WorksheetsDRAMA
Total questions: 15
Worksheet time: 11mins
Ciri utama yang membedakan drama dengan karya sastra lainnya adalah ....
Bahasanya indah
Memiliki bait yag terdiri dari empat baris
Terdiri dari dialog antar tokoh
Terdiri dari konflik antar tokohnya
Bahasanya konotatif
Antagonis adalah peran tokoh dalam drama yang memiliki watak ....
Tidak baik
Tidak mengalami perubahan
Baik
Tersakiti
Penambah suasana
Watak atau karakter tokoh dalam drama dapat dilihat dari beberapa hal di bawah ini, kecuali ....
Ekspresi
Dialog
Mimik
Bloking
Gerak
Romeo : "Petunjuk cinta yang gaib telah mempersatukan aku ke hadapanmu. Dan untuk cinta yang kudapatkan akan kutaruhkan segalanya. Tapi, aku seorang Montague..."
Juliet : "Dan aku seorang Capulet. Mengapa kita punya nama? Biarlah aku menjadi bukan Capulet dan kau bukan Montague, Romeo!"
Berdasarkan dialog di atas, tema yang tersirat adalah ....
Kekuasaan
Percintaan
Persahabatan
Pendidikan
Keluarga
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Tasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Watak tokoh Sukro berdasarkan dialog di atas adalah ....
Pesimis
Pemarah
Optimis
Kritis
Penyabar
Akhirnya, keluarga mengetahui maksud Otong berbohong adalah agar tidak disuruh mencangkul sawah. Kesal betul ayah dan ibunya dibohongi hingga panik kesana kemari. Setelah puas memarahi Otong, merekapun pergi meninggalkan Otong yang termenung malu meratapi kemalasannya yang merepotkan.
Paragraf di atas merupakan naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Drama yang mengisahkan peristiwa duka disebut....
Komedi
Trakhis
Tragedi
Tragedi Komedi
Traumatis
Drama yang mengisahkan peristiwa duka disebut....
Komedi
Trakhis
Tragedi
Tragedi Komedi
Traumatis
Cermati kutipan drama berikut!
Maskun: Kau mesti peringatkan Suhita! Anak itu kian hari kian menjadi,Mar.
Mardilah: Ada apa dengan Suhita, Pak? Tadi pun dia mengeluh karena katanya kau marahi lagi. Sudah selayaknya kau berdamai dengan dia.
Maskun: Dia yang harus berdamai dengan aku.
Mardilah: mengapa kau berperasaan demikian ?
Maskun: Tak tahu aku. Mulut anak itu semakin berbau racun. Barusan tadi dia berkata. Rumah ini rumah penjara. Dan akulah kepala penjaranya.
Mardilah: Adakah sesuatu yang salah engkau tidak tenang? Adakah yang salah?
Maskun: Aku bukan orang yang lemah! Aku kuat! Kalau kau bisa melarang Suhita bercampur gaul dengan kawan-kawannya yang sok tahu politik itu, nah, baru tidak ada yang salah.
Konflik yang ada pada kutipan drama tersebut adalah ....
Pertengkaran Mardilah dan Suhita tentang kegiatan Maskun
Maskun tidak disenangi Suhita karena tindakannya yang otoriter
Maskun dan Mardilah tidak suka kawan-kawan Suhita
Maskun marah kepada Mardilah karena Suhita ikut pergerakan politik
Suhita marah karena Mardilah membela Maskun
Cermati kutipan drama berikut!
Setilawati: Pengecut! Sedikit diserang kritik orang, engkau hendak melarikan diri untuk menjaga nama supaya jangan merosot. Kau sudah maklum.
Ishak: (sambil menunjuk keluar) Pergi daripadaku! Engkau boleh memusuhi aku. Untuk cita-cita aku bersedia mengorbankan segalanya juga cintaku.
Watak tokoh Ishak dalam penggalan drama tersebut adalah ....
Pemarah
pembual
pemberani
tidak bertangung jawab
sombong
Cermatilah penggalan drama berikut!
Hendra: “Terima kasih, Dik.”
Didik: “Sebenarnya sudah lama aku ingin mengajakmu ke luar kota, tetapi mengingat ibumu sakit, ya kutunda sampai hari ini.”
Hendra: “Ya, itulah Dik, maka aku belum mau melangkah ke luar kota. Tapi, sekarang ibuku sudah sehat dan sudah mulai bekerja lagi. Kalau begitu, kapan kita berangkat?”
Didik: “Bagimana kalau minggu depan?”
Hendra: “Baiklah, aku akan minta izin kepada ibuku dulu.”
Penggalan drama tersebut menceritakan ....
Ibu Hendra sakit dan Hendra harus menungguinya.
Didik ingin mengajak Hendra ke luar kota
Hendra merasa kecewa karena ibunya sakit
Didik menengok Hendra yang sedang sakit
Hendra harus minta izin kepada ibunya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Ibu: Jangan mondar-mandir begitu, Adang!
Adang: Apa kata ibu?
Ibu: Jangan mondar-mandir, kubilang!
Adang: (adang memandang ibu dengan tak senang ia meneruskan langkah-langkahnya sebagai menantang)
Ibu: Adang!
Adang: Jadi, aku mesti bagaimana
Ibu: Jangan seperti orang linglung. Berbuatlah apa-apa
Adang: Aku sedang berbuat apa-apa sekarang. (ia mondar-mandir lagi dengan lebih tidak peduli)
Ibu: Dengar, Adang. Pergi kau tidur sekarang, atau pergilah ke mana saja, asal pergi dari sini. Bisa gila aku melihatmu begitu!
Adang: Apa salahnya aku mondar-mandir! (tapi dengan kesal ia duduk juga di kursi) ibu benci melihatku, tidak? (tapi ibu mengacuhkannya) Aku perlu hadir di sini)
(Titik-titik hitam, nasjah djamin)
Masalah yang tidak diungkapkan dalam kutipan naskah drama tersebut adalah ....
Adang tidak suka kepada ibu yang memintanya diam
Ibu tidak senang melihat Adang melihat Adang mondar-mandir
Adang menentang ibu karena semua keinginannya dilarang ibu
Ibu melarang Adang berjalan mondar-mandir
Ibu ingin Adang tidur dan beristirahat, tetapi Adang menolaknya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Ibu: Jangan mondar-mandir begitu, Adang!
Adang: Apa kata ibu?
Ibu: Jangan mondar-mandir, kubilang!
Adang: (adang memandang ibu dengan tak senang ia meneruskan langkah-langkahnya sebagai menantang)
Ibu: Adang!
Adang: Jadi, aku mesti bagaimana
Ibu: Jangan seperti orang linglung. Berbuatlah apa-apa
Adang: Aku sedang berbuat apa-apa sekarang. (ia mondar-mandir lagi dengan lebih tidak peduli)
Ibu: Dengar, Adang. Pergi kau tidur sekarang, atau pergilah ke mana saja, asal pergi dari sini. Bisa gila aku melihatmu begitu!
Adang: Apa salahnya aku mondar-mandir! (tapi dengan kesal ia duduk juga di kursi) ibu benci melihatku, tidak? (tapi ibu mengacuhkannya) Aku perlu hadir di sini)
(Titik-titik hitam, nasjah djamin)
Amanat yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah ....
Hargai pendapat dan kebiasaan orang lain
Jika tidak suka melihat kebiasaan orang lain jangan melihatnya
Orang harus menghargai apa yang dilakukan orang lain
Sampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan agar tidak menyinggung orang lain
Jangan memaksa orang lain melakukan perbuatan yang tidak dia suka.
Bacalah teks drama berikut ini !
Tampak Ken Arok tidur di suatu tempat yang agak tinggi, sesuatu yang dapat dibayangkan penonton sebagai batu besar atau cabang pohon dan sebangsanya. Tita, sahabat, dan pembantu Ken Arok berdiri di suatu tempat sambil mengamati ke arah rombongan pedagang yang akan datang. Beberapa orang, antara tiga sampai lima orang pendekar, berada di dekatnya juga tampak mengawasi dan gelisah.
Pendekar 1 : “Tita, bisakah dia tidur seperti itu?”
Tita : (tersenyum) “Apa salahnya dia tidur?”
Pendekar 1 : “Ya, tidak ada salahnya. Tapi, rasanya tidak pantas saja. Orang lain sedang gelisah dan tegang, tetapi dia enak tidur”
Tita : “ Kalau kau takut, kami tidak memaksamu ikut perjalanan ini.”
Pendekar 1 : “Asal kau tahu saja, aku tidak takut.”
Tita : “Barangkali, kau tidak mempercayainya?”
Pendekar 1 : (ragu-ragu) “Tidak. Dia begitu terkenal, tidak mungkin dia bersikap sembrono.”
Tita : (tersenyum) “Kau mungkin tidak akan pernah bisa memahaminya. Dia bukan manusia. Sekarang, tenanglah dan kembali berjaga.”
Latar tempat dari cerita dalam naskah drama tersebut adalah . . .
Hutan
Rumah
Gunung
Kamar
Jalan
