NEW
Font size
WorksheetsQuiz Aspek 1 : PIPAS X AKL 1
Total questions: 10
Worksheet time: 30mins
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Hama tikus dilaporkan menyerang area area persawahan di sejumlah desa wilayah Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Masifnya serangan tikus ini dikhawatirkan petani membuat tanaman padi puso atau gagal panen. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menjelaskan, hama tikus itu menyerang sawah di wilayah Desa Karangmulya, Karanganyar, Wirapanjunan, Wirakanan dan Parean Girang. Sawah yang diserang tikus itu sudah ditanami padi, yang usianya kini sekitar 30 hari-45 hari. “Luasan area yang terserang tikus ada sekitar seribu hektare,” ujar Waryono kepada Republika, Selasa (18/7/2023). Menurut Waryono, serangan hama tikus terjadi sejak setengah bulan yang lalu sampai sekarang ini. Jika tidak bisa teratasi, kata dia, bisa menyebabkan tanaman padi petani mengalami puso. Waryono mengatakan, para petani terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi serangan hama tikus ini. Seperti melakukan gropyokan, pengemposan, sampai pemberian racun tikus. Namun, semua upaya itu disebut belum membuahkan hasil yang diharapkan. Serangan tikus masih terjadi secara masif. “Padahal saya setiap hari operasi (pembasmian) tikus, tapi tikus masih saja banyak,” kata Waryono. Menurut Waryono, serangan hama tikus memang biasanya lebih ganas saat musim kemarau. Pasalnya, kata dia, tidak semua area persawahan ditanami padi, sehingga tikus menyerang sawah yang ada tanaman padinya. “Ya enggak tahu ini bagaimana cara mengatasinya. Petani dibikin pusing oleh tikus,” kata Waryono. Jika hama tikus tidak segera dikendalikan, dampak apa yang paling mungkin terjadi pada sektor pertanian di Kecamatan Kandanghaur?
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Hama tikus dilaporkan menyerang area area persawahan di sejumlah desa wilayah Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Masifnya serangan tikus ini dikhawatirkan petani membuat tanaman padi puso atau gagal panen. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menjelaskan, hama tikus itu menyerang sawah di wilayah Desa Karangmulya, Karanganyar, Wirapanjunan, Wirakanan dan Parean Girang. Sawah yang diserang tikus itu sudah ditanami padi, yang usianya kini sekitar 30 hari-45 hari. “Luasan area yang terserang tikus ada sekitar seribu hektare,” ujar Waryono kepada Republika, Selasa (18/7/2023). Menurut Waryono, serangan hama tikus terjadi sejak setengah bulan yang lalu sampai sekarang ini. Jika tidak bisa teratasi, kata dia, bisa menyebabkan tanaman padi petani mengalami puso. Waryono mengatakan, para petani terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi serangan hama tikus ini. Seperti melakukan gropyokan, pengemposan, sampai pemberian racun tikus. Namun, semua upaya itu disebut belum membuahkan hasil yang diharapkan. Serangan tikus masih terjadi secara masif. “Padahal saya setiap hari operasi (pembasmian) tikus, tapi tikus masih saja banyak,” kata Waryono. Menurut Waryono, serangan hama tikus memang biasanya lebih ganas saat musim kemarau. Pasalnya, kata dia, tidak semua area persawahan ditanami padi, sehingga tikus menyerang sawah yang ada tanaman padinya. “Ya enggak tahu ini bagaimana cara mengatasinya. Petani dibikin pusing oleh tikus,” kata Waryono. Para petani di Kecamatan Kandanghaur telah melakukan berbagai metode pengendalian hama tikus. Jika Anda diminta untuk menyarankan strategi baru yang lebih efektif, metode apa yang paling mungkin berhasil?
REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Hama tikus dilaporkan menyerang area area persawahan di sejumlah desa wilayah Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Masifnya serangan tikus ini dikhawatirkan petani membuat tanaman padi puso atau gagal panen. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono, menjelaskan, hama tikus itu menyerang sawah di wilayah Desa Karangmulya, Karanganyar, Wirapanjunan, Wirakanan dan Parean Girang. Sawah yang diserang tikus itu sudah ditanami padi, yang usianya kini sekitar 30 hari-45 hari. “Luasan area yang terserang tikus ada sekitar seribu hektare,” ujar Waryono kepada Republika, Selasa (18/7/2023). Menurut Waryono, serangan hama tikus terjadi sejak setengah bulan yang lalu sampai sekarang ini. Jika tidak bisa teratasi, kata dia, bisa menyebabkan tanaman padi petani mengalami puso. Waryono mengatakan, para petani terus melakukan berbagai upaya untuk mengatasi serangan hama tikus ini. Seperti melakukan gropyokan, pengemposan, sampai pemberian racun tikus. Namun, semua upaya itu disebut belum membuahkan hasil yang diharapkan. Serangan tikus masih terjadi secara masif. “Padahal saya setiap hari operasi (pembasmian) tikus, tapi tikus masih saja banyak,” kata Waryono. Menurut Waryono, serangan hama tikus memang biasanya lebih ganas saat musim kemarau. Pasalnya, kata dia, tidak semua area persawahan ditanami padi, sehingga tikus menyerang sawah yang ada tanaman padinya. “Ya enggak tahu ini bagaimana cara mengatasinya. Petani dibikin pusing oleh tikus,” kata Waryono. Seandainya Anda adalah seorang pemimpin di Kecamatan Kandanghaur, langkah jangka panjang apa yang akan Anda prioritaskan untuk mencegah serangan hama tikus di masa mendatang?
DETIKCOM, Jakarta - Detikers mungkin cukup sering mendengar kabar kepunahan suatu spesies hewan tertentu. Faktanya, ada sebuah laporan baru-baru ini yang menunjukkan bahwa hampir separuh spesies hewan di dunia mengalami penurunan populasi. Para ilmuwan menyatakan, anjloknya populasi hewan secara dominan karena menurunnya habitat mereka akibat aktivitas manusia. Hal ini mengarah pada apa yang disebut sebagai "krisis kepunahan antroposen". Laporan tersebut juga telah diunggah ke jurnal Biological Reviews dengan judul "More Losers than Winners: Investigating Anthropocene Defaunation through the Diversity of Population Trends". Secara konvensional, angka kepunahan memang dapat ditelusuri dengan Daftar Merah Union for the Conservation of Nature (IUCN). Jika berdasarkan daftar tersebut, sekitar 28 persen makhluk hidup terancam punah. Bagaimana aktivitas manusia berperan dalam penurunan populasi hewan?
DETIKCOM, Jakarta - Detikers mungkin cukup sering mendengar kabar kepunahan suatu spesies hewan tertentu. Faktanya, ada sebuah laporan baru-baru ini yang menunjukkan bahwa hampir separuh spesies hewan di dunia mengalami penurunan populasi. Para ilmuwan menyatakan, anjloknya populasi hewan secara dominan karena menurunnya habitat mereka akibat aktivitas manusia. Hal ini mengarah pada apa yang disebut sebagai "krisis kepunahan antroposen". Laporan tersebut juga telah diunggah ke jurnal Biological Reviews dengan judul "More Losers than Winners: Investigating Anthropocene Defaunation through the Diversity of Population Trends". Secara konvensional, angka kepunahan memang dapat ditelusuri dengan Daftar Merah Union for the Conservation of Nature (IUCN). Jika berdasarkan daftar tersebut, sekitar 28 persen makhluk hidup terancam punah. Jika tren penurunan populasi hewan terus berlanjut, bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi ekosistem global?
DETIKCOM, Jakarta - Detikers mungkin cukup sering mendengar kabar kepunahan suatu spesies hewan tertentu. Faktanya, ada sebuah laporan baru-baru ini yang menunjukkan bahwa hampir separuh spesies hewan di dunia mengalami penurunan populasi. Para ilmuwan menyatakan, anjloknya populasi hewan secara dominan karena menurunnya habitat mereka akibat aktivitas manusia. Hal ini mengarah pada apa yang disebut sebagai "krisis kepunahan antroposen". Laporan tersebut juga telah diunggah ke jurnal Biological Reviews dengan judul "More Losers than Winners: Investigating Anthropocene Defaunation through the Diversity of Population Trends". Secara konvensional, angka kepunahan memang dapat ditelusuri dengan Daftar Merah Union for the Conservation of Nature (IUCN). Jika berdasarkan daftar tersebut, sekitar 28 persen makhluk hidup terancam punah. Apa strategi yang paling efektif untuk mengatasi krisis kepunahan antroposen?
Nyaris Separuh Spesies Anjlok Guna memberikan gambaran lebih terhadap situasi ini, para peneliti menganalisis perubahan kepadatan populasi 71 ribu spesies. Mereka terdiri atas mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, dan serangga. Berdasarkan apa yang dipelajari, 48 persen spesies saat ini mengalami penurunan populasi, 49 persen stabil, dan hanya 3 persen yang populasinya meningkat. "Metode baru penelitian dan analisis berskala global memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat penurunan hayati, yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode konvensional/tradisional," kata penulis studi, Dr Daniel Pincheira-Donoso dalam pernyataan, dikutip dari IFL Science. "Hampir separuh binatang di Bumi yang dianalisis, tengah mengalami penurunan populasi," tambah rekannya, Catherine Finn. "Parahnya lagi, banyak spesies binatang yang dikira tidak terancam punah, justru ternyata makin menurun jumlahnya," tambahnya. Ada 33 persen spesies yang dikategorikan sebagai tidak terancam punah oleh Daftar Merah IUCN, ternyata justru mengalami penurunan. Ini memperlihatkan, banyak spesies hewan yang dikategorikan aman, mungkin justru populasinya turun. "Jika tren seperti ini tetap berlanjut, 2.136 spesies lain bisa terancam punah dalam waktu dekat," ungkap para peneliti. Mereka mencatat, populasi hewan merosot ke skala yang lebih besar di wilayah tropis. Sementara, populasi yang stabil dan meningkat justru terjadi di wilayah beriklim sedang. Para ahli pun menemukan bahwa beberapa grup taksonomi menghadapi ancaman lebih besar dari yang lain. Ada 63 persen spesies amfibi yang menurun, dibandingkan 28 persen reptil. "Tingkat penurunan populasi hewan melebihi jumlah pertumbuhan populasi, dengan margin yang mengkhawatirkan," kata para peneliti. Secara keseluruhan, mereka mengatakan penemuan ini menunjukkan sinyal bahwa keanekaragaman hayati di Bumi sedang memasuki "kepunahan massal ke-6". Di samping itu, fungsi dan heterogenitas ekosistem, ketahanan biodiversitas, dan kesejahteraan manusia berada dalam ancaman yang meningkat. Berdasarkan analisis di atas, apa akibat utama dari penemuan ini terhadap ekosistem global?
Nyaris Separuh Spesies Anjlok Guna memberikan gambaran lebih terhadap situasi ini, para peneliti menganalisis perubahan kepadatan populasi 71 ribu spesies. Mereka terdiri atas mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, dan serangga. Berdasarkan apa yang dipelajari, 48 persen spesies saat ini mengalami penurunan populasi, 49 persen stabil, dan hanya 3 persen yang populasinya meningkat. "Metode baru penelitian dan analisis berskala global memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat penurunan hayati, yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode konvensional/tradisional," kata penulis studi, Dr Daniel Pincheira-Donoso dalam pernyataan, dikutip dari IFL Science. "Hampir separuh binatang di Bumi yang dianalisis, tengah mengalami penurunan populasi," tambah rekannya, Catherine Finn. "Parahnya lagi, banyak spesies binatang yang dikira tidak terancam punah, justru ternyata makin menurun jumlahnya," tambahnya. Ada 33 persen spesies yang dikategorikan sebagai tidak terancam punah oleh Daftar Merah IUCN, ternyata justru mengalami penurunan. Ini memperlihatkan, banyak spesies hewan yang dikategorikan aman, mungkin justru populasinya turun. "Jika tren seperti ini tetap berlanjut, 2.136 spesies lain bisa terancam punah dalam waktu dekat," ungkap para peneliti. Mereka mencatat, populasi hewan merosot ke skala yang lebih besar di wilayah tropis. Sementara, populasi yang stabil dan meningkat justru terjadi di wilayah beriklim sedang. Para ahli pun menemukan bahwa beberapa grup taksonomi menghadapi ancaman lebih besar dari yang lain. Ada 63 persen spesies amfibi yang menurun, dibandingkan 28 persen reptil. "Tingkat penurunan populasi hewan melebihi jumlah pertumbuhan populasi, dengan margin yang mengkhawatirkan," kata para peneliti. Secara keseluruhan, mereka mengatakan penemuan ini menunjukkan sinyal bahwa keanekaragaman hayati di Bumi sedang memasuki "kepunahan massal ke-6". Di samping itu, fungsi dan heterogenitas ekosistem, ketahanan biodiversitas, dan kesejahteraan manusia berada dalam ancaman yang meningkat. Penurunan populasi hewan di wilayah tropis lebih besar dibandingkan dengan wilayah beriklim sedang. Apa alasan yang mungkin menyebabkan fenomena ini?
Nyaris Separuh Spesies Anjlok Guna memberikan gambaran lebih terhadap situasi ini, para peneliti menganalisis perubahan kepadatan populasi 71 ribu spesies. Mereka terdiri atas mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, dan serangga. Berdasarkan apa yang dipelajari, 48 persen spesies saat ini mengalami penurunan populasi, 49 persen stabil, dan hanya 3 persen yang populasinya meningkat. "Metode baru penelitian dan analisis berskala global memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat penurunan hayati, yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode konvensional/tradisional," kata penulis studi, Dr Daniel Pincheira-Donoso dalam pernyataan, dikutip dari IFL Science. "Hampir separuh binatang di Bumi yang dianalisis, tengah mengalami penurunan populasi," tambah rekannya, Catherine Finn. "Parahnya lagi, banyak spesies binatang yang dikira tidak terancam punah, justru ternyata makin menurun jumlahnya," tambahnya. Ada 33 persen spesies yang dikategorikan sebagai tidak terancam punah oleh Daftar Merah IUCN, ternyata justru mengalami penurunan. Ini memperlihatkan, banyak spesies hewan yang dikategorikan aman, mungkin justru populasinya turun. "Jika tren seperti ini tetap berlanjut, 2.136 spesies lain bisa terancam punah dalam waktu dekat," ungkap para peneliti. Mereka mencatat, populasi hewan merosot ke skala yang lebih besar di wilayah tropis. Sementara, populasi yang stabil dan meningkat justru terjadi di wilayah beriklim sedang. Para ahli pun menemukan bahwa beberapa grup taksonomi menghadapi ancaman lebih besar dari yang lain. Ada 63 persen spesies amfibi yang menurun, dibandingkan 28 persen reptil. "Tingkat penurunan populasi hewan melebihi jumlah pertumbuhan populasi, dengan margin yang mengkhawatirkan," kata para peneliti. Secara keseluruhan, mereka mengatakan penemuan ini menunjukkan sinyal bahwa keanekaragaman hayati di Bumi sedang memasuki "kepunahan massal ke-6". Di samping itu, fungsi dan heterogenitas ekosistem, ketahanan biodiversitas, dan kesejahteraan manusia berada dalam ancaman yang meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat penurunan populasi hewan melebihi jumlah pertumbuhan populasi dengan margin yang mengkhawatirkan. Bagaimana hal ini dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati dan ketahanan ekosistem di masa depan?
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) menyoroti praktik penimbunan perairan atau reklamasi terus terjadi di Pulau Tengah, gugusan Pulau Pari, DKI Jakarta. KIARA menduga praktik tersebut dilakukan oleh pengembang yang memprivatisasi Pulau Tengah. Sekretaris Jenderal KIARA, Susan Herawati, menegaskan praktik penimbunan pantai atau penimbunan perairan di berbagai pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan bentuk perusakan lingkungan perairan. Tindakan itu akan mengganggu ekosistem perairan pesisir. "Dan tentu saja akan merugikan nelayan, pembudidaya ikan maupun rumput laut yang seharusnya hak-haknya dihormati dan dilindungi," kata Susan dalam keterangannya pada Ahad (30/7/2023). Susan menyinggung praktik penimbunan pantai dan perairan dilarang Undang-Undang No. 27 Tahun 2007. KIARA mendesak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera bertindak menghentikan praktik-praktik penimbunan pantai dan perairan di Pulau Tengah. Hal tersebut menurut Susan sangat merugikan nelayan yang memanfaatkan gugusan perairan Pulau Pari sebagai ruang yang difungsikan nelayan untuk berbagai aktivitas yang berkelanjutan. "Jika dilihat dan diidentifikasi secara spasial, ternyata penimbunan pantai dan perairan yang terjadi di Pulau Tengah dimulai sejak tahun 2011 dengan luasan awal ± 9 Ha. Hingga saat ini, luasan Pulau Tengah diidentifikasi telah bertambah secara signifikan," ujar Susan. KIARA menduga bahan dan material yang digunakan untuk menimbun pantai dan perairan Pulau Tengah merupakan substrat dan terumbu karang yang berasal dari perairan Pulau Tengah. KIARA mengamati aktivitas tersebut dilakukan secara perlahan-lahan hingga diduga menyebabkan kerusakan ekosistem perairan yang terdapat di perairan Pulau Tengah. "Dugaan tersebut diperkuat dengan temuan warga yang mendokumentasikan terumbu karang yang telah mati dan diduga digunakan sebagai pondasi penimbunan tersebut," ujar Susan. Selain itu, KIARA mengamati aktivitas pengembang Pulau Tengah merupakan wujud implementasi PP No. 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut. Eksploitasi pasir laut sebagai substrat alami di perairan akan secara masif terjadi dengan dalih melestarikan lingkungan laut. "Tetapi kenyataannya akan terjadi seperti yang di Pulau Tengah, karena akan digunakan untuk menimbun pantai dan perairan, dan pada akhirnya akan terjadinya perusakan ekosistem pesisir secara masif dan legal," tegas Susan. Mengapa tindakan penimbunan pantai dan perairan di Pulau Tengah dianggap merugikan menurut berita tersebut?
