NEW
Font size
WorksheetsUAS_Asuhan Gizi
Total questions: 55
Worksheet time: 2hrs 50mins
Seorang pasien ibu hamil trimester II dirawat di rumah sakit dengan preeklamsia dan anemia (Hb 9,1 g/dL). Pasien mengalami anoreksia, tekanan darah 150/100 mmHg. Status gizi pasien obesitas dengan LLA 30 cm. Asupan energi, protein, lemak, karbohidrat <80%. Manakah diagnosis gizi yang tepat untuk menggambarkan domain klinis kasus tersebut?
Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan hipermetabolisme dibuktikan dengan Hb 9,1 g/dL
Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan dibuktikan dengan hamil trimester II
Penurunan kebutuhan natrium berkaitan dengan hipertensi dibuktikan dengan TD 150/100 mmHg
Kelebihan berat badan berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan dan riwayat pola makan yang salah dibuktikan dengan LLA 30cm
Intake zat gizi inadekuat berkaitan dengan anoreksia dibuktikan dengan % asupan energi, protein, lemak, karbohidrat<80%.
Seorang pasien ibu hamil trimester III dirawat di rumah sakit dengan komplikasi diabetes mellitus (GDS 210 g/dL). Pasien mengalami febris, anoreksia, dan tekanan darah 140/90 mmHg. Asupan energi 75%, protein 81%, lemak 79%, karbohidrat70%. Manakah diagnosis gizi yang paling tepat untuk pasien tersebut?
Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan dan hipermetabolisme dibuktikan dengan hamil trimester III dan febris
Ketidak seimbangan asupan zat gizi berkaitan dengan anoreksia dibuktikan dengan asupan energi 75%, protein 81%, lemak 79%, karbohidrat70%.
Penurunan kebutuhan zat gizi spesifik natrium berkaitan dengan hipertensi dibuktikan dengan tekanan darah 140/90mmHg
Penurunan kebutuhan karbohidat kompleks berkaitan dengan gangguan metabolisme karbohidrat dibuktikan dengan GDS 210g/dL
Perubahan nilai laboratorium berkaitan dengan diabetes mellitus dibuktikan dengan GDS 210 g/dL dan febris
Seorang perempuan 40 tahun dirawat di ICU rumah sakit dengan diagnosis combustio (luka bakar) derajat III – 40%. Hasil pengukuran RL = 156 cm, LLA 21 cm. Bagaimanakah status gizi pasien tersebut apabila diketahui LLA standar adalah 28,5 cm?
buruk
kurang
baik
overweight
obesitas
Seorang perempuan 40 tahun dirawat di ICU rumah sakit dengan diagnosis combustio (luka bakar) derajat III – 40%. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan AL tinggi, Hb rendah, AE rendah, AT tinggi. Bagaimanakah asesmen biokimia pasien tersebut?
Anemia defisiensi besi, infeksi, risiko pendarahan
Anemia defisiensi besi, infeksi, risiko penggumpalan darah
Anemia pernisiosa, peradangan,trombositopenia
Anema pernisiosa, infeksi,trombositopenia
Anemia pernisiosa, peradangan,trombositosis
Seorang perempuan 40 tahun dirawat di ICU rumah sakit dengan diagnosis combustio (luka bakar) derajat III – 40%. Hasil pemeriksaan laboratorium, AL tinggi, Hb rendah, AE rendah, AT tinggi. Bagaimanakah diagnosis gizi yang paling tepat berdasarkan kasus tersebut?
Peningkatan kebutuhan protein berkaitan dengan infeksi ditandai dengan Hb rendah
Peningkatan kebutuhan Fe berkaitan dengan gangguan penyerapan Fe ditandai dengan Hb rendah
Peningkatan kebutuhan Fe dan vitamin C berkaitan dengan anemia ditandai dengan Hb rendah.
Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan hipermetabolisme karena kondisi kritis ditandai dengan AL tinggi, Hb rendah, AE rendah, AT tinggi
Penurunan kebutuhan cairan berkaitan dengan combustio (luka bakar) derajat III – 40% ditandai dengan AL tinggi, Hb rendah, AE rendah, AT tinggi
Sebuah diagnosis gizi berbunyi Inadekuat mineral intake (Fe) berkaitan dengan pembatasan makanan dan adanya hipersensitivitas ditandai dengan asupan Fe 46%. Apakah permasalahan yang dihadapi oleh pasien tersebut?
Autis
Pembatasan makanan
Asupan mineral Fe yang tidak adekuat
Hipersensitivitas
Tidak mau makan
Seorang wanita berpuasa Ramadhan di Indonesia dengan durasi selama ± 14 jam. Keadaan puasa tersebut menimbukan perubahan fisiologis terhadap cairan tubuh. Apakah contoh dari perubahan fisiologis tersebut ?
Berkurangnya tekanan darah
Bertambahnya tekanan darah
Berkurangnya volume plasma
Berkurangnya Anti Diuretik Hormon
Bertambahnya volume urin
Prosentase cairan tubuh pada pria pada umumnya lebih besar daripada wanita. Apakah yang menyebabkan perbedaan tersebut ?
Wanita lebih dipengaruhi hormon estrogen sedangkan pria dipengaruhi hormon testosteron
Tubuh wanita mempunyai lebih sedikit jaringan adiposa (lemak) daripada jaringan otot
Tubuh wanita mempunyai lebih banyak jaringan adiposa (lemak) daripada jaringan otot
Wanita mempunyai berat badan yang lebih ringan daripada pria
Volume urin wanita lebih sedikit daripada pria
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 75 tahun 2013 tentang AKG, didapatkan anjuran kecukupan cairan untuk lansia usia 65-80 tahun lebih rendah daripada usia dewasa muda yaitu sekitar 1900 mL (lansia laki-laki) dan 1600 mL (lansia perempuan). Apakah yang menyebabkan hal tersebut?
Pada lansia terjadi penurunan volume cairan tubuh total (total body water) dan penurunan kemampuan pemekatan urin
Pada lansia terjadi peningkatan volume cairan tubuh total (total body water) dan penurunan kemampuan pemekatan urin
Pada lansia terjadi peningkatan laju filtrasi glomerulus dan penurunan kemampuan pemekatan urin
Pada lansia terjadi peningkatan kadar aldosteron hingga 50 % dan penurunan kemampuan pemekatan urin
Pada lansia terjadi peningkatan jumlah nefron pada ginjal dan penurunan kemampuan pemekatan urin
Seorang wanita calon pengantin berusia 27 tahun, berat badan 42 kg, tinggi badan 160 cm, dan LLA 21 cm dating ke poli gizi Puskesmas dengan keluhan mengalami pusing, lemas, pucat mata wajah, dan ingin menaikkan berat badan. Dokter dari poli umum Puskesmas mendiagnosis pasien menderita anemia. Data dalam rekam media pasien menunjukkan kadar Hb 9 g/dL. Apakah materi konseling yang tepat untuk pasien tersebut?
Diet rendah lemak dan rendah protein
Diet tinggi energi tinggi protein
Diet tinggi energi dan tinggi serat
Diet tinggi energi dan rendah garam
Diet rendah purin dan rendah protein
Pasien laki-laki berusia 53 tahun dengan berat badan 76 kg dan tinggi badan 155 cm datang kepada ahli gizi untuk mendapatkan konsultasi gizi. Diagnosis medis dokter menunjukkan pasien menderita obesitas. Tekanan darah pasien di tercatat 120/70 mmHg. Asupan menurut recall 24 jam menunjukkan asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat berlebihan (> 110%). Apakah diet yang sesuai untuk klien tersebut?
Diet rendah garam
Diet rendah energi
Diet rendah protein
Diet rendah purin
Diet rendah serat
Untuk dapat melakukan konseling yang baik, konselor harus dapat membangun dasar konseling dengan tepat pada klien. Untuk mencapai dasar konseling yang baik diperlukan beberapa langkah. Apakah contoh kegiatan dalam langkah tersebut?
Memberitahukan diagnosis gizi kepada klien/pasien
Memperkenalkan diri/mengucapkan salam kepada klien/pasien
Melakukan monitoring dan evaluasi kepada klien/pasien
Menanyakan asupan makan kepada klien/pasien
Mengingatkan klien/ pasien untuk datang kembali ke ahli gizi
Untuk dapat melakukan konseling yang baik, konselor harus dapat menggali permasalahan klien/pasien. Langkah dalam menggali permasalahan klien/ pasien dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Apakah contoh kegiatan dalam langkah tersebut?
Memberitahukan diagnosis gizi kepada klien/pasien
Memperkenalkan diri dan mengucapkan salam kepada klien/pasien
Melakukan monitoring dan evaluasi kepada klien/pasien
Menanyakan asupan makan kepada klien/pasien
Mengingatkan klien/ pasien untuk datang kembali
Konselor biasanya melakukan kegiatan seperti menanyakan kembali apakah materi konseling dapat dimengerti oleh klien/pasien. Disebut apakah kegiatan tersebut?
Menegakkan diagnosis gizi
Membangun dasar konseling
Melakukan monitoring dan evaluasi
Menggali permasalahan
Melakukan intervensi gizi
Konselor biasanya melakukan kegiatan seperti menjelaskan tujuan diet, prinsip diet, serta porsi makan kepada klien/pasien. Disebut apakah kegiatan tersebut?
Menegakkan diagnosis gizi
Membangun dasar konseling
Melakukan monitoring dan evaluasi
Menggali permasalahan
Melakukan intervensi gizi
Seorang ahli gizi melakukan pengukuran antropometri pada An. Ns seorang anak perempuan berusia 15 bulan yang hasilnya adalah -2,7 SD, setelah dilakukan pemeriksaan fisik ternyata anak tesebut mengalami odem di seluruh tubuhnya. Apakah asesmen antropometri yang harus ditulis oleh ahli gizi tersebut?
Odem (+)
Anak An. Ns. Mengalami oedem anasarka
Status gizi An. Ns. adalah gizi baik
Status gizi An. Ns. adalah gizi kurang
Status Gizi An. Ns. adalah gizi Anak buruk
Seorang anak mengalami keadaan hilangnya substansi, khususnya otot karena asupan makanan yang tidak cukup dan karena penyakit Pneumonia. Disebut apakah keadaan anak tersebut?
Obesitas
Overwight
Gizi baik
Kurus
Sakit
Seorang anak mengalami keadaan penurunan nafsu makan. Anak tersebut menolak mengkonsumsi makanan sube protein yang diberikan ibunya. Hal apakah yang secara somatic akan terjadi apabila hal tersebut berlangsung lama?
Kekurangan energi
Kekurangan protein
Berkurangnya jaringan tubuh
Berkurangnya jaringan viseral
Berkurangnya berat badan
Seorang mahasiswa semester 5 mempunyai pola makan yang tidak teratur, mahasiswa tersebut mempunyai persepsi bahwa makan yang teratur akan membuat gemuk karena akan membuatnya banyak makan, hal ini terjadi karen informasi yang didapatkan dari orang disekitarnya . Diagnosis gizi manakah yang tepat berkaitan dengan kasus tersebut?
Persepsi yang salah tentang makanan berkaitan dengan informasi yang salah tentang makanan di tandai dengan pola makan yang tidak teratur dan persepsi makan teratur membuat gemuk
Pola makan yang salah berkaitan dengan informasi yang salah ditandai dengan makan tidak teratur dan takut gemuk
Informasi yang salah berkaitan dengan makanan yang ditandai dengan persepsi yang salah terhadap makanan
Persepsi yang salah berkaitan dengan pola makan yang salah ditndai dengan pola makan tidak teratur
Pola makan yang salah berkaitan dengan informasi mengenai makanan yang ditandai dengan takut gemuk
Seorang ahli gizi melakukan asesmen fisik terhadap seorang pasien anak As yaitu tubuh sangat kurus, letargis, rambut merah dan terdapat baggy pant. Apakah kesimpulan dari asesmen ahli gizi tersebut?
Anak As adalah anak yang kurus
Anak As. Adalah anak yang normal
Anak As. menderita gizi lebih
Anak As. menderita kwashiorkor
Anak As. menderita marasmus
Seorang anak dibawa ke rumah sakit dalam keadaan letargis, dan lemah dengan status gizi buruk. Anak tersebut mendapat penangan awal secara medis. Intervensi gizi apakah yang diberikan pada anak tersebut?
Anak berada pada fase stabilisasi dan diberikan formula 75
Anak berada pada pada fase transisi dan diberikan formula 100
Anak berada pada fase rehabilitasi dan diberikan formula 100
Anak berada pada fase transisi dan diberikan formula 100
Anak berada pada fase transisi dan diberikan formula 75
Anak As. dirawat di sebuah rumah sakit selama 1 minggu, anak tersebut mempunyai berat badan 6 kg. Parameter apakah yang menunjukkan keberhasilan intervensi gizi pada anak tersebut?
Peningkatan asupan setiap hari
Peningkatan berat badan sebanyak 50 gr/ minggu
Peningkatan berat badan minimal 300 gr/ minggu
Peningkatan berat badan 300 gr/ hari
Peningkatan status gizi menjadi -2SD
Pasien dengan gizi buruk bernama An. W mempunyai berat badan 6,7 kg, telah dirawat selama 10 hari di rumah sakit. An. W saat ini berada pada fase rehabilitasi. Bagaimanakah pengaturan makan pada anak tersebut?
Pemberian formula 100
Pemberian formula 100, makanan bayi, dan sari buah
Pemberian formula 100, makanan anak, dan sari buah
Pemberian formula 75, makanan anak, ASI sekehendak
Pemberian formula 75, makanan lumat, sari buah dan ASI sekehendak
Seorang mahasiswa semester 5 mempunyai pola makan yang tidak teratur, mahasiswa tersebut mempunyai persepsi bahwa makan yang teratur akan membuat gemuk karena akan membuatnya banyak makan, hal ini terjadi karen informasi yang didapatkan dari orang disekitarnya . Manakah diagnosis gizi yang tepat untuk kasus tersebut?
Persepsi yang salah tentang makanan berkaitan dengan informasi yang salah tentang makanan di tandai dengan pola makan yang tidak teratur dan persepsi makan teratur membuat gemuk.
Pola makan yang salah berkaitan dengan informasi yang salah ditandai dengan makan tidak teratur dan takut gemuk
Informasi yang salah berkaitan dengan makanan yang ditandai dengan persepsi yang salah terhadap makanan
Persepsi yang salah berkaitan dengan pola makan yang salah ditndai dengan pola makan tidak teratur
Pola makan yang salah berkaitan dengan informasi mengenai makanan yang ditandai dengan takut gemuk
Anak As. dirawat di sebuah rumah sakit selama 1 minggu, anak tersebut mempunyai berat badan 6 kg. Parameter apakah yang menunjukkan keberhasilan intervensi gizi pada anak tersebut?
Peningkatan asupan setiap hari
Peningkatan berat badan sebanyak 50 gr/ minggu
Peningkatan berat badan minimal 300 gr/ minggu
Peningkatan berat badan 300 gr/ hari
Peningkatan status gizi menjadi -2SD
Seorang pasien didiagnosis gizi “Inadekuat intake oral food and baverages berkaitan dengan gangguan gastrointestinal yang ditandai dengan adanya mual, muntal dan kesulitan menelan ditandai dengan asupan energi 50%,supan protein 70%, asupan lemak 56% dan asupan karbihidrat 66%”. Masalah apakah yang dihadapi oleh pasien tersebut?
Kesulitan menelan
Kesulitan menelan, mual, muntah
Asupan yang tidak adekuat
Adanya gangguan gatrointestinal
Mual dan muntah
Hasil asesmen seorang ahli gizi di sebuah rumah sakit diketahui terdapat data : leptospira (+), adanya gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati, pasien nampak ikterik, angka leukosit yang tinggi. Manakah diagnosis gizi yang tepat untuk kasus tersebut?
Peningkatan kebutuhan energi dan protein berkaitan dengan adanya infeksi ditandai dengan angka leukosit tinggi dan leptospira (+).
Peningkatan kebutuhan energi berkaitan dengan hiperkatabolisme ditandai dengan angka leukosit yang tinggi dan leptospira (+).
Penurunan kebutuhan protein berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal ditandai dengan fungsi ginjal yang menurun
Penurunan kebutuhan lemak berkaitan dengan gangguan fungsi hati ditandai dengan adanya ikterik
Asupan yang kurang berkaitan dengan kebutuhan yang meningkat ditandai dengan adanya infeksi yaitu angka leukosit tinggi, dan leptospira (+)
Data assesmen biokimia pasien disebuah rumah sakit adalah test gull culture (+). Angka leukosit tinggi, adanya sedikit gangguan fungsi hati. Intervensi gizi apakah yang harus diberikan pada pasien tersebut?
Pemberian diet TETP
Pemberian diet rendah serat
Pemberian diet rendah sisa
Pemberian diet TETP rendah serat
Pemberian diet rendah sisa dan rendah serat
Seorang pasien didiagnosis gizi ”Peningkatan kebutuhan zat gizi spesifik (Protein) berkaitan dengan hiperkatabolisme ditandai dengan angka leukosit yang tinggi, febris dan Z score -3,1 SD”. Apakah permasalahan yang dihadapai oleh pasien tersebut?
Status Gizi anak adalah buruk
Leukositosis
Febris
Peningkatan Kebutuhan zat gizi Protein
hiperkatabolisme
Ahli gizi harus selalu memonitoring setiap intervensi yang dilakukannya. Monitoring apakah terkait Antropometri yang harus dimonitoring?
rentang lengan
tinggi badan
suhu tubuh normal
berat badan
panjang lutut
Seorang ahli gizi melakukan kunjungan ke ruang pasien baru dengan diagnosis thypoid fever. Asesment fisik apa sajakah yang diperlukan untuk menentukan diagnosis gizi?
Anoreksia, opstipasi, stupor
Mual, widal (+), diare
Febris, gull culture (+), samnolen
Mual, muntah, leukosit tinggi
Lidah yang kotor, mual, nilai SGOT tinggi
Seorang pasien dalam keadaan penurunan kesadaran yang tidak dapat dilakukan pengukuran. Parameter apakah yang digunakan untuk menentukan status gizi pasien tersebut?
Berat badan
LILA
Albumin darah
Tekanan darah
Dietary history
Seorang bapak usia 51 tahun dibawa ke IGD sebuah rumah sakit setelah diperiksa laboratorium hasil BTA (+), angka leukosit 13.000 ml/dl, albumin 2,0 g/dl, HGB 12 gr/dl. Suhu tubuh pasien 37,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg. Berat badan pasien 3 bulan lalu adalah 50 kg. Bagaimanakah status gizi pasien tersebut?
obesitas
normal
kurang
overweight
tidak diketahui
Seorang bapak usia 51 tahun diperiksa laboratorium hasil BTA (+), angka leukosit: 13.000 ml/dl, albumin 2,0 g/dl, HGB 12 gr/dl. Suhu tubuh pasien 37,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg. Hasil recall asupan makan di rumah adalah energi 56%, protein 45%, lemak 47%, karbohidrat 51%. Pasien mengaku sulit menelan, dan tidak mau makan nasi karena akan menyebabkan sesak nafas. Manakah diagnosis gizi yang tepat bagi pasien tersebut?
Inadekuat oral food and beverage intake berkaitan dengan infeksi saluran pernafasan dan gangguan GIT ditandai dengan sesak nafas yang sangat, batuk, dan asupan zat gizi kurang dari 80% dan sulit menelan
Inadekuat oral food and beverage intake berkaitan dengan asupan yang kurang ditandai dengan asupan energi 56%, protein 45%, lemak 47%, karbohidrat 51%
Ketidakseimbangan intake makanan berkaitan dengan gangguan pernafasan ditandai dengan asupan yang kurang dari 80%
Inadekuat oral food and baverage intake berkaitan dengan adanya TB dan batuk ditandai dengan batuk berdarah, sesak nafas sangat dan asupan kurang 80%
Asupan yang kurang berkaitan denga TB ditandai dengan diagnosis dokter TB, batuk, sulit menelan dan asupan kurang 80%
Pasien pankreatitis yang disertai dengan nyeri abdomen ringan ataupun berat dianjurkan untuk berpuasa dalam kurun waktu 1 – 2 hari saat dimulainya serangan. Apakah tujuan puasa pada kasus tersebut?
Memperbaiki status hidrasi
Meningkatkan ketahanan tubuh
Mencegah penurunan protein tubuh
Mencegah peningkatan enzim pankreas
Mencegah penurunan haemoglobin karena pendarahan
Ny. N dirawat di RSS dengan diagnosis medis pankreatitis akut dengan keluhan nyeri hebat pada perut kanan atas, demam, tidak nafsu makan, dan BAB seperti dempul. Diketahui hasil pemeriksaan biokimia adalah: albumin 2,6 g/dL; Hb 8,7 g/dL, amylase 530 U/L, dan lipase 660 U/L. Kadar normal albumin (3,8-5,1 g/dL), Hb (12-16 g/dL), amylase (30-100 U/L), dan lipase (10-140 U/L). Kapan makanan oral dapat diberikan pada Ny. N?
Ketika nafsu makan mulai muncul
Ketika nyeri hilang dan nafsu makan mulai muncul
Ketika nafsu makan mulai muncul dan peristaltik usus normal
Ketika nyeri hilang, nafsu makan muncul, dan amylase < 3 kali normal
Ketika nyeri hilang, nafsu makan muncul, lipase < 3 kali normal, dan peristaltik usus normal
Ny. DY didiagnosis medis mengalami celiac disease. Diketahui daerah permukaan usus Ny. DY mengalami penurunan. Semenjak 3 HSMRS Ny. DY mengeluh diare, BAB seperti dempul, dan merasa BB turun. Terapi diet apa yang tepat diberikan kepada Ny. DY?
Diet bebas gluten
Diet rendah serat
Diet bebas laktosa
Diet rendah laktosa
Diet rendah sisa rendah serat
An. IM usia 6 tahun didiagnosis diare dysentriform. Berdasarkan informasi ibu An. IM, ananda IM mengalami diare, muntah, dan perut sakit. Hasil pemeriksaan suhu tubuh mengindikasikan An. IM mengalami demam (t=390C). Indeks antropometri IMT/U ̶ 1,2 SD. Hasil pemeriksaan biokimia menunjukkan CRP (+), hiponatremia, hipokalemia. Manakah yang merupakan problem gizi An. IM?
Peningkatan kebutuhan cairan
Penurunan kebutuhan energi
Penurunan kebutuhan lemak
Status gizi kurang
Status gizi lebih
Bp. Joni, seorang pasien berusia 56 tahun akan menjalani operasi terkait Benigna Prostat Hyperphlasia yang dideritanya. Sebelum dilakukan asesmen, tentunya telah dilakukan skrining untuk mendeteksi risiko malnutrisi pada pasien tersebut. Metode apakah yang dapat digunakan untuk proses skrining gizi pasien tersebut?
Subjective Global Assessment
Nutritional Risk Screening
Malnutrition Universal Screening Tool
Mini Nutrition Assessment
Short Nutritional Assessment Questionnaire
Zaidan dirawat di rumah sakit dengan diagnosis medis pasca bedah laparatomi. Pasien masih dalam kondisi belum sadar sehingga diberikan makanan melalui NGT. Manakah konsekuensi yang dialami pasien terkait pemberian makan melalui jalur tersebut?
Diberikan untuk pasien dengan asupan oral indekuat dalam waktu < 30 hari
Makanan dalam bentuk bolus
Resiko aspirasi lebih rendah daripada gastrotomi
Pemberian secara kontinyu
Perlu diganti saat terjadi penyumbatan (kira-kira 10-15 hari)
An. Rizal, pasien anak berusia 8 tahun akan menjalani operasi amandel. Dietisien perlu mempertimbangkan beberapa faktor dalam pemberian diet untuk pasien tersebut. Pasien dijadwalkan menjalani operasi pada keesokan harinya. Pertimbangan apakah yang diberikan untuk pasien pada kondisi tersebut?
Tidak diberikan diet tertentu
H-1 diet rendah sisa
Diet disesuaikan dengan jenis penyakitnya
Puasa 4 – 5 jam
TETP
Tn. Munir telah diperbolehkan makan setelah menjalani laparatomi dan diberikan diet pascabedah digestif dengan memperhatikan salah satunya adalah faktor lokasi reseksi digestif. Nutrisi isoosmolar, bebas laktosa, dan lengkap mikronutrien diberikan apabila pasien mengalami reseksi pada bagian organ gastrointestinal. Organ manakah yang dimaksud?
kolon
duodenum
jejunum
illeum
lambung
Pasien dengan fistula enterokutan dapat mengalami intoleransi terhadap zat gizi. Nutrisi apakah yang tepat diberikan untuk pasien tersebut?
Enteral komersial
Enteral polimerik
Enteral elemental
Enteral semi elemental
Enteral rumah sakit
Seorang Dietisien membuat NCP untuk pasien pascabedah. Jenis diet yang diberikan ahli gizi di rumah sakit pada pasien pascabedah non-komplikasi adalah diet TETP. Apa tujuan pemberian diet tersebut?
Membantu menghilangkan retensi garam dan jaringan tubuh
Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh
Mengendalikan gula darah
Membiasakan perilaku yang sehat
Mengurangi rasa mual
Ny. Z meminta konsultasi gizi dari Dietisien terkait kondisi fesesnya yang mengkilap. Dietisien menjelaskan bahwa pasien tersebut mengalami steatorrhea dan harus menjalani diet terkait tanda tersebut. Steatorrhea merupakan tanda dari malabsorbsi salah satu zat gizi di dalam tubuh. Zat gizi apakah yang dimaksud?
energi
protein
lemak
karbohidrat
vitamin
Budi dirawat di rumah sakit dengan diagnosis medis fraktur femur dan tidak dapat turun dari tempat tidur untuk dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan. Metode apakah yang digunakan untuk asesmen gizi pasien tersebut?
Rentang lengan
Estimasi tinggi lutut
Indeks massa tubuh
Lingkar lengan atas
Relative Body Weight
Seorang Dietisien ingin melakukan evaluasi terhadap keberhasilan pemberian diet yang diberikan. Dietisien tersebut melakukan evaluasi asupan makanan pasien, terutama yang berasal dari makanan diet rumah sakit. Metode apakah yang sebaiknya digunakan oleh Dietisien tersebut untuk mengevaluasi pasien?
Visual Comstock
Taksiran porsi
Recall 24 jam
Food frekuensi
Dietary history
Seorang perempuan berusia 57 tahun dengan ulkus DM. Pasien masuk dengan keluhan lemas satu minggu, bengkak kemerahan pada kaki. TB 154 cm, LILA 30 cm, hasil RBW 114%. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb rendah, leukosit tinggi, Ht rendah, erithtrosit rendah, trombosit tinggi, eosinophil rendah, batang rendah, segmen tinggi, limfosit rendah, glukosa puasa tinggi, glukosa 2 JPP tinggi. Hasil vital sign menunjukkan TD 120/70 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 19x/menit, suhu 36,5oC. Recall asupan energi 109, 19%; protein 149,18%, lemak 93,79%, karbohidrat 78,97%. Apakah yang menjadi keluhan utama pasien pada kasus di atas ?
Data subyektif
Data obyektif
Diagnosis medis
Asesmen antropometri
Asesmen biokimia
Ny. K perempuan berusia 64 tahun dirawat di Ruang Teratai kelas 1 dengan diagnosis Ca nasopharing. Status gizi berdasarkan LLA normal 99%. Pasien mengalami anemia, hypokalemia dan hipoklorida. Tekanan darah dan vital sign normal namun mengalami dysphagia, lemas, tenggorokan kering, mual, muntah. Asupan energy 48,1%, protein 20,47%, lemak 53,71%, karbohidrat 56,8%. Manakah diagnosis gizi yang sesuai untuk kasus tersebut ?
Peningkatan kebutuhan energy dan protein berkaitan dengan hiperkatabolisme protein dibuktikan dengan MCHC 32,3% (rendah), eosinophil 0,9% (rendah), batang 0,00% (rendah), segmen 84,1% (tinggi)
Penurunan kebutuhan lemak berkaitan dengan pola makan yang salah dibuktikan dengan asupan lemak 53,71%.
Intake zat gizi inadekuat berkaitan dengan dysphagia, lemas, tenggorokan kering, mual, muntah, dibuktikan dengan asupan energi 48,1%; P 20,47%; L 53,71%; KH 56,8%
Penurunan kemampuan konsumsi makan berkaitan dengan penurunan fungsi GI dibuktikan dengan dysphagia
Risiko penurunan status gizi berkaitan dengan dysphagia, lemas, tenggorokan kering, mual, muntah
Ny. K berusia 64 tahun dirawat di Ruang Teratai kelas 1 dengan diagnosis Ca nasopharing. Status gizi berdasarkan LLA normal 99%. Pasien mengalami anemia, hypokalemia dan hipoklorida. Tekanan darah dan vital sign normal namun mengalami dysphagia, lemas, tenggorokan kering, mual, muntah. Asupan energy 48,1%, protein 20,47%, lemak 53,71%, karbohidrat 56,8%. Apakah maksud dysphagia pada kasus di atas ?
Kesulitan menelan
Kesulitan mengunyah
Kesulitan memetabolisme zat gizi
Kesulitan mencerna makanan
Kesulitan mengekskresikan sisa metabolisme
Seorang anak laki- laki berusia 10 tahun dirawat di RS dengan diagnosis hepatitis A. Antropometri BB 26 kg, TB 135 cm sehingga diperoleh status gizi BB/U -1,67 SD, TB/U -0,93 SD, BB/TB -1,32 SD. Pasien composmentis dengan kondisi mata ikterik, TD 120/80 mmHg, nadi 104 x/menit, respirasi 26x/menit, suhu 36,4oC. Pemeriksaan laboratorium SGOT 307,3 µ/L dan SGPT 581,6 µ/L. Asupan E 99,89%, P 83,64%, L 121,89%, KH 98,36%. Terapi medis pasien memperoleh KaEN3B, infus RL, meticol, curvit, apialys dan vometa. Bagaimanakah status gizi pasien tersebut berdasarkan indicator BB/U?
buruk
kurang
baik
overweight
obesitas
Seorang anak laki- laki berusia 10 tahun dirawat di RS dengan diagnosis hepatitis A. Antropometri BB 26 kg, TB 135 cm sehingga diperoleh status gizi BB/U -1,67 SD, TB/U -0,93 SD, BB/TB -1,32 SD. Pasien composmentis dengan kondisi mata ikterik, TD 120/80 mmHg, nadi 104 x/menit, respirasi 26x/menit, suhu 36,4oC. Pemeriksaan laboratorium SGOT 307,3 µ/L dan SGPT 581,6 µ/L. Asupan E 99,89%, P 83,64%, L 121,89%, KH 98,36%. Terapi medis pasien memperoleh KaEN3B, infus RL, meticol, curvit, apialys dan vometa. Bagaimanakah diagnosis gizi untuk kasus di atas ?
Peningkatan kebutuhan zat gizi protein berkaitan dengan hiperkatabolisme protein dibuktikan dengan SGOT dan SGPT tinggi, mata ikterik
Peningkatan kebutuhan E dan P berkaitan dengan status gizi kurang dibuktikan dengan SGOT dan SGPT tinggi, mata ikterik
Asupan lemak berlebih berkaitan dengan pola makan yang salah dibuktikan dengan persen asupan lemak 121,89%
Risiko penurunan status gizi berkaitan dengan mual muntah
Penurunan kebutuhan KH berkaitan dengan sesak nafas dibuktikan dengan respirasi 26x/menit
Laki- laki berusia 61 tahun menderita sirosis hati dirawat di RS. LLA 25 cm (72,04% dari LLA standar), RL 164 cm. Pemeriksaan laboratorium SGOT 784 µ/L, SGPT 610 µ/L. Pasien mengalami sesak nafas, kedua kaki edema, mual muntah, perut kembung serta perut sebah. TD, suhu dan, nadi normal. Asupan energy 144,41%; P 86,80%; L 146,10%; KH 118,77%. Manakah diagnosis gizi yang benar untuk kasus di atas ?
Intake energy, lemak, karbohidrat inadekuat berkaitab dengan pola makan yang salah dibuktikan dengan persen asupan energy 144,41% lemak 146,10%, karbohidrat 118,77%.
Risiko penurunan status gizi berkaitan dengan mual muntah dibuktikan dengan persen asupan
Status gizi kurang berkaitan dengan riwayat pola makan yang tidak baik dibuktikan dengan LLA 72,04% dari standar
Peningkatan kebutuhan energy dan protein berkaitan dengan sirosis hati dibuktikan dengan persen asupan energy, protein, lemak dan karbohidrat
Peningkatan kebutuhan karbohidrat berkaitan dengan sesak nafas dibuktikan dengan respirasi > 24x/menit
Laki- laki berusia 61 tahun menderita sirosis hati dirawat di RS. LLA 25 cm (72,04% dari LLA standar), RL 164 cm. Pemeriksaan laboratorium SGOT 784 µ/L, SGPT 610 µ/L. Pasien mengalami sesak nafas, kedua kaki edema, mual muntah, perut kembung serta perut sebah. TD, suhu dan, nadi normal. Asupan energy 144,41%; P 86,80%; L 146,10%; KH 118,77%. Parameter apakah yang tidak dapat dimonitor pada pasien tersebut ?
berat badan
edema
SGOT dan SGPT
Rentang lengan
Mual muntah
Ny. A memiliki diagnosis gizi berbunyi pemilihan makanan yang salah berkaitan dengan terbatasnya akses untuk makan makanan yang dianjurkan ditandai dengan tidak mengkonsumsi buah setiap hari dan keadaan social ekonomi yang rendah. Intervensi apakah yang harus dilakukan oleh ahli gizi pada kasus tersebut ?
Memberikan makanan tinggi serat
Memberikan bentuk makanan lunak
Memberikan edukasi pemilihan makanan yang terjangkau oleh pasien
Memberikan edukasi untuk selalu mengkonsumsi makanan seadanya
Memberikan makanan melalui NGT
