wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Menyusun Cerita Pendek

Total questions: 20

Worksheet time: 1hrs 9mins

Name
Class
Date
1.

“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Sinta. Diɑ merɑsɑ sulit bernɑpɑs tɑtkɑlɑ melihɑt isi lemɑri berɑntɑkɑn. Uang dan perhiasaan telah lenyap. Selain itu, televisi dan beberapa peralatan elektronik ada di ruang tengah. Bu Sinta terduduk lemas tatkala melihat sebuah catatan kecil di atas bantal. “Sekɑrɑng kɑliɑn tɑhu siɑpɑ pengirim kɑrcis itu.”

Tema kutipan cerpen diatas adalah..

a)

A. Kehilangan uang, perhiasan dan peralatan elektronik

b)

B. Pencurian

c)

C. Catatan kecil

d)

D. Pemberian karcis pertunjukan

2.

Pak Abdul menyampaikan kepada warga masyarakat, termasuk orang-orang yang ada di dusunnya untuk bekerjasama dan bergotong rayong memperbaiki saluran drainase.Hal ini dilakukan utnuk mengaliri air ke arah sawah-sawah di desa. Wɑlɑupun semuɑ penduduk desɑ sudɑh menyɑtɑkɑn kesepɑkɑtɑnnyɑ, ternyɑtɑ pɑdɑ sɑɑt muɑlɑi bekerjɑ hɑnyɑ ɑdɑ enɑm orɑng yɑng mengikuti Pɑk ɑbdul. Dengɑn tɑbɑh iɑ meneruskɑn pekerjɑɑn itu. Oleh kɑrenɑ itu, setiɑp orɑng hɑrus menyɑdɑri ɑkɑn pentingnyɑ gotong royong bersɑmɑ...

Watak Pak Abdul berdasarkan kutipan teks di atas adalah…

a)

A. Sabar

b)

B. Pemarah

c)

C. Bijaksana

d)

D. Dermawan

3.

Sebuah mobil colt berplat nomor merah berhenti persis di depan kedai kasur Alin. Murni berdebardebar, kalau-kalau orang yang turun dari mobil itu utusan hotel yang memesan tiga puluh kasur single itu. Ia berusaha tersenyum dan menyembunyikan giginya yang terlalu menonjol ke depan. Orang berpakaian pegawai itu juga tersenyum membalas. "Maaf, Bu. Saya pegawai ketertiban Balaikota. Apakah racun api Ibu masih baik? Boleh saya periksa?"

Kata tercetak miring tersebut mengandung makna . . . .

a)

A. bangunan tempat memproduksi barang

b)

B. bangunan tempat menitipkan barang

c)

C. bangunan tempat berjualan

d)

D. bangunan tempat menumpuk barang

4.

(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.

Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor . . . .

a)

(1)

b)

(2)

c)

(3)

d)

(4)

5.

Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.

Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah . . . .

a)

A. Mentari meredup

b)

B. Ketika kerumunan tidak bersama

c)

C. Pucuk daun di sebelah barat

d)

D. Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu

6.

P1

Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. ”

P2

Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.” 4.

Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah . . . .

a)

A. kalimat pertama pada paragraf pertama

b)

B. Kalimat kedua pada paragraph pertama

c)

C. Kalimat keempat pada paragraf kedua

d)

D. Kalimat ketiga pada paragraf kedua

7.

P1

Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. ”

P2

Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.” 4.

Amanat yang terdapat pada cerpen tersebut adalah . . . .

a)

A. Jangan menyusahkan orang tua hanya karena ingin memberi hadiah teman!

b)

B. Usahakan selalu memberi hadiah kepada teman!

c)

C. Temanilah ibumu saat duduk-duduk di beranda!

d)

D. Matikan lampu jika sudah tidak diperlukan!

8.

Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat. ”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”

"matahari yang mulai tenggelam" tersebut mengandung makna . . . .

a)

A. hari hampir siang

b)

B. hari hampir senja

c)

C. hari hampir malam

d)

D. hari hampir subuh

9.

(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).

Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor . . . .

a)

A. (1) dan (2)

b)

B. (2) dan (3)

c)

C. (3) dan (4)

d)

D. (4) dan (5)

10.

Ku tak mungkin jatuh cinta kan? Tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, dan ku akan selalu menganggap bohong apa pun yang kau ucapkan kepadaku sejak itu, termasuk yang itu ... yang dua kali kau sampaikan padaku. Sampai kapan pun kau merayuku, aku tak akan pernah lagi percaya padamu. Kebohongan-kebohonganmu telah merusak cintaku.

Bukti bahwa watak tokoh “kamu” pembohong dapat diketahui melalui . . . .

a)

A. Tingkah laku tokoh kamu

b)

B. Tingkah laku tokoh aku

c)

C. Dialog tokoh kamu

d)

D. Dialog tokoh aku

11.

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Apa Ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sana itu?" Ia menjawab, "Silakan masuk, Nyonya! Kalau Anda ibunya Eric, sungguh Anda tak punya hati!”. Ia membuka pintu tempat tinggalnya. (1) "Tolong katakan, di mana ia sekarang? Saya janji menyayanginya dan tidak akan meninggalkannya lagi!” (2) Aku berlari memeluk tubuhnya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Jasadnya ditemukan di kolong jembatan,” jawabnya dengan suara terbata-bata. (3) ”Eric... maafkan Ibu, Nak!” Aku sungguh menyesal, mengapa anakku Eric, dulu kutinggalkan. (4)

Bukti latar tempat pada kutipan cerita tersebut ditandai nomor . . . .

a)

A. (1)

b)

B. (2)

c)

C. (3)

d)

D. (4)

12.

. Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi disetiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedungnya itu.

Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat . . . .

a)

A. pemberani

b)

B. baik

c)

C. sombong

d)

D. egois

13.

Kutipan Cerpen I

"Sudah saya pikir masak-masak!" Saya terkejut. "Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!" Taksu menggeleng. "Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru!" "Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!" Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah laptop baru yang paling canggih, sebagai kejutan.

Kutipan Cerpen II

"Jadi, apa yang membawamu kemari?" "Kenangan." "Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini?" Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum katakata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin. Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya. Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya soak bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Komentar atas perbedaan pola pengembangan kedua kutipan cerpen tersebut adalah . . . .

a)

A. Kutipan I menggunakan alur sorot balik. Kutipan II menggunakan alur maju.

b)

B. Kutipan I menggunakan alur maju. Kutipan II menggunakan alur campuran.

c)

C. Kutipan I menggunakan alur sorot balik. Kutipan II menggunakan alur campuran.

d)

D. Kutipan I menggunakan alur maju. Kutipan II menggunakan alur sorot balik.

14.

. . . . “Apa-apaan sih, elo? Posternya kan jadi sobek!!!” “Sorry, Rin! Gue bener-bener nggak sengaja!” Rinta sama sekali nggak ngegubris pembelaan Anya. Ia masih memandangi poster Blur kesayangannya yang kini sudah terbagi dua karena robek. “Rin, sorry,ya. Gue . . . .” “Aah! Udah, deh! Pulang, sana!” potong Rinta kesal, matanya sudah sembap, hampir nangis. Anya nggak mau memperburuk keadaan. Ia pun langsung keluar dari kamar Rinta dan bergegas pulang.

Kutipan teks cerpen tersebut memuat bagian struktur. . . .

a)

A. orientasi

b)

B. resolusi

c)

C. komplikasi

d)

D. koda

15.

Berikut ini yang bukan struktur teks cerpen adalah . . . .

a)

A. orientasi

b)

B. resolusi

c)

C. komplikasi

d)

D. imajinasi

16.

Senyum Karyamin

Karya : Ahmad Thohari

(1) Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

(2) Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kirike kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikannapas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

(3) Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunangkunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti,dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

(4) ”Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit.” Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum.

(5) Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya. Seribu lunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kampong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

Nomor 3 pada cerpen singkat di atas termasuk struktur teks cerpen bagian . . . .

a)

A. orientasi

b)

B. resolusi

c)

C. komplikasi

d)

D. koda

17.

Senyum Karyamin

Karya : Ahmad Thohari

(1) Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

(2) Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kirike kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikannapas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

(3) Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunangkunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti,dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

(4) ”Ya, kamu memang mbeling, Min. di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kau persulit.” Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum.

(5) Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya. Seribu lunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kampong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

Nomor 5 pada cerpen singkat di atas termasuk struktur teks cerpen bagian . . . .

a)

A. orientasi

b)

B. resolusi

c)

C. komplikasi

d)

D. koda

18.

Aku pulang, perasaanku tak karuan. Dan aku tak tertidur. Aku memejamkan mata. Herman ada dalam kepala. Mengapa aku tak dapat melenyapkan dia dan memandang dirinya tanpa arti? Mengapa sedih hatiku memandang dia bercanda dengan gadis lain? Aku merasa sendiri dan terpencil. Sendiri dan terlupakan. Sendiri dan tak punya arti.

Konflik pada penggalan cerpen tersebut adalah . . . .

a)

A. aku dengan dia

b)

B. aku dengan Herman

c)

C. aku dengan gadis lain

d)

D. aku dengan diri sendiri

19.

1. Menentukan perwatakan

2. Menentukan sudut pandang

3. Menyajikan peristiwa yang ditentukan dalam alur

4. Menentukan latar

5. Menentukan tema

Susunan yang tepat langkah menyusun teks cerpen adalah . . . .

a)

A. 5)-2)-1)-4)-3)

b)

B. 5)-3)-1)-4)-2)

c)

C. 1)-2)-3)-4)-5)

d)

D. 5)-1)-2)-4)-3)

20.

1) Masing-masing mendapat bagian tiga buah kurma per kepala.

2) Maka, pada hari itu dapat ditebak, orang-orang membukakan puasanya dengan tiga butir kurma dari Pak Ayub.

3) Biasanya, kalau besok paginya di tepian sungai atau di lapau kopi, orang bercerita tentang nikmatnya membukakan puasa dengan tiga butir kurma, berarti orang-orang itu kemarin habis dikunjungi Pak Ayub si Tuan Kurma.

4) Artinya lagi, Pak Ayub dengan bayang-bayang sepanjang badannya, telah berbuat pengasih dan penyayang serta adil ke warga kampung.

5) Biasanya, sekali atau dua kali dalam bulan Ramadan Pak Ayub mengantarkan kurma ke setiap rumah-rumah

6) Tak heran, di hari pembagian kurma itu, boncengan sepedanya dibebani karung plastik berisi kurma. Dikutip dari: Yusrizal K.W, “Tiga Butir Kurma Per Kepala” dalam Kembali ke Pangkal Jalan Kumpulan cerpen Yusrizal K:W Kompas, Jakarta 2004

Susunan cerita yang runtut berdasarkan teks di atas adalah . . . .

a)

A. 3)-5)-4)-1)-6)-2)

b)

B. 3)-1)-2)-4)-5)-6)

c)

C. 3)-4)-5)-1)-6)-2)

d)

D. 4)-3)-5)-1)-2)-3)