WorksheetsUH teks cerita pendek
Total questions: 25
Worksheet time: 50mins
Resolusi pada teks cerpen adalah tahapan di mana ...
Pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
Berbagai kerumitan bermunculan
Konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
Konflik mencapai sebuah selesaian atau leraian
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Sudut pandang dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Orang pertama tunggal
Orang ketiga tunggal
Orang ketiga jamak
Campuran
Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di bawah pohon rindang.
di perkampungan.
di hutan rimba.
di jalan pedasaan.
Pengarang menuturkan cerita dirinya sendiri, dengan pelaku aku/orang pertama tunggal/jamak, berarti kedudukan pengarang dalam cerpen tersebut sebagai...
tokoh bawahan
tokoh pengamat
campuran
tokoh utama
Unsur pembangun cerpen adalah...
Instrinsik
Ekstrinsik
Amanat
Instrinsik dan ekstrinsik
Bacalah kutipan cerita berikut!
“Kenapa kamu kesal? Kenapa harus marah?” tanya Ratih. “Mendoakan orang yang sakit kan bagus.”
“Bukan cuma bagus, tapi harus. Masalahnya, apakah yang mereka ucapkan itu benar-benar mereka jalani? Apa pernah kegiatan berdoa untuk kesembuhan bu Siska itu benar-benar mereka lakukan, entah itu di rumah, di masjid, di gereja, di wihara atau di mana pun mereka berada? Atau mereka sekadar mengetikkan kata-kata di keyboard smartphone dan memencet tombol send untuk menyenang-nyenangkan bu Siska? Aku yakin yang mereka lakukan basa-basi belaka!!!”
“Jangan suka curiga….”
“Mereka sendiri yang bicara.”
(Basa-Basi, Jujur Prananto)
Watak tokoh Aku dalam kutipan cerita tersebut digambarkan penulis melalui ….
perbuatan tokoh
cakapan/dialog tokoh
penamaan tokoh
pandangan/dialog tokoh tertentu terhadap tokoh lain
Apa perbedaan cerpen dan novel?
Cerpen memiliki unsur intrinsik sedangkan novel tidak
Cerpen dan novel mempunyai tokoh utama
Cerpen menceritakan konflik tokoh yang terbatas sedangkan novel menceritakan tokoh yang lebih kompleks
Cerpen tidak bisa habis dibaca dalam sekali duduk. Sedangkan novel bisa dibaca dalam sekali duduk
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… Tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang san aitu, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
Sudah hampir jam satu malam, ketakutan menyerangku. Aku ingin menelepon ke rumah, tapi kupastikan Mak Yem menunggu ayah di rumah sakit. Tiba-tiba aku merasa bersalah, ini sebuah egoisme. Aku dan Yu Ning kejar karir dan selalu lupa kalu masih punya ayah yang harus kami perhatikan. Selalu lupa menelepon beliauhanya untuk mengucapkan, “Halo”. Padahal, sebelum keberangkatanku ke Jakarta, ayah bilang, “Kalian berdua memilih karir di Jakarta. Tak seorang pun memang ingin bersama laki-laki tua sepertiku. Aku tahu tidak ada yang harus disalahkan, setiap anak pasti mencari sarangnya yang baru. Tapi, sesekali teleponlah aku. Itu sudah lebih dari cukup.”
Amanat kutipan cerita di atas adalah ...
jangan sia-siakan kesempatan untuk meraih sukses karir
orangtua harus mendukung anaknya untuk mencapai karirnya
Kesempatan tidak akan pernah datang dua kali dalam hidup
sesukses apapun selalu ingat dan memperhatikan orangtua
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
Kemudian mendadak muncul puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kupu-kupu aneka warna berterbangan dan memenuhi pandanganku. Istriku berteriak dan memegang tanganku, kurasakan pegangannya terlepas dan tak kudengar lagi suaraku sendiri.
Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut yaitu....
damai
sedih
ketakutan
sepi
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor . . . .
(1)
(2)
(3)
(4)
“kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..
sebagai manusia harus saling tolong-menolong
seorang pendidik harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup
Guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya
guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik
1. Menentukan perwatakan
2. Menentukan sudut pandang
3. Menyajikan peristiwa yang ditentukan dalam alur
4. Menentukan latar
5. Menentukan tema
Susunan yang tepat langkah menyusun teks cerpen adalah . . . .
5)-2)-1)-4)-3)
5)-3)-1)-4)-2)
1)-2)-3)-4)-5)
5)-1)-2)-4)-3)
Cermatilah kutipan di bawah ini!
Pada suatu hari, Si Bongkok dan Si Buta bersama-sama pergi ke pasar untuk berbelanja. Setiba di pasar, Si Buta memberikan uang dua ribu rupiah kepada Si Bongkok. Si Bongkok dimintanya membelikan nasi dan sepotong daging yang agak besar. Daging itu digigit-gigit dan dikunyah keras-keras oleh Si Buta sampai melotot matanya yang buta itu, tetapi tiba-tiba aneh, dia dapat melihat lagi. Saking gembiranya, dia meloncat-loncat lalu ditinjunya Si Bongkok.
Watak Si Buta dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
pemurah dan sabar
periang dan mudah terpengaruh
lemah lembut dan suka memberi
orang yang tidak dapat mengendalikan perasaan
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… Tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang san aitu, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
Cermatilah kutipan cerpen di bawah ini!
Pada waktu makan, seperti biasa kami tidak banyak berbicara. Kata ibuku, makanan harus dinikmati dengan diam. Kalau orang terlalu cerewet pada waktu makan, itu berarti tidak menghormati makanan yang ada di depannya. Padahal, makanan adalah karunia Tuhan. Dan itu harus dihormati. Juga menurut ibuku, makanan harus dikunyah dengan lambat, tetapi sebanyak kali kesanggupan kita. Tanpa suara dan dengan mulut tertutup. Pandang orang yang sedang makan tidak patut jika ditujukan ke mana-mana selain pada makanan yang ada di depannya. Jika kami makan dengan tangan, kami harus mencuci tangan kanan di kobokan yang tersedia dengan suara sesedikit mungkin. Tangan kiri harus tertopang dengan sopan di atas meja di tentangan dada. Namun, jika kami mempergunakan sendok dan garpu, harus dijaga jangan sampai sentuhan kedua benda itu pada piring membuat bunyi yang mengejutkan tetangga semeja.
Nilai budaya yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Larangan membuat suara sewaktu makan.
Penggunaan sendok dan garpu dalam jamuan.
Saat makan harus menjaga pandangan.
Larangan mencuci tangan di kobokan.
Perhatikan kalimat di bawah ini!
“Jendelanya bisa masuk matahari enggak Mak!”
Penggunaan tanda baca yang tepat untuk kalimat tersebut adalah …
“Jendelanya bisa masuk matahari, enggak Mak!”
“Jendelanya bisa masuk matahari enggak? Mak."
“Jendelanya bisa masuk matahari, enggak, Mak?”
“Jendelanya bisa masuk matahari enggak, Mak.”
Cermatilah kutipan cerpen di bawah ini!
Lampu-lampu yang berkilauan terasa menusuk-nusuk matanya, sedangkan kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia telah kehilangan adiknya: Paijo tercinta.
Majas yang sejenis dengan majas yang terdapat pada kalimat pertama adalah …
Kalau ia senyum gelak nabi, berlubang semut di pipinya, terjuntai dagu bulat kecil bagai lebah sedang bergantung, pipinya kuning langsat.
Takut hamba akan berkata, cemas mulut akan terdorong, awak hina pengajar kurang, tak tau di adat dan lembaga, tak pandai berbudi.
Di Tasik indah cemerlang, pantai berkilat bagai cermin di tebing tinggi sehasta, di bawah pohon cemara, duduklah seorang gadis remaja.
Ia duduk sambil berjuntai menggoyang-goyang kaki, sedangkan ombak yang memecah ke tepi datang mengusap-ngusap kakinya.
Cermatilah kutipan cerpen di bawah ini!
(1) Di pasar tradisional yang sedikit becek itu, Nas berjalan mencari barang yang ingin dibelinya. (2) Tengok kanan dan kiri, lalu memandangi sepatu-sepatu yang dipajang para penjual. (3) Ia pun berhenti ketika ada yang menarik matanya. Ia amati dari jejeran atas hingga bawah. (4) Tapi dirasa, harganya tidak sesuai dengan uang yang ia punya. (5) Uang dari hasil upah loper koran yang dikumpulkannya selama beberapa minggu.
Bukti bahwa watak tokoh Nas rajin bekerja ditunjukkan oleh kalimat nomor ….
(2)
(3)
(4)
(5)
Cermatilah kutipan cerpen di bawah ini!
Kapal keruk pernah menjadi pendendang irama hidup kami, bagian penting dalam budaya kami. Karena semua lelaki angkatan kerja bekerja bergantian selama 24 jam. Tak kan pernah kulupa, setiap pukul dua pagi, truk pengangkut buruh kapal keruk menjemput ayahku. Kudengar suara klakson. Ayah keluar rumah di pagi buta itu sambil menenteng rantang bekal makanan dari ibu.
Jika melihatku terbangun, ayah kembali mengusap rambutku dan tersenyum. Dari dalam rumah kudengar ayah mengucapkan salam pada kawan-kawan kerjanya yang telah berdesakan di dalam bak truk. Kawan-kawan kerjanya itu adalah ayah-ayah dari kawan-kawanku. Lalu kudengar gemerincing besi saling beradu, kemudian truk menggerung meninggalkan rumah.
Majas yang digunakan pengarang dalam kalimat bercetak miring pada kutipan cerpen tersebut adalah ….
alegori
hiperbola
metafora
personifikasi
Cermatilah kutipan cerpen di bawah ini!
Sebulan kemudian, Akum, Wasid, dan Nyai mendapat beasiswa dari pemerintah. Tiga anak yatim tersebut masing-masing meraih bintang pelajar teladan di sekolahnya. Akum, Wasid, dan Nyai juga pandai di bidang lainnya.
Komentar yang tepat untuk kutipan cerpen tersebut berdasarkan kaidah kebahasaannya adalah …
Teks cerpen tersebut menggunakan kalimat tunggal.
Teks cerpen tersebut menggunakan kata sandang si.
Teks cerpen tersebut menggunakan konjungsi kronologis.
Teks cerpen tersebut menggunakan kalimat pasif dan majemuk.
Bacalah kutipan cerpen di bawah ini!
Sungguh dia cantik sekali, rambutnya terurai ke bawah, matanya bening, dan dia begitu menawan. Hanya satu yang tak pernah kulihat darinya, senyumnya. Aku tak pernah melihat itu. Sudah sebulan aku melewati rumahnya untuk sekedar melihat parasnya yang elok, tak pernah aku melihat dia tersenyum. Meski aku tersenyum padanya, tak pernah ia membalas senyumanku. Mendadak, aku merasakan kekesalan dalam diriku. Suatu hari, tak lagi kulihat dia. Yang kulihat hanya bendera kuning yang tertancap di depan rumahnya. Malaikat telah menjemputnya.
Konflik yang terjadi pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Rasa sesal yang memenuhi hati tokoh Aku.
Bendera kuning yang tertancap di depan rumah sang gadis.
Senyuman tokoh Aku yang selalu diabaikan oleh sang gadis.
Kekesalan tokoh Aku karena sang gadis selalu mengabaikannya.
