wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

teks cerpen

Total questions: 80

Worksheet time: 2hrs 53mins

Name
Class
Date
1.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 1-5!


Sekarang Aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis?


Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya, selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.


(dikutip dari cerpen “Gerobak” karya Seno Gumira Ajidarma


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, dapat diketahui bahwa ...

a)

Orang-orang dengan gerobak menempatkan cawan di dekat gerobak mereka untuk mendapatkan uang.

b)

Jumlah gerobak-gerobak yang masuk ke kota mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.

c)

Gerobak-gerobak yang datang ke kota berasal dari berbagai tempat, baik dekat maupun jauh.

d)

Orang-orang dengan gerobak akan mendapatkan uang meskipun mereka tidak mengulurkan tangan.

e)

Orang-orang kota tampak enggan memberikan sedekah kepada orang-orang dengan gerobak.

2.

Kutipan cerpen di atas menunjukkan bahwa tokoh Aku ...

a)

Menyadari gerobak-gerobak itu tidak terurus dan tidak mendapatkan perhatian dari orang-orang kota

b)

Merasa bosan dengan kedatangan gerobak-gerobak itu dan memilih untuk tidak memperhatikannya

c)

Mendapatkan cerita dari kakeknya bahwa gerobak-gerobak itu datang dari desa-desa yang amat jauh

d)

Tidak pernah melihat manusia-manusia dengan gerobak itu menengadahkan tangan menggunakan piring seng untuk mengemis.

e)

Melihat bahwa ada sebagian orang dengan gerobak menggunakan batok kelapa atau piring seng untuk menampung sedekah berupa uang

3.

Kedatangan gerobak-gerobak asing ke kota dengan kondisi yang memprihatinkan untuk dapat menyambung hidup merupakan cerminan dari nilai kehidupan berupa ... .

a)

Budaya

b)

Agama

c)

Sosial

d)

Moral

e)

Religi

4.

Tokoh “Aku” dalam kutipan cerpen di atas memiliki karakter/sikap ... .

a)

Sabar

b)

Apatis

c)

Peduli

d)

Ambisius

e)

Semangat

5.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

6.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 6-10!


“Zaman sekarang lebih dari zaman edan, Bud. Semua orang lagi pada mabuk kepingin jadi pahlawan. Tapi karena sudah terlalu lama jadi orang miskin, yang paling gampang dijadikan musuh ya orang-orang yang punya rezeki lebih, seperti Pakdemu.”


“Boleh tahu, Bude, apa yang dituduhkan kejaksaan pada Pakde?”


“Cerita lama, Bud. Penyalahgunaan yayasan Mangayu Bagyo, pembangunan hotel di Bogor dan Kintamani, yang katanya izin bangunannya tidak sesuai peruntukan, mark-up dana pembelian kapal-kapal patroli buat angkatan laut, dan… apa lagi, gitu, aku malah tidak ingat semuanya. Terlalu banyak, Bud. Terlalu banyak orang yang ingin kebagian rezeki dengan cara-cara yang tak kenal malu hingga segala sesuatu yang sudah semestinya malah diutak- atik, diobok-obok, supaya seolah-olah ada masalah. Lalu, ahli-ahli hukum yang katanya pinter-pinter itu berebut menyumbang kepintarannya dengan cara menafsir-nafsir pasal-pasal hukum hingga yang selama ini dianggap benar bisa jadi salah, yang selama ini tidak melanggar hukum bisa dianggap melanggar hukum. Memalukan, Bud, memalukan sekali orang-orang seperti itu. Sampai hati menistakan diri sendiri demi uang yang tak seberapa nilainya.”


Tidak seperti biasanya, selewat tengah malam Budiman terjaga untuk melakukan salat tahajud. Tak kurang dari sejam ia berdoa dan terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Pakde Muhargo diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi situasi yang absurd ini. Budiman sungguh tak rela kalau pakdenya yang sangat dihormatinya itu sampai benar-benar dimejahijaukan dan dipenjara.


Bagi Budiman, Pakde Muhargo memang segala-galanya. Lebih dari sekadar kakak almarhum ayahnya, beliau adalah seorang panutan, sesepuh sekaligus “juru selamat” bagi kehidupan pribadi dan rumah tangganya. Budiman tak akan pernah melupakan masa remajanya, yaitu setelah lulus SMP pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah pakdenya ini. Setiap pagi ia bangun jam setengah lima untuk mengepel lantai, mencuci mobil, dan menyapu taman sebelum ia mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan mengejar bus kota untuk mencari celah di antara belasan orang yang bergelantungan di pintu belakang.


(dikutip dari cerpen “Musibah” karya Jujur Prananto)


Ungkapan berikut ini mengambarkan kutipan cerpen di atas, kecuali ...

a)

Kutipan cerpen di atas menyajikan sedikit tokoh yang terdiri dari Budiman, Pakde Muhargo, dan Bude.

b)

Latar disajikan secara terbatas, seperti pada bagian cerita kilas balik Budiman ketika menjalani kehidupannya semasa SMP di Jakarta

c)

Konflik yang disajikan adalah berupa konflik terbatas/tunggal, yaitu penahanan Pakde atas berbagai tuduhan yang sifatnya politis.

d)

Cerpen ini berusaha untuk membenturkan berbagai macam konflik sehingga tercipta situasi yang kompleks dan membutuhkan penyelesaian yang rinci.

e)

Hanya menyajikan hal-hal yang benar-benar penting dan berarti untuk medukung alur cerita, seperti pada curahan hati Bude yang dikemas dengan padat.

7.

Informasi yang tidak sesuai dengan kutipan cerpen di atas adalah ...

a)

Budiman pernah tinggal bersama Pakde Muhargo di Jakarta.

b)

Pakde Muhargo adalah sosok yang sangat dihormati oleh Budiman.

c)

Semasa di Jakarta, Budiman rutin bangun pukul setengah lima pagi.

d)

Pakde Muhargo sudah diputuskan bersalah dan sedang berada di penjara.

e)

Banyak orang yang ingin kebagian rizki dengan cara yang tidak tahu malu.

8.

Pernyataan Bude tentang semakin banyaknya orang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan menunjukkan lemahnya nilai ...

a)

Kultural

b)

Ekonomi

c)

Budaya

d)

Sosial

e)

Moral

9.

Alur yang tersaji dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Maju

b)

Regresif

c)

Progresif

d)

Campuran

e)

Sorot balik

10.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

11.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 11-15!


Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Karena itu, hujan dan kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Kadang-kadang pagi, siang, petang atau malam hari. Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu.


Tetapi, karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu, warga kota tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung, atau hujan tiba-tiba menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Paling-paling orang hanya bergumam, seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha, sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka kembangkan payung, melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng.


Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”


(dikutip dari cerpen “Warga Kota Kacang Goreng” karya Adek Alwi)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, warga di lereng Gunung Singgalang tetap tenang ketika cuaca tidak menentu karena ... .

a)

Orang-rang membawa payung atau mempertongkatnya ketika bepergian

b)

Mereka meniru budaya lampau di Eropa yang kerap membawa payung

c)

Sudah terbiasa berhadapan dengan cuaca tidak menentu sejak lahir

d)

Hujan maupun kabut tidak akan turun dalam waktu yang lama

e)

Terbiasa bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng

12.

Pernyataan berikut ini yang tidak sesuai dengan isi kutipan cerpen di atas adalah ...

a)

Warga di lereng Gunung Singgalang suka meniru budaya Eropa.

b)

Di lereng Gunung Singgalang, hujan bisa datang sewaktu-waktu.

c)

Kabut dapat turun ke lereng Gunung Singgalang secara tiba-tiba.

d)

Ketika tiba-tiba hujan, warga di lereng Gunung Singgalang tetap tenang.

e)

Warga di lereng Gunung Singgalang membawa payung meskipun tidak hujan.

13.

Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”


Nilai kehidupan yang digambarkan secara dominan pada paragraf tersebut adalah nilai ... .

a)

Moral

b)

Sosial

c)

Politik

d)

Hukum

e)

Budaya

14.

Fakta cerita yang menjadi fokus penceritaan dalam kutipan cerpen di atas adalah .... .

a)

Alur

b)

Latar

c)

Tokoh

d)

Amanat

e)

Sudut pandang

15.

Gaya bahasa yang ditonjolkan dalam ungkapan yang dicetak tebal “Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu adalah .... .

a)

Repetisi

b)

Hiperbola

c)

Pleonasme

d)

Eufemisme

e)

Paralelisme

16.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 16-20!


Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas. Sudah divonis dokter sebagai penderita asma akut, toh suaminya itu tidak mau berhenti merokok. Berapalah gaji satpam yang sering mangkir seperti dia? Untuk uang jajan sekolah Gadis, adik Agus saja, suaminya tak mampu.


“Tak usah kau pikirkan berapa ongkos berangkat si Agus ke Bandung itu. Aku yang nanggung, tanda ikut gembira dan bersyukur. Dia kebanggaan kampung itu. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB,” kata Nyonya Rakusni ketika Minggu itu Anisah mencuci di rumah itu.


“Terima kasih, Nyonya. Nanti saya usahakan mengembalikan uang Nyonya.”


“Oo, tidak begitu. Itu gratis. Cuma, biaya bulanan, kau pikirkanlah sendiri. Ya? Ngerti ndak?”


“Iya, ya. Terima kasih banyak Nyonya. Nyonya baik sekali.”


Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun. Akan tetapi, peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah. Nyonya Rakusni adalah pemilik sawah terluas di kampung itu. Orang-orang memanggilnya Rangkayo, suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan seorang rentenir.


(dikutip dari cerpen “Anak Panah” karya Harris Effendi Thahar)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, Anisah selalu bekerja tanpa mengenal libur karena ia ... .

a)

Ingin membeli sawah-sawah di kampung sebagai modal berwirausaha

b)

Membeli kebutuhan sehari-hari agar keluarganya dapat bertahan hidup

c)

Membayar utang kepada Nyonya Rakusni yang sudah terlampau banyak

d)

Memerlukan uang untuk mengobati suaminya yang menderita asma akut

e)

Membiayai putra kebanggaannya yang berhasul masuk kampus terkemuka

17.

Nilai kehidupan yang tampak dalam kutipan Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. adalah .... .

a)

Moral

b)

Religi

c)

Hukum

d)

Budaya

e)

Ekonomi

18.

Tokoh Anisah dalam kutipan cerpen di atas memiliki karakter-karakter berikut, kecuali ... .

a)

Acuh

b)

Gigih

c)

Sabar

d)

Segan

e)

Mandiri

19.

Kutipan cerpen berikut ini yang mengedepankan latar sosial adalah …

a)

Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun.

b)

Dia kebanggaan kampung itu. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB.

c)

Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah.

d)

Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas.

e)

Akan tetapi, peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah.

20.

Kutipan Orang-orang memanggilnya Rangkayo, suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan seorang rentenir. menampilan suatu gaya bahasa berupa ... .

a)

Ironi

b)

Paradoks

c)

Hiperbola

d)

Metonimia

e)

Personifikasi

21.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 21-25!


Karmain ingat, ketika masih umurnya memasuki masa remaja, dia bercita-cita, kelak kalau sudah dewasa, dia akan memiliki gedung bioskop. Maka, dengan caranya sendiri, dia menciptakan bioskop-bioskopan. Kertas tipis dia gunting, dia bentuk menjadi orang-orangan. Lalu dengan tekun dia membuat roda kecil dari kayu. Orang-orangan dari kertas tipis dia ikat pada benang, benang ditempelkan pada roda kayu. Lalu dia memasang kertas minyak, menutup semua jendela supaya gelap, menyalakan lilin, menggerak-gerakkan orang-orangan. Dari balik kertas minyak terpantulah bayangan orang-orangan. Mereka bisa berlari-lari, berkejar-kejaran, dan saling membunuh, seperti yang terjadi pada tontonan wayang kulit.


Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.


Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak oleh kobaran-kobaran api.


(dikutip dari cerpen “Laki-laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma)


Paragraf kedua kutipan cerpen di atas didominasi oleh nilai ... .

a)

Moral

b)

Religi

c)

Hukum

d)

Budaya

e)

Ekonomi

22.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba


Latar yang ditampilkan dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Latar sosial

b)

Latar waktu

c)

Latar tempat

d)

Latar budaya

e)

Latar suasana

23.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, Watak dari Karmain ...

a)

Lalai

b)

Tekun

c)

Gegabah

d)

Rajin sembahyang

e)

Gemar berimajinasi

24.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

25.

Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit.


Kata yang bercetak tebal di atas menggambarkan majas ... .

a)

Anafora

b)

Repetisi

c)

Tautologi

d)

Pleonasme

e)

Paralelisme

26.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 26-30!


Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.


Masih pagi kok mau pulang, Min?” Tanya Saidah. “Sakit?”


Karyamin meggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dan perut Karyamin.


“Makan, Min?”


“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”


“Iya, Min. Iya. Tetapi kamu lapar, kan?”


Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.


“Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayar, kan?”


Sikap tokoh Saidah kepada Karyamin mengandung nilai ... .

a)

Religi

b)

Hukum

c)

Sosial

d)

Budaya

e)

Pendidikan

27.

Dari kutipan cerpen di atas, Karyamin memiliki sejumlah watak sebagai berikut, kecuali … .

a)

Sabar

b)

Tekun

c)

Acuh

d)

Ramah

e)

Angkuh

28.

Ironi dalam cerpen di atas terdapat dalam kalimat ... .

a)

Karyamin turun-naik. Ususnya terasa terpilin.

b)

Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dan perut Karyamin.

c)

Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat.

d)

Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan.

e)

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar.

29.

Dari profesi Karyamin dapat kita ketahui latar cerpen di atas adalah ... .

a)

Laut

b)

Danau

c)

Pantai

d)

Sungai

e)

Rawa-rawa

30.

Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.


Majas yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Personifikasi

b)

Metafora

c)

Alegori

d)

Litotes

e)

Simile

31.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 31-35!


Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?


Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Di samping para tetangga, juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Kadang datang berbondong. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng, ramai. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Juga tentang hubungan suami istri, menantu dengan mertua, bawahan dengan atasan, persoalan anak dengan orangtuanya, juga masalah percintaan antaranak-anak remaja.


Jika ditanya, saya menjawab sekenanya, sekadar yang saya tahu. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Sungguh menghabiskan waktu. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan.


(Dikutip dari cerpen berjudul “Nistagmus” karya Danarto)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, dapat diketahui bahwa …

a)

Tokoh “Saya” tidak suka dengan kedatangan orang-orang di sekitar rumahnya.

b)

Orang-orang menemui tokoh “Saya” untuk mendengarkan petuah-petuah bijak.

c)

Pertemuan rutin digelar di dusun untuk membangkitkan suasana kemeriahan.

d)

Tokoh “Saya” berwatak supel sehingga banyak orang yang berteman dengannya.

e)

Pembicaraan mengenai menantu dan mertua sengaja dihindari oleh tokoh “Saya”.

32.

Kata-kata sifat berikut ini mencerminkan watak tokoh “Saya”, kecuali … .

a)

Mudah bergaul

b)

Ramah

c)

Acuh

d)

Supel

e)

Abai

33.

Yang dilakukan tokoh “Saya” ketika merasa penasaran terhadap orang-rang yang berada di luar rumah adalah … .

a)

Meminta anak-anak yang telah selesai sarapan untuk melihat dari jendela

b)

Meminta istrinya untuk menemui orang-orang yang ada di luar rumah

c)

Menyingkap kain gorden jendela sedikit untuk melihat keadaan di luar

d)

Menutup gorden jendela dan membiarkan orang-orang itu menunggu

e)

Membuka pintu dan menemui orang-orang yang telah menunggunya

34.

Ungkapan “Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan.” menujukkan citraan … .

a)

Visual

b)

Perabaan

c)

Auditoris

d)

Kinestetik

e)

Pengecapan

35.

Majas simile terdapat dalam kalimat … .

a)

Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah.

b)

Saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah

c)

Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan.

d)

Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang.

e)

Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga.

36.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 36-40!


Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera membuka mata dan berdiri. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri.


”Pak Kimpul, kan?” kata lelaki muda itu bertanya.

”Benar, saya Kimpul”.

”Masih kenal saya, Pak?”


Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Ia tidak berhasil. Karena itu ia menggeleng dengan sopan.


”Saya Dasuki.”

”Dasuki?” Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. Sekali lagi ia tidak berhasil.

”Tidak apa-apa, Pak, kalau tidak ingat. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. Lima tahun. Cukup lama memang.”


Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Jangan-jangan dia salah alamat. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul, tapi Kimpul yang lain. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu.


”Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. Ketika Bapak akan mencukur janggut, kumis dan cambang saya, tiba-tiba turun hujan deras. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh,” katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. Kimpul mendengarkan dengan serius.


”Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun, saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Karena saya harus segera kembali ke kantor, saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. Saya langsung pergi dengan janggut, kumis dan cambang yang belum dicukur. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.”


Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu.


”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”


(Dikutip dari cerpen berjudul “Kimpul” karya Sori Siregar)


Ungkapan berikut ini yang menggambarkan kondisi tempat Kimpul memotong rambut adalah …

a)

Kursi lipat menjadi salah satu peralatan dalam ruko yang dimiliki oleh kimpul.

b)

Kimpul membuka jasa pemotongan rambut di sebuah ruko di dekat stasiun.

c)

Kimpul menyediakan satu unit sepeda motor untuk disewa pelanggannya.

d)

Lokasi jasa pemotongan rambut milik Kimpul berada di dalam stasiun.

e)

Lokasi jasa pemotongan rambut miliki Kimpul tidak memiliki atap.

37.

Watak tokoh Kimpul yang sopan ditunjukkan melalui ungkapan …

a)

Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut.

b)

Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu.

c)

Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun.

d)

Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya.

e)

Ia (Kimpul) menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya.

38.

Dasuki belum membayar jasa potong rambut ke Kimpul karena alasan-alasan berikut, kecuali …

a)

Dasuki terburu-buru menaiki motornya dan pergi berteduh di stasiun.

b)

Dasuki harus segera mempersiapkan kepindahannya ke Jakarta.

c)

Hujan tiba-tiba turun ketika Kimpul akan memotong kumis, janggut, dan cambang Dasuki.

d)

Kimpul berada dalam kerumunan banyak orang di stasiun dan Dasuki tidak bisa menemukannya.

e)

Dasuki lupa belum membayar ke Kimpul karena sudah terlalu lama Dasuki berada di Jakarta.

39.

Majas personifikasi ditunjukkan oleh ungkapan …

a)

Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya.

b)

Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut.

c)

Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu.

d)

Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.

e)

Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum.

40.

Ungkapan “Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh.” menunjukkan citraan … .

a)

Visual

b)

Perabaan

c)

Auditoris

d)

Kinestetik

e)

Pengecapan

41.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 1-5!


Sekarang Aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis?


Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya, selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.


(dikutip dari cerpen “Gerobak” karya Seno Gumira Ajidarma


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, dapat diketahui bahwa ...

a)

Orang-orang dengan gerobak menempatkan cawan di dekat gerobak mereka untuk mendapatkan uang.

b)

Jumlah gerobak-gerobak yang masuk ke kota mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.

c)

Gerobak-gerobak yang datang ke kota berasal dari berbagai tempat, baik dekat maupun jauh.

d)

Orang-orang dengan gerobak akan mendapatkan uang meskipun mereka tidak mengulurkan tangan.

e)

Orang-orang kota tampak enggan memberikan sedekah kepada orang-orang dengan gerobak.

42.

Kutipan cerpen di atas menunjukkan bahwa tokoh Aku ...

a)

Menyadari gerobak-gerobak itu tidak terurus dan tidak mendapatkan perhatian dari orang-orang kota

b)

Merasa bosan dengan kedatangan gerobak-gerobak itu dan memilih untuk tidak memperhatikannya

c)

Mendapatkan cerita dari kakeknya bahwa gerobak-gerobak itu datang dari desa-desa yang amat jauh

d)

Tidak pernah melihat manusia-manusia dengan gerobak itu menengadahkan tangan menggunakan piring seng untuk mengemis.

e)

Melihat bahwa ada sebagian orang dengan gerobak menggunakan batok kelapa atau piring seng untuk menampung sedekah berupa uang

43.

Kedatangan gerobak-gerobak asing ke kota dengan kondisi yang memprihatinkan untuk dapat menyambung hidup merupakan cerminan dari nilai kehidupan berupa ... .

a)

Budaya

b)

Agama

c)

Sosial

d)

Moral

e)

Religi

44.

Tokoh “Aku” dalam kutipan cerpen di atas memiliki karakter/sikap ... .

a)

Sabar

b)

Apatis

c)

Peduli

d)

Ambisius

e)

Semangat

45.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

46.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 6-10!


“Zaman sekarang lebih dari zaman edan, Bud. Semua orang lagi pada mabuk kepingin jadi pahlawan. Tapi karena sudah terlalu lama jadi orang miskin, yang paling gampang dijadikan musuh ya orang-orang yang punya rezeki lebih, seperti Pakdemu.”


“Boleh tahu, Bude, apa yang dituduhkan kejaksaan pada Pakde?”


“Cerita lama, Bud. Penyalahgunaan yayasan Mangayu Bagyo, pembangunan hotel di Bogor dan Kintamani, yang katanya izin bangunannya tidak sesuai peruntukan, mark-up dana pembelian kapal-kapal patroli buat angkatan laut, dan… apa lagi, gitu, aku malah tidak ingat semuanya. Terlalu banyak, Bud. Terlalu banyak orang yang ingin kebagian rezeki dengan cara-cara yang tak kenal malu hingga segala sesuatu yang sudah semestinya malah diutak- atik, diobok-obok, supaya seolah-olah ada masalah. Lalu, ahli-ahli hukum yang katanya pinter-pinter itu berebut menyumbang kepintarannya dengan cara menafsir-nafsir pasal-pasal hukum hingga yang selama ini dianggap benar bisa jadi salah, yang selama ini tidak melanggar hukum bisa dianggap melanggar hukum. Memalukan, Bud, memalukan sekali orang-orang seperti itu. Sampai hati menistakan diri sendiri demi uang yang tak seberapa nilainya.”


Tidak seperti biasanya, selewat tengah malam Budiman terjaga untuk melakukan salat tahajud. Tak kurang dari sejam ia berdoa dan terus berdoa, memohon pada Tuhan agar Pakde Muhargo diberi kekuatan lahir dan batin menghadapi situasi yang absurd ini. Budiman sungguh tak rela kalau pakdenya yang sangat dihormatinya itu sampai benar-benar dimejahijaukan dan dipenjara.


Bagi Budiman, Pakde Muhargo memang segala-galanya. Lebih dari sekadar kakak almarhum ayahnya, beliau adalah seorang panutan, sesepuh sekaligus “juru selamat” bagi kehidupan pribadi dan rumah tangganya. Budiman tak akan pernah melupakan masa remajanya, yaitu setelah lulus SMP pindah ke Jakarta dan tinggal di rumah pakdenya ini. Setiap pagi ia bangun jam setengah lima untuk mengepel lantai, mencuci mobil, dan menyapu taman sebelum ia mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan mengejar bus kota untuk mencari celah di antara belasan orang yang bergelantungan di pintu belakang.


(dikutip dari cerpen “Musibah” karya Jujur Prananto)


Ungkapan berikut ini mengambarkan kutipan cerpen di atas, kecuali ...

a)

Kutipan cerpen di atas menyajikan sedikit tokoh yang terdiri dari Budiman, Pakde Muhargo, dan Bude.

b)

Latar disajikan secara terbatas, seperti pada bagian cerita kilas balik Budiman ketika menjalani kehidupannya semasa SMP di Jakarta

c)

Konflik yang disajikan adalah berupa konflik terbatas/tunggal, yaitu penahanan Pakde atas berbagai tuduhan yang sifatnya politis.

d)

Cerpen ini berusaha untuk membenturkan berbagai macam konflik sehingga tercipta situasi yang kompleks dan membutuhkan penyelesaian yang rinci.

e)

Hanya menyajikan hal-hal yang benar-benar penting dan berarti untuk medukung alur cerita, seperti pada curahan hati Bude yang dikemas dengan padat.

47.

Informasi yang tidak sesuai dengan kutipan cerpen di atas adalah ...

a)

Budiman pernah tinggal bersama Pakde Muhargo di Jakarta.

b)

Pakde Muhargo adalah sosok yang sangat dihormati oleh Budiman.

c)

Semasa di Jakarta, Budiman rutin bangun pukul setengah lima pagi.

d)

Pakde Muhargo sudah diputuskan bersalah dan sedang berada di penjara.

e)

Banyak orang yang ingin kebagian rizki dengan cara yang tidak tahu malu.

48.

Pernyataan Bude tentang semakin banyaknya orang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan menunjukkan lemahnya nilai ...

a)

Kultural

b)

Ekonomi

c)

Budaya

d)

Sosial

e)

Moral

49.

Alur yang tersaji dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Maju

b)

Regresif

c)

Progresif

d)

Campuran

e)

Sorot balik

50.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

51.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 11-15!


Kota kami terletak di dataran tinggi di lereng Gunung Singgalang. Karena itu, hujan dan kabut di sana seolah-olah turun sesukanya. Kadang-kadang pagi, siang, petang atau malam hari. Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu.


Tetapi, karena sejak muncrat ke dunia sudah bergaul dengan cuaca serupa itu, warga kota tak mengumpat ketika kabut mendadak turun dari bukit dan gunung, atau hujan tiba-tiba menderap laksana suara kaki belasan ekor kuda. Paling-paling orang hanya bergumam, seperti menghadapi anak yang nakal: “Ha, sudah turun pula si kaki seribu!” Lalu mereka kembangkan payung, melenggang tenang-tenang di atas trotoar sambil bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng.


Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”


(dikutip dari cerpen “Warga Kota Kacang Goreng” karya Adek Alwi)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, warga di lereng Gunung Singgalang tetap tenang ketika cuaca tidak menentu karena ... .

a)

Orang-rang membawa payung atau mempertongkatnya ketika bepergian

b)

Mereka meniru budaya lampau di Eropa yang kerap membawa payung

c)

Sudah terbiasa berhadapan dengan cuaca tidak menentu sejak lahir

d)

Hujan maupun kabut tidak akan turun dalam waktu yang lama

e)

Terbiasa bersiul, bercakap-cakap, atau makan kacang goreng

52.

Pernyataan berikut ini yang tidak sesuai dengan isi kutipan cerpen di atas adalah ...

a)

Warga di lereng Gunung Singgalang suka meniru budaya Eropa.

b)

Di lereng Gunung Singgalang, hujan bisa datang sewaktu-waktu.

c)

Kabut dapat turun ke lereng Gunung Singgalang secara tiba-tiba.

d)

Ketika tiba-tiba hujan, warga di lereng Gunung Singgalang tetap tenang.

e)

Warga di lereng Gunung Singgalang membawa payung meskipun tidak hujan.

53.

Betul. Berbagai pemandangan ganjil-lucu yang tidak bersua di tempat lain bisa kau temukan di kota kami kalau Anda suatu ketika berkunjung ke sana. Meski cuaca cerah, orang-orang di jalan-jalan kau lihat membawa payung atau mempertongkatnya, mirip dengan warga kota-kota besar Eropa pada masa lalu. Dengan tongkat-payung itu pula mereka saling melambai dan menyapa. “Hoi, apa kabar! Baik? Singgahlah dulu!”


Nilai kehidupan yang digambarkan secara dominan pada paragraf tersebut adalah nilai ... .

a)

Moral

b)

Sosial

c)

Politik

d)

Hukum

e)

Budaya

54.

Fakta cerita yang menjadi fokus penceritaan dalam kutipan cerpen di atas adalah .... .

a)

Alur

b)

Latar

c)

Tokoh

d)

Amanat

e)

Sudut pandang

55.

Gaya bahasa yang ditonjolkan dalam ungkapan yang dicetak tebal “Adakalanya juga dari pagi sampai malam, ataupun sebaliknya-bahkan ketika kemarau mungkin sedang meretak-retakkan tanah di kotamu adalah .... .

a)

Repetisi

b)

Hiperbola

c)

Pleonasme

d)

Eufemisme

e)

Paralelisme

56.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 16-20!


Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas. Sudah divonis dokter sebagai penderita asma akut, toh suaminya itu tidak mau berhenti merokok. Berapalah gaji satpam yang sering mangkir seperti dia? Untuk uang jajan sekolah Gadis, adik Agus saja, suaminya tak mampu.


“Tak usah kau pikirkan berapa ongkos berangkat si Agus ke Bandung itu. Aku yang nanggung, tanda ikut gembira dan bersyukur. Dia kebanggaan kampung itu. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB,” kata Nyonya Rakusni ketika Minggu itu Anisah mencuci di rumah itu.


“Terima kasih, Nyonya. Nanti saya usahakan mengembalikan uang Nyonya.”


“Oo, tidak begitu. Itu gratis. Cuma, biaya bulanan, kau pikirkanlah sendiri. Ya? Ngerti ndak?”


“Iya, ya. Terima kasih banyak Nyonya. Nyonya baik sekali.”


Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun. Akan tetapi, peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah. Nyonya Rakusni adalah pemilik sawah terluas di kampung itu. Orang-orang memanggilnya Rangkayo, suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan seorang rentenir.


(dikutip dari cerpen “Anak Panah” karya Harris Effendi Thahar)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, Anisah selalu bekerja tanpa mengenal libur karena ia ... .

a)

Ingin membeli sawah-sawah di kampung sebagai modal berwirausaha

b)

Membeli kebutuhan sehari-hari agar keluarganya dapat bertahan hidup

c)

Membayar utang kepada Nyonya Rakusni yang sudah terlampau banyak

d)

Memerlukan uang untuk mengobati suaminya yang menderita asma akut

e)

Membiayai putra kebanggaannya yang berhasul masuk kampus terkemuka

57.

Nilai kehidupan yang tampak dalam kutipan Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. adalah .... .

a)

Moral

b)

Religi

c)

Hukum

d)

Budaya

e)

Ekonomi

58.

Tokoh Anisah dalam kutipan cerpen di atas memiliki karakter-karakter berikut, kecuali ... .

a)

Acuh

b)

Gigih

c)

Sabar

d)

Segan

e)

Mandiri

59.

Kutipan cerpen berikut ini yang mengedepankan latar sosial adalah …

a)

Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun.

b)

Dia kebanggaan kampung itu. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB.

c)

Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah.

d)

Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas.

e)

Akan tetapi, peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah.

60.

Kutipan Orang-orang memanggilnya Rangkayo, suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti yang sesungguhnya, melainkan seorang rentenir. menampilan suatu gaya bahasa berupa ... .

a)

Ironi

b)

Paradoks

c)

Hiperbola

d)

Metonimia

e)

Personifikasi

61.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 21-25!


Karmain ingat, ketika masih umurnya memasuki masa remaja, dia bercita-cita, kelak kalau sudah dewasa, dia akan memiliki gedung bioskop. Maka, dengan caranya sendiri, dia menciptakan bioskop-bioskopan. Kertas tipis dia gunting, dia bentuk menjadi orang-orangan. Lalu dengan tekun dia membuat roda kecil dari kayu. Orang-orangan dari kertas tipis dia ikat pada benang, benang ditempelkan pada roda kayu. Lalu dia memasang kertas minyak, menutup semua jendela supaya gelap, menyalakan lilin, menggerak-gerakkan orang-orangan. Dari balik kertas minyak terpantulah bayangan orang-orangan. Mereka bisa berlari-lari, berkejar-kejaran, dan saling membunuh, seperti yang terjadi pada tontonan wayang kulit.


Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.


Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak oleh kobaran-kobaran api.


(dikutip dari cerpen “Laki-laki Pemanggul Goni” karya Budi Darma)


Paragraf kedua kutipan cerpen di atas didominasi oleh nilai ... .

a)

Moral

b)

Religi

c)

Hukum

d)

Budaya

e)

Ekonomi

62.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba


Latar yang ditampilkan dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Latar sosial

b)

Latar waktu

c)

Latar tempat

d)

Latar budaya

e)

Latar suasana

63.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, Watak dari Karmain ...

a)

Lalai

b)

Tekun

c)

Gegabah

d)

Rajin sembahyang

e)

Gemar berimajinasi

64.

Dilihat dari segi teknik penceritaannya, kutipan cerpen di atas diceritakan menggunakan sudut pandang ... .

a)

Orang ketiga serba tahu

b)

Sudut pandang campuran

c)

Orang pertama tokoh utama

d)

Orang pertama tokoh tambahan

e)

Orang ketiga terbatas/pengamat

65.

Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit.


Kata yang bercetak tebal di atas menggambarkan majas ... .

a)

Anafora

b)

Repetisi

c)

Tautologi

d)

Pleonasme

e)

Paralelisme

66.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 26-30!


Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.


Masih pagi kok mau pulang, Min?” Tanya Saidah. “Sakit?”


Karyamin meggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dan perut Karyamin.


“Makan, Min?”


“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”


“Iya, Min. Iya. Tetapi kamu lapar, kan?”


Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.


“Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayar, kan?”


Sikap tokoh Saidah kepada Karyamin mengandung nilai ... .

a)

Religi

b)

Hukum

c)

Sosial

d)

Budaya

e)

Pendidikan

67.

Dari kutipan cerpen di atas, Karyamin memiliki sejumlah watak sebagai berikut, kecuali … .

a)

Sabar

b)

Tekun

c)

Acuh

d)

Ramah

e)

Angkuh

68.

Ironi dalam cerpen di atas terdapat dalam kalimat ... .

a)

Karyamin turun-naik. Ususnya terasa terpilin.

b)

Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dan perut Karyamin.

c)

Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat.

d)

Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan.

e)

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar.

69.

Dari profesi Karyamin dapat kita ketahui latar cerpen di atas adalah ... .

a)

Laut

b)

Danau

c)

Pantai

d)

Sungai

e)

Rawa-rawa

70.

Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.


Majas yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ... .

a)

Personifikasi

b)

Metafora

c)

Alegori

d)

Litotes

e)

Simile

71.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 31-35!


Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?


Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Di samping para tetangga, juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Kadang datang berbondong. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng, ramai. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Juga tentang hubungan suami istri, menantu dengan mertua, bawahan dengan atasan, persoalan anak dengan orangtuanya, juga masalah percintaan antaranak-anak remaja.


Jika ditanya, saya menjawab sekenanya, sekadar yang saya tahu. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Sungguh menghabiskan waktu. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan.


(Dikutip dari cerpen berjudul “Nistagmus” karya Danarto)


Berdasarkan kutipan cerpen di atas, dapat diketahui bahwa …

a)

Tokoh “Saya” tidak suka dengan kedatangan orang-orang di sekitar rumahnya.

b)

Orang-orang menemui tokoh “Saya” untuk mendengarkan petuah-petuah bijak.

c)

Pertemuan rutin digelar di dusun untuk membangkitkan suasana kemeriahan.

d)

Tokoh “Saya” berwatak supel sehingga banyak orang yang berteman dengannya.

e)

Pembicaraan mengenai menantu dan mertua sengaja dihindari oleh tokoh “Saya”.

72.

Kata-kata sifat berikut ini mencerminkan watak tokoh “Saya”, kecuali … .

a)

Mudah bergaul

b)

Ramah

c)

Acuh

d)

Supel

e)

Abai

73.

Yang dilakukan tokoh “Saya” ketika merasa penasaran terhadap orang-rang yang berada di luar rumah adalah … .

a)

Meminta anak-anak yang telah selesai sarapan untuk melihat dari jendela

b)

Meminta istrinya untuk menemui orang-orang yang ada di luar rumah

c)

Menyingkap kain gorden jendela sedikit untuk melihat keadaan di luar

d)

Menutup gorden jendela dan membiarkan orang-orang itu menunggu

e)

Membuka pintu dan menemui orang-orang yang telah menunggunya

74.

Ungkapan “Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan.” menujukkan citraan … .

a)

Visual

b)

Perabaan

c)

Auditoris

d)

Kinestetik

e)

Pengecapan

75.

Majas simile terdapat dalam kalimat … .

a)

Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah.

b)

Saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah

c)

Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan.

d)

Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang.

e)

Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga.

76.

Bacalah soal berikut untuk mengerjakan soal nomor 36-40!


Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera membuka mata dan berdiri. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri.


”Pak Kimpul, kan?” kata lelaki muda itu bertanya.

”Benar, saya Kimpul”.

”Masih kenal saya, Pak?”


Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Ia tidak berhasil. Karena itu ia menggeleng dengan sopan.


”Saya Dasuki.”

”Dasuki?” Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. Sekali lagi ia tidak berhasil.

”Tidak apa-apa, Pak, kalau tidak ingat. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. Lima tahun. Cukup lama memang.”


Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Jangan-jangan dia salah alamat. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul, tapi Kimpul yang lain. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu.


”Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. Ketika Bapak akan mencukur janggut, kumis dan cambang saya, tiba-tiba turun hujan deras. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh,” katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. Kimpul mendengarkan dengan serius.


”Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun, saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Karena saya harus segera kembali ke kantor, saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. Saya langsung pergi dengan janggut, kumis dan cambang yang belum dicukur. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.”


Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu.


”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”


(Dikutip dari cerpen berjudul “Kimpul” karya Sori Siregar)


Ungkapan berikut ini yang menggambarkan kondisi tempat Kimpul memotong rambut adalah …

a)

Kursi lipat menjadi salah satu peralatan dalam ruko yang dimiliki oleh kimpul.

b)

Kimpul membuka jasa pemotongan rambut di sebuah ruko di dekat stasiun.

c)

Kimpul menyediakan satu unit sepeda motor untuk disewa pelanggannya.

d)

Lokasi jasa pemotongan rambut milik Kimpul berada di dalam stasiun.

e)

Lokasi jasa pemotongan rambut miliki Kimpul tidak memiliki atap.

77.

Watak tokoh Kimpul yang sopan ditunjukkan melalui ungkapan …

a)

Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut.

b)

Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu.

c)

Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun.

d)

Kimpul menatap laki-laki itu, memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya.

e)

Ia (Kimpul) menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya.

78.

Dasuki belum membayar jasa potong rambut ke Kimpul karena alasan-alasan berikut, kecuali …

a)

Dasuki terburu-buru menaiki motornya dan pergi berteduh di stasiun.

b)

Dasuki harus segera mempersiapkan kepindahannya ke Jakarta.

c)

Hujan tiba-tiba turun ketika Kimpul akan memotong kumis, janggut, dan cambang Dasuki.

d)

Kimpul berada dalam kerumunan banyak orang di stasiun dan Dasuki tidak bisa menemukannya.

e)

Dasuki lupa belum membayar ke Kimpul karena sudah terlalu lama Dasuki berada di Jakarta.

79.

Majas personifikasi ditunjukkan oleh ungkapan …

a)

Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya.

b)

Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut.

c)

Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu.

d)

Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu.

e)

Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum.

80.

Ungkapan “Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Cuma, karena banyak orang di sana, saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh.” menunjukkan citraan … .

a)

Visual

b)

Perabaan

c)

Auditoris

d)

Kinestetik

e)

Pengecapan