NEW
Font size
WorksheetsKD 3. 3 Mengidentifikasi informasi teks sejarah
Total questions: 10
Worksheet time: 15mins
Pelarian-pelarian politik dari Nederland, Sneevliet, clan Baars itu semakin giat di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. Mereka membuka pidato di mana-mana, seperti takkan kering-kering kerongkongan mereka. Lari dari pertentangan intern di Nederland ke Hindia, mereka anggap diri seakan-akan jago-jago tanpa lawan, seakan-akan Hindia negerinya sendiri yang dipayungi oeh hukum demokratis. Bemntung mereka bergerak hanya di kalangan orang- orang yang berbahasa Belanda, yang menduduki tempat sosial yang rendah clan hidup dalam kemasygulan.
Teks tersebut termasuk bagian….
A. pengenalan situasi
B. pengungkapan peristiwa
C. menuju konfliks
D. pengenalan keadaan
E. puncak konflik
Perang Puputan terjadi pada tahun 1848 – 1849 di Jagaraga yang melibatkan antara pasukan Kerajaan Buleleng dan Belanda. Pasukan Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik itu berjuang mempertahankan daerahnya sampai titik darah penghabisan. Mereka juga mencari bantuan ke Karangasem untuk bertahan. Namun sayangnya, I Gusti Ketut Jelantik dan pasukannya harus gugur dalam pertempuran di Perbukitan Bale Pundak.
Perang Puputan melibatkan perang antara …
Kerajaan Buleleng dan Majapahit
Kerajaan Buleleng dan Jepang
Kerajaan Buleleng dan Belanda
Kerajaan Majapahit dan Belanda
Belanda dan Jepang
Minke merupakan salah seorang pribumi yang bersekolah di HBS Surabaya. HBS Surabaya memang dikenal oleh seluruh penjuru tanah air sebagai sekolah yang mengajarkan pendidikan Belanda. Bahkan semua guru yang mengajar di sekolah tersebut berasal dari tanah Eropa. Minke yang notabenenya seorang pribumi berdarah Jawa asli mulai merasa ada yang berbeda pada dirinya semenjak memasuki sekolah tersebut. Budaya Eropa yang dia terima di sekolah tersebut lambat laun mulai masuk pada dirinya. Pribadinya sedikit melenceng menyalahi wujudnya sebagai orang Jawa.
Kutipan teks cerita di atas termasuk ke dalam cerita sejarah jenis …
Fakta sejarah
Cerita sejarah
Biografi sejarah
Catatan sejarah
Otobiografi sejarah
Dalam terdiam yang sekilas begini, dia menemukan jawaban yang cerdik. Yaitu, dia
anggap lebih baik bertanya, meminta pendapat atau saran dari Danurejo II. “Dus apa saran Tuan?”
Mersa diakajeni, Danurejo II menjawab lurus, “Sebetulnya, melawan kompeni disadari
Sri Sultan sebagai menimba air dengan keranjang.” Hm?”
“Tapi. Seandainya terjadi persatuan yang menggumpal antara rakyat Yogyakarta dan
rakyat Surakarta, bagaimanapun hal itu bisa menjadi kekuatan yang tidak terduga.”
Makna peribahasa ” Bagai menimba air dengan keranjang” adalah…
A. Perbuatan yang tidak perlu dilakukan.
B. Pekerjaan sia-sia.
C. Perbuatan yang bodoh.
D. Pekerjaan orang yang tidak cerdas.
E. Perbuatan orang-orang zaman dahulu.
Banyak hal yang dapat dipelajari dari cerita perjalanan Gadjah Mada untuk menjadi seorang mahapatih. Dirinya berusaha untuk menempa diri dengan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya, serta kemampuannya dalam menganalisis suatu permasalahan, semua itu layak diteladani. Demikian pula, kewibawaan dan komitmen Gadjah Mada dalam memegang janji politik sebagai visinya yaitu untuk menyatukan nusantara, hal tersebut bisa kita jadikan sebagai acuan dalam bersikap terutama saat menjadi pemimpin di era saat ini.
Kutipan novel sejarah di atas merupakan bagian….
A. pengungkapan peristiwa
B. menuju konfliks
C. pengenalan situasi
D. puncak konflik
E. koda/ Reorientasi
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhimerestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabku kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka tak selalu berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang tak berani yang mengingkari kebenaran mereka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di muka bumi ini….” Dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.
(Pramudya Ananta Toer, Mangir, Jakarta,KPG,2000)
Nilai yang mendominasi dalam kutipan teks sejarah tersebut adalah….
A. Agama
B. Moral
C. Pendidikan
D. Budaya
E. Estetika
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhimerestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabku kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka tak selalu berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang tak berani yang mengingkari kebenaran mereka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di muka bumi ini….” Dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.
(Pramudya Ananta Toer, Mangir, Jakarta,KPG,2000)
Amanat dalam kutipan teks sejarah tersebut adalah….
A. Perbuatan dosa dan dusta sama-sama akan melanggar keadilan.
B. Janganlah berbuat dusta karena akan menutup kesucian hati nurani.
C. Jangan takut membela kebenaran, karena sama buruknya dengan kejahatan.
D. Segala amalan akan diperhitungkan di hari akhir, sehingga senantiasa berbuat
baik.
E. Seseorang yang memeliki kebenaran dalam hatinya akan selalu direstui Sang
Kuasa.
Di depan Ratu Biksunu Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh jadi merupakan penampakan dari sisi hatinya yang tidak bisa menerima dengan tulus pernikahan itu. Ketika para ibu Ratu menangis yang menulari siapapun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak menitihkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadi di ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris di dada keris di tangan prajurit tampan itu masih terbayang di kelopak matanya.
Sudut pandang penceritaan di atas adalah….
A. Orang ke tiga tak sertaan
B. Orang tertama pelaku utama
C. Orang ke tiga pelaku utama
D. Orang ke tiga serba tahu
E. Orang pertama pelaku sampingan
Di depan Ratu Biksunu Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh jadi merupakan penampakan dari sisi hatinya yang tidak bisa menerima dengan tulus pernikahan itu. Ketika para ibu Ratu menangis yang menulari siapapun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali tidak menitihkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadi di ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris di dada keris di tangan prajurit tampan itu masih terbayang di kelopak matanya.
Nilai yang mendominasi dalam kutipan teks sejarah tersebut adalah….
A. Moral
B. Agama
C. Pendidikan
D. Budaya
E. Estetika
Masyarakat Indonesia pada awalnya menyambut dengan ramah kedatangan militer Jepang, dapat dilihat dari sikap kooperatif tokoh-tokoh nasional kita, Ir. Soekarno dan Moh Hatta. Pemerintahan Jepang mulai aktif merangkul rakyat dengan pembentukan organisasi masyarakat, yang sebenarnya 'ada udang di balik batu' untuk kepentingan Jepang di Perang Dunia II. Organisasi itu antara lain: Gerakan Tiga A, Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Jawa Hokokai, Seinendan, Keibodan, Fujinkai, Heiho, MIAI, Pembentukan BPUPKI.
Teks di atas menceritakan…
A. Sikap masyarakat Indonesia menyambut kedatangan Jepang.
B. Pembentukan organisasi oleh Jepang.
C. Gerakan menentang Jepang
D. Persiapan kemerdekaan Indonesia
E. Kerja sama tokoh nasional Indonesia dan Jepang
