Font size
WorksheetsLATIHAN ANBK LITERASI
Total questions: 6
Worksheet time: 4mins
1. Perhatikan ilustrasi dan puisi berikut!
Pada bulan Desember, tepatnya saat perayaan Hari Ibu, Albert ingin mengikuti lomba membaca puisi antarkelas yang bertemakan tentang keistimewaan seorang Ibu. Albert mencari puisi tersebut di perpustakaan. Albert menemukan buku kumpulan puisi karya Emha Ainun Najib. Setelah membacanya, ia jadi merasa menyukai puisi-puisi karya Emha Ainun Najib karena pemilihan kata yang sangat indah. Selain itu, ia juga menemukan sebuah puisi tentang ibu yang membuat Albert merasa bahwa puisi tersebut cocok dia bacakan pada saat lomba baca puisi. Berikut puisi yang ditemukan oleh Albert.
Apa alasan yang sesuai jika Albert memilih puisi “Bunda Air Mata” sebagai puisi yang ingin dibacakan pada saat lomba baca puisi?
A. Puisi tersebut berkaitan dengan peristiwa yang sedang dialami oleh Albert dengan ibunya.
B. Isi dari puisi tersebut menggambarkan sikap khusus dari seorang ibu yang perlu diketahui.
C. Albert sudah tertarik sejak lama dengan karya-karya dari Emha Ainun Najib.
C. Tema yang terdapat dalam puisi tersebut menggambarkan kehidupan seorang ibu.
D. Kata-kata dalam puisi Emha Ainun Najib sangatlah indah sehingga sesuai dengan syarat lomba baca puisi.
Melihat hasil seminar yang diikuti Ayah Alya tentang serdawa, Ibu Alya ingin melakukan sesuatu agar Alya tidak lagi sering serdawa. Ibu Alya mulai khawatir dengan faktor-faktor penyebab terjadinya serdawa, terutama faktor penyakit pencernaan. Ibu Alya mencari sumber informasi mengenai cara mencegah bahaya serdawa melalui artikel.
Tentukan hal-hal yang sesuai untuk mengatasi serdawa berdasarkan isi artikel di berikut dengan memberi tanda centang pada tabel yang tersedia!
Mengurangi konsumsi makanan yang manis
Minimalkan udara yang tertelan saat mengunyah atau berbicara dengan penggunaan gigi palsu yang diperiksakan secara rutin
Hindari berjalan kaki atau melakukan olahraga ringan sebelum makan
Usahakan untuk tidak mengonsumsi keju, yoghurt, dan es krim
Mengonsumsi vitamin yang membantu pencernaan
TRADISI UNIK WANITA SUKU KAREN
Saat berkunjung ke bagian utara Thailand, salah satu tempat yang tak boleh dilewatkan adalah desa tempat tinggal suku Karen. Di Thailand, ada beberapa desa wisata yang dapat dikunjungi untuk bertemu dan berinteraksi dengan suku Karen, salah satunya di Baan Tong Luang di Chiang Mai, Thailand. Meskipun terkenal di Thailand, suku Karen sebenarnya bukan penduduk asli Thailand. Suku Karen merupakan suku yang mengungsi dari negara Myanmar, mereka mengungsi ke Thailand karena penindasan yang dilakukan rezim militer yang berkuasa di Myanmar. Tentara-tentara pemerintah Myanmar menangkap orang-orang suku Karen, menembak mati sebagian dari mereka, membumihanguskan rumah-rumah mereka, dan memaksa mereka untuk menjadi pekerja. Hal-hal itulah yang menyebabkan lebih dari 2.000 suku Karen meninggalkan desa asal mereka dan mengungsi ke negara terdekat, yaitu Thailand.
Karen menjadi salah satu suku yang diincar para wisatawan karena tradisi uniknya. Para wanita suku Karen diwajibkan memanjangkan leher menggunakan gelang logam berwarna keemasan yang terbuat dari kuningan. Selain dikenakan di leher, gelang tersebut juga dikenakan di kaki dan pergelangan tangan. Gelang-gelang ini berfungsi untuk membentuk leher, kaki, dan pergelangan tangan mereka agar terlihat lebih panjang seperti burung phoenix. Hal itu didasari oleh kebudayaan turun-temurun serta kepercayaan bahwa wanita suku Karen berasal dari seekor burung phoenix yang berpasangan dengan naga (nenek moyang para pria suku Karen). Anggapan-anggapan inilah yang membuat suku Karen yakin bahwa wanita akan semakin cantik jika memiliki leher yang semakin panjang.
Selain karena adat dan tradisi, fungsi lain gelang-gelang itu adalah sebagai pelindung karena dahulu mereka tinggal di pegunungan dan sering terlibat kontak dengan binatang buas, seperti harimau dan beruang. Pada umumnya, binatang buas tersebut menyerang manusia pada bagian leher dan tenggorokan. Oleh karena itu, kaum hawa suku Karen mengenakan gelang-gelang tersebut pada leher mereka.
Gelang tersebut mulai dipakaikan pada perempuan suku Karen sejak mereka berusia 5 tahun. Awalnya, hanya 2-3 tumpuk gelang, kemudian setiap 2-3 tahun sekali tumpukan gelang akan ditambah sampai mereka mencapai usia 19 tahun. Setelah itu, gelang-gelang tadi digantikan dengan gelang logam yang terbuat dari 1 besi lonjor panjang yang dibentuk melingkar atau dililitkan ke leher mereka. Berat gelang logam di leher wanita dewasa mencapai 5 kg dan gelang kaki di bawah lutut beratnya masing-masing 1 kg. Berarti, setiap hari mereka membawa beban 7 kg. Gelang itu dapat dilepas, tetapi proses pelepasannya tidak mudah dan hanya dilakukan pada saat menikah, melahirkan, dan meninggal dunia. Kebanyakan wanita suku Karen meninggal pada usia 40-50 tahun. Hal itu diduga karena besi-besi yang membebani tulang leher merusak susunan tulang pada organ tubuh lainnya. Meskipun demikian, wanita suku Karen tetap mempertahankan kebiasaan memakai gelang karena sudah menjadi adat istiadat dan kepercayaan yang turun-temurun.
Penggunaan gelang-gelang pada suku Karen sudah diatur oleh adat sedemikian rupa. Tentukan pernyataan yang tepat di bawah ini!
Pria dan wanita di suku Karen diwajibkan memanjangkan leher menggunakan tumpukan kawat yang terbuat dari kuningan.
Wanita suku Karen setiap hari membawa beban 7 kg di tubuhnya dan sekitar 72% bebannya berada di leher mereka.
Wanita suku Karen yang berusia 30 tahun wajib mengenakan gelang leher seberat 5 kg.
Wanita suku Karen memilih salah satu momen saat melepas gelang lehernya, yaitu saat menikah, melahirkan, atau meninggal dunia.
Pada saat usia 19 tahun, proses penambahan beban di leher sudah berhenti dan boleh dilepas dengan persetujuan ketua adat.
Sekilas Seni Budaya Indramayu
Upacara adat yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat alam dari Tuhan disebut ….
Sedekah bumi
Mapag tamba
Mapag sri
Ngarot
Walt Disney: Pelopor Kartun Animasi
Film “Mickey Mouse” pertama kali tayang pada tahun ….
1901
1922
1928
1937
Perhatikan wacana dan ilustrasi berikut!
Budi mendapat tugas dari gurunya untuk membuat sebuah kerajinan. Kerajinan yang dibuat harus memiliki tema “Lingkungan Hidup”. Kemudian, Anton mencari ide dengan cara membaca berbagai berita mengenai lingkungan Hidup. Budi pun menemukan berita berikut.
PARAHNYA MASALAH SAMPAH PLASTIK DI INDONESIA
Masalah sampah plastik di Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010, ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Di antara jutaan ton sampah tersebut, sekitar 4,8 hingga 12,7 juta ton terbuang ke laut dan mencemari laut. Di Indonesia, ada sekitar 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48 hingga 1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. Padahal, jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut di India hanya sekitar 0,09—0,24 juta ton per tahun dan India menempati urutan ke-12 sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan India, dimungkinkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal.
Tak hanya itu, pencemaran plastik di Indonesia pun diperkirakan akan terus meningkat. Hal itu dapat terjadi karena saat ini, industri-industri minuman di Indonesia tumbuh dengan pesat. Padahal, banyak produk minuman yang menggunakan plastik sekali pakai sebagai packaging. Pertumbuhan industri minuman yang sangat pesat tentu saja akan menghasilkan pertumbuhan jumlah sampah plastik yang semakin banyak. Terlebih, saat ini kapasitas pengolahan limbah plastik masih terbilang minim.
(Diadaptasi dari https://www.cnbcindonesia.com/ pada Oktober 2020)
Berdasarkan berita tersebut, untuk mengurangi tingkat pencemaran plastik, peran apa yang dapat kamu lakukan sebagai siswa?
Membuat minuman berkemasan plastik secara pribadi.
Membuat aturan mengenai larangan membuang sampah plastik.
Tidak membuang sampah sembarangan.
Membuang seluruh plastik yang dimiliki agar tidak menjadi sampah.
