WorksheetsKUIS TPS BAHASA INDONESIA 2 JULI 2020 PERTAMA
Total questions: 10
Worksheet time: 9mins
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Topik bacaan di atas adalah …
Daerah pesisir di Indonesia
Struktur material pesisir di Indonesia
Perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan sabut kelapa
Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir
Perlindungan terumbu karang
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Berdasarkan letak ide pokoknya, paragraf 1
pada teks di atas tergolong sebagai paragraf …
Deduktif
Induktif
Deskriptif
Campuran
Naratif
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Arti kata yang tidak tepat mengenai erosi
adalah …
Pengikisan
Penyusutan
Penipisan
Geseran air
Gesekan
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Menurut makna leksikalnya, kata abrasi
merupakan istilah …
Umum
Khusus
Fakta
Asli
Nyata
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Berikut adalah penyebab daerah pesisir di
Indonesia berada dalam kondisi kritis, kecuali
…
Penambangan pasir
Pembabatan hutan bakau
Pembangunan infrastuktur
Penangkapan ikan secara illegal
Perubahan iklim
TAHUKAH Anda bahwa sabut kelapa bisa
dimanfaatkan sebagai pelindung pesisir pantai
dari erosi dan abrasi air laut? Daerah pesisir di
Indonesia, yang juga menjadi tempat kegiatan
ekonomi dan pemukiman warga, kini berada di
kondisi kritis. Tidak hanya akibat aktivitas
manusia, seperti pembabatan hutan bakau,
penambangan pasir, hingga pembangunan
infrastruktur namun juga akibat dari perubahan
iklim. Perubahan iklim dapat mempengaruhi
daerah pesisir hingga menghadapi berbagai
masalah, mulai dari naiknya permukaan air laut,
suhu laut, hingga menimbulkan gas emisi rumah
kaca. Ditambah lagi, erosi di daerah pesisir,
banjir, hingga polusi air. Oleh karena itu,
perlindungan daerah pesisir seharusnya menjadi
salah satu prioritas mitigasi perubahan iklim.
Umumnya, perlindungan daerah pesisir dari erosi
menggunakan struktur material yang keras (hard
structure), seperti tanggul laut yang terbuat dari
beton, pemecah gelombang, groin (bangunan yang
dibangun menjorok ke arah laut), jetty (jalanan
yang dibuat mengarah ke laut), dan lainnya.
Namun, material alami seperti terumbu karang,
hutan bakau, atau rumput laut juga dapat
melindungi daerah pantai dari gelombang tinggi,
atau disebut sebagai soft structure yaitu struktur
material yang lunak/dari bahan alam.
Disadur dari :
https://sains.kompas.com/read/2019/09/08/170600
823/kisah-peneliti-di-jawa-barat-selamatkanpantai-
dengan-sabut-kelapa.
Manakah pernyataan yang tidak tepat
mengenai perlindungan daerah pesisir dari
erosi?
Menggunakan tanggul laut yang terbuat
dari beton
Menggunakan bangunan yang dibangun
menjorok ke arah laut
Jalanan yang dibuat mengarah ke laut
Menggunakan pemecah gelombang
Menggunakan perlindungan dari bebatuan
(1) Sebuah penelitian dilakukan oleh sekelompok
ilmuan dari Oberlin College, Ohio, Amerika
Serikat, jenis tupai abu-abu (grey squirrel)
Jl. Brigjen Katamso No. 19B, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler, Bandung
Telepon 022-2054 4094 | www.smarteducorner.com
rupanya mendengarkan suara burung untuk menghindari bahaya, terutama predator. (2) Saat tupai mendengarkan suara burung yang menandakan munculnya predator, tupai tersebut akan bersembunyi atau terbang dan berlindung. (3) Mereka akan tetap berada di titik aman tersebut sampai burung bercuit seperti biasa, menandakan bahwa predator telah lewat. (4) Penelitian ini dilakukan pada 54 tupai liar yang hidup di taman kota dan residen di Amerika Serikat. (5) Mereka mensimulasi predator dengan rekaman suara elang, predator yang paling ditakuti tupai dan burung kecil. (6) Suara simulasi elang ini kemudian diikuti oleh suara burung. (7) Para peneliti tersebut kemudian memperhatikan aktivitas tupai selama tiga menit. (8) Para peneliti ini menemukan bahwa tupai menjadi lebih waspada usai mendengar simulasi suara elang. (9) Namun usai mendengar suara cuitan burung seperti biasa setelahnya, perilaku tupai kembali normal. (10) “Ini berarti cuitan burung menjadi tanda rasa aman,” tutur salah satu peneliti seperti di kutip dari The Independent, Sabtu (7/9/2019).
Disadur dari : https://sains.kompas.com/read/2019/09/07/200500423/tupai-memanfaatkan-suara-cuitan-burung-untuk-jauhi-bahaya.
Ilmuan
TIDAK PERLU DIPERBAIKI
Ilmuwan
Berilmu
Tokoh
Kalangan
(1) Sebuah penelitian dilakukan oleh sekelompok
ilmuan dari Oberlin College, Ohio, Amerika
Serikat, jenis tupai abu-abu (grey squirrel)
Jl. Brigjen Katamso No. 19B, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler, Bandung
Telepon 022-2054 4094 | www.smarteducorner.com
rupanya mendengarkan suara burung untuk menghindari bahaya, terutama predator. (2) Saat tupai mendengarkan suara burung yang menandakan munculnya predator, tupai tersebut akan bersembunyi atau terbang dan berlindung. (3) Mereka akan tetap berada di titik aman tersebut sampai burung bercuit seperti biasa, menandakan bahwa predator telah lewat. (4) Penelitian ini dilakukan pada 54 tupai liar yang hidup di taman kota dan residen di Amerika Serikat. (5) Mereka mensimulasi predator dengan rekaman suara elang, predator yang paling ditakuti tupai dan burung kecil. (6) Suara simulasi elang ini kemudian diikuti oleh suara burung. (7) Para peneliti tersebut kemudian memperhatikan aktivitas tupai selama tiga menit. (8) Para peneliti ini menemukan bahwa tupai menjadi lebih waspada usai mendengar simulasi suara elang. (9) Namun usai mendengar suara cuitan burung seperti biasa setelahnya, perilaku tupai kembali normal. (10) “Ini berarti cuitan burung menjadi tanda rasa aman,” tutur salah satu peneliti seperti di kutip dari The Independent, Sabtu (7/9/2019).
Disadur dari : https://sains.kompas.com/read/2019/09/07/200500423/tupai-memanfaatkan-suara-cuitan-burung-untuk-jauhi-bahaya.
Mendengarkan
TIDAK PERLU DIPERBAIKI
Didengarkan
Mendengar
Terdengar
Didengar
(1) Sebuah penelitian dilakukan oleh sekelompok
ilmuan dari Oberlin College, Ohio, Amerika
Serikat, jenis tupai abu-abu (grey squirrel)
Jl. Brigjen Katamso No. 19B, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler, Bandung
Telepon 022-2054 4094 | www.smarteducorner.com
rupanya mendengarkan suara burung untuk menghindari bahaya, terutama predator. (2) Saat tupai mendengarkan suara burung yang menandakan munculnya predator, tupai tersebut akan bersembunyi atau terbang dan berlindung. (3) Mereka akan tetap berada di titik aman tersebut sampai burung bercuit seperti biasa, menandakan bahwa predator telah lewat. (4) Penelitian ini dilakukan pada 54 tupai liar yang hidup di taman kota dan residen di Amerika Serikat. (5) Mereka mensimulasi predator dengan rekaman suara elang, predator yang paling ditakuti tupai dan burung kecil. (6) Suara simulasi elang ini kemudian diikuti oleh suara burung. (7) Para peneliti tersebut kemudian memperhatikan aktivitas tupai selama tiga menit. (8) Para peneliti ini menemukan bahwa tupai menjadi lebih waspada usai mendengar simulasi suara elang. (9) Namun usai mendengar suara cuitan burung seperti biasa setelahnya, perilaku tupai kembali normal. (10) “Ini berarti cuitan burung menjadi tanda rasa aman,” tutur salah satu peneliti seperti di kutip dari The Independent, Sabtu (7/9/2019).
Disadur dari : https://sains.kompas.com/read/2019/09/07/200500423/tupai-memanfaatkan-suara-cuitan-burung-untuk-jauhi-bahaya.
Residen
TIDAK PERLU DIPERBAIKI
Residensial
Rasional
Responden
Residential
(1) Sebuah penelitian dilakukan oleh sekelompok
ilmuan dari Oberlin College, Ohio, Amerika
Serikat, jenis tupai abu-abu (grey squirrel)
Jl. Brigjen Katamso No. 19B, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler, Bandung
Telepon 022-2054 4094 | www.smarteducorner.com
rupanya mendengarkan suara burung untuk menghindari bahaya, terutama predator. (2) Saat tupai mendengarkan suara burung yang menandakan munculnya predator, tupai tersebut akan bersembunyi atau terbang dan berlindung. (3) Mereka akan tetap berada di titik aman tersebut sampai burung bercuit seperti biasa, menandakan bahwa predator telah lewat. (4) Penelitian ini dilakukan pada 54 tupai liar yang hidup di taman kota dan residen di Amerika Serikat. (5) Mereka mensimulasi predator dengan rekaman suara elang, predator yang paling ditakuti tupai dan burung kecil. (6) Suara simulasi elang ini kemudian diikuti oleh suara burung. (7) Para peneliti tersebut kemudian memperhatikan aktivitas tupai selama tiga menit. (8) Para peneliti ini menemukan bahwa tupai menjadi lebih waspada usai mendengar simulasi suara elang. (9) Namun usai mendengar suara cuitan burung seperti biasa setelahnya, perilaku tupai kembali normal. (10) “Ini berarti cuitan burung menjadi tanda rasa aman,” tutur salah satu peneliti seperti di kutip dari The Independent, Sabtu (7/9/2019).
Disadur dari : https://sains.kompas.com/read/2019/09/07/200500423/tupai-memanfaatkan-suara-cuitan-burung-untuk-jauhi-bahaya.
Mensimulasi
TIDAK PERLU DIPERBAIKI
Menstimulasi
Menyimulasi
Mengasimilasi
Menetralisasi
