WorksheetsPH Teks Novel
Total questions: 10
Worksheet time: 20mins
Bacalah kutipan berikut!
(1)Mendengar nada suaranya, Wibisono tampak serius. (2) Aku juga tidak mau dia menganggapku tidak perhatian. (3) Paling tidak aku menampakkan batang hidungku di sana. (4) Koleganya juga pasti ingin mengetahui siapa istri Wibisono. (5) Formalitas seperti itu merupakan peraturan tidak tertulis yang harus dijalankan. (6) Sebenarnya aku bisa saja mengelak dengan berbagai macam dalih. (7) Namun, aku tidak ingin melakukannya.
(Ajeng, Puji Isdriani K.)
Majas dalam kutipan tersebut terdapat dalam kalimat bernomor....
(1)
(2)
(3)
(4)
(6)
Bacalah kutipan berikut!
(1)Mendengar nada suaranya, Wibisono tampak serius. (2) Aku juga tidak mau dia menganggapku tidak perhatian. (3) Paling tidak aku menampakkan batang hidungku di sana. (4) Koleganya juga pasti ingin mengetahui siapa istri Wibisono. (5) Formalitas seperti itu merupakan peraturan tidak tertulis yang harus dijalankan. (6) Sebenarnya aku bisa saja mengelak dengan berbagai macam dalih. (7) Namun, aku tidak ingin melakukannya.
(Ajeng, Puji Isdriani K.)
Pendeskripsian watak tokoh aku yang bertanggung jawab diungkapkan melalui...
Dialog antartokoh
Lingkungan tokoh
Pikiran tokoh
Tanggapan tokoh
Fisik tokoh
Cermati kutipan berikut!
(1)Mae masuk apartemennya yang lengang. (2) Lelah usai bekerja dan tak ada yang menyapanya ketika pulang. (3) Tiba-tiba saja Mae dilanda rasa kesepian. (4) Dia ingin menggunakan laptop, dia teringat barang itu belum disentuhnya sejak kematian Kakek Yoshinaga. (5) Perhatiannya tercurah pada tugas-tugas kuliah, kedai ramen Nenek Osano, dan Miu.
Kalimat yang menyatakan latar tempat terdapat pada nomor...
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Cermati teks berikut!
Pak Dudung seorang buruh harian dengan upah Rp 30.000,00 per hari. Dia dikarunia 3 orang anak yang masih sekolah. Istrinya sakit-sakitan. Anaknya tidak mengerti keadaan orang tuanya. Mereka meminta HP yang canggih. Pak Dudung terpaka meminjam uang ke rentenir. Uang gajinya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Terpaksa ia gali lubang tutup lubang.
Peribahasa yang sesuai isi teks tersebut adalah...
Pucuk dicinta ulam tiba
Karena nila setitik rusak susu sebelangan
Air susu dibalas dengan air tuba
Besar pasak daripada tiang
Tak putus dirundung malang
Cermati teks berikut!
Masalah lingkungan hidup harus menjadi perhatian khusus dari semua lapisan masyarakat. Setiap anggota masyarakat wajib berpartisipasi dan bertanggung jawab untuk mengatasinya. Misal, hal yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari adalah sampah. Kita jangan membiarkan sampah berserakan di sepanjang jalan, di halaman rumah, di pasar-pasar, atau di tempat-tempat kosong sekitar pemukiman. Hal itu harus dilakukan secara serempak oleh semua anggota masyarakat.
Ungkapan yang semakna dengan isi teks tersebut adalah...
Berjabat tangan
Bergandengan tangan
Berlepas tangan
Cuci tangan
Angkat tangan
Perhatikan kutipan Novel berikut!
Ya Allah, Gusti Allah, Bude,” Surastri terisak. “Kami semua mengira Bude sudah meninggal, ternyata Bude Humaini masih hidup. Alhamdulillah.” Para mahasiswi yang kos di rumah sewa itu akhirnya tahu. Ternyata selama ini Astuti menyimpan bebannya sampai rapat. Tempat mengadunya hanya satu, yaitu Tuhan di atas sana. Mengaji membaca Al Quran setiap malam yang dilakukan sampai menangis adalah cara yang dipilihnya dalam memohon Tuhan untuk mengembalikan ibunya. Segenap penghuni kos itu terhenyak, ketika mereka membayangkan, bagaimana kira-kira yang mereka rasakan jika merekalah yang mengalami peristiwa itu.
Dikutip dari : Langit Kresna Hariadi, Ratu Kecantikan
Amanat yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah ….
Berdoa dan memohonlah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jangan berprasangka kalau tidak tahu yang sebenarnya.
Jangan mengadu kepada orang lain yang tidak tahu masalahnya.
Berempati kepada orang lain lebih baik daripada berprasangka.
Memohonlah kepada Tuhan sambil membaca Al Qur’an.
Cermati penggalan novel berikut ini !
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu merupakan pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
“Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?”, Gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah …
Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin.
Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam.
Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar.
Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.
Gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan.
Perhatikan kutipan novel berikut !
Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, Ibu Frischa namanya. Caranya ber-make up jelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampong. Gerak-geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegas kelas sosialnya. Di dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat berbicara dengan beliau, ia seperti orang Melayu yang baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitas-fasilitas sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah menjadi dokter, insinyur , ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di kota atau bahkan di luar negeri. Amanat yang sesuai dengan isi kutipan novel tersebut adalah . . .
Jadilah wanita yang terpelajar, tetapi tidak angkuh dan sombong.
Jangan angkuh dan sombong kalau menjadi wanita terpelajar.
Bersikaplah keras dalam memimpin, tetapi tetap santun kepada orang lain.
Bersikaplah rendah hati, santun, dan sederhana sekalipun menjadi pejabat tinggi.
Jangalah mengingkari kodrat atau yang diberika kepada kita.
Cermati kutipan novel sejarah berikut!
“Ya, itu lagu ciptaanku,” jawabku kemudian.
Suara tawanya terdengar parau.
“Hemm, dasar [ … ]! Tak kapok juga! Sudah berapa kali kami menginterogasimu? Mengancammu? Memperlakukanmu dengan keras, heh?”
“Aku tak melakukan kesalahan apa-apa!” teriakku.
Laki-laki itu menyeringai. Sungguh seringai yang tak kusukai. Bagai serigala yang siap melumat mangsanya!
Dikutip dari: Yudi Heriwibowo, Sang Penggesek Biola: Sebuah Roman Wage Rudolf Supratman, Jakarta, Imania, 2011
Majas yang dipakai dalam kalimat terakhir kutipan novel tersebut adalah …
Personifikasi
Hiperbola
Asosiasi
Litotes
Metonimia
Perhatikan kutipan novel berikut !
Bapak selalu membanding-bandingkan aku dengan Mas Bagus, abangku yang kuliah di jurusan pertambangan. Mas Bagus selalu baik dimata bapak. Bapak selalu membanggakan prestasi Mas Bagus karena selalu menjadi juara kelas ketika masih di SMA. Adapun aku, meskipun pernah masuk peringkat sepuluh besartapi nilai raporku tak setinggi nilai rapor Mas Bagus.
Watak tokoh Bapak dalam kutipan novel tersebut adalah .…
Suka membanding – bandingkan anaknya
Selalu membela anak yang lebih kecil
Tokoh tidak perhatian pada keluarganya
Membandingkan tokoh aku dengan Bagus
Bapak selalu membanggakan prestasi Mas Bagus
