NEW
Font size
WorksheetsTeks Cerpen Kelas 9
Total questions: 20
Worksheet time: 17mins
Malam ini Vina tengah menengadahkan kepalanya, berusaha menyapa bulan. (2) Kendati penantiannya telah habiskan lebih dari separuh kesabarannya, bulan tak kunjung membalas sapanya. (3) Rupanya, awanlah yang menghalangi terangnya bulan. (4) Sebenarnya, malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. (5) Namun, entah mengapa dingin itu tak ia rasakan sedikit pun. (6) Mungkin pikiran tentang kejadian tadi siang yang hilangkan rasa itu.
Majas personifikasi terdapat pada kalimat yang ditandai dengan nomor ....
(3) dan (4)
(1) dan (6)
(5) dan (6)
(1) dan (2)
Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar, areanya kecil, lebih tepat disebut bukit. Tapi sejak dulu sampai sekarang penduduk kampung menyebutnya dengan Gunung Beser.
Pada kutipan ini terdapat unsur cerpen ……
latar tempat
latar suasana
latar waktu
latar tempat dan waktu
Dengan cermat Hesty memperhatikan sekeliling, akan tetapi ia tidak melihat seorang saudara atau kerabat pun yang ia kenal. Sempat terbersit rasa iri dan kecewa ketika ia menyaksikan beberapa rekannya yang dijemput dan disambut kedatangannya oleh orang tua, anak atau suami mereka. Namung dengan segera ia membuang jau-jauh pikiran tersebut. Ia tidak ingin berprasangka buruk terhadap suaminya. Segera ia memanggil taksi, dan meninggalkan Stasiun Gambir yang mulai sepi
Nilai moral kutipan cerpen tersebut adalah...
Hesty memanggil taksi,dan meninggalkan Stasiun Gambir
Dengan cermat Hesty memperhatikan sekeliling
Hesty tidak ingin berprasangka buruk terhadap suaminya
Hesty memperhatikan rekannya dijemput dan disambut
Mulutnya tiba-tiba rasa terkunci.
Maksud kalimat tersebut adalah…
dia mau berbicara tetapi terhalang oleh kunci
dia tidak ingin berbicara lagi
dia gagu tidak bisa berbicara
dia tidak dapat berkata-kata karena mulutnya terasa kaku
Ide yang mendasari sebuah cerita disebut ....
tokoh
tema
latar
alur
Berikut ini yang bukan merupakan unsur pembangun dalam cerpen adalah ....
alur
latar
judul
tema
Orang yang memainkan lakon/peran dalam cerita disebut ....
alur
tokoh
tema
latar
Rangkaian peristiwa/kejadian dalam cerita disebut ....
latar
alur
sudut pandang
penokohan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mengharukan
Menegangkan
Menakutkan
Mengenaskan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mudah menangis
Mudah pasrah
Mudah menyerah
Mudah mengalah
Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di hutan rimba
di bawah pohon rindang
di perkampungan
di jalan pedasaan
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
siang hari, terminal
Bertahun-tahun pasukan Belanda dan centeng-centeng demang mengepung Gunung Beser, tetapi Jaya Sakti tidak pernah menyerah.
Berdasarkan kutipan cerita pendek di atas, tokoh Jaya Sakti mempunyai karakter ….
penakut
pengecut
sesumbar
pemberani
Kedamaian kampung saya mulai terusik saat jalan besar menghubungkan dengan kota kecamatan dan kota kabupaten diperbesar dan diaspal.
Kata saya pada kalimat di atas merupakan unsur sudut pandang (point of view) sebagai ….
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang ketiga serba tahu
orang ketiga pengamat
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan seksama!
(1). Harum bunga kopi merayap dibawa angin.
(2). Bintang bertaburan di langit.
(3). Suara jangkrik dan kodok menjadi musik alam.
(4). Aku serasa sedang berada di surga
Bukti latar waktu pada kutipan cerpen tersebut malam hari, ditandai dengan nomor .
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (1)
Ingin rasanya aku berteriak mendengar pertanyaan bodoh adikku ini. Biasanya aku akan bilang, “Ya enggak gitu, bodoh!” Tapi mama sudah melarangku mengatakan kata itu lagi. Katanya, anak baik tidak boleh berkata kasar. “ Priska tidak bodoh, Vin. Dia ingin pintar seperti kamu, “kata Mama
Suasana yang tergambar pada kutipan cerpen tersebut . . .
tegang dan kesal
tegang dan haru
senang dan tenang
sedih dan kecewa
“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerpen tersebut bertema ….
Keberanian pegawai mengakui kekeliruan.
Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang.
Kejujuran seseorang dalam hidup.
Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos
.. Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
cermat, pelit, perhitungan
ceroboh, malas, kaya
rajin, pemarah, teliti
Nilai yang berhubungan dengan tingkah laku atau perilaku manusia disebut nilai ....
agama
budaya
moral
pendidikan
Pengarang biasanya menyelipkan suatu pesan yang disampaikan melalui cerita yang ditulisnya yang disebut ....
tokoh
tema
latar
amanat
