WorksheetsNilai-nilai dalam Teks Cerita Sejarah
Total questions: 15
Worksheet time: 45mins
Ruangan penyekapan itu seperti kamar kontrakannya ketika masih di Sengkang. Sempit, pengap, dan berbau tidak menyenangkan; juga sama-sama berlantai plester-jenis lantai paling sederhana, jika lantai tanah tidak masuk dalam hitungan. Ukurannya sekitar tiga kali lima meter. Ada dua ventilasi, masing-masing seukuran layar televisi 14 inci, di sisi kiri dan kanan, dengan lima jeruji vertikal seukuran jempol orang dewasa.
Unsur dominan dalam kutipan teks sejarah di atas adalah....
tema
latar
amanat
penokohan
sudut pandang
Ruangan penyekapan itu seperti kamar kontrakannya ketika masih di Sengkang. Sempit, pengap, dan berbau tidak menyenangkan; juga sama-sama berlantai plester-jenis lantai paling sederhana, jika lantai tanah tidak masuk dalam hitungan. Ukurannya sekitar tiga kali lima meter. Ada dua ventilasi, masing-masing seukuran layar televisi 14 inci, di sisi kiri dan kanan, dengan lima jeruji vertikal seukuran jempol orang dewasa.
Pernyataan yang sesuai dengan kutipan teks sejarah tersebut adalah...
Ruang penyekapan tersebut berlantai tanah.
Ruang penyekapan tersebut dikelilingi jeruji.
Ruang penyekapan tersebut pengap dan sempit.
Ruang penyekapan tersebut berukuran 3x4 meter.
Ruang penyekapan tersebut memiliki sebuah ventilasi.
"Ya itu lagu ciptaanku," jawabku kemudian.
Suara tawanya terdengar parau.
"Hemmm, dasar [....]! Tak kapok juga! Sudah berapa kali kami mengiterogasimu? Mengancammu? Memperlakukanmu dengan keras, heh?"
"Aku tak melakukan kesalahan apa-apa!" Teriakku.
Laki-laki itu menyeringai. Sungguh seringai yang tak kusukai. Bagai serigala yang siap melumat mangsanya.
Ungkapan yang tepat untuk melengkapi kutipan novel sejarah tersebut adalah....
kepala batu
kepala udang
kepala dingin
kepala berat
kepala angin
"Ya itu lagu ciptaanku," jawabku kemudian.
Suara tawanya terdengar parau.
"Hemmm, dasar [....]! Tak kapok juga! Sudah berapa kali kami mengiterogasimu? Mengancammu? Memperlakukanmu dengan keras, heh?"
"Aku tak melakukan kesalahan apa-apa!" Teriakku.
Laki-laki itu menyeringai. Sungguh seringai yang tak kusukai. Bagai serigala yang siap melumat mangsanya.
Majas yang dipakai dalam kalimat terakhir kutipan novel di atas adalah....
personifikasi
metafora
asosiasi
hiperbola
alegori
Watak tokoh Tante Bahar dalam kutipan novel tersebut adalah....
tegas
disiplin
galak
bijaksana
berwibawa
Majas yang digunakan dalam kutipan novel sejarah tersebut adalah....
personifikasi
metafora
hiperbola
asosiasi
alegori
Latar suasana dalam kutipan novel sejarah tersebut adalah...
haru
cemas
tegang
senang
sunyi
Latar tempat pada paragraf kedua kutipan novel sejarah tersebut adalah....
kamar tokoh aku
dalam rumah tokoh aku
halaman rumah tokoh
dalam rumah tokoh Tante Bahar
halaman rumah tokoh Tante Bahar
Nilai yang masih relevan dengan kehidupan pada zaman sekarang adalah...
Menghormati dan sopan kepada tamu yang sedang berkunjung ke rumah.
Meninggalkan sisa makanan di piring sebagai tanda kebangsawanan.
Memilih melakukan kebiasaan baik saat berkunjung ke rumah orang lain.
Menghabiskan makanan yang disajikan tuan rumah dengan senang hati.
Menghormati tuan rumah yang telah memberikan pertolongan kepada kita.
Persamaan tema dalam kedua teks di atas adalah...
melawan ketidakadilan dalam masyarakat
mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan
menghormati hak dan kepentingan orang lain
menolong sesama atas nama perikemanusiaan
menghadapi suatu masalah dengan kepala dingin
Ia ingat kepada pesan gurunya (ayahnya)
"Pencak itu bukan untuk gagah-gagahan dan menindas kepada orang lain yang lebih lemah dari kita. Tetapi untuk membela diri kalau kita benar-benar terdesak dan terpaksa. Selama masih dapat menyelamatkan diri dengan jalan lain, jalan itulah yang kita pakai. Kalau sudah kehabisan akal dan putus langkah, nah, di situ barulah seada-ada yang kita dapat, dipergunakan."
Amanat dalam kutipan novel sejarah tersebut adalah...
Kita tidak boleh sombong kepada orang lain.
Kita tidak boleh iri dengki kepada orang lain.
Kita tidak boleh semena-mena kepada orang lain.
Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang lain.
Kita tidak boleh memandang rendah orang lain.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks cerita sejarah tersebut...
"Tentang apa, Pak?"
"Kita harus bagaimana, Pak?"
"Apakah itu buruk, Pak?"
"Tentang pemerintah, Pak?"
"Tindakan kita apa, Pak?"
Urutan kalimat agar menjadi paragraf yang padu adalah ....
3-1-2-4-5-6
3-1-4-2-5-6
3-4-1-2-5-6
3-4-1-5-2-6
3-4-5-1-2-6
Nilai yang dominan dalam kutipan teks cerita sejarah tersebut adalah...
moral
sosial
budaya
religuis
kepahlawanan
Nilai moral dalam kutipan teks cerita sejarah tersebut adalah....
memandang sama kedudukan orang lain
membantu orang tanpa mengharap imbalan
menyerahkan semua masalah kepada Tuhan
menghormati orang yang lebih tua
mensyukuri nikmat sehat yang diberikan Tuhan
