Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Asesmen akhir semester Ganjil 2024-2025 Kelas 9

Total questions: 25

Worksheet time: 25mins

Name
Class
Date
1.

Cermati paragraf berikut!

Diperlukan proses yang panjang untuk menghasilkan kopi luwak yang nikmat. Biji kopi yang benar-benar segar dan berwarna merah yang akan digunakan. …, biji kopi dipilih dengan memisahkan biji kopi yang segar dan busuk dengan cara direndam. Biji kopi yang baik akan tenggelam, … yang busuk akan mengapung. …, biji kopi tersebut diberikan kepada musang atau luwak jenis binturong dan bulan (luwak pemakan kopi). Dalam proses ini, luwak mempunyai peran yang sangat penting karena indera penciumannya hanya akan memilih biji kopi sempurna.

Konjungsi yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah . . .

a)

kemudian, karena, sementara

b)

sementara , bahkan, kemudian

c)

selanjutnya, sedangkan, kemudian

d)

kemudian, bahkan, selanjutnya

2.

Otak anak-anak menyerap radiasi ponsel dua kali [...] banyak [...] orang dewasa. Radiasi ponsel memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan terutama anak-anak, [...] temuan penelitian tersebut belum final. Ada baiknya [...] kita menjauhkan ponsel dari anak-anak sejak dini.

Kata penghubung yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah.

lebih

a)

lebih, daripada, bagi, jika

b)

lebih, daripada, terhadap, bilamana

c)

sama, dengan, untuk, kalau

d)

lebih, daripada, meskipun, jika

3.

Dia sudah mengatakan .... Randy tidak akan datang.

Konjungsi yang tepat untuk kalimat tersebut adalah....

bahwa

a)

bahwa

b)

ketika

c)

karena

d)

namun

4.

Seseorang yang terlalu memikirkan masalahnya akan membuatnya semakin sedih. Mereka seharusnya lebih baik fokus untuk menyelesaikan masalah itu daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Kiranya, tidak perlu memikirkan maupun membesar-besarkan masalahnya, tetapi tetap semangat atau meminta bantuan kepada orang yang bisa dipercaya. Itulah cara untuk mengatasi kesedihan jika kalian sedang mengalaminya.

letak ide pokok paragraf di atas...

a)

awal

b)

akhir

c)

awal dan akhir

d)

tengah

5.

Seseorang yang terlalu memikirkan masalahnya akan membuatnya semakin sedih. Mereka seharusnya lebih baik fokus untuk menyelesaikan masalah itu daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Kiranya, tidak perlu memikirkan maupun membesar-besarkan masalahnya, tetapi tetap semangat atau meminta bantuan kepada orang yang bisa dipercaya. Itulah cara untuk mengatasi kesedihan jika kalian sedang mengalaminya.

ide pokok paragraf d atas yaitu

a)

cara mengatasi kesedihan

b)

memikirkan masalah

c)

menyelesaikan masalah

d)

membesar-besarkan masalah

6.

Seseorang yang terlalu memikirkan masalahnya akan membuatnya semakin sedih. Mereka seharusnya lebih baik fokus untuk menyelesaikan masalah itu daripada berlarut-larut dalam kesedihan. Kiranya, tidak perlu memikirkan maupun membesar-besarkan masalahnya, tetapi tetap semangat atau meminta bantuan kepada orang yang bisa dipercaya. Itulah cara untuk mengatasi kesedihan jika kalian sedang mengalaminya.

JIka dilihat letak ide pokoknya paragraf di atas disebut paragraf...

a)
induktif
b)

deduktif

c)

campuran

d)

ineratif

7.

Bacalah teks berikut!

Matcha dan sencha merupakan dua jenis teh hijau ocha yang cukup populer di Jepang. Matcha merupakan bubuk ocha yang dibuat dengan teknik tertentu menggunakan batu. Dahulu Matcha dikonsumsi ketika upacara minum teh. Namun, kini matcah sudah menjadi bagian hidup sehari-hari. Selain diminum dalam bentuk teh, matcha bisa ditemukan dalam es krim, kue, dan masakan lainnya. 

Sencha adalah varian yang paling banyak diproduksi di Jepang. Sencha memiliki rasa sepat karena mengandung banyak chatecin, tetapi orang-orang Jepang merasa mengonsumsi sencha menjadi lebih segar. Ocha dibudidayakan dengan cara menutup kawasan perkebunan teh menggunakan terpal agar tidak terkena sinar matahari


Kalimat terakhir pada paragraf tersebut terdapat kesalahan karena penggunaan ...


a)

Kalimat tidak padu

b)

Kalimat tidak efektif

c)

Kalimat berlebihan

d)

Kalimat ambigu

8.

Perhatikan paragraf berikut!

Grojogan Sewu adalah adalah salah satu objek wisata air terjun alami di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Dari pintu masuk, kita harus menuruni seribuan anak tangga untuk menuju air terjun. Saat perjalanan menuruni tangga, kita disuguhkan pemandangan yang cukup asri. Banyak monyet yang bergelantungan di dahan pohon. Ada juga yang duduk atau berlarian di sekitar anak tangga.


Isi dalam paragraf deskripsi di atas adalah ….


a)

Gambaran air terjun Grojogan Sewu


b)

Gambaran objek wisata Jawa Tengah

c)

Gambaran wahana di Grojokan Sewu

d)

Gambaran perjalanan menuju Grojokan Sewu

9.

Bacalah penggalan teks berikut!!

Amarah mencengkeramku. Aku benar-benar siap meledak. Aku merasakan deru jantungku kian kencang. Kepalanku kian kuat. Aku bisa merasakan ujung kuku menekan telapak tanganku. Kemarahan menguasaiku.

alasan yang merupakan bahwa teks di atas menggunakan sudut pandang orang pertama adalah kata ganti...

(a)  

10.

Cermatilah bacaan berikut!!

Nama Keluarga

Saat mempelajari sensus penduduk, aku dan teman-teman di kelas berlatih mengisi formulir sesuai data. Banyak kolom yang harus kami isi termasuk nama ayah dan nama ibu. Salah satu temanku heran, mengapa nama belakangku sama dengan nama belakang ibuku, bukan ayahku. Katanya, “Biasanya nama anak mengikuti nama ayahnya, seperti Miko Sirait yang bersuku Batak, ayahnya bernama Tegar Sirait. Ada juga anak yang tidak menggunakan nama keluarga. Namaku, Anin Prasetyani, berbeda sama sekali dengan nama orang tuaku. Aku heran, kok nama belakangmu mengikuti nama ibumu?” Iya juga, ya. Selama ini aku tidak memikirkannya. Pertanyaan Anin membuatku penasaran. Membaca Teks ini mendeskripsikan sistem kekerabatan suku Minangkabau.

Di rumah, meluncurlah pertanyaanku, “Bu, mengapa aku memakai nama Chaniago, bukan nama Jambak seperti nama Ayah?” Ibu tertegun sejenak, tetapi segera berbicara dengan penuh semangat. Kebudayaan Minangkabau terkenal dengan sistem matrilineal, yaitu menetapkan garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. Jadi, marga anak akan mengikuti marga ibu. Budaya ini sudah lama berlangsung dan masih bertahan hingga kini. Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. Ibu juga memiliki peran krusial dalam mengambil keputusan dalam keluarga. “Wah, anak Ibu dua-duanya laki-laki. Ibu tak punya penerus keturunan. Apakah marga Chaniago bakal lenyap?” tanyaku. “Perempuan bermarga Chaniago bukan hanya Ibu, Arifin,” sahut Ibu sambil tertawa. Benar juga. Ibu memiliki beberapa sepupu perempuan dan sejumlah kerabat jauh. “Ibu tidak menyesal tidak punya anak perempuan?” aku menggodanya. Ibu tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya tentang masyarakat Minangkabau. “Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau ini adalah paruik. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, istilah ini disebut kaum.”

“Dahulu, mereka tinggal dalam sebuah rumah gadang yang bisa didiami oleh banyak orang. Ikatan batin sesama anggota kaum ini kuat sekali. Mereka bersama-sama menjaga kehormatan kaumnya dengan semboyan orang sekaum sehina semalu. Anggota yang melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum. Karenanya, seluruh anggota selalu diajak menjaga kehormatan dan tidak menyimpang dari peraturan. Para perempuan yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ibu lagi. “Masih penasaran?” tanya Ibu. Aku menjawabnya dengan pelukan. Sebagian penjelasan Ibu tidak kupahami. Belasan tahun hidup bersama Ibu, aku hanya tahu bahwa dendeng balado buatannya enak. Aku baru tahu bahwa Ibu sangat mencintai budayanya, walau dia sudah merantau jauh dari kampung halaman. Ibu bahkan menyematkan nama marganya pada namaku dan nama adikku, walaupun kebiasaan tersebut tidak dilakukan oleh semua orang Minangkabau.

Nama lengkap tokoh si aku dalam bacaan di atas adalah ...

(a)  

11.

Cermatilah paragraf berikut!

( 1 ) Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya, khususnya berkaitan dengan perempuan. ( 2 ) Menjaga budaya tradisional penting bagi bangsa Indonesia demi persatuan dan kesatuan. ( 3 ) Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. ( 4 ) Ibu juga memiliki peran penting dalam mengambil keputusan dalam keluarga.

Agar patagraf di atas koherensi, maka kalimat yang dihilangkan adalah bernomor ...

a)

( 1 )

b)

( 2 )

c)

( 3 )

d)

( 4 )

12.

Bacalah dengan cermat teks berikut!

Tabu

Namanya Isrul. Dia sangat bersyukur karena dilahirkan di keluarga yang memadai. Untuk biaya sekolah, orang tuanya sangat mampu menyediakannya. Anehnya, kemudahan untuk sekolah tak dapat dia nikmati. Kepala desa dan guru-guru di desa Isrul selalu berusaha mengubah pola pikir masyarakat di desa. Ketika ada penyuluhan pendidikan, rata-rata orang tua hanya mendengar saja, sesudah itu kembali sibuk dengan urusan sawah, kebun, sapi, dan berbagai mata pencaharian lainnya.

Salah seorang di antara mereka adalah ayah Isrul. Baginya, sekolah itu bagai angin lalu. Baca buku itu buang waktu. Kepada anak lelakinya, dia selalu menegaskan bahwa membantu orang tua adalah hal yang utama. Karenanya, yang dilakukan Isrul begitu pulang sekolah adalah mengurus sapi. Dia senang mengurus binatang, tapi kegiatan ini sungguh menyita waktu. Dia harus memeriksa rumput dan menyingkirkan barang asing seperti ranting atau plastik yang mungkin terbawa. Setelah itu dia mencacahnya menjadi potongan kira-kira 10 cm. Dulu waktu sapi-sapi itu masih kecil, potongan rumputnya pun lebih kecil lagi. Tentu parang besar yang dia gunakan harus diasah dulu agar tajam sehingga proses pencacahan berlangsung cepat. Isrul ingin tugasnya lekas selesai. Pada saat Isrul mencacah rumput, dua sapi yang menunggu tak henti melenguh tak sabar. “Tunggu sebentar. Aku juga lapar, sama seperti kalian. Kalian enak, tinggal makan. Setelah ini aku masih harus ke sawah menjaga padi dari serbuan burung,” sahut Isrul kepada sapi-sapinya. Empat ember besar disiapkan, dua untuk rumput dua lagi untuk air minum sapi. Isrul meraup cacahan rumput dan menumpahkannya ke dalam ember. Sapi-sapi menyambutnya dengan sukacita. Ember berikutnya diisi air hangat yang dibubuhi sedikit garam buat air minum sapi-sapi itu. Sambil mengusap keringat, Isrul menatap binatang peliharaannya. Bagaimanapun, dia punya tanggung jawab membantu orang tuanya. Urusan sekolahnya akan dia bahas dengan ayahnya nanti malam, apa pun risikonya. Dia sudah bertekad ingin melanjutkan sekolah ke kota kecamatan. Mungkin masalah yang dialami Isrul juga dialami anak-anak sebayanya di negeri ini. Dia tinggal di desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, dengan tradisi yang masih sangat kental. Banyak warga yang berpenghasilan tinggi dari pertanian dan peternakan, tetapi hampir semua orang tua di desanya tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, termasuk ayah dan ibunya. “Dulu tidak ada sekolah di desa ini.” Begitu jawaban ayah Isrul ketika ditanya mengapa banyak warga yang tidak sekolah. Ketika Isrul penasaran dan mencoba bertanya lebih jauh, ayahnya segera meninggikan suara, “Sudah, jangan banyak bicara. Tidak sopan sekali. Tahu apa kau tentang tempo dulu. Siapa yang bantu Ayah mengurus kebun kalau kau sekolah terus?” Begitu mendengar kalimat seperti itu, lagi-lagi Isrul terpaksa bungkam. Jika tidak, ayahnya akan tersinggung dan tidak akan ada yang bisa meredakan amarahnya hingga berhari-hari. Isrul sangat menghormati ayahnya dan tak ada kata lain yang keluar melalui pita suaranya kecuali iyye’—iya. Sudah menjadi tradisi di desanya, bahwa semua perkataan orang tua sifatnya mutlak, dan menentang orang tua adalah tabu. Jadi, saat anak-anak lain terhalang melanjutkan sekolah karena tak ada biaya, Isrul dan anak-anak di desanya harus berjuang meyakinkan orang tua bahwa sekolah itu penting. Perjuangan ini sungguh tidak mudah, karena jika seorang anak salah bicara sedikit saja, dia akan dianggap menentang orang tua. Sekali lagi, menentang orang tua adalah tabu. Di antara hamparan sawah yang keemasan, Isrul mengharap sepercik cahaya. Dia ingin mencari cara agar berhasil keluar dari masalah itu. Isrul ingin bisa sekolah sampai tinggi, jika perlu setinggi angkasa. Dia ingin menjadi tokoh-tokoh pintar yang namanya tercantum di buku-buku perpustakaan sekolah. Dia ingin memajukan desanya suatu hari nanti.

Dalam teks di atas alat yang di gunakan Isrul untuk memberi makan ternak sapi adalah ... ( Pilih dua Jawaban benar )

a)

Parang yang tajam

b)

Alat mencacah

c)

Rumput

d)

Garam

13.

Cermati langkah-langkah teks prosedur berikut!

Cara membuat: nasi goreng (tahapan)

  1. 1. Tuangkan telur kocok dan goreng hingga matang

  2. 2. Kocok telur dan sedikit garam pada sebuah mangkuk

  3. 3.. Panaskan wajan dan tuang minyak goreng secukupnya

  4. 4. Haluskan bawang putih, bawang merah, dan cabai

  5. 5. Sisihkan telur di sisi wajan

  6. 6. Masukkan bumbu yang telah dihaluskan ke dalam wajan, masukkan garam, dan tumis hingga harum

  7. 7. Masukkan nasi dan campur dengan bumbu serta telur

  8. 8. Tuangkan kecap secukupnya, aduk rata hingga matang

  9. 9. Sajikan nasi goreng pada piring yang telah disiapkan

Pilih dua jawaban benar!

a)

nomor 1 pindah ke nomor 4

b)

nomor 3 pindah ke nomor 5

c)

nomor 4 pindah ke nomor 1

d)

nomor 5 pindah ke nomor 3

14.

Tipe Keluarga pada gambar terdiri dari...



(a)  

15.

cermatilah teks berikut!

(1) Di dekat perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste, sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dualilu, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, sudah mampu memproduksi penganan nugget dari bahan ikan tuna. Kemampuan ini adalah prestasi yang sangat istimewa.

(2) BUMDes Dualilu melaporkan bahwa masyarakat setempat, sesuai potensi unggulan daerah pesisir tersebut, antara lain ikan panggang, perkedel ikan, keripik pisang, tenda jadi, lempara, dan rumpon. Geliat perekonomian dan kebahagiaan masyarakat lokal terlihat makin nyata karena ada komoditas baru yang mereka hasilkan selain menjadi nelayan dan bercocok tanam. Saat tangkapan ikan melimpah, terjadi lonjakan pendapatan. Pengolahan ikan yang tepat guna akan membuat pendapatan nelayan kian tinggi.

(3) Laporan dari pemerintah daerah menyebutkan bahwa ribuan desa pesisir di wilayah NTT masih membutuhkan sentuhan akses digital dan perhatian maksimal dari pemerintah pusat maupun daerah. Tampaknya, di sinilah peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menjadi amat strategis bagi pengembangan desa pesisir.

(4) Memberdayakan desa di pesisir harus memperhatikan potensi laut sebagai sumber nafkah berkelanjutan sekaligus menjaga kelestariannya. Data menunjukkan baru 13 persen desa di pesisir laut yang memiliki perhatian terhadap laut dan 30 persen yang memiliki sistem mitigasi bencana alam.

(5) Peran dari literasi digital menjadi penting bagi masyarakat desa pesisir untuk membantu akselerasi pengembangan potensi sumber daya manusia maupun sumber daya kelautannya. Penyediaan layanan internet yang baik adalah awal yang mesti diupayakan.

paragraf kedua kalimat terakhir merupakan pernyataan berupa...

a)

asumsi

b)

fakta

c)

opini

d)

semua benar

16.

cermatilah teks berikut!

(1) Di dekat perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste, sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dualilu, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, sudah mampu memproduksi penganan nugget dari bahan ikan tuna. Kemampuan ini adalah prestasi yang sangat istimewa.

(2) BUMDes Dualilu melaporkan bahwa masyarakat setempat, sesuai potensi unggulan daerah pesisir tersebut, antara lain ikan panggang, perkedel ikan, keripik pisang, tenda jadi, lempara, dan rumpon. Geliat perekonomian dan kebahagiaan masyarakat lokal terlihat makin nyata karena ada komoditas baru yang mereka hasilkan selain menjadi nelayan dan bercocok tanam. Saat tangkapan ikan melimpah, terjadi lonjakan pendapatan. Pengolahan ikan yang tepat guna akan membuat pendapatan nelayan kian tinggi.

(3) Laporan dari pemerintah daerah menyebutkan bahwa ribuan desa pesisir di wilayah NTT masih membutuhkan sentuhan akses digital dan perhatian maksimal dari pemerintah pusat maupun daerah. Tampaknya, di sinilah peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menjadi amat strategis bagi pengembangan desa pesisir.

(4) Memberdayakan desa di pesisir harus memperhatikan potensi laut sebagai sumber nafkah berkelanjutan sekaligus menjaga kelestariannya. Data menunjukkan baru 13 persen desa di pesisir laut yang memiliki perhatian terhadap laut dan 30 persen yang memiliki sistem mitigasi bencana alam.

(5) Peran dari literasi digital menjadi penting bagi masyarakat desa pesisir untuk membantu akselerasi pengembangan potensi sumber daya manusia maupun sumber daya kelautannya. Penyediaan layanan internet yang baik adalah awal yang mesti diupayakan.

paragraf pertama kalimat pertamam adalah pernyataan berupa...


a)

fakta

b)

asumsi

c)

opini

d)

wacana

17.

cermatilah teks berikut!

(1) Di dekat perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste, sebuah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Dualilu, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, NTT, sudah mampu memproduksi penganan nugget dari bahan ikan tuna. Kemampuan ini adalah prestasi yang sangat istimewa.

(2) BUMDes Dualilu melaporkan bahwa masyarakat setempat, sesuai potensi unggulan daerah pesisir tersebut, antara lain ikan panggang, perkedel ikan, keripik pisang, tenda jadi, lempara, dan rumpon. Geliat perekonomian dan kebahagiaan masyarakat lokal terlihat makin nyata karena ada komoditas baru yang mereka hasilkan selain menjadi nelayan dan bercocok tanam. Saat tangkapan ikan melimpah, terjadi lonjakan pendapatan. Pengolahan ikan yang tepat guna akan membuat pendapatan nelayan kian tinggi.

(3) Laporan dari pemerintah daerah menyebutkan bahwa ribuan desa pesisir di wilayah NTT masih membutuhkan sentuhan akses digital dan perhatian maksimal dari pemerintah pusat maupun daerah. Tampaknya, di sinilah peran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menjadi amat strategis bagi pengembangan desa pesisir.

(4) Memberdayakan desa di pesisir harus memperhatikan potensi laut sebagai sumber nafkah berkelanjutan sekaligus menjaga kelestariannya. Data menunjukkan baru 13 persen desa di pesisir laut yang memiliki perhatian terhadap laut dan 30 persen yang memiliki sistem mitigasi bencana alam.

(5) Peran dari literasi digital menjadi penting bagi masyarakat desa pesisir untuk membantu akselerasi pengembangan potensi sumber daya manusia maupun sumber daya kelautannya. Penyediaan layanan internet yang baik adalah awal yang mesti diupayakan.

paragraf terakhir adalah pernyataan berupa...

a)

fakta

b)

0pini

c)

wacana

d)

asumsi

18.

Cermatilah bacaan berikut!!

Nama Keluarga

Saat mempelajari sensus penduduk, aku dan teman-teman di kelas berlatih mengisi formulir sesuai data. Banyak kolom yang harus kami isi termasuk nama ayah dan nama ibu. Salah satu temanku heran, mengapa nama belakangku sama dengan nama belakang ibuku, bukan ayahku. Katanya, “Biasanya nama anak mengikuti nama ayahnya, seperti Miko Sirait yang bersuku Batak, ayahnya bernama Tegar Sirait. Ada juga anak yang tidak menggunakan nama keluarga. Namaku, Anin Prasetyani, berbeda sama sekali dengan nama orang tuaku. Aku heran, kok nama belakangmu mengikuti nama ibumu?” Iya juga, ya. Selama ini aku tidak memikirkannya. Pertanyaan Anin membuatku penasaran. Membaca Teks ini mendeskripsikan sistem kekerabatan suku Minangkabau.

Di rumah, meluncurlah pertanyaanku, “Bu, mengapa aku memakai nama Chaniago, bukan nama Jambak seperti nama Ayah?” Ibu tertegun sejenak, tetapi segera berbicara dengan penuh semangat. Kebudayaan Minangkabau terkenal dengan sistem matrilineal, yaitu menetapkan garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. Jadi, marga anak akan mengikuti marga ibu. Budaya ini sudah lama berlangsung dan masih bertahan hingga kini. Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. Ibu juga memiliki peran krusial dalam mengambil keputusan dalam keluarga. “Wah, anak Ibu dua-duanya laki-laki. Ibu tak punya penerus keturunan. Apakah marga Chaniago bakal lenyap?” tanyaku. “Perempuan bermarga Chaniago bukan hanya Ibu, Arifin,” sahut Ibu sambil tertawa. Benar juga. Ibu memiliki beberapa sepupu perempuan dan sejumlah kerabat jauh. “Ibu tidak menyesal tidak punya anak perempuan?” aku menggodanya. Ibu tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya tentang masyarakat Minangkabau. “Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau ini adalah paruik. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, istilah ini disebut kaum.”

“Dahulu, mereka tinggal dalam sebuah rumah gadang yang bisa didiami oleh banyak orang. Ikatan batin sesama anggota kaum ini kuat sekali. Mereka bersama-sama menjaga kehormatan kaumnya dengan semboyan orang sekaum sehina semalu. Anggota yang melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum. Karenanya, seluruh anggota selalu diajak menjaga kehormatan dan tidak menyimpang dari peraturan. Para perempuan yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ibu lagi. “Masih penasaran?” tanya Ibu. Aku menjawabnya dengan pelukan. Sebagian penjelasan Ibu tidak kupahami. Belasan tahun hidup bersama Ibu, aku hanya tahu bahwa dendeng balado buatannya enak. Aku baru tahu bahwa Ibu sangat mencintai budayanya, walau dia sudah merantau jauh dari kampung halaman. Ibu bahkan menyematkan nama marganya pada namaku dan nama adikku, walaupun kebiasaan tersebut tidak dilakukan oleh semua orang Minangkabau.

Nama ayah tokoh siaku dalam bacaan di atas adalah ...




(a)  

19.

Cermatilah bacaan berikut!!

Nama Keluarga

Saat mempelajari sensus penduduk, aku dan teman-teman di kelas berlatih mengisi formulir sesuai data. Banyak kolom yang harus kami isi termasuk nama ayah dan nama ibu. Salah satu temanku heran, mengapa nama belakangku sama dengan nama belakang ibuku, bukan ayahku. Katanya, “Biasanya nama anak mengikuti nama ayahnya, seperti Miko Sirait yang bersuku Batak, ayahnya bernama Tegar Sirait. Ada juga anak yang tidak menggunakan nama keluarga. Namaku, Anin Prasetyani, berbeda sama sekali dengan nama orang tuaku. Aku heran, kok nama belakangmu mengikuti nama ibumu?” Iya juga, ya. Selama ini aku tidak memikirkannya. Pertanyaan Anin membuatku penasaran. Membaca Teks ini mendeskripsikan sistem kekerabatan suku Minangkabau.

Di rumah, meluncurlah pertanyaanku, “Bu, mengapa aku memakai nama Chaniago, bukan nama Jambak seperti nama Ayah?” Ibu tertegun sejenak, tetapi segera berbicara dengan penuh semangat. Kebudayaan Minangkabau terkenal dengan sistem matrilineal, yaitu menetapkan garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. Jadi, marga anak akan mengikuti marga ibu. Budaya ini sudah lama berlangsung dan masih bertahan hingga kini. Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. Ibu juga memiliki peran krusial dalam mengambil keputusan dalam keluarga. “Wah, anak Ibu dua-duanya laki-laki. Ibu tak punya penerus keturunan. Apakah marga Chaniago bakal lenyap?” tanyaku. “Perempuan bermarga Chaniago bukan hanya Ibu, Arifin,” sahut Ibu sambil tertawa. Benar juga. Ibu memiliki beberapa sepupu perempuan dan sejumlah kerabat jauh. “Ibu tidak menyesal tidak punya anak perempuan?” aku menggodanya. Ibu tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya tentang masyarakat Minangkabau. “Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau ini adalah paruik. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, istilah ini disebut kaum.”

“Dahulu, mereka tinggal dalam sebuah rumah gadang yang bisa didiami oleh banyak orang. Ikatan batin sesama anggota kaum ini kuat sekali. Mereka bersama-sama menjaga kehormatan kaumnya dengan semboyan orang sekaum sehina semalu. Anggota yang melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum. Karenanya, seluruh anggota selalu diajak menjaga kehormatan dan tidak menyimpang dari peraturan. Para perempuan yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ibu lagi. “Masih penasaran?” tanya Ibu. Aku menjawabnya dengan pelukan. Sebagian penjelasan Ibu tidak kupahami. Belasan tahun hidup bersama Ibu, aku hanya tahu bahwa dendeng balado buatannya enak. Aku baru tahu bahwa Ibu sangat mencintai budayanya, walau dia sudah merantau jauh dari kampung halaman. Ibu bahkan menyematkan nama marganya pada namaku dan nama adikku, walaupun kebiasaan tersebut tidak dilakukan oleh semua orang Minangkabau.

Kebudayaan Minangkabau dalam menetapkan garis keturunan disebut ...




(a)  

20.

cermatilah wawancara berikut!

Belajar Menjadi Sukarelawan

B: Selamat sore, Kak Fahmi. Terima kasih sudah bersedia menemui saya.

F: Iya, sama-sama. Silakan, Buana, mau tanya apa?

B: Pertama, maaf, Kak. Sejak kapan Kakak mendirikan TBM ini?

F: Oh, bukan saya yang mendirikannya. TBM ini didirikan lima tahun lalu oleh warga di sini. Saya jadi sukarelawan TBM sejak dua tahun lalu.

makna kata sukarelawan dalam wawancara tersebut adalalh....

a)

i orang yang memiliki bangsa atau keturunan raja dan/atau kerabatnya

b)

orang yang memiliki harta dari hasil kerjanya.

c)

orang yang memiliki rupa yang elok atau orang yang elok rupa.

d)

orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa.

21.

cermatilah wawancara berikut!

Belajar Menjadi Sukarelawan

B: Selamat sore, Kak Fahmi. Terima kasih sudah bersedia menemui saya.

F: Iya, sama-sama. Silakan, Buana, mau tanya apa?

B: Pertama, maaf, Kak. Sejak kapan Kakak mendirikan TBM ini?

F: Oh, bukan saya yang mendirikannya. TBM ini didirikan lima tahun lalu oleh warga di sini. Saya jadi sukarelawan TBM sejak dua tahun lalu.

Siapakah narasumber dalam wawancara tersebut?

(a)  

22.

Bacalah teks berikut!

Media sosial dapat menjadi wadah bagi remaja untuk berbagi dan mengekspresikan diri, seperti melalui konten foto, video, dan tulisan. Media sosial juga dapat memberikan dampak positif bagi remaja, seperti: Memperluas wawasan dan pengetahuan, Meningkatkan kepercayaan diri, Mengembangkan identitas, Mendapatkan akses cepat dan mudah ke berbagai informasi dan pengetahuan. 

Namun, media sosial juga dapat berdampak negatif jika tidak digunakan dengan baik. Untuk itu, remaja perlu memperhatikan etika bermedia sosial, seperti:

  • Menggunakan bahasa yang baik

  • Menghindari penyebaran SARA, pornografi, dan aksi kekerasan

  • Mengecek kebenaran berita

  • Menghargai hasil karya orang lain

  • Tidak terlalu mengumbar informasi pribadi 

Jika remaja mengalami kecanduan media sosial, mereka dapat mencoba beberapa cara berikut: Memulai hobi baru, Membuat jadwal atau membatasi waktu untuk bermain media sosial, Memperbanyak aktivitas di luar rumah, Meletakkan gadget yang jauh dari genggaman, Meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan orang lain.

Pernyataan yang tidk sesuai dengan isi teks tersebut adalah...

a)
  • Menghargai hasil karya orang lain

b)
  • Selalu mengumbar informasi pribadi

c)
  • Hargai hasil karya orang lain

d)
  • Mengecek kebenaran berita

23.

Tabu

Namanya Isrul. Dia sangat bersyukur karena dilahirkan di keluarga yang memadai. Untuk biaya sekolah, orang tuanya sangat mampu menyediakannya. Anehnya, kemudahan untuk sekolah tak dapat dia nikmati. Kepala desa dan guru-guru di desa Isrul selalu berusaha mengubah pola pikir masyarakat di desa. Ketika ada penyuluhan pendidikan, rata-rata orang tua hanya mendengar saja, sesudah itu kembali sibuk dengan urusan sawah, kebun, sapi, dan berbagai mata pencaharian lainnya.

Salah seorang di antara mereka adalah ayah Isrul. Baginya, sekolah itu bagai angin lalu. Baca buku itu buang waktu. Kepada anak lelakinya, dia selalu menegaskan bahwa membantu orang tua adalah hal yang utama. Karenanya, yang dilakukan Isrul begitu pulang sekolah adalah mengurus sapi. Dia senang mengurus binatang, tapi kegiatan ini sungguh menyita waktu. Dia harus memeriksa rumput dan menyingkirkan barang asing seperti ranting atau plastik yang mungkin terbawa. Setelah itu dia mencacahnya menjadi potongan kira-kira 10 cm. Dulu waktu sapi-sapi itu masih kecil, potongan rumputnya pun lebih kecil lagi. Tentu parang besar yang dia gunakan harus diasah dulu agar tajam sehingga proses pencacahan berlangsung cepat. Isrul ingin tugasnya lekas selesai. Pada saat Isrul mencacah rumput, dua sapi yang menunggu tak henti melenguh tak sabar. “Tunggu sebentar. Aku juga lapar, sama seperti kalian. Kalian enak, tinggal makan. Setelah ini aku masih harus ke sawah menjaga padi dari serbuan burung,” sahut Isrul kepada sapi-sapinya. Empat ember besar disiapkan, dua untuk rumput dua lagi untuk air minum sapi. Isrul meraup cacahan rumput dan menumpahkannya ke dalam ember. Sapi-sapi menyambutnya dengan sukacita. Ember berikutnya diisi air hangat yang dibubuhi sedikit garam buat air minum sapi-sapi itu. Sambil mengusap keringat, Isrul menatap binatang peliharaannya. Bagaimanapun, dia punya tanggung jawab membantu orang tuanya. Urusan sekolahnya akan dia bahas dengan ayahnya nanti malam, apa pun risikonya. Dia sudah bertekad ingin melanjutkan sekolah ke kota kecamatan. Mungkin masalah yang dialami Isrul juga dialami anak-anak sebayanya di negeri ini. Dia tinggal di desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, dengan tradisi yang masih sangat kental. Banyak warga yang berpenghasilan tinggi dari pertanian dan peternakan, tetapi hampir semua orang tua di desanya tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, termasuk ayah dan ibunya. “Dulu tidak ada sekolah di desa ini.” Begitu jawaban ayah Isrul ketika ditanya mengapa banyak warga yang tidak sekolah. Ketika Isrul penasaran dan mencoba bertanya lebih jauh, ayahnya segera meninggikan suara, “Sudah, jangan banyak bicara. Tidak sopan sekali. Tahu apa kau tentang tempo dulu. Siapa yang bantu Ayah mengurus kebun kalau kau sekolah terus?” Begitu mendengar kalimat seperti itu, lagi-lagi Isrul terpaksa bungkam. Jika tidak, ayahnya akan tersinggung dan tidak akan ada yang bisa meredakan amarahnya hingga berhari-hari. Isrul sangat menghormati ayahnya dan tak ada kata lain yang keluar melalui pita suaranya kecuali iyye’—iya. Sudah menjadi tradisi di desanya, bahwa semua perkataan orang tua sifatnya mutlak, dan menentang orang tua adalah tabu. Jadi, saat anak-anak lain terhalang melanjutkan sekolah karena tak ada biaya, Isrul dan anak-anak di desanya harus berjuang meyakinkan orang tua bahwa sekolah itu penting. Perjuangan ini sungguh tidak mudah, karena jika seorang anak salah bicara sedikit saja, dia akan dianggap menentang orang tua. Sekali lagi, menentang orang tua adalah tabu. Di antara hamparan sawah yang keemasan, Isrul mengharap sepercik cahaya. Dia ingin mencari cara agar berhasil keluar dari masalah itu. Isrul ingin bisa sekolah sampai tinggi, jika perlu setinggi angkasa. Dia ingin menjadi tokoh-tokoh pintar yang namanya tercantum di buku-buku perpustakaan sekolah. Dia ingin memajukan desanya suatu hari nanti.

Pernyataan sesuai teks tersebut adalah.

a)

menentang perkataan orangtua adalah tabu

b)

menentang perkataan orangtua adalah boleh

c)

menentang perkataan orangtua adalah dosa

d)

menentang perkataan orangtua adalah wajar

24.

Cermatilah langkah-langkah dalam wawancara!

Agar wawancara berjalan baik, lakukan prosedur berikut ini...

1) tentukan narasumber, carilah informasi tentang narasumber tersebut

2) tentukan tema wawancara

3) pelajari masalah yang berkaitan dengan tema wawancara

4) siapkan peralatan wawancara misalnya buku untuk mencatat atau alat perekam

5) buat garis besar pertanyaan yang akan di ajukan.

Susunan langkah-langkah yang benar?

a)

(1), (2), (3), (4), (5}

b)

(1), (4), (5), (2), (3)

c)

(2), (3), (5), (1), (4)

d)

(2), (3), (5), (1), (4)

25.

Cermatilah bacaan berikut!!

Nama Keluarga

Saat mempelajari sensus penduduk, aku dan teman-teman di kelas berlatih mengisi formulir sesuai data. Banyak kolom yang harus kami isi termasuk nama ayah dan nama ibu. Salah satu temanku heran, mengapa nama belakangku sama dengan nama belakang ibuku, bukan ayahku. Katanya, “Biasanya nama anak mengikuti nama ayahnya, seperti Miko Sirait yang bersuku Batak, ayahnya bernama Tegar Sirait. Ada juga anak yang tidak menggunakan nama keluarga. Namaku, Anin Prasetyani, berbeda sama sekali dengan nama orang tuaku. Aku heran, kok nama belakangmu mengikuti nama ibumu?” Iya juga, ya. Selama ini aku tidak memikirkannya. Pertanyaan Anin membuatku penasaran. Membaca Teks ini mendeskripsikan sistem kekerabatan suku Minangkabau.

Di rumah, meluncurlah pertanyaanku, “Bu, mengapa aku memakai nama Chaniago, bukan nama Jambak seperti nama Ayah?” Ibu tertegun sejenak, tetapi segera berbicara dengan penuh semangat. Kebudayaan Minangkabau terkenal dengan sistem matrilineal, yaitu menetapkan garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu. Jadi, marga anak akan mengikuti marga ibu. Budaya ini sudah lama berlangsung dan masih bertahan hingga kini. Bagi orang Minangkabau, garis keturunan erat sekali hubungannya dengan adatnya. Perempuan dewasa atau ibu memiliki kedudukan yang tinggi dan menjadi lambang kehormatan keluarga. Ibu juga memiliki peran krusial dalam mengambil keputusan dalam keluarga. “Wah, anak Ibu dua-duanya laki-laki. Ibu tak punya penerus keturunan. Apakah marga Chaniago bakal lenyap?” tanyaku. “Perempuan bermarga Chaniago bukan hanya Ibu, Arifin,” sahut Ibu sambil tertawa. Benar juga. Ibu memiliki beberapa sepupu perempuan dan sejumlah kerabat jauh. “Ibu tidak menyesal tidak punya anak perempuan?” aku menggodanya. Ibu tersenyum dan melanjutkan pembicaraannya tentang masyarakat Minangkabau. “Garis keturunan dan kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi inti dari sistem kekerabatan matrilineal di Minangkabau ini adalah paruik. Setelah Islam masuk ke Minangkabau, istilah ini disebut kaum.”

“Dahulu, mereka tinggal dalam sebuah rumah gadang yang bisa didiami oleh banyak orang. Ikatan batin sesama anggota kaum ini kuat sekali. Mereka bersama-sama menjaga kehormatan kaumnya dengan semboyan orang sekaum sehina semalu. Anggota yang melanggar adat akan mencemarkan nama seluruh anggota kaum. Karenanya, seluruh anggota selalu diajak menjaga kehormatan dan tidak menyimpang dari peraturan. Para perempuan yang sudah dewasa selalu mengawasi rumah gadangnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.” kata Ibu lagi. “Masih penasaran?” tanya Ibu. Aku menjawabnya dengan pelukan. Sebagian penjelasan Ibu tidak kupahami. Belasan tahun hidup bersama Ibu, aku hanya tahu bahwa dendeng balado buatannya enak. Aku baru tahu bahwa Ibu sangat mencintai budayanya, walau dia sudah merantau jauh dari kampung halaman. Ibu bahkan menyematkan nama marganya pada namaku dan nama adikku, walaupun kebiasaan tersebut tidak dilakukan oleh semua orang Minangkabau.

tokoh si aku dalam bacaan di atas berasal dari ...


a)

suku Bugis

b)

suku Jawa

c)

suku Batak

d)

suku Minangkabau