NEW
Font size
WorksheetsPROSA
Total questions: 30
Worksheet time: 15mins
5. Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskim pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
a. tubuhnya digerogoti penyakit
b. buruknya pelayanan rumah sakit
c. susahnya menjadi orang miskin
d. banyak bangsal yang kosong
18. Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bamboo itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. [ … .] Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks novel tersebut adalah …..
A. Bapak memotret senja itu
B. Bapak tertidur Karen alelah
C. Bapak selalu menikmatinya.
D. Bapak dan ibu duduk berdua
19. Bacalah penggalan cerpen di bawah ini dengan cermat!
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
a. sore hari, terminal
b. siang hari, perjalanan
c. siang hari, terminal
d. pagi hari, rumah
20. Bacalah cerita berikut dengan seksama!
Kita lihat, dari pintu masuk sebuah ruangan di hotel berbintang empat itu, dia membelok ke arah kiri, dia memilih kursi paling samping dari deretan kursi paling belakang. Begitu dia duduk, sejumlah lelaki dekat kursi itu serempak kaasak-kusuk dalam gelap.
Latar tempat penggalan cerpen tersebut adalah...
a. pintu masuk
b. hotel bintang empat
c. arah kiri
d. kursi samping
Perhatikan teks di bawah ini!
Naura kini lebih sopan. Celana-celana jeans telah ia pensiunkan. Hijabnya kini menutupi perhiasan dada. Pakaian ketatnya pun berganti dengan gamis. Bukan karena mengikuti teman-temannya, Naura hanya merasa dirinya lebih nyaman dengan keadaan yang baru. Batinnya merasakan ketenangan. Bukankah setiap manusia akan mengalami proses hijrah dalam hidupnya? Seperti Rasullullah yang berhijrah ke Madinah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada harus bersikeras menetap di Makkah.
(Naura Ingin Hafidzah, Nia Sofyana)
Watak tokoh Naura di dalam teks disampaikan melalui ….
Penggambaran fisik dan perilaku tokoh
Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
Dialog antar tokoh
Pemikiran tokoh lain
Penjelasan langsung penulis
Perhatikan teks di bawah ini!
Dalam perjalanan ke rumah Aku terus memutar otak, mencoba menemukan solusi untuk meringankan beban Ayah. Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu terjadi? Apa Ayah harus di penjara? Mereka tidak akan peduli dengan penyakit yang bersarang di tubuh Ayah, Bagaimana Ayah bisa melewati hari-harinya di penjara dengan diabetes? Memikirkan itu membuat bulu kudukku merinding.
Sesampainya di rumah kulihat sesosok lelaki separuh baya duduk termenung di ruang tamu. Terlihat di raut wajahnya kekhawatiran yang teramat dalam. Senyum canda yang menjadi khasnya tak nampak sedikitpun. Ayah, pengorbananmu untuk hidupku sangatlah luar biasa. Seisi bumi ini pun tak akan bisa melunasi semua yang telah engkau berikan dalam hidupku.
(Biarkan Aku Dipenjara Ayah, Nia Sofyana)
Tokoh “aku” dalam kutipan cerpen di atas berwatak adalah ….
Pendiam dan penyayang
Pemarah dan penyayang
Pendendam dan mudah menyerah
Penyayang dan perhatian
Periang dan penyayang
Perhatikan teks di bawah ini!
Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok. Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
Cara pendeskripsian watak si Mbok seorang yang tidak berdaya adalah ….
secara langsung
dialog antartokoh
pikiran-pikiran tokoh
tanggapan tokoh lain
lingkungan di sekitar tokoh
Perhatikan teks di bawah ini!
Dalam perjalanan ke rumah Aku terus memutar otak, mencoba menemukan solusi untuk meringankan beban Ayah.
……………………..
Sesampainya di rumah kulihat sesosok lelaki separuh baya duduk termenung di ruang tamu. Terlihat di raut wajahnya kekhawatiran yang teramat dalam. Senyum canda yang menjadi khasnya tak nampak sedikitpun. Ayah, pengorbananmu untuk hidupku sangatlah luar biasa. Seisi bumi ini pun tak akan bisa melunasi semua yang telah engkau berikan dalam hidupku.
Setelah membaca teks di atas, lengkapilah bagian yang rumpang agar menjadi paragraph cerpen yang padu!
Bukan karena mengikuti teman-temannya, Naura hanya merasa dirinya lebih nyaman dengan keadaan yang baru. Batinnya merasakan ketenangan. Bukankah setiap manusia akan mengalami proses hijrah dalam hidupnya? Seperti Rasullullah yang berhijrah ke Madinah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada harus bersikeras menetap di Makkah.
Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu terjadi? Apa Ayah harus di penjara? Mereka tidak akan peduli dengan penyakit yang bersarang di tubuh Ayah, Bagaimana Ayah bisa melewati hari-harinya di penjara dengan diabetes? Memikirkan itu membuat bulu kudukku merinding.
Ada banyak cara yang dilakukan agar kebutuhannya terpenuhi. Salah satunya dengan berjualan atau berdagang. Tentu hal ini jauh berbeda jauh dengan profesinya sebagai guru. Lantas apakah ini salah? Seorang guru yang sudah memiliki penghasilan, masih mencari nafkah dengan cara lain, hal ini tentu berkaitan dengan kebutuhan hidupnya.
Sabar merupakan ajaran yang banyak sekali disinggung dalam Al-Qur’an maupun hadis, sehingga manusia senantiasa diarahkan untuk selalu bersabar dalam kehidupannya. Kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan dalam mengendalikan sikap, sehingga bisa dengan ikhlas dan rela hati menerima kondisi yang sedang dihadapinya demi mendapat balasan yang baik di akhirat.
Ayah berangkat meninggalkan kami. Kali ini kepergiannya begitu mengharukan. Ayah meneteskan air mata, hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Jon dan Con anak kembar. Jon kepala regu dan aku wakilnya. Kami bersepuluh sedang memandang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan saksama dari puncak bukit “panic”, pos kami terdepan. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong kampung-kampung di bawah kami dari semak-semak. Jon melambai dan aku mendekat. “Aku akan turun ke kampung di bawah itu.”
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
daerah patroli
puncak bukit
kampung
semak-semak
“Selanjutnya, masalah pengobatan dana perawatan, biar nanti seluruh guru di sini memikirkan,” tegas Bu Eli. Pak Bon bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pak Bon memang seorang berpendirian kuat. Meskipun bukan orang kaya, ia tidak mau dibantu begitu saja. Semua guru yang mengunjunginya, hanya menggelengkan kepala, kagum akan keteguhan Pak Bon.
Cara pengarang menggambarkan watak tokoh Pak Bon adalah…
Diceritakan pengarang
Diceritakan tokoh lain
Tindakan tokoh
Dialog antartokoh
Kejadian begitu cepat. Aku pulang pukul 12 siang. Segera kuparkir motor bututku di halaman sekolah. Lalu, aku segera berlari ke tempat fotokopi. Wow, betapa terkejutnya diriku tatkala kulihat ada seorang gadis di situ. Mungkin dia karyawan baaru di tempat fotokopi ini. Rambutnya yang terurai panjang serasa memesona semua orang yang melihatnya.
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam penggalan cerpen tersebut adalah ....
orang pertama pelaku utama
orang pertama sebagai pengamat
orang pertama dan orang ketiga
orang ketiga terarah
orang ketiga serba tahu
Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para pelayat sudah pulang. Sementara aku masih duduk sambil sesekali menyeka air mata. Ibu yang selama ini paling aku hormati dan sayangi tadi malam telah menghadap Sang Pencipta.
Latar suasana yang tergambar pada kutipan cerita tersebut adalah ….
haru
kecewa
sedih
khawatir
marah
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi geletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah…
di hutan, pagi hari
di desa, siang hari
di sungai, sore hari
di sungai, malam hari
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sebuah mobil colt berplat nomor merah berhenti persis di depan kedai kasur Alin. Murni berdebar-debar, kalau-kalau orang yang turun dari mobil itu utusan hotel yang memesan tiga puluh kasur single itu.
Kata tercetak tebal tersebut mengandung makna....
bangunan tempat memproduksi barang
bangunan tempat berjualan
bangunan tempat menitipkan barang
bangunan tempat menumpuk barang
Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi di setiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedongnya itu.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat …
pemberani
baik
sombong
egois
Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kabisuan mulut disumpal ujung selimut.
Makna kata langut dan kemelut dalam kutipan cerpen tersebut menyimbolkan ….
Kesedihan dan penyesalan
Kehilangan dan kesedihan
Kehampaan dan kesendirian
Kesedihan dan penderitaan
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasannya telah lenyap. Juga televisi dan beberapa perlengkapan elektronik yang ada di ruang tengah.
Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”
Tema cerita yang pas untuk cerita di atas adalah ...
Pencurian
Kesedihan
Kekhawatiran
Kelalaian
“Setidak-tidaknya, sebagai gambaran apakah Anda bersedia seandainya nanti Dewan Komisaris menunjuk Anda sebagai wakil saya?” Taksu menunduk, “Saya sungguh tidak berani mengatakan apa-apa sebelum terjadi.”
Karakter Taksu sesuai dengan penggalan cerita tersebut adalah ….
sombong
rendah hati
penakut
jujur
Bila seseorang bertanya pekerjaan apa yang saya lakukan, maka saya tak mampu menjawabnya. Wajah saya langsung menjadi merah padam dan tergagap-gagap. Saya cemburu terhadap orang yang bisa mengatakan, “Saya tukang batu.”
Watak tokoh saya dalam penggalan cerita tersebut adalah ….
penakut
pemalu
pembohong
pendiam
Ketika burung-burung telah pulang ke sarangnya, ayah menerima kabar dari seseorang bahwa teman ayah tewas tertembus timah panas. Hal ini amat memalukan sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi, “Aku sudah malu padamu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yang Engkau firmankan.” Tatkala mentari telah mengintip bumi, ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya ke dalam bumi ini.
Latar waktu dan suasana kutipan cerpen tersebut adalah ….
malam hari yang hening, menegangkan
pagi dan siang hari, memalukan
siang dan sore hari, mencemaskan
malam dan pagi hari, mengenaskan
"Sebenarnya sangat banyak kejadian seperti itu yang terjadi kepadaku, sangat sering. Terkadang aku bingung dengan orang-orang yang tak peduli untuk menutup aurat mereka. Sungguh, sebenarnya apa arti jilbab bagi mereka?"
(Kutipan Cerpen "Apa Arti Jilbab Bagimu" karya Lamia N S)
Nilai yang terkandung dalam cerita di atas adalah?
nilai sosial
nilai agama
nilai budaya
nilai moral
"Iyaa, kita mau. Asalkan kamu mau janji akan nerusin tari jaipong ini. Kan asik kalo kita bisa ngewakilin Indonesia ke berbagai negara"
Nilai yang terkandung dalam cerita di atas adalah?
nilai moral
nilai budaya
nilai sosial
nilai agama
Meski memiliki kekurangan, ia tumbuh mejadi wanita yang cantik dan cerdas.
Unsur intrinsik yang menonjol pada kutipan cerpen di atas, adalah...
Tema
Tokoh dan penokohan
Latar
Alur
Janganlah pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab apa yang telah kita lakukan pastilah tak sebanding dengan cinta dan ketulusannya.
Unsur yang menonjol pada kutipan cerpen di atas, adalah...
Tema
Alur
Latar
Amanat
Minggu pagi yang cerah, Ardi, Handi, dan Dani berada di Candi Trowulan. Mereka merupakan siswa pilihan dari sebuah SMP yang sedang melakukan tugas pengamatan untuk karya ilmiah remaja. Di tengah keramaian orang yang sedang berwisata, mereka sibuk menyelesaikan laporannya.
Dalam struktur teks cerpen, cuplikan tersebut termasuk bagian...
Abstrak
Komplikasi
Orientasi
Resolusi
Harry Potter tinggal bersama Mr. & Mrs. Dursley dan sepupunya Dudley Dursley di Privet Drive. Hidupnya selama hampir 11 tahun dijalani dengan sangat mengenaskan. Dimana paman, bibi, dan sepupunya sama sekali tidak menyukai keberadaannya di keluarga mereka. Namun, sebuah surat atau tepatnya ratusan surat yang dikirimkan kepadanya tepat menjelang ultahnya yang kesebelas, telah membuat hidupnya berubah.”
Kalimat yang menunjukkan latar tempat pada cerita di atas adalah...
1
2
3
4
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….
(1)
(2)
(3)
(4)
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah.…
Mentari meredup
Ketika kerumunan tidak bersama
Mentari di sebelah barat
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Bacalah kutipan berikut dengan saksama untuk menjawab soal no. 11 dan 12!Di Kantor PosOleh: Muhammad Ali“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”“Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerpen tersebut bertema ….
Keberanian pegawai mengakui kekeliruan.
Kejujuran seseorang dalam hidup.
Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang.
Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos.
