NEW
Font size
WorksheetsUlangan Harian CERPEN
Total questions: 30
Worksheet time: 3600secs
… . Lalu Malaikat Maut ini memperlihatkan bagaimana ia memutar bumi, seperti memutar mata uang di telapak tangan. Kemudian ia memperlihatkan empat wajahnya. Satu di depan, satu di kepala, satu di belakang, dan satu wajah lagi di telapak kakinya. Namun, karena berkerudung tak tertembus cahaya. Wajah itu lebih mirip prahara yang menghujam-hujam di lembah berpagar empat gunung. …
(Dinding Anak, Danarto)
Ciri-ciri fisik tokoh Malaikat Maut dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
tubuhnya besar melebihi bumi, wajahnya ada empat, dan berkerudung
tubuhnya tinggi melebihi pohon kelapa, matanya empat, dan bertopi
tubuhnya kecil, kepalanya ada sepuluh, dan berkerudung
tubuhnya kurus, matanya ada sepuluh, dan bertopi
tubuhnya gemuk, wajahnya ada enam, dan berkerudung
“Mohammad-San inilah rumahku.” Toshihiko berkata ketika kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana. Lalu berteriak, “Ibu! Ibu! Inilah tamu yang kita tunggu. Lihatlah, seorang Indonesia yang tersesat di kebun anggur Katsunuma. Bukankah ini suatu kehormatan bagi kita?”
(Potret Seorang Prajurit, Mohammad Dipenogoro)
Watak Toshihiko dalam kutipan cerpen tersebut adalah ....
ramah, baik, ceria, dan menyenangkan
bahagia, senang, ceria, dan peduli
teguh, kuat, baik, dan peduli
teguh, tabah, ramah, dan cerewet
periang, pemalu, pemalas, dan cerewet
“Mohammad-San inilah rumahku.” Toshihiko berkata ketika kami sampai di depan sebuah rumah kayu yang sederhana. Lalu berteriak, “Ibu! Ibu! Inilah tamu yang kita tunggu. Lihatlah, seorang Indonesia yang tersesat di kebun anggur Katsunuma. Bukankah ini suatu kehormatan bagi kita?”
(Potret Seorang Prajurit, Mohammad Dipenogoro)
Pendeskripsian watak tokoh Toshihiko dalam cerpen tersebut adalah ....
melukiskan bentuk lahir pelaku
melukiskan jalan pikiran pelaku
reaksi pelaku terhadap kejadian
ucapan-ucapan pelaku/dialog
melalui pandangan pelaku lain
.... Kalau tidak, tentu telah berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia. Dua hari yang lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yang sudah tidak muat lagi mereka kenakan. Aku yang menyisihkan pakaian-pakaian tua milikku, begitu juga milik isteriku. Pakaian-pakaian bekas itu kuberikan kepadanya, di samping upah yang dia terima. Kami sebenarnya bukanlah orang yang mampu. Tapi, kebiasaan seperti itu telah ditanamkan orangtuaku sejak aku masih kecil.
(Malam Takbiran, Hamsad Rangkuti)
Amanat yang terkandung dalam penggalan cerpen di atas adalah ....
Barang-barang bekas hendaknya dimanfaatkan.
Kita tidak boleh mengurangi lowongan kerja.
Orang mampu harus menyayangi orang tak mampu.
Bila kita belum mampu, tak perlu mengasihi orang lain.
Anjuran bersedekah apa saja kepada orang lain yang membutuhkan
Taman Hidup
Tuan Pendek masih menduda, tetapi hari Minggu ia membawa pulang anak lelakinya untuk menemaninya. Melihat bentuk badannya yang pendek dan tampak kesepian itu, para tetangga pun ingat semua apa yang telah dialami Tuan Pendek, bahkan mereka bisa mengerti mengapa Tuan Pendek tetap bertahan hidup sendiri.
Nilai budaya yang tersirat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
tolong-menolong
penuh perhatian
penuh selidik
saling perhatian
penuh pengertian
Ketika anak perempuan yang diberi nama Nining sudah dapat berbicara sedikit-sedikit, Mbok Sutiyah menggunakan kesempatan untuk mengamalkan sedikit pengetahuannya di bidang bahasa dan kesopanan. “Nduk, kalau lewat di hadapan para ndoro atau orang tua, kita harus membungkukkan badan, ibu jari tangan kanan menunjuk ke muka.” katanya mengajarinya begitu.
Petikan cerita di atas mengandung moral bahwa ….
seorang anak harus mempunyai nama
pemberian nama pada anak, setelah dapat berbicara
menurut adat Jawa, kalau lewat di depan orang yang dituakan harus membungkukkan badan
anak perempuan lahir harus mempunyai nama
ibu jari tangan kanan menunjuk ke muka, tanda kedewasaan
Ketika anak perempuan yang diberi nama Nining sudah dapat berbicara sedikit-sedikit, Mbok Sutiyah menggunakan kesempatan untuk mengamalkan sedikit pengetahuannya di bidang bahasa dan kesopanan. “Nduk, kalau lewat di hadapan para ndoro atau orang tua, kita harus membungkukkan badan, ibu jari tangan kanan menunjuk ke muka.” katanya mengajarinya begitu.
Petikan cerita di atas mengandung moral bahwa ….
seorang anak harus mempunyai nama
pemberian nama pada anak, setelah dapat berbicara
menurut adat Jawa, kalau lewat di depan orang yang dituakan harus membungkukkan badan
anak perempuan lahir harus mempunyai nama
ibu jari tangan kanan menunjuk ke muka, tanda kedewasaan
Ia biarkan surat itu tergeletak di atas meja dan ia tak berpikir apa-apa lagi tentang tawaran manis yang diajukan oleh emaknya untuk pulang barang sekejap. Sudah 20 tahun, ia tidak pulang dan itu bukan waktu sekejap. Ia menyadari benar hal itu. Tapi, kepedihan yang pernah menggores jiwanya itulah yang sulit diusir. Ia tetap menyimpannya di tiap sudut hatinya yang rapuh. “Pulang sajalah. Mungkin itu lebih baik bagimu,” kata sang isteri ketika surat senada datang lagi untuk yang kedua, ketujuh, dan entah ke berapa lagi.
(Emak)
Penggalan cerpen di atas bertema tentang ....
kerinduan seorang ibu kepada anaknya yang telah sekian lama tidak pulang ke rumah
perjalanan hidup seorang anak yang tinggal di perantauan
kedurhakaan seorang anak yang menyakiti hati emaknya
hubungan antara seorang ibu dan anaknya yang tinggal di perantauan
kebiasaan ibu yang selalu menginginkan anaknya pulang ke rumah
“Saya sepakat melepaskan tanah saya yang akan jadi pabrik itu karena di pabrik itu tidak hanya dibutuhkan kantor, ruang kerja, halaman, dan seterusnya, pasti juga masjid. Dan saya melepas tanah saya karena di areal itu akan ada masjid. Tapi, bahkan para pekerja tak diberi jam istirahat untuk bersembahyang yang karena itu saya menuntut ....”
“Pak, kata ketua tim, “Agama memang perlu dan sangat diperlukan, tapi ada hal lain yang lebih mendesak, yakni perut dan lapangan kerja. Kami mengabaikannya untuk itu. Lagi pula, di berkas ini, Bapak menyatakan setuju dan tanpa catatan apa-apa.”
(Lelaki Bayangan)
Cerpen tersebut bertema ....
pertentangan antara kebutuhan beribadah dan kebutuhan bekerja
keperluan pekerja berhadapan dengan keperluan pengusaha
peranan masjid di lingkungan pabrik
masalah keagamaan di kota industri
diplomasi pembebasan tanah
Tanpa memberi tahu siapa pun, Hamid meninggalkan kampungnya menuju Siantar, Medan. Kepergiannya kali ini bukan lagi untuk menuntut ilmu di sekolah seperti yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu. Hamid ibarat seorang yang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Setelah Haji Jafar, orang yang selama ini banyak menolongnya berpulang ke rahmatullah, tak lama kemudian, ibu kandungnya menyusul ke alam baka.
Penggalan cerita di atas mengemukakan tentang ....
perjalanan tokoh Hamid menuju Siantar
kemalangan seorang tokoh yang bernama Hamid
tokoh Hamid yang durhaka pada orang tuanya
seorang anak yatim piatu yang malang
keputusasaan tokoh yang bernama Hamid
Percakapan itu lancar, mengiringi gerak dan sentuhan bidan yang pasti dan ahli memeriksa payudara pasien, pernapasan, mata, dan tenggorokan. Kemudian mencuci tangan dan mengenakan pelindung dari karet.
“Anaknya berapa, Bu?”
“Lima.”
“Wah, sudah banyak! Mengikuti KB atau tidak?”
Pasien itu tidak segera menyahut. Ia berkata sambil membuang pandangan.
“Suami saya tidak mau.”
“Eu, bidan mengeluarkan bunyi sesalan. “Yah, dia sih enak saja! Ibu yang capek.”
Ditanya umur, rumah, nama anak-anaknya. Tiba-tiba bidan itu memandangi wajah pasiennya lagi, seakan-akan mencari satu pengenalan. Ya, benar! Pasien ini sudah pernah diperiksanya.
“Entah berapa kali. Barangkali setiap kali beranak!”
Permasalahan dalam penggalan cerita di atas adalah ….
agar setiap bidan tidak selalu membicarakan masalah pribadi pada saat bertugas
agar setiap bidan tidak bertanya tentang jumlah anak pasiennya
agar setiap orang tidak memandang rendah kehidupan orang lain
agar setiap ibu merencanakan dan membatasi kehamilannya dengan mengikuti KB
agar setiap bidan bersikap ramah, sopan, dan bertindak sesuai dengan tugasnya
Semakin dekat ke kota kecamatan semakin seru diskusi mereka. Hamparan sawah yang siap ditanami dengan air yang melimpah dari saluran irigasi, tidak menjadi bahan perbincangan mereka. Bahkan, ketika berpapasan dengan orang-orang yang dikenalnya, mereka tak benar-benar saling menyapa. Paling-paling cukup dengan hanya saling mengacungkan tangan. Salah seorang dari mereka kembali berseru, “Siapa yang sudah mengenal camat baru itu?” “Ah, itu soal gampang. Kita tanya saja nanti di sana.”
Latar yang tergambar dalam cuplikan cerpen tersebut adalah ....
di kota kecamatan
di pesawahan
di perjalanan
di daerah irigasi
di pedesaan
... Tetapi di sebuah rumah tembok di salah satu sudut jalan, tampak ada gerak hidup yang dramatis. Di dalamnya masih ada lima orang. Seorang perempuan dan empat orang laki-laki. Keempat laki-laki itu adalah para tamu. Yang perempuan adalah pemilik losmen. Dia berparas lumayan, manis dengan potongan tubuh yang laras. Berumur dua puluh lima tahun. Tidak bersuami.
Ciri-ciri yang tampak pada perempuan pemilik losmen adalah ....
ciri fisik dan ciri sosial
ciri sosial dan ciri psikologi
ciri fisik dan ciri psikologi
ciri sosial dan ciri budaya
ciri budaya dan ciri agama
“Tidak, tidak Mirah. Aku ingin berbagi denganmu. Ya segala sesuatunya, juga ketakutan-ketakutan akan apa yang pasti akan terjadi.” “Engkau hanya ingin memaksaku masuk ke dalam permainanmu. Ke dalam kegemaranmu menyakiti dirimu sendiri. Engkau begitu egois, Atma. Egois.”
Watak tokoh Atma dalam cuplikan cerita di atas dapat diketahui melalui ....
tingkah laku tokoh yang bersangkutan
deskripsi langsung oleh pengarang
penuturan tokoh lain
gambaran lingkungan
gaya bicara tokoh aku
Aku tahu emak tentu tidak akan datang. Tidak mau, katanya tidak pantas. “Sekolah itu kan tempat priyayi lho, Gus. Emakmu ini apakah, ndak ilok kalau berada di tempat itu.” “Oalah, Mak, Mak! Priyayi itu zaman dulu, sekarang ini orang sama saja, yang membedakan itu kan isinya,” aku menekankan telunjuk ke keningku.
“Itulah Gus yang Emak maksudkan priyayi. Emak tidak mau ke tempat angker itu. Nanti Emakmu ini hanya akan jadi tontonan saja karena plonga-pongo kayak kerbau. Kasihan kamu, Gus.”
Watak tokoh Emak dalam penggalan cerpen di atas adalah ....
jujur, baik, pengertian
rendah hati, baik, berpikir kuno
tidak sombong, baik, optimis
rendah hati, lugu, penuh pengertian
penuh keyakinan, sombong, mandiri
Saya jadi merasa tidak enak. Rasanya uang ini lebih berarti di tangan mereka. Di tangan bocah berkaos biru yang sedang menggigil itu, misalnya. Saya ingin memanggilnya dan menyelipkan dua buah logam ini ke tangannya dan menyuruhnya segera pulang.
Atau buat bocah enam tahunan tadi yang dari hidungnya sudah mulai keluar cairan kental. Mestinya dia duduk manis-manis di rumah sambil minum susu hangat, makan ubi goreng. Sekarang pasti dia sudah terkena pilek. Dan entah sudah berapa hari dia ikut-ikutan berburu uang logam dengan berbekal payung.
(Dua Ratus Rupiah)
Amanat paling sesuai yang dapat dipetik dari penggalan cerpen di atas adalah ….
Setiap pemberian sebaiknya dipikirkan dulu masak-masak untung ruginya.
Hendaklah rela memberikan sesuatu kepada orang yang lebih membutuhkan.
Pemberian sekecil apa pun sebaiknya tidak didasarkan oleh rasa iba.
Pemberian yang paling tepat di musim hujan adalah susu hangat dan ubi goreng.
Sebaiknya sedekah hanya diberikan kepada anak-anak miskin.
Anna pernah berpikir apa yang dilakukan para wanita yang ditinggalkan suami mereka. Kini dia tahu, mereka melakukan segalanya. Mereka membetulkan panggangan roti, memompa ban sepeda, membawa anak ke dokter, dan berperan sebagai ibu sekaligus ayah.
Pesan yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ....
tidak baik wanita yang hidup sendiri tanpa menikah
penderitaan dan kesengsaraan akan dialami oleh setiap wanita yang berpisah dengan suaminya
banyak wanita yang hidup sengsara setelah ditinggal suami mereka
perpisahan dengan suami dapat menambah kesibukan bagi seorang wanita
kebersamaan hidup dalam keluarga sangat perlu untuk setiap wanita
Waktu aku masih muda dulu, sekitar usia 20 tahun, aku sering dongkol pada orang tua-tua. Bayangkan, setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu dituntut agar minta nasihat dulu dan minta sesuatu dulu pada orang tua-tua.
Konflik yang dialami oleh tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas ….
Tokoh aku merasa bahwa dirinya selalu dituntut untuk minta nasihat kepada orang tua-tua setiap melakukan sesuatu.
Tokoh aku tidak mau mendengarkan nasihat orang tua-tua yang dianggap tidak sesuai dengan keinginannya.
Tokoh aku mendapat pertentangan dari orang tua-tua pada saat melakukan sesuatu.
Tokoh aku menuntut kepada orang tua-tua untuk tidak mencampuri urusannya.
Tokoh aku tidak mau tahu akan keberadaan orang tua-tua yang dianggap tidak tahu apa-apa itu.
Anton adalah teman akrab Tina. Malam Minggu kemarin Anton berjanji akan mengantar Tina berbelanja ke toko Matahari. Namun, sore itu juga, Susi menjemput Anton untuk diajak menonton film ke Atrium 21 dengan mobil kijangnya. Anton pun mau tanpa mempertimbangkan janjinya kepada Tina.
Ciri psikologis yang kurang baik dari tokoh Anton yang paling tepat dalam penggalan cerita di atas adalah ….
temperamen
harapan
keyakinan
cara berpikir
cara bersikap
Sri tersenyum. Diam. Senang dan bersyukur. Dia ingat embahnya yang sudah tidak ada. Sri Sumarah bukan Sri Sumarah bila ia tidak sumarah terhadap nasibnya. Dengan sikap sumarah dia tidak akan membiarkan dirinya berkabung lama-lama.
Penggambaran watak tokoh Sri Sumarah oleh Umar Kayam dalam penggalan di atas melalui ....
namanya
penggambaran fisiknya
jalan pikirannya
pendapat tokoh lain
dialog dengan tokoh lain
Tahulah kau sekarang, bahwa kampungku di pinggir sungai. Begitulah, bila malam baik dan bulan bersinar, tak jarang aku mengikuti kawan-kawan yang besar sedikit bermain-main sampan. Kami yang kecil-kecil mengayuh. Kawan-kawan itu kadang-kadang dengan gitarnya bernyanyi menyusuri sungai, kampung demi kampung lalu putar lagi. Indah benar tampaknya bulan yang bermain-main di air, yang kadang-kadang di muka, kadang-kadang di belakang berpencar-pencar dibawa gelombang-gelombang kecil oleh sentuhan sesuatu di air kemudian bersatu lagi dan bermain-main di air yang mengalun lembut.
Nilai yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ….
agama
moral
sosial
estetika
pendidikan
Irah tampak murung dalam perjalanan pulang. Bagaimana mungkin ia dapat mengerti yang ditulis dalam buku itu kalau ia sama sekali tidak dapat membaca? Tidak ada yang dapat ditanya di rumah. Tetangga? Ah, lebih baik tidak tanya tetangga, pikirnya.
Oh, betapa tololnya ia selama ini karena sudah mengabaikan kesempatan untuk belajar. Ia sangat menyesal sekarang .....
(Irah Menjadi Petani Bunga, Toety Maklis)
Pernyataan yang tidak sesuai dengan isi penggalan cerita pendek di atas adalah ....
kisah di atas diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga (diaan)
konflik yang terjadi dalam diri Irah lebih bersifat internal
pengajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah gunakan waktu untuk belajar dengan sebaik-baiknya supaya tidak menyesal di kemudian hari
tema kisah di atas adalah tidak ada penyesalan yang terjadi sebelum sesuatu berlangsung
latar yang tampak dalam cerpen di atas adalah rumah Irah yang berada di sebuah desa
Pesawat dikabarkan masih mengalami keterlambatan. Waktu berangkat ditunda lagi barang setengah jam. Di ruang tunggu sampai para penumpang tampak makin gelisah. Maklumlah. Semua ingin cepat-cepat pulang. Dan kesabaran memang sudah sangat teruji. Pada musim kemarau begini hampir semua penerbangan terganggu.
(Isyarat, Aryanti)
Latar yang menonjol pada cerpen di atas adalah ....
tempat dan panorama
tempat dan waktu
suara dan suasana
rasa dan suara
waktu dan panorama
Adalah tuan guru itu beranak empat orang, keempat-empatnya adalah perempuan. Sebagai kebiasaan manusia apabila anaknya perempuan saja maka inginlah hatinya hendak beranak laki-laki karena anak laki-laki itu konon akan penunduk malu, pemupus arang yang tercorang di kening. Bak di orang, bak itulah pula di hati tuan guru itu, inginlah sangat hendak beranak laki-laki.
Tiap-tiap ia sembahyang, tiadalah ia khali daripada berdoa ke hadirat Habiburrahman, mudah-mudahan Yang Maha Pengasih itu mengurniakan dia anak laki-laki.
Komponen cerita pendek yang tampak pada cerpen di atas adalah ....
tokoh cerita dan sudut pandang
tokoh cerita dan latar (setting)
sudut pandang dan latar cerita
plot atau alur cerita dan tema
alur cerita dan amanat
Listrik sudah 4 tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang dilakukannya. Kampung seperti mendapat injeksi tenaga baru yang membuatnya penuh gairah. Listrik memberi kampungku cahaya, musik, es, sampai api dan angin.
(Rumah yang Terang, Ahmad Tohari)
Unsur intrinsik yang tampak dalam cerpen di atas adalah ....
alur
konflik
latar
perwatakan
amanat
Tak lama kemudian tawa ibu berderai, bersahutan dengan tawa si tamu. Tumben, pikirku. Sulit sekali menemukan kesempatan mendengar ibu tertawa riang seperti itu. Selama ini, ibu yang kukenal adalah ibu yang selalu tenang dan tabah menghadapi berbagai keadaan, baik susah maupun senang. Ibu yang hampir tidak pernah memperlihatkan emosinya.
Dari deskripsi di atas, kita dapat mengetahui watak ibu adalah ....
mudah terpengaruh
ceria dan periang
tenang dan tabah
acuh tak acuh
mudah marah
“Dan apakah sebabnya ia tidak mau menerima segala jemputan orang dan tak suka beristeri banyak? Bukankah sekaliannya duit saja! Apabila tiap-tiap kawin, ia beroleh uang jemputan dua ratus atau tiga ratus rupiah, tak perlu makan gaji lagi! Kalau habis duit, kawin lagi. Apakah salahnya dan susahnya beristeri dan beranak banyak? Karena, laki-laki bangsawan tak perlu memelihara dan membelanjai anak isterinya. Apa gunanya bangsa dan pangkat yang tinggi kalau tidak akan beroleh hasil?
Unsur ekstrinsik yang menonjol dalam penggalan cerita di atas adalah ....
sosial
budaya
moral
sejarah
politik
Sering Lestari merasa Menuk menjebak Lestari untuk berbelas kasihan, sementara pada saat yang sama Lestari merasa tidak punya kewajiban apa pun untuk membantu Menuk. Hubungan mereka terpisah selama hampir tiga puluh tahun, meski dalam kurun itu dua kali Lestari menjumpai Menuk setelah wanita itu dengan putus asa memintanya datang. Sekali ketika suami Menuk meninggal karena kanker kelenjar getah bening. Dua kali, ketika Menuk dioperasi karena benjol di rahimnya katanya sudah tidak tertahankan sakitnya.
Unsur intrinsik yang menonjol dalam cuplikan tersebut adalah ....
penokohan
amanat
latar
alur
tema
“Salam!” jawab Pak Hakim, ogah-ogahan, “Siapa, ya?” Namun, begitu melirik bawaan Kiai Nasrudin, gesit ia beranjak dari tempat duduknya, Nasrudin Hoja disambutnya dengan ramah. “Ho-ho! Kiai, saya kira siapa. Silahken-silahken duduk, Kiai.” Pak Hakim menuntun Nasrudin.
Watak Pak Hakim yang tergambar dalam kutipan di atas adalah ....
licik
alim
ramah
sopan
materialistik
“Maaf, Pak, pada malam hari kendaraan umum sangat jarang ada. Kalau Bapak mengizinkan, saya ingin meminjam kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit.” “Boleh, Pak Asmar. Bawalah anak itu cepat-cepat ke dokter! Ini kunci mobil dan sedikit uang untuk berobat.”
Latar yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah ....
jalan – siang
rumah –malam
rumah sakit – siang
kendaraan – malam
gang - siang
