wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Latihan AKM,literasi teks fiksi

Total questions: 10

Worksheet time: 32mins

Name
Class
Date
1.

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Hindia. Pishi dan teman-temannya sangat bahagia hidup di Samudra Hindia, bersama 500 jenis makhluk laut lainnya.

Pishi dan teman-temannya sedang bermain ketika kapal nelayan datang. Semua ikan berpencar menyelamatkan diri. Pishi jadi sendirian. Kemudian terjadi badai besar. Lautan menjadi gelap sehingga Pishi kehilangan arah. Ombak besar membawa Pishi ke bawah kapal nelayan. Pishi membentur kapal, perutnya terluka.

Pishi harus segera mengobati lukanya. Pishi berenang mendekati pantai. Di sana ada rumah sakit alam. Pishi tidak bisa berenang dengan cepat karena tubuhnya yang besar. Berat tubuh Pishi 900 kilogram dan panjangnya 10 meter.

Setelah jauh berenang, Pishi sangat senang melihat lampu mercusuar. Itu tandanya Pishi sudah sampai di rumah sakit alam. Ikan-ikan kecil langsung mendekati Pishi. Mereka membersihkan luka di perut Pishi. Beberapa hari kemudian, luka Pishi pun sembuh. Pishi sangat berterima kasih kepada ikan-ikan kecil yang merawatnya.

Ikan-ikan kecil itu memakan parasit dan jaringan kulit mati di tubuh ikan pari. Hubungan antara Pishi dan ikan-ikan kecil adalah hubungan yang saling menguntungkan. Tubuh ikan pari menjadi bersih, ikan-ikan kecil pun menjadi kenyang.

Siapakah Pishi dan di mana ia tinggal?

a)

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di Samudra Hindia.

b)

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di Samudra Atlantik

c)

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Hindia.

d)

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Atlantik.

2.

Di perkotaan, anak-anak dapat mudah bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun, tidak demikian bagi anak-anak yang berada di pedesaan.

Simak tiga cuplikan berikut dari Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Teks 1:

“Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh.”

(Hirata, 2008, hal. 1)

Teks 2:

“Aku cemas… karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku…Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.”

(Hirata, 2008, hal. 2)

Teks 3:

“Keluarga Lintang berasal dari Tanjung Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram…. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.”

(Hirata, 2008, hal. 11)

Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Jakarta : Bentang Pustaka.

Dalam cerita, tokoh menggambarkan sekolah yang dimasukinya sebagai sekolah yang tidak layak.


Pilihlah gambaran sekolah yang sesuai dengan teks.

a)

Jendela-jendela sekolah yang mulai rapuh karena rayap.

b)

Bangunan sekolah yang akan roboh.

c)

Lapangan sekolah yang berdebu.

d)

Bangku-bangku di sekolah yang sudah doyong

3.

Di perkotaan, anak-anak dapat mudah bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun, tidak demikian bagi anak-anak yang berada di pedesaan.

Simak tiga cuplikan berikut dari Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Teks 1:

“Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh.”

(Hirata, 2008, hal. 1)

Teks 2:

“Aku cemas… karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku…Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.”

(Hirata, 2008, hal. 2)

Teks 3:

“Keluarga Lintang berasal dari Tanjung Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram…. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.”

(Hirata, 2008, hal. 11)

Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Jakarta : Bentang Pustaka.

Bagaimana gambaran ayah tokoh "Aku"?

a)

Pria berusia 49 tahun.

b)

Pria itu ingin menjadi juragan pantai.

c)

Pekerjaannya adalah buruh tambang.

d)

Dia tinggal di Desa Tanjung Kelompang.

4.

Di perkotaan, anak-anak dapat mudah bersekolah hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun, tidak demikian bagi anak-anak yang berada di pedesaan.

Simak tiga cuplikan berikut dari Buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Teks 1:

“Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh.”

(Hirata, 2008, hal. 1)

Teks 2:

“Aku cemas… karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku…Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga.”

(Hirata, 2008, hal. 2)

Teks 3:

“Keluarga Lintang berasal dari Tanjung Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram…. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesar pangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong.”

(Hirata, 2008, hal. 11)

Hirata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Jakarta : Bentang Pustaka.

Perhatikan pernyataan berikut ini!

Pernyataan yang tidak tepat adalah...

a)

Ayah tokoh "Aku" merasa senang karena anaknya masuk sekolah.

b)

Lintang tinggal di wilayah pesisir pulau Belitong, Sulawesi.

c)

"Aku" tidak tinggal sekampung dengan Lintang

d)

Jalan menuju tempat tinggal Lintang melewati rute yang sulit dan cukup berbahaya.

5.

Simak cuplikan dari Buku Laskar Pelangi, yang ditulis oleh Andrea Hirata.

... Dapat dikatakan tak jarang Lintang mempertaruhkan nyawa demi menempuh pendidikan, namun tak sehari pun ia pernah bolos. Delapan puluh kilometer pulang pergi ditempuhnya dengan sepeda setiap hari. Tak pernah mengeluh. Jika kegiatan sekolah berlangsung sampai sore, ia akan tiba malam hari di rumahnya. Sering aku merasa ngeri membayangkan perjalanannya.

Kesulitan itu belum termasuk jalan yang tergenang air, ban sepeda yang bocor, dan musim hujan berkepanjangan dengan petir yang menyambar-nyambar. Suatu hari rantai sepedanya putus dan tak bisa disambung lagi karena sudah terlalu pendek sebab terlalu sering putus, tapi ia tak menyerah. Dituntunnya sepeda itu puluhan kilometer, dan sampai di sekolah kami sudah bersiap-siap akan pulang. Saat itu adalah pelajaran seni suara dan dia begitu bahagia karena masih sempat menyanyikan lagu Padamu Negeri di depan kelas. Kami termenung mendengarkan ia bernyanyi dengan sepenuh jiwa, tak tampak kelelahan di matanya yang berbinar jenaka. Setelah itu ia pulang dengan menuntun sepedanya lagi sejauh empat puluh kilometer.

Pada musim hujan lebat yang bisa mengubah jalan menjadi sungai, menggenangi daratan dengan air setinggi dada, membuat guruh dan halilintar membabat pohon kelapa hingga tumbang bergelimpangan terbelah dua, pada musim panas yang begitu terik hingga alam memuai ingin meledak, pada musim badai yang membuat hasil laut nihil hingga berbulan-bulan semua orang tak punya uang sepeser pun, pada musim buaya berkembang biak sehingga mereka menjadi semakin ganas, pada musim angin barat puting beliung, pada musim demam, pada musim sampar sehari pun Lintang tak pernah bolos.

HIrata, Andrea. 2008. Laskar Pelangi. Jakarta: PT Bentang Pustaka.


Pernyataan yang sesuai dengan teks di atas adalah......

a)

Lintang jarang hadir di sekolah.

b)

Ketika rantai sepedanya putus, Lintang kembali ke rumah.

c)

Lintang selalu hadir tepat waktu di sekolah.

d)

Jarak dari rumah Lintang ke sekolah adalah 40 km.

6.

Hari Sabtu Telah Datang

Senangnya hari Sabtu telah datang

Dengar, dengar, jam dinding berdentang

Senyumlah dan hilangkan segala lara

Saatnya berangkat ke sekolah segera

Siapkan semangat dan peralatanmu

Kain lap, tongkat pel, kemoceng dan sapu

Ayo kita kerja bakti bersama-sama

Bersihkan lantai, lemari, kursi dan meja

Mari ringankan kaki dan tangan

Tugas berat menjadi ringan

Oh senangnya bergotong-royong

Kita saling tolong-menolong


Pernyataan yang tidak sesuai teks adalah....

a)

Kegiatan membersihkan sekolah dilakukan pada hari Sabtu

b)

Pembersih kain pel, sapu, tongkat pel, ember, dan karbol dibawa peserta didik pada hari Sabtu.

c)

Sadli, Rafli, dan Rina membersihkan lantai, lemari, dan kursi kelas seluruh kelas

d)

Gotong royong dapat meringankan tugas Rafli, Sadli, dan Rina.

7.

Hari Sabtu Telah Datang

Senangnya hari Sabtu telah datang

Dengar, dengar, jam dinding berdentang

Senyumlah dan hilangkan segala lara

Saatnya berangkat ke sekolah segera

Siapkan semangat dan peralatanmu

Kain lap, tongkat pel, kemoceng dan sapu

Ayo kita kerja bakti bersama-sama

Bersihkan lantai, lemari, kursi dan meja

Mari ringankan kaki dan tangan

Tugas berat menjadi ringan

Oh senangnya bergotong-royong

Kita saling tolong-menolong


Para siswa merasa senang bekerja bakti karena.....

a)

Pekerjaan menjadi lama.

b)

Berangkat sekolah lebih awal.

c)

Membawa sapu,kemoceng, dan kain pel .

d)

Bergotong royong saling menolong

8.

Perempuan – perempuan perkasa' karya Hartoyo Andangjaya, 1963

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,

dari manakah mereka..

Ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa sebelum peluit kereta pagi terjaga..

Sebelum hari bermula dalam pesta kerja..

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,

ke manakah mereka..

Di atas roda-roda baja mereka berkendara.

Mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota..

Merebut hidup di pasar-pasar kota..

Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta,

siapakah mereka..

Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa.

akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota..

Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa..

(Hartoyo Andangjaya, 1963)

(diunduh dari https://indonesianliteraryworks.blogspot.com/2016/09/poetry-perempuan-perempuan-perkasa.html)

Jika kamu membaca puisi tersebut, sikap apa yang dapat ditiru dari tokoh dalam puisi tersebut?

a)

kerja keras dan rajin

b)

Hemat dan rajin

c)

Rajin dan kreatif

d)

Santai dan rajin

9.

Rumah untuk Lek Tini

Suatu hari penduduk kampung di Gunungkidul dikagetkan dengan musibah kebakaran yang menimpa rumah yang ditinggali oleh keluarga Lek Tini. Tanpa pikir panjang, Lek Tini yang terkejut atas peristiwa itu berupaya lari keluar rumah sambil minta tolong diikuti anggota keluarganya. Kakinya terasa berat untuk digerakkan, tetapi tetap terus berupaya sebisanya. Bahkan, hanya diserat saja hingga akhirnya mencapai pohon asem depan rumah. Badannya menggigil duduk tersimpuh lemas tak berdaya sambil memandangi rumahnya dilalap si Jago Merah tanpa henti. Terbayang olehnya, diri dan keluarganya akan tidur tanpa atap.

Masyarakat yang mengetahui peristiwa itu langsung datang dan menyingsingkan lengan baju. Ada yang menyelamatkan benda-benda di rumah yang terbakar, memadamkan api dan ada yang menggalang dana. Dalam waktu singkat terkumpul berbagai sumbangan untuk keluarga Lek Tini.

Tidak berhenti sampai di situ saja. Masyarakat bersama pemerintah desa menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap korban kebakaran. Mereka berharap Lek Tini secepatnya mendapat tempat tinggal yang layak dan dapat beraktivitas seperti semula.


Dengan penuh semangat, mereka bergotong royong membangun rumah sementara untuk keluarga Lek Tini. Lebih dari 50 orang berpartisipasi dalam pembangunan rumah yang dimulai sejak pagi hari. Itu sebabnya, pada sore hari, rumah sementara ini telah selesai dibangun dan siap untuk ditinggali oleh keluarga Lek Tini.

Klik pada beberapa pilihan jawaban yang benar!

Apa faktor pendukung rumah sementara Lek Tini sudah dapat dihuni hanya dalam waktu 12 jam?

a)

Penduduk tidak peduli terhadap semua warga korban kebakaran.

b)

Penduduk bergotong-royong dengan berbagi tugas.

c)

Penduduk hanya menonton saja

d)

sedikit orang kaya yang bersedia menjadi donatur tetap.

10.

Bermain Apa?

"Aduuuh, tidak ada sinyal?" Keluh Caca kepada Mama. Mama bilang tidak usah bermain telepon seluler terus. Dewi sepupunya mengajak bermain di luar. Caca lebih senang memainkan gim kesukaannya.Suara ramai dari lapangan membuat Caca mengalihkan pandangan. Dewi memanggilnya, tetapi Caca tidak begitu berminat. Akhirnya, dia turun juga. Mudah-mudahan ada sinyal.Begitu sampai di lapangan. Caca tahu itu permainan kelereng. Begini cara mainnya, salah satu anak laki-laki itu menjelaskan. Pertama, semua kelereng diletakkan di dalam lingkaran ini. Lalu, pemain menentukan giliran. Bisa hompimpah atau suit. Bisa juga dengan menggulirkan kelerengmu. Yang terjauh mendapat giliran lebih dahulu. Dari garis ini, pemain harus membidik kelereng di lingkaran dengan kelereng lain. Kelereng yang berhasil dikeluarkan dari lingkaran, menjadi milik pemain itu.Hmm… menarik. Caca ingin mencobanya. Aha! Boleh juga.Sekarang Caca ingin mencoba permainan lain. Mau bermain galah? Ajak anak lain. Satu kelompok menjaga garis-garis ini, sementara yang lainnya berusaha menerobos. Oh, Caca tahu permainan ini! Mirip permainan gobak sodor kalau di Jakarta.Dewi mengajak bermain tali. Loh. talinya kok dua? Caca heran. Caca harus mencoba yang ini! Eh-eh! Ternyata bermain lompat dua tali susah juga. Sudah sore, saatnya pulang. Permainan-permainan ini seru sekali. Besok Caca mau ikut bermain lagi. Sumber https://reader.letsreadasia.org/read/6628cdee-7a7b-48d6-b4b9-a87777fd3c6c dengan perubahan


Mengapa bermain di lapangan lebih seru daripada bermain gim dalam telepon seluler?

a)

bertemu dengan beberapa teman saja

b)

bertemu dengan banyak teman atau bisa bermain berbagai macam permainan

c)

bertemu dengan banyak teman atau bisa bermain satu macam permainan saja

d)

hanya duduk diam saja