wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Pretes Literasi SMP

Total questions: 28

Worksheet time: 1hrs 14mins

Name
Class
Date
1.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Penulis dari artikel di atas adalah ....

a)

sekelompok wartawan majalah kampus

b)

seorang wartawan majalah kampus

c)

seorang wartawan lepas

d)

seorang pengamat sosial remaja

2.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Berdasarkan isi artikel di atas, tulislah satu contoh perilaku konsumtif ….

4 lines
3.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Berdasarkan isi artikel di atas, tentukan setiap pernyataan berikut Benar atau Salah

a. Perilaku konsumtif adalah gaya hidup yang suka membelanjakan uang dengan pertimbangan yang matang.

a)

Benar

b)

Salah

4.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah untuk pernyataan berikut.

b. Pengaruh internet dan pergaulan di lingkungan konsumtif adalah dua faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif di kalangan remaja.

a)

Benar

b)

Salah

5.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah untuk pernyataan berikut.

c. Remaja yang memiliki perilaku konsumtif biasanya kurang memikirkan dampak dari pemborosan yang dilakukan.

a)

Benar

b)

Salah

6.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah untuk pernyataann berikut.

d. Kemampuan mengontrol keuangan dengan bijak adalah salah satu cara untuk mengurangi perilaku konsumtif.

a)

Benar

b)

Salah

7.

Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

Saran tersebut terlalu umum, kurang begitu jelas langkah-langkahnya. Berikan saran-saran yang lebih konkrit untuk mencegah perilaku konsumtif di kalangan remaja!

4 lines
8.

Budaya Konsumtif di Kalangan Generasi Muda

Mei 9, 2022Artikel, Teknologi, Trend, Weekly News

Banjarmasin – Generasi muda sekarang, atau yang lebih sering disebut sebagai generasi milenial terbiasa hidup di era digital yang serba canggih. Tidak jarang kebanyakan dari mereka memiliki gaya hidup konsumtif akibat dari modernisasi. Mudahnya akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi memengaruhi keinginan generasi milenial untuk memiliki, meniru, atau mencoba merasakan hal yang sama. Misalnya saja ketika muncul sebuah tren baru yang populer, maka mereka akan melakukan apapun untuk mengikutinya.

Konsumtif sendiri adalah perilaku atau gaya hidup yang suka menghabiskan atau membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumtif artinya bersifat konsumsi, yaitu hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri. Biasanya orang yang konsumtif tidak akan memikirkan dampak jangka panjang dari pemborosannya.

Dilansir dari CNN Indonesia, perilaku konsumtif yang sering dilakukan oleh kaum milenial dipengaruhi oleh budaya digital dan maraknya penggunaan internet. Peran internet yang cukup penting dalam kehidupan anak muda menjadi latar belakang terjadinya budaya konsumtif tersebut. Dengan kehadiran internet, berbagai macam transaksi dapat menjadi lebih praktis, baik dalam hal transportasi, memesan makanan, pergi jalan-jalan, belanja pakaian maupun kebutuhan sehari-hari.

Selain adanya pengaruh internet, pengaruh pergaulan juga ikut andil menjadi penyebab munculnya budaya konsumtif. Anak muda yang lingkup pergaulannya berada di lingkungan konsumtif, tidak menutup kemungkinan akan memiliki sifat konsumtif pula. Mereka akan mengikuti gaya, penampilan, maupun hal lain agar tidak kalah dengan teman di lingkungan pergaulannya itu.

Perilaku konsumtif yang dialami oleh generasi muda dapat mengakibatkan berbagai hal. Salah satunya adalah kondisi keuangan yang buruk karena uang terus-menerus dipakai tanpa tujuan yang jelas, misalnya dihabiskan untuk mengikuti tren-tren yang sedang populer. Jika hal ini dibiarkan, maka generasi muda akan menjadi sosok yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Oleh karena itu, ada baiknya generasi muda dapat mengontrol keuangannya untuk dapat digunakan pada pengeluaran yang lebih bermanfaat agar tidak terciptanya perilaku konsumtif yang semakin membesar dan membawa pengaruh-pengaruh buruk lainnya.

 

Jurnalis: Lisa Nor Fitriani, Olivia Andriani, Siti Aisyah

Redaktur: Aprilliani

 

Berikan penilaianmu apakah gambar yang terdapat pada artikel tersebut sesuai dengan isi artikel?

A.      Sesuai

B.      Tidak Sesuai

4 lines
9.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Tulislah ide pokok paragraf pertama!

4 lines
10.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Pilihlah pernyataan-pernyataan berikut Benar atau Salah sesuai dengan isi wacana di atas!

a. Senyawa dopamin tidak diproduksi secara alamiah oleh tubuh.

 

a)

Benar

b)

Salah

11.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah pada pernyataan berikut!

b. Hyper-palatable food dibuat agar orang-orang suka makan.

a)

Benar

b)

Salah

12.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah pada pernyataan berikut!

c. Penguat rasa, perisa, dan pewarna dalam makanan membuat orang kecanduan makan.

a)

Benar

b)

Salah

13.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah pada pernyataan berikut!

d. Makanan yang menimbulkan rasa kecanduan adalah makanan dengan cita rasa nikmat.

a)

Benar

b)

Salah

14.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Berdasarkan teks di atas, pilihlah Benar atau Salah pada pernyataan berikut!

e. Makanan dengan rasa nikmat biasanya diolah dengan proses berlebihan dan mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

a)

Benar

b)

Salah

15.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Mengapa industri pengolahan makanan terus berupaya mengombinasikan aneka rasa, tekstur, dan aroma yang meningkatkan cita rasa makanan?

a)

Untuk menghasilkan sebuah karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

b)

untuk mengikuti perkembangan di bidang ilmu pengolahan makanan

c)

untuk membuat konsumen terus membeli produk makanannya

d)

untuk menciptakan makanan yang lebih sehat bagi konsumen

16.

Bacalah teks berikut!

Awas, Kecanduan Makan!

Ternyata, tidak hanya narkotika atau obat-obatan terlarang yang dapat menyebabkan kecanduan, makanan pun dapat menyebabkan Anda mengalami kecanduan. Menurut Jansen Ongko, konsultan nutrisi dan pengelola situs gaya hidup sehat www.ask-jansen.com, kecanduan berhubungan dengan rewarding system di mana terdapat kondisi yang menyenangkan dan menimbulkan rasa senang atau bahagia.

“Senyawa yang memicu rasa senang itu adalah dopamin diproduksi oleh bagian otak tertentu dan berkorelasi positif dengan rewarding system tersebut,” terang Jansen. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu juga menghasilkan efek menyerupai pelepasan dopamin alami karena otak tidak dapat membedakan sumber stimulusnya. “Nah, apabila otak sudah terlalu bergantung pada sumber tertentu seperti sensasi rasa makanan atau obat-obatan terlarang, maka kondisi ini akan memengaruhi regulasi alamiah dari sistem itu sehingga tubuh akan memintanya kembali dan menimbulkan efek kecanduan.”

Pertanyaannya, makanan seperti apa yang dapat menyebabkan kecanduan? “Biasanya adalah semua makanan yang termasuk dalam kategori makanan dengan cita rasa sangat nikmat atau hyper-palatable food yang menghasilkan produksi dopamin dalam jumlah besar,” ujar Jansen. Dan, makanan pada kategori ini biasanya juga telah melalui proses pembuatan yang berlebihan serta mengandung gula, garam, dan lemak yang tinggi.

Saat ini, penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan juga makin berkembang pesat, mulai dari kombinasi aneka rasa, tekstur, aroma yang meningkatkan citarasa, hingga daya simpan makanan. Perkembangan dalam hal Bahan Tambahan Pangan seperti penguat rasa, perisa,dan pewarna adalah contohnya. Rasa keripik yang renyah, es krim atau keju yang gampang meleleh di mulut, kombinasi rasa yang kontras, aroma dan warna-warni yang menggugah selera, serta tekstur yang lembut bisa dibilang sebagai karya dari penelitian di bidang ilmu pengolahan makanan.

Keseluruhan upaya tersebut tentunya dibuat untuk satu alasan, menciptakan konsumen yang loyal melalui penyajian hyper palatable food yang dapat memicu produksi dopamin dalam jumlah besar, sehingga memberikan sensasi nyaman secara instan layaknya obat-obatan terlarang. Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan citarasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan. (Majalah Men’s health)

Dan makanan ini biasanya telah melalui proses pembuatan yang berlebihan...” (Paragraf 3).

Kata ini pada kalimat di atas merujuk pada ...



(a)  

17.

Namun, yang perlu Anda waspadai adalah bahwa makanan dengan cita rasa yang sangat enak, yang dapat menyebabkan Anda menjadi adiktif, mungkin malah menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan.

Makna kata adiktif pada kalimat di atas adalah ….

(a)  

18.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan petunjuk!

11.  Apakah pernyataan berikut ini merupakan fakta atau opini? Klik pada Fakta atau Opini untuk setiap pernyataan.

a. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki zat adiktif yang sama seperti narkoba.

a)

Fakta

b)

Opini

19.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan petunjuk!

11.  Apakah pernyataan berikut ini merupakan fakta atau opini? Klik pada Fakta atau Opini untuk setiap pernyataan.

b. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid.

a)

Fakta

b)

Opini

20.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Apakah pernyataan berikut ini merupakan fakta atau opini? Klik pada Fakta atau Opini untuk setiap pernyataan.

c. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba.

a)

Fakta

b)

Opini

21.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Apakah pernyataan berikut ini merupakan fakta atau opini? Klik pada Fakta atau Opini untuk setiap pernyataan.

d. Orang-orang Inggris benar-benar adiktif terhadap keju.

a)

Fakta

b)

Opini

22.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Apakah pernyataan berikut ini merupakan fakta atau opini? Klik pada Fakta atau Opini untuk setiap pernyataan.

e. Makanan olahan atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan bisa memicu perilaku makan adiktif

a)

Fakta

b)

Opini

23.

Keju Bisa Membuat Kecanduan

Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein.

Ada alasan menarik kenapa seseorang sulit menolak sepotong pizza yang dilumuri oleh keju. Para ilmuwan mengklaim bahwa keju memiliki sifat adiktif yang sama seperti narkoba, karena bahan kimia yang disebut kasein. Kasein terdapat dalam produk susu dan bisa memicu reseptor opioid, wilayah di otak yang menyebabkan seseorang merasa kecanduan. Studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan ini meneliti kandungan yang berkhasiat sebagai narkoba di dunia makanan.

Mereka menemukan pizza sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia, terutama karena lelehan kejunya. “Lemak juga diprediksi menjadi masalah semua orang, terlepas dari apakah mereka mengalami gejala kecanduan makanan atau tidak,” kata Erica Schulte, salah seorang penulis studi tersebut.

Neal Barnard dari komite dokter untuk pengobatan yang bertanggung jawab mengatakan bahwa kasein akan memecah saat proses pencernaan, dan melepaskan zat serupa candu opium yang disebut casomorphin. Sejumlah studi bahkan telah mengungkap, casomorphin yang merangsang reseptor opioid dapat menyebabkan kecanduan di otak. “Casomorphin benar-benar dapat membangkitkan reseptor dopamin dan memicu elemen adiktif," kata seorang ahli diet Cameron Wells. Susu mengandung kasein dalam jumlah kecil. Namun, untuk menghasilkan satu pon keju (0,5 kilogram), dibutuhkan sekitar sepuluh pon susu atau sekitar 4,5 kilogram. Jadi, ketika mengonsumsi keju dalam jumlah banyak, Anda juga menelan kasein dalam jumlah tinggi.

Menurut studi yang dilakukan Universitas Illinois, rata-rata orang di Inggris diperkirakan mengonsumsi sekitar 16 kilogram. Itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar adiktif terhadap keju.

Masalahnya, keju bisa berpengaruh buruk ketika keju melalui proses pengolahan tinggi.

Studi menunjukkan, makanan olahan, atau makanan berlemak ditambah karbohidrat olahan, bisa memicu perilaku makan adiktif.

Orang-orang dengan gejala kecanduan makanan atau dengan indeks massa tubuh tinggi melaporkan pola makan yang banyak didominasi makanan olahan.

Niceole Avena, asisten profesor farmakologi di Mount Sinai School of Medicine di New York City, menjelaskan, bahwa ini adalah langkah awal untuk menguji makanan, dan sifat makanan tertentu, yang dapat memicu respons adiktif.

“Ini bisa mengubah cara kita melakukan pengobatan obesitas. Ini bukan masalah sederhana seperti diet makanan tertentu, melainkan mengadopsi metode yang digunakan untuk mengurangi rokok, minuman beralkohol, dan pemakaian narkoba“ katanya. (Sumber : CNN Indonesia).

Mengapa orang Inggris disebutkan benar-benar adiktif terhadap keju?

4 lines
24.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pizza yang dilumuri keju sebagai salah satu makanan yang paling adiktif di dunia sama seperti narkoba. Dengan informasi tersebut, Apakah kamu setuju untuk tidak mengomsumsi pizza? Berikan alasan kalian!

A. Setuju

B. Tidak setuju

Alasan: ................................

4 lines
25.

 

Bacalah teks berikut!

Di suatu kerajaan, ada seorang raja yang sudah tua. Dia mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai. Akan tetapi, ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat, tentu saja tidak akan memikirkan nasib rakyatnya.

Akhirnya, sang raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil untuk menghadap. Raja berkata, “Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya maka ia berhak menjadi putra mahkota. Bagaimana, apakah kalian bertiga siap menjawab?”

“Siap, Ayah!” jawab ketiga putra itu.

“Pertanyaannya begini, kalau kamu menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyat?”

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab.

“Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung,” jawab putra tertua. Kemudian, putra kedua menjawab, “Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang.”

“Kini, giliranmu untuk menjawab!” Kata raja kepada si bungsu.

“Cintaku kepada rakyatku seperti garam,” jawab si bungsu.

“Sekarang aku ingin tahu,mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti gunung?”

Tanya raja kepada putra tertua.

“Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda setinggi gunung. Karena itu, tidak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku, “Jawab putra tertua” Di Pulau Madura ini tidak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?” tanya Raja.

Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang, di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan.”

“Engkau telah membuat perumpamaan dengan benda yang belum pernah engkau lihat,” Kata Raja dengan raut muka masam.

 

Kemudian, dia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan.

“Bintang itu benda paling tinggi. Jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi,” kata putra kedua. Kali ini Raja hanya terdiam membisu mendengar jawaban putra kedua.

“Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?” tanya Raja kepada si bungsu.

“Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorang pun rakyatku yang tidak mendapat cintaku. Itu maksud cintaku seperti garam,” jawab si bungsu.

Mendengar penjelasan si bungsu, Raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Setelah diam sejenak, Raja pun berkata,”Aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota.”

 

Cerita Rakyat dari Madura, “Mencari Calon Raja”

Inti cerita di atas adalah ….

a)

Raja memilih salah satu anaknya yang berwatak sopan dan rendah hati,sehingga anak bungsulah yang terpilih.

b)

Mencari calon raja harus berdasarkan ilham supaya adil dan dianggap bijak dalam menentukan pilihan

c)

Raja memilih salah satu anaknya yang berwatak pemberani untuk menjadi calon raja.

d)

Upaya bijaksana seorang raja dalam mencari pengganti yang memiliki karakter cinta kepada rakyatnya.

26.

Bacalah teks berikut!

Di suatu kerajaan, ada seorang raja yang sudah tua. Dia mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai. Akan tetapi, ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat, tentu saja tidak akan memikirkan nasib rakyatnya.

Akhirnya, sang raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil untuk menghadap. Raja berkata, “Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya maka ia berhak menjadi putra mahkota. Bagaimana, apakah kalian bertiga siap menjawab?”

“Siap, Ayah!” jawab ketiga putra itu.

“Pertanyaannya begini, kalau kamu menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyat?”

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab.

“Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung,” jawab putra tertua. Kemudian, putra kedua menjawab, “Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang.”

“Kini, giliranmu untuk menjawab!” Kata raja kepada si bungsu.

“Cintaku kepada rakyatku seperti garam,” jawab si bungsu.

“Sekarang aku ingin tahu,mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti gunung?”

Tanya raja kepada putra tertua.

“Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda setinggi gunung. Karena itu, tidak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku, “Jawab putra tertua” Di Pulau Madura ini tidak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?” tanya Raja.

Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang, di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan.”

“Engkau telah membuat perumpamaan dengan benda yang belum pernah engkau lihat,” Kata Raja dengan raut muka masam.

 

Kemudian, dia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan.

“Bintang itu benda paling tinggi. Jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi,” kata putra kedua. Kali ini Raja hanya terdiam membisu mendengar jawaban putra kedua.

“Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?” tanya Raja kepada si bungsu.

“Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorang pun rakyatku yang tidak mendapat cintaku. Itu maksud cintaku seperti garam,” jawab si bungsu.

Mendengar penjelasan si bungsu, Raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Setelah diam sejenak, Raja pun berkata,”Aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota.”

 

Cerita Rakyat dari Madura, “Mencari Calon Raja”

Tulislah dua kalimat pada cerita di atas yang menunjukkan kekecewaan Raja kepada putranya!

(a)  

27.

Bacalah teks berikut!

Di suatu kerajaan, ada seorang raja yang sudah tua. Dia mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai. Akan tetapi, ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat, tentu saja tidak akan memikirkan nasib rakyatnya.

Akhirnya, sang raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil untuk menghadap. Raja berkata, “Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya maka ia berhak menjadi putra mahkota. Bagaimana, apakah kalian bertiga siap menjawab?”

“Siap, Ayah!” jawab ketiga putra itu.

“Pertanyaannya begini, kalau kamu menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyat?”

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab.

“Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung,” jawab putra tertua. Kemudian, putra kedua menjawab, “Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang.”

“Kini, giliranmu untuk menjawab!” Kata raja kepada si bungsu.

“Cintaku kepada rakyatku seperti garam,” jawab si bungsu.

“Sekarang aku ingin tahu,mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti gunung?”

Tanya raja kepada putra tertua.

“Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda setinggi gunung. Karena itu, tidak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku, “Jawab putra tertua” Di Pulau Madura ini tidak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?” tanya Raja.

Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang, di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan.”

“Engkau telah membuat perumpamaan dengan benda yang belum pernah engkau lihat,” Kata Raja dengan raut muka masam.

 

Kemudian, dia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan.

“Bintang itu benda paling tinggi. Jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi,” kata putra kedua. Kali ini Raja hanya terdiam membisu mendengar jawaban putra kedua.

“Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?” tanya Raja kepada si bungsu.

“Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorang pun rakyatku yang tidak mendapat cintaku. Itu maksud cintaku seperti garam,” jawab si bungsu.

Mendengar penjelasan si bungsu, Raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Setelah diam sejenak, Raja pun berkata,”Aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota.”

 

Cerita Rakyat dari Madura, “Mencari Calon Raja”

Tulislah satu kalimat pada cerita di atas yang menunjukkan kepuasan Raja kepada putranya!

(a)  

28.

Perhatikan dialog berikut dengan saksama !

Berikut ini percakapan antara dua orang yang telah membaca cerita “Mencari Calon Raja”

Badu :

 “Bagus juga ya, cerita itu,saya setuju dengan sikap raja yang memilih si bungsu sebagai calon pengganti putra mahkota karena memang benar calon raja itu harus yang dekat dengan rakyatnya.”

Dodi :

“Tapi Du, menurut saya,harusnya raja itu memilih anak paling tua karena dalam aturan kerajaan putra mahkota itu harus anak sulung, masa anak paling kecil “.

 

Berdasarkan dialog di atas, pendapat siapakah yang kamu setujui? Berikan alasanmu

4 lines