wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Materi Novel

Total questions: 21

Worksheet time: 11mins

Name
Class
Date
1.

Yang tidak termasuk unsur intrinsik novel adalah ....

a)

Tema

b)

Tokoh

c)

Sudut pandang

d)

Alur

e)

Kerangka tulisan

2.

Ciri khas dalam kebahasaan novel adalah..

a)

Gaya bahasa atau majas

b)

Formal

c)

Informal

d)

Ekspresif

e)

Efisien

3.

Urutan yang tepat dalam merancang suatu novel adalah ....

a)

Menentukan tema-tokoh-alur cerita-latar

b)

Menentukan tokoh-alur cerita-latar-tema

c)

Menentukan tokoh-alur cerita-latar

d)

Menentukan tema-tokoh-alur cerita

e)

Menentukan tema-tokoh-latar

4.

Namun takdir berkata lain, di malam sebelum pertunangan, telah terjadi ledakan bom di pulau Lombok. Ternyata keluarga Nathan menjadi salah satu korban bom tersebut. Nathan meninggal dunia, sehingga membuat Rosie depresi dan bersikap seperti orang gila.


Suasana yang terdapat dalam novel tersebut adalah ...

a)

Gunda

b)

Sedih

c)

Tegang

d)

Khusyuk

e)

Hening

5.

“Apapun yang kamu katakan terhadapku, kutak peduli. Walau kaucaci maki, kaukutuki, aku terima. Tapi, untuk membiarkan Math dan Arcy hidup sebagai suami istri, padahal Tuhan telah melarangnya, o ... o... o .... itu telah melanggar prinsip hidup setiap orang yang percaya pada-Nya. Kau memang telah berbuat sesuatu yang benar sebagai ibu yang mau memelihara kebahagiaan anaknya. Tapi, ada lagi kebenaran yang lebih mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi, yakni kebenaran yang dikatakan Tuhan dalam kitab-Nya. Prinsip hidup segala manusialah menjunjung kebenaran Tuhan”


Nilai agama yang terdapat dalam kutipan novel tersebut ...

a)

A. Segala keputusan hendaknya selalu dikembalikan pada ajaran agama.

b)

B. Kesabaran seorang ayah dalam menghadapi perilaku anakanaknya

c)

C. Tuhan melarang perkawinan beda agama.

d)

D. Keikhlasan seorang ibu dalam membahagiakan anaknya.

e)

E. Melanggar prinsip agarna mendatangkan kesengsaraan.

6.

Bacalah kutipan novel berikut dengan seksama!

Empat hari kemudian aku duduk di samping sopir truk yang membawa hasil panen dari desa ke kota. Waktu itu umurku hampir enam belas tahun. Sudah dua tahun aku tidak bersekolah. Keputusan yang diambil ayahku merupakan peraturan yang harus diturut tanpa dirunding pihak yang bersangkutan. Pada waktu itu aku menerimanya dengan kewajaran abadi penuh ketaatan. Ayahku orang yang menentukan dalam kehidupan kami. Dan aku yang dibesarkan dalam lingkungan adat kepala tunduk untuk mengiyakan semua orang tua. Tidak melihat alasan apa pun buat membantahnya. Padahal waktu itu aku khawatir. Tetapi juga gembira. Keduanya disebabkan karena aku akan tinggal di kota ….


Nilai adat (budaya) yang menonjol dalam penggalan novel tersebut adalah ....

a)

A. kebiasaan mengangkut hasil panen dari desa ke kota

b)

B. anak perempuan yang beranjak remaja ditentukan jodohnya

c)

C. orang tua yang menyerahkan anak gadisnya kepada orang lain

d)

D. ayah menentukan kehidupan anaknya dan haranaknyaus dituruti oleh anaknya

e)

E. orang tua yang memberi doa yang baik kepada anaknya

7.

Puncak konflik pada novel biasanya juga disebut dengan...

a)

Klimaks/komplikasi

b)

Resolusi

c)

Koda

d)

Penutup

e)

Penyelesaian

8.

Serba susah, serba salah. Ini tak kuat, ini tak sanggup. Dan sementara itu pikiran dan semangat selalu dikacaukan dan diharubirukan oleh sesal tak putus, sedih tak berkesudahan. Teringat sawah dan rumah pusaka bapak, yang telah dijual dan dihabiskan! Terkenang kebaikan istri, yang telah meninggalkan dunia karena makan hati oleh perbuatan dan kelakukan diri sendiri. Di mana tinggal kemegahan selama ini.

Akan pelengah-lengah pikiran dan akan pembeli nasi Mak Iyah mau tak mau. Ia pun bekarja juga menganyam topidari pandan seperti pada malam itu.

Akan tetapi perasaannya selalu tergoda, semangatnya senantiasa terganggu!


Konflik yang tersirat pada penggalan novel tersebut lebih didasarkan pada masalah….

a)

A. Sosial

b)

B. Budaya

c)

C. Kejiwaan

d)

D. Politik

e)

E. Lingkungan

9.

“Anak kecil!” Dia tertawa mengejekku. “Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.” Tangannya melambai, lalu mendekat berjalan ke arah belakang bangku-bangku.

“Tidak, Pak! Di sini saja, “Jawabku. Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.

“Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran?” tanyanya. Seisi kelas tertawa.

“Tidak, Pak,” kataku lagi. “Supaya dapat melihat orang-orang lain.” Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.


Latar tempat dalam kutipan novel tersebut adalah ….

a)

A. warung

b)

B. kelas

c)

C. sekolah

d)

E. kantin

10.

“Anak kecil!” Dia tertawa mengejekku. “Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.” Tangannya melambai, lalu mendekat berjalan ke arah belakang bangku-bangku.

“Tidak, Pak! Di sini saja, “Jawabku. Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.

“Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran?” tanyanya. Seisi kelas tertawa.

“Tidak, Pak,” kataku lagi. “Supaya dapat melihat orang-orang lain.” Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.


Watak tokoh “aku” dideskripsikan dengan cara

a)

A. pelukisan bentuk fisik tokoh

b)

B. penggambaran lingkungan sekitar tokoh

c)

C. pengungkapan jalan pikiran tokoh

d)

D. dialog antartokoh

e)

E. Tanggapan tokoh lain

11.

“Anak kecil!” Dia tertawa mengejekku. “Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.” Tangannya melambai, lalu mendekat berjalan ke arah belakang bangku-bangku.

“Tidak, Pak! Di sini saja, “Jawabku. Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.

“Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran?” tanyanya. Seisi kelas tertawa.

“Tidak, Pak,” kataku lagi. “Supaya dapat melihat orang-orang lain.” Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.


Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan novel tersebut adalah ….

a)

A. orang pertama pelaku utama

b)

B. orang pertama pelaku sampingan

c)

C. orang ketiga serbatahu

d)

D. orang ketiga terbatas

e)

E. orang ketiga pelaku utama

12.

Bacalah Kutipan cerita berikut!

“Tuhan! Kepada-Mu kami bergantung! Kepada-Mu kami mengadukan segala jeritan hati. Sadarkanlah mereka yang telah berbuat angkara murka. Terimalah amal mereka yang telah menjadi korban keganasan itu. Selamatkanlah negeri kami, Maluku tercinta!” ucap Bapak Pendeta.

“Amin!” sambutan hadirin.

Dikutip dari: Arsyad Siddik, Pattimura Pejuang yang Berakhir di Tiang Gantungan, Jakarta, Karya Unipress, 1984


Latar tempat pada kutipan cerita tersebut adalah ...

a)

masjid

b)

gereja

c)

pura

d)

vihara

e)

klenteng

13.

Bacalah Kutipan cerita berikut!

Sampai sore pertempuran masih terus berlangsung. Korban kedua belah pihak berjatuhan. Para pejuang satu per satu gugur sebagai kusuma bangsa. Darah mereka membasahi bumi pertiwi.

Kapitan Pattimura mengundurkan diri ke sebuah kampung. Kampung itu terletak di tengah hutan Negeri Booi. Kapitan Pattimura dan para pembantunya beristirahat pada sebuah rumah.

Rupanya, tempat persembunyian Kapitan Pattimura dan para pembantunya diketahui oleh Raja Booi. Cepat-cepat ia melaporkan tempat itu kepada Kapten Mayer.

“Jika Tuan mempercayai saya, akan kutunjukkan di mana Kapitan Pattimura bersembunyi,” kata Raja Booi.

Alangkah gembiranya Raja Booi. Pangkat dan jabatannya tetap berada di pundaknya. Oleh karena itu, ia berusaha menangkap Kapitan Pattimura. Padahal, Raja Booi sendiri telah menyatakan kebulatan tekad untuk membantu perjuangan Kapitan Pattimura. Bahkan, ia pula yang mengangkat pemuda Matulessi sebagai kapitan.

Dikutip dari: Arsyad Siddik, Pattimura Pejuang yang Berakhir di Tiang Gantungan, Jakarta, Karya Unipress, 1984


Latar waktu yang disebutkan pada kutipan cerita tersebut adalah ...

a)

subuh

b)

pagi

c)

siang

d)

sore

e)

malam

14.

Perhatikan penggalan novel berikut!

Di rumah Eyang Wira yang terletak di sebuah pedukuhan kecil, seorang sedang bertamu. Pemilik rumah serta tamunya duduk di ruang dalam. Malam hari di pedukuhan yang sepi membuat alam kelihatan akrab. Bulan mendaulat langit dengan latar belakang kedipan bintang-bintang. Awan yang melayang rendah membuat bayang-bayang raksasa di atas tanah. Bila tidak ada yang mengalingi, sinar bulan mencapai tanah dengan daya pantul yang penuh. Dari atas pohon rasamala, anak burung hantu memanggil-manggil induknya dengan suara berat.

Dikutip dari: Ahmad Tohari, Di Kaki Bukit Cibalak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014


Penggalan novel tersebut merupakan unsur intrinsik berupa ...

a)

tema

b)

latar

c)

alur

d)

penokohan

e)

sudut pandang

15.

Bacalah Kutipan novel berikut!

Lamunan Kabul putus karena pintu depan terbuka. Sri, pelayan warung Mak Sumeh, masuk membawa kopi dan pisang goreng. Sri segera berlalu dan menutup pintu dari luar. Namun hanya dalam hitungan detik pintu kembali terbuka. Wati masuk, memberi salam dengan suara tenggorokan. Sejak masuk kembali sesudah sakit, wajah Wati seperti bunga pot yang terlambat disiram. Malah jelas sekali tubuh Wati jadi lebih kurus.

Kabul menggulung kembali gambaran jembatan itu, menggulung kembali pikiran liar yang mengambra-ambra. Dan entahlah, suara Wati yang serak parau tiba-tiba menyita perhatiannya.

“Kamu sudah benar-benar sembuh kan, Wat?” tanya Kabul sambil memperhatikan Wati yang sedang melap meja kerja.

“Sudah kok, Mas” jawab Wati tanpa menoleh. Wajahnya nol. “Tapi aku belum berani naik motor. Jadi aku masih diantar Bani, adkku.”

“Kata dokter, kamu sakit apa?”

Wati menggigit bibir. Menunduk. Jelas sekali dia enggan menjawab pertanyaan Kabul. Merengut. Ah, selalu jantung Kabul menyentak dalam detik-detik Wati merengut. Dan detik yang mendebarkan itu cepat berlalu, karena Wati menoleh dan berusaha tersenyum.

“Dokter hanya bilang aku harus istirahat, itu saja.”

“Yang kamu rasakan?”

Wati kembali menunduk. Menelan ludah. Kemudian tanpa menoleh Wati menjawab lirih.

“Hanya lemas; dan anu ... sering berdebar-debar.”

Suasana kembali gagap. Kabul memasukkan gulungan gambar ke laci. Menoleh ke Wati yang masih menunduk sambil membuka-buka catatan.

Dikutip dari: Ahmad Tohari, Di Kaki Bukit Cibalak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2014


Situasi dalam penggalan novel tersebut adalah ...

a)

menakutkan

b)

menegangkan

c)

menyedihkan

d)

mengkhawatirkan

e)

membingungkan

16.

Peran lawan yang seringkali menjadi musuh dan menyebabkan konflik itu terjadi disebut...

a)

Protagonis

b)

Antagonis

c)

Tritagonis

d)

Deutragonis

e)

Figuran

17.

teenlit merupakan pengklasifikasian jenis novel berdasarkan...

a)

isi dan penokohan

b)

genre

c)

Kebenaran cerita

d)

Latar belakang

e)

Fiksi

18.

Berikut ini yang bukan merupakan unsur intrinsik adalah...

a)

Tokoh

b)

Latar

c)

nilai kehidupan

d)

Alur

e)

Tema

19.

“Selesaikan pelajaranmu dulu, Manen. Zaman sekarang, seorang wanita sebaiknya dapat berdiri sendiri, apalagi kalau ia dapat membangun masyarakat.”

amanat yang paling telat untuk penggalan novel diatas adalah...

a)

Wanita sebaiknya dapat mandiri

b)

Wanita harus bermasyarakat

c)

Pendidikan suami istri harus seimbang

d)

Wanita tidak boleh kalah oleh pria

e)

Cita-cita jangan sampai gagal

20.

“Selesaikan pelajaranmu dulu, Manen. Zaman sekarang, seorang wanita sebaiknya dapat berdiri sendiri, apalagi kalau ia dapat membangun masyarakat.”

amanat yang paling telat untuk penggalan novel diatas adalah...

a)

Wanita sebaiknya dapat mandiri

b)

Wanita harus bermasyarakat

c)

Pendidikan suami istri harus seimbang

d)

Wanita tidak boleh kalah oleh pria

e)

Cita-cita jangan sampai gagal

21.

Dibawah ini yang merupakan contoh novel romansa adalah...

a)

Harry Potter

b)

The Hunger Games

c)

Dilan 1990

d)

Laskar Pelangi