wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Ulangan Harian Cerpen

Total questions: 20

Worksheet time: 50mins

Name
Class
Date
1.

Yang termasuk unsur-unsur intrinsik dalam cerpen yaitu ....

a)

tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar belakang penulis, gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)

b)

tema, amanat/pesan moral, nilai-nilai kehidupan, tokoh dan penokohan, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)

c)

tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), biografi penulis, dan sudut pandang (point of view)

d)

tema, amanat/pesan moral, alur/plot, kondisi psikologis penulis, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)

e)

tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)

2.

Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!

Dua kegagalan yang lalu berakhir saat aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorongku untuk terjun ke dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu hari, Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku. “Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” tanya Kak Ica. Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang melimpah.

Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas yaitu ….


a)

Bunda

b)

Ica

c)

Nanda

d)

Seorang Siswa

e)

Penjual kios

3.

Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!

I Beneh ditegur secara kekeluargaan, diceramahi, dinasihati, bahwa sesuatu adat yang telah berlangsung turun-temurun adalah warisan yang harus diteruskan karena dasar kearifannya ada. “Kami tahu Nanang adalah orang pintar, dan kami juga tahu Nanang sangat ... sangat mengerti mengapa Nanang membikin penjor yang tak lazim itu. Tapi mohon juga dipahami bahwa kami sekalian adalah orang-orang desa, orang-orang sederhana yang terlalu mudah terperanjat oleh hal-hal baru yang tak dapat kami mengerti. Kami meminta Nanang memahami itu,” kata salah seorang prajuru adat.


(Dikutip dari cerpen ”Penjor” karya I Wayan Suardika)


Nilai yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….

a)

moral

b)

religi

c)

sosial

d)

budaya

e)

agama

4.

Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!

Bunyi beduk menyadarkan kami yang seru berbagi cerita, sehingga kami bangkit dari duduk, bersiap menyucikan diri dengan wudu.

“Beruntung kamu.” sahutku.

“Semua itu terjadi atas kehendak Allah.” jawab Hazar sambil mengangkat celana panjangnya sebatas lutut.

Azan Isya berkumandang. Kami salat berjamaah.


(Dikutip dari cerpen “The Mutan” karya M. Irfan Sulistya)


Nilai yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….

a)

moral

b)

adat

c)

sosial

d)

budaya

e)

agama

5.

Bacalah kutipan cerpen ini dengan saksama!


Hanya itu alasan Mama melarang Dewi menikah dengan Lukas?” Bibir Dewi menyungging sinis. “Oh, alangkah picik pikiran Mama! Lalu, apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Dewi kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Lukas yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Begitu pula dengan kakakku yang selama ini mendukungku, sekarang justru berbalik arah.


Konflik di dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….

a)

Dewi dan Lukas batal menikah menikah.

b)

Dewi dilarang menikah oleh Mama dan kakaknya.

c)

Mama berpikiran picik terhadap Lukas.

d)

Mama ingin agar Dewi hidup bahagia.

e)

Kakak tidak mendukung pernikahan Dewi dengan Lukas.

6.

Bacalah teks cerpen ini dengan saksama!


Pagi hari mereka tiba di Desa Gelambir, menuju ke rumah Mbok Minem, janda tanpa anak, sambil membawa dua batang gula jawa utuh. Di rumah Mbok Minem mereka menemukan Juntrung, anak yang, menurut Mbok Minem dan beberapa tetangga, tidak disenangi oleh siapa pun.

Mulai pagi itulah ayah dan ibu Jiglong menganggap Juntrung sebagai anaknya, sebagai saudara Jiglong. Dan mulai saat itulah, ayah dan ibu Jiglong merasakan kesengsaraan karena Juntrung benar-benar kurang ajar, suka berkelahi, berbohong, dan kadang-kadang mencuri. Dan mulai saat itulah, Jiglong sering disakiti

dan difitnah oleh Juntrung.


(Dikutip dari cerpen “Sang Pemahat” karya Budi Darma)


Tokoh antagonis dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….

a)

Mbok Minem

b)

ayah Jiglong

c)

ibu Jiglong

d)

Jiglong

e)

Juntrung

7.

Bacalah teks cerpen ini dengan saksama!


Pagi hari mereka tiba di Desa Gelambir, menuju ke rumah Mbok Minem, janda tanpa anak, sambil membawa dua batang gula jawa utuh. Di rumah Mbok Minem mereka menemukan Juntrung, anak yang, menurut Mbok Minem dan beberapa tetangga, tidak disenangi oleh siapa pun.

Mulai pagi itulah ayah dan ibu Jiglong menganggap Juntrung sebagai anaknya, sebagai saudara Jiglong. Dan mulai saat itulah, ayah dan ibu Jiglong merasakan kesengsaraan karena Juntrung benar-benar kurang ajar, suka berkelahi, berbohong, dan kadang-kadang mencuri. Dan mulai saat itulah, Jiglong sering disakiti

dan difitnah oleh Juntrung.


(Dikutip dari cerpen “Sang Pemahat” karya Budi Darma)


Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerpen tersebut adalah ....

a)

sudut pandang orang pertama pelaku utama

b)

sudut pandang orang pertama pelaku sampingan

c)

sudut pandang orang ketiga mahatahu

d)

sudut pandang orang ketiga pengamat

e)

sudut pandang orang kedua

8.

Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!

Malam masuk waktu Isya ketika tubuh Murtaep tak lagi hangat. Sebagian kerabat berdatangan sebelum mata lelaki dekil itu benar-benar terpejam. Murtaep meninggal secara wajar dan normal, tidak mendadak, apalagi misterius. Kematiannya tak seperti yang selalu ia koarkan pada penduduk.

Ramalan yang meleset itu, kematian Murtaep, semakin menjadi buah bibir.


(Dikutip dari cerpen “Tenung” karya Fandrik Ahmad)


Makna ungkapan buah bibir pada kutipan cerpen tersebut yaitu ....

a)

hal menakutkan

b)

bahan pembicaraan

c)

perkataan bohong

d)

kesalahan bicara

e)

penyakit bibir

9.

Bacalah teks cerpen berikut!

(1) Teman teman fajar bersorak gembira, (2) Daffa terkulai lemas karena layang-layang putus. (3) Senja pun tiba. (4) Ketika terdengar suara azan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid. (5) Berita kemenangan Fajar atas daffa makin menambah keyakinan anak-anak desa itu bahwa layang-layang milik fajarmemang sakti. (6) Fajar menjadi makin tinggi hati.


Bukti nilai agama terdapat pada kalimat bertanda nomor ….

a)

(1)

b)

(2)

c)

(3)

d)

(4)

e)

(5)

10.

Bacalah teks berikut

“Hanafi, mudah-mudahan Tuhan mengampuni dosamu. Sebagai ibu yang engkau durhakai dengan lillaahitaala sudh rela mengampuni akan dikau.” Hanafi tergeletak tertawa seolah mencemooh pula,” Hai ibu, mengucap ibu dengan tulusnya barangkali ibu akan mendapatkan ilham, lalu dapat berkata dengan benar. Pada hematku ibulah juga yang banyak bersalah atas diriku.”


Nilai moral yang sesuai teks tersebut adalah ….

a)

anak durhaka yang tidak perlu dicontoh

b)

anak baik dan sopan santun

c)

ibu yang durhaka

d)

anak buruk hati

e)

anak yang pamer

11.

Bacalah kutipan teks cerpen berikut dengan cermat.


Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.


Sifat tokoh Larasati berdasarkan kutipan di atas adalah ….

a)

sabar dan penyayang

b)

angkuh dan disiplin

c)

tegas dan pemberani

d)

penuh perhatiaan dan tegas

e)

angkuh dan pemberani

12.

Bacalah kutipan teks berikut dengan cermat


Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.


Gambaran karakter tokoh Diah dalam cerpen tersebut adalah ….

a)

kuat menerima cobaan

b)

mudah putus asa

c)

lemah dan penuh penderitaan

d)

trauma dalam menjalani kehidupan

e)

sedih dan terharu

13.

Bacalah kutipan cerpen berikut


“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.


Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …

a)

Anisa dan Handoko tidak jadi menikah.

b)

Anisa dilarang menikah oleh Mama dan kakaknya.

c)

Mama yang berpikiran picik terhadap Handoko.

d)

Keinginan Mama agar Anisa hidup bahagia.

e)

Kakak tidak mendukung pernikahan Anisa dengan Handoko.

14.

Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskim pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.


Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …

a)

Tubuhnya digerogoti penyakit.

b)

Buruknya pelayanan rumah sakit.

c)

Susahnya menjadi orang miskin.

d)

Banyak bangsal yang kosong.

e)

Tidak mendapat fasilitas gratis.

15.

Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.


Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah ….

a)

orang pertama pelaku utama

b)

orang ketiga pelaku sampingan

c)

orang ketiga pelaku utama

d)

orang pertama dan ketiga

e)

orang ketiga serbatahu

16.

Perhatikan kutipan cerpen berikut!


1) Kalau ada pertandingan dini hari, aku dan Ayah bahu-membahu untuk membangunkan. 2) Kami berdua beranak batanggang, atau tidak tidur sampai dini hari, duduk terpaku di depan TV Grundig 14 inci yang berkerai kayu tripleks, ditemani bergal-gelas kopi.3) Di Stadion Ullevi Gothenburg, tim berambut pirang ini meledakkan gawang Belanda hanya dalam lima menit pertama melalui tandukan Larsen: 1 – 0. 4) Aku mengepalkan tangan tinggi-tinggi di udara, “Yes!” teriakku. 5) Aku lirik Ayah, beliau menggeleng-geleng sambil mendeham.


Bukti latar tempat dalam kutipan novel tersebut ditunjukkan kalimat ….

a)

1)

b)

2)

c)

3)

d)

4)

e)

5)

17.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.


Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bamboo itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. [ … ] Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.


Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks novel tersebut adalah …

a)

Bapak memotret senja itu.

b)

Bapak tertidur Karen lelah.

c)

Bapak selalu menikmatinya.

d)

Bapak dan ibu duduk berdua.

e)

Bapak berharap kakak datang.

18.

Bacalah kutipan cerpen berikut!


Kemudian, ia sampai pada pemikiran bahwa yang jauh tetaplah di kejauhan. Yang dekat tetaplah pada kedekatan, kecuali yang jauh itu mendekat atau yang dekat itu menjauh. Miliknya akan tetap miliknya, kecuali ia rebut atau ia lepaskan. Begitu pun yang bukan miliknya akan menjadi miliknya jika merebutnya atau menerimanya dari orang lain. Kenangan dan imajinasi akan tetap seperti apa adanya. Dan kenyataan adalah di mana berada. Lalu, bocah itu tersenyum dengan penuh kemenangan. Kemenangannya atas sang nasib yang kini tidak akan bisa lagi merenggut kebahagiannya. (Hujan, Yeni Puspita)


Tema penggalan cerpen tersbut adalah ....

a)

sesuatu yang jauh tidak akan ada pernah dekat

b)

pasang surut nasib orang

c)

nasib harus diperjuangkan

d)

tidak menyerah pada nasib

e)

kita harus menerima kenyataan hidup

19.

Cermatilah kutipan cerpen berikut


Dari Jakarta yang sangat panas, penuh gedung pencakar langit, penuh polusi, dan juga gudangnya copet. Kini, aku berada di Ra’as, sebuah pulau yang kecil sebelahnya Madura. Di Ra’as sangat primitif sekali, mulai dari Jalan Makadam sampai dengan bangunan rumah. Sepengetahuanku, tak ada yang namanya bangunan rumah tingkat di sana.


Kutipan cerpen di atas dibuka dengan cara ….

a)

mendeskripsikan suasana

b)

mendeskripsikan orang

c)

mendeskripsikan tempat

d)

mendeskripsikan waktu

e)

mendeskripsikan objek

20.

Bacalah teks berikut dengan saksama!


Hari itu takkan pernah kulupakan. Kami berbincang, tertawa, terharu, hingga mengeluarkan air mata suka cita. Aku seperti

tak ingin lepas dari momen-momen hari itu. Fatma sahabatku yang selalu mengajari aku dalam berbagai hal selama aku

berada di Jerman. Sampai pada suatu hari aku harus kembali ke Indonesia karena tugasku telah berakhir di sana.


Unsur ekstrinsik dalam penggalan novel tersebut yaitu ....

a)

nilai ekonomi

b)

nilai ideologi

c)

nilai budaya

d)

nilai agama

e)

nilai sosial