Font size
WorksheetsSOAL RESIDEN INTERNA II
Total questions: 100
Worksheet time: 2hrs 40mins
Seorang pria 25 tahun asal Papua masuk rumah sakit karena demam yang dialami sejak 3 hari, dari hasil pemeriksaan didapatkan TD 110/70, N 100x/mnt, S 39,9oC, P 20 x/mnt, ikterus, hepatosplenomegali. Laboratorium Hb 10 gr/dl, leukosit 4.500 /mm3, trombosit 60.000/mm3, didapatkan parasit malaria pada tetes tebal dan tipis.Dari hasil anamnesis di dapatkan os sudah sering menderita malaria selama tinggal di Papua dan terakhir menderita malaria sejak 6 bulan yang lalu dan os baru tiba dari Papua sejak 5 hari yang lalu dan belum pernah minum obat malaria selama demam saat ini. Dalam perawatan hari ke 4 di RS os mengalami penurunan kesadaran dan didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium GDS 60 mg/dl, ureum 146 mg%, kreatinin 2,7 mg%, bilirubin total 7 mg%, bilirubin direk 3 mg%, , BAK berwarna kehitaman, dan parasit count 3978 parasit/200 leukosit. Patofisiologi yang mendasari BAK kehitaman pada kondisi ini:
Trombositopenia
Defisiensi G6PD
Hemolisis intravaskular
Reaksi inflamasi dari endotoksin parasit
Efek samping obat anti malaria
Seorang perempuan usia 32 tahun dikonsulkan dari bagian kebidanan ke poli penyakit dalam dengan hamil 10 minggu dan anti HIV (+). Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Tidak ditemukan adanya infeksi oportunistik. Tatalaksana selanjutnya yang tepat adalah:
Pemeriksaan CD4
Pemeriksaan viral load
Tidak boleh diterapi ARV tanpa diagnosis definitif
Dapat langsung diterapi ARV
Terminasi Kehamilan
Seorang perempuan usia 32 tahun datang ke UGD dengan keluhan Demam yang didahului menggigil.Os mengaku baru kembali setelah perjalanan ke daerah endemis malaria. Os sedang hamil 3 bulan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan ikterik (bilirubin 2,5 mg/dl) hepatosplenomegali, Hb 6 mg/dl leukosit 15000/ul, dan trombosit 100.000/ul. Pilihan yang tepat untuk os ini dengan kondisi yang dialaminya :
Kina selama 7 hari
Kina dan primakuin. selama 7 hari
Kina dan klindamisin selama 7 hari
Kina dan doksisiklin
ACT dan klindamisin
Seorang laki-laki berumur 50 tahun, datang ke poli dengan keluhan nyeri pada penisnya karena ada luka kecil-kecil banyak yang berkelompok, nyeri, awalnya mengandung pus. Os bekerja sebagai sopir truk dan belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Berikut ini gambar lukanya:
Penyebab yang paling mungkin adalah:
Haemophilus ducreyi
Treponema pallidum
Herpes simplex
Chlamydia trachomatis
Candida albicans
Seorang pengacara usia 50 tahun datang ke praktek saudara untuk melakukan pemeriksaan HIV. 1 bulan sebelumnya, os baru pulang dari Thailand dan telah melakukan hubungan seksual dengan PSK. Os pernah memeriksakan darah 2 minggu sebelumnya dan dikatakan hasil negatif. Os masih ragu dengan hasil tersebut dan ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan lanjutan apa yang anda sarankan:
HIV Rapid test
HIV RNA
CD4 kuantitatif
Eliza dan westernblot
Kultur HIV
Seorang wanita usia 34 tahun dengan HIV dan kadar CD4 60/mm3 datang dengan demam, diplopia, dan sulit bicara selama 4 hari. Hasil lab terbaru 4 bulan yang lalu menunjukkan : RPR reaktif (titer 1:1) dengan FTA nonreaktif, IgG nonreaktif, IgG toksoplasma nonreaktif, dan IgG VZV nonreaktif. CT scan kepala di UGD menunjukkan 3 lesi densitas rendah di korteks parietal kiri dan kanan serta fossa parietalis yang memberikan ring-enhancing dengan infus kontras.
Penyakit apa yang paling mungkin diderita oleh pasien ini ?
Ensefalitis CMV
Toksoplasmosis
Kriptokokosis
CNS gumma
Ensefalitis VZV
Seorang pria di duga mengeluh penyakit sejak 7 hari yang lalu dan menunjukkan gejala mata kuning dan kencing menjadi seperti teh pekat. Setelah pemeriksaan, dokter mencurigai Weil’s disease.Pengobatan apa saja yang dapat diberikan pada penderita ini?
Penicilin G, Sulfadoksin - pirimetamin.
Amoxicillin, ampicillin, erythromycin, doxycycline
Tetracycline, doxycycline, ampicillin, mettronidazol
Kotrimoksazol, chloramfenikol, Amoxicillin
Gentamisin, Kotrimoksazol, chloramfenikol
Wanita 28 tahun, hamil anak pertama, usia kehamilan 7 bulan. Pasien demam sejak 3 hari lalu, disertai nyeri dan panas saat buang air kecil. Hasil laboratorium: leukosit 18.500/uL, urinalisis: nitrit (+), leukosit tidak ada/lpb.
Antibiotik lini pertama yang dapat diberikan sebelum ada hasil kultur urine adalah:
Seftriakson
Trimetoprim sulfametoksazol
Siprofloxasin
Sefadroksil
Fosfomisin
Seorang laki-laki berusia 15 tahun datang berobat ke poli dengan keluhan sembab pada daerah wajah dan kaki sejak 2 minggu yang lalu. Kesadaran CM, TD 110/70, edema palpebra dan pretibia, paru tidak didapatkan bunyi nafas tambahan, abdomen didapatkan adanya shifting dullness. Laboratorium didapatkan protein +++, kolesterol 645 mg/dl, trigliseride 320 mg/dl, albumin 1,4 mg/dl. Pada gambaran histopatologi ginjal didapatkan adanya effacement difus dari foot process pada epitel. Penyebab utama gangguan ginjal pada pasien ini adalah
Glomerulosklerosis fokal segmental
Nefropati membranosa
Amiloidosis
Glomerulonefritis lesi minimal
Nefropati IgA
Seorang perempuan usia 32 tahun dikonsulkan dari bagian kebidanan ke poli penyakit dalam dengan hamil 10 minggu dan anti HIV (+) dengan CD4 400 sel/mm3. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Tidak ditemukan adanya IO. Apa rencana terapi farmakologi yang tepat pada pasien ini?
Cotrimoxazol 1x960 mg selama 2 minggu dilanjutkan dengan ARV AZT+3TC+ EFV
Cotrimoxazol 1x960 mg selama 2 minggu dilanjutkan dengan ARV AZT+3TC+ NVP (jika CD4 <200)
Pemberian ARV AZT+3TC+EFV tanpa pemberian cotrimoxazol
Pemberian ARV AZT+3TC+NVP tanpa pemberian cotrimoxazol
Tidak perlu pemberian ARV
Seorang laki-laki usia 40 tahun datang ke poli penyakit dalam dengan keluhan sesak dalam 1 minggu terakhir. Os juga mengeluh adanya keluhan batuk dalam 2 minggu terakhir, dengan dahak berwarna putih. Demam dirasakan kadang-kadang. Os diketahui menderita HIV dalam satu tahun terakhir dan mendapatkan pengobatan ARV berupa AZT+3TC+EFV. Riwayat IO sebelumnya disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan RR 28x/m. Conjungtiva pucat (-), ikterik (-). Pada pemeriksaan thoraks didapatkan ronkhi kasar nyaring dikedua apex. Hasil pemeriksaan BTA didapatkan (+). Apa rencana tindakan selanjutnya pada pasien ini?
Pemberian OAT kategori 1 selama 2 minggu dilanjutkan dengan ARV yang sama
Pemberian OAT serempak dengan ARV sebelumnya
Pemberian OAT kategori 1 selama 2 minggu dilanjutkan ARV lini kedua AZT+3TC+LPV/r
Pemberian OAT kategori 1 selama 2 minggu dilanjutkan ARV lini kedua TDF+3TC+LPV/r
Terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan CD4
Pria berumur 40 tahun, dengan riwayat diabetes 10 tahun dan sejak 3 tahun terakhir mempunyai penyakit ginjal kronik stadium V dan infak miokard diading inferior. Dua minggu terakhir sering mengeluh cegukan dan sesak nafas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah : 80/60 mmHg. Frekuensi nadi : 120x/menit, konjungtiva pucat, JVP 5 + 0 cmH2O dan ronkhi basah di basal kedua paru. Pemeriksaan penunjang menunjukkan : Hb 9g/dl. Ureum : 180 mg/dl, Cr : 7 mg/dl.
Metode terapi pengganti yang dikontradikasikan pada pasien ini
:
Hemodialisis konvensional
Sustained low efficiency dialysis
Continuous vena venous hemofiltration
Continuous arierio venous hemofiltration
Continuous ambulatory peritongal dialysis
Seorang Wanita 62th dirawat di Rumah sakit karena Stroke, pada perawatan hari ke 10 pasien didapatkan demam 3 hari ini, pasien terpasang dower kateter sejak hari pertama dirawat, dari selang dower kateter tampak urin keruh, nyeri juga dikeluhkan. Tekanan Darah 100/70mmHg, Nadi 96xmnt, Respirasi 22x/mnt, suhu 39°C. Pada pemeriksaan paru maupun foto rontgen thorax dalam batas normal. Hb 12, AL 13.000, AT 200.000. Segmen 86%.
Pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien ini adalah :
Kultur Urin
Kultur Sputum
Kultur darah
LED
Prokalsitonin
Seorang wanita 46 tahun datang dengan keluhan BAB cair 3x sehari tidak disertai darah, jumlah banyak sejak 3 hari SMRS. Sebelumnya pasien dirawat di RS selama 10 hari karena sakit demam typhoid. Dari riwayat penyakit dahulu pasien mempunyai penyakit darah tinggi, sakit gula, dan penyakit ginjal kronik namun belum disarankan untuk cuci darah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80 mmHg, HR 110x/menit, RR 20x/menit, suhu 38.0oC, didapatkan nyeri tekan pada abdomen bagian bawah. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 11,2 g/dL, HT 34%, leukosit 13.000 u/mcl, trombosit 430 rb/mcl, ureum 50 mg/dL, kreatinin mg/dL 2.4. Dari pemeriksaan feses didapatkan toksin A C. Difficile. Antibiotik yang anda sarankan untuk pasien ini :
Metronidazole oral
Vankomisin supposituria
Metronidazole intravena
Vankomisin intravena
Metronidazole intravena + Vankomisin oral
Hiperkalemia sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) stadium III berhubungan dengan keadaan berikut :
Keadaan septikemia
Obstruksi saluran kemih
Transfusi darah
Obat ACE-inhibitor
Semua pernyatan di atas benar
Faktor resiko non-tradisional penyakit kardiovaskular pada penyakit ginjal kronis sebagai berikut, kecuali :
Hiperfosfatemia
C - Reative Protein
Hiperhomosisteinemia
Anemia
Hiperkolesterolemia
Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri pinggang. Penderita membawa hasil pemeriksaan USG sebelumnya dengan kesimpulan batu pada proksimal ginjal dengan ukuran 9 mm dan hidronefrosis grade I. Tatalaksana yang paling tepat pada kasus diatas adalah:
Percutaneus lithotripsy
Ureteroscopy
ESWL
Pielotomi
Nefrostomi
Seorang laki laki 24 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sakit dada sejak 1 bulan yang lalu dan kadang kadang disertai sesak napas. Tidak ada riwayat perawatan rumah sakit sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg; frekuensi nadi 80x/menit; frekuensi napas 16x/menit. Pada pemeriksaan dada didapatkan ginekomastia dan pada paru didapatkan suara napas vesikuler, tidak ditemukan ronkhi dan wheezing. Hasil laboratorium : Hb 12 g/dL; leukosit 10.500/µL; trombosit 410.000/µL; LED 70 mm/jam. Hasil CT scan toraks sebagai berikut:
Pemeriksaan diagnostik yang tepat dilakukan pada pasien ini adalah:
Neuron Specific Enolase (NSE), tiroglobulin
CA 15-3, tiroglobulin
β-hCG, CEA, AFP
Cyfra 21-1, LDH
Cyfra 21-1, NSE
Seorang laki-laki 51 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam sejak 3 hari yang lalu dan didiagnosis pneumonia. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus. Setelah 2 hari perawatan pasien mengeluh sesak napas yang semakin memberat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit berta; kesadaran apatis; tekanan darah 110/70 mmHg; frekuensi napas 32x/menit; frekuensi nadi 112x/menit; suhu 39 C; dan ditemukan ronki basah nyaring di kedua lapang paru. Analisis gas darah: pH 7,38; PCO2 38 mmHg; PO2 70 mmHg; HCO3 24 mmol/L (dalam terapi oksigen non rebreathing mask 8 L/menit ; FiO2 80%). Hasil foto toraks sebagai berikut:
Acute respiratory distress syndrome
Edema paru kardiogenik
Acute lung injury
Emboli paru
Efusi pleura
Seorang wanita 34 tahun datang ke poli penyakit dalam dengan keluhan batuk dan sesak nafas saat aktivitas yang memburuk selama 3 bulan. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit paru dan tidak pernah menderita asma. Pasien mulai bekerja di sebuah toko hewan peliharaan sekitar 6 bulan lalu, tugasnya meliputi pembersihan kandang burung dan reptil. Pasien mengeluhkan sesekali demam, tidak mengi, kadang batuk kering. Sebelum bekerja di toko hewan pasien tidak memiliki hambatan dalam aktifitas, tapi sekarang mengeluhkan sesak saat naik tangga. Dari pemeriksaan fisik tampak baik, saturasi oksigen saat istirahat 96% pada udara ruangan, suhu 37,7° C, pemeriksaan paru dalam batas normal, tidak ada clubbing ataupun sianosis, hasil pemeriksaan rontgen thoraks dalam batas normal. Diagnosis kerja pasien ini adalah :
Aspergillosis
Asma bronchiale
Pneumonitis hipersensitivitas
Psittacosis
Sarkoidosis
Seorang laki-laki 42 tahun dengan diagnosis diffuse large B cell lymphoma menjalani kemoterapi CHOP 3 siklus dan direncanakan radioterapi 2 Gy/hari selama 20 siklus. Setelah radiasi siklus kedua, pasien datang ke IGD dengan keluhan sesak nafas, batuk kering dan demam. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/70 mmHg, laju pernapasan 28x/menit, nadi 110x/menit, suhu 37.9 oC, saturasi 90% pada udara ruangan, didapatkan ronki pada kedua lapang paru, pemeriksaan rontgen thorak dikesankan infiltrat retikuler difus pada kedua lapang paru, pemeriksaan kultur darah dan sputum tidak didapatkan pertumbuhan kuman. Setelah terapi radiasi dihentikan, terapi apa yang tepat pada pasien ini :
Kortikosteroid
Levofloksasin
Azitromisin
Aniduafungin
Azatioprin
Seorang laki-laki 45 th pekerjaan karyawan swasta datang ke Poliklinik Penyakit Dalam karena keluhan sakit kepala pada pagi hari sejak 2 bulan terakhir. Sakit kepala terasa berat yang hilang timbul dan pada leher terasa kaku. Penderita mengaku sering kurang bersemangat dalam bekerja dan sering mengantuk. Istrinya bercerita suaminya sering mengorok bila tidur. Pasien tidak ada riwayat sakit tekanan darah tinggi, tetapi pasien merokok 40 pak setahun dan kadang minum alkohol. Tekanan darah 140/90 mmHg, Nadi: 92x/mnt reguler, Laju napas: 20 x/mnt, TB: 160 cm BB: 87 kg. Pada pemeriksaan jantung dan paru tidak didapatkan kelainan. Pasien kemudian menjalani pemeriksaan polisomnografi. Berikut ini adalah parameter penilaian pada pemeriksaam polisomnografi untuk mendiagnosis kelainan gangguan tidur obstruksi:
Aliran udara, gerakan lidah, gerakan dada, gerakan perut
Aliran udara, gerakan mata, gerakan leher, saturasi oksigen
Aliran udara, gerakan dada, gerakan perut, saturasi oksigen
Aliran udara, gerakan leher, gerakan dada, saturasi oksigen
Aliran udara, gerakan perut, gerakan lidah, saturasi oksigen
Seorang laki laki 70 tahun, perokok 12 batang/hari sejak usia 30 tahun datang ke poliklinik IPD untuk mengonsultasikan keluhan sesak nafas dan batuk berdahak yang semakin memberat. Salmeterol inhaler yang biasanya dapat mengontrol keluhannya, saat ini hanya dapat meringankan sebentar keluhan-keluhanya. Tiga hari terakhir pasien sulit tidur karena batuk terus-menerus. Demam dan batuk darah disangkal. Pasien baru mendapat imunisasi influenza 3 bulan lalu setelah pulang dari perawatan di RS karena kumat. Pemeriksaan fisik saat ini: TD 130/80 mmHg, HR 100 x/mnt reguler dan tegangan cukup, RR 26 x/mnt, temp 36.7 oC, pulse oxymetri 96%, barrel chest (+), ekspirium memanjang (+), kardiomegali (-), edema tungkai (-). Laboratorium: hemoglobin 14,8 mg/dL, leukosit 8700 /mmk, trombosit 260.000/mmk. Foto thoraks: emfisematous (+), infiltrat (-). Hasil pemeriksaan spirometri pasien sebagai berikut : pre bronkodilator FVC 3.29 L, FEV1 1.3 L dan paska bronkodilator FVC 3.34 L, FEV1 1.35 L. Obat apa yang ditambahkan sebagai tatalaksana lanjutan pada pasien ini adalah?
SABA
Teofilin
Tiopropium inhalasi
Antibiotika
Phosphodiesterase inhibitor
Laki-laki berusia 40 tahun datang ke Poliklinik Penyakit Dalam dengan keluhan batuk kronik dengan dahak purulen dan kadang-kadang bercampur darah. Pasien juga mengeluh nyeri perut yang sering datang mendadak. Keluhan tersebut tidak membaik dengan minum obat maag. Berat badan menurun. Dari pemeriksaan fisik didapatkan paru tampak membesar seperti tong dan didapatkan suara nafas bronkhial. Foto toraks menunjukkan hiperinflasi dengan diafragma yang mendatar dan penebalan dinding bronkus. Pemeriksaan chlorida keringat (+). Terapi definitif pada pasien ini adalah:
Transplantasi paru
Antibiotika
Kortikosteroid
Bronkhodilator
Amiloride
Seorang laki-laki usia 42 tahun datang ke instalasi gawat darurat diantar keluarganya dengan keluhan sesak nafas yang semakin memberat dalam 3 hari. Pasien demam selama 1 minggu terakhir, batuk tidak berdahak sejak 1 bulan, tidak ada batuk darah. Sebelumnya pasien sudah berobat ke Puskesmas namun keluhan tidak membaik. Pasien tampak kurus, mengaku berat badan turun 15 kg dalam 3 bulan. Istri kedua pasien telah meninggal 5 tahun lalu akibat komplikasi penyakit paru. Pasien juga mengeluh seringkali sulit menelan makanan akibat sariawan yang muncul hilang timbul. Dari pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 110/60 mmHg, Nadi 104 x/menit, pernafasan 32 x/menit, ditemukan oral thrush, tidak ditemukan ronkhi, wheezing, maupun experium memanjang. Pada hasil pemeriksaan lab didapatkan HIV reaktif, CD4 : 190 sel. Hasil pemeriksaan X foto thorax sebagai berikut :
Pemeriksaan deteksi antigen yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis pasien ini adalah :
Galactomannan
1,3 β D glucan
Kultur sputum
CFTR
Antigen PCP di sputum
Seorang laki-laki berusia 60tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak napas. Pada pemeriksaan fisik distensi vena jugularis, gallop, hepatomegali, dan edema tungkai minimal. Pada auskultasi terdapat wheezing di kedua lapang paru. Pemeriksaan EKG memperlihatkan pergeseran aksis ke kanan, R>S dilead VI dan P pulmonal. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 15g/dl, Ht 58%, leukosit 5.000/mm3, trombosit 480.000/mm3. Analisa gas darah pH 7,26, HCO 318 ,pO2 60, pCO 245, SO2 88%. Indikasi pemberian terapi oksigen pada pasien ini adalah :
Overload cairan
pO2 60
pCo2 45
SO2 88%
Asidosis metabolik
Pasien laki-laki 35 tahun datang dengan keluhan demam, mudah lelah, nyeri otot, dan nyeri sendi. Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis, eosinophilia, dan peningkatan LED. Gambaran EKG didapatkan elevasi segmen ST, serta rontgen thoraks dalam batas normal. Apa yang menjadi kemungkinan diagnosis pasien?
Kardiomiopati
Miokarditis
Penyakit Jantung Rematik
Endokarditis infektif
Acute Coronary Syndrome
Pernyataan yang benar mengenai blok AV I
Disebabkan oleh proses degenerasi, peradangan, intoksikasi digitalis dan infark miokard akut
Umumnya disebabkan karena gangguan konduksi di proksimal His bundle
Disebabkan karena tonus vagus yang meningkat
Dapat timbul serangan sinkop
Sebaiknya dilakukan pacu jantung
Laki-laki berusia 62 tahun mengeluh beberapa minggu mengalami sesak yang memburuk. Pasien juga mengalami keluhan dada seperti ditindih benda berat saat sedang menaiki tangga, disertai sakit kepala. Pasien sering mengeluh sesak di malam hari dan tidur dengan 2-3 bantal. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan vena jugularis 5+3 cm H2O, murmur sistolik grade 3/6 pada proyeksi katup disela iga 2 parasternal kiri yang menjalar kesekitar klavikula, aksila, dan leher serta edema pitting kedua pretibial. Kemungkinan penyebab gagal jantung pada pasien ini adalah:
Stenosis aorta
Regurgitasi aorta
Stenosis pulmonal
Regurgitasi pulmonal
Valvular heart disease
Seorang wanita 28 tahun dengan riwayat SLE datang kontrol ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri dada substernal, terasa lebih nyeri saat menarik nafas dan batuk, dan berkurang jika membungkuk kedepan sejak 2 minggu yang lalu, dan semakin bertambah berat sejak kemarin. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 100/60 mmHg, Nadi 98 kali/menit, respirasi 26 kalipermenit, temp37.5°C, dan ditemukan adanya fiction rub. Pada echocardiografi ditermukan adanya efusi perikard pocketed, sebanyak 50cc. Pasien sudah mendapatkan terapi Indometasi 150 mg per hari sejak 2 minggu sebelumnya. Apakah tatalaksana yang diperlukan pada pasien tersebut?
Lanjuktkan Indometasi 150 mg/hari sampai dengan 6 minggu
Perikardiosintesis
Ditamhakan Azatiophrine50 mg/hari, dan prednisolon 40 mg/hari
Ditambahkan hidroksi kloroquin 200 mg/hari dan prednison 10 mg/hari
Ditambahkan prednison 60 mg/hari
Seorang laki-laki berusia 28 tahun dibawa keluarga ke IGD dengan sesak napas yang semakin memberat sejak 7 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit berat, kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 128 kali/menit, frekuensi napas 32 kali/menit, JVP 5+4 cm H2O, pemeriksaan jantung didapatkan thrill, pingang jantung menghilang, opening snap dan murmur diastolik di apeks menjalar ke aksila. Auskultasi paru terdapat ronki basah halus dikedua basal paru. Gejala klinis pada kasus diatas paling mungkin disebabkan oleh :
Hambatan aliran darah dikatup aorta
Adanya penambahan massa otot ventrikel kiri
Adanya fusi serta perpanjangan korda
Fibrosis dan penebalan daun katup
Adanya severe volume overload
Seorang laki-laki tanpa identitas berusia kurang lebih 30-35 tahun ditemukan kondisi tidak sadarkan diri dipinggir jalan. Penderita tersebut lalu dibawa ke UGD terdekat. Dari pemeriksaan fisik umum didadapat GCS E1V1M1, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur, pada pemeriksaan EKG awal mengalami ventrikel fibrilasi. Penderita dilakukan resusitasi dengan 2 siklus RJP dan 2 defibrilasi. Setelah defibrilasi pertama selesai, pada monitor terlihat
Tindakan apa selanjutnya yang paling tepat dikerjakan:
Defibrilasi 360 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan epinefrin 0.5 mg
Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan sulfas atropin 0,5mg
Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan vasopresin 40 unit
Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan amiodarone300 mg
Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan epinefrin 1 mg
Berikut ini pernyataan yang salah mengenai penyakit jantung hipertensi adalah :
Hipertrofi ventrikel kiri yang terjadi pada penyakit jantung hipertensi merupakan kompensasi jantung menghadapi tekanan darah tinggi ditambah dengan faktor neurohormonal
Patofisiologi terjadinya hipertrofi konsentrik adalah fungsi diastolik yang terganggu akibat dari gangguan relaksasi ventrikel kiri, kemudian disusul dengan dilatasi ventrikel kiri.
Pada tahap awal, seperti pada hipertensi pada umumnya kebanyakan tidak bergejala
Perlu dilakukan evaluasi terhadap kemungkinan hipertensi sekunder, faktor-faktor yang akan mempengaruhi pengobatan, kerusakan organ target dan faktor resiko PJK lainnya.
Bila sudah terjadi gagal jantung hipertensi, maka prinsip pengobatannya sama dengan pengobatan gagal jantung lainnya.
Seorang perempuan, 55 tahun datang dengan keluhan mudah lelah bila beraktivitas, sering sesak, tidur harus dengan bantal tinggi, dan kedua kaki bengkak. Pasien mengatakan dalam pengobatan TB paru bulan pertama. Pemeriksaan fisik pasien sadar baik, GCS E4V5M6, TD 130/80 nadi 112 x/menit, JVP 5+2, terdapat tanda kusmaule, hepatomegali, dan asites. Elektokardiografi menunjukkan voltase rendah. Ekokardiografi menunjukkan penebalan perikard. Terapi kausal untuk memperbaiki keluhan dan prognosis pada pasien tersebut adalah:
Betablocker
Pungsi Pericardium
Kortikosteroid
Diuretic
Reseksi pericardium
Seorang laki-laki 51 tahun datang ke IGD dengan nyeri perut yang semakin memberat, dari anamnesis sebelumnya pasien adalah seorang alkoholik dan minum alcohol rutin 1 gelas per hari selama bertahun-tahun, tahun lalu pasien datang ke IGD karena perdarahan varices esofagus dan telah dilakukan ligase. Sejak itu 4 bulan kemudian pasien mengalami ascites, dan dilakukan parasintesis. Pemeriksaan dibawah ini yang memiliki nilai normal adalah?
Protombine Time
Factor II
Factor III
Faktor VII
Faktor X
Seorang perempuan 32 tahun G2PS datang dengan adanya riwayat perdarahan yang memanjang setelah persalinan secito, pasien sering merasa lemah saat beraktivitas, pasien merasa setiap haid dirasa jumlahnya lebih banyak dan lebih lama. Pasien haid pada jadwal bulananya. Pasien adalah seorang instuktur Yoga. Pada pemeriskaan fisik pasien mengalami memar pada lengan kiri dan ptekie pada kaki kanan. Pada pemeriskaan fungsi perdarahan didapatkan jumlah trombosit normal, Bleeding time memanjang, PT normal, dan APTT Normal, morfologi platelate pada analisa darah tepi normal. Dkemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah
Endometriosis
Perdarahan uteus disfungsi
Hemofilia A
Penyakit Von Willebrand
Bernard Soulier syndrome
Seorang Laki-laki 18 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemas, demam dan nyeri kepala. Dari riwayatnya pasien mengalami diare 1 minggu sebelumnya dan saat ini pasien tidak mengeluhkan gejala yang lain. Pada pemeriksaan TD 115/75, nadi 98 pernapasan 16 x/menit suhu 37,9 pada pemeriksaan yang bermakna didapatkan adanya icterus, anemis, ptekie. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 9,2 mg/dl, Hct 29 WBC 8700, Trombosit 76.000, Na 139 Cl 103, Cl 103, HCO3 30, BUN 35 Cr 2,1, glukosa 143. Birirubin total 3,2, indirek 2,7. Pemeriksaan Analisa darah tepi didpaatkan sistocyte. Diagnosis yang paling mungkin pasien ini adalah
Imun trombositopenia purpura
Trombotic trombocitopenia purpura
Evan syndrome
Hemolitic uremic syndrome
Anemia hemolitik autoimmune
Seorang laki-laki umur 65 tahun datang dengan benjolan pada ketiak, leher dan selangkangan. Pasien kemudian dilakukan biopsy dan didpatkan non hodgin limfoma. Pasien akan diberikan kemoterapi regimen CHOP. Tindakan pencegahan pada pasien untuk mencegah terjadinya sindroma lisis tumor
Hidrasi cairan 2-3 liter dimulai 24 jam sebelum kemoterapi, kemudian diberikan allopurinol 300 mg 2 kali sehari dan pemberikan natrium bicarbonate 150-300 meq untuk setiap liter cairan yang diberikan
Hidrasi cairan 2-3 liter dimulai 24 jam sebelum kemoterapi, kemudian diberikan allopurinol 300 mg 3 kali sehari dan pemberikan natrium bicarbonate 150-300 meq untuk setiap liter cairan yang diberikan
Hidrasi cairan 1-2 liter dimulai 24 jam sebelum kemoterapi, kemudian diberikan allopurinol 100 mg 2 kali sehari dan pemberikan natrium bicarbonate 150-300 meq untuk setiap liter cairan yang diberikan
Hidrasi cairan 1-2 liter dimulai 24 jam sebelum kemoterapi, kemudian diberikan allopurinol 100 mg 3 kali sehari dan pemberikan natrium bicarbonate 150-300 meq untuk setiap liter cairan yang diberikan
Hidrasi cairan 3-4 liter dimulai 24 jam sebelum kemoterapi, kemudian diberikan allopurinol 100 mg 2 kali sehari dan pemberikan natrium bicarbonate 150-300 meq untuk setiap liter cairan yang diberikan
Seorang laki-laki berusia 27 tahun, datang berobat ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan lemas dan pusing-pusing sejak 1 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang, konjungtiva pucat, sklera ikterik, tidak didapatkan adanya pembesaran KGB, hepar dan limpa, dan BAK berwarna hitam tiap pagi hari. Hasil laboratorium yang dibawa menunjukkan Hb 8,5 g/dl; leukosit 3.800/μL; trombosit 130.000/μl; hematokrit 25,5%, retikulosit 2,7%; indeks retikulosit 1,77; fungsi hati dan ginjal dalam batas normal. Saran pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis pada pasien adalah:
BMA
Coomb test
Tes fragilitas osmotik
Sugar water test, CD55, CD59 (+)
BMA dan biopsi sumsum tulang
Wanita usia 65 tahun dirawat dirumah sakit dengan diagnosis DVT tungkai kanan bawah. Dari anamnesis didapatkan sebelumnya pasien dirawat dirumah sakit sebelum dirujuk, dan mendapatkan terapi LMWH. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan jumlah trombosit 100.000/μl. Pasien ini kemudian diberikan unfractionated heparin, dan 10 jam kemudian jumlah trombosit menurun jadi 20.000/μl. Bagaimanakah manajemen selanjutnya yang paling tepat untuk pasien ini?
Stop UFH, berikan transfusi trombosit, kemudian UFH dapat diberikan kembali jika trombosit > 150.000/μl
Stop UFH, segera ganti dengan LMWH
Stop UFH, segera ganti dengan direct thrombin inhibitor
Stop UFH, tanpa diberikan transfusi trombosit, lakukan monitoring jumlah trombosit, dan dapat mulai diberikan kembali UFH jika jumlah trombosit > 150.000/μl
Stop UFH, tanpa diberikan transfusi trombosit, lakukan monitoring jumlah trombosit, dan dapat mulai diberikan kembali LMWH jika jumlah trombosit > 150.000/μl
Seorang laki-laki, berumur 19 tahun, datang ke IRD karena bengkak dan nyeri pada sendi lutut sebelah kanan setelah pasien bermain futsal. Sejak usia 8 tahun, pasien sudah terdiagnosis Hemofilia A dan suntik FVIII rekombinan rutin 1500U 2x/minggu. Tidak ada perdarahan di lokasi tubuh yang lain. Dalam 6 bulan ini, pasien MRS dengan keadaan seperti ini sebanyak 3 kali setelah berolahraga di mana sebelum 6 bulan ini pasien tidak pernah mengalami bengkak sendi dengan intensitas olahraga yang sama. Dari pemeriksaan fisik, tanda vital stabil, didapatkan bengkak genu kiri disertai nyeri tekan/gerak. BB pasien 50 kg dan TB 160 cm. Dari pemeriksaan darah didapatkan APTT memanjang, PPT normal, aktivitas FVIII 4%, waktu perdarahan normal, hasil lab lain dalam batas normal. Pemeriksaan lanjutan apa yang perlu dilakukan untuk menentukan terapi pasien berikutnya?
Tidak perlu pemeriksaan tambahan karena diagnosis sudah jelas
Pemeriksaan tes agregasi trombosit
Pemeriksaan kadar von Willebrand dan uji Ristosentin
Pemeriksaan antibodi FVIII
Pemeriksaan aktivitas FIX dan FXI
Seorang wanita usia 60 tahun menderita chronic lymphocytic leukemia (CLL) mengeluh lemah dan air seni berwarna gelap. Telah dilakukan kemoterapi terhadap CLL dengan sesi kemoterapi terakhir sekitar 3 bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik didapatkan sklera ikterik, limfadenopati cervical, dan splenomegali. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 6,5 g/dl, trombosit 200.000/μl, retikulosit 13%, bilirubin total 6 mg/dl, LDH 357 U/L dan tes direct antiglobulin (+) menunjukkan antibodi berstruktur pentamer. Apakah diagnosis paling mungkin dari pasien tersebut:
Cold-antibody mediated hemolytic anemia
Warm-antibody mediated hemolytic anemia
Microangiopathic hemolytic anemia
Oxidative hemolytic anemia
Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria
Seorang pasien perempuan berusia 46 tahun datang dengan keluhan rasa lelah; gusi berdarah; pada pemeriksaan fisik didapatkan petechiae di tungkai bawah, hipertrofi ginggiva. Laboratorium Hb 9,0 g/dL; Ht 27%; leukosit 49500/mm3; trombosit 88.000/mm3; ureum 40 mg/dL; kreatinin 0,9 mg/dL; SGOT 32 u/L; SGPT 30 u/L, pemanjangan 2x PPT dan APTT. Pasien membawa hasil pemeriksaan dengan tertulis AML subtype FAB Promielositik. Abnormalitas sitogenetik yang dapat ditemukan pada pasien
Hilangnya lengan panjang kromosom 5, del (5q)
Inversi kromosom 16, inv (16)
Translokasi resiprokal kromosom 9 dan 22 atau philadelphia atau BCR ABL
Translokasi rantai panjang dari kromosom 15 dan 17
Mutasi FLT3
Seorang pasien laki-laki, berusia 67 tahun, datang ke poli penyakit dalam dengan benjolan pada tulang rahang sebelah kiri bawah dan makin lama makin besar. Benjolan kadang nyeri. Dari pemeriksaan fisik, didapatkan benjolan pada rahang kiri bawah, padat, keras, fixed, dan tidak mobile, tidak nyeri bila ditekan, dan tidak didapatkan hepato/splenomegali. Dilakukan biopsi terbuka pada benjolan tersebut, didapatkan kumpulan sel plasma. Dari pemeriksaan aspirasi sumsum tulang: sel plasma 3%, kadar immunoglobulin monoclonal <3 g/dl, tidak terdapat lesi tulang lain dari bone survey, Hb 11.2 g/L, kalsium serum 8 mg/dl, kreatinin serum 1 mg/dl, tidak ada tanda-tanda infeksi, dan protein Bence-Jones urin negatif. Dari data tersebut, kemungkinan diagnosis pasien ini adalah :
Multipel mieloma
Makroglobulinemia Waldenstrom
Gamopati monoklonal jinak
Amiloidosis primer
Smoldering myeloma
Seorang perempuan 70 tahun, datang ke poliklinik dengan kondisi hampir putus asa akibat sulit tidur sejak 2 tahun. Pasien sering berobat ke beberapa spesialis dan telah mendapat berbagai obat seperti estazolam, serta berbagai obat anti depresan dan ansiolitik, namun tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pada pemeriksaan fisik tidak didapatkan kelainan yang bermakna, hanya nampak letih. Terapi yang paling tepat diberikan pada pasien ini adalah :
Amitriptilin dan cognitive behavioral therapy (CBT)
Zolpidem dan cognitive behavioral therapy (CBT)
Sertralin dan cognitive behavioral therapy (CBT)
Alprazolam dan psikoterapi superfisial
Triazolam dan psikoterapi superfisial
Perempuan 25 tahun mengeluh rasa panas di leher, dada dan hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Setiap timbul rasa panas tersebut pasien merasa sangat ketakutan dan panik, serta merasa seperti tercekik dan sesak. Kadang kadang timbul sakit kepala dan kaku di leher. Pasien sampai menangis karena takut meninggal akibat penyakitnya. Jantung terasa berdebar debar. Setelah timbul serangan pasien merasa sangat lelah. Bila keluhan tidak timbul, pasien merasa seperti orang sehat. Bila sedang takut, pasien akan muncul gejala diare, mual-muntah. Pasien baru pindah kerja sejak 1 tahun ini dan dirasakan beban kerja yang terlalu berat. Ketidakseimbangan vegetative pada pasien ini adalah:
Hipertoni parasimpatis
Hipotoni parasimpatis
Hipertoni simpatis
Hipertoni parasimpatis
Ataksia vegetative
Perempuan 25 tahun mengeluh rasa panas di leher, dada dan hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Setiap timbul rasa panas tersebut pasien merasa sangat ketakutan dan panik, serta merasa seperti tercekik dan sesak. Kadang kadang timbul sakit kepala dan kaku di leher. Pasien sampai menangis karena takut meninggal akibat penyakitnya. Jantung terasa berdebar debar. Setelah timbul serangan pasien merasa sangat lelah. Bila keluhan tidak timbul, pasien merasa seperti orang sehat. Bila sedang takut, pasien akan muncul gejala diare, mual-muntah. Pasien baru pindah kerja sejak 1 tahun ini dan dirasakan beban kerja yang terlalu berat. Diagnosis ketidakseimbangan vegetative pada pasien merupakan
Axis II, bersamaan dengan gangguan panik
Axis III, dengan Axis I gangguan panik
Axis I, bersamaan dengan gangguan panik
Axis V dengan GAP scale 50-60
Axis I pasien ini Sindroma lelah kronik
Seorang laki-laki 49 tahun, menikah, seorang pegawai bank, datang ke poliklinik dengan keluhan sering merasa lelah disertai rasa tidak nyaman di leher dan beberapa titik pada punggung, disertai kepala tegang hilang timbul sejak 2 tahun lalu. Saat bangun pagi pasien masih merasa lelah dan kembali nyeri disertai dengan nyeri pinggang. Kadang2 pasien terbangun malam hari dan sulit untuk tidur lagi. Diagnosis yang mungkin pada pasien ini adalah:
Fibromialgia
Myofacial syndrome
Tension headache
Chronic fatique syndrome
Cervical syndrome
Seorang perempuan berusia 28 tahun dengan riwayat asma bronkhiale datang ke IGD dengan keluhan sesak napas, disertai rasa mau pingsan dan kesemutan sejak 1 jam yang lalu. Dalam satu tahun terakhir pasien mengalami gejala serupa ini sekitar 5 kali. Pasien memiliki riwayat asma sejak kecil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien nampak sesak dengan frekuensi napas 32x/menit, dangkal. Auskultasi paru tidak terdapat ronkhi maupun mengi. Dari BGA didapatkan pH 7.6 pCO2 16 pO2 96 HCO318 BE -5 SatO2 100%. Terapi yang tepat:
O2 nasal, kalsium glukonas iv, benzodiazepine
O2 rebreathing mask, kalsium glukonas iv, benzodiazepine
O2 nasal, kalsium glukonas iv, CBT
O2 rebreathing mask, kalsium glukonas iv, CBT
Kalsium glukonas iv, benzodiazepine, CBT
Seorang perempuan berusia 28 tahun dengan riwayat asma bronkhiale datang ke IGD dengan keluhan sesak napas, disertai rasa mau pingsan dan kesemutan sejak 1 jam yang lalu. Dalam satu tahun terakhir pasien mengalami gejala serupa ini sekitar 5 kali. Pasien memiliki riwayat asma sejak kecil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien nampak sesak dengan frekuensi napas 32x/menit, dangkal. Auskultasi paru tidak terdapat ronkhi maupun mengi. Dari BGA didapatkan pH 7.6 pCO2 16 pO2 96 HCO318 BE -5 SatO2 100%. Diagnosis pasien tersebut adalah
Gangguan panik
Cervical syndrome
Hindroma hiperventilasi
Asma eksaserbasi
Bronkitis akut
Seorang perempuan 34 tahun datang ke IGD dengan keluhan dada kiri sakit dan tidak menjalar disertai sesak nafas seperti tercekik. Jantung berdebar-debar dan keringat dingin. Keluhan dirasakan mendadak selama 10 menit dan membaik dengan beristirahat. Keluhan ini telah dirasakan beberapa kali dalam 3 bulan terakhir. Pasien tidak mempunyai riwayat darah tinggi dan diabetes melitus. Pasien bukan perokok, tidak ada riwayat penyakit keluarga asma dan jantung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg; frekuensi nadi 100 x/mnt; lain-lain dalam batas normal. Neurotransmiter yang paling berperan pada kasus ini adalah :
Norepinefrin
Serotonin
Asetilkolin
Dopamin
Endorfin
Seorang wanita 65 tahun dibawa oleh anak perempuannya ke klinik geriatri karena keluhan nafsu makan berkurang. Dia hanya menghabiskan separuh piring tiap makan, dengan komposisi sayur hanya sedikit, dan tidak mau makan buah karena mengeluh perih lambung bila makan buah. Penglihatan pasien juga berkurang dan sering mengalami bibir kering dan pecah-pecah. Kondisi umum masih baik, tekanan darah 145/80 mmHg, nadi 72 kali per menit reguler, laju nafas 18 kali per menit, suhu 36,7°C. Indeks massa tubuh 17 kg/m2. Anak pasien menginginkan ibunya diberi vitamin. Dokter menyetujui pemberian vitamin dengan catatan tertentu. Kebutuhan vitamin berikut ini yang berkurang pada kasus di atas adalah:
Vitamin A
Vitamin B
Vitamin C
Vitamin D
Vitamin E
Seorang wanita 65 tahun diantar oleh anaknya ke dokter karena demam dan terasa panas saat berkemih dalam 2 minggu terakhir. Dari anamesis yang diperoleh dari anak pasien, dalam 1 bulan terakhir sang anak meminta ibunya selalu menggunakan diapers sejak pasien ngompol ditempat tidur pada suatu malam dihujan yang deras. Pada pemeriksaan fisik TD 130/80 mmHg Nadi 96x/menit RR 18 x/I temp 37.70C, dan didapatkan nyeri tekan pada suprapubik, selama ini pasien masih dapat melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain. Kelalaian apakah yang didapatkan pada pasien tersebut ?
Underdiagnosis
Overdiagnosis
Infeksi saluran kemih
Adanya paksaan lingkungan
Ketergantungan yang dipaksakan
Seorang wanita 78 tahun menderita stroke sejak 5 tahun yang lalu. Sejak saat itu pasien hanya dapat berbaring di tempat tidur dan mengalami kesulitan menelan sehingga asupan makanannya menjadi berkurang. Pasien mengalami penurunan berat badan 10 kg sejak 5 tahun yang lalu. Dari pemeriksaan didapatkan IMT 18.5, TD 140/80 mmHg dan kadar vitamin D serum 120 nmol/L. Patofisiologi kondisi yang mendasari penurunan berat badan pada pasien tersebut di atas adalah
Aktivitas fisik yang rendah mengakibatkan kehilangan massa lemak yang mengakibatkan kelemahan tubuh
Pada lansia terjadi penurunan area serat otot tipe I lebih banyak daripada penurunan serat otot tipe II
Terjadi penurunan massa lemak tubuh yang meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin
Proses penuaan menurunkan respon produksi sitokin proinflamasi yang terjadi secara kronik dan gradual
Terjadi defisiensi protein yang menyebabkan penurunan kekuatan dan massa otot
Seorang laki-laki 70tahun, datang ke tempat praktek saudara, mengeluh sulit BAB sejak 2 minggu belakangan ini. BAB hanya sekali dalam 3 hari terakhir ini. BAB harus mengejan, merasa tidak tuntas, feces keras, disertai nyeri perut saat BAB. BAB tidak disertai darah maupun lendir, berat badan tidak menurun dan tidak demam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 140/90, nadi 95x/menit, RR 20x/menit, suhu 37,5 C. Pada rectal toucher didapatkan ampula recti tidak kolaps tonus sfingter ani cukup, tidak didapatkan massa, teraba feces dengan konsistensi keras. Dari pemeriksaan uji manometri didapatkan hasil normal.
Penyebab terbanyak dari kasus diatas adalah :
Non spesifik
Gangguan tekanan rektum dan anus
Gangguan kontraksi dan relaksasi otot rektum
Gangguan sistem saraf pudendus
Keganasan kolorektal
Seorang laki-laki berusia 65 tahun, pensiunan bankir yang saat ini memiliki kesibukan mengurus usaha keluarga. Pasien datang ke poliklinik penyakit dalam atas inisiatif sendiri karena mengeluh akhir-akhir ini kesulitan dalam mengurus keuangan usaha keluarganya, juga merasa sulit mengendarai mobil padahal selama ini pasien selalu mandiri, pergi kemanapun tanpa diantar oleh sopir. Pasien juga sering merasa bingung untuk melanjutkan kalimat yang harus dibicarakan. Pasien menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu dan terkontrol dengan 1 macam obat antihipertensi. Pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan untuk diperiksa secara rutin pada pasien ini adalah sebagai berikut, kecuali:
Kadar vitamin B12
Fungsi hati
Fungsi tiroid
VDRL
Elektrolit
Seorang wanita berusia 65 tahun dengan batu ginjal rekuren, didiagnosis hiperparatiroidisme (kalsium total 13,3 mg / dL, hormon paratiroid [PTH] 380Pg / mL). Seorang ahli bedah paratiroid berpengalaman melakukan paratiroidektomi minimal invasif dan menghilangkan adenoma paratiroid besar (6 g). Pasca operasi, pasien merasa baik dan mulai makan makanan normal. Pada 24 jam pasca operasi, ia mulai mengalami kesemutan perioral dan tanda Chvostek positif. Tingkat kalsium menurun menjadi 8,1 mg / dL, kalsium karbonat (600 mg kalsium, 3 tablet setiap hari) diberikan secara oral. Pada hari ke 2 pasca operasi, kesemutan berlanjut dan hasil tes laboratoriumnya adalah sebagai berikut: kalsium total 7,4 mg / dL, fosfor 1,5 mg / dL, albumin 3,9 g / dL, dan kreatinin 1,0 mg / dL. Anda memberikan kalsium intravena dan meningkatkan dosis oral kalsiumnya, serta memulai terapi calcitriol. gejala pasien membaik. Apa penjelasan terbaik untuk temuan ini?
Hungry Bone Syndrome
Defisiensi vitamin D yang parah
Hipoparatiroidisme transien dari manipulasi bedah
Hipoparatiroidistransien dari penekanan jangka panjang dari paratiroid normal
Kurangnya penyerapan kalsium oral
Seorang laki-laki berusia 72 tahun dibwa oleh keluarganya ke IGD dengan keluhan terjatuh dari kamar mandi. Pada pemeriksaan fisik tanda vital TD 140/80 Nadi 120x/menit ireguler, Respirasi 20x/menit, suhu 36,8 C. Paru dan Jantung tidak didapatkan kelainan. Apakah pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menentukan penyebab jatuh pada pasien tersebut?
Darah rutin
Elektrokardiografi
CT Scan kepala
Rontgen toraks
BERA
Seorang laki-laki usia 68 tahun dibawa ke IGD karena bicara meracau, demam,penurunan nafsu makan dan batuk sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat BAB hitam dan muntah hitam tidak ada dan riwayat BAB 1 jam yang lalu. Pasien sudah pernah dirawat 1 bulan yang lalu dengan keluhan yang sama dan menderita hepatitis kronis. Pada pemeriksaan di dapatkan tekanan darah 100/80 mmHg, denyut jantung 100 kali/menit, frekuensi napas 21 x/menit dan suhu afebris. Pemeriksaan fisik didapatkan spider nevi, shifting dullnes tidak ada dan flapping tremor. Penanganan pada pasien ini meliputi:
Pemberian makanan dengan kadar protein yang tinggi
Pemberian diuretik dosis tinggi
Tidak perlu memberikan laksansia
Pemberian antibiotik
Pemberian asam amino aromatik
Vaksinasi apakah yang dikontraindikasikan pada pasien imunokompromais (non HIV) dan kehamilan adalah …
Varicella, Tetanus, Influenza
Varicella, Zoster dan MMR
Zoster, pneumokokal dan meningitis
Hepatitis B, varicella dan influenza
Hepatitis A, HPVdan difteri.
Seorang perempuan usia 32 tahun warga negara Perancis datang ke poliklinik untuk mendapatkan vaksinasi. Dia akan melancong ke Jakarta dan pulau Bali dan ingin menikmati wisata kuliner Indonesia. Sudah 15 tahun terakhir pasien tidak pernah vaksinasi. Apakah vaksinasi yang dianjurkan pada kasus ini?
Vaksin Hepatitis A, tifoid, rabies dan influenza
Vaksin MMR, Hepatitis B, tifoid dan influenza
Vaksin Yellow Fever, Japanese B ensefalitis, influenza dan meningokok
Vaksin influenza, tifoid , yellow fever dan pneumokokus
Vaksin HPV, influenza dan rabies, hepatitis A
Seorang pasien wanita 24 tahun datang dengan keluhan rambut rontok, nyeri-nyeri sendi, dan bercak kemerahan pada wajah apabila terkena sinar matahari sejak 3 bulan ini. Pasien sudah dikenal menderita penyakit anemia hemolitik sebelumnya. Pernyataan yang benar mengenai penyakit yang mungkin menjadi penyebab anemia hemolitiknya adalah:
Terdapat keterlibatan faktor genetik
Dikaitkan denga HLA kelas II
Dikaitkan dengan defisiensi C3 dan C4
Tidak terkait dengan hipereaktivitas sel B
Anti-sm positif pada 20-40% pasien dengan penyakit ini
Wanita 39 tahun, datang ke praktek swasta dengan keluhan utama bentol kemerahan pada kulit hampir seluruh tubuh dan gatal. Keluhan tersebut telah dirasakan sejak 3 hari ini. Disamping itu penderita juga mengeluh terasa bengkak pada kedua kelopak mata, pegel-pegel, linu pada persendian dan juga badan meriang. Pasien mengalami hal ini setelah mengkonsumsi obat cefadroksil. Bagaimana mekanisme terjadinya reaksi hipersensitifitas tipe ini?
Efek mediator biologi akibat reaksi antigen dengan IgE
Efek mediator biologi akibat reaksi antigen dengan Ig M
Efek mediator kimia akibat reaksi antigen dengan Ig E
Efek mediator kimia akibat reaksi antigen dengan Ig M
Efek mediator kimia akibat reaksi antigen dengan Sitokin Referensi
Seorang laki – laki, usia 23 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada daerah muka, disertai dengan hidung tersumbat dan panas badan sejak 8 hari yang lalu. Riwayat sebelumnya pasien bila pagi hari sering bersin – bersin dan telah diobati dengan nafazolin, dan biasanya keluhan akan membaik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan TD : 120/70 mmHg, denyut nadi : 92 x/menit, frekuensi nafas : 20 x/menit, suhu tubuh : 37.8°C Berikut ini yang benar mengenai kasus di atas adalah :
Pada stadium akut selalu sembuh sempurna setelah pengobatan efektif
Pemberian antibiotik pilihan utamanya adalah siprofloksasin
Sekret purulen di rongga hidung disertai telinga yang sakit adalah faktor mayor
MRI hanya dianjurkan bilamana dicurigai penyebabnya adalah tumor atau jamur
Bila dicurigai adanya imunodefisiensi kongenital dapat dilakukan pemeriksaan IgE, IgM dan IgG
Seorang wanita usia 36 tahun datang berobat ke poliklinik untuk pemeriksaan kehamilannya dan meminta untuk divaksinasi. Pasien rutin kontrol ke poliklinik karena penyakit asmanya. Pasien sedang hamil 30 minggu anak ke-duanya. Pemeriksaan fisik didapatkan sensorium compos mentis, TD 120/70 mmHg, RR 20x/menit, suhu 36,50C, tidak ditemukan ronkhi dan wheezing. Vaksin yang direkomendasikan pada pasien ini adalah :
Vaksin MMR, varisela, yellow fever
Vaksin influenza, tetanus toksoid, hepatitis B
Vaksin MMR, tetanus toksoid, hepatitis B
Vaksin influenza, tetanus toksoid, yellow fever
Vaksin influenza, tetanus toksoid, hepatitis B, varisella
Seorang perempuan usia 29 tahun, datang berobat ke poliklinik Pasien mengeluh sering timbul bentol-bentol dan kemerahan pada kulit yang disertai gatal-gatal setelah makan kacang tanah. Pasien juga sering bersin-bersin jika sedang menyapu dan membersihkan rumah kadang-kadang nafas terasa sempit sehingga menimbulkan bunyi mengi. Protein alergen penyebab alergi pada pasien tersebut adalah:
Ovalbumin
Kasein
Ara h1
Whey
Ghad c1
Seorang perempuan 25 tahun datang dengan keluhan rasa lelah yang hebat, mudah mengantuk, sesak napas, mudah capek, badan terasa lemas dan demam. Pada pemeriksaan di dapatkan konjungtiva pucat, sclera ikterik, splenomegaly, urine berwarna merah gelap. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 9 gr/dL, MCV normal, Peningkatan bilirubin indirek. Gambaran apus darah tepi: didapatkan spherosit, shistiosit. Direct antiglobulin test (+). Manakah pernyataan yang benar mengenai permasalahan tersebut ?
Autoantibodi berasal dari Ig G
Tidak respon terhadap kortikosteroid dan splenomegali
Udara dingin dapat memicu hemolisis
Chlorambucil 2-4 mg/hari dapat diberikan
Plasmaferesis untuk mengurangi Ig M bermanfaat
Imunogenetika adalah suatu konsep pendekatan genetika untuk mengetahui hubungan antara gen respon imun dengan suatu kondisi atau penyakit. Manakah dibawah ini faktor resiko genetik dari penyakit autoimun?
Defek pada proses mutasi dan modifikasi paska translasià proses translasi
Defek genetik akibat proliferasià akibat mutasi
Variasi susunan nukleotida pada gen yang disebut sebagai polimorfisme
Hiperaktivitas dari respon imun (sel T dan sel B)
Faktor lingkungan
Seorang pria usia 45 tahun dating dengan keluhan nyeri lutut kiri secara tiba-tiba saat bangun tidur dipagi hari. Keluhan ini baru pertama kali dirasakan. Nyeri dirasakan sangat hebat hingga pasien dulit untuk berjalan. Malam sebelumnya pasien sempat makan kari kambing. Tidak ada riwayat nyeri sendi sebelumnya. Pada pemeriksaan fisis didapatkan tanda inflamasi pada genu sinistra yang disertai dengan bulging sign. Pasien lalu dilakukan tindakan artrosintesis dan dilakukan pemeriksaan analisa cairan sendi. Pada pemeriksaan mikroskop polarisasi yang ditambahkan kompensator merah, gambaran apakah yang diharapkan dari pasien ini?
Gambaran kristal MSU berwarna kuning bila arah kristal parallel
Gambaran kristal MSU berwarna biru bila arah kristal parallelà kuning
Gambaran Kristal CPPD berwarna kuning bila arah kristal parallelà biru
Gambaran kristal MSU berwarna merah bila arah kristal tegak lurus dengan aksis dari slow vibration dari kompensatorà biru
Gambaran Kristal CPPD berwarna biru bila arah kristal tegak lurus dengan aksis dari slow vibration dari kompensatorà kuning
Wanita usia 25 tahun dengan keluhan nyeri pada persendian terutama sendi jari tangan. Keluhan awalnya dirasakan 3 bulan lalu dan memberat 1 bulan terakhir sehingga pasien sulit beraktifitas. Dari pemeriksaan fisis didapatkan TD 110/70, nadi 90 x/menit, pernapasan 20x/menit, suhu 38 derajat. Didapatkan tanda inflamasi pada sendi PIP dan MCP manus bilateral serta genu bilateral. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan LED 105/130. Jenis nyeri pada pasien ini adalah :
Nyeri psikogenikà memenuhi kritari kelainan psikosomatik (tdk memenuhi somatic/nauropatik)
Nyeri inflamasi
Nyeri viseralà organ viseral, ada reffered pain
Nyeri nosiseptifà mekanik, termal, kemikal
Nyeri somatik
Wanita usia 32 tahun dengan keluhan nyeri persendian tangan sejak 6 bulan yang lalu, awalnya ada keluhan kaku sendi pada pagi hari >30 menit, tidak ada riwayat rambut rontok, tidak ada riwayat kemerahan pada wajah, tidak ada riwayat sering sariawan. Pada pemeriksaan fisis didapatkan kontraktur pada PIP II-IV manus dekstra dan wrist joint sinistra, ada dolor, tidak ada calor maupun rubor. Pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit 8.300, hb 13.2, trombosit 320.000, LED 62/35, RF negatif, anti CCP negatif. Pemeriksaan serologi lanjutan yang disarankan untuk pasien ini adalah :
dsDNAà SLE
Anti RA33
HLA-B27à sasen
Komplemenà tidak spesifik bias meningkat/normal
Immunoglobulin RA
Seorang wanita usia 30 tahun dengan keluhan sulit menelan dan dan kepekaan lidah berkurang. Pasien juga mengeluh mata sering terasa berpasir dan merah, pasien juga ada keluhan nyeri persendian. Pada pemeriksaan fisis didapatkan mukosa mulut yang kering, atropi papilla viliformis pada pangkal lidah dan pembesaran kelenjar parotis, serta pelebaran pembuluh darah pada daerah konjungtiva. Patomekanisme penyakit yang diderita pasien ini adalah :
Infiltrasi mediator inflamasi pada kelenjar eksokrin yang menyebabkan inflamasi pada mukosa
Infiltrasi limfosit pada daerah perivascular sehingga terjadi oklusi yang mengakibatkan pertumbuhan irregular pada synovial yang mengalami inflamasi à RA
Limfosit T, monosit, sel endotel, trombosit dan sel mast yang berekspresi dan melepas molekul adesi, interleukin dan faktor pertumbuhan yang bereaksi pada fibroblastà SS
Gangguan respon imun akibat dari hiperaktivitas sel T dan B yang menyebabkan deposit kompleks imun à SLE
Kerusakan kelenjar acini dari kelenjar eksokrin akibat infiltrasi limfosit
Tiga gejala utama (triad) fibromialgia yaitu :
Nyeri muskuloskeletal, kekakuan, kelelahan
Nyeri muskuloskeletal, gangguan psikosomatik, kelelahan
Nyeri muskuloskeletas, kekakuan, gangguan psikosomatik
Nyeri muskuloskeletal, inflamasi sendi, tender point
Artritis, myalgia, gangguan psikosomatik
Laki-laki 52 tahun dengan keluhan nyeri pada lutut kanan sejak 3 hari lalu, nyeri disertai bengkak yang makin bertambah, ada keluhan demam sejak 1 hari lalu. Pasien sebelumnya ada riwayat jatuh dari motor 1 minggu lalu, ada luka pada baguan atas lutut namun luka sudah mulai mongering. Pemeriksaan fisis genu dekstra didapatkan ekskoriasi yang sudah mengering pada supra patella, tampak ballooning sign, ada rubor, calor dan dolor. Dialakukan artrosintesis dan keluan cairan kental berwarna putih kekuningan. Antibiotik empiris yang dapat diberikan pada pasien ini adalah :
Sefazolin 2gr Iv per 12 jam à per 8 jam (staphylo)
Vankomisin 2gr Iv per 24 jam à 1gr/12 jam (MRSA)
Linezolid 600mg IV per 8jam à per 12 jam (MRSA)
Neflisin/oksasilin 2g IV per 4jam à staphylo
Sefepim 1gr IV per 8 jam à 2gr/12jam (pseudomonas)
Seorang pria berumur 32 tahun dibawa ke unit gawat darurat dengan penurunan kesadaran sejak 2 jam yang lalu. Riwayat penyakit liver, hipertensi dan kencing manis disangkal. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/90 mmHg, nadi 104x/menit, respirasi 18 x/menit, dan suhu 36,9 derajat celcius, pupil isokor, teraba balotement dextra. Dari hasil pemeriksaan didapatkan Hb 9,8 g/dL, leukosit 10.200/mm3, Ht 30%, trombosit 143.000/mm3, natrium 128 mg/dL, kalium 4,2 mg/dl, asam urat 15,3 mg/dL, ureum 205 mg/dL, kreatinin 4,8 mg/dL, dan kadar gula darah sewaktu 48 mg/dL. Penyebab hiperurisemia yang paling mungkin pada kasus ini adalah:
Defisiensi enzim Phoribosylpyrophosphatasesynthetase
Defisiensi enzim Hypoxanthinephophorybosyltransferase
Defisiensi enzim Fructose-1-phosphatealdolase
Defisiensi enzim Glucose-6-phosphatase
Gagal ginjal kronik
Seorang wanita yang didiagnosis SLE datang untuk kontrol. Pasien telah menjalani terapaiselma 1 tahun dan saat ini sudah tidak ada keluhan. Pasien telah menikah dan ingin merencanakan kehamilan. Manakah dibawah ini yang merupakan kontraindikasi kehamilan pada pasien SLE :
Hipertensi pulmonal derajat apapun à berat
Gagal ginjal kronis (Kr >2mg/dl)à Kr 2.8 mg/dl
Penyakit paru restriktif (FVC <1L)
Adanya riwayat stroke kapan pun itu à 6 bulan
Kekambuhan lupus berat dalam 1 tahun terakhir à 6 bulan
Wanita 40 tahun datang ke poli GEHmengeluh nyeri perut kanan atas yang kadang muncul. Mual dan muntah tidak ada. Dari pemeriksaan fisik ditemukan berat badan 80 kg, tinggi badan 156 cm dan nyeri tekan perut kanan atas. Hasil laboratorium ditemukan Hb 11,3 WBC 9.800 PLT 234.000. GOT 28 GPT 45 PT 11.0 INR 0,9 APTT 20,2. USG Abdomen menunjukkan adanya batu pada kandung empedu dengan diameter berukuran 2 cm. Tindakan yang selanjutnya dilakukan pada pasien ini adalah:
MRCP
ERCP tanpa sfingterotomi
ERCP dengan sfingterotomi
ERCP dengan basket kawat atau balonekstraksi
Kolesistektomi laparaskopik
Laki laki usia 46 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas sejak 4 hari yang lalu. Nyeri perut menjalar sampai dengan punggung disertai dengan mual dan muntah didapatkan juga demam. Dari pemeriksaan fisik didapatkan sklera ikterik dengan tekanan darah 110/70 mmHg nadi 112 kali/menit, RR 22 kali/menit, suhu 38,9oC. Hasil laboratorium menunjukkan Hb 11,2 g/dL, Leukosit 15.600/uL, Hematokrit 34,5%, Trombosit 230.000. SGOT/SGPT 56/65 U/L. Ur/Cr 46/1,2 mg/dL, Bilirubin Total 10,2 mg/dl, Bilirubin Direk 8,2 mg/dl, Bilirubin indirek 2 mg/dl. Pasien dilakukan USG dan didapatkan pelebaran duktus bilier intrahepatik dan ekstrahepatik, multiple cholelitiasis dan batu diductus communis. Diagnosis yang paling tepat pada pasien diatas adalah:
Pankreatitis akut
Cholangitis akut
Cholelitiasis
Mirizy’s syndrome
Choledocholitiasis
Seorang wanita berusia 64 tahun dibawa ke unit gawat darurat karena terjatuh di kamar mandi dan buang air besar (BAB) berwarna hitam. Pasien sudah 3 bulan minum aspirin karena penyakit jantungnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan tekanan darah 90/70 mmHg, frekuensi nadi 132 x/menit. Konjungtiva pucat. Bising usus meningkat. Prioritas urutan penatalaksanaan pada pasien ini adalah:
Transfusi darah dan gastroskopi
Gastroskopi dan tindakan hemostatik
Infus somastostatin, transfusi darah dan gastroskopi
Resusitasi cairan, high dose proton pump inhibitor (PPI), transfusi darah dan gastroskopi
Anamnesis lebih lanjut untuk mencari riwayat sirosis hati, resusitasi cairan dan gastroskopi
Seorang laki-laki, 67 tahun datang ke Poli Penyakit Dalam dengan keluhan buang air besar terkadang bercampur darah yang hilang timbul sejak 1 bulan terakhir. Pasien memiliki penyakit Gagal Ginjal Kronis dan telah rutin menjalani hemodialisa selama kurun waktu 3tahun. Pemeriksaan fisik ditemukan TD: 140/95 mmHg Nadi 92x/menit RR 18x/menit, konjungtiva pucat. Hasil pemeriksaan darah: Hb: 6.8 Lekosit 8970 Trombosit 168000 Ureum 92 Kreatinin 4.3. Hasil kolonoskopi menunjukkan adanya lesi multipel, ukuran <5mm di daerah caecum dan kolon sebelah kanan. Diagnosis yang tepat terkait keluhan utama pasien tersebut diatas adalah:
Divertikulosis
Angiodisplasia
Kolitis Iskemia
Hemoroid
Neoplasia Kolon
Seorang laki-laki, 33 tahun datang berobat ke poliklinik penyakit dalam untuk berkonsultasi dengan membawa hasil laboratorium HbsAg positif. Pasien mendonorkan darah beberapa waktu lalu. Ia mendapatkan hasil laboratorium tersebut dan surat untuk berobat dari PMI. Pasien memiliki riwayat tranfusi darah setelah mengalami kecelakaan lalu-lintas 5 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/80 mmHg; frekuensi nadi 80x/menit; frekuensi napas 18x/menit; suhu 36,7°C. Hasil laboratorium menunjukkan HbsAg positif, HbeAg positif, DNA HBV 2x 105 iu/ml. SGOT 45 U/L, SGPT 50 U/L. Langkah selanjutnya yang kita lakukan adalah:
Langsung diberikan terapi pegylated interferon
Biopsi hati dan diberikan terapi nucleosida analog
Pengobatan diberikan bila kenaikan ALT menetap > 3 bulan
Tidak diberikan pengobatan, pantau DNA HBV, HBeAg, dan ALT
Diberikan terapi kombinasi nucleosida analog dan pegylated interferon
Seorang wanita hamil 32 tahun datang ke praktek dengan membawa hasil lab HbsAg (+) Anti HBc 4x107. Pasien hamil anak kedua dengan usia kehamilan 34 minggu. Hamil pertama pasien tidak terdiagnosa Hepatitis B. Pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg; nadi 96x/menit, irama regular, isi cukup; frekuensi napas 20x/menit; suhu 37,8ºC; BB 50 kg; Hb 10.0 g/dL, Leukosit 12.300 U/L PLT 234.000 U/L, GOT 33, GPT 48, Serum kreatinin 1.7 mg/dl. Terapi pilihan untuk kondisi pasien di atas adalah:
Lamivudin
Telbivudin
Tenovofir
Adepovir
Entecavir
Seorang wanita, 45 tahun, datang ke poliklinik penyakit dalam dengan membawa hasil pemeriksaan anti HCV positif, diketahui bahwa suami pasien menderita Hepatitis C. Pasien telah mendapat terapi Pegylated Interferon dan Ribavirin. Bagaimana mekanisme kerja Ribavirin :
Menghambat secara tidak langsung replikasi virus Hepatitis C
Mengkatalisasi proses post-transkripsi protein
Menghambat enzim inosine monophosphate dehydrogenase
Merupakan NS3/4A protease inhibitor
Menginduksi sel respon imun T-sitotoksik
Seorang wanita 48 tahun datang ke IGD dengan keluhan mual, muntah dan nyeri ulu hati. Keluhan muncul tiba-tiba sejak 1 hari sebelum datang ke IGD dan makin lama makin memberat. Pasien menderita DM tipe 2 sejak 5 tahun yang lalu dengan terapi OAD yang sering lupa diminum. Pada pemeriksaan fisik ditemukan : compos mentis, ikterik, Berat Badan 50 kg, Tinggi Badan 165 cm, TD : 100/60 mmHg, N : 110 kali/menit, isi cukup, Temperatur rektal 38,5oC, nyeri tekan ulu hati, tanda peritonitis lokal, Murphy’s sign (+), Cullen’s sign (+). Dari hasil laboratorium didapatkan : Hb 12,8 mg/dL, Lekosit 17.500/µL, GDS : 230 mg/dL, SGOT 150 U/L, SGPT 113 U/L, Bilirubin total 4,5 mg/dL, bilirubin direk 3,7 mg/dL, bilirubin indirek 0,8 mg/dL, Kolesterol 167 mg/dL, HDL 29 mg/dL, LDL 105 mg/dL, trigliserida 93 mg/dL, Amilase 560 IU/L, Lipase 480 IU/L. Faktor yang menyebabkan terjadinya kelainan pada pasien diatas adalah :
Autoimun
Kegemukan
Hiperglikemia
Batu empedu
Hipertrigliseridemia
Wanita 65 tahun datang ke Poli Penyakit Dalam dengan keluhan sulit menelan sejak 1 bulan terakhir, keluhan terkadang disertai nyeri dada dan muntah yang tidak berasa asam atau pahit, terutama pada malam hari, pasien juga mengakui berat badannya turun hingga 6 kg, tidak ada riwayat sakit jantung dan sakit darah tinggi sebelumnya pada pemeriksaan Foto Thorax didapatkan gambaran double contour pada mediastinum bagian kanan atas, dengan gambaran bird beak’s appearance pada pemeriksaan OMD, tatalaksana medikamentosa oral yang dapat kita berikan pada fase awal penyakit ini adalah:
Isosorbid dinitrat + Nifedipin
Omeprazole + Sukralfat
Ranitidin + Nifedipin
Isosorbid dinitrat + Metoklopramid
Omeprazole + Domperidon
Laki-laki usia 68 tahun dengan keluhanmuntah warna kemerahan serta BAB hitam sejak 3 bulan terakhir terakhir. Pasien sebelumnya sering mengeluhkan mual-mual dan rasa sebah di ulu hati sejak 1 tahun terakhir dan beberapa kali berobat ke dokter umum dikatakan menderita sakit maag, diberikan lansoprazole namun keluhan membaik sesaat dan kambuh kembali. Pasien pernah dicurigai menderita ulkus daerah lambung dengan infeksi Helicobacter pylori, disarankan pemeriksaan urea breath test namun tidak terdapat fasilitas untuk pemeriksaan tersebut di daerah pasien. Pasien bekerja sebagai petani. Riwayat merokok maupun riwayat minum obat pereda nyeri dan jamu-jamuan disangkal. Pemeriksaan fisik didapatkan GCS 15, tekanan darah 120/80 mmHg, HR 100 kali/menit, RR 22 kali/menit, anemis (+) ikterik (+) liver span 12 cm, traube’s space tympani. Hasil laboratorium Hb 8, Leukosit 13.000, PLT 250.000. SGOT 40, SGPT 60. Bil T/D/I 4/3/1. HBsAg (-), antiHCV (-). Pemeriksaan barium OMD didapatkan filling defect, USG abdomen dengan multiple nodul pada hepar. Pasien direncanakan untuk endoskopi. Diagnosis utama yang mungkin terjadi pada pasien adalah:
Varices esophagus
Ca gaster
Hepato cellular carcinoma
Crohn disease
Mallory weis tear
Seorang laki-laki 35 tahun datang dengan keluhan nyeri ulu hati seperti terbakar disertai mual dan rasa pahit di lidah. Keluhan bertambah dengan makan dan berkurang dengan pemberian antasida. Kebiasaan merokok (+), alkohol (+). Dari pemeriksaan EGD didapatkan hasil mukosa esofagus tanpa mucosal break. Kemungkinan diagnosis pada pasien tersebut adalah:
GERD
NERD
Barrets Oesophagus
Eosinophilic esophagus
Ulkus peptikum
Pasien wanita 24 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri uluhati sejak 1 bulan SMRS. Nyeri dirasakan seperti terbakar menjalar ke dada dan terasa pahit dilidah. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80 mmHg, HR 80x/menit, RR 16x/menit, T 36,8 ◦C, dari pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan epigastrium. Dari hasil pemeriksaan endoskopi didapatkan gambaran Mucosal Break pada linea dentata diameter >5mm tanpa saling berhubungan. Diagnosis apa yang paling memungkinkan pada pasien tersebut:
Esofagitis LA A
Esofagitis LA B
Esofagitis LA C
Esofagitis LA D
Barret’s esophagus
Seorang laki-laki usia 80 tahun datang dengan keluhan BAB darah dan lendir selama 1 bulan terakhir, frekuensi 1-2x/hari, nyeri perut ada, nafsu makan mengalami penurunan, dan badan terasa lemas. Pemeriksaan darah didapatkan Hb 6,5 gr/dl, Leukosit 4.800/mm3, Trombosit 141.000/mm3, Fe 30, TIBC 823, Ferritine 89, darah samar faeces (+). Gambaran radiolodi didapatkan Apple Core appearance. Pemeriksaan histopatologis didapatkan sel-sel atipik yang menembus membrana basalis melewati muskularis mukosa. Prognosisnya akan buruk jika didapatkan:
Berat badan yang semakin menurun >10%
Kadar CEA meningkat > 6 mg/dl
Demam tinggi terus menerus
BAB berdarah berlangsung terus menerus
Kelenjar getah bening yang terlibat bertambah
Seorang laki-laki usia 34 tahun, datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan BAB cair sejak 6 bulan, kadang bercampur darah, nyeri perut (+), terasa ada benjolan pada perut. Pemeriksaan fisik kompos mentis, tampak kaheksia. Tekanan darah 100/70 mmHg, Nadi 100x/mnt, pernapasan 26 x/mnt, dari hasil kolonoskopi didapatkan skip lession, hasil biopsi cobble stone (+). Diagnosis utama pada pasien ini adalah:
Kolitis ulseratif
Penyakit Chron
Irritable Bowel Syndrome
Kolitis infeksi
Kolitis pseudomembran
Seorang laki-laki usia 57 tahun, datang ke poliklinik Penyakit Dalam dengan keluhan benjolan pada perut kanan yang baru dirasakan sejak 6 bulan yang lalu, berat badan turun 2 Kg dalam 2 bulan. Pasien mengeluh rasa cepat kenyang, mual ada. BAK seperti kuning kecoklatan seperti air teh. Dari hasil USG abodmen didapatkan beberapa nodul, terdapat 3 buah, dengan ukuran terbesar 2 x 3 x 3 cm. Pada hasil CT scan abdomen didapatkan invasi thrombus pada dinding vena porta. Pilihan tepat pada pasien ini mengacu pada BCLC, adalah:
Sorafenib
TACE
Transplantasi
Reseksi tumor
hepatoprotektor
Seorang laki-laki usia 42 tahun datang dengan keluhan mual muntah disertai kram pada perut sejak 1 hari SMRS. Pasien sebelumnya ada riwayat makan makanan kaleng yang sudah lama dalam kulkas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 100x/mnt, Suhu 37,5 oC, keadaan spesifik didapatkan ptosis, facial paralisis, pupil midriasis. Kuman yang merupakan etiologi dari penyakit ini adalah:
Clostridium botulinum
Escherecia coli
Staphylococcus aureus
Enterobacter baumanii
Bacillus cereus
Seorang laki-laki usia 48 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan badan lemah, malaise, keluhan tidak enak dan seperti menganjal pada perut kanan atas. Pemeriksaan fisik didapatkan BB 106 Kg, TB 169 cm, pada abdomen didapatkan hepatomegali. Laboratorium didapatkan GOT/GPT 40/35, kolesterol total 275 mg/dl. Pemeriksaan USG didapatkan peningkatan difus echogenisitas. Pemeriksaan baku emas untuk menegakkan diagnosis pasien tersebut adalah:
Biopsi hati
CT scan abdomen dengan kontras
MRI dengan kontras
Fibro scan
Kadar Gamma GT dan AFP
Seorang laki-laki usia 24 tahun di bawake IGD dengan keluhan bicara kacau sejak 2 jam sebelum masuk ruma hsakit. Dua hari sebelumnya pasien sudah mengeluh demam dan batuk. Tiga minggu sebelumnya pasien mengeluh lemas, banyak buang air kecil, banyak minum dan sering merasa lapar serta mengalami penurunan berat badan hingga 3 kg. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak gelisah, tekanan darah 110/60 mmHg, frekuensi nadi 122 x/menit reguler, frekuensi napas 28 x/menit cepat dan dalam, suhu 39.2 0C; ronki positif pada lapangan paru bawah dan tengah kanan. Hail laboratorium: glukosa darah sewaktu 452 mg/dL; natrium 138 mEqq/L; kalium 2,6 mEq/L; klorida 104 mEq/L; magnesium <1,2 mEq/L. Analisis gas darah : pH 7,28; HCO3 10 mEq/L; PO2 98 mmHg; PCO2 32 mmHg; base excess -12 mmol/L; saturasi O2 99%; ureum 60,7 mg/dL; kreatinin 1,1 mg/dL. Empat hari kemuadian keadaan akut telah teratasi. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan kondisi primer di atas pada pasien ini adalah:
Pemeriksaanislet cell antibody, urin sewaktu, C-peptide dan insulin
Pemeriksaan antibodi GAD, HbA1C, kadar profil lipid, C-peptide
Pemeriksaan antibodi GAD, C-peptide dan kadar insulin
Pemeriksaan amylase, lipase,, C-peptide dan insulin
Pemeriksaan C-peptide, HbA1C dan kadar insulin
Seorangperempuan 40 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 jam sebelum MRS. Sejak 6 bulan terakhir pasien sudah sering mengeluhkan lemas, penglihatan kabur, berkeringat banyak, gemetar dan sering merasa lapar. Akibat keluhan ini, pasien sering mengonsumsi camilan sehingga berat badan 7-8 kg. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran somnolen, tinggi badan 155 cm, berat badan 80 kg, tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 110x/menit, pemeriksaan jantung dan paru normal, akral dingin. Hasil laboratorium: glukosa darah 30 mg/dL. Setelah diberikan boluse dextrose 40% dan infuse dextrose 10% pasien sadar. Setelah dilakukan monitor ketat selama 1 hari didapatkan kadar glukosa darah selalu rendah. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar kreatinin 0,9 mg/dL dan natrium 130 mEq/L. Pemeriksaan penunjang yang direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis pasien ini adalah:
Pemeriksaan kadar insulin puasa dan C-peptide
Pemeriksaan kadar insulin sewaktu dan C-peptide
Pemeriksaan kadar insulin post prandial dan C-peptide
Pemeriksaan kadar insulin saat gula darah rendah dan C-peptide
Pemeriksaan kadar preinsulin dan C-peptide saat glukosa darah rendah
Seorang perempuan 35 tahun hamil 16 minggu, dikonsulkan oleh sejawat dokter spesialis kandungan dan kebidanan ke poliklinik penyakit dalam denganr iwayat pengobatan tiroid. Duat ahun yang lalu pasien pernah berobat ke dokter penyakit dalam dengan keluhan penurunan berat badan yang drastis, sering buang air besar, berdebar-debar, gemetar, banyak keringat serta penonjolan pada bola mata. Sejak 6 bulan yang lalu, dokter penyakit dalam menghentikan pengobatannya. Saat ini keluhan berdebar-debar dan gemetar tidak ada. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tinggi badan 155 cm; berat badan 46 kg; tekanan darah 110/80 mmHg frekuensi nadi 96x/menit; tremor halus pada kedua tangan. Pada pemeriksaan tiroid ditemukan massa di daerah leher bagian depan yang ikut bergerak saat menelan dengan batas yang tidak jelas, konsistensi lunak, tidak nyeri dan tidak ada perubahan warna pada kulit. Ukuran lingkar leher 33,2 cm. Hasil laboratorium: TSHs <0,01 uIU/mL (N : 0,27 – 4,2), FT4 1,8 ng/dl (N : 0.93 – 1,7 ng/dl). Terapi yang tepat pada kasus ini adalah
Diberikan tirozol 1x10 mg
Diberikan propranolol 3x10 mg
Tidak diberikan obat untuk sementara
Diberikan propiltiourasil (PTU) 1x100 mg
Diberikan propiltiourasil (PTU) 3x100 mg
Seorang laki-laki usia 45 tahun datang dengan keluhan nyeri pinggang kanan berulang sejak 2 minggu lalu. Pasien tidak ada keluhan demam. Keluhan ini sudah pernah dirasakan sekitar 5 tahun dan 3 tahun lalu. Saat itu pasien didiagnosis batu ginjal kanan dan dilakukan tindakan ESWL 2 kali. Ayah pasien jug amemiliki riwayat sakit yang sama. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri ketok pada regio CVA kanan, sedangkan pemeriksaan lain dalam batas normal. Dari pemeriksaan USG ginjal didapatkan gambaran nefrolitiasis multiple. Hasil laboratorium pasien menunjukkan kada rkalsium ion 1.8 mmol/L. Pemeriksaan selanjutnya yang anda sarankan untuk mengevaluasi kelainan kalsium pada pasien ini adalah?
PTH, PO4, Mg, Ca urine dan kreatinin
TSH, HCO3, P, Ca urine dan kreatinin
Analisis batu ginjal, ca urine, PO4 dan kreatinin
Skintigrafi tiroid, Ca urine, PTH dan kreatinin
CT urografi, HCO3, Asam urat dan kreatinin
Laki-laki 50 tahundirawat di ICU karena mengalami stroke perdarahan sehingga mengalami penurunan kesadaran serta kesulitan menelan. Selama perawatan di ICU pasien mengalami stress ulcer sehingga mendapat nutrisi parenteral total selama satu minggu. Satu hari setelah mulai diberikan makanan cair via NGT, urin pasien berubah warna menjadi gelap disertai penurunan tingkat kesadaran. Hasil lab menunjukkan pasien mengalami rhabdomyolisis akibat refeeding syndrome. Kelainan yang mendasari kejadian ini adalah:
hiperkalemia
hipermagnesemia
hipofosfatemia
defisiensi mecobalamin
hiperurisemia
Seorang laki-laki berusia 37 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan cepat lelah, nyeri ulu hati, terasaasam di mulut, mual tanpa diserta imuntah dan disertai penurunan berat badan 2 kg sejak 2 bulan terakhir. Pasien juga mengeluhkan penurunan libido dan sering merasa gelisah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 110/80 mmHg, Nadi 78x/menit, frekuensi nafas 20x/menit, BMI 22 kg/m2, nyeri tekan epigastrium serta pemeriksaan lainnya dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Ca 11,2 mg/dL, P 2,1 mg/dL, Mg 1,8 meq/dL, albumin 3,7 g/dL, TSH 3 μIU/mL (N: 0,4-4 μIU/mL), prolaktin 250 μg/L (N: <450 μg/L), testosteron 620 ng/dL (N: 400-1080 ng/dL), paratiroid hormon serum 135 pg/dL (N: 10-70 pg/dL). Pada pemeriksaan guaiac feses didapatkan hasil positif, hasil CT scan abdomen menunjukkan lesi 2 cm pada caput pancreas. Diaganosa yang paling tepat untuk kasus diatas:
Multiple endocrine neoplasia (MEN) type 1
MEN type 2a
MEN type 2b
Polyglandular autoimmune syndrome
Von–Hippel Lindau (VHL) syndrome
Seorang pria 45 tahun didiagnosis dengan pheochromocytoma dengan keluhan kebingungan, pemeriksaan fisik tensi 250/140 mmHg, takikardia, sakit kepala. Hasil labnya normetanephrine 560 pg / mL dan metanephrine 198 pg / mL (nilai normal: normetanephrine: 18-111 pg / mL; metanephrine: 12-60 pg / mL). CT scan abdomen dengan kontras IV menunjukkan massa 3-cm pada kelenjar adrenal. Hasil MRI otak menunjukkan edema dari white matter di dekat persimpangan parietooccipital sesuai dengan posterior reversibel leukoencephalopathy. Manakah dari pernyataan berikut yang benar mengenai pengelolaan pheochromocytoma pada pasien ini?
Beta-bloker dapat diberikan untuk menurunkan takikardia
Operasi pengangkatan massa segera, karena pasien mengalami krisis hipertensi dengan encephalopathy.
Pembatasan asupan garam dan asupan cairan untuk mencegah eksaserbasi lebih lanjut dari hipertensi.
Pengobatan dengan fenoksibenzamin harus dimulai pada dosis tinggi (20-30 mg tiga kali sehari) untuk secara cepat mengontrol tekanan darah, dan operasi dapat dilakukan dalam waktu 24-48 jam.
Pengobatan dimulai dengan pemberian phentolamine intravena untuk mengatasi krisis hipertensi
