

Materi Kelas 8 SKI
Presentation
•
History
•
8th Grade
•
Hard
Al Guru
FREE Resource
4 Slides • 0 Questions
1
Kemajuan Kebudayaan Dinasti Abbasiyah
Daulah Abbasiyah yang berkuasa selama lima setengah abad, adalah salah satu pemerintahan
dalam sejarah Islam yang sangat mementingkan usaha perkembangan peradaban Islam. Telah
banyak prestasi yang ditorehkan oleh Daulah Abbasiyah, dari perluasan wilayah, pengembangan ilmu
pengetahuan hingga seni bangunan arsitektur.
Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Periode awal pemerintahan, Daulah Abbasiyah memiliki khalifah-khalifah yang memiliki perhatian
besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, seperti ; Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur.
Dikenal sebagai seorang khalifah yang cinta ilmu pengetahuan, sehingga harta dan kekuasaaanya
dimanfaatkan untuk pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada periode inilah landasan
bagi perkembangan ilmu pengetahuan disiapkan. Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur secara langsung
meminta kepada para ilmuan untuk secara serius mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya
untuk kemaslahatan ummat manusia. Kerjasama yang apik antara ilmuan dan pemerintah melahirkan
para ilmuan muslim dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Kedokteran, Filsafat, Kimia, Botani,
Astronomi, Matematika, dan lain-lain.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, yaitu ;
1.Terjadinya asimilasi budaya, bahasa, pengetahuan antara bangsa Arab dengan bangsa
lainnya.
2.Gerakan penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa asalnya ke bahasa Arab. Gerakan
penerjemahan ini berlangsung sejak Khalifah Abu Ja’far Al- Mansyur hingga Khalifah Harun
Ar Rasyid. Buku-buku klasik Romawi dan Yunani yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu
filsafat, astronomi, farmasi, dan seni budaya dialihbahasakan dalam bahasa Arab.
3.Pendirian pusat studi dan kajian yang diberi nama Baitul Hikmah. Tempat ini bukan saja
hanya menjadi pusat studi orang-orang di wilayah Baghdad, tapi hampir
4.Pembentukan Majelis Munadzarah pada masa Khalifah Abdullah Al-Makmun menjadi
pusat kajian yang mengupas segala persoalan hukum keagamaan.
b. Penertiban Administrasi Pemerintahan
Usaha membangun peradaban emas juga terjadi pada bidang administrasi pemerintahan Daulah
Abbasiyah.
Pengangkatan Wazir (Perdana Menteri) yang bertugas membantu khalifah dalam menjalankan
roda pemerintahan. Wazir dibantu oleh beberapa departemen ;
1.Diwanul Kharij ; Departemen Luar Negeri
2.Diwanul Ziman ; Departemen Pengawasan Urusan Negara
3.Diwanul Jundi ; Departemen Pertahanan dan Keamanan
4.Diwanul Akarah ; Departemen Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum
5.Diwanul Rasa’il ; Departemen Pos dan Telekomunikasi.
Pengangkatan Ra’isul Kitabah (Sekretaris Negara) yang memimpin Diwanul Kitabah
(Sekretariat Negara). Dalam menjalankan tugasnya Ra’isul Kitabah dibantu oleh lima orang
Katib (Sekretaris), yaitu :
1.Katib Rasa’il ; sekretaris bidang persuratan
2.Katib Kharraj ; sekretaris bidang perpajakan dan kas negara
3.Katib Jundi ; sekretaris bidang kemiliteran, pertahanan dan kemanan
4.Katib Qada ; sekretaris bidang hukum dan perundang-undangan
5.Katib Syurtah ; sekretaris bidang kepolisian dan keamanan sipil
Pengangkatan kepala daerah untuk menjaga daerah wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang
dipimpin oleh gubernur (Amir). Untuk memudahkan kordinasi pemerintah pusat dan daerah, di
bawah gubernur dibentuk pemerintah desa (Qaryah) yang dipimpin oleh Syaikhul Qaryah
(Kepala Desa).
Pembentukan Mahkamah Agung, yang menangani beberapa bidang hukum, seperti ;
1.Al-Qadi ; mengadili perkara agama, hakimnya disebut Qadi
2.Al-Hisbah ; mengadili perkara umum, baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut Al-
Mustahsib
3.An-Nazar fil Mazalim ; pengadilan tingkat banding setelah dari pengadilan Al- Qadi atau Al-
Hisbah, hakimnya disebut Sahibul Mazalim.
2
c. Politik dan Militer
a.Bidang Politik
Dalam bidang politik Daulah Abbasiyah menjalan hubungan persahabatan yang baik dengan
negara-negara lain, diantaranya:
1)Menjalin kerjasama politik dengan Raja Frank di sebagian wilayah Andalusia (Spanyol).
Tujuannya adalah, untuk mengantisipasi meluasnya pengaruh Daulah Umayyah.
2)Menjalin hubungan dengan Afrikan Barat. Tujuannya adalah, menambah kekuatan dan
keuasaan Abbasiyah di Baghdad, Irak.
b.Bidang Militer
Daulah Abbasiyah pernah mencapai profesionalisme militer yang terjadi pada periode pertama
dan periode kedua pemerintahannya. Sekitar 100 tahun lamanya
kebijakan politik dan militer sepenuhnya mandiri ditangan para khalifah Daulah
Setidaknya ada empat periode kepemimpinan Daulah Abbasiyah dalam mewujudkan
kemandirian politik dan militer :
a.Periode pertama (750-847 M), kebijakan militer yang diambil pada periode ini merupakan usaha
para khalifah dalam memberikan landasan pemerintahan yang tangguh dan militer yang kuat.
b.Periode kedua (847-946 M), periode ini kebijakan politik dan militer Daulah Abbasiyah banyak
dipengaruhi oleh orang-orang Turki. Hal ini mengakibatkan banyak orang Turki yang
menduduki posisi penting dalam jabatan militer Daulah Abbasiyah. Orang-orang Turki yang
banyak menduduki posisi penting itu tidak dapat dikendalikan, mereka mampu mengontrol
kekuasaan bahkan banyak gubernur dan panglima tentara yang menyatakan diri sebagai khalifah.
Dari sini tanda-tanda perpecahan dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah mulai tampak.
c.Periode ketiga (946-1094 M), munculnya kekuatan politik dari Bani Buwaihi yang beraliran
Syiah. Mereka dapat mengontrol pemerintahan Daulah
d.Abbasiyah, bahkan mampu menekan khalifah Abbasiyah saat itu khalifah Al- Mustakfi. Agar
menjadikan Ahmad Buwaihi sebagai Amirul ‘Umara (Panglima Tentara). Sejak saat itu
khalifah Daulah Abbasiyah tidak lagi memiliki kekuasaan penuh, karena roda pemerintahan
dipengaruhi oleh dominasi Bani Buwaihi.
e.Periode keempat (1094-1258 M), pemerintahan Daulah Abbasiyah di bawah kendali orang-
orang Seljuk dari Turki. Mereka mampu menghilangkan dominasi Bani Buawaihi yang
berkuasa lama dalam pemerintahan Daulah Abbasiyah. Selama periode inilah, Bani Seljuk
berhasil mengambil alih kekuasan dan jalanya roda pemerintahan dari tangan khalifah. Roda
pemerintahan Daulah Abbasiyah tidak lagi berada di tangan khalifah yang sah, para khalifah
Daulah Abbasiyah hanya diperkenankan mengurusi persoalan-persoalan agama. Kekhalifahan
Daulah Abbasiyah hilang di tahun 1258 M saat tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan
memorak-porandakan kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah.
d. Ekonomi (Perdagangan, Perindustrian dan Pertanian)
Peningkatan taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi masa Daulah Abbasiyah sebenarnya
telah dimulai saat Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur berkuasa. Ia merupakan tokoh utama dari
peletak dasar ekonomi Daulah Abbasiyah, sikap tegas, adil dan bijaksana membawa Daulah
Abbasiyah maju dalam berbagai bidang.
Kemajuan sektor ekonomi Daulah Abbasiyah pada masa ini disebabkan oleh usaha-usaha
para khalifah yang mendorong kemajuan dalam sektor perdagangan.
Sektor Perdagangan
Perekonomian masyarakat pada masa Daulah Abbasiyah meningkat saat khalifah Al- Mahdi
(775-785 M) memerintah. Hubungan luar negeri Daulah
Abbasiyah dengan kerajaan-kerajaan lain telah membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat
dan menambah kas negara. Kota Basrah menjadi pelabuhan penting, sebagai tempat transit
antara Timur dan Barat, banyak mendatangkan kekayaan bagi Abbasiyah. Selain itu, ada
juga pelabuhan Damaskus dan dermaga Kuffah. Seiring itu, terjadi peningkatan pada sektor
tambang, pertanian dan industri.
Sektor Perindustrian
Khalifah Daulah Abbasiyah memiliki perhatian yang sangat serius dalam memenuhi kebutuhan
masyarakatnya. Untuk itu, mereka aktif mendorong kemajuan sektor perindustrian. Para
khalifah menganjurkan masyarakatnya untuk berlomba-lomba dalam industri dan pengolahan.
3
Banyak kota dibangun untuk pusat perindustrian. kota Basrah menjadi pusat industri gelas dan
sabun, kota Kuffah merupakan pusat industri tekstil, industri pakaian dari sutra bersulam
ditempatkan di kota Damaskus yang pusat kerajinan sutranya berada di Khazakstan, dan kota
Syam menjadi pusat industri keramik dan gelas berukir.
Pembangunan kanal, bendungan, irigasi dan terusan diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan
petani yang hasilnya mampu meningkatkan produktifitas para petani dan kualitas hasil
panennya. Sebagai contoh, pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid, istri khalifah, Ratu Zubaidah
menyaksikan penderitaan rakyat akibat kemarau panjang dalam kunjungannya ke Makkah dan
Madinah. Atas usulan permaisuri, khalifah membangun sebuah bendungan dan terusan yang
dapat mengalirkan air ke ladang-ladang dan untuk kebutuhan hidup para petani. Sehingga
kehidupan masyarakat di dua kota suci itu sejahtera. Untuk mengenang jasa Ratu Zubaidah,
bendungan itu diberi nama “Bendungan Zubaidah”.
e. Seni Budaya
Peradaban Islam dalalm bidang seni budaya, sastra mancapai puncak kejayaannya pada masa
Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad menjadi kota pusat studi ilmu, seni dan sastra. Kemajuan
ini disebabkan karena proses asimilasi (pertemuan budaya) antara bangsa Arab dengan bangsa
lainnya. Apalagi setelah kegiatan penerjemahan berbagai macam buku dari Yunani, India,
Byzantium, dan Persia ke dalam bahasa Arab.
Perkembangan peradaban yang dapat diidentifikasi dalam bidang seni budaya dan sastra seperti :
Seni Arsitektur
Seni arsitektur ini sangat digemari oleh para khalifah. Seni arsitektur ini sangat berguna untuk
keperluan membangun gedung, masjid, istana, madrasah, dan kantor pemerintahan. khalifah
Abbsiyah tidak segan-segan mendatangkan arsitek-arsitek dari Byzantium, Yunani, Persia, dan
India untuk mendisain bangunan dan mengajarkan seni arsitektur bangunan kepada orang
Abbasiyah.
Bukti dari kemajuan pradaban seni arsitektur pada masa Daulah
Abbasiyah masih dapat ditemukan sampai saat ini dari keindahan gedung-
gedung istana, masjid, madrasah sebagai peninggalan Daulah Abbasiyah.
Seni Tata Kota
Seni tata kota dan arsitektur pada masa Daulah Abbasiyah bernilai sangat tinggi, banyak
bangunan dan kota dibangun dengan teknik tata kota yang berseni tinggi. Diantara kota-kota
itu adalah :
Kota Baghdad
Baghdad dibangun tahun 763 M pada masa pemerintahan khalifah
Abu Ja’far Al-Mansyur. Pembangunan kota ini melibatkan 100.000
orang ahli bangunan, terdiri dari arsitek, tukang batu, tukang kayu,
pemahat, pelukis, dan lain-lain yang didatangkan dari Suriah,
Iran, Basrah, Mosul, Kuffah, dan daerah – daerah yang
lainnya. Biaya pembangunan kota ini mencapai 4.833.000
dirham.
Kota Baghdad dibangun berbentuk bundar sehingga disebut kota bundar (Al-Mudawwarah).
Dikelilingi dua lapis tembok besar dan tinggi. Bagian bawah selebar 50 hasta dan bagian atas
20 hasta, tingginya 90 kaki (27.5 m). Di luar tembok dibangun parit yang dalam, yang berfungsi
ganda sebagai saluran air dan benteng pertahanan.
Di tengah kota dibangun istana khalifah diberi nama Qashrul Dzahab (istana emas) yang
melambangkan kemegahan dan kejayaan. Di samping istana, dibangun pula Masjid Jami’ Al
Mansyur.
Kota Samarra
Lima tahun setelah kota Baghdad mengalami kemajuan Khalifah Al- Mu’tashim Billah (833-842
M) membangun Mu’tashim Billah (833-842 M) membangun kota Samarra. Di dalam kota ini
terdapat istana yang indah dan megah, masjid raya, taman kota dengan bunga-bunga yang indah,
dan alun-alun. Untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, dibangun pula
pusat-pusat perbelanjaan dan pusat-pusat pelayanan publik.
Selain pembangunan di kota-kota tersebut, dua kota suci umat Islam Makkah dan Madinah juga
tidak terlepas dari sentuhan seni arsitektur para penguasaa Daulah Abbasiyah. Terlebih Masjid
Gambar Ilustrasi 10. Sumber :
www.amusingplanet.com
4
Al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Menurut tradisi, setiap penguasa muslim
pada masanya masing-masing turut ambil bagian dalm renovasi dan pembangunan dua
Masjid suci kebanggaan umat Islam tersebut.
f. Seni Sastra
Dunia sastra mencapai puncak kejayaannya pada masa Daulah Abbasiyah. Kota Baghdad
merupakan pusatnya para penyair dan sastrawan. Bahkan hampir seluruh khalifah Abbasiyah
menyukai sastra. Berikut beberapa penyair dan sastrawan yang terkenal saat itu
Abu Athiyah (760 – 841 M)
Abu Nawas (741 – 794 M)
Abu Tamam (w 847 M)
Al-Buhtury (821 – 900 M)
Al-Muntanabbi (961 – 967 M)
Kota Baghdad terkenal dengan kisah yang melegenda di kalangan umat Islam yaitu cerita
tentang 1001 malam (Alfu Lailah Wa Lailah) yang ditulis oleh Mubasyir ibnu Fathik.
Kemajuan Kebudayaan Dinasti Abbasiyah
Daulah Abbasiyah yang berkuasa selama lima setengah abad, adalah salah satu pemerintahan
dalam sejarah Islam yang sangat mementingkan usaha perkembangan peradaban Islam. Telah
banyak prestasi yang ditorehkan oleh Daulah Abbasiyah, dari perluasan wilayah, pengembangan ilmu
pengetahuan hingga seni bangunan arsitektur.
Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Periode awal pemerintahan, Daulah Abbasiyah memiliki khalifah-khalifah yang memiliki perhatian
besar terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, seperti ; Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur.
Dikenal sebagai seorang khalifah yang cinta ilmu pengetahuan, sehingga harta dan kekuasaaanya
dimanfaatkan untuk pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada periode inilah landasan
bagi perkembangan ilmu pengetahuan disiapkan. Khalifah Abu Ja’far Al-Mansyur secara langsung
meminta kepada para ilmuan untuk secara serius mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya
untuk kemaslahatan ummat manusia. Kerjasama yang apik antara ilmuan dan pemerintah melahirkan
para ilmuan muslim dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Kedokteran, Filsafat, Kimia, Botani,
Astronomi, Matematika, dan lain-lain.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, yaitu ;
1.Terjadinya asimilasi budaya, bahasa, pengetahuan antara bangsa Arab dengan bangsa
lainnya.
2.Gerakan penerjemahan berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa asalnya ke bahasa Arab. Gerakan
penerjemahan ini berlangsung sejak Khalifah Abu Ja’far Al- Mansyur hingga Khalifah Harun
Ar Rasyid. Buku-buku klasik Romawi dan Yunani yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu
filsafat, astronomi, farmasi, dan seni budaya dialihbahasakan dalam bahasa Arab.
3.Pendirian pusat studi dan kajian yang diberi nama Baitul Hikmah. Tempat ini bukan saja
hanya menjadi pusat studi orang-orang di wilayah Baghdad, tapi hampir
4.Pembentukan Majelis Munadzarah pada masa Khalifah Abdullah Al-Makmun menjadi
pusat kajian yang mengupas segala persoalan hukum keagamaan.
b. Penertiban Administrasi Pemerintahan
Usaha membangun peradaban emas juga terjadi pada bidang administrasi pemerintahan Daulah
Abbasiyah.
Pengangkatan Wazir (Perdana Menteri) yang bertugas membantu khalifah dalam menjalankan
roda pemerintahan. Wazir dibantu oleh beberapa departemen ;
1.Diwanul Kharij ; Departemen Luar Negeri
2.Diwanul Ziman ; Departemen Pengawasan Urusan Negara
3.Diwanul Jundi ; Departemen Pertahanan dan Keamanan
4.Diwanul Akarah ; Departemen Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum
5.Diwanul Rasa’il ; Departemen Pos dan Telekomunikasi.
Pengangkatan Ra’isul Kitabah (Sekretaris Negara) yang memimpin Diwanul Kitabah
(Sekretariat Negara). Dalam menjalankan tugasnya Ra’isul Kitabah dibantu oleh lima orang
Katib (Sekretaris), yaitu :
1.Katib Rasa’il ; sekretaris bidang persuratan
2.Katib Kharraj ; sekretaris bidang perpajakan dan kas negara
3.Katib Jundi ; sekretaris bidang kemiliteran, pertahanan dan kemanan
4.Katib Qada ; sekretaris bidang hukum dan perundang-undangan
5.Katib Syurtah ; sekretaris bidang kepolisian dan keamanan sipil
Pengangkatan kepala daerah untuk menjaga daerah wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang
dipimpin oleh gubernur (Amir). Untuk memudahkan kordinasi pemerintah pusat dan daerah, di
bawah gubernur dibentuk pemerintah desa (Qaryah) yang dipimpin oleh Syaikhul Qaryah
(Kepala Desa).
Pembentukan Mahkamah Agung, yang menangani beberapa bidang hukum, seperti ;
1.Al-Qadi ; mengadili perkara agama, hakimnya disebut Qadi
2.Al-Hisbah ; mengadili perkara umum, baik pidana maupun perdata, hakimnya disebut Al-
Mustahsib
3.An-Nazar fil Mazalim ; pengadilan tingkat banding setelah dari pengadilan Al- Qadi atau Al-
Hisbah, hakimnya disebut Sahibul Mazalim.
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 4
SLIDE
Similar Resources on Wayground
3 questions
Tugas Kelompok Materi Puasa
Lesson
•
8th Grade
3 questions
Bahasa Inggris
Lesson
•
8th Grade
3 questions
Sumpah Pemuda
Lesson
•
8th Grade
3 questions
ipa
Lesson
•
8th Grade
1 questions
Asesmen Awal
Lesson
•
8th Grade
5 questions
Respon
Lesson
•
KG
3 questions
proyeksi orthogonal
Lesson
•
KG
3 questions
PRESENT CONTINOUS TENSE
Lesson
•
8th Grade
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
10 questions
Probability Practice
Quiz
•
4th Grade
15 questions
Probability on Number LIne
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
6 questions
Appropriate Chromebook Usage
Lesson
•
7th Grade
10 questions
Greek Bases tele and phon
Quiz
•
6th - 8th Grade
Discover more resources for History
7 questions
Lunar and Chinese New Year for Kids | Bedtime History
Interactive video
•
1st - 12th Grade
29 questions
STAAR REVIEW: Industrial Revolution / Reform
Quiz
•
8th Grade
10 questions
Exploring the Causes of the Civil War
Interactive video
•
6th - 8th Grade
22 questions
Black History Month Luncheon
Quiz
•
6th - 8th Grade
35 questions
Ancient & Classical Greece 20-21
Quiz
•
6th - 8th Grade
30 questions
Quizizz Review - Mod 8 (War of 1812) - 2025
Quiz
•
8th Grade
42 questions
Spring Benchmark Review
Quiz
•
8th Grade
30 questions
The Fight for Freedom: Unit 4 Knowledge Organizer Scavenger Hunt
Quiz
•
8th Grade