Search Header Logo
Multiple Intelegence

Multiple Intelegence

Assessment

Presentation

Social Studies

Vocational training

Practice Problem

Hard

Created by

Novi Gandhi

FREE Resource

20 Slides • 0 Questions

1

media

HALAMAN PENGESAHAN

Materi oleh

: Novi RusmaNoverta Gandhi

Judul

:Multiple Intelegensi ini telah diseminarkan di SD National

Immersion Primary School pada tanggal 20 Januari 2021

Mengesahkan

2

media

Multiple Intelegensi

Oleh Novi RusmaNoverta Gandhi

A.Pengertian Multiple Intelegensi/Kecerdasan Ganda

Istilah intelegensi atau kecerdasan bukanlah sesuatu yang baru bagi kita sebagai

pendidik. Namun sejalan dengan perkembangun ilmu pengetahuan, ilmu tentang

intelegensi pun berkembang. Banyak ahli dari berbagai bidang disiplin ilmu

melakukan penelitian tentang otak manusia secara fisik maupun potensi nya.Seorang

filsuf, Prof. Robert Ornstein dari Universitas California, meneliti tentang potensi otak

dan sifat-sifat fisiknya. Otak merupakan sekumpulan jaringan saraf yang terdiri dari

dua bagian, yaitu otak besar dan otak kecil. Otak besar terdiri dari 2 belahan, yaitu

belahan kiri dan belahan kanan, kedua belahan tersebut dihubungkan oleh serabut

saraf. la menemukan bahwa otak rnanusia memiliki kemampuan yang jauh lebih besar

daripada yang kita bayangkan. Kedua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan

otak kiri mempunyai fungsi masing-masing. Belahan otak kiri mengendalikan

aktivitas-aktivitas mental yang mencakup matematika, bahasa, logika, analisis,

menulis, dan aktivitas-aktivitas lain yang sejenis. Sedangkan otak sebelah kanan

menangani aktivitas-aktivitas yang mencakup imajinasi, warna, musik, irama, ritme,

melamun dan aktivitas – aktivitas lain yang sejenis. la mengatakan bahwa semua

manusia memiliki semua kemampuan tersebut karena setiap manusia memiliki satu

otak yang utuh. Proses berpikir, menurut Ornstein, adalah menyajikan dan menangkap

kombinasi informasi yang kompleks antara kata – kata, gambar, warna, suara, dan

lain-lain mendekati operasi alamiah dan berpikir.

Prof. Howard Gardner, seorang ahli psikologi kognitif dari Universitas Harvard,

meneliti tentang intelegensi/kecerdasan manusia. la mengatakan bahwa IQ tidak boleh

dianggap sebagai tinggi atau rendah seperti tekanan darah manusia, dan kecerdasan

seseorang tidak dapat diukur secara mutlak dengan tes-tes IQ. la mengatakan bahwa

tes IQ hanya mampu mengukur kemampuan seseorang dalam mengerjakan tes IQ

tersebut saja. Selanjutnya, ia menemukan bahwa setiap orang memiliki beberapa

kecerdasan, tidak hanya satu kecerdasan. la menyebutnya dengan inteligensi ganda.

Yang dimaksud dengan multipel intelegensi/inteligensi majemuk adalah kemampuan

untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang efektif atau bernilai

dalam satu Iatar belakang budaya tertentu. Artinya, setiap orang jika dihadapkan pada

3

media

satu masalah, ia memiliki sejumlah kemampuan untuk memecahkan masalah yang

berbeda sesuai dengan konteksnya. Sama seperti Ornstein, Gardner Imenyebutkan

bahwa intelegensi seseorang terdiri dari intelegensi linguistik, logis ma ematis, visual

spasial, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, musikal, dan naturalis. Perbedaan

pendapat antara Ornstein dan Gardner adalah Gardner tidak memisahkan letak jenis-

jenis intelegensi di belahan otak. la lebih mengutamakan bahwa jenis-jenis intelegensi

tersebut harus dikembangkan secara berimbang, agar setiap individu dapat

mengembangkan seluruh kemampuannya secara maksimal.

Pada dasarnya setiap anak memiliki kedelapan intelegensi tersebut. Hanya saja, sering

tidak semuanya terasah dengan baik oleh orang tua, pendidik di sekolah, atau sistem

pendidikan (kurikulum) nasional, sehingga kurang berkembang. Padahal dengan

mengembangkan seluruh potensi intelegensi anak sejak dini, berarti kita memberi

anak jalan untuk lebih mudah mencapai puncak sukses kelak di kemudian hari.

Kebanyakan anak memiliki sejumlah intelegensi yang dominan dengan gaya belajar

yang berbeda yang diekspresikan dengan cara yang berbeda. Jika kita melihat anak

tidak tertarik pada satu bidang tertentu, dimungkinkan anak tersebut mempunyai lebih

dari satu intelegensi primer. Namun, dapat juga berarti sebaliknya, anak tersebut

belum cukup matang untuk mengembangkan satu minat yang kuat. Ormstein dan

Gardner sependapat bahwa seluruh potensi otak tersebut harus diberdayakan untuk

mencapai kompetensi tertentu baik untuk kegiatan pembelajalran di sekolah atau

pendidikan di rumah. Seluruh potensi otak diberi kesempatan yang sama melalui

berbagai aktivitas dan stimulus yang diberikan dan disesuaikan dengan kebutuhan

masing-masing individu. Guru perlu mengembangkan suatu program pembelajaran

yang dapat memberdayakan dan mengembangkan intelegensi-intelegensi tersebut

yang dimiliki setiap anak didik untuk mencapai kompetensi tertentu dalam

suatu kurikulum.Dan pada akhirnya anak didik menjadi cerdas karena seluruh

intelegensinya berkembang secara berimbang. Hal ini sejalan dengan Undang-undang

Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional

pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan bahwa Pendidikan adalah usaha adil dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, sertaketerampilan yang

diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

4

media

B.Karakteristik Intelegensi/Kecerdasan

Ada delapan karakteristik intelegensi/kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard

Gardner, yaitu intelegensi berbahasa/linguistik, intelegensi logis-matematis,

intelegensi visual-spasial, intelegensi kinestetis, intelegensi musikal, intelegensi

naturalis, dan intelegensi interpersonal, serta intelegensi intrapersonal. Mari kira

bahas kecerdasan tersebut satu per satu.

1. Intelegensi Berbahasa (Linguistik)

Intelegensi berbahasa mencakup kemampuan-kemampuan berpikir dengan kata-kata,

seperti kemampuan untuk memahami dan merangkai kata dan kalimat baik lisan

maupun tertulis. Anak dengan intelegensi/kecerdasan ini memiliki kepekaan terhadap

makna dan susunan kata-kata dan mereka sering menggunakan perbendaharaan kata

yang luas. Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam

intelegensi berbahasa.

a. Senang membaca buku atau apa saja, bercerita atau mendongeng.

b. Senang berkomunikasi, berbicara, berdialog, berdiskusi, dan senang berbahasa

asing.

c. Pandai merighubungkan atau merangkai kata-kata atau kalimat baik lisan maupun

tertulis. Pandai menafsirkan kata-kata atau paragraf baik secara lisan maupun tertulis.

Senang mendengarkan musik dan sebagainya dengan baik.

d. Pandai mengingat dan menghafal.

e. Mudah mengungkapkan perasaan baik lisan maupun tulisan

2. Intelegensi Logis-Matematis

Intelegensi Logis-Matematis adalah kemampuan berpikir dalam penalaran atau

menghitung, sepertikemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah dan

matematis. Intelegensi/kecenderungan ini membuat anak memiliki kemampuan

mengenali pola-pola suatu kejadian dan susunannya, mereka senang bekerja dengan

angka, ingin mengetahui sejauh mana cara kerja suatu benda. Berikut ini karakteristik

individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi logis-matematis.

Senang bereksperimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka-teki.

a. Senang dan pandai berhitung dan bermain angka.

b. enang mengorganisasikan sesuatu, menyusun skenario.

c. Mampu berpikir logis, baik induktif maupun deduktif.

d. Senangsilogisme.

5

media

e. Senang berpikir abstraksi dan simbolis.

f. mengoleksi benda-benda dan mencatat koleksinya.

3. Intelegensi Visual Spasial

Intelegensi visual spasial, yaitu kemampuan berpikir dalam citra dan gambar. Seperti

kemampuan untuk membayangkan bentuk suatu objek. Anak dengan

Intelegensi/kecerdasan ini memiliki kemampuan memahami alam secara akurat dan

menciptakan ulang aspek-aspek alam seperti menggambar pemandangan. Berikut ini

karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi visual

spasial.

a. Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, tabel.

b. Peka terhadap citra, warna, dan seba`;ainya.

c. Pandai memvisualisasikan ide.

d. Imajinasinya aktif.

e. Mudah menemukan jalan dalam ruang.

f. Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut.

g. Senang membuat rumah-rumahan dari balok.

h. Mengenal relasi benda-benda dalam ruang.

4. Intelegensi Musikal

Intelegensi musikal adolah kemampuan berpikir dengan nada, ritme, irama, dan

melodi juga pada suara alam. Anak dengan Intelegensi ini memiliki kepekaan

terhadap pola titik nada, melodi, dan ritme.. Berikut ini karakteristik individu yang

menunjukkan kemampuan dalam Intelegensi musikal.

a. Pandai mengubah atau mencipta musik.

b. Gemar mendengar dan atau memainkan alat musik.

c. Senang dan pandai bernyanyi, bersenandung.

d. Pandai menooperasikan musik serta menjag,i ritme.

e. Mudah menangkap musik.

f. Peka terhadap suara dan musik.

g. Dapat membedakan bunyi berbagai alat musik.

h. Bergerak sesuai irama, seperti mengetukkan jari sesuai irama.

5. Intelegensi Kinestetik Tubuh

Intelegensi kinestetik tubuh, yaitu kemampuan yang berhubungan dengan gerakan

tubuh termasuk gerakan motorik otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan

untuk mengendalikan dan menggunakan badan dengan mudah dan cekatan. Anak

6

media

dengan intelegensi ini mampu menggunakan tubuh secara terampil dan menangani

benda-benda dengan tangkas, umumnya mereka lebih mudah mengingat Sesuatu

dengan melakukan gerakan daripada melihat atau mendengar. Berikut ini karakteristik

individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi kinestetik.

a. Senang menari, akting.

b. Pandai dan aktif dalam olah raga tertentu.

c. Mudah berekspresi dengan tubuh.

d. Mampu memainkan mimik.

e. Cenderung menggunakan bahasa tubuh.

f. Koordinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi.

g. Senang dan efektif berpikir sambil beijalan, berlari, dan berolah raga.

h. Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk.

i. Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama.

j. Senang kegiatan di luar rumah.

6. Intelegensi Intrapersonal

lntelegensi intrapersonal adalah kemampuan berpikir untuk memahami diri sendiri,

melakukan retleksi diri dan bermetakognisi. Intelegensi ini menjadikan anak memiliki

kemampuan menggunakan kehidupan emosional untuk memahami dirinya sendiri dan

orang lainnya. Anak dengan kecerdasan ini biasanya suka mencatat apapun yang

dipikirkan dan dirasakan, mampu menentukan dan memutuskan sendiri langkah yang

akan dipilih, menyadari kelebihan dan keterbatasannya, gemar menikmati rekreasi

sendirian seperti menyendiri di kamar sambil mendencarkan musik. Berikut ini

karakteristik individu yang menunjukkan kemampuan dalam intelegensi intrapersonal.

a. Mampu menilai diri sendiri/introspeksi diri, bermeditasi.

b. Mudah mencelola dan menguasai perasaannya.

c. Sering mengamati dan mendengarkan.

d. Bisa bekerja sendirian dengan baik.

e. Mampu mencanakan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.

f. Berjiwa independen/bebas.

g. Mudah berkonsentrasi.

h. Keseimbangan diri.

i. Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang berbeda.

j. Sadar akan realitas spiritual.

7. Intelegensi Interpersonal (Sosial)

7

media

Intelegensi interpersonal adalah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan

orang lain. Anak yang mudah memahami orang lain dan mementingkan relasi,

memiliki kecerdasan interpersonal yang baik. Anak denban kecerdasan ini biasanya

memiliki banyak teman, menyukai permainan yang memiliki banyak teman,

cenderung jadi penengah di antara teman-temannya, menjadi pemain tim yang

istimewa karena mampu bekerjasama dengan baik dengan kata lain terampil

berhubungan dengan orang lain. Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan

kemampuan dalam inteleaensi interpersonal.

a. Mampu berorganisasi, menjadi pemimpin dalam suatu organisasi.

b. Mampu bersosialisasi, menjadi mediator, bermain dalam kelompok/klub, bekerja

sama dalam tim.

c. Senang permainan berkelompok daripada individual.

d. Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain.

e. Senang berkomunikasi verbal dan non-verbal.

f. Peka terhadap teman.

g. Suka memberi feedback.

h. Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi orang lain.

8. Intelegensi Naturalis

Intelegensi Naturalis adalah kemampuan untuk memahami gejala alam. Anak dengan

kecerdasan ini mampu mengenali dan mcngelompokkan sejumlah binatang atau

tanaman, ini biasanya banyak berada di luar ruangan, suka mengumpulkan batu-

batuan dan menangkap serangga, senang berhubungan dengan alam seperti merawat

tanaman atau binatang. Berikut ini karakteristik individu yang menunjukkan

kemampuan dalam intelegensi naturalis.

a. Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun, memelihara binatang,

berinteraksi dengan binatang, berburu.

b. Pandai melihat perubahan alam, meramal cuaca, meneliti tanaman.

c. Senang kegiatan di alam terbuka.

C.Bukti Teori Kecerdasan

Teori kecerdasan ganda bukanlah teori pertama yang menyatakan ada cara lain agar

menjadi cerdas. Teori kecerdasan ganda memasukkan lingkup luas kemampuan

manusia kedalam sistem tujuh lapis yang dapat membuat setiap orang menjadi

pemenang dalam hidupnya.

8

media

Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan

diantaranya adalah :

a. Setiap kecerdasan dapat dilambangkan.

b. Setiap kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan.

c. Setiap kecerdasan rawan terhadap cacat akibat kerusakan atau cidera pada wilayah

otak tertentu.

d. Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasarkan nilai budaya.

D.Meluruskan Makna Kecerdasan dalam Multiple Intelligence

(Muh Tahir, 2011), Kecerdasan seseorang tidak dipengaruhi oleh tes-tes formal.

Kecerdasan seseorang bersifat dinamis dan tidak statis. Tes yang dilakukan untuk

menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai pada saat itu, bukan untuk 1

bulan ke depan, atau 20 tahun ke depan. Menurut Gardner, kecerdasan dapat dilihat

dari kebiasaan seseorang. Padahal kebiasaan adalah perilaku yang selalu diulang-

ulang.

Pada tahun 1970-an, tak sedikit ahli psikologi dunia menyatakan bahwa tes IQ yang

diterapkan di dunia pendidikan tidak valid. Dalam bukunya “Frame of Mind”,

Gardner mengungkapkan ketidak-valid-an tes IQ.Alferd Binet, seorang psikolog

pembuat tes IQ yang mengandung konsep eugenic (keturunan). Teorinya menegaskan

bahwa faktor keturunan sangat mempengaruhi IQ seorang anak. Anak yang lahir dari

keturunan bangsawan akan lebih cerdas, sebab bangsawan adalah kelompok

masyarakat yang sangat cerdas menurutnya. Permintaan teori ini ternyata didasari

fakta sejarah ketika kaum buruh mengancam kekuasaan dengan tajam pada saat itu.

Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari berbagai dimensi, tidak hanya kecerdasan

verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Gardner menyatakan bahwa kecerdasan

ganda itu memungkinkan ranah kecerdasan itu berkembang luas.Dengan mengetahui

multiple intelligence sedini mungkin, kita dapat menemukan ranah akhir dengan lebih

baik, membuat seorang tidak terpaku dengan apa yang didapatkan sekarang dari hasil

tes sementara yang mungkin jauh dari target kecerdasan sesungguhnya.

Pada saat multiple intelligence ditarik ke dalam ranah pendidikan khususnya di

Indonesia. Paradigma pendidikan akan mengalami banyak koreksi. Ada yang

mengatakan Indonesia akan siap dengan teori ini 20 tahun lagi.

9

media

E.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan atau perkembangan

inteligensi seseorang, yaitu:

1. Faktor Pembawaan

Ialah kesanggupan/potensi yang dibawa sejak lahir yang merupakan bahan dasar

untuk perkembangan. Setiap anak lahir dengan membawa potensi inteligensinya

masing-masing, dan perkembangan inteligensi si anak akan dipengaruhi oleh kondisi

inteligensi bawaannya masing-masing.

2. Faktor Kematangan

Ialah kesiapan suatu fungsi atau potensi untuk dikembangkan. Perkembangan

inteligensi akan berlangsung dengan baik apabila fungsi/potensi inteligensi secara

fisik atau psikologis sudah ada kematangan. Tanpa adanya faktor kematangan tersebut

perkembangan inteligensi tidak akan terjadi.

3. Faktor Pembentukan

Ialah segala faktor luar yang akan mempengaruhi perkembangan Inteligensi. Faktor

luar yang bersifat lebih efisien dan efektif pengaruhnya dalam

pembentukan/perkembangan inteligensi ialah faktor pendidikan yang dilaksanakan

disekolah. faktor luar lainnya yang dapat mempengaruhi secara tidak sengaja dan

kurang efisien ialah pengaruh lingkungan/alam sekitar.

4. Faktor Minat

Ialah sikap senang kepada sesuatu hal Minat ini akan berfungsi sebagai pendorong

orang untuk berbuat/berusaha dalam mencapai sesuatu tujuan. Minat ini sebagai

faktor psikologis akan mempengaruhi proses pembentukan atau perkembangan.

5. Faktor Kebebasan

Ialah kondisi psikologis yang akan mempengaruhi sikap, performance atau aktifitas

seseorang dalam berbuat atau mencapai tujuan atau dalam mewujudkan dirinya.

Orang yang mempunyai kebebasan tidak merasa ada beban/tekanan untuk

berbuat/mencapai sesuatu, ia dapat dengan bebas memilih/menentukan kebutuhan,

cara atau tujuan yang sesuai dengan apa yang diminatinya.

Semua faktor tersebut diatas bersangkut paut satu sama lain. Untuk menentukan

Inteligensi atau tidaknya seorang anak, kita tidak dapat hanya berpedoman kepada

salah satu faktor tersebut diatas. Inteligensi adalah faktor total. Keseluruhan pribadi

turut serta menentukan dalam perbuatan inteligensi seseorang.

10

media

F.Cara Meningkatkan Kecerdasan Ganda

Gambaran umum dalam pembelajaran saat guru menjelaskan adalah ada anak

yangsenang menerima pelajaran dan berbagai macam sifat siswa di dalam

tingkatkecerdasannya. Menurut Thomas Amstrong, kita tidak dapat memberi label

mereka sebagai “pebelajar verbal”, “pebelajar visual” atau “pebelajar kinestesis” atau

seterusnya karena tujuan dari suatu kegiatan pembelajaran adalah untuk memperluas

dan mengembangkan intelegensi/ kecerdasan anak didik. Tugas guru dan pendidik

adalah bagaimana menciptakan suasana belajar yang dapat mengembangkan semua

kecerdasan yang ada pada setiap individu anak didik. Ada beberapa cara yang dapat

dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang mengembangkan semua

kecerdasan yaitu sebagai berikut:

1. Mengaktifkan seluruh indra anak didik.

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk mengaktifkan seluruh indra anak didik yaitu

sebagai berikut :

a. Melatih cara mendengar yang efektif. Telinga bagi manusia adalah instrument yang

luar biasa. Melalui telinga otak menerima bunyi dan membuat duplikat bunyi tersebut

dan mengulang seluruh bunyi tersebut seperti suatu simponi. Selain itu, pendengaran

juga merupakan salah satu unsur pokok dalam pembentukan imajinasi dan kreativitas.

b. Melatih mata untuk membaca cepat dan efektif. Mata merupakan bukti keajaiban

mekanisme biologis. Melaui mata otak dapat menerima fakta – fakta yang

menakjubkan yang dapat memberikan rangsangan yang lebih kaya, sehingga mata

dapat melihat dengan jeli, analitis, dan akurat. Mata sangat erat dengan kemampuan

membaca. Kecepatan membaca orang normal rata – rata 300 kata per menit dengan

kemampuan mengingat 40 – 70 persen dari seluruh isi bacaan. Bagi seseorang yang

terampil kecepatan membacanya dapat mencapai 600 kata per menit dengan

kemampuan mengingat isi bacaan secara utuh.

c. Melatih keterampilan menulis atau membuat catatan yang cepat dan tepat.

Mengenai keterampilan ini, penelitian menunjukkan hasil sebagai berikut :

1) Ada siswa yang tidak mencatat sama sekali.

2) Ada siswa yang diberikan catatan lengkap yang dibuatkan oleh guru.

3) Ada siswa yang membuat catatan lengkap sendiri.

4) Ada siswa yang diberikan catatan berupa rangkuman oleh guru.

5) Ada siswa yang membuat catatan berupa rangkuman sendiri.

6) Ada siswa yang diberikan catatan berupa kata-kata kunci.

11

media

7) Ada siswa yang membuat catatan berupa kata – kata kunci sendiri.

Siswa yang terakhir inilah yang paling bagus hasil belajarnya.Hal ini karena pikiran

hanya dapat mengingat kata – kata bukan kalimat.Kata – kata kunci merupakan kata –

kata inti yang menghubungkan satu pengertian denganpengertian berikutnya dalam

suatu bacaan.Begitu besarnya potensi yang dimiliki oleh indera manusia sehingga

harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

2. Melatih intelegensi/ kecerdasan yang berimbang.

Dengan teknik – teknik pembelajaran yang tradisional kita sebagai guru pasti sulit

melatih kecerdasan berimbang. Yang dimaksud dengan “berimbang” bukanlah

melatih semua kecerdasan secara bersamaan karena hal ini akan membuat pekerjaan

yang sia – sia.Langkah – langkah yang harus dilakukan untuk melatih kecerdasan

yang berimbang adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi inteligensi anak didik. Caranya adalah sebelum memulai pelajaran

guru dapat memberikan test atau angket kepada siswanya untuk menjajagi inteligensi

mereka. Pertanyaan – pertanyaan itu dibaca dan diisi sendiri oleh siswa kemudian

guru mengolahnya. Dengan cara ini, guru dapat melihat inteligensi mana yang paling

menonjol pada siswa.

Selain dengan test, mengidentifikasi inteligensi juga dapat dilakukan dengan cara

observasi. Observasi dapat dilakukan terhadap apa yang dilakukan anak didik dikelas

dan kegiatan di luar kelas. Observasi di dalam kelas yaitu dengan melihat/mengamati

apa yang dilakukan anak didik selama belajar, selama mengerjakan tugas, kesukaan

terhadap mata pelajaran tertentu, cara mereka bertanya dan menjawab pertanyaan.

Observasi kegiatan anak didik di luar kelas dapat dilakukan dengan cara mengamati

mereka di sela waktu istirahat.

Menyusun rencana pelajaran yang dapat mengembangkan beberapa kecerdasan,

seperti: :

1) Mengorganisasikan isi atau materi pelajaran sedemikian rupa sehingga menjadi

menarik dan dapat merangsang indera semaksimal mungkin.

2) Memilih strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh inteligensi /

kecerdasan.

3) Merancang dan membuat tugas atau penilaian yang dapat menggali seluruh

kecerdasan.

b. Melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh inteligensi atau

kecerdasan anak didik. Kegiatan yang dilakukan guru melalui cara ini, diantaranya

12

media

adalah:

1) Menerapkan rencana pelajaran yang telah dirancang untuk mengembangkan

beberapa kecerdasan, atau

2) Menerapkan keterampilan dasar mengajar yang dapat mengembangkan inteligensi/

kecerdasan anak didik.

Setiap individu memiliki derajat jenis inteligensi/kecerdasan

yang bervariasi.Tugas guru adalah mengkombinasikan dan memadukan inteligensi –

inteligensi tersebut sebanyak mungkin dan membuat mereka senang belajar sehingga

mereka mampu menggunakan inteligensi.Sehingga mereka menemukan bahwa belajar

itu mudah dan menyenangkan.Anak didik seperti inilah yang disebut anak yang

cerdas karena seluruh kecerdasannya berkembang secara berimbang.

3. Melatih silang intelegensi/ kecerdasan yang bebeda.

Yang dimaksud dengan “silang”di sini adalah setiap inteligensi / kecerdasan anak

didik tidak dikembangkan secara bersamaan, tetapi dikembangkan satu persatu secara

terpisah.Tujuannya adalah agar anak didik mengasah setiap bagian kecerdasannya

selama waktu tertentu. Ini dapat dilakukan secara individu dan kelompok dan bisa

juga di dalam atau diluar jam pelajaran. Melatih silang inteligensi atau kecerdasan

dapa dilakukan dengan membangun stasiun – stasiun kecerdasan untuk setiap jenis

kecerdasan yang berbeda. Yang dimaksud denga “stasiun” disini bukanlah stasiun

pemancar tetapi semacam display dengan memanfaatkan sudut – sudut / ruang –

ruang yang mudah terlihat oleh anak didik dari segala arah.

Hal – hal yang harus diperhatikan dalam membangun stasiun kecerdasan adalah

sebagai berikut:

a. Pilih materi atau isi pelajaran yang khusus berdasarkan tingkat kesulitannya.

b. Identifikasi semua kemampuan yang ada dalam setiap jenis kecerdasan.

c. Klasifikasikan isi atau bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan – kemampuan

yang ada disetiap jenis kecerdasan, sampai menghasilkan satu – satu stasiun

kecerdasan.

d. Tempatkanlah setiap stasiun kecerdasan ini di tempat – tempat yang sering

dikunjungi anak didik atau yang mudah terlihat dari berbagai arah.

Dengan melatih silang kecerdasan anak yang berbeda ini berarti guru memberi

kesempatan kepada anak didik untuk melatih setiap bagian kecerdasannya sesuai

dengan kebutuhannya.

Dalam meningkatkan kecerdasan ganda sejumlah cara atau metode dapat dilakukan

13

media

untuk meningkatkan kemampuan – kemampuan individu. Setiap metode digunakan

untuk meningkatkan jenis kecerdasan yang spesifik yaitu:

a. Meningkatkan kecerdasan bahasa dapat dilakukana dengan cara mengadakan

permainan merangkai kata, buatlah buku harian atau usahakan untuk menulis tentang

apa saja yang ada dalam pikiran setiap harinya sebanyak 250 kata, dan sediakan

waktu untuk bercerita secara teratur dengan keluarga atau sahabat.

b. Cara untuk meningkatkan kecerdasan spasial yaitu seringlah berlatih permainan

gambar tiga dimensi, puzzle, kubus, dan teka-teki visual lainnya, dekorasi ulang

interior dan taman rumah, buatlah struktur benda dengan logo, atau bahan mainan tiga

dimensi lainnya.

c. Meningkatkan kecerdasan matematis logis dapat dilakukan dengan cara berlatih

menghitung soal-soal matematika sederhana di kepala ( berapa 21 X 40 dalam 5

detik), pelajari cara menggunakan sempoa, sering-seringlah mengisi teka-teki

silang/asah otak lainnya.

d. Kecerdasan musikal dapat dilatih dengan cara mengunjungi konser atau

pertunjukan musik, bernyanyilah di kamar mandi atau di manapun yang

memungkinkan untuk bersenandung, luangkan waktu selama satu jam setiap minggu

untuk mendengarkan gaya musik yang tidak dikenal akrab (western, jazz, country,

world music ,dll).

e. Meningkatkan kecerdasan kinestetik dapat dilakukan dengan carai bergabung dan

berlatih berdsama dengan klub olahraga di lingkungan, pelajarilah kegiatan dansa,

kumpulkanlah berbagai macam benda yang memiliki beragam tekstur dan bentuknya

khas, cobalah kenali benda-benda tersebut dengan mata tertutup.

f. Cara atau metode yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan

interpersonal yaitu: belilah kotak kartu nama, penuhi dengan nama kontak bisnis,

teman, kenalan, kerabat, dan orang lain, serta tetaplah menjalin hubungan dengan

mereka; luangkan waktu selama 15 menit setiap hari untuk mempraktekkan

mendengarkan secara aktif dengan pasangan hidup atau sahabat dekat;

bekerjasamalah dengan satu orang atau lebih dalam sebuah proyek yang berdasarkan

pada kesamaan minat (seni kain perca, pemain bass, penulisan artikel tentang pantai).

g. Meningkatkan kecerdasan intrapersonal dapat dilakukan dengan cara sebagai

berikut : pilihlah tokoh favorit yang positif, dan baca serta jadikan mereka sebagai

kawan imajinasi dalam memecahkan suatu permasalahan yang membutuhkan waktu

pemahaman yang dalam, lakukanlah sesuatu yang menyenangkan diri sekurang-

14

media

kurangnya sekali sehari, luangkan waktu sekitar sepuluh menit setiap sore hari untuk

meninjau kembali secara mental berbagai macam perasaan dan gagasan yang dialami.

h. Metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan naturalis antara lain

peliharalah hewan favorit, tingkatkan frekuensi melihat acara-acara mengenai

program flora dan fauna, cobalah untuk menahan dari untuk tidak merusak

lingkungan, seperti mencorat-coret meja, menginjak rumput kantor, memetik bunga

yang sedang tumbuh.

G.Faktor – Faktor Penting dalam Meningkatkan Kecerdasan Ganda

Implementasi teori kecerdasan ganda dalam aktivitas pembelajaran memerlukan

dukungan komponen-komponen sistem persekolahan sebagai berikut :

1. Orang tua murid

2. Guru

3. Kurikulum dan fasilitas

4. Sistem penilaian

Komponen masyarakat, dalam hal ini orang tua murid perlu memberikan dukungan

yang optimal agar implementasi teori kecerdasan ganda di sekolah

dapat berhasil.Orang tua, dalam konteks pengembangan kecerdasan ganda perlu

memeberikan sedikit kebebasan pada anak mereka untuk dapat memilih kompetensi

yang ingin dikembangkan sesuai dengan kecerdasan dan bakat yang mereka miliki.

Guru memegang peran yang sangat penting dalam implementasi teori kecerdasan

ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil seperti yang

diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:

1. Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa

Kemampuan guru dalam mengenali kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa

merupakan hal yang sangat penting. Faktor ini akan sangat menentukan dalam

merencanakan proses belajar yang harus ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang

dapat dilakukan oleh guru untuk mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh

siswa. Semakin dekat hubungan antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah

bagi para guru untuk mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.

2. Kemampuan mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.

Setelah mengetahui kecerdasan setiap individu siswa, maka langkah – langkah

berikutnya adalah merancang kegiatan pembelajaran. Armstrong (2004)

mengemukakan proporsi waktu yang dapat digunakan oleh guru dalam

15

media

mengimplementasikan teori kecerdasan ganda yaitu :

30 % pembelajaran langsung

30 % belajar kooperatif

30% belajar independent

Implementasi teori kecerdasan ganda membawa implikasi bahwa guru bukan lagi

berperan sebagai sumber (resources), tapi harus lebih berperan sebagai manajer

kegiatan pembelajaran.Dalam menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah

perlu menyediakan guru-guru yang kompeten dan mampu membawa anak

mengembangkan potensi-potensi kecerdasan yang mereka miliki. Guru musik

misalnya, selain mampu memainkan instrumen musik, ia juga harus mampu

mengajarkannya sehimgga dapat menjadi panutan yang baik bagi siswa yang

memiliki kecerdasan musikal.

Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda juga perlu menyediakan fasilitas

pendukung selain guru yang berkualitas.Fasilitas tersebut dapat digunakan oleh guru

dan siswa dalam meningkatkan kecerdasan-kecerdasan yang spesifik.

Fasilitas dapat berbentuk media pembelajaran dan peralatan serta perlengkapan

pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda. Contoh

fasilitas pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan ganda

antara lain : peralatan musik, peralatan olah raga dan media pembelajaran yang dapat

digunakan untuk melatih kecerdasan spesifik.

Sistem penilaian yang diperlukan oleh sekolah yang menerapkan teori kecerdasan

ganda berbeda dengan sistem penilaian yang digunkan pada sekolah

konvensional.Sekolah yang menerapkan teori kecerdasan ganda pada dasarnya

berasumsi bahwa semua individu itu cerdas. Penilaian yang digunakan tidak

berorientasi pada input dari proses pembelajaran tapi lebih berorientasi pada proses

dan kemajuan (progress) yang diperlihatkan oleh siswa dalam mempelajari suatu

keterampilan yang spesifik. Metode penilaian yang cocok dengan sistem seperti ini

adalah metode penilaian portofolio.Sistem penilaian portofolio menekankan pada

perkembangan bertahap yang harus dilalui oleh siswa dalam mempelajari sebuah

keterampilan atau pengetahuan.

16

media

H.Pendidikan tanpa Multiple Intelligence

(Rohmani, 2012) Kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini adalah

cerminan dari sistem pendidikan yang saat ini berlaku. Kualitas sumber daya manusia

adalah hasil dari penerepan sebuah sistem pendidikan. Bila banyak di antara kita tidak

puas dengan sumber daya manusia Indonesia saat ini maka pada saat bersamaan

secara tidak langsung kita sedang menggugat sistem pendidikan nasional.Kualitas

(karakter) sumber daya manusia suatu bangsa tidak ditentukan oleh hakim, polisi dan

jaksa. Sumber daya manusia tidak pula ditentukan oleh berapa banyak aturan atau

undang yang dibuat oleh negara. Pendidikanlah yang memiliki andil besar dalam

menentukan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan yang menjadikan sumber daya

manusia lebih mampu bersaing dalam era global.

Kemajuan bangsa-bangsa di dunia ini tidak ada yang diperoleh melalui banyaknya

undang-undang, kuatnya militer atau berlimpah-ruahnya sumber daya alam. Semua

negara-negara maju yang ada saat ini memulainya dari perbaikan sistem pendidikan.

Kalau pun ada negara yang maju akibat invasi militer itu tidak akan bertahan lama

kecuali ditopang oleh mutu pendidikan.Ada persoalan krusial yang hingga kini belum

teratasi dengan baik, penyebabnya kualitas sumber daya manusia kita belum bisa

bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Persoalan tersebut adalah pendidikan

kita belum mengakomodir konsep kecerdasan majemuk (multiple Intelligence) dalam

dua konteks: metode pembelajaran dan pendekatan kejiwaan peserta didik.

Dalam metode pembelajaran yang ada saat ini cenderung monoton dan

membosankan. Hasilnya, anak didik sulit menerima atau memahami pembelajaran

dari guru. Pendidik hanya mengetahui satu pola pembelajaran menerangkan kemudian

latihan soal. Pola seperti ini sangat membosankan bagi anak-anak di usia sekolah

dasar (SD dan SMP). Dengan pendekatan kecerdasan majemuk guru dituntut

memahami keunggulan kecerdasan setiap anak. Teori kecerdasan majemuk ini

menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan yang berbeda.

Dengan memahami kecerdasan manusia maka pendidikan bisa melakukan pendekatan

pembelajaran sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki pesera didik. Pendidik bisa

mengemas metode pembelajaran sesuai dengan kecerdasan seorang anak. Bila

pendekatan pembelajaran sesuai dengan kecerdasan anak maka peserta didik lebih

tertarik mengikuti peroses pembelajaran. Dengan demikian materi pembelajaran akan

lebih mudah ditangkap oleh anak didik.

Pendekatan teori kecerdasan majemuk ini bisa digunakan untuk memahami peserta

17

media

didik. Selama ini pendidikan kita hanya mengakomodir anak-anak yang memiliki

kecerdasan logika-matematika. Sehingga proses pembelajaran pun diarahkan untuk

mengasah kecerdasan logika-matematika ini. Anak didik yang tidak unggul dalam

kecerdasan logika-matematika akan tersingkir dari dunia pendidikan kita. Anak-anak

tersebut tidak memiliki tempat dalam pendidikan kita. Ironisnya, mereka mendapat

stempel anak gagal.

Padahal, kecerdasan logika-matematika bukan faktor tunggal dalam menentukan

kesuksesan seseorang. Seseorang akan sukses bila ia mampu mengoptimalkan

kecerdasan spesifik yang dimilikinya. Kita bisa belajar dari kesuksesan ratu talk show

Oprah Winfrey. Ia berhasil menjadi seorang presenter terkaya karena mengasah

kecerdasan linguistik yang ia miliki.

Sudah saatnya pendidikan kita mengakomodir kecerdasan majemuk. Pendidikan

(sekolah) jangan lagi mematikan kecerdasan tertentu yang dimiliki seorang anak.

Pendidikan kita harus diarahkan bisa mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki

seorang peserta didik. Penulis yakin bila metode ini diterapkan maka anak-anak didik

akan tumbuh sesuai dengan potensinya. Sekolah bukan lagi tempat mematikan potensi

seorang anak.

I.Pendekatan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran

(Atep T Hadiwa, 2008) Untuk menunjang keberhasilan pembelajaran, pada dasarnya

adalah menentukan pendekatan pembelajaran yang sejalan dengan kurikulum

tersebut. Membahas pendekatan pembelajaran, banyak sekali jenis pendekatan yang

dapat diterapkan. Di antaranya pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dari

suatu teori yang dikenal dengan teori Multiple Intelligence. Teori tersebut digunakan

sebagai pendekatan pembelajaran, karena di dalamnya membicarakan tentang

keberagaman yang bertautan dengan kompetensi peserta didik.

Pada dasarnya setiap kurikulum menitikberatkan pada pencapaian suatu kompetensi

tertentu peserta didik. Pendekatan Multiple Intelligence pun memandang bahwa

seseorang atau manusia memiliki beberapa potensi kecerdasan. Salah satu dari

kecerdasan setiap peserta didik itulah yang harus dikembangkan, sehingga pada

akhirnya menjadi suatu kompetensi yang sangat dominan penguasaanya.

Jika kita tautkan ketujuh kecerdasan yang dimiliki manusia dalam pembelajaran,

maka dapat disimpulkan bahwa “Sebaiknya Multiple Intelligence (kecerdasan ganda)

digunakan dan diterapkan sebagai pendekatan pelaksanaan kegiatan pembelajaran.”

18

media

Setiap manusia (peserta didik) tentu akan memiliki potensi yang sesuai dengan salah

satu kecerdasan di atas. Dengan demikian, diharapkan salah satu potensi kompetensi

dari peserta didik dapat muncul dan dapat dikembangkan.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam Multiple Intelligence adalah adanya

tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan, dan kecerdikan seorang guru dalam

memperhatikan bakat masing-masing siswa (peserta didik). Di dalam maupun di luar

sekolah, setiap siswa harus berhasil menemukan paling tidak satu wilayah

kemampuan yang sesuai dengan potensi kecerdasannya. Jika hal itu berhasil

ditemukan oleh siswa dengan bimbingan guru, maka akan menimbulkan kegembiraan

dalam proses pembelajaran, bahkan akan membangkitkan ketekunan dalam upaya-

upaya penguasaan disiplin keilmuan tertentu.

Penerapkan pendekatan Multiple Intelligence dalam pembelajaran, harus

memerhatikan beberapa langkah, meliputi:

a. Mengidentifikasi elemen-elemen Multiple Intelligence dalam program kurikuler

dan ektrakurikuler.

b. Meninjau kembali sistem teknologi dan program piranti lunak untuk melihat

kecerdasan-kecerdasan apa yang terabaikan.

c. Para guru merenungkan kemampuan peserta didik, kemudian memutuskan untuk

secara sukarela bekerjasama dengan rekan-rekan yang lain.

d. Proses pembelajaran dengan tanggung jawab tertentu, bisa dipilih sebagai metode

pembelajaran.

e. Diskusi dengan orang tua siswa dan anggota masyarakat sehingga dapat membuka

kesempatan-kesempatan magang bagi para siswa.

Di samping langkah-langkah di atas, sebagai upaya untuk memadukan pendekatan

Multiple Intelligence dalam pembelajaran, perlu juga memperhatikan hal-hal berikut:

a. Persepsi tentang siswa harus diubah

Sebaiknya para pendidik memberikan perhatian kepada berbagai macam cara yang

dilakukan siswa untuk memecahkan masalah-masalah mereka dan mengaplikasikan

apa yang telah mereka pelajari. Kita harus menerima bahwa siswa memiliki profil-

profil kognitif dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda. Guru harus

menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang kaya, mempertajam kemampuan-

kemampuan observasi siswa, mengumpulkan informasi tentang bakat dan kegemaran

siswa, serta mempelajari kecerdasan-kecerdasan yang tidak biasa.

b. Guru membutuhkan dukungan dan waktu untuk memperluas daftar pengajaran

19

media

mereka.

Jika proses pembelajaran ingin mencapai tujuan bahwa siswa harus memiliki

pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan yang seimbang, maka jam belajar

yang selama ini hanya cukup untuk menguasai pengetahuan saja harus diubah dengan

memperluas jam belajar. Hal ini perlu dilakukan untuk:

1) Memberi dukungan dan melakukan praktek.

2) Meminta guru tertentu yang memiliki kemampuan tinggi dalam sebuah kecerdasan

untuk memberikan pelatihan.

3) Mengintegrasikan para spesialis yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu.

4) Mengunjungi lokasi-lokasi lain sebagai bahan perbandingan proses pembelajaran.

c. Pendekatan Multiple Intelligence dan pembelajaran

Kurikulum pada dasarnya berfokus pada pengetahuan yang mendalam dan

pengembangan kemampuan. Dalam hal ini, pembelajaran tidak harus menekankan

pengajaran melalui kecerdasan, tetapi yang harus mendapat penekanan adalah bahwa

pembelajaran itu untuk kecerdasan atau penguasaan kompetensi tertentu sesuai

dengan minat dan bakat siswa.

d. Diperlukan pendekatan baru terhadap proses penilaian

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam aktivitas penilaian, yaitu:

1) Bagaimana menilai kecerdasan siswa.

2) Bagaimana meningkatkan penilaian secara umum dalam hal kognitif, afektif, dan

psikomotorik.

3) Bagaimana melibatkan siswa dalam proses penilaian.

4) Praktik profesional menuju ke arah perkembangan

Tingkat profesionalisme para pendidik perlu dimiliki setiap guru, sehingga tantangan

yang dihadapi terutama dalam menentukan model program yang akan dilakukan di

kelas, tepat dan sesuai dengan kompetensi siswa.

KESIMPULAN

Dari uraian diatas maka dapat kita pahami bahwa kecerdasan adalah merupakan

kemampuan untuk mengungkapkan situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari

pengalaman masa lalu seseorang. Disamping itu, setiap manusia memiliki berbagai

kecerdasan. Yang mana Gardner memiliki teori tentang multiple intellegence yang

kemudian membaginya menjadi 7 macam kecerdasan yang ada dalam diri manusia.

20

media

Karena pada dasarnya manusia itu sudah memiliki 7 macam kecerdasan tersebut

kemudian diimplementasikan kedalam proses pembelajaran yang ada dalam dunia

pendidikan. Tanpa adanya multiple intellegence, sumber daya manusia tidak akan bisa

memanfaatkan berbagai kecerdasan yang telah dimilikinya untuk dapat dikembangkan

agar potensi-potensi itu mampu menciptakan sesuatu yang baru dalam menjawab

tantangan zaman yang semakin mendunia.

DAFTAR PUSTAKA

Armstrong, T., 2002. Sekolah Para Juara : Menerapkan Multiple Intelegences di

Dunia Pendidikan. Bandung : Kaifa

Atep T Hadiwa. (2008). Pendekatan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran.

[Online]. Tersedia:http://atepjs.wordpress.com/2008/09/04/pendekatan-

multiple-intelligence-dalam-pembelajaran/. [11 November 2021]

Fandy’s. (2010). Teori Multiple Intelligence Howard Gardner. [Online].

Tersedia:http://fandi4tarakan.wordpress.com/2010/01/03/teori-multiple-

intelligence/.. [11 November 2021]

Muh. Tahir . (2009). Multiple Intelligences; Meluruskan Makna Kecerdasan.

[Online]. Tersedia:http://www.surgamakalah.com/2011/12/multiple-

intelligences-meluruskan-makna.html. [11November 2021]

Rohmani, MA. (2012). Ketika Pendidikan tanpa Multiple Intelligences. [Online].

Tersedia:http://www.webrohmani.com/index.php?option=com_content&view

=article&id=135:ketika-pendidikan-tanpa-multiple-

intelligences&catid=36:opini&Itemid=60. [11 November 2021]

media

HALAMAN PENGESAHAN

Materi oleh

: Novi RusmaNoverta Gandhi

Judul

:Multiple Intelegensi ini telah diseminarkan di SD National

Immersion Primary School pada tanggal 20 Januari 2021

Mengesahkan

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 20

SLIDE