NEW
Font size
WorksheetsPenilaian Harian Teks Anekdot
Total questions: 20
Worksheet time: 5hrs 0mins
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Makna lain (idomatis) paruh baya adalah…
Setengah tua
Sepuh
Kakek-kakek
Tua Bangka
Buyut
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Kata yang menunjukkan peristiwa masa lalu pada teks di atas adalah…
Alkisah
Kepada
Lantas
Tunggu
Kembali
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
kalimat seruan pada teks di atas adalah...
“Kembali lima ribu ya Pak!”
“Minta sedekahnya…”
“Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.”
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Rangkaian peristiwa yang tepat pada anekdot tersebut adalah…
Pengemis paruh baya -> meminta uang pada anak kecil -> diberikan uang -> lalu diberikan kembalian
Pengemis paruh baya -> meminta sedekah -> diberikan uang kepada pedagang kaki lima -> meminta kembalian
Pengemis paruh baya -> meminta sedekah kepada pedagang kaki lima -> pedagang kaki lima memberikan uang -> lalu meminta kembalian -> pengemis paruh baya memberikan uang kembalian berlebih
Pengemis paruh baya -> pedagang kaki lima meminta sedekah -> diberikan uang pada pengemis -> diberikan kembalian
Pengemis paruh baya -> meminta kembalian -> pedagang kaki lima meminta sedekah -> diberikan kembalian -> pengemis kaget
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Lelucon anekdot tersebut tampak pada kalimat…
“Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut
Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Bersedekah
Alkisah, terdapat seorang pengemis paruh baya yang sedang meminta-minta kepada pedagang kaki lima. “Minta sedekahnya…” pinta si pengemis tersebut.
Si pedagang kaki lima lantas mengambil uang sepuluh ribuan di sakunya. Diberikannya uang tersebut kepada sang pengemis sambil berkata, “Kembali lima ribu ya Pak!” pintanya.
Bapak pengemis tersebut kemudian menyodorkan mangkuk yang berisi uang kembalian, “Ini kembaliannya silakan diambil.”
“Tunggu Pak, kembaliannya kok tujuh ribu, ini kelebihan Pak.” ucap pedagang kaki lima tersebut keheranan.
“Oh, tidak apa-apa. Ambil uang itu, anggap saja saya bersedekah.”
Pesan tersirat yang tepat pada teks di atas adalah…
Bekerjalah tanpa mengenal lelah
Jangan putus asa dalam mencapai tujuan
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah
Jangan mengerjakan sesuatu yang sia-sia
Dalam mengerjakan sesuatu diperlukan cara yang benar
Dalam sebuah seminar, Gus Dur sempat menjelaskan pendapatnya tentang fanatisme orang NU yang datang ke kediamannya. "Ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediaman saya,” kata Gus Dur.
"Tipe pertama, mereka yang datang dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dan membicarakan NU. Itu orang yang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," katanya lagi.
"Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam, masih mengetuk pintu rumah saya untuk membicarakan NU. itu namanya orang yang gila NU,"tegas Gus Dur.
"Tipe orang NU yang ketiga, Gus?"tanya hadirin.
"Kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya pada jam dua dini hari hingga jam enam pagi. Itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur yang tentu saja disambut tawa peserta seminar.
Pesan yang sesuai dengan isi anekdot tersebut adalah…
Bertamulah kepada orang yang dianggap penting.
Jika bertamu, hendaknya mengetuk pintu dahulu.
Hormatilah setiap tamu yang datang.
Bertamulah sesuai tata krama.
Hargailah tamu meski datang tengah malam.
Dalam sebuah seminar, Gus Dur sempat menjelaskan pendapatnya tentang fanatisme orang NU yang datang ke kediamannya. "Ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediaman saya,” kata Gus Dur.
"Tipe pertama, mereka yang datang dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dan membicarakan NU. Itu orang yang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," katanya lagi.
"Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam, masih mengetuk pintu rumah saya untuk membicarakan NU. itu namanya orang yang gila NU,"tegas Gus Dur.
"Tipe orang NU yang ketiga, Gus?"tanya hadirin.
"Kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya pada jam dua dini hari hingga jam enam pagi. Itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur yang tentu saja disambut tawa peserta seminar.
“Itu orang yang punya komitmen dan fanatik terhadap NU.” Kata komitmen pada kalimat tersebut menyatakan makna…
orang yang taat pada janji
orang yang jujur
orang yang ingkar janji
orang yang amanah
orang yang tidak bisa dipercaya
Dalam sebuah seminar, Gus Dur sempat menjelaskan pendapatnya tentang fanatisme orang NU yang datang ke kediamannya. "Ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediaman saya,” kata Gus Dur.
"Tipe pertama, mereka yang datang dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dan membicarakan NU. Itu orang yang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," katanya lagi.
"Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam, masih mengetuk pintu rumah saya untuk membicarakan NU. itu namanya orang yang gila NU,"tegas Gus Dur.
"Tipe orang NU yang ketiga, Gus?"tanya hadirin.
"Kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya pada jam dua dini hari hingga jam enam pagi. Itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur yang tentu saja disambut tawa peserta seminar.
Objek penceritaan pada teks cerita tersebut adalah…
Gus Dur
Tipe orang NU
Orang Gila
Orang Fanatik
tiga orang
Dalam sebuah seminar, Gus Dur sempat menjelaskan pendapatnya tentang fanatisme orang NU yang datang ke kediamannya. "Ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediaman saya,” kata Gus Dur.
"Tipe pertama, mereka yang datang dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam dan membicarakan NU. Itu orang yang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," katanya lagi.
"Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam, masih mengetuk pintu rumah saya untuk membicarakan NU. itu namanya orang yang gila NU,"tegas Gus Dur.
"Tipe orang NU yang ketiga, Gus?"tanya hadirin.
"Kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya pada jam dua dini hari hingga jam enam pagi. Itu namanya orang NU yang gila," kata Gus Dur yang tentu saja disambut tawa peserta seminar.
“Tipe kedua, mereka yang meski sudah larut malam masih mengetuk pintu rumah saya untuk membicarakan NU. Itu namanya orang yang gila NU.” tegas Gus Dur.
Ungkapan gila NU, dapat ditafsirkan sebagai orang yang…
sering membicarakan NU
tidak suka pada NU
mendorong kemajuan NU
suka pada NU
sangat suka pada NU
Pada suatu hari, Nasrudin berjalan-jalan. la sampai di depan rumah tingkat yang tidak berpenghuni. ia masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata di dalamnya gelap. la iseng naik . ke lantai dua. Nah, pada saat naik itulah cincinnya jatuh. Karena gelap, cincin tersebut tidak ditemukan. Akhirnya, Nasrddin pun ke luar dan melanjutkan pencarian cincin di luar rumah.
Melihat Nasrudin mencari sesuatu, temannya datang bertanya, ”Kamu sedang apa, ' Nasrudin?"
"Oh, aku sedang mencari cincin daritadi belum ditemukan."
"Memang jatuhnya di mana?”
”Jatuhnya, sih, di dalam.”
”Lo, jatuh di dalam, kok, mencarinya di luar, bagaimana bisa ditemukan?”
”Habis, di dalam gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa."
Tema yang tepat untuk anekdot tersebut adalah…
Nasrudin kehilangan cincin
Nasrudin mendapat cincin
Cincin dan Nasrudin
Nasrudin "dikerjain"cincin
Nasrudin mancari cincin
Pada suatu hari, Nasrudin berjalan-jalan. la sampai di depan rumah tingkat yang tidak berpenghuni. ia masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata di dalamnya gelap. la iseng naik . ke lantai dua. Nah, pada saat naik itulah cincinnya jatuh. Karena gelap, cincin tersebut tidak ditemukan. Akhirnya, Nasrddin pun ke luar dan melanjutkan pencarian cincin di luar rumah.
Melihat Nasrudin mencari sesuatu, temannya datang bertanya, ”Kamu sedang apa, ' Nasrudin?"
"Oh, aku sedang mencari cincin daritadi belum ditemukan."
"Memang jatuhnya di mana?”
”Jatuhnya, sih, di dalam.”
”Loh, jatuh di dalam, kok, mencarinya di luar, bagaimana bisa ditemukan?”
”Habis, di dalam gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa."
Isi anekdot tersebut tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari pada pernyataan berikut adalah…
Setiap usaha harus dilakukan dengan tekun dan sabar.
Bekerja dan berusahalah sesuai dengan aturan yang tepat.
Berusahalah mencapai sesuatu dengan cara apa pun.
Berusahalah jangan mudah menyerah.
Berisi nasihat kepada para remaja agar mau bekerja keras.
Pada suatu hari, Nasrudin berjalan-jalan. la sampai di depan rumah tingkat yang tidak berpenghuni. ia masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata di dalamnya gelap. la iseng naik . ke lantai dua. Nah, pada saat naik itulah cincinnya jatuh. Karena gelap, cincin tersebut tidak ditemukan. Akhirnya, Nasrddin pun ke luar dan melanjutkan pencarian cincin di luar rumah.
Melihat Nasrudin mencari sesuatu, temannya datang bertanya, ”Kamu sedang apa, ' Nasrudin?"
"Oh, aku sedang mencari cincin daritadi belum ditemukan."
"Memang jatuhnya di mana?”
”Jatuhnya, sih, di dalam.”
”Loh, jatuh di dalam, kok, mencarinya di luar, bagaimana bisa ditemukan?”
”Habis, di dalam gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa."
Isi anekdot tersebut sesuai dengan pernyataan berikut…
Tindakan Nasrudin mencari cincin di luar rumah merupakan cara yang cerdas.
Berisi sindiran kepada para remaja yang malas bekerja keras.
Tindakan Nasrudin mencari cincin di dalam rumah merupakan tindakan bodoh.
Nasrudin merupakan tokoh yang mau bekerja keras.
Setiap usaha tidak perlu dilakukan dengan sabar.
Pada suatu hari, Nasrudin berjalan-jalan. la sampai di depan rumah tingkat yang tidak berpenghuni. ia masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata di dalamnya gelap. la iseng naik . ke lantai dua. Nah, pada saat naik itulah cincinnya jatuh. Karena gelap, cincin tersebut tidak ditemukan. Akhirnya, Nasrddin pun ke luar dan melanjutkan pencarian cincin di luar rumah.
Melihat Nasrudin mencari sesuatu, temannya datang bertanya, ”Kamu sedang apa, ' Nasrudin?"
"Oh, aku sedang mencari cincin daritadi belum ditemukan."
"Memang jatuhnya di mana?”
”Jatuhnya, sih, di dalam.”
”Lo, jatuh di dalam, kok, mencarinya di luar, bagaimana bisa ditemukan?”
”Habis, di dalam gelap. Saya tidak bisa melihat apa-apa."
Pesan berikut tidak sesuai dengan isi anekdot tersebut adalah…
Jangan putus asa dalam mencapai tujuan.
Jangan mengerjakan sesuatu yang sia-sia.
Dalam mengerjakan sesuatu diperlukan cara yang benar.
Mencari cincin yang jatuh hendaknya di tempat cincin tersebut jatuh.
Manfaatkanlah masa mudamu untuk mencari ilmu.
Suatu hari guru menerangkan tentang biopori di depan kelas. “ Biopori itu bisa dijadikan sebagai salah satu usaha menghindari banjir”jelasnya. “Sekarang, Ibu beri tugas pada kalian untuk membuat biopori di sekitar rumah, lalu kalian foto. Fotonya nanti ditempel di buku tugas dan berikan deskripsi”.
Tiba-tiba seorang anak berkomentar.
“Syukurlah Bu, jalan menuju rumah saya sudah banyak bioporinya, tapi kata bapak itu bukan untuk menanggulangi banjir, melainkan biopori akibat sering banjir”. Mendengar itu semua anak dan Bu guru tertawa.
Kalimat yang menunjukkan krisis adalah…
Suatu hari guru menerangkan tentang biopori di depan kelas.
“Biopori itu bisa dijadikan sebagai salah satu usaha menghindari banjir”jelasnya.
Sekarang, Ibu beri tugas pada kalian untuk membuat biopori di sekitar rumah, lalu kalian foto.
"Syukurlah Bu, jalan menuju rumah saya sudah banyak bioporinya, tapi kata bapak itu bukan untuk menanggulangi banjir, melainkan biopori akibat sering banjir”
Mendengar itu semua anak dan Bu guru tertawa.
Suatu hari guru menerangkan tentang biopori di depan kelas. “ Biopori itu bisa dijadikan sebagai salah satu usaha menghindari banjir”jelasnya. “Sekarang, Ibu beri tugas pada kalian untuk membuat biopori di sekitar rumah, lalu kalian foto. Fotonya nanti ditempel di buku tugas dan berikan deskripsi”.
Tiba-tiba seorang anak berkomentar.
“Syukurlah Bu, jalan menuju rumah saya sudah banyak bioporinya, tapi kata bapak itu bukan untuk menanggulangi banjir, melainkan biopori akibat sering banjir”. Mendengar itu semua anak dan Bu guru tertawa.
Kalimat yang menunjukan reaksi adalah...
Tiba-tiba seorang anak berkomentar.
Mendengar itu semua anak dan Bu guru tertawa.
Biopori itu bisa dijadikan sebagai salah satu usaha menghindari banjir”jelasnya
Syukurlah Bu, jalan menuju rumah saya sudah banyak bioporinya
Fotonya nanti ditempel di buku tugas dan berikan deskripsi
Susunlah anekdot berikut ini sesuai dengan strukturnya!
1. Bu guru pun tersenyum
2. Siapa yang bisa membuat perumpamaan bagi penegakan hukum di negeri kita? Tanya Bu guru di depan kelas.
3. Bu guru bertanya kenapa disebut hukum kantong kresek
4. Tidak lama kemudian seorang anak menjawab dengan lantang
5. Hukum kantong kresek Bu, kata anak itu.
6. Hanya bisa menyelesaikan kasus kecil Bu, kalau kasus besar tidak pernah muat.
urutkan sesuai dengan struktur yang tepat!
1-2-3-4-5-6
2-4-5-3-6-1
2-4-3-5-1-6
1-2-4-5-3-6
3-2-1-4-5-6
KUHP
Seoraang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja. Saat sesi Tanya-jawab tiba, ali bertanya kepada pak dosen “apa kepanjangan KUHP pak?” pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada ahmad. “saudara ahmad, coba dijawab pertanyaan saudara ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas ahmad mejawab, “Kasih Uang Habis Perkara, pak...!” Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanyaa menggeleng-gelengkan kepala seraya menmbahkan pertanyaan kepada ahmad. “saudara ahmad, dari mana saudara tahu jawaban itu?”dasar ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “peribahasa inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, pak....?”. Semua mahasiswa dikelas itu tercengang. Mereka berpandang pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa mereda. Kembali berlangsung normal.
Makna tersirat pada teks anekdot di atas adalah...
Menjelaskan kepanjangan KUHP sebenarnya adalah Kitab Undang Hukum Pidana.
Mengkritik Bapak dosen sedang memberikan kuliah hukum pidana.
Peribahasa Inggris mengatakan pengalaman adalah guru terbaik.
Menyindir kepada oknum penegak hukum yang mau disuap.
Menyindir Ali yang bertanya kepanjangan KUHP.
KUHP
Seoraang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja. Saat sesi Tanya-jawab tiba, ali bertanya kepada pak dosen “apa kepanjangan KUHP pak?” pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada ahmad. “saudara ahmad, coba dijawab pertanyaan saudara ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas ahmad mejawab, “Kasih Uang Habis Perkara, pak...!” Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanyaa menggeleng-gelengkan kepala seraya menmbahkan pertanyaan kepada ahmad. “saudara ahmad, dari mana saudara tahu jawaban itu?”dasar ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “peribahasa inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, pak....?”. Semua mahasiswa dikelas itu tercengang. Mereka berpandang pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa mereda. Kembali berlangsung normal.
Siapakah partisipan yang digambarkan dalam anekdot tersebut, adalah…
Pak Dosen
Ali
Ahmad
Ali dan ahmad
Ali, ahmad, dan pak dosen
KUHP
Seoraang dosen fakultas hukum suatu universitas sedang memberikan kuliah hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa saja. Saat sesi Tanya-jawab tiba, ali bertanya kepada pak dosen “apa kepanjangan KUHP pak?” pak dosen tidak menjawab sendiri, melainkan melemparkannya kepada ahmad. “saudara ahmad, coba dijawab pertanyaan saudara ali tadi,” pinta pak dosen. Dengan tegas ahmad mejawab, “Kasih Uang Habis Perkara, pak...!” Mahasiswa lain tentu tertawa, sedangkan pak dosen hanyaa menggeleng-gelengkan kepala seraya menmbahkan pertanyaan kepada ahmad. “saudara ahmad, dari mana saudara tahu jawaban itu?”dasar ahmad, pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan tegas, “peribahasa inggris mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik, pak....?”. Semua mahasiswa dikelas itu tercengang. Mereka berpandang pandangan. Lalu, mereka tertawa terbahak-bahak. Gelak tawa mereda. Kembali berlangsung normal.
Pada kalimat, “mahasiswa tercengang dan tertawa, sedangkan dosen menggeleng-gelengkan kepala ”, adalah termasuk kalimat struktur teks...
asbtraksi
orientasi
krisis
reaksi
koda
