Search Header Logo

Latihan PAS 1 Bahasa Indonesia Kelas IX

Authored by FEBRIANA UTAMI

World Languages

9th Grade

Used 21+ times

Latihan PAS 1 Bahasa Indonesia Kelas IX
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

20 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

1 min • 1 pt

Selamat pagi,

Saudara-saudara yang berbahagia. Terlebih dahulu, saya selaku Kepala Desa Sukasari, Kecamatan Majujaya, merasa bahagia karena dapat menyaksikan secara langsung acara Festival Budaya Desa Sukasari Tahun 2016.

Pembuka

Isi

Simpulan

Penutup

2.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

....

Pada kesempatan hari ini, sebagai ketua Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo, saya mengajak teman-teman untuk melestarikan kesenian Reog Ponorogo agar dapat dikenal wisatawan mancanegara. Dengan demikian, kesenian Reog tidak diakui oleh negara lain.


Kalimat pembuka pidato yang tepat untuk mengawali isi pidato tersebut adalah....

Saya sebagai ketua Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo yang baru merasa bangga dan bahagia bisa memimpin kalian semua.

Saya sebagai ketua terpilih Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo mengucapkan terima kasih atas kepercayaan kalian.

Saya sebagai ketua Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo yang merasa kagum karena bisa terpilih dan mengalahkan kandidat lain.

Saya sebagai ketua Paguyuban Kesenian Reog Ponorogo yang baru mewajibkan semua anggota paguyuban hadir pada setiap pertunjukan Reog.

3.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Besoknya, ba'da Subuh Ais sudah membantu ibunya membenahi jongko mereka. Masih di Pasar Tagog. Emak ternyata tidak bisa begitu saja meninggalkan jongko lamanya. Mengikuti jejak rekan-rekan pedagang lainnya. Mereka akan bertahan di situ, hingga petugas Pemda datang membongkar. Emak memang memiliki ikatan batin dengan jongko itu. Jongko tempat Emak berjualan, jongko yang menghidupi kami bertiga selama ini.

"Kenapa Mak berkeras begini?" gugat Ais tidak setuju.

"Kita kan harus punya solidaritas, begitulah, Ais...."

Emak sambil sibuk menyeling, memberi sarapan kepada putrinya yang juga sibuk merengek minta makanan. Untuk sesaat Ais memandangi kakanya dengan rasa iba dan kasih. Teteh Ayum, umurnya sudah dua puluh, tetapi tingkah polahnya mirip anak berumur enam tahunan. Sungguh tidak sesuai sekali dengan perawakannya.


Tokoh Emak dalam kutipan cerpen tersebut digambarkan memiliki sifat...

Rajin

Kikir

Sabar

Teguh

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Besoknya, ba'da Subuh Ais sudah membantu ibunya membenahi jongko mereka. Masih di Pasar Tagog. Emak ternyata tidak bisa begitu saja meninggalkan jongko lamanya. Mengikuti jejak rekan-rekan pedagang lainnya. Mereka akan bertahan di situ, hingga petugas Pemda datang membongkar. Emak memang memiliki ikatan batin dengan jongko itu. Jongko tempat Emak berjualan, jongko yang menghidupi kami bertiga selama ini.

"Kenapa Mak berkeras begini?" gugat Ais tidak setuju.

"Kita kan harus punya solidaritas, begitulah, Ais...."

Emak sambil sibuk menyeling, memberi sarapan kepada putrinya yang juga sibuk merengek minta makanan. Untuk sesaat Ais memandangi kakanya dengan rasa iba dan kasih. Teteh Ayum, umurnya sudah dua puluh, tetapi tingkah polahnya mirip anak berumur enam tahunan. Sungguh tidak sesuai sekali dengan perawakannya.


Latar menonjol dalam kutipan tersebut adalah...

Tempat

Waktu

Suasana

Sosial

5.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Besoknya, ba'da Subuh Ais sudah membantu ibunya membenahi jongko mereka. Masih di Pasar Tagog. Emak ternyata tidak bisa begitu saja meninggalkan jongko lamanya. Mengikuti jejak rekan-rekan pedagang lainnya. Mereka akan bertahan di situ, hingga petugas Pemda datang membongkar. Emak memang memiliki ikatan batin dengan jongko itu. Jongko tempat Emak berjualan, jongko yang menghidupi kami bertiga selama ini.

"Kenapa Mak berkeras begini?" gugat Ais tidak setuju.

"Kita kan harus punya solidaritas, begitulah, Ais...."

Emak sambil sibuk menyeling, memberi sarapan kepada putrinya yang juga sibuk merengek minta makanan. Untuk sesaat Ais memandangi kakanya dengan rasa iba dan kasih. Teteh Ayum, umurnya sudah dua puluh, tetapi tingkah polahnya mirip anak berumur enam tahunan. Sungguh tidak sesuai sekali dengan perawakannya.


Realitas kehidupan sehari-hari yang sering ditemui dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

Seseorang harus berpindah tempat agar bertahan hidup

Seorang ibu yang berjuang menghidupi anak-anaknya

Seseorang yang setia kepada teman-temannya

Seseorang yang berjuang melawan petugas

6.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Aku tersentak dari lamunan ketika dua ekor cicak jatuh di atas meja, tepat di depanku. Lalu

keduanya lari berkejar-kejaran. Kutengok kepala ibu

terkulai di sandaran kursi. Kedua tangannya lunglai

di pangkuan. Sepotong pakaian bayi yang belum

selesai dan sepucuk jarum masih terpegang di kedua

tangannya.

Kutengok jam dinding menunjukkan pukul 01.00.

Astaga! Kenapa bisa sampai selarut ini? Aku merasa

seperti terbangun dari tidur yang amat panjang.

Perlahan-lahan kudekati ibu. Pandanganku tertarik ke

pangkuannya. Kuambil potongan kain itu dari tangan

ibu yang terkulai. Entah mengapa, rasanya aku ingin

menatapnya lama-lama.

Wajah ibu begitu tenang dalam tidurnya. Aku

tidak mengira, betapa dalam wajah yang senja itu, ia

masih menyimpan satu keyakinan yang kukuh.

"Ibu ...,"aku menggoyang-goyangkan tangannya

yang tinggal berbalut kulit keriput.

Perlahan-lahan kedua matanya terbuka. Lalu

kedua tangannya bergerak-gerak seperti mencari se-

suatu. Ia menatapku. Aku tahu apa yang dimaksud.

"Sudah, sudah saya simpan di lemari. Sekarang

ibu harus tidur, sudah amat larut," bujukku sambi

melirik jam dinding

Perlahan-lahan aku memapah ibu ke kamarnya


tokoh Aku memiliki karakter...

Penyabar

Pemalas

Penyayang

Pemarah

7.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Aku tersentak dari lamunan ketika dua ekor cicak jatuh di atas meja, tepat di depanku. Lalu

keduanya lari berkejar-kejaran. Kutengok kepala ibu

terkulai di sandaran kursi. Kedua tangannya lunglai

di pangkuan. Sepotong pakaian bayi yang belum

selesai dan sepucuk jarum masih terpegang di kedua

tangannya.

Kutengok jam dinding menunjukkan pukul 01.00.

Astaga! Kenapa bisa sampai selarut ini? Aku merasa

seperti terbangun dari tidur yang amat panjang.

Perlahan-lahan kudekati ibu. Pandanganku tertarik ke

pangkuannya. Kuambil potongan kain itu dari tangan

ibu yang terkulai. Entah mengapa, rasanya aku ingin

menatapnya lama-lama.

Wajah ibu begitu tenang dalam tidurnya. Aku

tidak mengira, betapa dalam wajah yang senja itu, ia

masih menyimpan satu keyakinan yang kukuh.

"Ibu ...,"aku menggoyang-goyangkan tangannya

yang tinggal berbalut kulit keriput.

Perlahan-lahan kedua matanya terbuka. Lalu

kedua tangannya bergerak-gerak seperti mencari se-

suatu. Ia menatapku. Aku tahu apa yang dimaksud.

"Sudah, sudah saya simpan di lemari. Sekarang

ibu harus tidur, sudah amat larut," bujukku sambi

melirik jam dinding

Perlahan-lahan aku memapah ibu ke kamarnya


Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

Orang pertama pelaku sampingan

Orang pertama pelaku utama

Orang ketiga pelaku sampingan

Orang ketiga

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?