WorksheetsUJIAN AKHIR BAB TEKS HIKAYAT
Total questions: 10
Worksheet time: 1hrs 25mins
Bacalah teks hikayat berikut dengan seksama dan cermat!
Hasyim Ayah Abdul Muthalib
Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.
Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.
Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi harta itu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).
Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.
Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].
Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.
Sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Siapakah tokoh utama dalam teks tersebut?
Abdul Muthalib
Hasyim Khan
Amr bin Abdu Manaf
Kaum Quraisy
Saudah
Bacalah teks hikayat berikut dengan seksama dan cermat!
Hasyim Ayah Abdul Muthalib
Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.
Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.
Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi harta itu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).
Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.
Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].
Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.
Sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Di manakah latar tempat pada hikayat tersebut?
Habasyah
Madinah
Turki
Yaman
Mekah
Bacalah teks hikayat berikut dengan seksama dan cermat!
Hasyim Ayah Abdul Muthalib
Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.
Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.
Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi harta itu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).
Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.
Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].
Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.
Sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Gagasan utama hikayat tersebut ialah….
Kisah Amr bin Abdu Manaf memperoleh sapaan Hasyim ats-tsarid ‘sang pembagi-bagi roti daging’.
Asal-usul nama Hasyim kakek Rasulullah saw.
Sapaan Hasyim untuk Amr bin Abdu Manaf yang berarti pembagi-bagi daging.
Hasyim ayah Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib anak Amr bin Abdu Manaf.
Bacalah teks hikayat berikut dengan seksama dan cermat!
Hasyim Ayah Abdul Muthalib
Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.
Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.
Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi harta itu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).
Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.
Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].
Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.
Sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Perbuatan mulia dari Amr bin Abdu Manaf “Hasyim Ayah Abdul Muthalib” ialah ….
Terlalu dermawan hingga boros
Gemar berbagi kebermanfaatan diri
Kaya raya sejak lahir
Membagikan roti tawar kepada sesama
Membuat inisiatif perdagang Quraisy di rute siang dan malam
Bacalah teks hikayat berikut dengan seksama dan cermat!
Hasyim Ayah Abdul Muthalib
Namanya adalah Amr bin Abdu Manaf. Disebut Amr karena tingginya kedudukannya. Di antara anak keturunan Abdu Manaf, Hasyim-lah yang dimuliakan oleh kaumnya dengan pemuliaan setara dengan ayahnya.
Lalu mengapa Amr dipanggil Hasyim? Suatu ketika, masyarakat Quraisy ditimpa wabah kelaparan. Karena kemarau panjang melanda daratan padang pasir yang panas itu. Melihat kondisi ini, Hasyim tak tinggal diam. Ia berangkat menuju Syam. Membeli bahan makanan pokok yang dibutuhkan kaumnya. Sepulangnya dari Syam, ia bawa gandum dan roti. Kemudian ia bagi-bagikan ke penduduk Mekah. Ia juga menyembelih hewan, lalu dagingnya dijadikan adonan roti daging (tsarid). Semua itu ia lakukan demi melayani kaumnya. Ia terus menyetok makanan untuk Mekah selama satu tahun lamanya.
Luar biasa! Jasa dan perananannya begitu besar bagi masyarakat Mekah. Harta yang ia dapatkan bukan ditumpuk kemudian mendapat gelar orang terkaya. Tapi harta itu ia tebar. Agar terasa keberkahan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya bagi keluarga, tapi bagi masyarakat secara luas. Karena kedermawanannya inilah ia disebut Hasyim ats-tsarid (sang pembagi-bagi roti daging).
Ia digelari Sayyidul Bath-ha’. Kedermawanannya terus saja dirasakan masyarakat baik dalam kondisi lapang apalagi sulit. Dialah seorang yang kaya raya. Yang mengokohkan kebenaran. Dan membuat tenang orang yang ketakutan. Ia adalah orang pertama yang membuat inisiatif perdagang Quraisy di dua rute yang legendaris. Perjalanan di musim dingin menuju Yaman dan Habasyah. Dan di musim panas menuju Syam.
Karena begitu melegendanya kebiasaan safar ini, sampai-sampai Allah Ta’ala mengabadikannya di dalam Alquran:
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ – إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ – فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ – الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” [Quran Quraisy: 1-4].
Hasyim wafat di Kota Gaza di negeri Syam dalam perjalanan dagangnya tahun 510 M.
Sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Nilai moral yang terdapat dalam teks hikayat tersebut ialah ….
Kita harus menyembunyikan identitas atau jati diri kita dari orang lain.
Kita harus bermimpi setinggi mungkin jika ingin termahsyur.
Kita harus membantu orang yang telah member gelar kehormatan pada kita.
Kita harus membantu orang yang membutuhkan bantuan dengan ikhlas.
Kita harus memberi bantuan kepada orang lain jika ingin sukses.
Bacalah penggalan teks hikayat berikut dengan cermat!
Abdul Muthalib Kakek Rasulullah saw.
Kakek Rasulullah saw., ini ialah satu-satunya putra Hasyim. Ibunya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?
Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lamasetelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.
Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.
Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.
sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Siapakah nama asli Abdul Muthalib?
Sumayyah
Syaibah al-Hamd
Zaid an-Najjariyah
Salma binti Zaid an-Najjariyah
Abdu Manaf
Bacalah penggalan teks hikayat berikut dengan cermat!
Abdul Muthalib Kakek Rasulullah saw.
Kakek Rasulullah saw., ini ialah satu-satunya putra Hasyim. Ibunya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?
Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lamasetelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.
Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.
Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.
sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Watak tokoh al-Muthalib dalam penggalan teks hikayat tersebut ialah….
Kikir dan angkuh
Sederhana namun baik
Pemalu dan bijaksana
Gengsi dan serakah
Penyayang namun sombong
Bacalah penggalan teks hikayat berikut dengan cermat!
Abdul Muthalib Kakek Rasulullah saw.
Kakek Rasulullah saw., ini ialah satu-satunya putra Hasyim. Ibunya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?
Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lamasetelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.
Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.
Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.
sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Konflik dalam teks hikayat tersebut ialah ….
Paman Syaibah, al-Muthalib menjaga nama baik saudaranya, Amr bin Abdu Manaf “Hasyim” ketika mendapati kondisi keponakannya, Syaibah kecil kurang terurus.
Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus ketika dijemput pamannya, al-Muthalib.
Pribadi penyantun dan dermawan Syaibah “Abdul Muthalib” dengan menyediakan hidangan untuk hewan-hewan liar di puncak bukit.
Syaibah “Abdul Muthalib” menjadi rujukan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masyarakat.
Syaibah “Abdul Muthalib” putra bangsawan dan orang terkaya di Mekah.
Bacalah penggalan teks hikayat berikut dengan cermat!
Abdul Muthalib Kakek Rasulullah saw.
Kakek Rasulullah saw., ini ialah satu-satunya putra Hasyim. Ibunya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?
Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lamasetelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.
Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.
Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.
sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Arti kata “makbul” dalam teks hikayat tersebut adalah ….
manjur
ajaib
ampuh
paten
mujarab
Bacalah penggalan teks hikayat berikut dengan cermat!
Abdul Muthalib Kakek Rasulullah saw.
Kakek Rasulullah saw., ini ialah satu-satunya putra Hasyim. Ibunya bernama Salma binti Zaid an-Najjariyah. Sebenarnya, Abdul Muthalib bukanlah nama aslinya. Namanya adalah Syaibah al-Hamd. Syaibah artinya uban karena saat dilahirkan ada rambut putih di kepala Abdul Muthalib. Dinamakan al-Hamd (pujian) karena diharapkan ia menjadi orang yang terpuji di tengah kaumnya. Lalu mengapa ia lebih dikenal dengan Abdul Muthalib?
Dalam perjalanan safar dagang ke Syam Ayah Syaibah, Hasyim bin Abdu Manaf, singgah di Yatsrib (Kota Madinah sekarang). Di sana ia menikah dengan perempuan penduduk setempat dari Bani Najjar, namanya Salma bin Zaid. Tak lamasetelah menikah, Hasyim melanjutkan perjalanan ke Syam. Ternyata ia wafat di sana. Beberapa lama kemudian, saudara-saudara Hasyim: al-Muthalib, Naufal, dan Abdu Syams, mendengar kabar bahwa mereka memiliki keponakan di Yatsrib. Mereka bersepakat agar anak saudaranya itu dijemput untuk tinggal bersama keluarganya di Mekah. Diutuslah al-Muthallib untuk menjemputnya.
Setibanya di Mekah, al-Muthalib membonceng keponakannya, Syaibah. Saat itu, Syaibah kecil tampak kotor dan kusam kurang terurus. Padahal ia putra bangsawan dan dan orang terkaya di Mekah. Orang-orang bertanya, “Siapa ini”? “Hamba sahayaku,” jawab al-Muthallib. Ia malu. Jangan sampai nama baik saudaranya rusak karena dianggap menyia-nyiakan anaknya. Karena itu, Syaibah lebih dikenal dengan Abdul Muthalib (hambanya al-Muthalib). Laqob ini kian masyhur. Hingga ia dikenal dengan sebutan itu. Bukan dengan nama aslinya.
Abdul Muthallib adalah seorang yang makbul doanya. Pribadi yang sangat penyantun. Sampai-sampai terhadap hewan. Ia sering membawa piring besar hidangannya menuju puncak bukit untuk memberi makanan burung-burung dan hewan-hewan liar. Oleh karena itu, ia digelari al-Fayyadh (yang melimpah). Gelaran yang sama dengan kakeknya, Abdu Manaf.
sumber: https://kisahmuslim.com/6563-mengenal-kakek-dan-buyut-nabi-muhammad-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html#more-6563
Amanat dalam penggalan teks hikayat tersebut ialah ….
Hendaklah menjadi manusia yang penyantun sekalipun terhadap hewan.
Sedekahkan harta kita kepada masyarakat kurang mampu.
Tempatkanlah pendapatan yang kita miliki pada tempatnya.
Bekerjalah dengan rajin dan gunakan hasil bekerja untuk bahagia.
Jangan mudah iba kepada orang lain.
