NEW
Font size
WorksheetsPENILAIAN CERITA PENDEK
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Bacalah kutipan cerita berikut!
Senja baru saja turun dan mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang yang lelah bekerja. Matahari telah terbenam. Namun, di kejauhan, masih ada semburat merah muda yang cantik. Semburatnya berpadu dengan burung-burung yang kembali pulang ke sarangnya. Selain itu, di tepi jalan terdengar bunyi mesin mobil di mana-mana. Fuhh ... aku menghembuskan napas berat melihat batang-batang pohon yang berserakan di pinggir jalan.
Kutipan tersebut termasuk bagian ...
Orientasi
Rangkaian peristiwa
Komplikasi
Resolusi
Bacalah kutipan cerita berikut!
Senja baru saja turun dan mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang yang lelah bekerja. Matahari telah terbenam. Namun, di kejauhan, masih ada semburat merah muda yang cantik. Semburatnya berpadu dengan burung-burung yang kembali pulang ke sarangnya. Selain itu, di tepi jalan terdengar bunyi mesin mobil di mana-mana. Fuhh ... aku menghembuskan napas berat melihat batang-batang pohon yang berserakan di pinggir jalan.
Latar waktu kutipan cerita tersebut adalah …
pagi hari
siang hari
petang
malam hari
Bacalah kutipan cerita berikut!
(1) Bagas mendengkur keras.(2) Dia duduk di kursi dekat jendela kamarnya selama hampir empat jam menatap ke luar jalan yang gelap dan akhirnya tertidur. (3) Kaca matanya miring dan mulutnya terbuka lebar. (4) Wajahnya berkilau kena cahaya jingga lampu jalan di luar.
Latar tempat dan waktu pada teks tersebut adalah…
kamar dan senja hari
kamar dan malam hari
jalan raya dan malam hari
rumah dan malam hari
Perhatikan kutipan cerita di bawah ini dengan saksama!
Aku segera mengambil sendokku dan mulai makan, hanya untuk menunjukkan pada Emma bahwa aku tidak peduli dengan apa yang telah diketahuinya. Ia menatapku penuh selidik.
“Lalu apa katamu tentang itu?” tanyaku.
“Aku memberitahumu bahwa di sini bisa berbeda. Kukatakan bahwa pilihanmu adalah menjadi berbeda di dunia yang berbeda. Aku mengatakan agar kau terbiasa, jangan takut lagi…. Selama ini kau selalu berlebihan. Dan, ketakutan tanpa alasan. ” Emma menjelaskan.
Watak aku pada kutipan tersebut adalah …
pemilih
penakut
percaya diri
tidak peduli
Bacalah teks berikut dengan saksama!
(1) Dari situlah warga mulai mempercayai mitos itu. (2) Tidak ada yang berani menebang hutan sembarangan lagi. (3) Sebelum ke desa, aku harus melewati hutan itu. (4) Aku berhenti tepat di tepi hutan.
Penggunaan konjungsi urutan waktu terdapat dalam kalimat....
(1)
(2)
(3)
(4)
Bacalah teks berikut dengan saksama!
(1) “Dia ditahan di dalam sebuah tempat di dekat pesisir kota ini,” kata Komandan Anton. (2) “Terima kasih, Komandan. Kami akan segera ke sana,” jawab Arga. (3) Melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka sampai di tempat Reza ditawan oleh Breno. (4) Karena sangat yakin dengan rencananya, Breno tidak menempatkan pengawal di tempat tersebut.
Penggunaan kata ganti orang ketiga jamak terlihat pada kalimat....
(1)
(2)
(3)
(4)
Perhatikan kutipan cerita berikut!
Menjelang hari raya ini, aku terbaring di rumah sakit. Dari jendela kamar rumah sakit yang kudiami, aku bisa melihat keluar dengan jelas. Hujan menderas, manusia-manusia menepi pada kesunyian, lagu hujan, lagu keleneng becak. Di ruangan ini, aku cuma berdua. Selisih satu ranjang, terbaring seorang perempuan tua.
Unsur cerita yang dominan di dalam cuplikan cerita tersebut adalah…
Amanat
Alur
Latar
Penokohan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Menakutkan
Mengenaskan
Mengharukan
Menegangkan
Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di bawah pohon rindang.
di perkampungan.
di hutan rimba.
di jalan pedasaan.
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
sore hari, terminal
siang hari, perjalanan
siang hari, terminal
pagi hari, perjalanan
“kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..
sebagai manusia harus saling tolong-menolong
seorang pendidik harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup
Guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya
guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah ....
kalimat pertama pada paragraf pertama
Kalimat ketiga pada paragraf kedua.
Kalimat keempat pada paragraf kedua
Kalimat terakhir paragraf pertama.
Pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita dan tidak terlibat dalam cerita, dengan menggunakan pelaku utama ia/dia. Kedudukan pengarang dalam cerita tersebut sebagai....
tokoh figuran
tokoh utama
pengamat
tokoh protagonis
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Aku duduk sendirian di halte depan sekolah menunggu angkot yang akan mengantarku pulang. Kini aku harus membiasakan diri karena tak ada lagi mobil mewah dan sopir pribadi.
(Utami Panca Dewi, "Luka Hati Sabrina")
Latar tempat kutipan teks cerpen tersebut adalah ....
halte depan sekolah
depan rumah
terminal
di halte dekat rumah
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi geletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah…
di hutan, pagi hari
di desa siang hari
di sungai, sore hari
di sungai, malam hari
“Usman merasa terusik dengan langkah-langkahku, dan puncaknya saat kepala sekolah menunjuk aku sebagai koordinator menggantikanya. Dia terlihat semakin tidak senang
Sifat tokoh Usman dalam cerpen di atas adalah…
suka menghasut
sombong
iri hati
mau menang sendiri
Pagi tadi, Nenek menyuruh Bi Sun, pembantunya mengantar Yasya berobat ke Puskesmas. Sudah dua hari Yasya pilek. Biasanya Nenek sendiri yang mengantar Yasya berobat. Tetangga sebelah meninggal, Nenek melayatnya.
Nilai kehidupan yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah ....
religius
sosial
budaya
moral
Pagi tadi, Nenek menyuruh Bi Sun, pembantunya mengantar Yasya berobat ke Puskesmas. Sudah dua hari Yasya pilek. Biasanya Nenek sendiri yang mengantar Yasya berobat. Tetangga sebelah meninggal, Nenek melayatnya.
Latar tempat pada kutipan cerita tersebut adalah…
di puskesmas
di puskesmas dan rumah tetangga
di rumah
di rumah dan puskesmas
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah.…
mentari meredup
mentari di sebelah barat
ketika kerumunan tidak bersama
kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
