NEW
Font size
WorksheetsTeks Drama Kelas 8
Total questions: 40
Worksheet time: 3600secs
Dahlan: Kamis malam Jumat. Jumat apa?
Rosana : Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?
Dahlan : Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya.
Rosana : Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna
Dahlan : Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?
Rosana : Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?
Dahlan : Apa? Bapak rasa tidak ada! (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!
Dahlan : Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!
Pesan atau amanat yang terkandung dalam penggalan drama di atas adalah....
sifat serakah dan suka berjudi membuat orang hancur
nasib manusia ditentukan oleh Tuhan
sifat buruk menurun pada anak
manusia berusaha untuk sempurna
Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolahsudah usai. Bahwa Yanti belum pulang itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut.
Asdiarti : Kau masih ada di sini, Yanti. Belum pulang?
Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggeleng dan terus melanjutkan membaca.)
Penggalan drama tersebut memuat latar....
tempat
waktu
suasana
alat
Satilawati : Pengecut! Sedikit diserang kritik orang, engkau hendak melarikan diri. Untuk menjaga nama supaya jangan merosot. Aku sudah maklum.
Ishak : (Sambil menunjuk ke luar) Pergi daripadaku. Engkau boleh memusuhi aku. Untuk cita-cita aku bersedia mengorbankan segalanya juga cintaku.
Watak tokoh Ishak dalam penggalan drama di atas adalah....
pemarah
pembual
pemberani
sombong
Fenita : Kamu harus menentukan sikap. Pilih aku atau dia, sekarang juga!
Verri : Beri aku kesempatan sekali lagi....
Fenita : Tidak perlu basa-basi, kalau tidak aku yang memutuskan, titik!
Penggalan dialog di atas menunjukkan drama sampai pada bagian....
konflik
klimaks
resolusi
penyelesaian
"aku tak sanggup hidup seperti ini."
Penulisan dialog di atas salah, karena....
Tidak diisi nama tokoh
Tanda petik hanya satu
Penulisan kata pertama setelah tanda petik, huruf kapital
Semua jawaban benar
Bacalah kutipan drama berikut dengan saksama kemudian kerjakan dua soal berikut:
Masut : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.
Guru : Masut, Masut! Kamu harus tahu, meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus diberikan kepada orang lain.
(Istri Masut masuk ke ruangan membawa teh hangat).
Istri Masut : Lebih baik kalau ngobrolnya, sambil minum teh hangat (menyodorkan cangkir)
Guru : Bisa saja istri kamu, Ut.
Suasana yang tergambar pada drama tersebut adalah ...
santai
tegang
haru
seram
Watak atau karakter tokoh dalam drama dapat ditampilkan mellaui beberapa hal berikut, kecuali...
gerak
bloking
dialog
ekspresi
Bacalah kutipan drama berikut dengan saksama kemudian kerjakan dua soal berikut:
Masut : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.
Guru : Masut, Masut! Kamu harus tahu, meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus diberikan kepada orang lain.
(Istri Masut masuk ke ruangan membawa teh hangat).
Istri Masut : Lebih baik kalau ngobrolnya, sambil minum teh hangat (menyodorkan cangkir)
Guru : Bisa saja istri kamu, Ut.
Latar tempat kutipan drama tersebut adalah ....
rumah guru
rumah Masut
ruang kerja
ruang kelas
Bagian babak yang berisi gambaran suatu adegan disebut...
adegan
babak
kramagung
skenario
Keterangan lakuan yang ada dalam naskah drama disebut ...
blocking
pantomim
kramagung
monolog
Raut muka pemain disebut dengan....
epilog
kramagung
tata rias
mimik
Bacalah cuplikan drama berikut dengan saksama!
Ohim : (membungkus badannya dengan sarung menyerupai ninja. Ia bergerak mirip ninja sambil mendekati anak-anak
perempuan.)
Anak-anak perempuan : Hi hi. (berlarian)
Ivon : Hantu pocong, hantu pocoong! (Sambil menjauhi Ohim)
Kata-kata yang ada di dalam kurung dinamakan . . . .
prolog
epilog
wawancara
kramagung
Diceritakan di sebuah desa tinggalah seorang gadis cantik bersama neneknya. Gadis yang berusia 17 tahun itu bernama
Maurina Anindya. Ia yatim piatu sejak balita.
Uraian tersebut dalam naskah drama disebut . . .
prolog
epilog
dialog
monolog
Akhirnya, mereka dapat hidup rukun. Walaupun sebelumnya ada pertentangan di antara mereka.
Uraian tersebut dalam naskah drama disebut . . .
prolog
epilog
dialog
monolog
Percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri disebut . . . .
prolog
epilog
dialog
monolog
Tersebutlah di sebuah perkampungan, terdapat keluarga yang sangat miskin. Ketika itu, tampak seorang anak menangis.
Ibunya sedang duduk di depan tungku dengan matanya yang berlinang.
Anak : Ma, lapar, Ma, lapar
Ibu : Sabar, Nak. Sebentar lagi bapakmu membawa makan. Sabar, ya sayang.
Cuplikan drama tersebut dinamakan . . . .
prolog
dialog
monolog
epilog
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Jasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Penggalan dialog di atas menggambarkan watak tokoh secara...
lengkap
lahir
batin
langsung
Romeo : Petunjuk cinta yang gaib telah mempersatukan aku ke hadapanmu. Dan untuk cinta yang kudapatkan akan kutaruhkan segalanya. Tapi......aku seorang Montague.....
Juliet : Dan aku seorang Capulet. Mengapa kita punya nama? Biarlah aku menjadi bukan Capulet dan kau bukan Montague, Romeo!
Tema yang tersirat dari penggalan drama di atas adalah....
kepercayaan
persahabatan
permusuhan
percintaan
Dahlan: Kamis malam Jumat. Jumat apa?
Rosana : Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?
Dahlan : Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya.
Rosana : Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna
Dahlan : Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?
Rosana : Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?
Dahlan : Apa? Bapak rasa tidak ada! (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!
Dahlan : Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!
Pesan atau amanat yang terkandung dalam penggalan drama di atas adalah....
sifat serakah dan suka berjudi membuat orang hancur
nasib manusia ditentukan oleh Tuhan
sifat buruk menurun pada anak
manusia berusaha untuk sempurna
Waktu itu sudah hampir jam satu. Sekolahsudah usai. Bahwa Yanti belum pulang itulah yang menyebabkan Asdiarti terkejut.
Asdiarti : Kau masih ada di sini, Yanti. Belum pulang?
Yanti : (Tidak menjawab. Ia hanya menggeleng dan terus melanjutkan membaca.)
Penggalan drama tersebut memuat latar....
tempat
waktu
suasana
alat
Fenita : Kamu harus menentukan sikap. Pilih aku atau dia, sekarang juga!
Verri : Beri aku kesempatan sekali lagi....
Fenita : Tidak perlu basa-basi, kalau tidak aku yang memutuskan, titik!
Penggalan dialog di atas menunjukkan drama sampai pada bagian....
konflik
klimaks
resolusi
penyelesaian
Ayu : Sudah malam lo Sis, kita harus segera pulang
Siska : Sudahlah Yu, tenang saja toh ini baru jam sembilan lebih sedikit. Jalanan masih ramai
Ayu : Ih, sudah malam begini kok tenang. Kan kita perempuan, masak pulang sampai larut malam. Tidak enak kan dengan tentangga. Nanti mereka mengira kita suka keluyuran malam.
Siska : (Dengan sikap tenang) Sudah, nanti saya antar kamu. Memang repot, kita ini perempuan tidak wajar kalau pulang terlalu malam. Kita pun tidak berani melanggar aturan tidak tertulis di masyarakat kita ini.
Penggalan drama di atas mengandung nilai...
sosial
moral
budaya
agama
Brilian : Sekarang serahkan hp kalian, kami akan minta uang tebusan!!! (mendorong Dimi masuk)
Dimi : Ka …ka ... kami tidak bawa hp (gugup).
Brilian : Periksa kantongnya!!
Timmy : Siap, bos. (memeriksa kantong)
Markus: Ada gak? Ini tempat apa? (matanya melotot)
Timmy : Ruang menyimpan perkakas bekas (sambil meraba kantong si anak). Ini bos, hpnya (mengeluarkan hp N.95).
Markus : Tanyakan nomor hp orang tuanya! Hubungi untuk minta tebusan!
Timmy : Siap, bos!
Latar kutipan tersebut adalah ....
Gudang
Kamar
Garasi
Ruang tamu
Ciri utama sebuah drama di bawah ini adalah ....
Diperankan dengan tarian, tidak berbentuk dialog
Berupa cerita, tidak berdialog, menggunakan gerakan
Tidak menggunakan naskah, berupa cerita, tidak dipentaskan
Berupa cerita, berbentuk dialog, dipentaskan
1. Prolog adalah bagian dalam drama yang berupa ….
A. kata-kata indah dalam sebuah drama
B. kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang
C. kata-kata bermajas yang digunakan untuk mengakhiri drama
D. kata-kata yang dibuat dan disampaikan oleh penulis naskah drama
3. Contoh epilog sebuah drama terdapat pada paragraf ….
A. Dori: “Jadi, begitu akhir ceritamu?”
Rido: “Ya, begitulah.”
B. Dori: “Menurutmu, aku pandai?”
Rido: “Loh, memangnya tidak?”
Dori: “Ya, tidak.”
Rido: “Ah, sudahlah. Sebaiknya kita pulang. Cerita sudah berakhir.”
C. Penonton! Terima kasih telah hadir dan menonton pementasan drama kami. Sekali lagi, terima kasih!
D. Begitulah hari itu berakhir. Berkat sebuah ketulusan, ribuan nyawa berhasil diselamatkan. Memang, kebaikan kecil bisa berarti besar sekali tanpa diduga.
Hari telah menunjukkan pukul 18.30. kakek dan nenek berada di dalam rumah.
Nenek :(bicara sendiri) Ah, dasar kayak nggak pernah ingat, sudah pikun! Pekerjaannya tak ada cara lain. Cuma bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hem ... (mengambil cangkkir lalu minum)
Kakek :(masuk) Bagaimana kalau aku pakai pakaian ini, Bu? (tetap bercermin membiarkan nenek masuk ke kamar)
Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar?
Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja sambil membaca koran.
Nenek : Mengapa membaca koran pakai kopiah segala.
Kakek : Agar komplit, Bu.
Nenek : Ya…. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau…. Hebat sekali memang. Tapi sekarang, kopiah hanya bernilai tambah belaka… (mendekati dan berdiri disebelah kakek hingga berdiri sejajar)
Suasana yang tergambar pada kutipan naskah drama adalah...
Tenang
Akrab
Haru
Risau
Meski saat itu sangat terik, teman-teman Ani tetap datang.
Yuni dan Hani : (memberi salam bersama)
Ibu : (datang dari dapur) Teman-teman Ani, ya?
Yuni : Iya, Bu. Kami teman-teman Ani.
Ibu : Mari, masuk! Silakan duduk dulu! Ibu panggilkan Ani. Ani ...! Itu teman-teman kamu sudah datang.
Ani : Hai! Tuk, langsung saja kita mulai.
Yuni dan Hani : Ayo!
Mereka pun bersama-sama menuju ruang belajar Ani.
Latar kutipan naskah drama tersebut adalah ....
di kantor, sore hari
di rumah, siang hari
di rumah sakit, siang hari
di hotel, sore hari
Hari telah menunjukkan pukul 18.30. kakek dan nenek berada di dalam rumah.
Nenek :(bicara sendiri) Ah, dasar kayak nggak pernah ingat, sudah pikun! Pekerjaannya tak ada cara lain. Cuma bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hem ... (mengambil cangkkir lalu minum)
Kakek :(masuk) Bagaimana kalau aku pakai pakaian ini, Bu? (tetap bercermin membiarkan nenek masuk ke kamar)
Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar?
Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja sambil membaca koran.
Nenek : Mengapa membaca koran pakai kopiah segala.
Kakek : Agar komplit, Bu.
Nenek : Ya…. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau…. Hebat sekali memang. Tapi sekarang, kopiah hanya bernilai tambah belaka… (mendekati dan berdiri disebelah kakek hingga berdiri sejajar)
Latar pada kutipan naskah drama tersebut adalah …
pagi hari di kamar
sore hari di rumah
sore hari di dapur
malam hari di kamar
(1) Ratu : Apakah cerimin itu milikmu?
(2) Pemuda : (berkata dengan takut-takut) benar ratu, tapi hamba ragu kalau Ratu menyukai cermin ini. Sang Ratu menghampiri cermin milik pemuda tersebut. Ia segera berkaca. Tapi tiba-tiba, mukanya berubah pucat pasi.
(3) Ratu : Hah, kurang ajar. Kubunuh kau pemuda!
(4) Pemuda : (berkat sambil menunduk) Maaf Ratu, cermin itu memang bukan cermin biasa. Cermin itu dapat menunjukkan sisi buruk seseorang.
(5) Ratu : (memandang ke arah pemuda) Lalu, apa maksudnya cermin itu menunjukkan ada banyak ulat di wajahku?
(6) Pemuda : Ulat itu adalah lambang dari keserakahan Ratu.
(7) Ratu : Kau ingin bila bahwa aku serakah?
(8) Pemuda : Hamba hanya ingin mengingatkan. Selama ini, Ratu sering membeli barang berlebih walaupun sebenarnya tidak begitu penting.
(9) Ratu : Aku memang mempunyai banyak cermin. Apakah itu serakah? Sudah sepantasnya aku memiliki banyak cermin karena aku adalah ratu.
(10) Pemuda : Tapi Ratu ...
(11) Ratu : Pengawal, ambilkan pedang siapkan tiang gantungan untuk pemuda lancang ini!
Bukti bahwa sang ratu serakah terdapat pada dialog nomor …
1,2
2,3
8,9
10,11
Mobil yang dinaiki Indra mulai berjalan lambat dan akhirnya berhenti di depan rumah neneknya. Sang nenek sedang menyapu.
Indra : Nek! (keluar mobil dan berlari dan berteriak)
Nenek : Hai cucuku! [...]
Indra : Bapak dan Kak Ani ikut juga, Nek! (membenamkan kepala dalam pelukan hangat)
Nenek : Ya, ya, dan teman-temanmu juga!
Petunjuk lakuan yang tepat untuk melengkapi kutipan naskah drama tersebut adalah ....
Membuang sapu, berlari menuju mobil, dan bersalaman
Meletakkan sapu, membentangkan tangan, dan memeluknya
Memegang sapu, menoleh, memandang dengan senang
Melemparkan sapu, mendekati mobil, memegang
Indah : Interupsi ... (sambil berdiri dan tatapan muka yajam) Saudara Adi, sekadar mengingatkan dan ruangan ini sebagai saksinya. Bukankah bakti sosial pernah kita laksanakan?
Adi : Maksud Saudari?
Indah : Kita kan sudah kumpulkan baju layak pakai, buku, dan tetek bengek lainnya untuk kita sumbangkan di daerah itu. Mengapa harus ke daerah itu lagi? Bukan begitu Saudara Pimpinan Rapat?
Banu : (mengangguk-angguk) Ya, ya.....
Indah : Maksud Saudara?
Banu : Tidak ada masalah kalau daerah itu kita bantu lagi.
Latar tempat pada naskah drama tersebut adalah ....
Ruang rapat
Wilayah konflik
Posko bencana
Daerah benccana
Ibu : Hujan akan segera turun. Nanti dia terjebak hujan. Jemputlah dulu!
Anak 2 : Bu, saya sudah berumur 19 tahun. Jadi, saya rasa, Kakak juga sudah bukan balita lagi.
Ayah : Man, jangan kasar kepada ibumu! (Anak 1 mendadak nyelonong masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa)
Anak 2 : Tuh, Bu, Putri Cinderela sudah kembali ke istana. Saya pergi dulu!
Ibu : ….
Anak 1 : Biasalah, Bu, memperjuangkan keadilan.
Ayah : Keadilan macam apa?
Anak 1 : Keadilan bagi rakyat jelata.
Konflik pada kutipan naskah drama tersebut adalah ....
Orang tua yang mempunyai anak yang masih balita
Orang tua memahami keadilan yang dituntut anaknya
Seorang anak yang bentrok dengan polisi karena menuntut keadilan
Orang tua yang mencemaskan salah satu anaknya yang belum pulang
Gelandangan : (masih ragu-ragu) Tapi aku tidak boleh menerima sesuatu dari orang lain yang belum aku kenal.
Pemuda : [ ... ] (1)
Gelandangan : Kakakku
Pemuda : [ ... ] (2)
Gelandangan : Iya sudah dua hari ini aku belum makan nasi, terima kasih.
Dialog yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang drama tersebut adalah ....
Mengapa begitu (1)
Kakakmu benar, mungkin agar kamu hati-hati (2)
Siapa yang melarangmu? (1)
Tidak apa-apa, kamu lapar kan? (2)
Siapa yang melarangmu? (1)
Kakakmu benar, agar kamu hati-hati (2)
Tapi kamu lapar, kan? Mengapa kamu dilarang? (1)
Ambillah, tidak apa-apa. Biar kamu nggak lapar (2)
Dr. Hakim : Bicaralah seperti laki-laki, sahabatku Lukman! Siapa yang salah katamu? Kamu tahu bahwa semua salah ada padamu, ada pada pendirian hidupmu. Bukan pada nasibmu!
Dr Lukman : Tetapi semuanya aku kerjakan buat kebaikan juga.
Dr. Hakim : Ya, bagaikan buat dirimu sendiri. Pernahkah kamu pikirkan istri dan anakmu di rumah? Tidak ada kawan. Tidak ada kasih dan sayang darimu. Mereka seperti burung dalam sangkar emas, sepi dan kehausan di tengah-tengah kemakmuran.
Dr. Lukman : Tetapi aku sudah beri mereka cukup. Segala yang diminta kuturuti.
Dr. Hakim : Susah bicara sama kamu [...]
Dr. Lukman : Tapi uang juga penentu kebahagiaan.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan drama tersebut adalah ...
Memang anak dan istrimu itu hanya butuh hartamu. Dengan kepingan emas apa pun yang diinginkan akan didapatnya.
Memangnya mencari harta adalah wajib buat kita untuk menafkahi keluarga dan untuk membahagiakan mereka. Itu bagus Lukman, bagus!
Memang membeli emas itu nomor satu. Hart dapat menyelesaikan masalah. Dengan harta kita bisa menggenggam dunia.
Bagimu uang adalah segala-galanya. Bahagia tidak bisa dibeli, Lukman! Kasih tidak bisa ditawar. Cinta dan kasih hanya bisa dibeli dengan cinta kasih.
Masut : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.
Guru : Masut, Masut! Kamu harus tahu meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus diberikan kepada orang lain. (terisak sambil memeluk Masut)
Adik Masut : Lebih baik kalau ngobrolnya, sambil minum teh hangat
(menyodorkan cangkir)
Guru : Bisa saja adik kamu, Ut.
Berdasarkan kutipan naskah drama di atas, yang termasuk dialog, yaitu …
Guru
(menyodorkan cangkir)
Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.
Masut
Ayah : Kau sepertinya tidak suka melihat ayah di sini, Dam. (1)
Adam : Ya. Aku tidak suka. Kecuali Ayah bilang pada Zuz dan Qon, bahwa cerita-cerita itu bohong. (2)
Ayah : (menggeleng) Aku tidak bohong! (3)
Adam : Kalau begitu Ayah tahu resikonya. Ayah harus pergi dari sini. (4)
Taani : Diam! (Taani berseru kencang, sambil menangis) Jangan lakukan, aku mohon, jangan lakukan itu. Itu ayah Dam. Ayah Kau! Yang menggendong kau saat bayi. Itu ayah Dam. (5)
Ayah : Baik...baik lah. (ayah berdiri, matanya redup) (6)
Taani : Jangan pergi! (berlari menahan lengan ayah) Aku mohon, Ayah jangan pergi. (7)
Ayah : Ayah tidak kemana-mana bukan ? (tertawa kecil) Kau dan anak-anak bebas mengunjungiku kapan saja di sini (menunjuk kuburan). (8)
Taani : Apa? Ayah mau tinggal di sini? (9)
Bukti latar kutipan drama di kuburan ditunjukan dengan nomor....
1 dan 3
4 dan 5
6 dan 7
8 dan 9
Meski saat itu sangat terik, namun teman-teman Ani tetap datang.
Yuni dan Hani : (memberi salam bersama)
Ibu : (datang dari dapur) Teman-teman Ani, ya?
Yuni : Iya, Bu. Kami teman-teman Ani.
Ibu : Mari, masuk! Silahkan duduk dulu! Ibu panggilkan Ani. Ani...!
Ibu : Itu teman-teman kamu sudah datang.
Ani : Hai! Yuk, langsung saja kita mulai.
Yuni dan Hani : Ayo!
Mereka pun bersama-sama menuju ruang belajar Ani.
Berdasarkan naskah drama di atas, yang termasuk prolog, yaitu …
Meski saat itu sangat terik, namun teman-teman Ani tetap datang
Ibu, Ani, Yuni, dan Hani
(memberi salam bersama)
Mari, masuk! Silahkan duduk! Ibu panggilkan Ani. Ani…!
Meski saat itu sangat terik, namun teman-teman Ani tetap datang.
Yuni dan Hani : (memberi salam bersama)
Ibu : (datang dari dapur) Teman-teman Ani, ya?
Yuni : Iya, Bu. Kami teman-teman Ani.
Ibu : Mari, masuk! Silahkan duduk dulu! Ibu panggilkan Ani. Ani...!
Ibu : Itu teman-teman kamu sudah datang.
Ani : Hai! Yuk, langsung saja kita mulai.
Yuni dan Hani : Ayo!
Mereka pun bersama-sama menuju ruang belajar Ani.
Berdasarkan naskah drama di atas, yang termasuk epilog, yaitu …
Hai! Yuk, langsung saja kita mulai.
Ibu, Ani, Yuni, dan Hani
Mereka pun bersama-sama menuju ruang belajar Ani.
(datang dari dapur)
Fenita : Kamu harus menentukan sikap. Pilih aku atau dia, sekarang juga!
Verri : Beri aku kesempatan sekali lagi....
Fenita : Tidak perlu basa-basi, kalau tidak aku yang memutuskan, titik!
Penggalan dialog di atas menunjukkan drama sampai pada bagian....
konflik
klimaks
resolusi
penyelesaian
