NEW
Font size
WorksheetsUH MENGIDENTIFIKASI CERPEN
Total questions: 10
Worksheet time: 20mins
Bacalah teks cerpen berikut!
(1) Teman teman fajar bersorak gembira, (2) Daffa terkulai lemas karena layang-layang putus. (3) Senja pun tiba. (4) Ketika terdengar suara azan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid. (5) Berita kemenangan Fajar atas daffa makin menambah keyakinan anak-anak desa itu bahwa layang-layang milik fajarmemang sakti. (6) Fajar menjadi makin tinggi hati.
Bukti nilai agama terdapat pada kalimat bertanda nomor ….
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Perhatikan kalimat berikut!
Akhirnya Badu mengakui kekalahannya, kalimat tersebut termasuk pada nilai ….
Moral
Sosial
Budaya
Agama
Pendidikan
“Hanafi, mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosamu. Sebagai ibu yang engkau durhakai dengan lillaahitaala sudh rela mengampuni akan dikau.” Hanafi tergeletak tertawa seolah mencemooh pula,” Hai ibu, mengucap ibu dengan tulusnya barangkali ibu akan mendapatkan ilham, lalu dapat berkata dengan benar. Pada hematku ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku.”
Nilai moral yang sesuai teks tersebut adalah ….
Anak durhaka yang tidak perlu dicontoh
Anak baik dan sopan santun
Ibu yang durhaka
Anak buruk hati
Anak yang pamer
Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, ia berseru. “Celakalah yang menyiakan waktu!” Ia ingat. Meski berbuat sesuatu. Berbaring bermalasan bukan pekerjaan muslim yang baik. Ia sudah mendengar kabar, orang kampong sedang mendirikan surau baru. Banyak orang telah menyediakan bahan. Telah terkumpul kayu, genting, kapur. Anak-anak madrasah mencari batu dan pasir ke sungai. Pantaskah baginya, muslim batu dan pasir ke sungai. Pantaskah baginya, muslim seumur hidup untuk bermalasan? Tidak. Berbaktilah kamu di jalan Tuhan dengan harta dan jiwamu! Ia gelisah.
Nilai kehidupan yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut yaitu nilai ….
Sosial
Budaya
Agama
Ekonomi
Estetika
Rapika dan mertuanya tidak pernah keluar rumah. Sekalian orang yang datang bertandang sudah mengetahui bahwa mereka tak usah lagi mengetuk pintu atau berseru-seru di beranda muka, melainkan bolehlah terus kebelakang saja buat menemui orang rumah.
Hal yang menarik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …..
Kebiasaan tokohnya yang bersifat terbuka kepada tamu
Hubungan harmonis seorang anak dengan mertuanya
Ketadaan suami ketika seorang istri berada di rumah
Kesederhanaan kehidupan sebuah keluarga
Kondisi rumah tangga yang tampak harmonis
Perkataan itu terdengar oleh sekalian isi kantor. Semua pesuruh berdiri dari bangku kedudukannya, memandang Kosim tenang-tenang. Warna muka orang muda itumerah padam, matanya bersinar-sinar. Bukan main marahnya karena ia dihinakan. Ia pun berkata dengan gagap, “Saya bu…bukan bujang, juragan.”
“Aku kepalamu, tuanmu, tahu? Kepadaku engkau minta izin jika hendak ke mana-mana dari kantor ini.” “Keras kepala, bin… engkau! Ini manteri kabupaten, Manteri Surya, mengerti? Awas…”
Kosim gemetar, kedua bibirnya bertaut dan matanya terbelalak berapi-api. Ia melangkah menuju meja manteri dan membulatkan tinjunya.
Seketika itu juga tangannya dipegang oleh Suminta cepat-cepat lalu ia ditariknya keluar.
“Sudah Juragan Kosim,” katanya perlahan-lahan. Pergilah, ah…mana gelas itu Juragan Manteri? Saya cuci, saya beli kopi sekali?”
Surya terdiam diri, dagunya gemelutuk karena berang. Sejurus antaranya ia pun memegang pena seakan-akan hendak bekerja. Akan tetapi, tak dapat, hatinya masih berang.
Nilai budaya dalam kutipan cerpen di atas adalah…
Siapapun harus meminta izin bila meninggalkan ruang kerja.
Seorang anak buah tidak harus hormat dan patuh kepada atasan.
Seorang atasan harus berani dan sering menegur bawahannya.
Menentang perintah atasan apabila tidak berkenan di hati.
Seorang atasan tidak berani menegur bawahan
Bacalah penggalan cerpen di bawah ini dengan cermat!
Meski termasuk anak yang pandai dan masuk kelas akselerasi, Romero tetap memilik banyak
teman dan sahabat. Baginya teman adalah lingkungan yang dapat memberikan banyak
inspirasi dan pengalaman yang tidak diperoleh di bangku sekolah. Di rumah ia juga bersikap
baik pada tetangga. Ia ingat ketika orang tuannya berpesan, “Carilah teman dan sahabat
sebanyak-banyaknya karena kita tidak bisa hidup sendiri. Suatu saat pasti kita membutuhkan
orang lain.”
Nilai kehidupan yang paling menonjol dari kutipan cerpen diatas adalah...
Budaya
Ekonomi
Pendidikan
Keindahan
Sosial
Astaga, siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Namun, hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah . . . .
Kehati-hatian seseorang terhadap keadaan sekelilingnya.
Ketakutan yang timbul akibat pengalaman masa lalu.
Jangan berprasangka buruk hanya karena melihat penampilannya.
Ketidakpercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya.
Kepercayaan orang-orang pada seseorang/
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Ternyata keluarga Haji Bakir tidak pernah memperlakukan Karman sebagai pembantu rumah tangga yang sebenarnya. Anak itu diberi kesempatan menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat yang sudah dua tahun ditinggalkannya. Pekerjaan yang diberikan kepada Karman adalah pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan oleh anak seusianya; mengantarkan makanan bagi orang yang sedang bekerja di sawah, menyapu rumah dan halaman, memelihara ikan di kolam, dan melayani si manja Rifah. Si bungsu bertambah ceria. Sekarang di rumahnya tinggal seorang anak yang harus mau disuruhnya mencari bulu jagung untuk membuat boneka, mengumpulkan buah saga untuk bermain pasar-pasaran. Atau terjun ke air jika bola Rifah masuk ke kolam. Namun karena hendak menolong Rifah, Karman pernah mengalami kejadian yang hanpir mencelakakan dirinya.
Nilai sosial dalam kutipan cerpen tersebut adalah….
Membantu keluarga mengerjakan pekerjaan rumah
Membantu membiayai kebutuhan hidup orang lain
Menolong orang lain dengan penuh pengorbanan
Menolong keluarga yang membutuhkan bantuan
Memberikan sesuati yang terbaik untuk keluarga
”Marno, tengadahkan kedua tanganmu agar air yang aku guyurkan tertampung di kedua tanganmu, kemudian usapkan di perut istrimu.” Perintah dukun bayi sebelum mengguyurkan air di atas kepala suamiku sebagai guyuran terakhir. Sambil mengusapkan air di perutku, aku melihat mulutnya melafalkan doa dengan lirih, sangat lirih, hingga aku yang duduk rapat dengannya tidak mendengar apa yang diucapkannya. Bersamaan dengan berakhirnya usapan di perutku, aku melihat air mata hampir menitik jatuh di mata suamiku. Sebentuk haruan dan kebahagiaan yang dirasakannya tergambar jelas di sudut matanya yang basah. ”Sekarang belahlah kelapa gading di depanmu, Marno.” Belum selesai dukun bayi mengucapkan perintahnya, suamiku sudah mengayunkan parang yang diambil di sisi kelapa. ”Braak.” kelapa itu terbelah tepat di tengah, suamiku tersenyum, dari mulutnya keluar kata, ”Laki-laki”. Kembali aku melihat binar bahagia terpancar dari air mata yang mengambang hampir jatuh. (Jodoh, Dian Aksanti)
Nilai budaya (Mitos) yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah ....
Buah kelapa merupakan simbol kehamilan seorang ibu
Air yang diguyurkan oleh dukun bayi harus diusapkan di perut wanita hamil
Jika kelapa terbelah tepat di tengah, bayi yang akan lahir adalah bayi laki-laki
Jika sang suami berhasil menampung air di kedua tangannya, bayi yang lahir adalah perempuan
Seorang suami wajib membelah buah kelapa gading dengan parang
