Search Header Logo
Untitled Lesson

Untitled Lesson

Assessment

Presentation

Religious Studies

6th Grade

Hard

Created by

Made Mardika

FREE Resource

4 Slides • 0 Questions

1

media

3.Kerajaan Hindu di Jawa Tengah

a.Kerajaan Kalingga

Memasuki abad ke- 6 Masehi Agama Hindu mulai berkembang di Jawa Tengah

ditandai dengan munculnya kerajaan yang bernama Kalingga sekitar tahun 674 Masehi.

Kerajaan Kalingga diperkirakan terletak di terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar

Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Raja Kalingga yang sangat

popular adalah Ratu Shima, Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk

memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya

senantiasa jujur. Barang siapa yang ketahuan mencuri akan mendapatkan hukuman

mati.

Keberadaan Kerajaan Kalingga dapat diketahui dari Prasasti peninggalan

Kerajaan Kalingga antara lain:

1)Prasasti Tukmas

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun

Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Tukmas

menggunakan huruf Pallawa dan

berbahasa

Sansekerta.

Prasasti

Tukmas

menyebutkan

tentang

mata air yang bersih dan jernih.

Sungai

yang

mengalir

dari

sumber air tersebut disamakan

dengan Sungai Gangga di India.

Pada prasasti itu ada gambar-

gambar, seperti trisula, kendi,

kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan

hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian agama Hindu telah berkembang di

Jawa Tengah, dengan menitik-beratkan pemujaan ke hadapan Dewa Tri Murti.

Gambar: 5.6 Prasasti Tukmas

Sumber: http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id

2

media

2)Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten

Batang, Jawa Tengah. Prasasti Sojomerto

menggunakan aksara Kawi dan berbahasa

Melayu Kuno. Prasasti ini bersifat Siwais

karena isinya memuat keluarga dari Dapunta

Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu,

ibunya

bernama

Bhadrawati,

sedangkan

istrinya

bernama

Sampula.

Peninggalan

kerajaan

Mataram

kuno

adalah

Candi

Prambanan pada abad ke-9, terletak di

Prambanan, Yogyakarta, dibangun antara

masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Dyah Balitung.

b.Kerajaan Medang (Mataram Kuno)

Setelah runtuhnya kerajaan kalingga, maka munculah Kerajaan Medang atau

yang lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan Mataram Kuno didirikan oleh

Raja Sanjaya yang sekaligus sebagai pencetus berdirinya Wangsa Sanjaya. Bukti

tertulis akan keberadaan kerajaan mataram Kuno adalah Prasasti Canggal. Prasasti

Canggal memakai huruf Pallawa berbahasa Sanskerta menggunakan angka

tahun Candra Sangkala yaitu angka tahun dengan menggunakan kata-kata yang

berbunyi “ Sruti Indria rasa” yang artinya: Sruti artinya 4 ( Catur Weda Sruti),

Indria artinya 5 ( Panca Indria) Rasa artinya 6 ( Sad Rasa). Jadi sama artinya dengan

tahun 654 Saka atau 732 Masehi. Prasasti Canggal merupakan prasasti pertama yang

dikeluarkan raja Sanjaya untuk memperingati pendirian lingga di atas bukit Sthirangga.

Pendirian lingga ini sebagai rasa syukur bahwa ia telah dapat membangun kembali

kerajaan dan bertahta dengan aman tenteram setelah berhasil mengalahkan musuh-

musuhnya. Bait-bait awal dari prasasti Canggal ini berisi puji-pujian kepada Dewa

Gambar 5.7 Prasasti Sojomerto

Sumber:http://cagarbudaya.kemdikbud.go.i

d

3

media

Gambar 5.8 Prasasti Canggal

Sumber:

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mun

a s/prasasti-canggal/

Siwa, Brahma, dan Dewa Wisnu (Tri Murti) dengan catatan bahwa pujian untuk Dewa

Siwa sendiri sebanyak 3 bait. Ini menandakan

bahwa agama yang dipeluk raja Sanjaya dan

rakyatnya adalah Hindu Siwa. Ini menandakan

bahwa di Jawa tengah sudah ada pemujaan

terhadap Tri Murti secara bersama-sama, dan

Siwa yang dipuja sebagai Dewa Utama.

Prasasti Canggal juga memuat bait-bait

mengenai pujian kepada pulau Yawa (Jawa)

yang subur dan banyak menghasilkan gandum

atau padi dan kaya akan tambang emas. Di

pulau Yawa itu ada sebuah bangunan suci untuk

pemujaan Siwa yang sangat indah, untuk

kesejahteraan dunia yang dikelilingi oleh

sungai-sungai yang suci, antara lain sungai

Gangga. Bangunan suci itu terletak di wilayah

Kunjarakunja.

Pada masa pemerintahan Wangsa Sanjaya banyak didirikan Candi-Candi Siwa

sebagai tempat pemujaan dan petilasan para Raja. Candi-candi itu antara lain: Candi

Sewu, Candi Kalasan, Candi Prambanan, dan Candi Dieng.

Pada akhir masa pemerintahan Raja Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang

berasal dari Kerajaan Sriwijaya yang berhasil menguasai Jawa Tengah wilayah selatan.

Pemerintahan Raja Syailendra yang beragama Buddha ini dilanjutkan oleh

keturunannya, Wangsa Syailendra. Dengan demikian, selama kurang lebih satu abad,

yaitu tahun 750-850 M, Jawa Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan, yaitu

pemerintahan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang

menganut agama Buddha Mahayana. Pada masa inilah sebagian besar candi di Jawa

Tengah dibangun. Oleh karena itu, candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara pada

umumnya adalah candi-candi Hindu, sedangkan di wilayah selatan adalah candi-candi

Budha. Kedua Wangsa yang berkuasa di Jawa Tengah tersebut akhirnya dipersatukan

4

media

melalui pernikahan Rakai Pikatan (838 - 851 M) dengan

Pramodawardhani, Putra Maharaja Samarattungga dari

Wangsa Syailendra.

media

3.Kerajaan Hindu di Jawa Tengah

a.Kerajaan Kalingga

Memasuki abad ke- 6 Masehi Agama Hindu mulai berkembang di Jawa Tengah

ditandai dengan munculnya kerajaan yang bernama Kalingga sekitar tahun 674 Masehi.

Kerajaan Kalingga diperkirakan terletak di terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar

Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Raja Kalingga yang sangat

popular adalah Ratu Shima, Ia menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk

memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya

senantiasa jujur. Barang siapa yang ketahuan mencuri akan mendapatkan hukuman

mati.

Keberadaan Kerajaan Kalingga dapat diketahui dari Prasasti peninggalan

Kerajaan Kalingga antara lain:

1)Prasasti Tukmas

Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun

Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Tukmas

menggunakan huruf Pallawa dan

berbahasa

Sansekerta.

Prasasti

Tukmas

menyebutkan

tentang

mata air yang bersih dan jernih.

Sungai

yang

mengalir

dari

sumber air tersebut disamakan

dengan Sungai Gangga di India.

Pada prasasti itu ada gambar-

gambar, seperti trisula, kendi,

kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan

hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian agama Hindu telah berkembang di

Jawa Tengah, dengan menitik-beratkan pemujaan ke hadapan Dewa Tri Murti.

Gambar: 5.6 Prasasti Tukmas

Sumber: http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 4

SLIDE