WorksheetsLATAR CERITA / SETTING
Total questions: 10
Worksheet time: 10mins
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Mereka larut dalam tawa dan obrolan yang tak jelas arahnya. Aku memandangnya dari balik meja yang penuh makanan dan minuman. Aku mencoba ingin ditatap mereka dengan menumpahkan segelas minuman, tapi tak ada yang mengalihkan perhatian padaku, semua sibuk dengan kegembiraan ini. Keputusan untuk ke luar dan mengamati keceriaan anak-anak berkejaran di halaman ternyata keputusan yang tepat.
Latar waktu dan tempat pada kutipan cerita tersebut adalah ...
malam hari, di halaman rumah
malam hari di ruang pesta
sore hari di dalam rumah
sore hari di ruang makan
Kapal yang dinaiki Malin makin jauh, kepergian Malin diiringi lambaian tangan ibu Malin Kundang di pelabuhan. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Bahkan sebagian orang yang berada di kapal tersebut dibunuh. Malin Kundang sangat berharap tidak terbunuh karena ketika peritiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di balik ruang kecil yang tertutup kayu.
Latar kutipan cerita tersebut adalah ...
di kapal, menegangkan
di kapal, mengharukan
di laut, menegangkan
di laut, mengharukan
"Pa!" katanya, memanggil-manggil ayahnya di dalam kebun, yang sedang "joging". Di sudut kebun bertemulah ia dengan ayahnya.
"Pa!, Corrie berangkat, Pa!"
"Ya, Corrie, bersuka-sukalah anakku!"
"Terima kasih Pa, daah."
Maka cepatlah ia keluar halaman menuju ke jalan besar. Corrie tidak terasa bahwa ia pada waktu itu berjalan amat cepat, lebih cepat dari terbitnya matahari.
Latar waktu yang tergambar dalam kutipan cerita tersebut adalah ...
pagi hari
sore hari
senja hari
siang hari
"Aku tahu tempat yang pas untuk makan siang sekaligus shalat dzuhur. Bagaimana?" tanya Marion.
"Ke mana? Masih jauh?" tanyaku khawatir karena perutku semakin keroncongan. Aku melihat sekeliling arel Louvre dan Arc de Triomphe du Carrousel. Tak ada kedai maupun kios makanan cepat saji di sana.
Latar pada kutipan cerita tersebut adalah ...
siang hari, di sebuah masjid
siang hari, di Louvre
sore hari, di Arc de Triomphe
sore hari, di sebuah kedai
Sehabis pulang sekolah saat matahari sangat terik, Delta tampak tesenyum membuka tudung saji meja makan kecil mereka. Tanpa ganti baju dia langsung melahap makanan yang tersedia.
"Cuci tangan dulu, Guk"
"Tanggung Bu... lapar sekali"
"Oh ya... gimana tadi upacaranya? Sukses dengan sepatu baru?"
Latar pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
siang hari, di ruang makan
pagi hari, di sekolah
siang hari, di rumah
sore hari, di lapangan upacara
Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah kata pun. Langsung kunonaktifkkan hp ku. Dan kulempar jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badanku terasa sangat lemah dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada digenggamanku.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah ...
tempat duduk
tengah rumah
kamar tidur
kursi beranda
“Emak, berapa lama lagi bedug maghrib berbunyi?” tanya Marni sambil mendekat padanya dan kemudian duduk menyandarkan kepalanya di punggung Salamah. Angin sore itu bertiup kencang, menghempas-hempas rumbia gubuknya di bawah jembatan.
“Sebentar Nak, sebentar lagi. Lihat, langit sudah mulai memerah. Itu pertanda matahai mau tenggelam dan maghrib tiba. Kau sudah mulai lapar?”
Latar pada penggalan cerpen tersebut adalah ...
Siang hari di jembatan
Pagi hari di bawah jembatan
Sore hari pada gubuk di bawah jembatan
Magrib di bawah jembatan
O, alangkah girangnya Marni mendapatkan sandal baru untuk berlebaran. Sandal kecil bekas pakai. Barang itu lalu dibungkus dan diserahkan kepada Marni. Lihatlah betapa gembiranya gadis cilik itu. dipeluknya bungkusan dengan erat, seakan takut barang itu lepas daripadanya.
Diciumnya dan ditimang-timangnya. Senandung kecil terdengar dari mulutnya yang mungil.....
Latar suasana yang tergambar pada kutipan cerpen di atas adalah
duka cita
riang gembira
Sedih
Pilu
Ekspresi Nina pun begitu aneh. Ia seperti ketakutan. Nina benar-benar takut kalau ia akan gagal di ujiannya dua hari kemarin. Dapat nilai C untuk yang kedua kalinya, pasti akan lebih memalukan dari pada sebuah peristiwa memalukan yang menimpanya tiga hari silam.
Dengan tertunduk malu, Nina pun malu ke depan. Ia hanya bisa menundukkan mata sambil terus berzikir, “Jangan C lagi, please...jangan C lagi.”
Suasana yang tergambar pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
gembira
gugup
tegang
sedih
Ia cuma berdiri terpaku di depan tukang loak itu. Dilihatnya di keranjang tukang loak itu sepasang sandal jepit kecil yang sudah bekas pula. Nampaknya hanya ini yang bisa dibelinya.
Lalu dengan keberanian yang luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.
“Dua ratus rupiah,” jawab tukang loak dengan acuh tak acuh.
Latar tempat pada kutipan cerpen di atas adalah ....
di toko
di Kios
di pasar
di swalayan
