Search Header Logo

X MIA/IIS - PH BAHASA INDONESIA : Cerita Rakyat/Hikayat

Authored by Anton Ari Wibowo Masanton

World Languages, Education, Other

KG

Used 16+ times

X MIA/IIS - PH BAHASA INDONESIA : Cerita Rakyat/Hikayat
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

20 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain, Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Lengkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Lengkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakitnya dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margasatwa juga tunduk kepadanya dengan khidmad. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Lengkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan dengan ftinah ini dan membuang Jaya Lengkara dengan bundanya dari negeri.


Bukti kalimat yang menunjukan bahwa kutipan hikayat tersebut mengandung majas hiperbola adalah …

Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain, Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Lengkara pada seorang kadi.

Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Lengkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakitnya dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margasatwa juga tunduk kepadanya dengan khidmad.

Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya.

Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Lengkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal.

Raja termakan dengan ftinah ini dan membuang Jaya Lengkara dengan bundanya dari negeri.

2.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


Tatkala sampai di tepi sungai, Mahsyodhak bertanya kepada Citata apakah sungai itu dalam atau tohor. Citata menyuruhnya menduga dengan tongkat yang ada di tangan. Hatta berapa lama, sampailah mereka di negeri wakaf. Di situ Citata disuruh menunggu, karena ia hendak pulang ke rumah menyuruh keluarganya menyambut mereka. Sesampai di rumah, Mahsyodhak menyuruh seorang sahaya laki-laki yang baik rupanya lagi muda pergi mendapatkan Citata. Sahaya laki-laki itu berkata, Mahsyodhak adalah penjual perempuan dan meninta Citata kawin dengannya. Citata tidak mau mengubah setianya dengan Mahsyodhak.


Deskripsi penokohan yang tampak pada teks hikayat tersebut adalah …

Penggambaran fisik dan kesaktian tokoh uatam Mahsyodhak

Penggambaran ketegasan dan kebijaksanaan tokoh Mahsyodhak

Penggambaran kesaktian dan kecantikan tokoh Citata

Penggambaran kesetiaan tokoh Citata menunggu Mahsyodhak

Penggambaran kesetiaan tokoh Citata kepada Mahsyodhak

3.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


Sejak kecil, ia sudah dapat menolong bapaknya menhukum sekalian orang di dalam dusun dengan betul dan benarnya, serta dengan keras siasatnya. Raja Juda hendajuk menjadikan dia pengawal menteri, tetapi keempat guru tidak setuju. Kata mereka, Mahsyodhak itu adalah “budak hutan padang, tiada tahu bicara bahasa negeri.” Sementara itu, makin banyak kemuskhilan hukum yang diselesaikan oleh Mahsyodhak, di antaranya mengembalikan seorang perempuan muda yang mencoba melarikan diri dengan badui dari suaminya yang sah, seorang lelaki yang sudah tua lagi bungkuk belakangnya. Dia juga berhasil menentukan siapa ibu dari seorang anak dengan mengancam akan membelah anak itu menjadi dua. Dia juga menentukan siapa pemilik satu permadani yang cantik.


Karakterisitik yang dominan pada kutipan hikayat tersebut adalah …

Bersifat pralogis dan istana sentris

Bersifat statis dan istana sentris

Bersifat istana sentris dan anonim

Bersifat statis dan pralogis

Bersifat pralogis dan anonim

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


Jenggala/Kuripan sedang diancam oleh binatang-binatang yang dapat bercakap-cakap (satu sembawa), dikepalai oleh seorang raksasa yang bernama Sang Sukma Indra dan seorang buta, Sang Sukma Ledera namanya. Sang Sukma Indra dan Sang Sukma Ledera sebenarnya adalah dewa yang tinggal di kayangan, tetapi karena bermain cinta dengan bidadari, mereka disumpah menjadi raksasa dan buta. Satu sauara gaib menyuruh Ratu Kuripan meminta bantuan kepada Ratu Gagelang. Maka Inu pun datang ke Kuripan bersama-sama dengan saudara-saudaranya. Pertemuan yang mengharukan lalu tejadi. Kemudian Candra Kirana juga dimimta datang. Maka terjadilah pertempuran. Raksasa dan buta itu terbunuh dan kembali ke kayangan.


Kalimat yang menggunakan majas metonimia pada kalimat di atas adalah …

Jenggala/Kuripan sedang diancam oleh binatang-binatang yang dapat bercakap-cakap (satu sembawa)

Sang Sukma Indra dan Sang Sukma Ledera sebenarnya adalah dewa yang tinggal di kayangan

Satu sauara gaib menyuruh Ratu Kuripan meminta bantuan kepada Ratu Gagelang

Maka Inu pun datang ke Kuripan bersama-sama dengan saudara-saudaranya

Raksasa dan buta itu terbunuh dan kembali ke kayangan

5.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


Raden Putra terlihat bingung. Menurutnya permaisurinya telah meninggal dunia ditangan patih yang mengamban titahnya. Melihat rajanya terlihat bingung, Patih Jenggal;a segera maju ke depan menghampiri sang raja. Patih Jenggala kemudian menjelaskan perihal kejadian sesungguhnya, bagaikama dia tidak jadi membunuh sang permaisuri karena mengetahui bahwa permaisuri tidak bersalah melainkan korban fitnah dari orang lain.

“Fitnah? Fitnah siapa?” tanya sang Raja.

“Fitnah dari selir sri baginda yang bekerjasama dengan tabib istana.” jawab Patih Jenggala.

Sang selir dan tabib istana segera dipanggil oleh Raja Raden Putra. Keduanya tidak dapat mengelak setelah persidangan memberikan bukti-bukti kejahatan mereka. Sang Raden Putra memberi hukuman berat kepada keduanya yaitu diasingkan di dalam hutan.


Amanat yang dapat dipetik dari teks hikayat tersebut adalah …

Sebelum memutuskan sesuatu dipikir dagulu agar tidak menyesal

Serapi apapun menyimpan kejahatan, suatu hari akan terungkap juga

Semua perbuatan baik, pasati akan membuahkan manis di kemudian hari

Membantu orang yang membutuhkan adalah perbuatan yang mulia

Perbuatan jahat pada sesame manusia akan merugkan diri sendiri

6.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat berikut!


Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain, Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Lengkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Lengkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakitnya dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margasatwa juga tunduk kepadanya dengan khidmad. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Lengkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan dengan ftinah ini dan membuang Jaya Lengkara dengan bundanya dari negeri.


Konflik sosial yang terdapat dalam teks hikayat tersebut adalah …

Makdam dan Makdim mempertanyakan nasib Jaya Lengkara pada seorang kadi yang terkenal

Raja menyuruh kedua anaknya, Makdam dan Makdim memoertanyakan nasib Jaya Lengkara

Jaya Lengkara dan bundanya dibuang raja dari negeri karena negeri akan binasa, beras padi menghilang

Hasil ramalan kadi membuat Makdam dan Makdim sakit hati, sehingga memfitnah Jaya Lengkara

Makdam dan Makdim diperintahkan kadi membujuk raja, sehingga Jaya Lengkara dan bundanya dibuang

7.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Cermati cuplikan hikayat ini!


“La haula la quwata illa billahi al’aliyyi al ‘azhim (tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung), bukankah aku telah menyelamatkanmu, tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah. Dia cukup bagiku, sebagai penolong terbaik.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku, shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya, perbuatan baiknya berbuah penyesalan. Kakek itu akhirnya kembali bersuara, “Sebejat apapun kamu, tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Sebelum kamu benar-benar membunuhku, izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku.” Ular mengabulkan permintaannya. Namun, di dalam hatinya, orang tua itu berharap, “Oh, andai Tuhan engirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.”


Segmen alur berupa konflik utama dalam ringkasan hikayat itu adalah …

Kakek mengabulkan permintaan ular untuk menyelamatkan nyawanya

Kakek berharap ada orang pandai untuk menyelamatkan nyawanya

Ular akan membunuh kakek yang sudah menyelamatkan nyawanya

Ular berbuat licik dengan cara menipu kakek tua yang menolongnya

Kakek mengingatkan ular akan kebaikan yang pernah dilakukannya

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Microsoft

Continue with Microsoft

or continue with

Facebook

Facebook

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?