
Prediksi SNBT 2025
Authored by Mul diana
Education
1st Grade
24 Questions
Used 4+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
(1) Irfan Amalee, seorang penulis dan juga tokoh Pendidikan, pernah menyampaikan ilustrasi dalam sebuah podcast tentang disiplin positif. (2) Suatu ketika tiga orang siswamengendarai satu motor di jalan raya. (3) Ketiganya tanpa mengenakan helm. Saat ditanya mengapa berboncengan tiga dan tanpa mengenakan helm, jawaban mereka adalah karenatidak ada polisi yang mengawasi. (4) Begitulah fenomena dalam dunia Pendidikan kita, bahwa kedisiplinan masih harus ditegakkan kalau ada pengawasan. (5) Ini menandakan betapadisiplin kita masih dibangun dan dikendalikan oleh kontrol eksternal yang mendorong seseorang berperilaku disiplin. (6) Berbeda dengan disiplin, disiplin positif sendiri dibangunoleh kontrol internal dan kesadaran individu untuk melakukan suatu aturan tanpa diiming-imingi reward dan ancaman punishment. (7) Jika seorang anak telah menyadari kalaumemakai helm untuk keselamatan dirinya, maka anak tersebut telah menerapkan disiplin positif. (8) Selain itu, disiplin selama ini identik dengan aturan yang dibuat oleh yangberkuasa atau yang mempunyai otoritas, sementara dalam disiplin positif peraturan dibuat bersama sehingga semua pihak memiliki kepemilikan terhadap peraturan bersamatersebut. (9) Ketika mereka melanggar aturan maka mereka tidak sedang melanggar peraturan yang dibuat oleh orang lain tetapi sedang melanggar pada komitmen diri sendiri. (10)Kita berharap disiplin positif harus semakin massif terinternalisasi di setiap satuan pendidikan kita.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
[[TMF_CHECKBOX]]
Jika dipisahkan menjadi beberapa paragraf, paragraf kedua dapat diawali dengan kalimat nomor...
3
4
6
7
9
2.
MULTIPLE SELECT QUESTION
45 sec • 1 pt
(1) Irfan Amalee, seorang penulis dan juga tokoh Pendidikan, pernah menyampaikan ilustrasi dalam sebuah podcast tentang disiplin positif. (2) Suatu ketika tiga orang siswamengendarai satu motor di jalan raya. (3) Ketiganya tanpa mengenakan helm. Saat ditanya mengapa berboncengan tiga dan tanpa mengenakan helm, jawaban mereka adalah karenatidak ada polisi yang mengawasi. (4) Begitulah fenomena dalam dunia Pendidikan kita, bahwa kedisiplinan masih harus ditegakkan kalau ada pengawasan. (5) Ini menandakan betapadisiplin kita masih dibangun dan dikendalikan oleh kontrol eksternal yang mendorong seseorang berperilaku disiplin. (6) Berbeda dengan disiplin, disiplin positif sendiri dibangunoleh kontrol internal dan kesadaran individu untuk melakukan suatu aturan tanpa diiming-imingi reward dan ancaman punishment. (7) Jika seorang anak telah menyadari kalaumemakai helm untuk keselamatan dirinya, maka anak tersebut telah menerapkan disiplin positif. (8) Selain itu, disiplin selama ini identik dengan aturan yang dibuat oleh yangberkuasa atau yang mempunyai otoritas, sementara dalam disiplin positif peraturan dibuat bersama sehingga semua pihak memiliki kepemilikan terhadap peraturan bersamatersebut. (9) Ketika mereka melanggar aturan maka mereka tidak sedang melanggar peraturan yang dibuat oleh orang lain tetapi sedang melanggar pada komitmen diri sendiri. (10)Kita berharap disiplin positif harus semakin massif terinternalisasi di setiap satuan pendidikan kita.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
[[TMF_CHECKBOX]]
Di bawah ini adalah pernyataan yang tepat dalam kalimat nomor 8 adalah... (pilih 2 dari 5 jawaban yang ada)
Dalam disiplin, aturan dibuat bersama. Sedangkan disiplin positif, aturan dibuat oleh guru.
Disiplin selama ini identik dengan aturan yang dibuat oleh yang berkuasa atau yang mempunyai otoritas.
Disiplin positif tidak untuk diterapkan saat ini
Dispiplin dan disiplin positif itu sama saja.
Dalam disiplin positif, peraturan dibuat bersama sehingga semua pihak memiliki kepemilikan terhadap peraturan bersama tersebut.
3.
OPEN ENDED QUESTION
3 mins • 1 pt
(1) Irfan Amalee, seorang penulis dan juga tokoh Pendidikan, pernah menyampaikan ilustrasi dalam sebuah podcast tentang disiplin positif. (2) Suatu ketika tiga orang siswamengendarai satu motor di jalan raya. (3) Ketiganya tanpa mengenakan helm. Saat ditanya mengapa berboncengan tiga dan tanpa mengenakan helm, jawaban mereka adalah karenatidak ada polisi yang mengawasi. (4) Begitulah fenomena dalam dunia Pendidikan kita, bahwa kedisiplinan masih harus ditegakkan kalau ada pengawasan. (5) Ini menandakan betapadisiplin kita masih dibangun dan dikendalikan oleh kontrol eksternal yang mendorong seseorang berperilaku disiplin. (6) Berbeda dengan disiplin, disiplin positif sendiri dibangunoleh kontrol internal dan kesadaran individu untuk melakukan suatu aturan tanpa diiming-imingi reward dan ancaman punishment. (7) Jika seorang anak telah menyadari kalaumemakai helm untuk keselamatan dirinya, maka anak tersebut telah menerapkan disiplin positif. (8) Selain itu, disiplin selama ini identik dengan aturan yang dibuat oleh yangberkuasa atau yang mempunyai otoritas, sementara dalam disiplin positif peraturan dibuat bersama sehingga semua pihak memiliki kepemilikan terhadap peraturan bersamatersebut. (9) Ketika mereka melanggar aturan maka mereka tidak sedang melanggar peraturan yang dibuat oleh orang lain tetapi sedang melanggar pada komitmen diri sendiri. (10)Kita berharap disiplin positif harus semakin massif terinternalisasi di setiap satuan pendidikan kita.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
[[TMF_CHECKBOX]]
Dalam kalimat nomor 1, kata PODCAST dalam bahasa Indonesia juga disebut...
Evaluate responses using AI:
OFF
4.
OPEN ENDED QUESTION
3 mins • 1 pt
(1) Irfan Amalee, seorang penulis dan juga tokoh Pendidikan, pernah menyampaikan ilustrasi dalam sebuah podcast tentang disiplin positif. (2) Suatu ketika tiga orang siswamengendarai satu motor di jalan raya. (3) Ketiganya tanpa mengenakan helm. Saat ditanya mengapa berboncengan tiga dan tanpa mengenakan helm, jawaban mereka adalah karenatidak ada polisi yang mengawasi. (4) Begitulah fenomena dalam dunia Pendidikan kita, bahwa kedisiplinan masih harus ditegakkan kalau ada pengawasan. (5) Ini menandakan betapadisiplin kita masih dibangun dan dikendalikan oleh kontrol eksternal yang mendorong seseorang berperilaku disiplin. (6) Berbeda dengan disiplin, disiplin positif sendiri dibangunoleh kontrol internal dan kesadaran individu untuk melakukan suatu aturan tanpa diiming-imingi reward dan ancaman punishment. (7) Jika seorang anak telah menyadari kalaumemakai helm untuk keselamatan dirinya, maka anak tersebut telah menerapkan disiplin positif. (8) Selain itu, disiplin selama ini identik dengan aturan yang dibuat oleh yangberkuasa atau yang mempunyai otoritas, sementara dalam disiplin positif peraturan dibuat bersama sehingga semua pihak memiliki kepemilikan terhadap peraturan bersamatersebut. (9) Ketika mereka melanggar aturan maka mereka tidak sedang melanggar peraturan yang dibuat oleh orang lain tetapi sedang melanggar pada komitmen diri sendiri. (10)Kita berharap disiplin positif harus semakin massif terinternalisasi di setiap satuan pendidikan kita.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
[[TMF_CHECKBOX]]
Makna dari OTORITAS dalam teks di atas adalah ....
Evaluate responses using AI:
OFF
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Sebagai entitas yang paling berpengaruh pada kemajuan dan kualitas pembelajaran di sekolah, guru juga menjadi ujung tombak dan yang paling bertanggung jawab terhadappenerapan disiplin positif di sekolah. Guru sejatinya menginternalisasi disiplin positif sejak dari kelas. Mulai dari menyepakati keyakinan kelas, sampai pada aturan-aturan yangdisepakati bersama di tingkat yang lebih tinggi di satuan pendidikan.
Sebagai orang dewasa yang berinteraksi dengan peserta didik, guru juga harus menyadari bahwa dirinya akan menjadi panutan bagi muridnya. Guru akan menjadi role model untuksetiap kebijakan yang ingin diterapkan pada siswa. Segala macam bentuk hal-hal negatif dan “penyakit” psikologi atau hal yang kita harapkan tidak terjadi pada peserta didik kita,maka sudah selayaknya juga tidak ada pada diri seorang guru. Sebagai contoh, jika satuan pendidikan bersepakat menganggap merokok adalah suatu hal yang dihindari, maka gurutidak boleh merokok dan menjadikan rokok sebagai musuh bersama. Upaya ini dapat membuat siswa dan seluruh warga sekolah yakin dan percaya dari setiap kebijakan dan aturanyang dikeluarkan. Begitu juga pada hal-hal kecil lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya, harus dimulai dari guru.
Sebuah adagium “Teladan adalah nasihat yang terbaik” mengingatkan kita betapa pentingnya menjadi teladan dibanding berjuta-juta nasihat. Memberikan contoh merupakansebaik-baik nasihat. 14 abad yang lalu Allah Swt. telah menyampaikan dalam Al-Quran surah As-Saff (61) ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamumengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan.” Jadi, Adagium dan ayat Quran tersebutharuslah menjadi cambuk bagi setiap guru agar berkontemplasi menjadi teladan terbaik dan inspiratif di hadapan murid-muridnya di sekolah.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
Kalimat simpulan yang tepat dalam paragraf terakhir teks di atas adalah...
Quran Surah As-Saf (61) ayat 2-3.
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
Teladan adalah nasihat yang terbaik.
Jadi, Adagium dan ayat Quran tersebut haruslah menjadi cambuk bagi setiap guru agar berkontemplasi menjadi teladan terbaik dan inspiratif.
Sebuah adagium “Teladan adalah nasihat yang terbaik” mengingatkan kita betapa pentingnya menjadi teladan dibanding berjuta-juta nasihat.
6.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Sebagai entitas yang paling berpengaruh pada kemajuan dan kualitas pembelajaran di sekolah, guru juga menjadi ujung tombak dan yang paling bertanggung jawab terhadappenerapan disiplin positif di sekolah. Guru sejatinya menginternalisasi disiplin positif sejak dari kelas. Mulai dari menyepakati keyakinan kelas, sampai pada aturan-aturan yangdisepakati bersama di tingkat yang lebih tinggi di satuan pendidikan.
Sebagai orang dewasa yang berinteraksi dengan peserta didik, guru juga harus menyadari bahwa dirinya akan menjadi panutan bagi muridnya. Guru akan menjadi role model untuksetiap kebijakan yang ingin diterapkan pada siswa. Segala macam bentuk hal-hal negatif dan “penyakit” psikologi atau hal yang kita harapkan tidak terjadi pada peserta didik kita,maka sudah selayaknya juga tidak ada pada diri seorang guru. Sebagai contoh, jika satuan pendidikan bersepakat menganggap merokok adalah suatu hal yang dihindari, maka gurutidak boleh merokok dan menjadikan rokok sebagai musuh bersama. Upaya ini dapat membuat siswa dan seluruh warga sekolah yakin dan percaya dari setiap kebijakan dan aturanyang dikeluarkan. Begitu juga pada hal-hal kecil lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya, harus dimulai dari guru.
Sebuah adagium “Teladan adalah nasihat yang terbaik” mengingatkan kita betapa pentingnya menjadi teladan dibanding berjuta-juta nasihat. Memberikan contoh merupakansebaik-baik nasihat. 14 abad yang lalu Allah Swt. telah menyampaikan dalam Al-Quran surah As-Saff (61) ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamumengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan.” Jadi, Adagium dan ayat Quran tersebutharuslah menjadi cambuk bagi setiap guru agar berkontemplasi menjadi teladan terbaik dan inspiratif di hadapan murid-muridnya di sekolah.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
Makna kata MENGINTERNALISASI yang paling tepat dalam paragraf pertama teks di atas adalah...
Penghayatan terhadap suatu nilai
Penerapan dalam kehidupan
Persatuan dalam masyarakat
Pengaplikasian suatu konsep
Penanaman suatu nilai
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Sebagai entitas yang paling berpengaruh pada kemajuan dan kualitas pembelajaran di sekolah, guru juga menjadi ujung tombak dan yang paling bertanggung jawab terhadappenerapan disiplin positif di sekolah. Guru sejatinya menginternalisasi disiplin positif sejak dari kelas. Mulai dari menyepakati keyakinan kelas, sampai pada aturan-aturan yangdisepakati bersama di tingkat yang lebih tinggi di satuan pendidikan.
Sebagai orang dewasa yang berinteraksi dengan peserta didik, guru juga harus menyadari bahwa dirinya akan menjadi panutan bagi muridnya. Guru akan menjadi role model untuksetiap kebijakan yang ingin diterapkan pada siswa. Segala macam bentuk hal-hal negatif dan “penyakit” psikologi atau hal yang kita harapkan tidak terjadi pada peserta didik kita,maka sudah selayaknya juga tidak ada pada diri seorang guru. Sebagai contoh, jika satuan pendidikan bersepakat menganggap merokok adalah suatu hal yang dihindari, maka gurutidak boleh merokok dan menjadikan rokok sebagai musuh bersama. Upaya ini dapat membuat siswa dan seluruh warga sekolah yakin dan percaya dari setiap kebijakan dan aturanyang dikeluarkan. Begitu juga pada hal-hal kecil lainnya seperti membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya, harus dimulai dari guru.
Sebuah adagium “Teladan adalah nasihat yang terbaik” mengingatkan kita betapa pentingnya menjadi teladan dibanding berjuta-juta nasihat. Memberikan contoh merupakansebaik-baik nasihat. 14 abad yang lalu Allah Swt. telah menyampaikan dalam Al-Quran surah As-Saff (61) ayat 2-3 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamumengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu lakukan.” Jadi, Adagium dan ayat Quran tersebutharuslah menjadi cambuk bagi setiap guru agar berkontemplasi menjadi teladan terbaik dan inspiratif di hadapan murid-muridnya di sekolah.
(Tulisan ini dimuat di buletin Lentera Sukma. Dapat diakses di https://pidie.sukmabangsa.sch.id/wp-content/uploads/2024/08/Lentera-Sukma-Edisi-18.pdf)
Makna kata BERKONTEMPLASI yang paling tepat dalam paragraf kedua teks di atas adalah...
Kemampuan merancang kegiatan
Hubungan timbal balik atau sebab akibat
Memuji diri sendiri
Merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian
Menghamba pada sesuatu
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?
Similar Resources on Wayground
20 questions
PKn Kelas 6 Tema 7
Quiz
•
6th Grade
23 questions
EKONOMI SPM BAB 1
Quiz
•
University
20 questions
Kelas 2 Tema 1 Subtema 3
Quiz
•
2nd Grade
20 questions
Ramazan
Quiz
•
1st Grade - Professio...
20 questions
Panimulang Pagsusulit
Quiz
•
11th Grade
20 questions
TES FORMATIF IPAS BAB 5 TOPIK A
Quiz
•
9th Grade
20 questions
RBTS3093 PEDAGOGI REKA BENTUK DAN TEKNOLOGI SEKOLAH RENDAH
Quiz
•
University
20 questions
Quiz Senam dan Kebugaran kELAS 6 SEM 2
Quiz
•
6th Grade
Popular Resources on Wayground
5 questions
This is not a...winter edition (Drawing game)
Quiz
•
1st - 5th Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
10 questions
Identify Iconic Christmas Movie Scenes
Interactive video
•
6th - 10th Grade
20 questions
Christmas Trivia
Quiz
•
6th - 8th Grade
18 questions
Kids Christmas Trivia
Quiz
•
KG - 5th Grade
11 questions
How well do you know your Christmas Characters?
Lesson
•
3rd Grade
14 questions
Christmas Trivia
Quiz
•
5th Grade
20 questions
How the Grinch Stole Christmas
Quiz
•
5th Grade