wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Unsur Intrinsik Teks Cerpen

Total questions: 10

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.


Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….

a)

(1)

b)

(2)

c)

(3)

d)

(4)

2.

Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.

“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.

Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.


Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …

a)

Ica

b)

Bunda

c)

Nanda

d)

Pembeli kios

3.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.


Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …

a)

orang pertama pelaku utama

b)

orang ketiga pelaku sampingan

c)

orang ketiga pelaku utama

d)

orang pertama dan ketiga

4.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.


Watak tokoh “aku” dalam penggalan cerita tersebut adalah …

a)

percaya diri

b)

rajin berusaha

c)

sombong

d)

mudah terpengaruh

5.

Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.


Latar tempat pada cerita di atas adalah...

a)

di perkampungan.

b)

di hutan rimba.

c)

di rumah singgah.

d)

di bawah pohon rindang.

6.

Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.


Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …

a)

sore hari, terminal

b)

siang hari, perjalanan

c)

siang hari, terminal

d)

pagi hari, rumah

7.

"kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, Diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya."


Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..

a)

sebagai manusia harus saling tolong-menolong

b)

guru harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup

c)

guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya

d)

guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik

8.

(1)Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan body semampai macam Luna Maya, padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila.


Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .…

a)

(1) dan (2)

b)

(2) dan (3)

c)

(3) dan (4)

d)

(4) dan (5)

9.

Aku pun bertanya, seperti biasanya, “Biar apa, Ayah?”

“Biar kamu tidak sombong jadi manusia, Zarah.” ujarnya sambil tersenyum, lalu mengecup keningku. Seperti biasanya.

Di tengah orang yang berlomba – lomba menjadi patung lilin, Ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia.

Watak tokoh ayah pada kutipan cerpen tersebut adalah ….

a)

sombong

b)

rendah hati

c)

religius

d)

bijaksana

10.

Cermati kutipan berikut!

Bagi nenek, wibawa harus terus dijaga agar orang di luar griya mau menghargainya. Kenyataannya? Memang nenek bisa mengatur keluarga. Bahkan Ida Bagus Tugur, suaminya, takkan berkutik hanya dengan batuk kecil. Anehnya, nenek hanya pandai membaca kesalahan – kesalahan yang dibuat suaminya. Tapi dia tidak lihai membaca kesalahan anak kesayangannya, anak lelaki satu – satunya yang teramat dia kagumi dan terlalu sering membuat masalah itu.


Pembuktian latar suasana tidak nyaman dalam kutipan novel tersebut adalah ….

a)

Nenek selalu mempersalahkan suaminya.

b)

Nenek selalu menjaga wibawanya.

c)

Nenek tidak bisa mengatur keluarga.

d)

Suami nenek tidak berkutik dengan batuk kecil.