WorksheetsSDA Kehutanan
Total questions: 25
Worksheet time: 10mins
Perhatikan kategori SDA berikut
1) SDA Abiotik
2) SDA Energi
3) SDA Hayati
4) SDA Materi
5) SDA Ruang
Pembagian SDA berdasarkan pemanfaatannya ditunjukan nomor ....
1), 2), dan 3)
1), 4), dan 5)
2), 3), dan 5)
2), 4), dan 5)
3), 4), dan 5)
Sumber daya alam seperti tanah, air, batuan, dan mineral, termasuk kategori sumber daya alam ....
Energi
Tidak dapat diperbarui
Hayati
Ruang
Abiotik
Berikut ini yang bukan contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah ....
Pohon Jati
Ikan Cakalang
Mineral Logam
Sinar Matahari
Air
Perhatikan jenis hutan berikut!
1) Hutan Hujan Tropis
2) Hutan Musim
3) Hutan Hujan Pegunungan
4) Hutan Sabana
5) Hutan Rawa
Jenis hutan yang dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan ditunjukan nomor ....
1), 3), dan 4)
1), 3), dan 5)
2), 3), dan 4)
2), 3), dan 5)
3), 4), dan 5)
Hutan yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan binatang serta ekosistemnya disebut hutan ....
Konservasi
Lindung
Produksi
Buatan
Hujan Tropis
Sumber daya kehutanan yang fungsinya sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti mencegah banjir, yaitu .…
Fungsi konservasi
Fungsi produksi
Kawasan suaka alam
Fungsi lindung
Kawasan pelestarian alam
“Sumber daya alam yang jika keberadaannya habis, dapat dimanfaatkan kembali dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama”, merupakan definisi dari ....
Renewable Resources
Sustainable Resources
Unrenewable Resources
Unlimited Resources
Forever Resources
Menjaga kondisi dan kestabilan air tanah merupakan fungsi ... hutan.
Fungsi Ekonomis
Fungsi Edafik
Fungsi Konservasi
Fungsi Hidrologis
Fungsi Klimatologis
Hutan yang secara alamiah atau sengaja dibudidayakan untuk diambil manfaatnya disebut sebagai ....
Hutan Lindung
Hutan Suaka Alam
Hutan Produksi
Hutan Wisata
Hutan Penyangga
Perhatikan kutipan artikel berikut:
"Menurut KLHK, pada tahun 2022 Indonesia kehilangan sekitar 104 ribu hektar hutan primer, terutama di Kalimantan dan Papua. Penyebab utama deforestasi adalah pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan."
Dampak jangka panjang dari fenomena tersebut terhadap lingkungan adalah ….
Meningkatnya keanekaragaman hayati
Berkurangnya lahan kritis
Menurunnya fungsi resapan air dan meningkatnya risiko bencana
Peningkatan oksigen di atmosfer
Berkurangnya jumlah penduduk
Bacalah data berikut:
Luas hutan Indonesia (2021): 125 juta ha
Luas kawasan konservasi: 27 juta ha
Luas hutan produksi: 68 juta ha
Luas hutan lindung: 30 juta ha
Jika terjadi penurunan luas hutan lindung sebesar 10%, maka fungsi ekologis yang paling terancam adalah ….
Sumber bahan bakar
Penyangga tata air dan pencegah erosi
Cadangan lahan pertanian
Penyediaan sarana transportasi
Penyediaan bahan industri
Bacalah potongan berita berikut:
"Fenomena El Nino tahun 2023 memperparah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan, menyebabkan kualitas udara memburuk dan gangguan kesehatan masyarakat."
Berdasarkan kasus tersebut, hubungan antara kebakaran hutan dengan kualitas hidup manusia adalah ….
Karhutla menurunkan produksi pertanian saja
Karhutla tidak berpengaruh terhadap masyarakat
Karhutla meningkatkan jumlah oksigen
Karhutla menurunkan kualitas udara dan membahayakan kesehatan
Karhutla memperbaiki kesuburan tanah
Perhatikan kutipan data dari FAO (2021):
"Indonesia termasuk salah satu dari tiga negara dengan kehilangan hutan terbesar di dunia, setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo."
Berdasarkan data tersebut, solusi yang dapat diambil Indonesia agar tidak terus masuk dalam kategori tersebut adalah ….
Melakukan pembukaan lahan secara besar-besaran
Menerapkan sistem tebang pilih pada hutan produksi
Membatasi izin pembalakan liar
Mengurangi luas kawasan konservasi
Meningkatkan impor kayu gelondongan
Bacalah informasi berikut:
"Hutan mangrove Indonesia merupakan yang terluas di dunia dengan luas sekitar 3,36 juta ha (KLHK, 2022). Namun, sekitar 52% mangrove telah mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan menjadi tambak dan permukiman."
Jika kerusakan mangrove terus terjadi, dampak lingkungan yang paling mungkin adalah ….
Bertambahnya habitat biota laut
Abrasi pantai meningkatkan kerusakan ekosistem pesisir
Perkembangan ekosistem pesisir semakin subur
Kapasitas oksigen laut meningkat
Air laut semakin dangkal
Hubungan antara kondisi iklim dan persebaran hutan di Indonesia berikut ini yang tepat adalah ….
Curah hujan tinggi sepanjang tahun menyebabkan vegetasi tropis cepat meranggas
Curah hujan sedang–rendah dengan musim kemarau jelas menyebabkan pohon menggugurkan daun
Iklim kering sepanjang tahun menghasilkan pepohonan berdaun lebar hijau
Suhu ekstrem menyebabkan hutan musim selalu hijau
Kelembapan tinggi sepanjang tahun menyebabkan pohon jarang meranggas
Perhatikan peta persebaran hutan berikut (misalnya peta hutan hujan tropis, musim, sabana, mangrove).
Berdasarkan persebaran hutan tersebut, wilayah Nusa Tenggara lebih banyak memiliki sabana daripada hutan hujan tropis karena .…
Kondisi iklim kering dengan curah hujan rendah
Curah hujan tinggi dan merata sepanjang tahun
Letaknya dekat ekuator
Topografi pegunungan tinggi dan curam
Curah hujan tinggi sepanjang tahun
Perhatikan data berikut:
(1) Luas hutan Papua = 33,7 juta ha
(2) Luas hutan Kalimantan = 25,8 juta ha
(3) Luas hutan Sumatra = 10,5 juta ha
Berdasarkan data tersebut, jika deforestasi paling tinggi terjadi di Sumatra, dampak ekologis yang paling menonjol di wilayah tersebut adalah ….
Bertambahnya infiltrasi air tanah dan meningkatnya kesuburan lahan basah
Menurunnya kapasitas daya dukung lingkungan serta peningkatan kejadian asap lintas negara akibat kebakaran gambut
Stabilnya siklus hidrologi meskipun hutan berkurang signifikan
Terciptanya ekosistem sekunder yang lebih kaya dibanding ekosistem primer
Menurunnya emisi karbon karena adanya konversi lahan ke perkebunan industri
Data KLHK (2021) mencatat luas hutan produksi Indonesia sekitar 68 juta ha. Namun, sebagian kawasan berubah fungsi menjadi perkebunan monokultur."
Berdasarkan informasi tersebut, risiko ekologis dari pengelolaan hutan produksi yang tidak berkelanjutan adalah ….
Diversifikasi tanaman meningkat sehingga fauna bertambah
Laju deforestasi menurun karena ada perkebunan pengganti
Meningkatnya kapasitas resapan air tanah akibat homogenitas tanaman
Menurunnya frekuensi karhutla akibat sistem perkebunan monokultur
Hilangnya keanekaragaman hayati dan terganggunya keseimbangan ekosistem
Tujuan utama penetapan kawasan hutan konservasi di Indonesia adalah ….
Melindungi flora dan fauna endemik dari kepunahan
Menjadi kawasan penelitian dan pendidikan lingkungan
Menjaga keanekaragaman genetik untuk keberlanjutan ekosistem
Menjamin cadangan oksigen untuk keseimbangan atmosfer global
Menyediakan kawasan wisata alam yang ramah lingkungan
Perbedaan mendasar antara hutan konservasi, lindung, dan produksi adalah ….
Tingkat prioritas dalam perlindungan biodiversitas
Fungsi utama: pelestarian, perlindungan ekosistem, dan pemanfaatan hasil hutan
Status kepemilikan dan hak pengelolaan
Keterbukaan akses bagi masyarakat lokal
Peranannya dalam mendukung program pembangunan berkelanjutan
Perhatikan kutipan data berikut:
"Menurut KLHK (2022), Indonesia memiliki kawasan hutan konservasi seluas ±27 juta ha yang mencakup taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa. Kawasan ini selain berfungsi sebagai pelestarian biodiversitas, juga menjadi lokasi penelitian, pendidikan, hingga pariwisata terbatas."
Berdasarkan data tersebut, alasan utama kenapa hutan konservasi harus dijaga secara ketat adalah ….
Karena kawasan hutan konservasi memiliki peran penting sebagai bank genetik alami yang menjadi cadangan keanekaragaman hayati dunia, sehingga fungsinya melampaui sekadar kepentingan nasional.
Karena hutan konservasi mampu menghasilkan nilai ekonomi langsung melalui aktivitas ekowisata, sehingga jika dikelola baik dapat menyumbang pemasukan negara tanpa merusak ekosistem.
Karena di dalam hutan konservasi terdapat flora dan fauna endemik langka yang tidak bisa hidup di luar ekosistem alaminya, sehingga kehilangan kawasan ini berarti hilangnya spesies tertentu selamanya.
Karena hutan konservasi berfungsi sebagai penyerap karbon global, sehingga keberadaannya dapat menjadi modal diplomasi Indonesia dalam isu perubahan iklim internasional.
Karena hutan konservasi menjadi wilayah penelitian ilmiah dan pendidikan yang dapat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis lingkungan.
Kutipan berita (dilansir dari Kompas.com):
"Kerusakan hutan lindung di kawasan pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, memicu meningkatnya frekuensi banjir bandang. Hutan lindung yang semula berfungsi menyerap air hujan kini beralih menjadi tambang batubara dan perkebunan."
Berdasarkan kasus tersebut, implikasi utama hilangnya fungsi hutan lindung adalah ….
Hilangnya vegetasi pegunungan menyebabkan daya resapan air tanah menurun drastis, sehingga aliran permukaan meningkat dan risiko banjir/longsor semakin besar.
Hilangnya tutupan vegetasi menjadikan iklim mikro kawasan menjadi lebih kering, sehingga petani setempat mengalami kesulitan mengelola lahan pertanian.
Konversi hutan lindung mengakibatkan berkurangnya cadangan oksigen alami, yang berdampak pada kesehatan masyarakat perkotaan yang jauh dari lokasi.
Berkurangnya hutan lindung membuat biodiversitas lokal berkurang, karena habitat satwa liar menyusut akibat aktivitas penambangan.
Hilangnya kawasan hutan lindung menurunkan daya tarik wisata alam, sehingga perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata ikut terdampak.
Kutipan dari WALHI (2023):
"Deforestasi di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya menghancurkan habitat satwa langka, tetapi juga memperparah banjir, kekeringan, serta kabut asap lintas negara. Alih fungsi hutan produksi menjadi perkebunan sawit skala besar masih menjadi penyumbang utama kerusakan."
Berdasarkan informasi tersebut, permasalahan utama yang disorot WALHI adalah ….
Perubahan hutan produksi menjadi perkebunan sawit justru meningkatkan nilai ekspor nasional, tetapi menurunkan daya dukung lingkungan secara signifikan.
Hutan produksi tidak lagi berfungsi sebagai penyangga ekologis karena konversi lahan besar-besaran, sehingga fungsi tata air terganggu.
Deforestasi di Sumatra dan Kalimantan memperparah degradasi keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik seperti orangutan.
Dampak kabut asap lintas negara akibat deforestasi menjadi isu diplomasi internasional yang merugikan citra Indonesia.
Alih fungsi hutan membuat masyarakat lokal kehilangan akses tradisional terhadap sumber daya hutan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kutipan dari WWF Indonesia (2021):
"Taman Nasional Lorentz di Papua merupakan salah satu kawasan konservasi terluas di dunia tropis. Namun, tekanan pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi mulai menimbulkan fragmentasi habitat yang mengancam satwa langka."
Berdasarkan kutipan tersebut, ancaman utama terhadap fungsi hutan konservasi adalah ….
Tekanan ekonomi di kawasan konservasi mendorong aktivitas pemanfaatan hasil hutan non-kayu secara lebih berkelanjutan.
Pembangunan infrastruktur dapat menurunkan potensi emisi karbon karena membuka jalur distribusi kayu.
Tekanan ekonomi di kawasan konservasi mendorong aktivitas pemanfaatan hasil hutan non-kayu secara lebih berkelanjutan.
Fragmentasi habitat mengurangi kemampuan satwa untuk berpindah, sehingga populasi terisolasi dan rentan punah.
Pembangunan infrastruktur justru memberi akses bagi masyarakat lokal untuk menikmati wisata alam dan manfaat ekonomi.
Pengelolaan hutan produksi di Indonesia menurut data dari Auriga Nusantara (2023) kerap bermasalah karena izin konsesi diberikan secara masif tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Akibatnya, konflik lahan antara masyarakat adat dengan perusahaan semakin meningkat.
Dari kutipan tersebut, permasalahan paling krusial yang ingin ditegaskan adalah ….
Izin konsesi hutan produksi seharusnya diarahkan pada peningkatan akses masyarakat lokal terhadap hasil hutan kayu.
Konflik lahan antara masyarakat adat dan perusahaan adalah bagian dari dinamika pembangunan ekonomi yang wajar terjadi.
Pengelolaan hutan produksi sebenarnya dapat meningkatkan devisa negara, namun lebih sering memunculkan masalah teknis di lapangan.
Izin konsesi hutan produksi seringkali tidak memperhitungkan aspek ekologis dan sosial, sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan dan konflik masyarakat.
Hutan produksi tidak memiliki fungsi ekologis sehingga bisa dikelola secara penuh untuk kepentingan ekonomi nasional
