NEW
Font size
WorksheetsBedah SKL Membaca Sastra
Total questions: 10
Worksheet time: 8mins
Perhatikan puisi berikut!
Kami dan Kalian
Kalian tinggal dalam rumah kebodohan 1)
Karena dalam rumah ini 2)
Tiada cermin kaca buat memandang jiwa 3)
Kami menghela napas panjang 4)
Dan dari keluhan ini 5)
Terbitlah bisikan bunga-bunga 6)
Kalimat bermajas terdapat pada larik ke- ….
1) dan 2)
1) dan 2)
1) dan 6)
2) dan 3)
4) dan 6)
Perhatikan puisi berikut!
Selamat Tinggal
Aku berkaca
lni muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
Dalam hatiku?
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelegar tengah malam buta
Ah ….!!!
Segala menebal, segala mengental
Segala tak ku kenal
Selamat tinggal ...!!!
Karya : Chairil Anwar
Makna simbol muka penuh luka adalah ….
diri yang penuh dosa
seseorang sakit keras
mengenang masa lalu
sudah berpengalaman
orang yang bersyukur
Perhatikan puisi berikut!
Menyesal
Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi,
Sekarang petang datang membayang,
Batang usiaku sudah tinggi.
Aku lalai di pagi hari.
Karya : A. Hasjmy
Makna pagi hari dalam puisi tersebut adalah masa ….
kebahagiaan
muda
sekolah
perenungan
penyesalan
Perhatikan kutipan novel berikut!
Aku masih akan mendengar suara itu apabila kembali ke dalam bilikku yang berdinding bambu. Dalam kantuk maupun dalam jaga hutan bambu yang kini tenggelam dalam pekatnya kegelapan itu masih selalu bisa kuhadirkan sebagai bagian diriku baik batang-batang bambu hijau yang basah. dedaunan yang gugur di bawahnya, dan gemerisik dedaunan itu ketika angin yang paling perlahan pun mengayunkan batang-batangnya saling bersentuhan. Ketika angin semakin kencang, kita akan mendengar semacam siulan di antara batang-batang yang sesekali terdengar seperti rintihan.
Latar yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah ….
bilik bambu, malam hari, mencekam
hutan bambu, sore hari, menegangkan
pohon bambu, malam hari, menenangkan
bilik bambu, sore hari, sehabis hujan
hutan bambu, pagi hari, mencekam
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Yamin dan puluhan massa yang mengejarnya melewati Aisyah. Ia menepi ke beranda sebuah toko sembako. Degap jantungnya berirama cepat. Massa semakin bertambah. Yamin berusaha lari sekencang mungkin. Semburat ketakutan melukis peluh sebiji jagung. Gerobak, tenda, apa saja yang ada di depannya dirubuhkan untuk menghambat laju massa. Sebuah tas tangan metalik terombang-ambing di genggaman. Otaknya berpikir keras untuk keluar dari situasi ini. Kakinya cepat menuju pertigaan di depan.
Sudut pandang penceritaan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
orang pertama sebagai narator
orang pertama sebagai tokoh tambahan
orang ketiga sebagai tokoh utama
orang ketiga sebagai narator
orang ketiga sebagai pelaku tambahan
Perhatikan kutipan drama berikut!
Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan. Takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.
Kakek : Bagus!
Nenek : Apa maksudmu?
Kakek : Tindakan terpuji itu namanya.
Nenek : He, apa sih maksudmu, Pak?
Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!
Nenek : Hu … hu … hu … (Menangis)
Kakek : He, ada apakah kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya?
Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu … hu … hu …
Watak tokoh Nenek dalam kutipan drama tersebut adalah ….
suka memuji
mudah tersinggung
bersikap jujur
mudah menangis
suka dipuji
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
“Di pemakaman nanti dari keluarga ada yang membacakan doa?”
“Saya rasa nggak ada. Sekalian saja dari yayasan.”
“Jadi, dari keluarga hanya memberikan kata sambutan saja?“
“Sambutan?“
Yang satu ini benar-benar di luar pemikiran saya, bahwa lazimnya dalam setiap pemakaman ada yang memberikan “ucapan selamat tinggal“ ataupun “kata-kata perpisahan“ setelah jenazah masuk ke liang kubur. Masalahnya: siapa yang paling layak menyampaikannya?
“Pokoknya jangan saya,“ begitu Kak Zul langsung angkat suara ketika saya mengajak berkumpul saudara-saudara yang sudah datang guna membahas soal ini.
“Saya juga jangan,“ menyusul suara Kak Alex. “Saya susah bicara di depan umum. Kalau macet di tengah jalan bagaimana?“
“Ah, namanya juga sambutan di pemakaman. Wajar kalau sedikit tersendat.“
“Kau sendiri sajalah. Kau kan dosen.“
“Masak anak bungsu yang bicara, mestinya yang paling tua.“
Penyebab konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
perebutan warisan orang tua
kesedihan ditinggal orang tua
penyampaian sambutan di pemakaman
kata-kata perpisahan kepada orang tua
ucapan selamat tinggal kepada orang tua
Perhatikan kutipan novel berikut!
“Saya dapat panggilan sekolah kedokteran di Surabaya, Mbah. Tapi belum tahu jadi ke sana atau tidak. Saya khawatir, biayanya terlalu mahal buat kita,” jawab Mufit, kemudian kepalanya tertunduk lesu, menahan sedih.
“Sudah, Fit, biarkan simbah-mu istirahat! Jangan kau bercerita macam-macam!” Sela bapaknya. Sementara pakde-nya dan pamannya serta saudara-saudaranya tidak ada yang berani mencegah. Mereka menyadari Mufit sangat dekat dengan kakeknya.
“Biarkan dia bicara denganku, Har! Mungkin besok aku sudah tidak dapat bicara dengannya lagi!”
“Le, apa sekolah kedokteran itu kalau kamu bisa lulus terus jadi Ndoro Dokter?”
“Betul, Mbah.”
“Berarti sekolah itu sama dengan sekolahnya cucu Kiai Madun? Itu lho Ndoro Dokter Andaru!”
“Iya, Mbah, tapi mahal. Saya khawatir Bapak tidak mau. Sebab ….”
“Sudah, sudah! Tidak usah kau teruskan Le! Mbah tahu!” ujar Mbah Kasno.”
“Aku ingin kalian jangan potong sapi sepeninggalku nanti. Biarkan sapi itu utuh untuk biaya sekolah Mufit!”
“Lalu, apa kata orang nanti kalau Bapak meninggal tidak dipotongkan sapi? Kami akan dipermalukan orang sekampung, Pak. Padahal orang yang kurang mampu saja kalau orang tuanya meninggal dipotongkan sapi.”
Akibat konflik dalam kutipan novel tersebut adalah …
Mufit dapat bersekolah kedokteran di Surabaya.
Mufit dapat bersekolah kedokteran di Surabaya.
Mbah Kasno menjual sapi-sapi miliknya.
Mbah Kasno melarang memotong sapi.
Mufit dibenci anggota keluarga lain.
Perhatikan kutipan novel berikut!
Sudah tiga kali Minggu ini Mak Cik datang meminjam beras. Keluarga kami memang miskin, tapi Mak Cik lebih tak beruntung. la tak berdaya karena tak lagi dipedulikan suaminya, antara lain karena ia hanya bisa melahirkan anak-anak perempuan itu.
Ibuku memberi isyarat dan Arai melesat ke gudang peregasan. la memasukkan beberapa takar beras ke dalam karung, kembali ke pekarangan, memberikan karung beras itu kepada ibuku yang kemudian melungsurkannya kepada Mak Cik.
“Ambillah ….”
Mak Cik menerimanya dengan canggung dan berat hati. Aku tak sampai hati melihatnya. la berkata terbata-bata, “Tak’kan mampu kami menggantinya, Kak ….”
Lalu Mak Cik menatap Nurmi. Wajahnya menanggungkan perasaan tak sampai hati, namun beliau benar-benar tak punya pilihan lain.
“Hanya biola ini milik kami yang masih berharga,” ucapnya pedih.
Nurmi memeluk biolanya kuat-kuat. Air matanya mengalir. la tak rela melepaskan biola itu.
“Nurmi ….,” panggil ibunya.
Nurmi berupaya keras menguat-nguatkan dirinya. la mendekati ibuku. Langkahnya terseret-seret untuk menyerahkan koper biolanya. Air matanya berurai-urai. Ibuku tersenyum memandangi Nurmi.
“Jangan sekali-kali kaupisahkan Nurmi dari biola ini, Maryamah. Kalau berasmu habis, datang lagi ke sini.”
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan novel tersebut adalah ….
menolong dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan
mempunyai simpanan makanan untuk dibagikan kepada tetangga
melakukan kewajiban memperhatikan kondisi tetangga sekitar
mengorbankan semua miliknya demi anak-anaknya
berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan nafkah
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Tapi, bagi masyarakat Kotopanjang, semua minat akademik dan sosio-politik itu tidak penting. Persetan dengan teori ini dan itu. Peduli amat dengan pendapat si anu perihal makna merantau. Bagi mereka merantau punya satu arti penting: harga dan status anak muda yang baru pulang dari rantau melonjak di pasaran jodoh. Maka tidaklah mencengangkan bila sejak kepulangannya dari Amerika Serikat belum sebulan berselang, Samsir menjadi buah mulut warga desa. Setiap keluarga yang punya anak gadis yang sudah patut kawin membicarakan kemungkinan doctor keluaran Harvard itu menjadi menantu mereka, urang sumando mereka. Dia jadi buah bibir mulut anak-anak muda di desa.
Nilai budaya dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
bersekolah di luar negri
tidak tertarik dengan minat akademik
merantau untuk meningkatkan status sosial
menjadikan seorang doctor sebagai menantu
Menjadi buah bibir sepulang dari merantau
