NEW
Font size
WorksheetsEVALUASI HIKAYAT
Total questions: 30
Worksheet time: 30mins
Maka baginda pun bimbanglah, tida tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat, iya menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda dan berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat di atas yaitu...
Nilai Moral
Nilai Agama
Nilai Pendidikan
Nilai Budaya
Nilai Sosial
Syahdan maka adalah raja di dalam negeri itu telah kembali ke rahmatullah. Maka segala menteri dan hulubalangnya dan orang-orang besar dan orang-orang membicarakan, siapa juga yang patut dijadikan raja menggantikan raja yang telah kembali ke rahmatullah itu. Maka di dalam antara menteri yang banyak itu ada seorang menteri yang tua daripada tuan hamba sekalian itu. Maka ia pun berkata, katanya: "Adapun hamba ini tua daripada tuan hamba sekalian itu. Jikalau ada gerangan bicara, mengapa segala saudaraku ini tiada hendak berkata?"
Isi kutipan tersebut menceritakan tentang ...
Masyarakat sedang berduka atas kematian raja
Orang tua diberi hak berbicara dalam setiap pertemuan
Seorang raja telah meninggal dan tidak memiliki anak
Para menteri dan orang besar melakukan musyawarah pemilihan raja
Hak orang berpendapat untuk memecahkan masalah
Bacalah penggalan hikayat “Bunga Kemuning” berikut!
Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka.
Sumber teks: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat di atas yaitu...
nilai moral
nilai agama
nilai budaya
nilai pendidikan
nilai sosial
Bacalah penggalan hikayat berikut!
”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya. ”Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata.”
”Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya.”
(Hikayat Kalilah dan Dimnah)
Nilai moral yang tertuang dalam penggalan cerita di atas tampak pada perbuatan ….
Menghormati orang lain
Mendahulukan kepentingan umum
Menegur orang dengan bahasa yang sopan
Menolong orang yang sedang menderita
Membantu orang yang sedang bersedih hati
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Kata arkais yang berwarna merah pada penggalan hikayat di atas memiliki makna...
diusir
diminta
diperintah
diizinkan
diharapkan
Apa yang dimaksud dengan alur?
Rangkaian peristiwa dalam sebuah cerita
Gaya bahasa dalam sebua cerita
Kata penghubung
Keterangan waktu
Perhatiakan kutipan teks cerpen berikut!
“Kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih Pak, Diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantuny, bukan malah menambah bebanya."
Amanat yang terkandung dalam kutipan teks cerpen di atas adalah….
sebagai manusia harus saling tolong-menolong
seorang pendidik harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup
guru harus bersikap profesional dalam mendidik siswanya
guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasannya telah lenyap. Juga televisi dan beberapa perlengkapan elektronik yang ada di ruang tengah.
Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”
Tema cerita yang pas untuk cerita di atas adalah ...
Pencurian
Kesedihan
Kekhawatiran
Kelalaian
Rasa rinduku telah menghantam hingga ke ulu hati.
Kalimat di atas menggunakan majas....
personifikasi
Metafora
Hiperbola
Metafora
Perhatikan kalimat berikut.
"Buku adalah jendela dunia, itulah sebabnya sangat dianjurkan untuk rajin membaca buku."
Kalimat tersebut merupakan majas....
Perumpamaan
Personifikasi
Metafora
Metonimia
Perhatikan kalimat berikut.
Hembusan angin membelai lembut rambutku
Kalimat tersebut merupakan majas....
Personifikasi
Perumpamaan
Metafora
Metonimia
Ayah menyiapkan 10 ekor ayam untuk acara tahun baru di rumah.
Kalimat tersebut merupakan majas....
Pars Prototo
Totem Pro Parte
Personifikasi
Metafora
DIY gagal membawa pulang emas sesuai target dalam pertandingan olahraga.
Kalimat tersebut merupakan majas....
Totem pro parte
Pars prototo
Metafora
Perumpamaan
Kalimat berikut yang menggunakan majas ironi adalah...
Semua anak-anak, remaja hingga orang tua.
Suaranya menggelegar memecah angkasa.
Dewi malam teah keluar dari balik awan.
Betapa bagusnya kelakukanmu sehingga sudah dua orang tuamu menanggis karena keisenganmu.
Bukan, bukan, bukan, ini bukan salahku.
Manakah yang termasuk majas hiperbola?
Sungguh kupeduli, namun malah kauhancurkan.
Bagaikan bintang di siang terang, tidak terlihat.
Oh, asmara yang mewarnai bumi. Kutak peduli. Hihi.
Air matanya menganak sungai hingga membanjiri laut samudra.
Air belahlah dadaku supaya kautahu.
Kamu saja. Hanya kamu. Mudah menangis. Mudah tertangis. Mudah meringis. Kudis. Termasuk majas apakah ini?
Kontradiksio
Pleonasme
Repetisi
Metonimia
Paradoks
Manakah contoh majas pleonasme?
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Tong kosong nyaring bunyinya.
Aku tidak sebodoh itu, sampai aku lulus seleksi mahasiswa berprestasi.
Kubuang kamu, kaudatang lagi.
Kepada kepala sekolah yang saya hormati, silakan maju ke depan.
Sungguh kasihan nasib Pak Arman. Dia dipecat dari perusahaannya. Penyebabnya adalah dia dituduh menggelapkan sejumlah uang perusahaan. Padahal, Pak Arman tidak melakukannya. Ada orang lain yang melakukannya, tetapi dia yang menjadi korban.
Berdasarkan ilustrasi cerita di atas, ungkapan yang tepat untuk nasib Pak Arman adalah….
panjang tangan
kambing hitam
anak buah
gelap mata
Aminah anak pemulung, tetapi ia pandai. Ketika ada tugas maupun akan ulangan, teman-teman selalu mendekatinya. Mereka meminta bantuan kepada Aminah jika menemui kesulitan dalam pelajaran. Aminah selalu membantunya dengan senang hati. Sayangnya, apabila kepentingan mereka sudah terpenuhi, Aminah ditinggalkan begitu saja.
Pribahasa yang tepat untuk ilustrasi adalah ....
Air beriak tanda tak dalam
Air tenang menghanyutkan
Habis manis sepah dibuang
Ada udara di balik batu
Pak Iwan seorang dokter yang kaya raya. Pak Iwan tidak pernah sombong. Selain itu, Pak Iwan sangat dermawan kepada penduduk kampung. Sekarang Pak Iwan sudah meninggal . Meskipun begitu, warga kampung tak pernah lupa akan kebaikan hati Pak Iwan.
Peribahasa yang tepat untuk ilustrasi tersebut adalah ....
Gajah di pelupuk mata tidak tampak, kuman di seberang lautan tampak
Gajah mati meninggalkan gading harimau mati meninggalkan belang
Gajah berjuang melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah
Gajah mati karena gadingnya, harimau terlompat karena belangnya
Lestari anak yang rajin. Ia selalu membantu pekerjaan orangtuanya. Ibunya penjual kue. Setiap pagi, Lestari berangkat sekolah sambil membawa kue untuk dijual di kantin sekolah.
Peribahasa yang tepat untuk Lestari adalah ....
Sudah jatuh tertimpa tangga
Air cucuran atap , jatuhnya ke pelimbahan juga
Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian
Sekali merengkuh dayung tiga pulau terlampaui
Bonar duduk di kelas VI. Ia selalu ingin membeli aneka mainan di sekolahnya. Karena uangnya tidak cukup, ia sering meminjam uang kepada teman-temannya. Setiap hari ia diberi uang saku Rp 4.000,00 oleh ibunya, sedangkan harga mainan yang ia beli Rp 8.000,00.
Peribahasa yang cocok untuk Bonar adalah ....
Seperti ayam bertelur di lumbung padi
Air beriak tanda tak dalam
Lebih besar pasak daripada tiang
Sepandai-pandai tupai melompat akan jatuh juga
Sudah lima tahun kak Nasya belum juga kembali ke Indonesia. Semenjak lulus SMA, ia menetap dan tinggal di Amerika. Ia menimba ilmu hingga S2 disana. Namun, ia berjanji kepada ayah dan ibu akan pulang setelah selesai kuliah. Ia ingin turut serta meningkatkan pembangunan dan perekonomian di kota kelahirannya.
Peribahasa yang tepat sesuai ilutsrasi tersebut adalah
Air tenang menghanyutkan
Karena nila setitik, rusak susu sebelanga
Dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung
Setinggi-tinggi bangau terbang, hinggap ke kubangan juga
Pengganti Hang Tuah di keraton adalah Hang Jebat. Sesungguhnya, ia menaruh dendam atas keputusan raja yang dijatuhkan kepada sahabatnya, Hang Tuah. Karena setia kepada sahabatnya, ia mengamuk di keraton. Putri-putri dan dayang-dayang diperlakukan kurang sopan sehingga banyak jugalah orang yang mati karena kerisnya, yang diberikan Hang Tuah kepadanya. Tiada seorang pun yang berani mendinginkan sehingga raja sendiri pun terlibat pula dalam kesulitan dan ketakutan.
Dari kutipan cerita di atas kita dapat mengetahui bahwa Hang Jebat berwatak ….
kasar
setia
pendendam
baik budi
keras kepala
Aku duduk sendirian di halte depan sekolah menunggu angkot yang akan mengantarku pulang. Kini aku harus membiasakan diri karena tak ada lagi mobil mewah dan sopir pribadi.
(Utami Panca Dewi, "Luka Hati Sabrina")
Latar tempat kutipan teks cerpen tersebut adalah ....
halte depan sekolah
terminal
depan rumah
di halte dekat rumah
Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.
Latar tempat dalam cerpen tersebut adalah ...
Ruang tamu
ruang keluarga
kamar
tempat tidur
Tadi malam, Hidayat berpikir panjang mengenai hidupnya dan rencana hidupnya. “Tak mungkin aku terus-terusan begini, tidak menentu. Mesti ada sesuatu yang kukerjakan. Mesti ada sesuatu yang lebih produktif daripada yang kulakukan sekarang.Tapi apa? Modal tidak ada,” pikirnya. “Dalam keadaan seperti ini, yang harus kujual ialah jasaku, tenagaku, dan pikiranku.”
Amanat yang terkandung dalam kutipan novel tersebut adalah ….
Setiap orang pasti memiliki rencana.
Kita tidak boleh menyerah pada keadaan.
Hidup itu ada kalanya tidak menentu.
Setiap orang perlu menjual jasanya, pikirannya, dan tenaganya.
“Setidak-tidaknya, sebagai gambaran apakah Anda bersedia seandainya nanti Dewan Komisaris menunjuk Anda sebagai wakil saya?” Taksu menunduk, “Saya sungguh tidak berani mengatakan apa-apa sebelum terjadi.”
Karakter Taksu sesuai dengan penggalan cerita tersebut adalah ….
sombong
rendah hati
penakut
jujur
Ketika burung-burung telah pulang ke sarangnya, ayah menerima kabar dari seseorang bahwa teman ayah tewas tertembus timah panas. Hal ini amat memalukan sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi, “Aku sudah malu padamu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yang Engkau firmankan.” Tatkala mentari telah mengintip bumi, ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya ke dalam bumi ini.
Latar waktu dan suasana kutipan cerpen tersebut adalah ….
malam hari yang hening, menegangkan
pagi dan siang hari, memalukan
siang dan sore hari, mencemaskan
malam dan pagi hari, mengenaskan
