampung). Perkampungan tersebut bersisian di
sepanjang tepi sungai yang berpola linear. Pada halaman Betang Toyoi ada 2 jenis sandung
dan tiang sapundu yaitu terletak di sebelah kanan pintu masuk dan tangga. Pada seberang
Betang Toyoi ada tiang pantar yang berjumlah 12 buah tiang dan sebuah dermaga yang
disebut juga dengan lanting, dimana posisinya lurus terhadap pintu masuk utama. Keadaan
21
21
ruang luar Betang Toyoi terdiri atas halaman depan terbuka di depan, jalan lingkungan di
sebelah hulu dan hilir, serta bagian belakang halaman.
Referen
Pada arah timur, gunung dan sungai adalah panduan bagi masyarakat Dayak. Arah
timur telah diyakini sebagai arah yang sakral serta dipercaya mempunyai kekuatan magis
yang terbaik karena merupakan suatu arah matahari terbit [Haysakti, 2010]. Gunung Bukit
Raya telah diyakini sebagai suatu area Ranying Hatalla yang menurunkan manusia pertama
[Riwut, 2023]. Beberapa bangunan religius seperti sandung menghadap ke arah timur – hulu
sungai karena arah tersebut telah diyakini dapat mempunyai kekuatan magis yang paling
besar dan sakral [Haysakti, 2010]. Pada arah hulu dan timur dipersepsikan lebih baik. Namun
pada kenyataannya, pada penentuan arah lebih diutamakan pada sungai sebagai sumber
kehidupan, area korelasi dengan masyarakat luar, dan satu-satunya area perhubungan
[Syahroji, 2004].
Konsep
Orientasi pada arah mata angin Betang Toyoi merupakan serong (timur laut). Arah
timur merupakan sebuah arah matahari terbit yang merupakan sumber kehidupan, etos kerja
keras. Betang menghadap kepada arah Bukit Raya yang berlokasi di sebelah timur laut,
dimana merupakan puncak tertinggi.
22
22
1)Bentuk Bangunan
Simbol Representatif
Simbol Diskursif
Gambar 4. Bentuk bangunan Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Jenis bangunan yang berupa rumah panggung dengan pola segi empat panjang, yang
terbagi atas tiga macam yaitu atap, dinding (ruangan), dan kolong. Atap merupakan unsur
yang terletak di atas, berupa gabungan dari atap pelana dan atap miring. Keduanya berpola
segitiga dan terpusat ke atas. Unsur tengah berupa dinding yang berasal dari kulit kayu
jelutung yang disusun secara horizontal. Dinding membentuk pola ruangan-ruangan di dalam
betang. Unsur bawah berpola kolong yang terdiri atas tiang dan pondasi. Tiang dan pondasi
dibuat dari kayu ulin bulat dengan diameter + 50cm yang ditanam di dalam tanah sedalam
1.5-2 m. Ulin dipasang secara membujur. Kemudian, diperkuat dengan memakai kayu
23
23
pengapit pada setiap jarak 1-1.5 cm.
Referen
Berdasarkan kepercayaan Dayak Ngaju, alam semesta telah terbagi menjadi 3 bagian,
yaitu Alam Atas, Alam Tengah, dan Alam Bawah [Riwut, 2003]. Pembagian dalam 3 bagian
ini nampak di dalam simbol batang garing dan dandang tingang. Alam atas berupa langit,
tempat tertinggi yang merupakan tempat tinggal Ranying Hatalla. Alam bawah disebut
sebagai tempat tinggal Jata Jalawang. Alam Tengah merupakan batas sekaligus korelasi
antara Alam Atas dan Bawah, Alam Tengah merupakan area manusia dapat hidup dan
beraktivitas. Setiap penjuru rumah Betang juga terhubung menjadi satu dan saling
berkorelasi dengan setiap rangkaian yang terdapat di atas atap maupun di lantai. Hal ini
mengindikasikan nilai gotong royong yang sejak awal didirikan rumah Betang hingga
selesainya rumah tersebut [Syahroji, 2004].
Konsep
Struktur Rumah Betang juga mencerminkan pada pembagian alam. Bagian atap
mendeskripsikan Alam Atas yang bermakna sakral dan melambangkan korelasi manusia
dengan Ranying Hatalla. Bentukkan pada atap yang memusat ke atas juga mencerminkan
kepada ke-ilahi-an Tuhan yang ada di tempat tertinggi di Alam Atas. Atap juga bermakna
simbol dari perlindungan, misalnya langit yang melindungi bumi. Di dalam analogi batang
garing, atap merupakan suatu lambang kepala.
Area badan rumah dimana terjadi kegiatan-kegiatan masyarakat sehari-hari
mendeskripsikan Alam Tengah yang netral serta melambangkan korelasi antar manusia.
Bagian kolong mendeskripsikan Dunia Bawah yang menginsikasikan bumi yang merupakan
24
24
area yang memberikan hasil & area yang fana. Korelasi antara struktur-struktur pada rumah
Betang mencerminkan sebuah nilai gotong royong. Berdirinya rumah Betang yang memiliki
ukuran besar seperti ini, maka masyarakat juga berkerja-sama dengan sebuah rasa solidaritas
yang tinggi, sehingga dapat menciptakan etos gotong royong dengan sukacita dan tidak jenuh
bekerja. Pola rumah yang terbentang dengan bilik-bilik dan satu ruang tengah
menngindikasikan tentang nilai perdamaian dimana masyarakat bdapay hidup secara
harmonis dan bersisian.
2)Organisasi Ruang
Simbol Presentatif
Simbol Diskursif
Gambar 5. Bentuk bangunan Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Area-area di dalam Betang Toyoi, yaitu balai parung, bilik, karayan, dampuhan,
henderasi, dan kamar mandi. Balai parung juga merupakan pusat dari rumah Betang yang
25
25
memiliki fungsi sebagai area upacara ritual, ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang rapat
adat. Balai parung juga disebut juga sebagai eka uluh maja yaitu area tempat menyambut
musyawarah, tamu dan kegiatan ritual. Lorong pada sisi kiri dan kanan balai parung juga
disebut dengan eka keluarga yaitu area untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan keluarga dan
ritual. Bilik maupun karung disebut juga dengan eka batiroh yaitu area untuk dapat
beristirahat pada setiap keluarga. Pintu bilik juga saling berhadapan dengan bilik yang
terletak di seberangnya.
Bagian bilik juga diselenggarakan upacara ritual yaitu upacara perkawinan. Karayan terdiri
dari dapur tungku dan ruang makan. Karayan juga merupakan area untuk melaksanakan
kegiatan memasak makanan serta akses keluar untuk dapat berladang, memancing dan
berburu. Henderasi merupakan sebuah teras belakang yang dapat digunakan untuk menjemur
baju serta daerah transisi antara ruangan luar dengan ruangan dalam. Ada pula kamar mandi
pada bagian belakang Betang. Secara menyeluruh penataan ruang pada Betang juga
merupakan organisasi ruang linear/grid yang juga memanjang berderet dengan arah
membentang hulu- hilir.
Referen
Daerah yang bersifat sakral juga berupa ruang los (balai parung) dan bilik. Pada
bagian ini, terdapat beberapa ritual yang diselenggarakan, misalnya upacara balian (untuk
orang sakit) dan upacara pernikahan yang sakral. Daerah profan yang terdiri atas karayan,
ruang makan, dan henderasi. Pada pembagian daerah sakral dan profan ditentukan dengan
berasakan pada kegiatan yang dilaksanakan dalam Betang.
Daerah sakral merupakan daerah yang dimanfaatkan untuk kegiatan ritual. Daerah
26
26
netral merupakan daerah tempat manusia dapat beraktifitas untuk dapat memenuhi keperluan
sehari-hari. Sedangkan daerah profan merupakan daerah yang didalamnya tidak terdapat
elemen ritual. Pembagian pada tata ruang secara diagonal dan vertikal selaras dengan
lambang Rajah Cacak.
Konsep
Proses kehidupan pada masyarakat Dayak, bermula dari area tempat tinggal. Kehidupan di
dalam tempat tinggal dengan adanya puluhan kepala keluarga maupun ratusan penghuni, bisa
tetap harmonis, saling toleransi dan seimbang antar penghuni, orang asing, alam, serta Sang
Pencipta.
Pada pengaturan ruangan utama (balai parung dan bilik) berpola simetris yang
tercermin pada keseimbangan dan harmoni. Ruang yang paling sakral (balai parung) terletak
pada pusatnya yaitu pada bagian tengah - tengah rumah mengindikasikan bahwa masyarakat
Dayak telah menjunjung tinggi nilai-nilai yang religius. Nilai pengayoman dan perlindungan
diindikasikan pada ruang tengah juga merupakan tempat beberapa pertemuan yang
dilaksanakan, upacara adat, serta musyawarah. Nilai kejujuran dan sifat terbuka juga
diindikasikan pada ruang tengah yang luas serta terbuka apa adanya. Rumah Betang yang
terbentang panjang dengan beberapa bagian kamar dan ruang tengah mengindikasikan nilai
perdamaian, dimana segala penghuni bisa bertahan hidup dengan berdampingan pada satu
atap.
27
27
3)Elemen Pembentuk Ruangan
Bagian bawah : Lantai
Simbol Presentatif
Simbol Diskursif
Gambar 6. Lantai Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Lantai Betang berbentuk lantai panggung, terletak 3 meter di atas permukaan tanah. Lantai
Betang Toyoi dibuat dari papan kayu ulin, yang terdiri dari sloof dan gelagar. Sloof diletakkan
dengan arah membujur, dimana terdapat sambungan yang memiliki ukuran 8/12cm. Gelagar
diletakkan dengan arah melintang, yang berjarak +40-60cm dengan batas sambungan 6/11cm
dan arah membujur dengan jarak + 40-60cm, dengan sambungan 6/11cm.
Referen
Lantai merupakan area bagi masyarakat Dayak untuk dapat menyelenggarakan berbagai
28
28
macam aktivitas baik ritual ataupun sosial. Susunan pada papan kayu ulin yang berbentuk
vertikal, yang seperti pada lambang Rajah Cacak dengan melambangkan kodrat manusia. Garis
tegak lurus (vertikal) dari bawah ke atas, menuju ke arah Titik Temu. Hal ini juga
melambangkan manusia harus bisa bertemu dengan Titik Kebenaran Ilahi, sehingga terjadi
hubungan yang menyenangkan batin.
Konsep
Lantai terdapat di antara bagian Alam Bawah dan Tengah, dengan melambangkan dunia
area manusia hidup serta berinteraksi dengan sesama manusia dan dengan hewan, serta dengan
tumbuh-tumbuhan (alam) sekitar. Di dalam hubungan tersebut, terdapat beberapa aturan
mengenai norma kesopanan belom bahadat dan manusia yang bertindak sebagai pengurus suatu
lingkungan tersebut. Susunan pada papan kayu ulin secara vertikal melambangkan pada upaya
untuk bertumbuh dari bawah kemanusiaan (kodratmanusia), serta dituntut untuk tetap mencari
Tuhan dari tempatnya sekarang. Pada beberapa tempat diberi tikar pusu yang juga merupakan
suatu pola kerajinan tangan pada masyarakat Dayak Ngaju, dengan lambang keseimbangan
dengan alam, kesederhanaan, dan kerja keras. Di dalam analogi tubuh manusia berdasarkan
kepada lambang batang garing dan lantai melambangkan kaki.
Bagian bawah : Tiang
Simbol Presentatif
Gambar 7. Tiang-tiang Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
29
29
Simbol Diskursif
Alas jihi dan tungket : jihi merupakan sebuah tiang utama. Jihi dan tungket merupakan
tiang - tiang yang terbuat dari bahan kayu ulin bulat yang mempunyai banyak segi.
Keseluruhan dari tiang berjumlah 28 buah. Tungket merupakan sebuah tiang pembantu yang
berpola silinder dimana terletak berkisar di antara dua buah tiang utama (jihi). Tungket
menggunakan kayu bulat utuh yang berdiameter 15- 20cm. Di antara tiang-tiang tersebut
terdapat Tiang Agung yang terletak di bagian tengah ruang los, yang terbuat dari kayu ulin
dengan pilihan yang mati karena unsur ketuaan, serta bukan akibat dipotong.
Referen
Pada lambang batang garing, ujung tombak tersebut mengarah ke atas yang melambangkan
penghormatan kepada Tuhan, serta hidup dengan aturan dari Tuhan. Tiang agung merupakan
suatu elemen yang harus ada di dalam rumah yang merupakan lambang dari kesempurnaan
hidup. Tiang ini juga melambangkan sebuah keinginan atas umur panjang, kerta keturunan
yang banyak, dihormati, serta berwibawa [Rampai, 2014]
Konsep
Tiang jihi, tungket, serta tiang agung terdapat pada bagian Alam Bawah, Tengah, dan
menerus hingga ke Atas. Tiang merupakan penopang rumah dan penghubung antara atap,
dinding serta pondasi. Tiang juga dapat dilambangkan dengan tombak yang mengarah ke
atas dan dalam simbol batang garing, bermakna suku Dayak meyakini bahwa manusia harus
hidup secara tegak dengan berpatokan terhadap aturan Tuhan untuk dapat mencapai
kesempurnaan hidup serta memperoleh banyak rejeki. Tiang agung juga bermakna tanggung
jawab dan keperkasaan, karena tiang ini merupakan tiang tonggak rumah [Syahroji, 2004].
30
30
Dalam sebuah analogi tubuh manusia, dimana menurut lambang batang garing, bahwa tiang
melambangkan syaraf.
Bagian Tengah : Dinding
Simbol Presentatif
Gambar 8. Dinding Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Dinding Betang terdiri atas rangka dan pengisi dinding. Rangka dinding berbentuk balok
8/10cm. Dinding terdiri atas 2 lapisan yaitu lapisan pertama yaitu papan ukuran 2x15 cm
yang telah disusun secara vertikal dan lapisan kedua merupakan kulit kayu jelutung yang
telah disusun horizontal dengan digapit rotan.
Referen
Pola pada rotan penjepit yang terdapat pada dinding Betang berbentuk vertikal, seperti pada
lambang Rajah Cacak, dimana garis vertikal mengindikasikan kodrat ilahi yaitu
melambangkan pada hakikat kuasa Tuhan yang berasal dari atas turun ke bawah. Susunan
pada kulit kayu yang terdapat pada dinding Betang Toyoi berbentuk horizontal (melintang)
seperti horizontal yang ada pada lambang Rajah Cacak.
31
31
Konsep
Dinding tersebut terletak pada bagian Alam Tengah. Susunan pada dinding berbentuk
ruangan dimana di dalamnya masyarakat melaksanakan aktivitas manusia. Garis vertikal dari
atas serta turun ke bawah melambangkan kodrat ilahi yaitu pada kuasa dan berkat Tuhan
turun ke bawah. Sedangkan pada garis horizontal juga melambangkan keluhuran. dimana
manusia harus mencari Tuhan. Dalam analogi tubuh manusia menurut lambang batang
garing, dinding merupakan lambang dari badan dan leher.
Bagian Atas : Atap
Simbol Presentatif
Gambar 9. Langit-langit Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
32
32
Simbol Diskursif
Langit – langit Betang terdiri atas tampalang, bapahang rendah, kaki kuda-kuda, gording
(handaran), dan nok (rawung). Bapahang rendah berpola balok 23x44 cm yang disusun
dengan posisi terlentang. Tampalang tegak berpola balok 15 cm x 15 cm sebanyak 3 buah.
Kaki kuda- kuda sebanyak 2 buah yang dipasang segaris dengan bapahang. Bentang kuda-
kuda 4.4.m hanya membutuhkan 1 buah balok tarik (bapahang rendah). Kaki kuda-kuda
langsung menopang rawung (nok) yang tepat berada di atas garis kuda-kuda. Gording
(handaran) berbentuk segi 8 tanpa pasak pangguti. Bentuk penampang segi 8 memberikan
peluang terbentuknya sisi miring untuk pegangan kasau yang lebih lebar. Nok (rawung)
berbentuk segi 8. Nok dan kasau diikat terlebih dahulu dengan menggunakan rajutan rotan.
Referen
Penampang gording berpola segi 8, dimana angka 8 dipercaya sebagai sebuah lambang
kesempurnaan [Syahroji, 2004]. Area sesaji diletakkan di atas pintu yang ditutupi kain
kuning. Kuning berarti keagungan Tuhan. Balok sloof (bahat) dipilih dengan pola panjang
lurus menerus dengan tanpa sambungan. Bermakna pemilik rumah juga dikaruniai umur
panjang serta panjang rejeki pula. Konstruksi yang digunakan pada Betang Toyoi merupakan
ikatan rotan dan pasak kayu (sambungan pen).
Konsep
Langit-langit terletak pada area Alam Atas, yang melambangkan korelasi manusia dengan
Tuhan, sehingga terkandung nilai-nilai sakral. Tempat sesaji juga ditutupi kain berwarna
kuning yang berlambang keluhuran Tuhan, yang diletakkan terhadap posisi yang dihormati
(atas) dan juga dapat ditemukan pada saat memasuki sebuah pintu utama. Rotan memiliki
33
33
filosofi persatuan dan ikatan yang sangat erat. Selain mempunyai fungsi mengikat unsur-
unsur bangunan yang tersedia, terdapat arti bahwa rumah Betang tersebut merupakan tempat
untuk menyatukan masyarakat Dayak yang hidup di dalamnya.
Elemen Pengisi Ruang
Simbol Presentatif
Gambar 10. Elemen pengisi ruang Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Perkakas yang ada pada balai parung dapat berupa tikar dan bangku panjang sebanyak 4 buah
yang terletak pada rapatan dinding, sehingga di tengah-tengah balai parung dikondisikan tetap
34
34
kosong tanpa adanya perkakas. Masyarakat Suku Dayak pada jaman dahulu, tidak mengetahui
meja dan kursi untuk diletakkan di ruang tamu sehingga duduk serta berbicara dilaksanakan di
lantai dengan beralaskan pada tikar/amak dari anyaman rotan, daun rais, serta daun punan. Pada
saat pelaksanaan upacara adat, maka masyarakat juga hanya duduk pada potongan kayu besar.
Perkakas dan perlengkapan yang ada pada bilik merupakan kasur kapas, selimut tenun, tikar,
bantal, alat musik, dan gorden pada pintu bilik. Perkakas pada dapur berupa lemari dan ambalan
kayu untuk dapat menyimpan bahan memasak, serta meja untuk bisa mempersiapkan makanan
dilengkapi dengan laci, meja makan, meja saji dan kursi makan.
Referen
Korelasi antara manusia Dayak dengan tanah/bumi juga dengan hutan/pepohonan sangat kuat
serta terungkap dalam sistem adat. Ada rasa terimakasih kepada bumi dan hutan supaya tidak
kehilangan daya pertumbuhannya hingga mengakibatkan kerusakan pada manusia. Pada hutan,
bumi, sungai, dan setiap lingkungannya merupakan partisi dari hidup itu sendiri.
Konsep
Unsur-unsur pengisi ruang pada Betang Toyoi terletak pada bagian Alam Tengah, yang
merupakan cerminan dari korelasi manusia dengan alam/lingkungan. Unsur-unsur pengisi ruang
pada Betang Toyoi dibuat dari material alami yaitu kayu tanpa adanya finishing. Material yang
alami juga memiliki filosofi bahwa masyarakat Dayak Ngaju mengusahakan untuk dapat tetap
menyatu dengan alam dan merawatnya. Perkakas pada rumah Betang Toyoi saat ini
memanfaatkan metarial plastik yang selaras dengan perkembangan teknologi. Hal ini bermakna
bahwa masyarakat Dayak tetap terbuka terhadap perkembangan jaman yang akan mendukung
kelangsungan hidup.
35
35
Elemen Transisi
Pintu dan jendela
Simbol Presentatif
Gambar 11. Pintu dan jendela Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Pintu yang dilengkapi dengan sistem bukaan tunggal dan 1 buah daun pintu. Terdiri dari sistem
pengunci dengan kunci khusus yang terdapat pada pintu utama setebal 5 cm. Sistem engsel
memanfaatkan engsel poros. Jendela memanfaatkan sistem bukaan tunggal, sistem pengunci
dengan slot besi dan kayu. Sedangkan, sistem engsel menggunakan besi tempa. Jendela intip
juga terletak pada dinding kuda-kuda yang berpola bulat dan persegi panjang.
36
36
Referen
Pada letak pintu utama tidak boleh segaris dengan balok sloof lantai karena bisa mengakibatkan
adanya dampak negatif pada penghuni. Menurut keyakinan masyarakat setempat, jika tidur tidak
boleh bertempat tepat di bawah garis bubungan. Krtiteria khusus ketinggian pada ambang bawah
jendela rumah paada tradisional Dayak Ngaju sebatas ukuran pinggang (90-110cm) dari lantai
panggung [6], supaya musuh tidak bisa melihat penghuni dari luar.
Konsep
Pintu dan jendela juga terletak pada bagian Alam Tengah yang mencerminkan korelasi manusia
dengan sesama, yaitu antara penghuni yang terdapat pada tamu di luar. Pintu dan jendela juga
tidak terlalu besar yang melambangkan sifat tertutup/private. Pintu juga hanya dapat dibuka dari
dalam juga merupakan upaya preventif terhadap serangan musuh. Ada jendela intip yang pada
zaman dahulu digunakan sebagai usaha preventif bagi terjadinya serangan pada musuh. Pintu
dan jendela melambangkan rasa keamanan.
Tangga (Hejan)
Simbol Presentatif
Gambar 12. Tangga Betang Toyoi
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
37
37
Simbol Diskursif
Tangga dibuat sebanyak 3 buah yang terdiri atas 1 buah tangga utama serta 2 buah tangga
belakang. Tangga utama merupakan tangga dengan bordes (bapatah) yang terbuat dari balok
utuh. Tangga samping juga berupa tangga miring. Anak tangga dibuat berjumlah ganjil yaitu
5+6+11 buah.
Referen
Adat bertamu di dalam masyarakat Dayak Ngaju yaitu tamu yang menjelaskan makna
kunjugannya sebelum memasuki rumah, yaitu pada saat masih berlokasi di bawah tangga.
Bapatah di atas merupakan sebuah batas terakhir yang boleh dimiliki tamu sebelum
mendapatkan ijin. Bapatah juga memiliki filosofi sikap terbuka pada tuan rumah yang akan
menerima tamu, asalkan disertai dengan maksud yang baik [Syahroji, 2004]. Tangga dibuat
dengan jumlah ganjil untuk bisa membingungkan para musuh atau orang yang berniat jahat
[Resyanto, 2012].
Konsep
Tangga juga terletak pada area Alam Bawah dan Tengah, yang mengandung makna korelasi
manusia dengan alam dan makhluk hidup yang lain. Aturan pada tangga ganjil memiliki nilai
keamanan dan keselamatan. Angka ganjil bermakna juga pada sesuatu yang belum genap, juga
masih ada lanjutanya, dimana artinya masyarakat mempunyai harapan untuk bisa selalu hidup
secara kontinu atau tidak berhenti/terputus. Jumlah pada anak tangga ganjil juga bermakna agar
pada hitungan genap kaki sudah bisa memasuki rumah serta terhindar dari malapetaka.
38
38
Ragam Hias
Peletakkan di atas - luar
Simbol Presentatif
Simbol Diskursif
Gambar 13. Ragam hias Betang Toyoi bagian atas luar
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Halaman depan Betang adanya patung haramaung (harimau) yang mengapit hejan. Adapula
ukiran-ukiran yang terdapat pada sandung dan tiang sapundu. Tiang pantar dibuat sebanyak 12
buah tiang yang terdapat pada seberang Betang, dan diletakkan pada ujung tiang yang terdapat
ukiran berbentuk burung tingang (rangkong raja) atau piak liau. Tiang sapundu Betang Toyoi
dibuat dengan jumlah 7 buah yang terletak pada sisi kiri dan kanan sandung. Tiang ini juga
berfungsi sebagai simbol penjaga ataupun kelengkapan bagi kehidupan di surga / lewu liau
39
39
[Syahroji, 2004].
Referen
Pada dpatung burung liak piau berfungsi sebagai simbol bagi penguasa alam langit di puncak
tiang pantar yang memiliki ketinggian 10-12 m terbuat dari kayu ulin [Syahroji, 2004]. Tiang
pantar juga dianggap jalan ke surga dan lambang bagi kepemimpinan dari leluhur. surga dan
ebuah bukti telah di -tiwah. Pada puncak sandung kaki empat, ada patung burung piak liau
dimana merupakan lambang bagi kelengkapan kehidupan para arwah. Sapundu merupakan
sebuah area untuk meletakkan hewan kurban pada saat upacara ritual. Aturan bagi penambatan
hewan yaitu patung berwujud laki-laki yang berfungsi untuk menambatkan hewan kurban betina
maupun sebaliknya.
Konsep
Pada ragam hias ini juga terletak pada bagian Alam Atas, yang mencerminkan pada korelasi
dengan Tuhan dan lewu liau (surga). Ornamen kemewahan dan keindahan juga hanya dapat
ditampilkan pada sebuah bangunan tertentu sebagai ritual (sandung) karena merupakan sebuah
penghormatan terakhir dari orang yang hidup untuk sebuah keluarga yag telah meninggal. Pada
bangunan sarana ritual dan kematian juga diberi warna-warna cerah karena mendeskripsikan
kehidupan yang cerah, lengkap, serta penuh kemewahan, dan do’a bagi setiap masyarakat Suku
Dayak setelah tiada. Hal ini bermakna bahwa pada ragam hias tradisional juga memiliki filosofi
deskripsi duniawi yang memiliki citra surgawi, menyatukan poros dunia, korelasi antara
makrokosmos dan mikrokosmos, juga dapat menampilkan arah orientasi kekuatan magis
[Syahroji, 2004].
40
40
Peletakkan di Atas - Dalam
Simbol Presentatif
Gambar 14. Ragam hias Betang Toyoi bagian atas
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Pada sebelah atas pintu masuk atapnya terdapat beberapa ukiran - ukiran yang berjejer.
Sedangkan, pada bagian atas pintu masuk juga bagian langit- langit terdapat beberapa ukiran -
ukiran yang berpola tanaman, manusia, serta benda langit. Beberapa ukiran-ukiran terdapat pada
area atap sebelum masuk ke pintu utama yaitu ukiran berola satwa berkaki banyak/ seperti naga
(jata), sosok manusia, ukiran Asun Bulan, serta ukiran Tambarirang Maning Singkap Langit.
Ukiran Asun Bulan yang berasal dari kayu ulin yang dicat hitam dan kuning mendeskripsikan
sosok dua manusia yang saling berkorelasi.
41
41
Referen
Pada ukiran Asun Bulan bermakna tuan rumah yang wajib ramah kepada orang yang bertamu.
Ukiran Tambarirang Maning Singkap Langit mendeskripsikan satwa berkaki empat yang
diletakkan di atas ambang pintu supaya hatuen tidak mengganggu para penghuni. Ukiran yang
ada pada langit-langit sebelah dalam berpola ukiran benda langit, ukiran berpola tanaman, dan
ukiran berpola manusia. Ukiran berpola tanaman mendeskripsikan tentang asal usul padi.
Dimana menurut masyarakat Dayak, beras merupakan sarana komunikasi yang dilakukan antara
manusia dengan Penguasa Langit [Riwut, 2002]. Warna - warna yang dipakai pada ukiran atap
Betang Toyoi telah didominasi oleh warna kuning dan hitam. Dimana kuning bermakna
kemakmuran, kebaikan, dan kebesaran Tuhan. Sedangkan, Hitam bermakna penghalau
marabahaya [Darma, 2003].
Konsep
Pada ragam hias ini terdapat pada area Alam Atas juga di dalam rumah sehingga bermakna
korelasi antara manusia dengan Tuhan yang dapat diciptakan dengan sebuah penghormatan atas
sebuah ciptaan Tuhan dan tingkah laku terhadap sesama. Penghormatan kepada makhluk Tuhan
juga dapat diindikasikan dari ukiran berpola benda langit yang mendeskripsikan tmengenai alam
semesta. Ukiran pada asal mula padi yaitu simbol yang menjadi pengingat bahwa Tuhan
memberikan berkah dari atas kepada setiap manusia. Penggunaan Warna-warna pada ukiran
yang terdapat di atas pintu masuk bermakna untuk menghalau setiap bahaya, mengindikasikan
keagungan kepada Tuhan. Juga ada ukiran yang bermakna untuk menolak roh jahat.
42
42
Peletakkan di Tengah
Simbol Presentatif
Gambar 15. Ragam hias Betang Toyoi bagian dalam tengah
Sumber : Widjaja & Wardani (2016)
Simbol Diskursif
Tiang agung juga terdapat beberapa anyaman-anyaman yang berpola pilin, sulur, dan flora.
Beberapa anyaman - anyaman tersebut juga merupakan anyaman lamantek positif, kalalawit,
karekot bajei, serta pohon beringin. Anyaman lamantek positif pada pola dasarnya dapat
menyerupai lintah air. Pola kalalawit objek asasnya berpola tumbuhan, mempunyai sulur
berjumlah 4 buah dengan ujung spiral. Pola karekot bajei berbentuk tanaman pakis muda yang
khusus pada tunas pakis, seperti pola sulur spiral dimana pada bagian ujungnya terdapat pola
bulat dan tumpul. Pada area tengah dinding ruang los terdapat beberapa ukiran kuwu yang terdiri
atas perpaduan motif kalalawit dan karekot bajei. Ukiran ini dibuat dari papan kayu ulin yang
telah diukir.
43
43
Referen
Anyaman rotan juga berpola lamantek positif yang juga berpola lintah air mempunyai arti
persahabatan (tidak ada pertentangan) dan penyembuhan. Zaman dahulu lintah juga digunakan
untuk menghisap darah kotor, sehingga bisa menyehatkan. Anyaman Karekot Bajei berpola
tanaman pada balai parung (ruang los) yang bila ditempatkan di rumah juga melambangkan
korelasi erat antar keluarga maupun generasi, korelasi baik antar anggota keluarga seperti pada
pakis yang saling terkait. Motif kalalawit berarti korelasi tinggi, serta persatuan diantara manusia
dengan sesamanya [Darma, 2003]. Motif pohon beringin yang terdapat pada tiang agung yang
berlokasi di tengah balai parung juga memiliki makna kesejahteraan.
Konsep
Ragam hias ini juga terletak pada area Alam Tengah dan Atas yaitu yang terdapat di dalam ruang
los sehingga cerminan korelasi antara manusia dengan manusia sebagai bentuk pertanggung
jawaban kepada Tuhan. Anyaman juga diletakkan pada beberapa tiang-tiang agung yang juga
merupakan tonggak rumah Betang. Hal ini bermakna nilai-nilai tersebut juga merupakan tonggak
bagi kehidupan yang akan menjaga korelasi masyarakat Dayak Ngaju jika dilaksanakan dengan
baik. Ukiran kuwu sebagai bentuk pertanda adanya seorang gadis pingit bermakna
kemurnian.Warna-warna yang terdapat pada ragam hias di tiang - tiang agung yaitu kuning dan
merah. Dimana Kuning memiliki filosofi kebaikan. Sedangkan, merah memiliki filosofi
keabadian atau sesuatu hal yang tidak pernah luntur, dan suatu keberanian [Darma, 2002]. Hal
ini bermakna nilai- nilai luhur yang juga telah diyakini wajib dilaksanakan dengan sebuah
keberanian supaya dapat tetap bertahan.
44
44
2. Handep
Adapun makna-makna filosofi dari bahasa Suku Dayak, yaitu:
1. Hapahari
Hapahari diartikan sebagai persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan di
rumah betang. Menurut Ibnu Elmi, (2018) rumah betang dihuni oleh satu keluarga besar
yang terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan, namun mereka selalu hidup rukun dan
damai. Perbedaan yang ada tidak dijadikan alat pemecah diantara mereka artinya dalam
hal ini falafah dalam rumah betang adalah “Hidup Rukun dan Damai Walau Terdapat
Banyak Perbedaan”. Secara filosofis budaya huma betang di Kalimantan Tengah
menggambarkan kebersamaan dalam keberagaman. Hidup bersama dengan berbagai
keberadaan masing-masing individu yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Pada
dasarnya pelaksanaan konsep hapahari memegang prinsip bahwa tamu adalah raja,
sebagai contoh sederhana mereka menghargai orang luar atau tamu dengan berusaha
memberikan kepuasan kepada tamu tersebut, walaupun kondisi mereka dalam keadaan
keterbatasan. Perlakuan terhadap orang lain di luar komunitas betang memang mendapat
tanggapan yang positif dari warga masyarakat lainnya yang bukan Dayak. Mereka ikut
merasakan bagaimana perlakuan komunitas betang yang pada prinsipnya menganggap
bahwa orang lain adalah pahari.
Kearifan betang yang tidak pernah sirna adalah handep yang diartikan sebagai
sikap saling membantu atau tolong-menolong secara bergantian, pandohop (bantuan),
45
45
saling mandohop (membantu). Handep biasanya terlihat secara konkret pada upacara
kematian (tiwah), upacara perkawinan, membuka lahan atau ingin menanam padi, serta
upacara-upacara adat lainnya. Semangat tolong-menolong yang tinggi dalam komunitas
betang dinampakkan dalam handep. Menurut Ibnu Elmi, (2018) Perbedaan yang ada tidak
membuat penghuni Huma Betang memikirkan kelompoknya sendiri. Mereka selalu bahu-
membahu dalam melakukan sesuatu, misalnya apabila ada kerusakan di Huma Betang.
Mereka bersama-sama memperbaikinya, tidak memandang agama ataupun suku. Handep
dilakukan dalam segala hal segi kehidupan dimana pekerjaan tersebut tidak dapat
dilakukan sendiri tapi membutuhkan pertolongan warga betang lainnya. Untuk
melakukan handep diperlukan hati yang bersih dan penuh kasih, jauh dari kebencian dan
kedengkian agar pekerjaan yang berat menjadi ringan ketika dikerjakan bersama dengan
sukacita dan ketulusan.
3.Belom Bahadat
Belom bahadat artinya adalah hidup beradab dan memiliki etika, dipahami oleh
komunitas betang sebagai aturan atau tata krama yang mengatur kehidupan bersama,
yaitu menghargai adat yang berlaku dalam wilayah komunitas adat yang bersangkutan.
Dalam rumah betang ini setiap kehidupan individu dalam rumah tangga dan masyarakat
diatur melalui kesepakatan bersama yang dituangkan dalam hukum adat. Dengan hidup
beradab dan beretika, maka akan tercipta suatu sistem kehidupan yang rukun dan damai
4. Hapakat Kula
Hapakat kula (saling bermufakat) merupakan ciri khas kehidupan para penghuni
rumah betang. Setiap penghuni rumah menginginkan kedamaian dan kekeluargaan,
apabila ada perselisihan akan dicari pemecahnya dengan cara damai dan kekeluargaan
46
46
Selain berfungsi sebagai rumah adat, Huma Betang memiliki filosofi kehidupan
yang sangat dalam dan mendasar bagi masyarakat Dayak. Filosofi Huma Betang diantaranya
adalah:
dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat. Putusan dari musyawarah dan
mufakat tersebut, diambil sebagai kesepakatan bersama yang harus dijalankan dengan
benar.
Selain itu juga terdapat empat pilar dalam Huma Betang yaitu sebagai berikut:
1.Nilai kebersamaan adalah sikap saling bergotong royong. Contohnya dalam menjaga
dan memelihara Huma betang dan dalam mengerjakan pekerjaan ladang menanam padi
(menanam parei).
2.Nilai kejujuran adalah sikap yang baik artinya tidak ada kebohongan di dalamnya atau
dengan kata lain dengan tidak berbohong kepada orang lain baik dari hal yang kecil
sampai hal yang besar. Contohnya bila seseorang bertanya siapa nama anda? Maka
harus dijawab dengan jujur.
3.Nilai kesetaraan adalah sikap dalam hal kesederajatan yang sama antara satu dengan
yang lain. Contohnya dimana dalam Huma Betang tersebut mempunyai hak dan
kewajiban yang sama antara satu dengan yang lain.
4.Toleransi adalah sikap menghargai perbedaan atau pun latar belakang orang lain.
Contohnya dalam Huma Betang yang berbeda Agama satu sama lain.
1. Hidup Rukun dan Damai Walau Terdapat Banyak Perbedaan Huma betang dihuni oleh
1 keluarga besar yang terdiri dari berbagai agama dan kepercayaan, namun mereka
47
47
selalu hidup rukun dan damai.Perbedaan yang ada tidak dijadikan alat pemecah diantara
mereka. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat Dayak sudah mulai
meninggalkan rumah adatnya dan beralih kepada tempat tinggal yang lebih modern.
Walaupun demikian keharmonisan tidak hanya terjadi di Huma Betang. Seluruh
masyarakat Kalimantan Tengah selalu menjaga keharmonisan itu dengan cara saling
hormat menghormati dan juga sikap toleransi.
2.Bergotong Royong Perbedaan yang ada tidak membuat penghuni Huma Betang
memikirkan kelompoknya sendiri. Mereka selalu bahu-membahu dalam melakukan
sesuatu, misalnya apabila ada kerusakan di Huma Betang. Mereka bersama-sama
memperbaikinya, tidak memandang agama ataupun suku. Tidak hanya di Huma Betang,
Seluruh masyarakat Kalimantan Tengah diharapkan juga bahu-membahu dalam
membangun daerahnya tidak memandang suku bahkan agama.
3.Menyelesaikan Perselisihan dengan Damai dan Kekeluargaan Pada dasarnya setiap
penghuni rumah menginginkan kedamaian dan kekeluargaan. Apabila ada perselisihan
akan dicari pemecahnya dengan cara damai dan kekeluargaan. Begitu pula di Huma
Betang, masyarakat Dayak cinta damai dan mempunyai rasa kekeluargaan yang tinggi.
Peristiwa kerusuhan Sampit tahun 2001 lalu adalah masa kelam provinsi ini, dalam
kerusuhan ini terjadi antara masyarakat suku Dayak dan Masyarakat suku pendatang
dari pulau Jawa yaitu suku Madura. Perselisihan yang ada sempat membuat provinsi ini
tidak aman, perkelahian dimana-mana, termasuk peristiwa pembantaian. Perselisihan
terjadi sangat alot, sampai saat perdamaian pun tiba. Demi kedamaian juga keamanan
Kalimantan Tengah mereka bersedia berdamai.
48
48
Dari pemaparan di atas dapat di simpulkan bahwa Huma Betang memiliki nilai-
nilai yang akan selalu melekat pada diri setiap masyarakat Kalimantan Tengah dalam arti
kata, nilai-nilai yang ada di dalam Huma Betang tersebut bukan hanya sekedar warisan akan
tetapi untuk dikelola oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Walaupun tidak dapat dipungkiri
lagi bahwa Huma Betang akan punah seiring berjalannya waktu dan arus globalisasi dan
modernisasi.
4.Menghormati Leluhur Setelah masuknya agama-agama baru seperti Hindu, Kristen, dan
Islam, banyak masyarakat Dayak berganti kepercayaan. Walaupun demikian masih ada
sebagian dari mereka yang menganut agama nenek moyang yaitu Kaharingan. Untuk
menghormati leluhur mereka, masyarakat suku Dayak melakukan upacara adat. Upacara
adat tersebut terdiri dari ritual membongkar makam leluhur dan membersihkan tulang
belulangnya untuk kemudian disimpan di dalam sanding yang telah dibuat bersama-
sama (Ibnu & Jefry (2018).
49
49
BAB IV
IMPLEMENTASI NILAI FILOSOFI HUMA
BETANG DALAM INTERAKSI SOSIAL
MASYARAKAT DAYAK DI KOTA
PALANGKA RAYA
50
50
Penanaman nilai moralitas dewasa ini lebih banyak bersumber kepada ajaran agama
yang dianut oleh masing-masing individu. Nilai moralitas agama mengajarkan tentang
bagaimana berprilaku yang baik dan benar di tengah- tengah kehidupan masyarakat yang
plural. Setiap agama memiliki nilai ajaran tersendiri dalam memandang apa yang baik dan
tidak baik untuk dilakukan oleh umatnya berdasarkan ideologinya masing-masing.
Perbedaan dalam memandang apa yang baik dan tidak baik, apa yang boleh dan tidak boleh
sering memicu terjadinya konflik ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari
agama yang bersifat ambivalen sebagaimana pernyataan yang disampaikan oleh Durkheim
bahwa kemajemukan agama potensial konflik dapat mengundang kontroversi walaupun
secara ontology agama bersumber dari realitas yang tunggal dan secara esoteric semua
agama mengajarkan hal yang sama, yakni tentang cinta kasih, rahmat, dan dharma, akan
tetapi, secara realita agama bersifat ambivalen, yaitu di sisi lain dengan ajaran cinta kasihnya
agama menjadi faktor perekat social (uniting factor), tetapi di satu sisi agama juga menjadi
faktor pemisah atau pemecah (deviding factor).6
Mengingat hal ini, maka penanaman nilai- nilai moralitas hendaknya tidak hanya
bersumber kepada ajaran moralitas agama, tetapi juga diimbangi dengan nilai-nilai moralitas
yang selama ini sudah dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai bagian dari adat
istiadat lokal (local genius). Adat istiadat local (local genius) yang dimiliki oleh masing-
masing masyarakat merupakan nilai-nilai luhur kehidupan yang dimiliki oleh leluhur (nenek
moyang) dalam menjani kehidupan baik di tengah masyarakat maupun dalam
6Arifin, Syamsul. Relevansi Gagasan Multikulturalisme dalam Masyarakat Berbeda Agama. ( makalah
disampaikan dalam Seminar Nasional Etika Multikultur di Auditorium Grdung Benedictus lt 4 Unika Widya
Mandala Jl. Diyono 42-44 Surabaya tgl 22 Oktober 2005) , 2005.h.7
51
51
memperlakukan alam sekitar. Menjadikan adat istiadat local (local genius) sebagai basis
penanaman nilai-nilai moralitas salah satunya dilakukan oleh masyarakat Dayak di Kota
Palangka Raya yang hidup dalam pluralitas agama. Nilai-nilai budaya local (local genius)
dalam hal ini filosofi huma betang terimplementasikan dalam setiap laku dan interaksi social
yang mereka lakukan sebagai norma kehidupan
Huma betang sebagai salah satu bentuk bangunan adat dan budaya Dayak di
kalimantan, memiliki berbagai nilai kearifan lokal yang sampai saat ini masih dipedomani
dan dijadikan pijakan moralitas dalam interaksi sosial masyarakat Dayak dalam menjaga
kerukunan dan keharmonisan kehidupan pluralitas agama khususnya di Kota Palangka Raya.
Filosofi Huma Betang merupakan nilai-nilai kebersamaan suku Dayak yang dulunya hidup
dalam satu rumah panjang dengan berbagai perbedaan yang ada. Prof. H. KMA. M Usop,
MA, seorang budayawan yang sering melakukan kajian serta mendalami kebudayaan
masyarakat Dayak Ngaju, dalam kesimpulannya tentang Huma Betang mengatakan bahwa
budaya betang (budaya rumah panjang) adalah sistem nilai-nilai norma kehidupan
bermasyarakat berdasarkan kekeluargaan, kebersamaan, kesetaraan dalam masyarakat
terbuka (civil society) yang Bhineka Tunggal Ika, yang merupakan sub-kultur dari pancasila.
Nilai-nilai filosofis huma betang sebagai keharifan local Dayak, saat ini telah
terimplementasikan ke dalam hukum adat Dayak berupa aturan-aturan yang harus dipatuhi
dan ditaati oleh masyrakat Dayak di Kota Palangka Raya. Selain itu nilai-nilai filosofis huma
betang (rumah panjang) ini juga dijadikan sebagai ajaran moralitas baik secara non formal di
lingkungan keluarga dan secara formal di lingkungan sekolah sebagai bagian dari mata
pelajaran muatan local Dayak.
52
52
BAB IV
HUBUNGAN NILAI-NILAI
HUMA BETANG
DENGAN FALSAFAH PANCASILA
53
53
2003.
Pancasila selain merupakan dasar negara, juga merupakan pandangan hidup, jiwa dan
kepribadian bangsa, cita-cita dan tujuan bangsa, falsafah hidup yang mempersatukan bangsa
yang perlu dimaknai secara arif dan bijak baik itu pemerintah maupun seluruh komponen
masyarakat. Pancasila bila dilihat dari hubungannya dengan nilai-nilai Huma betang maka
dapat dilihat dari landasan hidup atau pilar kehidupan masyarakat Kalimantan Tengah, yaitu:
1.Garing Hatungku Tungket Langit
Memiliki arti “tiga pegangan hidup seseorang yang bisa menjadi seorang pemimpin”.
a.Kayu Gamalang Nyahu, (umat manusia harus beragama percaya kepada Tuhan), yang
sesuai dengan Pancasila pada sila Ke-1.
b.Kayu Erang Tingang, (harus punya adat istiadat atau sopan santun), sesuai dengan
Pancasila pada sila Ke-2.
c.Kayu Pampang Seribu, (hidup pintar harati), sesuai dengan Pancasila pada sila Ke-2
2.Isen Mulang
Isen Mulang berasal dari bahasa sangen (Bahasa Dayak Kuno)(8) memiliki arti “Ela
buli manggetu hinting bunu panjang, Isen Mulang Manetes Rantai Kamara Ambu”.
Memiliki arti “ jangan pulang sebelum memenangkan perjuangan yang panjang, pantang
mundur sebelum memutuskan tali kemiskinan, kebodohan dan kemelaratan dengan
semangat kebersamaan dan persatuan. Hal ini sesuai dengan sila ke-3 pada Pancasila.7
3.Hupungkal Lingu Nalatai Hapangajan Karendem Malempang
7Nila Riwut. Maneser Panatau Tatu Hiang (Menyelami Kekayaan Leluhur). Palangka Raya: Pustaka Lima,
54
54
226,
Memiliki arti “Bersatu dalam menyelesaikan suatu masalah dengan cara mufakat
sehingga segala sesuatunya dapat mencapai kesepakatan bersama. Sesuai dengan sila Ke-4
pada Pancasila
4.Belom Bahadat
Artinya hidup beradat. Ketentuan Belom Bahadat tersebut berlaku bagi setiap warga
masyarakat Kalimantan Tengah sesuai dengan Pancasila pada sila Ke-5.8
Berdasarkan uraian di atas, menurut penulis melalui pendekatan kearifan lokal (local
wisdom) maka nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Kalimantan
Tengah yaitu falsafah Huma betang yang merupakan pilar kehidupan yang dimiliki
masyarakat kalimantan Tengah berkaitan erat dan sesuai dengan falsafah Pancasila yang
merupakan ideologi bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Hal ini merupakan
koneksivitas nilai-nilai Huma Betang dengan falsafah Pancasila.9
8Ibid.
9Riswanto D, Mappiare-AT A, Irtadji M. Kompetensi Multikultural Konselor Pada Kebudayaan Suku
Dayak Kalimantan Tengah. Jomsign: Journal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling, 2017, 1: 215–
55
55
BAB V
INTERKONEKSI NILAI-NILAI HUMA
BETANG
DENGAN FALSAFAH PANCASILA
56
56
Pancasila merupakan ideologi pemersatu bangsa yang digali dari akar budaya bangsa
Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi hingga sekarang, baik
nilai-nilai agama, adat istiadat, kebersamaan, keseteraan, keadilan, maupun perjuangan
untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Nilai-nilai luhur ini mengkristal dalam
rumusan Pancasila sebagai perwujudan filsafat kemanusiaan yang mencerminkan hubungan
manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan alam
sekitarnya.
Falsafah Pancasila ini merupakan suatu pandangan hidup yang telah diyakini bangsa
Indonesia sebagai suatu kebenaran oleh karena itu dijadikan falsafah hidup bangsa. Begitu
pula dengan falsafah hidup masyarakat Dayak yaitu Huma Betang, terdapat beberapa
hubungan yang dapat diaktualisasikan dan membentuk hubungan antara nilai-nilai Huma
Betang dengan falsafah Pancasila dengan adanya kesaling-terkaitan (interkoneksi)10 meliputi
nilai untuk hidup saling tolong menolong atau semangat gotong royong, rukun, saling
menjaga keamanan dan pertahan serta saling menghargai dan memberi kebebasan
beragama11, dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara yaitu:
1.Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama menuntut masing-masing warga negara Indonesia untuk mengakui
Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta dan tujuan akhir baik dalam hati maupun dalam
perilaku sehari-hari. Konsekuensinya adalah Pancasila menuntut masing-masing umat
beragama dan berkepercayaan untuk hidup rukun dan saling menghormati walaupun
10 Amin Abdullah dkk. Islamic Studies dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi (Sebuah Antologi).
Yogyakarta: SUKA Press, 2007
11 Satjipto Rahardjo. Penegakan Hukum Progresif. Jakarta: Kompas Gramedia Nusantara, 2010
57
57
berbeda-berbeda keyakinannya. Hal ini merupakan nilai ketuhanan dan kemasyarakatan
yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya:
a.Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Masyakarat Dayak Kalimantan Tengah menjunjung
tinggi toleransi keberagaman agama, hal ini terlihat dengan rumah ibadah yang
berdampingan dan saling menghormati pelaksanaan ibadah agama masing-masing.
b.Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang maha Esa.
Sesuai dengan landasan hidup masyarakat Kalimantan Tengah yaitu Kayu
Gamalang Nyahu, (umat manusia harus beragama, percaya kepada Tuhan).
Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah menganut berbagai macam agama
(pluralisme), seperti Islam, Kristen, Hindu, Katolik, Kaharingan (agama leluhur),
dan agama lainnya yang diakui.
2.Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ke-dua mengajak masyarakat untuk mengakui dan memperlakukan setiap
orang sebagai sesama manusia, yang memiliki martabat mulia, dan hak-hak serta
kewajiban asasi. Dengan kata lain sikap untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak
kemanusian dan nilai keseteraan yang menunjukkan tidak adanya perlakuan
diskriminatif walaupun dari suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda. Dalam hal ini
manusia harus dilihat dari sisi kemanusiaannya bukan dari simbol-simbol yang
dimilikinya, Seperti:
a.Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepa selira.
b.Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
58
58
c.Berani membela kebenaran dan keadilan. Sesuai dengan landasan hidup masyarakat
Kalimantan Tengah yaitu Kayu Pampang Seribu (harus pintar harati).
3.Persatuan Indonesia
Sila ke-tiga, menumbuhkan sikap masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa,
dan negara Indonesia, ikut memperjuangkan kepentingan-kepentingan nasional dan
loyal terhadap sesama warga negara. Sila ini mengandung nilai persatuan, nilai
perjuangan, dan semangat nasionalisme (ke-Indonesiaan). Contoh prilaku yang sesuai
dengan sila ini seperti:
a.Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.
b.Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
c.Mengembangkan sikap persatuan atas dasar Bhineka Tunggal Ika. Sesuai dengan
motto hidup masyarakat Kalimantan Tengah yaitu Isen Mulang (pantang mundur).
4.Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan
/Perwakilan
a.Sila ke-empat mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan ikut serta dalam
kehidupan politik serta pemerintahan negara, setidaknya secara tidak langsung,
bersama dengan sesama warga atas dasar persamaan tanggung jawab sesuai dengan
kedudukannya masing-masing. Sila ini mengandung nilai-nilai kemasyarakatan
permusyawaratan, dan saling menghormati di antara sesama untuk mengabdi kepada
bangsa dan negara berdasarkan kedudukannya dan profesinya masing- masing
b.Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai
59
59
kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
c.Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
atau golongan.
d.Tidak boleh memaksakan kehendak orang lain. Sesuai dengan landasan hidup
masyarakat Kalimantan tengah yaitu Hapungkal Lingu Nalatai Hapangajan
Karendem malempang, (bersatu dalam menyelesaikan suatu masalah dengan cara
mufakat, sehingga segala sesuatunya dapat mencapai kesepakatan bersama).
5.Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila ke-lima mengajak masyarakat untuk aktif dalam memberikan sumbangan
yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya masing-masing kepada
negara demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin yang
dapat dirasakan oleh seluruh warga negara Indonesia. Sila ini mengandung nilai
keadilan dan kebersamaan yang mencerminkan keluhuran budaya bangsa. Contohnya:
a.Suka bekerja keras.
b.Menghormati hak orang lain.
c.Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d.Sesuai dengan motto Kalimantan Tengah yaitu Isen Mulang dan landasan hidup
Belom Bahadat
Semangat Isen Mulang budaya Belom Bahadat yang tertanam pada masyarakat
Kalimantan Tengah merupakan bentuk interkoneksi nilai-nilai Huma Betang Masyarakat
Dayak Kalimantan Tengah dengan falsafah pancasila yang merupakan ideologi bangsa
Indonesia dalam memadukan kebersamaan di balik perbedaan yang multikultural di
60
60
Kalimantan Tengah. Dengan konektivitas tersebut dapat dikatakan bahwa falsafah Huma
Betang merupakan miniature pancasila yang hidup di Kalimantan Tengah. Dengan kata
lain, terdapat interkoneksi nilai- nilai Huma Betang Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah
dengan falsafah Pancasila dengan semangat kebersamaan di dalam perbedaan (togetherness
in diversity) Bhineka Tunggal Ika, bahkan mampu melawan arus globalilasi dan menangkal
paham radikal, serta menumbuhkan nilai-nilai Huma betang secara global dalam berbangsa
dan bernegara.
61
61
BAB VII
KESIMPULAN
Huma Betang di Kalimantan Tengah adalah perilaku hidup yang menjunjung tinggi
kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum (hukum negara, hukum
adat dan hukum alam). Dalam Huma Betang tersebut terdapat empat pilar falsafah hidup utama
yaitu: Kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan menjunjung tinggi Hukum adat dan Hukum
nasional dengan menjunjung tinggi prinsip hidup “Belom Bahadat” (artinya hidup bertata krama
dan beradab) dan “Belom Penyang Hinje Simpei” (hidup dalam kedamaian, kebersamaan,
kesetaraan, keharmonisan, toleransi, menjunjung tinggi hukum dan kerja sama untuk meraih
kesejahteraan bersama). Falsafah Huma Betang yang merupakan pilar kehidupan masyarakat
Dayak kalimantan Tengah berkaitan erat dan sesuai dengan falsafah Pancasila yang merupakan
ideologi bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika. Interkoneksi nilai-nilai Huma Betang
dengan falsafah Pancasila meliputi nilai untuk hidup saling tolong menolong, rukun, saling
menjaga keamanan dan pertahanan, serta saling menghargai dan memberi kebebasan beragama
dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
62
62
DAFTAR PUSTAKA
63
63
REFERENSI
[1]Endaswara, Suwardi. Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Ideologi,
Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama (2006).
[2]Sumardjo, Jakob. Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press, (2010).
[3]Nahan, Abdul Fattah and During Dihit Rampai. The Ot Danum From Tumbang Miri
Until Tumbang Rungan (Based on Tatum) Their Histories And Legends. WWF-
Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (2010).
[4]Riwut. Maneser Panatau Tatu Hiang – Menyelami Kekayaan Leluhur. Palangkaraya :
Penerbit Pustaka Lima.(2003).
[5]Harysakti, Ave. Penelusuran Genius Loci pada Pemukiman Suku Dayak Ngaju di
Kalimantan Tengah. Palangkaraya: Penerbit Pusaka Lima (2010).
[6]Syahrozi, Bentuk Awal Komplek Huma Gantung Buntoi Kalimantan Tengah. Semarang
: Universitas Diponegoro (2004).
[7]Rampai, Kiwok. Betang pada Komunitas Lokal (Karya Arsitektur Identitas dan Nilai
Budaya Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Tengah). Palangkaraya:
Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah (2014).
[8]Restyanto, Yoga. Ukuran Elemen Arsitektur Betang Toyoi. Palangkaraya: Universitas
Palangkaraya, 2012.
[9]Darma, Yudi. Desain Ornamental Dayak Ngaju : Tinjauan Elemen Visual, Elemen dan
Pola Grafis, serta Aspek Semiotiknya. Surabaya: Universitas Kristen Petra (2003).
[10]Widjaja, M.U. & Wardani.L.K.(2016). Makna Simbolik pada Rumah Betang Toyoi
Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Jurnal Dimensi Interior, 14(2), 9 – 19.
π1
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 63
SLIDE
Similar Resources on Wayground
59 questions
Cuaca
Presentation
•
10th Grade
59 questions
PAI KELAS 5 BAB 6
Presentation
•
10th Grade
59 questions
20221122 PKB IN-3 UP 10
Presentation
•
10th Grade
56 questions
Bumi dan Antariksa
Presentation
•
10th Grade
55 questions
RECAP TING.2 SAINS BAB11 - 13
Presentation
•
KG
51 questions
Negosiasi-Bahasa Indonesia
Presentation
•
10th Grade
57 questions
MESIR
Presentation
•
9th Grade
59 questions
ELEMEN 2
Presentation
•
10th Grade
Popular Resources on Wayground
20 questions
Math Review
Quiz
•
3rd Grade
15 questions
Fast food
Quiz
•
7th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Inferences
Quiz
•
4th Grade
19 questions
Classifying Quadrilaterals
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
10 questions
Identify Fractions, Mixed Numbers & Improper Fractions
Quiz
•
3rd - 4th Grade
Discover more resources for Education
10 questions
Fact Check Ice Breaker: Two truths and a lie
Quiz
•
5th - 12th Grade
10 questions
Video Games
Quiz
•
6th - 12th Grade
10 questions
Test Your Knowledge with 15 Fun Trivia Questions
Interactive video
•
6th - 10th Grade
15 questions
Memorial Day Trivia
Quiz
•
KG - 12th Grade
12 questions
Name that Candy
Quiz
•
KG - 12th Grade
20 questions
Guess The App
Quiz
•
KG - Professional Dev...
30 questions
K/H Final Review Part 1
Quiz
•
9th - 12th Grade
40 questions
NCFE Earth and Environmental Science Released Test
Quiz
•
9th - 12th Grade