WorksheetsPH 1 Kelas XII Perbaikan Ekonomi Indonesia Tahun 1950-1965
Total questions: 25
Worksheet time: 14mins
Perhatikan narasi berikut :
1. Menumbuhkan kelas pengusaha yang berasal dari pribumi (bangsa Indonesia)
2. Para pengusaha pribumi kecil atau lemah diberi kesempatan untuk turut berpartisipasi dalam memajukan pembangunan ekonomi nasional
3. Para pengusaha pribumi yang lemah diberikan bimbingan dan bantuan kredit
4. Para pengusaha pribumi diharapkan dapat maju dan berkembang secara bertahap
Dengan memperhatikan yang intinya bagaimana menumbuhkan pengusaha Pribumi menjadi pengusaha besar agar dapat bersaing dengan pengusaha Arab, Tionghoa dan Belanda di era tahun 1950an. Maka dapat disimpulkan bahwa narasi diatas merupakan dari Upaya Perbaikan Ekonomi di Masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi yaitu…
Gunting Syafrudin
Program Benteng
Plan Kasimo
Sistem Ekonomi Ali-Baba
Nasionalisasi de Javasche Bank
Pada tahun 1950-an, ada tekanan politis yang meningkat agar kekuasaan ekonomi diambil dari perusahaan swasta Belanda yang masih ada di Indonesia saat itu, demi penyelesaian Revolusi. Namun, Indonesia masih memerlukan modal dan keterampilan asing untuk menghasilkan pembangunan ekonomi yang diperlukan untuk menghadapi peningkatan jumlah penduduk. Bulan Februari 1950, presiden Soekarno sudah sempat menyampaikan kepada kalangan perusahaan asing bahwa pemulihan ekonomi Indonesia setelah selesainya Revolusi memerlukan dikerahkannya segala sumber modal, baik asing maupun dalam negeri. Tahun 1953 menteri Keuangan Ong Eng Die menyatakan bahwa peranan perusahaan asing dalam pembangunan ekonomi Indonesia perlu dicantumkan secara jelas dalam rencana pembangunan mendatang.
Ini merupakan suatu cara mengembangkan peranan orang Indonesia dalam ekonomi tanpa merugikan perusahaan asing, terutama Belanda.
Dari narasi dapat disimpulkan bahwa ini merupakan latar belakang dari Upaya Perbaikan Ekonomi di Masa Demokrasi Liberal dan Demokrasi yaitu…
Gunting Syafrudin
Plan Kasimo
Sistem Ekonomi Ali-Baba
Nasionalisasi de Javasche Bank
Program Benteng
Gunting Syafruddin adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafrudin Prawiranegara, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10 Maret 1950. Kebijakan itu dikenal sebagai kebijakan berani yang ditetapkan Pemerintah Indonesia dengan cara menggunting fisik uang kertas.
Ketika itu uang yang beredar di Indonesia.
1. Oeang Republik Indonesia (ORI),
2. mata uang De Javasche Bank,
3. mata uang NICA (Belanda)
Menurut kebijakan itu, "uang merah" dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Kamu identifikasi apa yang dimaksud dengan uang “merah” tersebut.
1
2
3
1 dan 3
2 dan 3
Di era Syafrudin Prawiranegara, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II selain Kebijakan Gunting Syafrudin juga mengeluarkan kebijakan yang tak kalah kontroversial yaitu …
Pinjaman Nasional
Konferensi Ekonomi
Pembentukan Badan Perancang Ekonomi
Sertifikat Devisa
Persatuan Tenaga Ekonomi
Mentri Keuanngan Syafrudin Prawiranegara mengeluarkan kebijakan bahwa setiap eksportir akan memperoleh Sertifikat sebesar 50% dari harga ekspornya. Sebaliknya, orang yang hendak impor harus membeli Sertifikat senilai harga barang yang hendak diimpor. Jadi, selain menyediakan uang senilai harga barang yang akan dibeli, setiap importir harus membeli Sertifikat dengan kurs yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan dari Mentri Keuangan Syafrudin ini disebut …
Sertifikat Devisa
Pinjaman Nasional
Konferensi Ekonomi
Pembentukan Badan Perancang Ekonomi
Persatuan Tenaga Ekonomi
Mentri Keuangan Syafrudin Prawiranegara mengeluarkan dua kebijakan yang radikal itu menyulut pro-kontra. Sjafruddin pun mengakui bahwa kebijakannya itu memberatkan para importir. Namun, Hasilnya ternyata mujarab yaitu ….
industri dalam negri terlindungi
kedudukan rupiah menguat
harga barang terutama kebutuhan pokok tidak naik
pemasukan pemerintah naik berlipat-lipat
kepentingan para petani tak terabaikan karena telah menghasilkan sebagian besar barang ekspor.
industri dalam negri terlindungi
Nasionalisasi De Javasche Bank diambil oleh Pemerintah Indonesia yang terjadi pada akhir tahun 1951 merupakan ….
upaya untuk mempercepat merubah sistem ekonomi Indonesia dari sistem ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional
memutus ketergantungan Indonesia terhadap Belanda
mengabaikan hasil KMB yang memberatkan keuangan Inndonesia
bentuk perlawanan ekonomi Indonesia untuk kembali merebut kedaulatan ekonomi nasional.
menjadikan Indonesia negara Mercu Suar di Asia
Nasionalisasi ini bertujuan untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor serta melakukan penghematan secara drastis. De Javasche Bank yang dinasionalisasi berubah nama menjadi Bank Indonesia pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No. 24 tahun 1951 yang bertindak sebagai bank sentral dan bank sirkulasi dimana fungsi ini dulunya dipegang oleh…
Bank Rakyat Indonesia
Bank Mandiri
Bank Nasional Indonesia
Bank Dagang Negara
Bank Ekspor Impor
Pada masa Kabinet Ali Sastroamijoyo I (1 Agustus 1953 hingga 24 Juli 1955) Sistem ekonomi Ali-Baba merupakan program pemberdayaan pengusaha Indonesia antara pengusaha pribumi dan non-pribumi untuk mengembangkan minat kewirausahaan pengusaha pribumi dan meningkatkan kerjasama dengan pengusaha non-pribumi. Program yang diprakarsai oleh Menteri Koordinator Ekonomi, Keuangan, Industri dan Perdagangan Indonesia yaitu ….
Jusuf Wibisono
Iskaq Tjokrohadisurjo
Ali Wardhana
Sumitro Joyohadikusumo
Raden Mas Pandji Soerachman Tjokrodisoerjo
Perhatikan tujuan dari Program Sistem Ali-Baba berikut :
1. Untuk mengembangkan minat, edukasi dan wawasan kewirausahaan pengusaha pribumi.
2. Agar terbentuk kerjasama antara para pengusaha pribumi dan pengusaha non-pribumi untuk memajukan ekonomi nasional.
3. Mendorong transisi ekonomi nasional yang digerakkan dari sistem ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
4. Membentuk perusahaan berskala nasional yang dipimpin oleh pengusaha pribumi
5. Menjadikan pengusaha pribumi menjadi tuan rumah di negri sendiri
Dari tujuan program sistem Ali-Baba diatas yang bukan merupakan tujuan program sistem Ali-Baba ditunjukkan nomor …
1,2
3,4
4,5
1,4
2,4
Program Ali-Baba tidak berjalan dengan baik karena
1. Wirausahawan pribumi kurang memiliki usaha untuk menambahkan edukasi dan wawasan pada usahanya untuk memberikan nilai tambah pada kegiatannya.
2. Wirausahawan pribumi terkesan tidak mau sulit dalam beradaptasi pada dunia usaha, sehingga muncul wirausahawan pribumi ingin dimanja dunia usaha.
3. Wirausahawan pribumi sulit beradaptasi pada dunia usaha yang cepat berubah karena sifatnya yang tidak mau repot beradaptasi dalam dunia usaha.
4. Wirausahawan pribumi lebih banyak memikirkan hasil daripada proses
5. Wirausahawan pribumi banyak yang berpikir bagaimana cara menghabiskan modal daripada mengembangkan modal
1
2
3
4
5
Dalam perundingan Financial Ekonomi (Finek) yang diadakan pada 7 Januari 1956 Belanda menolak usulan pemerintah Indonesia. Langkah yang diambil pemerintah Indonesia setelah penolakan tersebut adalah ....
menciptakan kerja sama antar pengusaha pribumi
mengajukan gugatan tentang masalah Finek ke PBB
membubarkan Uni Indonesia-Belanda secara sepihak
menyusun undang-undang tentang perekonomian Indonesia
mengadakan hubungan bilateral dengan negara-negara Eropa
Finek adalah kepanjangan dari Finansial Ekonomi. Perjanjian Finek yang dilakukan antara Belanda dengan Indonesia untuk menyelesaikan masalah finansial ekonomi antara kedua negara yaitu Belanda dan Indonesia sebagai dampak dari Konferensi Meja Bundar (23 Agustus-2 November 1949 ) Kebijakan Finek (Finansial Ekonomi) dilaksanakan pada masa pemerintahan …
.
Kabinet Natsir (September 1950 - Maret 1951)
Kabinet Sukiman (April 1951 - Februari 1952)
Kabinet Wilopo (April 1952 - Juni 1953).
Kabinet Ali Sastroamijoyo I (Juli 1953 – Agustus 1955)
Kabinet Burhanuddin Harahap (Agustus 1955 - Maret 1956)
Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) muncul karena masa kerja kabinet pada masa liberal yang sangat singkat dan program yang silih berganti menimbulkan ketidakstabilan politik dan ekonomi yang menyebabkan terjadinya kemerosotan ekonomi, inflasi, dan lambatnya pelaksanaan pembangunan. Program Rencana Pembangunan Lima Tahun (RPLT) ini diluncurkan pada masa pemerintahan …
Kabinet Natsir (September 1950 - Maret 1951).
Kabinet Sukiman (April 1951 - Februari 1952).
Kabinet Wilopo (April 1952 - Juni 1953).
Kabinet Ali Sastroamijoyo II (Maret 1956 - Maret 1957).
Kabinet Burhanuddin Harahap (Agustus 1955 - Maret 1956)
RPLT tidak dapat berjalan dengan baik disebabkan karena:
Adanya depresi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa Barat pada akhir tahun 1957 dan awal tahun 1958 mengakibatkan ekspor dan pendapatan negara merosot.
Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda di Indonesia menimbulkan gejolak ekonomi.
Adanya ketegangan antara pusat dan daerah sehingga banyak daerah yang melaksanakan kebijakan ekonominya masing-masing.
Kebijakan terlalu sentralistik
Kabinet Ali Sastoamijoyo II tidak mendapat dukungan untuk melaksanakan program ini
Musyawarah Nasional Pembanngunan (Munap) terjadi karena ketegangan hubungan antara pusat dan daerah. Musyawarah Nasional Pembanngunan (Munap) yang diselenggarakan pada saat Kabinet Juanda memegang tampuk pemerintahan tujuannya untuk …
mengubah rencana pembangunan agar dapat dihasilkan rencana pembangunan yang menyeluruh untuk jangka panjang.
merancang rencana pembangunan yang dapat mengatasi persoalan keuangan pusat dan daerah
mengatasi ketimpangan pembangunan di Jawa dan Luar Jawa yang banyak dikeluhkan oleh daerah-daerah diluar Jawa
membentuk pusat-pusat pembangunan di luar Jawa agar daerah sekitarnya ikut juga terkena dampaknya
membuat rancangan skala prioritas daerah pembangunan di luar Jawa
Musyawarah Nasional Pembanngunan (Munap) gagal dilaksanakan karena dananya banyak terkuras untuk membiayai …
pemberontakan PRRI di Sumatra dan Parmesta di Sulawesi
proyek Mercu Suar presiden Soekarno
modernisasi Alat Utama Sistem Senjata Tentara Nasional Indonesia (Alutsista)
penyelenggaraan Pekan Olah Raga Games of the New Emerging Forces (GANEFO)
pembebasan Irian Barat yang harus dicapai dengan Konfrontasi Senjata
Sesudah Dekret Presiden 5 Juli 1959 dikeluarkan, Pemerintah masa Kabinet Karya pada tanggal 15 Agustus 1959 membentuk Badan Negara yang bernama Dewan Perancang Nasional (Nama terdahulu Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) untuk menyusun perencanaan pembangunan ekonomi nasional. Badan Negara yang pimpin oleh …
Drs. Mohammad Hatta
Mr. Mohammad Yamin
Ir. Juanda
Ir. Soekarno
Prof. Dr. Sumitro Joyohadikusumo
Pada masa pasca kemerdekaan antara tahun 1945 sampai 1950, kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk. Terjadi hiperinflasi atau kenaikan harga-harga barang secara ekstrem. Penyebab inflasi yakni …
uang ORI (Oeang Republik Indonesia) tidak mampu bersaing dengan mata uang asing
uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mengacaukan nilai tukar
barang-barang langka karena biaya produksi dan barang impor sulit masuknya
uang yang beredar tidak dapat digunakan karena barang-barang tidak ada dipasaran
beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali
Belum selesai dengan masalah inflasi, Belanda juga ikut menutup pintu perdagangan RI sehingga barang-barang dagangan pemerintah RI tidak dapat diekspor. Alasan Belanda melakukan blokade terhadap RI adalah:
Untuk mencegah dimasukkannya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
Mencegah dikeluarkannya hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik asing lainnya.
Melindungi bangsa Indonesia dari tindakan dan perbuatan yang dilakukan oleh bukan bangsa Indonesia.
Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
Agar kesejahteraan umum rakyat Indonesia terjaga
Kekosongan kas negara yang terjadi menjadi salah satu pemicu besarnya inflasi di Indonesia pada awal kemerdekaan. Demi mengatasi hal tersebut, pemerintah RI pun melakukan pinjaman nasional. Pinjaman nasional ini merupakan salah satu kebijakan yang dicetuskan persetujuan BP-KNIP dilaksakan oleh Menteri Keuangan ….
Lukman Hakim
Ir. Surachman
Samsi Sastrawidagda
Sunarjo Kolopaking
Syafruddin Prawiranegara
12. Munculnya ORI ternyata memberikan masalah baru dalam perekonomian Indonesia. Masalah tersebut terjadi lantaran peredaran ORI dalam masyarakat mulai tidak terkendali. Oleh karena itu, pemerintah merasa perlu mengatur percetakan dan peredaran ORI dalam satu sistem perbankan Republik Indonesia.
Maka terbentuklah bank pemerintah pertama di Indonesia yaitu ...
Bank Rakyat Indonesia
Bank Indonesia
Bank Bhumi Daya
Bank Dagang Negara
Bank Negara Indonesia
Demi menembus blokade ekonomi dari Belanda, Pemerintah Indonesia melakukan diplomasi beras ke India. Tindakan ini dilakukan atas inisiatif dari Perdana Menteri Sutan Syahrir, saat tahun 1946 Pemerintah Indonesia mendengar bahwa rakyat India dilanda masalah kelaparan. Pada waktu yang sama, pemerintah Indonesia juga mengalami surplus beras sekitar 200.000 - 400.000 ton. Sehingga pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengirim bantuan beras sebanyak …
100.000 ton
200.000 ton
300.000 ton
400.000 ton
500.000 ton
Upaya lainnya untuk mengatasi blokade Belanda yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam mengatasi blokade ekonomi Belanda adalah mengadakan hubungan dagang langsung dengan luar negeri. Upaya tersebut dilakukan dengan BTC atau yang dikenal disebut Badan Pusat Jual Beli. Organisasi tersebut diketuai oleh Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Peran BTC di sini adalah untuk mengawasi seluruh kegiatan perdagangan ke luar atau masuk daerah Republik Indonesia. Tugas BTC adalah …
menjadi agen barang impor
mengatur barang yang akan masuk ke Indonesia
menjadi agen pemasaran barang Indonesia di luar negri
mengatur distribusi keuangan untuk berbagai proyek pembangunan di Indonesia
melakukan kegiatan ekspor impor
25. Sejak Agresi Belanda 1 (21 Juli - 5 Agustus 1947) dan Agresi Belanda 2 (19-20 Desember 1948), hubungan antara pemerintah pusat dan daerah mulai mengalami kesulitan. Untuk menanggulangi peredaran uang sebagai alat transaksi ekonomi pemerintah pusat kemudian berinisiatif untuk mengeluarkan ….
Oeang Republik Indonesia seri Stempel
Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)
Oeang Republik Indonesia Pusat (ORIPUS)
Oeang Republik Indonesia – NICA
Oeang Republik Indonesia – de Javasche Bank
