WorksheetsXII DF Sesi 4
Total questions: 15
Worksheet time: 1hrs 15mins
“Ini tidak adil! Ini tidak adil! Teriak saya pada Jumat dini hari itu. Saya tersedu-sedu di pojok ditunggui istri yang ikut berlelehan air matanya tak mengerti. Saya memukul-mukul dinding sambil terus nyerocos.
“Mengapa justru Bibit yang dipilih! Kenapa bukan saya bangkotannya. Kenapa bukan kamu ibunya. Kenapa bukan Joko atau Jarot.” Istri serta merta memeluk saya sambil menangis sejadi-jadinya. Bibit satu-satunya harapan saya di dunia, telah dijemput Malaikat Izrail.
Konflik dalam kutipan teks tersebut adalah ...
Kekesalan dan kekecewaan seseorang terhadap kejadian yang menimpanya.
Pertengkaran seorang suami dengan istri yang tidak mengurus anaknya
Perdebatan seorang anak dengan ayahnya yang akan meninggal dunia
Keinginan yang mengebu-gebu, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
Kerelaan melepas masa depan seorang suami yang telah hilang
Tuti gelisah dan terasa olehnya hilanglah kepercayaanakan kemampuan dan kecakapannya. Tuti sudah sangat letih lahir dan batin. Dalam dua bulan ini, tak lain kerjanya daripada untuk perkumpulan. Mula-mula konggres Putri Sedar yang sangat banyak meninta tenaganya sebagai ketua cabang Jakarta yang harus mengatur konggres itu. Sudah itu konggres Perikatan Perkumpulan Prempuan di Sala pula. Dalam seminggu di Bandung sejak ia pulang dari Sala, setiap hari sebagian waktunya dipakainya untuk menyiapkan laporan konggres.
Konflik yang dialami tokoh dalam teks tersebut adalah konflik ...
batin
fisik
lingkungan
sosial
kemanusiaan
Lama benar ia menangis, tak hilang-hilang wajah Corrie dari pandangannya. Cintanya memang belum putus kepada Corrie, karena cinta itu ialah cinta yang mula-mula sudah dikandung semasa masih berseluar pendek ke sekolah rendah. Seketika itu hilanglah segala kesenangan hati dari Hanafi. Sekiranya Corrie masih ada di Betawi, niscaya Hanafi akan keluar pada malam itu dari kamarnya dan akan mencari kekasih itu ke tempatnya.
Konflik yang dialami Hanafi pada kutipan teks tersebut disebabkan oleh ...
Wajah Corrie yang selalu ada dalam mimpi
Rasa cinta kepada Corrie yang begitu besar.
Cintanya kepada Corrie sejak masih kecil.
Corrie meninggalkan Hanafi di Betawi
Hanafi tidak dapat menemui Corrie di Betawi
Tamparan berkali-kali dari lelaki kekar itu membuat Yadi terhuyung-huyung. Lelaki kerempeng itu terjatuh. Sudut kamar menjadi tumpuan setelah kepalanya membentur tiang beton dan kursi kayu. Darah menetes dari atas telinganya juga dari dagu kanannya.
Latar tempat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
teras rumah
samping kamar
ruang tamu
dapur
dalam kamar
Embusan uap es dari Laut Utara menyapu Semenanjung Zeebruggae di perbatasan Belanda, melesat bebas bersiul, yang mengalanginya hanya dua tubuh kurus anak Melayu yang seumur hidupnya tak pernah berjumpa dengan salju. Gelap mengerucut dililit dingin, suara alam lenyap tersiap angin, bahkan angin sendiri membeku.
Latar waktu yang dominan dari kutipan teks tersebut adalah ...
pagi
siang
sore
senja
malam
Angin tenggara telah habis di bulan Bhadrawada. Bumi Jawa memasuki musim pancaroba. Pohon-pohon merontokkan daunnya untuk mengurangi beban, sedangkan binatang-binatang kelelahan mencari sumber air. Angin bertiup kencang ketika matahari berada di atas kepala, menyengat tiada terkira.
Latar yang dominan dari kutipan teks tersebut adalah ...
tempat
waktu
suasana
keadaan
situasi
Beberapa lama Yusuf tafakur berdiri di tengah-tengah ketenangan dan kesentosaan alam. Sebab baginya, bunyi ombak memecah tiada putus-putusnya, berlagu turun naik, lambang ketenangan dan kesentosaan alam yang gemuruh di tengah ketenangan. Maka perlahan-lahan Yusuf berbalik menuju ke tepi pula menjinjing sepatunya. Berjalanlah ia selangkah-selangkah di atas karang.
Latar suasana dari kutipan teks tersebut adalah ...
mencekam
ramai
sunyi
cemas
khawatir
Syalimah semula menolak. Berat baginya melepaskan Enong dari sekolah dan harus bekerja jauh dari rumah. Anak itu baru kelas enam SD. Tapi akhirnya ia luluh karena Enong mengatakan tak bisa menerima jika adik-adiknya harus berhenti sekolah karena biaya. Ia sendiri rela mengorbankan sekolahnya. Ini adalah keputusan paling pahit bagi Syalimah. Putrinya tak pernah sekalipun meninggalkan kampung, kini harus berjuang menghadapi hidup yang keras di kota. Ia sendiri tak mampu berbuat apa-apa karena tak bisa mengalihkan perhatian dari tiga anak lainnya.
Isi yang tersirat dalam penggalan novel tersebut adalah ….
Pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya
Kerelaan seorang ibu ditinggalkan oleh anaknya
Perjuangan seorang ibu agar anaknya tetap sekolah
Pengorbanan seorang kakak untuk ibu dan adik-adiknya.
Keputusan seorang anak untuk bekerja di luar kota
Ketika engkau sudah bisa membaca nasihat ini anakku, tentu keadaan dunia telah berubah. Mungkin engkau pada saat itu telah menjadi salah seorang calon penerbang ruang angkasa, dan di dusun-dusun telah berkilauan lampu-lampu listrik daripada neon, dan Irian Barat telah menjadi hak milik Indonesia. Pada waktu engkau membaca nasehatku ini, anakku, mungkin engkau tidak lagi perlu menunggu bus sampai tiga jam di Salemba, jalan di mana ayahmu dulu pernah menanti bus sampai tiga jam lebih di hujan dan panas.
Isi kutipan teks tersebut adalah ...
Pesan ayah kepada anaknya agar membaca nasihatnya tentang perubahan dunia yang akan dialami anaknya.
Tulisan seorang ayah untuk anaknya agar mau membaca nasihatnya yang ditulis pada zaman yang berbeda
Seorang ayah berpesan pada anaknya agar senantiasa mengingat nasihatnya karena dunia akan berubah
Cinta seorang ayah kepada anaknya ditunjukkan dengan memberi nasihat kalau dunia anaknya itu akan berubah
Nasihat tertulis seorang ayah kepada anaknya tentang kemungkinan perubahan dunia yang terjadi di kemudian hari
Suara gending terdengar semakin jelas di telingaku. Di pelaminan sana, di rumah Pak Sukardi, Wibowo bersanding dengan Yustini. Mereka berbusana gemerlapan bak raja dan ratu. Empat setengah tahun yang lalu suara gamelan itu berdengung juga dari tempat yang sama. Namun, yang menjadi manten adalah Ninda dengan seorang lelaki, bukan Aku.
Isi yang tersirat dari kutipan dalam novel tersebut adalah ...
Pengantin selalu mengenakan pakaian yang gemerlap
Gamelan masih digunakan untuk upacara pengantin
Lagu yang berdengung untuk pengantin selalu sama
Gamelan pengantin berdengung setiap empat setengah tahun
Pernikahan akan selalu dirayakan dengan pesta meriah
“Sabar...sabar..., Satu persatu semuanya nanti dapat.” kata tukang es.
“Aku dulu, aku dulu,” kata anak-anak sambil mengacungkan uangnya.
“Aku dulu, pudingnya yang merah” teriak salah satu anak.
Tukang puding agak panik, ia mengambil puding berwarna oren.
“Merah,” teriak anak yang lain.
Tukang puding itu tambah gugup dan menyerahkan puding oren.
Watak Tukang es puding dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
periang
penyabar
penyayang
pemerhati
penolong
Tiap-tiap perkataan yang diucapkan dengan penuh kegembiraan, penuh semangat itu, meresap kepada segala yang hadir. Tuti telah terkenal sebagai pendekar yang pandai memilih kata, yang mengucapkan kata dengan penuh gembira mewakili seluruh perasannya, sehingga orang yang mendengarkannya pun tertarik dan terhanyut. Perasaan gembira itu berbeda dengan Sukamti, ketua rapat yang harus mengucapkan kata satu persatu diselimuti keraguan.
Watak tokoh Tuti pada kutipan teks tersebut adalah ...
pemberani
pembual
pemarah
periang
perasa
(1) Ada kesempatan orang menoleh ke kanan kiri. (2) Yang berjalan kaki dan berhenti di dekat mobil, dan yang di dalam mobil pun memperoleh kesempatan untuk menengok ke kanan kiri. “Lihat, ini aku, orang penting, naik sedan mengkilap, tidak seperti kamu berjalan kaki.” (3) Orang yang di dalam andong melirik ke sebelah, kepada orang yang menuntun sepeda, dan yang bersepeda memandang kepada penumpang, becak yang disebelahnya ada perasaan ganjil yang tiba-tiba melintas kilat dalam hati mereka. (4) Laki-laki lain melirik kepada perempuan cantik yang kebetulan terhenti di dekatnya. (5) Gadis itu tertunduk malu lalu mengundurkan sepedanya, mencari kawannya yang terhenti di belakangnya.
Bukti watak salah satu tokoh yang sombong terdapat pada kalimat nomor ....
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Hidup segan, mati pun tak mau. Begitulah barangkali hidup yang dijalani Nyi Seruling. Kau boleh merasa heran sebab namanya yang tak lazim untuk nama seorang perempuan atau barangkali memang tidak cocok dijadikan nama apa pun sehingga terdengar tidak seperti nama manusia kebanyakan.
Makna peribahasa Hidup segan, mati pun tak mau dalam kutipan teks cerpen tersebut adalah ...
Orang yang takut akan mati
Orang yang tidak bersemangat
Perasaan takut akan kematian
Orang yang tidak ingin bahagia
Keinginan untuk hidup sehat
”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
Makna ungkapan mengadu nasib pada kutipan cerpen tersebut adalah mencari ...
kekayaan
ketenaran
peruntungan
pekerjaan
kehidupan
