wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Filosofi Audit

Total questions: 139

Worksheet time: 1hrs 10mins

Name
Class
Date
1.
Auditing, awalnya dikembangkan sebagai sebuah …
a)
prosedur dengan pengecekan yang detail
b)
prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya
c)
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti
d)
menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan
2.
auditor jaman dahulu hanya terdorong untuk ….
a)
menginvestigasi kecocokan hal-hal yang diinvestigasi dengan model atau standar
b)
prosedur dengan pengecekan yang detail
c)
prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya
d)
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti
3.
Definisi Auditing menurut Arens & Leobbecke
a)
proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan
b)
auditing sebagai rangkaian praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan, diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori
c)
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan
d)
menginvestigasi kecocokan hal-hal yang diinvestigasi dengan model atau standar
4.
Definisi Auditing menurut Mautz,Husain A sharaf
a)
auditing sebagai rangkaian praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan, diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori
b)
proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan
c)
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan
d)
menginvestigasi kecocokan hal-hal yang diinvestigasi dengan model atau standar
5.
Definisi Auditing menurut Mulyadi & Kanaka Puradiredja
a)
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan
b)
auditing sebagai rangkaian praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan, diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori
c)
proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan
d)
menginvestigasi kecocokan hal-hal yang diinvestigasi dengan model atau standar
6.
proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seseorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan adalah definisi auditing menurut….
a)
Arens & Leobbecke
b)
Mautz,Husain A sharaf
c)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
d)
Leobbecke
7.
auditing sebagai rangkaian praktek dan prosedur, metode dan teknik, suatu cara yang hanya sedikit butuh penjelasan, diskripsi, rekonsiliasi dan argumen yang biasanya menggumpal sebagai teori adalah definisi auditing menurut….
a)
Mautz,Husain A sharaf
b)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
c)
Arens & Leobbecke
d)
Leobbecke
8.
proses sistematis untuk mempelajari dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan adalah definisi auditing menurut….
a)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
b)
Arens & Leobbecke
c)
Mautz,Husain A sharaf
d)
Leobbecke
9.
logika auditing bergantung pada gagasan dan metode-metode audit verifikasi, pemeriksaan data finansial untuk tujuan ….
a)
penilaian kejujuran
b)
ukuran kelayakan
c)
pendukung laporan dan data finansial
d)
menekankan bukti
10.
Filsafat berkenaan dengan bagaimana kita
a)
menyikapi pengetahuan
b)
penilaian kejujuran
c)
ukuran kelayakan
d)
pendukung laporan dan data finansial
11.
Filsafat adalah
a)
kecintaan akan kebijakan
b)
penilaian kejujuran
c)
ukuran kelayakan
d)
pendukung laporan dan data finansial
12.
Pendekatan filosofi mempunyai empat karakteristik
a)
Komprehensif-Perspektif-Insight atau pendalaman-vision atau pandangan ke depan
b)
Conclusi-Perspektif-Insight atau pendalaman-vision atau pandangan ke depan
c)
Komprehensif-Persepsi-Insight atau pendalaman-vision atau pandangan ke depan
d)
Komprehensif-Perspektif-Insight atau pendalaman-mision atau pandangan ke depan
13.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik COMPREHENSION diartikan…
a)
auditing bukan sekedar kumpulan prosedur dan kriteria, melainkan suatu proses yang komprehensif yang bagian-bagiannya secara teratur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten untuk menyelesaikan suatu audit dengan cara terbaik
b)
kita wajib mengenyampingkan pandangan atau kepentingan pribadi. Setiap masalah harus dilihat dari kepentingan dan dampak menyeluruh, dan bukan dari sudut pandang yang terbatas.
c)
cara lain untuk mengatakan bahwa auditor harus mampu menemukan akar masalah dalam setiap penugasan auditnya sehingga rekomendasi yang dihasilkan tepat sasaran dan audit akan memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat secara keseluruhan
d)
Seorang Auditor seharusnya memiliki pandangan yang luas untuk mampu memberikan alternatif solusi atas masalah yang dihadapi auditee nya
14.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik PERSPECTIVE diartikan…
a)
kita wajib mengenyampingkan pandangan atau kepentingan pribadi. Setiap masalah harus dilihat dari kepentingan dan dampak menyeluruh, dan bukan dari sudut pandang yang terbatas.
b)
cara lain untuk mengatakan bahwa auditor harus mampu menemukan akar masalah dalam setiap penugasan auditnya sehingga rekomendasi yang dihasilkan tepat sasaran dan audit akan memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat secara keseluruhan
c)
Seorang Auditor seharusnya memiliki pandangan yang luas untuk mampu memberikan alternatif solusi atas masalah yang dihadapi auditee nya
d)
auditing bukan sekedar kumpulan prosedur dan kriteria, melainkan suatu proses yang komprehensif yang bagian-bagiannya secara teratur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten untuk menyelesaikan suatu audit dengan cara terbaik
15.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik INSIGHT diartikan…
a)
cara lain untuk mengatakan bahwa auditor harus mampu menemukan akar masalah dalam setiap penugasan auditnya sehingga rekomendasi yang dihasilkan tepat sasaran dan audit akan memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat secara keseluruhan
b)
Seorang Auditor seharusnya memiliki pandangan yang luas untuk mampu memberikan alternatif solusi atas masalah yang dihadapi auditee nya
c)
auditing bukan sekedar kumpulan prosedur dan kriteria, melainkan suatu proses yang komprehensif yang bagian-bagiannya secara teratur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten untuk menyelesaikan suatu audit dengan cara terbaik
d)
kita wajib mengenyampingkan pandangan atau kepentingan pribadi. Setiap masalah harus dilihat dari kepentingan dan dampak menyeluruh, dan bukan dari sudut pandang yang terbatas.
16.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik VISION diartikan…
a)
Seorang Auditor seharusnya memiliki pandangan yang luas untuk mampu memberikan alternatif solusi atas masalah yang dihadapi auditee nya
b)
auditing bukan sekedar kumpulan prosedur dan kriteria, melainkan suatu proses yang komprehensif yang bagian-bagiannya secara teratur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten untuk menyelesaikan suatu audit dengan cara terbaik
c)
kita wajib mengenyampingkan pandangan atau kepentingan pribadi. Setiap masalah harus dilihat dari kepentingan dan dampak menyeluruh, dan bukan dari sudut pandang yang terbatas.
d)
cara lain untuk mengatakan bahwa auditor harus mampu menemukan akar masalah dalam setiap penugasan auditnya sehingga rekomendasi yang dihasilkan tepat sasaran dan audit akan memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat secara keseluruhan
17.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik COMPREHENSION diartikan…
a)
Audit haruslah berdiri diatas standar dan metodologi dan konsep yang baik sebagai sebuah body of knowledge agar bagian-bagiannya (seperti evidence, due care, disclosure dan independence) secara terstruktur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten
b)
Auditor harus memperhatikan pendapat, penjelasan dan membangun interaksi yang baik agar terhindar dari bias dalam membuat pendapat dan kesimpulan
c)
Akar masalah merupakan pijakan yang kita gunakan untuk berpikir dan menarik kesimpulan dan memberikn rekomendasi. Akar masalah sering kali tersembunyi dan harus kita cari dan ungkapkan
d)
kemampuan auditor untuk merumuskan rekomendasi agar temuan tersebut tidak berulang merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih penting
18.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik PERSPECTIVE diartikan…
a)
Auditor harus memperhatikan pendapat, penjelasan dan membangun interaksi yang baik agar terhindar dari bias dalam membuat pendapat dan kesimpulan
b)
Akar masalah merupakan pijakan yang kita gunakan untuk berpikir dan menarik kesimpulan dan memberikn rekomendasi. Akar masalah sering kali tersembunyi dan harus kita cari dan ungkapkan
c)
kemampuan auditor untuk merumuskan rekomendasi agar temuan tersebut tidak berulang merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih penting
d)
Audit haruslah berdiri diatas standar dan metodologi dan konsep yang baik sebagai sebuah body of knowledge agar bagian-bagiannya (seperti evidence, due care, disclosure dan independence) secara terstruktur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten
19.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik INSIGHT diartikan…
a)
Akar masalah merupakan pijakan yang kita gunakan untuk berpikir dan menarik kesimpulan dan memberikn rekomendasi. Akar masalah sering kali tersembunyi dan harus kita cari dan ungkapkan
b)
kemampuan auditor untuk merumuskan rekomendasi agar temuan tersebut tidak berulang merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih penting
c)
Audit haruslah berdiri diatas standar dan metodologi dan konsep yang baik sebagai sebuah body of knowledge agar bagian-bagiannya (seperti evidence, due care, disclosure dan independence) secara terstruktur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten
d)
Auditor harus memperhatikan pendapat, penjelasan dan membangun interaksi yang baik agar terhindar dari bias dalam membuat pendapat dan kesimpulan
20.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik VISION diartikan…
a)
kemampuan auditor untuk merumuskan rekomendasi agar temuan tersebut tidak berulang merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian yang lebih penting
b)
Audit haruslah berdiri diatas standar dan metodologi dan konsep yang baik sebagai sebuah body of knowledge agar bagian-bagiannya (seperti evidence, due care, disclosure dan independence) secara terstruktur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten
c)
Auditor harus memperhatikan pendapat, penjelasan dan membangun interaksi yang baik agar terhindar dari bias dalam membuat pendapat dan kesimpulan
d)
Akar masalah merupakan pijakan yang kita gunakan untuk berpikir dan menarik kesimpulan dan memberikn rekomendasi. Akar masalah sering kali tersembunyi dan harus kita cari dan ungkapkan
21.
Pendekatan filosofi dengan karakteristik VISION diartikan…
a)
auditor diharapkan berperan sebagai quality assurance. Idealnya auditor hadir untuk mengawal capaian visi besar dari stakeholdernya.<br />
b)
Audit haruslah berdiri diatas standar dan metodologi dan konsep yang baik sebagai sebuah body of knowledge agar bagian-bagiannya (seperti evidence, due care, disclosure dan independence) secara terstruktur dan logis dapat dijelaskan secara konsisten
c)
Auditor harus memperhatikan pendapat, penjelasan dan membangun interaksi yang baik agar terhindar dari bias dalam membuat pendapat dan kesimpulan
d)
Akar masalah merupakan pijakan yang kita gunakan untuk berpikir dan menarik kesimpulan dan memberikn rekomendasi. Akar masalah sering kali tersembunyi dan harus kita cari dan ungkapkan
22.
METODE FILOSOFI
a)
METODE ANALITIS dan VALUASI
b)
ketegasan dan ketepatan
c)
teknik logika
d)
moral dan etika.
23.
Sikap filosofis berupaya merefleksikan sikap kritis dan analitis terhadap ide-ide maupun gagasan yang selama ini diterima begitu saja oleh sebagian orang merupakan metode filosofi dengan pendekatan….
a)
ANALITIS
b)
VALUASI
c)
moral
d)
etika
24.
tertarik akan ketegasan dan ketepatan dalam berpikir, terutama dengan menggunakan teknik logika merupakan metode filosofi dengan pendekatan….
a)
ANALITIS
b)
VALUASI
c)
moral
d)
etika
25.
Dengan pendekatan ini, dicari jawaban terhadap bagaimana sebaiknya seseorang berbuat, dan prinsip apa yang semestinya digunakan untuk mengarahkan tindakan manusia merupakan metode filosofi dengan pendekatan….
a)
VALUASI
b)
ANALITIS
c)
moral
d)
etika
26.
filsafat merupakan suatu alat yang sangat penting dalam…
a)
mengintegrasikan auditing sebagai instrumen kehidupan social.
b)
mempunyai implikasi sosial.
c)
menyajikan kepada para pemakai mengenai informasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan
d)
merangsang setiap yang berkepentingan untuk bertindak
27.
CIRI POKOK dari POSTULAT, yakni
a)
Dipentingkan dalam pengembangan suatu disiplin intelektual; Bersifat asumtif; dasar untuk inferensi; landasan struktur teoretis; Terbuka terhadap tantangan;
b)
ketegasan dan ketepatan
c)
METODE ANALITIS dan VALUASI
d)
Bersifat asumtif; dasar untuk inferensi; landasan struktur teoretis;
28.
The Philosophy of Auditing diusulkan oleh
a)
Mautz dan Sharaf
b)
James E. Anderson. George C. Edwards III dan Ira Sharkansky
c)
David Easton
d)
James Lester dan Robert Steward
29.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Asersi atau OBJEK audit harus VERIFIABLE atau AUDITABLE.
b)
mengintegrasikan auditing sebagai instrumen kehidupan social.
c)
mempunyai implikasi sosial.
d)
menyajikan kepada para pemakai mengenai informasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan
30.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Auditor yang bertugas memiliki hubungan NETRAL dan tidak mempunyai konflik DENGAN OBJEK AUDIT.<br />
b)
mengintegrasikan auditing sebagai instrumen kehidupan social.
c)
mempunyai implikasi sosial.
d)
menyajikan kepada para pemakai mengenai informasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan
31.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Asersi atau OBJEK audit harus DIPANDANG BEBAS dari KEKELIRUAN SAMPAI proses PEMBUKTIAN diselesaikan dan menunjukkan SEBALIKNYA.
b)
mengintegrasikan auditing sebagai instrumen kehidupan social.
c)
mempunyai implikasi sosial.
d)
menyajikan kepada para pemakai mengenai informasi yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan
32.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Suatu sistem PENGENDALIAN internal dipandang EKSIS dan berjalan semestinya SAMPAI diperoleh BUKTI bahwa telah terjadi hal SEBALIKNYA.<br />
b)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten
c)
Setiap auditor BERFUNGSI secara objektif SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
d)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN skeptis dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
33.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten SAMPAI diperoleh bukti meyakinkan bahwa telah terjadi hal hal SEBALIKNYA.<br />
b)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten
c)
Setiap auditor BERFUNGSI secara objektif SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
d)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN skeptis dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
34.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Setiap auditor BERFUNGSI secara EKSKLUSIF SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
b)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten
c)
Setiap auditor BERFUNGSI secara objektif SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
d)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN skeptis dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
35.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN PROFESIONAL dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
b)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten
c)
Setiap auditor BERFUNGSI secara objektif SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
d)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN skeptis dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
36.
POSTULAT AUDITING, yaitu
a)
Asersi atau OBJEK audit harus VERIFIABLE atau AUDITABLE.
b)
PENERAPAN KETENTUAN yang berlaku (seperti standar akuntansi) DIASUMSIKAN telah BERJALAN dengan konsisten
c)
Setiap auditor BERFUNGSI secara objektif SEBAGAI AUDITOR dalam menjalankan tugasnya.
d)
Setiap AUDITOR senantiasa DIASUMSIKAN skeptis dalam pelaksanaan tugasnya dan tingkah lakunya.
37.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep PEMBUKTIAN;
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
38.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep Kelayakan Asersi;
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
39.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep Kecermatan Profesi;
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
40.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep INDEPENDENSI;
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
41.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep ETIKA (Ethical Conduct);
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
42.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep PEMBUKTIAN; Konsep Kelayakan Asersi; Konsep Kecermatan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; Konsep ETIKA (Ethical Conduct);
b)
Konsep Kelayakan Profesi; (Evidential Matter); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep Kecermatan Asersi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi; (PAIR PRESENTATION); (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; Konsep INTERDEPENDENSI;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI;
43.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
(Evidential Matter);
b)
(PAIR PRESENTATION);
c)
(DUE PROFESSIONAL JOB);
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
44.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
(FAIR PRESENTATION);
b)
(PAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); (Ethical Conduct); Konsep Kecermatan Asersi; (PAIR PRESENTATION); (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; Konsep INTERDEPENDENSI;
c)
(DUE PROFESSIONAL JOB); (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; (FAIR PRESENTATION); (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); bukti ciptaan (CREATED evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI;
45.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
b)
(PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI;
c)
(DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI; (PAIR PRESENTATION); (FAIR PRESENTATION); (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); bukti ciptaan (CREATED evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
46.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
Konsep INDEPENDENSI;
b)
(Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI;
c)
(PAIR PRESENTATION); (FAIR PRESENTATION); (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); bukti ciptaan (CREATED evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
d)
(DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
47.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
(Ethical Conduct);
b)
(FAIR PRESENTATION); (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); bukti ciptaan (CREATED evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI;
c)
(Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI;
d)
(DUE PROFESSIONAL JOB); (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; (FAIR PRESENTATION); (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); bukti ciptaan (CREATED evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
48.
KONSEP PENTING DALAM AUDIT
a)
(Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct);
b)
(DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI;
c)
(PAIR PRESENTATION); Konsep INDEPENDENSI; (Evidential Matter); (FAIR PRESENTATION); (DUE PROFESSIONAL CARE); Konsep INDEPENDENSI; (Ethical Conduct); Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; (Evidential Matter); Konsep Kelayakan Profesi; Konsep INDEPENDENSI; bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
d)
(DUE PROFESSIONAL JOB); (Evidential Matter); (Ethical Conduct); bukti alamiah (NATURAL evidence), Konsep INTERDEPENDENSI; (DUE PROFESSIONAL CARE); bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).Konsep INTERDEPENDENSI; bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
49.
Salah satu cara mengenali KARAKTERISTIK BUKTI (evidence) adalah dengan membedakan sumber bukti yang dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu <br />
a)
bukti alamiah (NATURAL evidence),
b)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
c)
bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
d)
BUKTI KUAT
50.
Salah satu cara mengenali KARAKTERISTIK BUKTI (evidence) adalah dengan membedakan sumber bukti yang dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu <br />
a)
bukti ciptaan (CREATED evidence),
b)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
c)
bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
d)
BUKTI KUAT
51.
Salah satu cara mengenali KARAKTERISTIK BUKTI (evidence) adalah dengan membedakan sumber bukti yang dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu <br />
a)
bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).
b)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence),
c)
bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).
d)
BUKTI KUAT
52.
Salah satu cara mengenali KARAKTERISTIK BUKTI (evidence) adalah dengan membedakan sumber bukti yang dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu <br />
a)
bukti alamiah (NATURAL evidence), bukti ciptaan (CREATED evidence), bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION).
b)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).BUKTI KUAT
c)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).BUKTI KUAT
d)
bukti MODIFIKASI (MODIFIED evidence), bukti PENDAPAT (RATIONAL ARGUMENTATION).BUKTI KUAT
53.
Contoh bukti alamiah (NATURAL evidence), adalah…
a)
setiap fenomena yang dapat disaksikan atau dirasakan oleh panca indera, <br />
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis
c)
reviu analitis
d)
kalkulasi matematis
54.
Contoh bukti alamiah (NATURAL evidence), adalah…
a)
seperti barang persediaan di gudang, proses produksi, saldo bank, atau hasil rapat
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis
c)
reviu analitis
d)
kalkulasi matematis
55.
Contoh bukti alamiah (NATURAL evidence), adalah…
a)
proses produksi
b)
jajak pendapat,
c)
konfirmasi piutang
d)
kalkulasi matematis
56.
Contoh bukti alamiah (NATURAL evidence), adalah…
a)
saldo bank
b)
jajak pendapat,
c)
konfirmasi piutang
d)
kalkulasi matematis
57.
Contoh bukti alamiah (NATURAL evidence), adalah…
a)
hasil rapat
b)
jajak pendapat,
c)
konfirmasi piutang
d)
kalkulasi matematis
58.
Contoh bukti ciptaan (CREATED evidence), adalah…
a)
eksperimen, jajak pendapat, atau konfirmasi piutang
b)
setiap fenomena yang dapat disaksikan atau dirasakan oleh panca indera, <br />
c)
olahan pikiran secara analitis dan logis
d)
reviu analitis
59.
Contoh bukti ciptaan (CREATED evidence), adalah…
a)
jajak pendapat,
b)
reviu analitis
c)
kalkulasi matematis
d)
uji perbandingan
60.
Contoh bukti ciptaan (CREATED evidence), adalah…
a)
konfirmasi piutang
b)
reviu analitis
c)
kalkulasi matematis
d)
uji perbandingan
61.
Contoh bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION). adalah…
a)
olahan pikiran secara analitis dan logis
b)
eksperimen, jajak pendapat, atau konfirmasi piutang
c)
setiap fenomena yang dapat disaksikan atau dirasakan oleh panca indera, <br />
d)
proses produksi
62.
Contoh bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION). adalah…
a)
reviu analitis
b)
proses produksi
c)
saldo bank
d)
hasil rapat
63.
Contoh bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION). adalah…
a)
kalkulasi matematis
b)
proses produksi
c)
saldo bank
d)
hasil rapat
64.
Contoh bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION). adalah…
a)
uji perbandingan
b)
proses produksi
c)
saldo bank
d)
hasil rapat
65.
Contoh bukti rasional (RATIONAL ARGUMENTATION). adalah…
a)
olahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingan
b)
eksperimen, jajak pendapat, atau konfirmasi piutang
c)
setiap fenomena yang dapat disaksikan atau dirasakan oleh panca indera, <br />
d)
proses produksi
66.
Kecukupan bukti didasarkan pada pertimbangan tiga faktor, yakni
a)
tingkat materialitas dan risiko,
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis
c)
reviu analitis
d)
kalkulasi matematis
67.
Kecukupan bukti didasarkan pada pertimbangan tiga faktor, yakni
a)
faktor ekonomi,
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis
c)
reviu analitis
d)
kalkulasi matematis
68.
Kecukupan bukti didasarkan pada pertimbangan tiga faktor, yakni
a)
besar dan karakterisitik populasi
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis
c)
reviu analitis
d)
kalkulasi matematis
69.
Kecukupan bukti didasarkan pada pertimbangan tiga faktor, yakni
a)
tingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi, besar dan karakterisitik populasi
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingan
c)
eksperimen, jajak pendapat, atau konfirmasi piutang
d)
setiap fenomena yang dapat disaksikan atau dirasakan oleh panca indera, <br />
70.
tingkat materialitas dan risiko, merupakan ciri-ciri…..
a)
Kecukupan bukti
b)
Kompetensi Bukti
c)
Olah Pikiran
d)
Olah Panca Indra
71.
faktor ekonomi, merupakan ciri-ciri…..
a)
Kecukupan bukti
b)
Kompetensi Bukti
c)
Olah Pikiran
d)
Olah Panca Indra
72.
besar dan karakterisitik populasi merupakan ciri-ciri…..
a)
Kecukupan bukti
b)
Kompetensi Bukti
c)
Olah Pikiran
d)
Olah Panca Indra
73.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan salah satu aspek berikut
a)
Kecukupan bukti
b)
Kompetensi Bukti
c)
Olah Pikiran
d)
Olah Panca Indra
74.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan salah satu aspek berikut
a)
Relevansi,
b)
tingkat materialitas dan risiko,
c)
faktor ekonomi,
d)
besar dan karakterisitik populasi
75.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan salah satu aspek berikut
a)
Sumber,
b)
tingkat materialitas dan risiko,
c)
faktor ekonomi,
d)
besar dan karakterisitik populasi
76.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan salah satu aspek berikut
a)
Ketepatan waktu,
b)
tingkat materialitas dan risiko,
c)
faktor ekonomi,
d)
besar dan karakterisitik populasi
77.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan salah satu aspek berikut
a)
Objektivitas.
b)
tingkat materialitas dan risiko,
c)
faktor ekonomi,
d)
besar dan karakterisitik populasi
78.
bukti yang KOMPETEN akan terkait dengan keempat aspek berikut
a)
Relevansi, Sumber, Ketepatan waktu, Objektivitas.
b)
olahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingantingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi, besar dan karakterisitik populasi
c)
besar dan karakterisitik populasitingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi, besar dan karakterisitik populasiKecukupan bukti faktor ekonomi,
d)
uji perbandinganolahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingantingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi,
79.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Bukti fisik;
b)
Relevansi,
c)
tingkat materialitas dan risiko,
80.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Hasil observasi;
b)
Sumber,
c)
faktor ekonomi,
d)
reviu analitis
81.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Konfirmasi;
b)
Ketepatan waktu,
c)
besar dan karakterisitik populasi
d)
kalkulasi matematis
82.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Bukti dokumen;
b)
Objektivitas.
c)
uji perbandingan
d)
uji perbandingan
83.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Keterangan atau pernyataan;
b)
Ketepatan waktu,
c)
olahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingan
d)
olahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandingan
84.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Analisis matematis atau kajian rasional;
b)
Objektivitas.
c)
faktor ekonomi,
d)
reviu analitis
85.
Jenis-jenis bukti yang utama dipertimbangkan sebagai dukungan dalam auditing biasanya dapat terdiri dari:
a)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
b)
Relevansi, Sumber, Ketepatan waktu, Objektivitas.Ketepatan waktu, Objektivitas.
c)
tingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi, besar dan karakterisitik populasiuji perbandinganolahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandinganfaktor ekonomi,
d)
reviu analitiskalkulasi matematisuji perbandinganolahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandinganreviu analitis
86.
Dalam bahasa profesi, hubungan antara pernyataan (asersi) atau laporan dengan kenyataan ini lazim disebut
a)
penyajian secara wajar atau layak
b)
Konsep Kecermatan Profesi;
c)
Konsep INDEPENDENSI;
d)
Konsep ETIKA (Ethical Conduct);
87.
Dalam bahasa profesi, hubungan antara pernyataan (asersi) atau laporan dengan kenyataan ini lazim disebut
a)
fair presentation
b)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
c)
Konsep INDEPENDENSI;
d)
(Ethical Conduct);
88.
Dalam lingkungan audit keuangan di mana sasaran ujinya adalah mengenai kelayakan laporan keuangan, KEBENARAN yang hendak dicapai meliputi DUA HAL, yakni:
a)
RELIABILITY & LAYAK SUBSTANSI
b)
DAPAT DIPERCAYA
c)
bukti-bukti formil dan materil
d)
dapat diyakini menggambarkan kondisi nyata
89.
Salah satu alasan mengapa standar tidak boleh dipandang sebagai ukuran mutlak, yakni:
a)
SIMPLIFIKASI;
b)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
c)
penyajian secara wajar atau layak
d)
fair presentation
90.
Salah satu alasan mengapa standar tidak boleh dipandang sebagai ukuran mutlak, yakni:
a)
dirumuskan sesuai dengan kondisi AD HOC;
b)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
c)
penyajian secara wajar atau layak
d)
fair presentation
91.
Salah satu alasan mengapa standar tidak boleh dipandang sebagai ukuran mutlak, yakni:
a)
dibuat dengan menggunakan beberapa ASUMSI;
b)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
c)
penyajian secara wajar atau layak
d)
fair presentation
92.
Salah satu alasan mengapa standar tidak boleh dipandang sebagai ukuran mutlak, yakni:
a)
DIBUAT OLEH OTORITAS;
b)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
c)
penyajian secara wajar atau layak
d)
fair presentation
93.
4 alasan mengapa standar tidak boleh dipandang sebagai ukuran mutlak, yakni:<br />
a)
SIMPLIFIKASI; dirumuskan sesuai dengan kondisi AD HOC; dibuat dengan menggunakan beberapa ASUMSI; DIBUAT OLEH OTORITAS;
b)
RELIABILITY & LAYAK SUBSTANSI
c)
DAPAT DIPERCAYA
d)
bukti-bukti formil dan materil
94.
standar apa pun yang nanti dikembangkan untuk dijadikan acuan dalam fungsi auditing haruslah diposisikan sebagai standar, dan BUKAN sesuatu ukuran kebenaran MUTLAK, adalah pernyataan dari….
a)
Mautz,Husain A sharaf
b)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
c)
Arens & Leobbecke
d)
Leobbecke
95.
Kecermatan profesional (due professional care) dalam auditing berarti….
a)
upaya maksimal dari setiap auditor dalam pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan rasional dengan penuh kehati-hatian dalam melaksanakan fungsi auditing
b)
Adanya kepastian tentang kewajiban yang dibebankan kepada auditor sebagai lingkup tanggung jawab profesinya
c)
Tersedianya cara-cara bagi auditor untuk mewujudkan secara maksimal kemampuan, pengetahuan, dan keahlian
d)
alasan-alasan yang secara profesional dapat dipertanggungjawabkan
96.
upaya maksimal dari setiap auditor dalam pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan rasional dengan penuh kehati-hatian dalam melaksanakan fungsi auditing, termasuk dalam hal merencanakan, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan pembuktian, serta dalam hal pengambilan simpulan, sehingga kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dipertanggung jawabkan secara profesional, merupakan konsep....
a)
Konsep Kecermatan Profesional
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
97.
“professional scepticism” dimaksudkan bahwa…
a)
auditor bersikap kritis untuk mempertanyakan kebenaran informasi atau laporan yang diauditnya sampai memperoleh bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran itu
b)
upaya maksimal dari setiap auditor dalam pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan rasional dengan penuh kehati-hatian dalam melaksanakan fungsi auditing
c)
Adanya kepastian tentang kewajiban yang dibebankan kepada auditor sebagai lingkup tanggung jawab profesinya
d)
Tersedianya cara-cara bagi auditor untuk mewujudkan secara maksimal kemampuan, pengetahuan, dan keahlian
98.
auditor bersikap kritis untuk mempertanyakan kebenaran informasi atau laporan yang diauditnya sampai memperoleh bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran itu, merupakan ciri-ciri….
a)
professional scepticism
b)
Konsep PEMBUKTIAN;
c)
Konsep Kelayakan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
99.
Skeptisisme profesional adalah…
a)
sikap yang mempertahankan pemikiran yang objektif dan terbuka dengan cara waspada terhadap kondisi yang dapat mengindikasikan kemungkinan ketidakpatuhan sebagai akibat dari kesalahan atau kecurangan
b)
upaya maksimal dari setiap auditor dalam pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan rasional dengan penuh kehati-hatian dalam melaksanakan fungsi auditing
c)
Adanya kepastian tentang kewajiban yang dibebankan kepada auditor sebagai lingkup tanggung jawab profesinya
d)
Tersedianya cara-cara bagi auditor untuk mewujudkan secara maksimal kemampuan, pengetahuan, dan keahlian
100.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, seperti dikemukakan oleh
a)
MONTAGUE
b)
Mautz,Husain A sharaf
c)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
d)
Arens & Leobbecke
101.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni antara lain…
a)
Authoritarianism;
b)
(Evidential Matter);
c)
(FAIR PRESENTATION);
d)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
102.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni antara lain…
a)
Mysticism;
b)
(Evidential Matter);
c)
(FAIR PRESENTATION);
d)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
103.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni antara lain…
a)
Rationalism;
b)
(Evidential Matter);
c)
(FAIR PRESENTATION);
d)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
104.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni antara lain…
a)
Empiricism;
b)
(Evidential Matter);
c)
(FAIR PRESENTATION);
d)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
105.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni antara lain…
a)
Pragmatism;
b)
(Evidential Matter);
c)
(FAIR PRESENTATION);
d)
(DUE PROFESSIONAL CARE);
106.
auditor perlu mengenali berbagai sumber pengetahuan, yakni…
a)
Authoritarianism; Mysticism; Rationalism; Empiricism; Pragmatism;
b)
Bukti fisik; Hasil observasi; Konfirmasi; Bukti dokumen; Keterangan atau pernyataan; Analisis matematis atau kajian rasional;
c)
Relevansi, Sumber, Ketepatan waktu, Objektivitas.Ketepatan waktu, Objektivitas.
d)
tingkat materialitas dan risiko, faktor ekonomi, besar dan karakterisitik populasiuji perbandinganolahan pikiran secara analitis dan logis, seperti reviu analitis, kalkulasi matematis, atau uji perbandinganfaktor ekonomi,
107.
Sumber pengetahuan Authoritarianism; adalah…
a)
Pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan terhadap sumbernya karena tingkat persuasinya yang memadai, misalnya konfirmasi, rekening koran, atau pendapat ahli
b)
Pengetahuan yang didasarkan pada intuisi, imajinasi, atau pengalaman, seperti dalam hal auditor melakukan scanning atau reviu analitis.<br />
c)
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik.
d)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen.
108.
Sumber pengetahuan Mysticism; adalah…
a)
Pengetahuan yang didasarkan pada intuisi, imajinasi, atau pengalaman, seperti dalam hal auditor melakukan scanning atau reviu analitis.<br />
b)
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik.
c)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen.
d)
Pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan tentang apa yang betul-betul berlangsung dengan efektif, seperti terjadi dalam hal auditor mengestimasi kelayakan kolektibiltas piutang
109.
Sumber pengetahuan Rationalism; adalah…
a)
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik.
b)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen.
c)
Pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan tentang apa yang betul-betul berlangsung dengan efektif, seperti terjadi dalam hal auditor mengestimasi kelayakan kolektibiltas piutang
110.
Sumber pengetahuan Empiricism; adalah…
a)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen.
b)
Pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan terhadap sumbernya karena tingkat persuasinya yang memadai, misalnya konfirmasi, rekening koran, atau pendapat ahli
c)
Pengetahuan yang didasarkan pada intuisi, imajinasi, atau pengalaman, seperti dalam hal auditor melakukan scanning atau reviu analitis.<br />
d)
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik.
111.
Sumber pengetahuan Pragmatism; adalah…
a)
Pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan tentang apa yang betul-betul berlangsung dengan efektif, seperti terjadi dalam hal auditor mengestimasi kelayakan kolektibiltas piutang
b)
Pengetahuan yang didasarkan pada intuisi, imajinasi, atau pengalaman, seperti dalam hal auditor melakukan scanning atau reviu analitis.<br />
c)
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik.
d)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen.
112.
Pengetahuan yang didasarkan pada keyakinan terhadap sumbernya karena tingkat persuasinya yang memadai, misalnya konfirmasi, rekening koran, atau pendapat ahli, merupakan sumber pengetahuan….
a)
Authoritarianism;
b)
Mysticism;
c)
Rationalism;
d)
Empiricism;
113.
Pengetahuan yang didasarkan pada intuisi, imajinasi, atau pengalaman, seperti dalam hal auditor melakukan scanning atau reviu analitis.<br />, merupakan sumber pengetahuan….
a)
Mysticism;
b)
Rationalism;
c)
Empiricism;
d)
Pragmatism;
114.
Pengetahuan yang didasarkan pada kemampuan BERPIKIR secara LOGIS, sebagaimana dipraktekkan oleh auditor ketika melakukan analisis matematik., merupakan sumber pengetahuan….
a)
Rationalism;
b)
Empiricism;
c)
Pragmatism;
d)
Authoritarianism;
115.
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan data yang dihimpun langsung, seperti yang diperoleh melalui pembuktian dengan pemeriksaan fisik dan pengamatan dokumen., merupakan sumber pengetahuan….
a)
Empiricism;
b)
Authoritarianism;
c)
Mysticism;
d)
Rationalism;
116.
Pengetahuan yang didasarkan pada kenyataan tentang apa yang betul-betul berlangsung dengan efektif, seperti terjadi dalam hal auditor mengestimasi kelayakan kolektibiltas piutang, merupakan sumber pengetahuan….
a)
Pragmatism;
b)
Mysticism;
c)
Rationalism;
d)
Empiricism;
117.
KONSEP INDEPENDENSI adalah…
a)
SIKAP yang BEBAS atau TIDAK TERIKAT oleh kepentingan manapun dan tekanan dari pihak siapapun, termasuk kepentingannya sendiri, dalam menentukan putusan yang tepat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil audit.
b)
sikap yang mempertahankan pemikiran yang objektif dan terbuka dengan cara waspada terhadap kondisi yang dapat mengindikasikan kemungkinan ketidakpatuhan sebagai akibat dari kesalahan atau kecurangan
c)
auditor bersikap kritis untuk mempertanyakan kebenaran informasi atau laporan yang diauditnya sampai memperoleh bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran itu
d)
upaya maksimal dari setiap auditor dalam pemanfaatan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan rasional dengan penuh kehati-hatian dalam melaksanakan fungsi auditing
118.
SIKAP yang BEBAS atau TIDAK TERIKAT oleh kepentingan manapun dan tekanan dari pihak siapapun, termasuk kepentingannya sendiri, dalam menentukan putusan yang tepat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil audit, merupakan konsep….
a)
Konsep INDEPENDENSI;
b)
Konsep Kelayakan Profesi;
c)
Konsep Kecermatan Asersi;
d)
Konsep INTERDEPENDENSI;
119.
independensi dikenal dalam tiga jenis, yaitu…
a)
Independensi Program; Independensi Investigasi; Independensi Pelaporan;
b)
Independensi Profesi; Independensi Investigasi; Independensi Pelaporan;
c)
Independensi Program; Independensi Institusi; Independensi Pelaporan;
d)
Independensi Program; Independensi Investigasi; Independensi Perbuatan;
120.
LIMA hal pokok yang berkaitan dengan independensi auditor, dikemukakan oleh…
a)
David Flint
b)
MONTAGUE
c)
Mautz,Husain A sharaf
d)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
121.
LIMA hal pokok yang berkaitan dengan independensi auditor, yakni…
a)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan; Solidaritas Profesi;
b)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan; Solidaritas Personal;
c)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kesenjangan Keuangan; Solidaritas Profesi;
d)
Kuantitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan; Solidaritas Profesi;
122.
independensi PRAKTISI yaitu
a)
sangat ditentukan oleh diri pribadi auditor, namun hanya bisa diukur menurut “state of mind” dari auditornya sendiri
b)
Hubungan Personal;
c)
Kepentingan Keuangan;
d)
Solidaritas Profesi;
123.
independensi PRAKTISI yaitu
a)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh;
b)
Solidaritas Profesi; Kepentingan Keuangan;
c)
Kepentingan Keuangan; Hubungan Personal;
d)
Solidaritas Profesi; Kebebasan yang Diperoleh;
124.
independensi PROFESI yaitu
a)
Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan; Solidaritas Profesi;
b)
Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan;
c)
Kepentingan Keuangan; Kebebasan yang Diperoleh; Solidaritas Profesi;
d)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Kepentingan Keuangan;
125.
Terdapat beberapa ALASAN mengapa konsep etika profesi PENTING mendapat perhatian, di antaranya…
a)
Profesi menyelenggarakan kegiatan pemberian jasa bagi kepentingan publik (public service engagement).
b)
sangat ditentukan oleh diri pribadi auditor, namun hanya bisa diukur menurut “state of mind” dari auditornya sendiri
c)
Hubungan Personal;
d)
Kepentingan Keuangan;
126.
Terdapat beberapa ALASAN mengapa konsep etika profesi PENTING mendapat perhatian, di antaranya…
a)
Adanya pengakuan keahlian khusus yang dimiliki dan harus dijalankan atas dasar otoritas profesi
b)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh;
c)
Solidaritas Profesi; Kepentingan Keuangan;
d)
Kepentingan Keuangan; Hubungan Personal;
127.
Terdapat beberapa ALASAN mengapa konsep etika profesi PENTING mendapat perhatian, di antaranya…
a)
Adanya ketentuan untuk membatasi orang-orang yang berhak menyandang kewenangan profesi (barriers to entry)
b)
Kualitas Personal; Kebebasan yang Diperoleh; Hubungan Personal; Kepentingan Keuangan; Solidaritas Profesi;
c)
Kepentingan Keuangan; Hubungan Personal;
d)
Solidaritas Profesi; Kebebasan yang Diperoleh;
128.
Terdapat beberapa ALASAN mengapa konsep etika profesi PENTING mendapat perhatian, di antaranya…
a)
Diberikannya kewenangan bagi profesi untuk mengatur dirinya sendiri (self regulation).
b)
SIKAP yang BEBAS atau TIDAK TERIKAT oleh kepentingan manapun dan tekanan dari pihak siapapun, termasuk kepentingannya sendiri, dalam menentukan putusan yang tepat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil audit.
c)
sikap yang mempertahankan pemikiran yang objektif dan terbuka dengan cara waspada terhadap kondisi yang dapat mengindikasikan kemungkinan ketidakpatuhan sebagai akibat dari kesalahan atau kecurangan
d)
auditor bersikap kritis untuk mempertanyakan kebenaran informasi atau laporan yang diauditnya sampai memperoleh bukti-bukti kuat yang mendukung kebenaran itu
129.
Terdapat beberapa ALASAN mengapa konsep etika profesi PENTING mendapat perhatian, di antaranya…
a)
Adanya tuntutan objektivitas dan imparsial dalam menjalankan fungsi profesi.
b)
Pragmatism;
c)
Mysticism;
d)
Rationalism;
130.
Salah satu model etika adalah ….
a)
The Utilitarian Model;
b)
Authoritarianism;
c)
Mysticism;
d)
Rationalism;
131.
Salah satu model etika adalah ….
a)
The Golden-Rule Model;
b)
Mysticism;
c)
Rationalism;
d)
Empiricism;
132.
Salah satu model etika adalah ….
a)
The Kantian Model;
b)
Rationalism;
c)
Empiricism;
d)
Pragmatism;
133.
Salah satu model etika adalah ….
a)
The Enlightened Self-Interest Model;
b)
Empiricism;
c)
Authoritarianism;
d)
Mysticism;
134.
Keempat model etika itu adalah sebagai berikut
a)
The Utilitarian Model; The Golden-Rule Model; The Kantian Model; The Enlightened Self-Interest Model;
b)
Authoritarianism; Mysticism; Rationalism; Empiricism; Pragmatism;
c)
Konsep Kelayakan Asersi;
d)
Independensi Program; Independensi Investigasi; Independensi Pelaporan;
135.
tiga alternatif teori yang berusaha menjelaskan tujuan teoretis dari auditing diajukan oleh….
a)
Mautz,Husain A sharaf
b)
David Flint
c)
MONTAGUE
d)
Mulyadi & Kanaka Puradiredja
136.
Salah satu teori yang berusaha menjelaskan tujuan teoretis dari auditing, adalah…
a)
The Information Value Theory;
b)
The Value Theory;
c)
The Protection Theory;
d)
The Principal Theory;
137.
Salah satu teori yang berusaha menjelaskan tujuan teoretis dari auditing, adalah…
a)
The Insurance and Protection Theory;
b)
The Value Theory;
c)
The Protection Theory;
d)
The Principal Theory;
138.
Salah satu teori yang berusaha menjelaskan tujuan teoretis dari auditing, adalah…
a)
The Principal-Agent Theory;
b)
The Value Theory;
c)
The Protection Theory;
d)
The Principal Theory;
139.
teori yang berusaha menjelaskan tujuan teoretis dari auditing
a)
The Information Value Theory; The Insurance and Protection Theory; The Principal-Agent Theory;
b)
The Value Theory; The Insurance and Protection Theory; The Principal-Agent Theory;
c)
The Information Value Theory; The Insurance Theory; The Principal-Agent Theory;
d)
The Information Value Theory; The Insurance and Protection Theory; The Principal Theory;