Font size
WorksheetsCerpen 1
Total questions: 25
Worksheet time: 24mins
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….
(1)
(2)
(3)
(4)
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut adalah ...
Jangan menyusahkan orang tua hanya karena ingin memberi hadiah teman!
Usahakan selalu memberi hadiah kepada teman orang tua!
Temanilah ibumu saat duduk-duduk di beranda!
Matikan lampu jika sudah tidak diperlukan!
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah.…
A. Mentari meredup
Ketika kerumunan tidak bersama
Mentari di sebelah barat
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah ....
kalimat pertama pada paragraf pertama
Kalimat kedua pada paragraf pertama
Kalimat keempat pada paragraf kedua
Kalimat ketiga pada paragraf kedua.
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama!
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Amanat yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
Kita harus menyesuaikan diri di mana pun berada
Tidak ada kata terlambat untuk memaafkan.
Pikir dulu sebelum bertindak, sesal kemudian tidak berguna.
Kita harus menghormati ibu yang telah melahirkan.
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Kata "matahari yang mulai tenggelam" tersebut mengandung makna....
hari hampir siang
hari hampir senja
hari hampir malam
hari hampir subuh
Bacalah dengan saksama kutipan cerpen berikut!
(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).
Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .…
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (5)
Ku tak mungkin jatuh cinta kan? Tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, dan ku akan selalu menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan kepadaku sejak itu, termasuk yang itu ... yang dua kali kau sampaikan padaku. Sampai kapan pun kau merayuku, aku tak akan pernah lagi percaya padamu. Kebohongan-kebohonganmu telah merusak cintaku.
Bukti bahwa watak tokoh kamu pembohong dapat diketahui melalui ….
Tingkah laku tokoh kamu
Tingkah laku tokoh aku
Dialog tokoh kamu
Dialog tokoh aku
Bacalah kutipan berikut dengan saksama!
Di Kantor Pos
Oleh: Muhammad Ali
“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bisa keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerpen tersebut bertema ….
Keberanian pegawai mengakui kekeliruan.
Kejujuran seseorang dalam hidup.
Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang.
Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos.
Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi di setiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedungnya itu.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat …
pemberani
baik
sombong
egois
Bacalah teks berikut ini!
. . . .
“Apa-apaan sih, elo? Posternya kan jadi sobek!!!”
“Sorry, Rin! Gue bener-bener nggak sengaja!”
Rinta sama sekali nggak ngegubris pembelaan Anya. Ia masih memandangi poster Blur kesayangannya yang kini sudah terbagi dua karena robek. “Rin, sorry,ya. Gue . . . .”
“Aah! Udah, deh! Pulang, sana!” potong Rinta kesal, matanya sudah sembap, hampir nangis. Anya nggak mau memperburuk keadaan. Ia pun langsung keluar dari kamar Rinta dan bergegas pulang.
Kutipan teks cerpen tersebut memuat bagian…..
Orientasi
Resolusi
Komplikasi
Koda
Berikut ini yang bukan struktur teks cerpen adalah …
Orientasi
Imajinasi
Komplikasi
Rangkaian peristiwa
Sebuah penyajian permasalahan dalam sebuah cerita hingga sampai puncak masalah disebut ...
komplikasi
resolusi
rangkaian peristiwa
Orientasi
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ya, kediaman keluarga Sastro Suwiryo yang menempati lahan seluas 200 meter persegi di Desa Kasongan pinggiran Yogyakarta itu bisa dibilang tenang dan tentram sebelumnya. Malam itu sudah hampir setengah jam isak tangis terdengar mengalahkan lagu malam yang dinyanyikan oleh angin dan lambaian pohon kelapa belakang rumah. Rembulan purnama yang tengah asyik menemani orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyak juga tidak disapa oleh isak tangis itu.
“ Bapak, bangun, Pak.”
“ Ada apa, Bu? Malam-malam begini kok bangun? Kok kelihatannya ada yang serius.”
Dikutip dari: Agung Webe, “Arjuna Tidak Mencari Cinta” dalam Arjuna Tidak Mencari Cinta, Bekasi, Soul Journey, 2016.
Kalimat bercetak tebal dalam kutipan cerpen tersebut mengandung majas . . . .
Metafora
Personifikasi
Metonimia
Hiperbola
Perhatikan cerpen berikut!
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasannya telah lenyap. Juga televisi dan beberapa perlengkapan elektronik yang ada di ruang tengah.
Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”
Tema kutipan cerpen di atas adalah ....
Kehilangan uang, perhiasan, dan peralatan elektronik
Pencurian
Catatan kecil
Pemberian karcis pertunjukan
Perhatikan kutipan teks cerita berikut!
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia akan tahu itu hanyalah bayangannya. Tapi anjing itu tidak berpikir apa-apa dan malah menjatuhkan tulang yang dibawanya dan langsung melompat ke dalam sungai. Anjing tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tapi sungai. Ketika dia selamat sampai di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang dibawanya malah hilang. Dia pun akhirnya menyesali apa yang baru saja terjadi lalu menyadari betapa bodohnya dirinya.
Seekor anjing yang mendapatkan tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke tempatnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yang sangat kecil, dia menunduk ke bawah dan melihat bayangan dirinya yang terpantul dari air bawah jembatan itu. Anjing yang serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa tulang yang lebih besar dari miliknya.
Tema yang terkandung dalam teks tersebut adalah ....
Terburu-buru
Berpikir itu penting
Bayangan membawa penyesalan
keserakahan
Bacalah penggalan cerpen berikut!
Alangkah pedih hati Salamah. Marni sebenarnya ingin meminta sesuatu kepadanya. Tapi takut. Takut mengundang amarahnya. Tapi tidak sayangku, bisik Salamah dalam hati. Kau terlalu baik anakku. Kau tidak melawan jika aku tidak memberimu uang.... Kau tidak minta apa-apa karena kau tahu betul betapa ibumu ini melarat. Melarat sekali. Kau tidak pernah merengek minta dibelikan mainan. Anakku, ini yang membuat aku begitu terenyuh kepadamu. Kau begitu tabah menghadapi hidup kita yang sengsara ini, Marni...
Watak tokoh Marni pada penggelan cerpen di atas adalah ...
sabar dan tabah
setia dan taat
taat penuh perhatian
baik dan mulia
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ekspresi Nina pun begitu aneh. Ia seperti ketakutan. Nina benar-benar takut kalau ia akan gagal di ujiannya dua hari kemarin. Dapat nilai C untuk yang kedua kalinya, pasti akan lebih memalukan dari pada sebuah peristiwa memalukan yang menimpanya tiga hari silam.
Dengan tertunduk malu, Nina pun maju ke depan. Ia hanya bisa menundukkan mata sambil terus berzikir, “Jangan C lagi, please...jangan C lagi.”
Suasana yang tergambar pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
gembira
gugup
tegang
sedih
Menyaksikan guyuran dari bawah lindungan halte bus, aku merasa tak berdaya. Aku hanya bisa memandang entah apa, tanpa pernah berbuat lain kecuali diam. Jauh di atas sana, langit kelabu, bertanda hujan akan cukup betah menyaksikanku. Andai aku tadi tidak terlambat, aku pasti sudah di bus bahkan mungkin sudah tidur nyenyak di kamar.
Sudut pandang yang digunakan pengarang pada kutipan cerita di atas adalah...
Orang ketiga
Orang ketiga pengamat
Orang pertama pelaku utama
Orang pertama bukan pelaku utama
Pagi-pagi kesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ni Negari telah bangun dan bekerja menyediakan kopi. Di bilik tempat tidurnya tidak kedapatan Ni Luh Sukreni, cuma I Gusti Made Tusan sudah terbangun dan berakaian pula.
“Berapa kali ia mandi,” kata Ni Negari dalam hatinya.
Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah...
Pertama pelaku utama
Pertama pelaku sampingan
Ketiga pelaku sampingan
Ketiga serba tahu
Bacalah kutipan cerita berikut!
Biarpun begitu muncul juga dari gua sanubariku, mengalir secepat kilat ke dalam otak menciptakan pikiran-pikiran yang memalukan.
Sambil berbaring memeluk guling. Tiba-tiba khayal membentang di depan muka mata batinku. Aneh tak tahan lagi aku. Aku menjadi sebal dan mual. Gadis yang jelita dan tidak berdosa itu harus menjadi korban, dibaktikan kepada seorang tua bangka, suka makan riba. Kupejamkan mataku, menyusukkan kepalaku ke bawah bantal. Aku tidak mau mengujatnya.
Konflik yang terjadi pada kutipan cerita tersebut adalah ...
tokoh aku yang tidak setuju dengan tua bangka.
tokoh aku yang tidak setuju gadis jelita jadi korban.
tokoh aku yang gelisah dan tidak bisa diatur.
tokoh aku yang tidak bisa menyimpan masa lalu.
Bacalah kutipan cerita anak berikut!
Pagi ini tidak bisa lagi Timan tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yang sekolah pada sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu Timan mestinya ngerti. Dengan bus dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 km. Pukul berapakah Rahmat sampai di sekolah.
Konflik pada kutipan cerita tersebut adalah ...
sekolah yang jauh membuat timan bingung
angkutan gratis yang rusak rahmat tidak sekolah
kekhawatiran Timan atas keterlambatan Rahmat
jarak sekolah yang merepotkan siswanya
Bacalah kutipan cerita berikut dengan seksama!
Suatu hari, karena begitu laparnya, ia makan semua makanan yang ada di meja, termasuk jatah makanan kedua orang tuanya. Sepulang dari ladang, bapaknya yang lapar mendapati meja yang kosong tak ada makanan. Marahlah hatinya, karena tidak bisa menguasai diri, keluarlah kata-katanya yang kasar. "Dasar anak keturunan ikan!" Seketika itu juga, isteri dan anaknya hilang dengan gaib. Ia menyesal atas perbuatannya. Karena ucapannya tersebut, ia telah melanggar janji pada isterinya.
Amanat kutipan cerita tersebut adalah ...
Karena nila setitik akan rusak susu sebelanga.
Jangan mudah marah agar tidak menyesal.
Selesaikan segala persoalan dengan bermusyawarah.
Biasakan hidup sederhana jangan foya-foya.
Bacala kutipan teks cerita berikut!
Kalau tidak, tentu telah berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia. Dua hari yang lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yang sudah tidak muat lagi mereka kenakan. Aku yang menyisihkan pakaian-pakaian tua milikku, begitu juga milik istriku. Pakaian-pakaian bekas itu kuberikan kepadanya, di samping upah yang dia terima. Kami sebenarnya bukanlah orang yang mampu. Tapi kebiasaan seperti itu telah ditanamkan orang tuaku sejak aku masih kecil.
Amanat yang sesuai dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
Kita harus menghormati orang lain!
Harus berbagi rezeki dengan orang lain!
Haruslah tolong menolong dalam hidup!
Jangan berprasangka buruk pada orang lain!
Perhatikan penggalan cerpen berikut!
“Emak, berapa lama lagi bedug maghrib berbunyi?” tanya Marni sambil mendekat padanya dan kemudian duduk menyandarkan kepalanya di punggung Salamah. Angin sore itu bertiup kencang, menghempas-hempas rumbia gubuknya di bawah jembatan.
“Sebentar Nak, sebentar lagi. Lihat, langit sudah mulai memerah. Itu pertanda matahari mau tenggelam dan maghrib tiba. Kau sudah mulai lapar?”
Latar pada penggalan cerpen tersebut adalah ...
Siang hari di jembatan
Pagi hari di bawah jembatan
Sore hari pada gubuk di bawah jembatan
Magrib di bawah jembatan
