Font size
WorksheetsUlangan Cerpen
Total questions: 15
Worksheet time: 15mins
1. Jenis karya sastra yang berbentuk prosa yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu kisah yang dialami suatu tokoh secara ringkas disertai berbagai konflik dan terdapat penyelesaian dari masalah yang dihadapi ….
Lagu
Syair
Cerpen
Pantun
Manakah yang bukan unsur intrinsik cerpen ….
Tema, alur, penokohan, latar, resolusi
Tema, latar, penohokan, amanat
Latar, penokohan, amanat, alur
Tema, sudut pandang, latar, penokohan
Tempat terjadi peristiwa dalam cerpen disebut dengan ….
Penokohan
Latar
Tema
Amanat
Hal yang paling utama ditentukan sebelum menulis cerpen/membuat sebuah karya yaitu menentukan .…
Tema
Judul
Tema
Amanat
Manakah yang bukan termasuk struktur teks cerpen ….
Alur
Orientasi
Konfliks
Resolusi
Di bawah ini mana yang termasuk ciri-ciri kebahasaan teks naratif ….
Sudut pandang, penggunaan majas, kata benda khusus, dialog
Dialog, penggunaan majas, uraian deskriptif, penggunaan pernyataa retoris, kata-kata teknis
Sudut pandang, penggunaan majas, penggunaan pernyataan retoris, kata benda khusus, bentuk kata pasif
Dialog, sudut pandang, penggunaan majas, kata benda khusus, penggunaan etika
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang miskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Politik
Sosial
Agama
Pendidikan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang miskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mengenaskan
Menakutkan
Menyenangkan
Mengharukan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang miskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mudah pasrah
Mudah mengalah
Mudah menangis
Mudah putus asa
Bacalah kutipan cerpen berikut!
“Selanjutnya, masalah pengobatan dana perawatan, biar nanti seluruh guru di sini memikirkan,” tegas Bu Hye Kyo. Pak Jimin bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pak Jimin memang seorang berpendirian kuat. Meskipun bukan orang kaya, ia tidak mau dibantu begitu saja. Semua guru yang mengunjunginya, hanya menggelengkan kepala, kagum akan keteguhan Pak Jimin.
Cara pengarang menggambarkan watak tokoh Pak Jimin adalah ….
Dialog antartokoh
Diceritakan tokoh lain
Diceritakan pengarang
Pelukisan tindakan
Tetapi, dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Tapi barang kali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka kepada tukang jahit itu. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.
Dikutip dari: Agus Noor, “Tukang Jahit”dalam Cinta di Atas Perahu Cadik Cerpen Kompas Pilihan 2007.
Kutipan teks tersebut merupakan struktur teks bagian ….
Orientasi
Komplikasi
Konflik
Resolusi
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
(1) Setelah aku tidur bersama nenek selama tiga hari, senyum nenek semakin lebar dan beliau mengurcapkan, "Terima kasih cucuku, kamu telah memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku."
(2) Dan disuruh semua anaknya berkumpul. (3) Setelah semua berkumpul, nenek menutup mata untuk selama-lamanya. (4) Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi berdenyut.
Sumber: Nasihat Terindah, karya lrwan Ahmad Rozaki
Kalimat langsung pada kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat nomor ....
(1)
(2)
(3)
(4)
Malam itu sudah hampir setengah jam isak tangis terdengar mengalahkan lagu malam yang dinyanyikan oleh angin dan lambaian pohon kelapa belakang rumah. Rembulan purnama yang tengah asyik menemani orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyak juga tidak disapa oleh isak tangis itu.
“ Bapak, bangun, Pak.”
“ Ada apa, Bu? Malam-malam begini kok bangun? Kok kelihatannya ada yang serius.”
Dikutip dari: Agung Webe, “Arjuna Tidak Mencari Cinta” dalam Arjuna Tidak Mencari Cinta, Bekasi, Soul Journey, 2016.
Kalimat bercetak miring dalam kutipan cerpen tersebut mengandung majas ....
Metafora
Personifikasi
Metonimia
Hiperbola
“ Tira merasa lega , bagaimanapun yang benar harus ditegakan, ada haru mengiringi langkahnya”.
Pesan yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…
Kebenaran harus ditegakkan
Jujur dalam setiap tindakan
Saling menghargai dan tolong-menolong
Sabar dalam menghadapi cobaan hidup
“Yusuf, mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosamu. Sebagai ibu yang engkau durhakai dengan lillaahitaala ibu sudah rela mengampuni dirimu.” Yusuf tergeletak tertawa seolah mencemooh ibunya,” Hai ibu, ucapan ibu yang diucapkan dengan tulus itu barangkali ibu sedang mendapatkan ilham, lalu dapat berkata dengan benar. Pada diriku ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku.”
Nilai moral yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah...
Anak baik dan sopan santun
Ibu yang durhaka
Anak buruk hati
Anak durhaka yang tidak perlu dicontoh
