wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Bahasa Indonesia 6

Total questions: 20

Worksheet time: 11mins

Name
Class
Date
1.

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal.....

a)

28 Oktober 1928

b)

17 Agustus 1945

c)

28 Oktober 1945

d)

18 Agustus 1945

2.

Bacalah teks berikut!

Tari Klana Topeng merupakan bentuk karya tari tunggal. Tari ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Tari Klana Topeng pada umumnya ditarikan oleh penari putra. Tema yang menjadi sumber tarian ini mengambil dari cerita Panji. Cerita itu tentang Raja Klana Sewandana yang sedang jatuh cinta.

Berikut yang bukan merupakan informasi dari paragraf di atas adalah ....

a)

Tari klana topeng merupakan bentuk karya tari tunggal.

b)

Tari klana topeng berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

c)

Tari klana topeng pada umumnya ditarikan oleh penari putri.

d)

Tema yang menjadi sumber tarian klana topeng mengambil dari cerita Panji.

3.

Persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah judul dikategorikan baik adalah ….

a)

singkat dengan menggunakan istilah asing

b)

panjang, namun tidak lebih dari dua baris

c)

singkat, padat, menarik, dan sesuai isi teks

d)

singkat dan menarik dengan penggunaan gambar

4.

Bacalah paragraf berikut dengan seksama!

Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang harus dilakukan secara seimbang. Artinya, dalam melaksanakan hak tidak lupa juga melaksanakan kewajiban sebagai warga negara. Kewajiban hendaknya dilakukan terlebih dahulu daripada hak. Banyak manfaat yang dapat dirasakan warga negara Indonesia atas terpenuhinya hak yang dimiliki.

Kalimat utama paragraf di atas adalah ....

a)

Kewajiban hendaknya dilakukan secara bertanggung jawab.

b)

Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang harus dilakukan scara seimbang.

c)

Banyak manfaat yang dapat dirasakan warga negara Indonesia atas terpenuhinya hak yang dimiliki.

d)

Setiap warga negara memiliki hak.

5.

Bacalah paragraf berikut dengan saksama!

Orang yang akan pensiun tidak perlu stres. Pensiun berarti tidak bekerja, tetapi mendapat gaji. Dengan tidak berdinas lagi berarti mereka tidak memiliki beban pikiran terhadap pekerjaan dan banyak waktu luang untuk bersantai. Jika waktu luang itu bisa dioptimalkan dengan berbagai kegiatan yang positif dan produktif, tentu orang tidak akan terkena stres.

Gagasan utama dari paragraf yang disajikan adalah ....

a)

pensiun berarti tidak bekerja, tetapi mendapat gaji

b)

orang yang akan pensiun tidak perlu stres

c)

pensiun membuat bahagia

d)

pensiun adalah masa tidak produktif

6.

Mencari isi teks dari suatu bacaan dapat dilakukan dengan cara ....

a)

membaca sekilas

b)

membaca judul bacaan

c)

mencari kata kunci

d)

membaca kalimat terakhir

7.

Bacalah!

SD Negeri Suka maju mau mengadakan pentas seni. Kepala sekolah meminta seluruh siswa untuk membersihkan lingkungan sekolah. Siswa diharap membawa alat kebersihan seperti sapu lidi, sapu ijuk, kemoceng dan kain pel. Setiap siswa harus berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Makna kata *BERPARTISIPASI* di dalam paragraf tersebut adalah ....

a)

Ikut serta dalam kegiatan

b)

Merencanakan jadwal kegiatan

c)

Mengawasi jalannya kegiatan

d)

Menilai jalannya kegiatan

8.

Formulir adalah kertas berisi pertanyaan resmi yang harus diisi. Berikut bagian-bagian yang termasuk dalam isi formulir. Kecuali...

a)

nama

b)

alamat

c)

tempat dan tanggal lahir

d)

zodiak

9.

Apa yang dimaksud dengan bahasa resmi?

a)

Bahasa yang digunakan dalam situasi formal

b)

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari

c)

Bahasa yang digunakan dalam media sosial

d)

Bahasa yang digunakan dalam percakapan santai

10.

Berikut macam-macam unsur surat resmi, kecuali....

a)

Tempat & Tanggal Lahir

b)

Kop Surat

c)

Isi Surat

d)

Salam Penutup

11.

Perhatikan wacana berikut untuk soal nomor 11 - 13!

AKU ANAK INDONESIA

Hana melangkahkan kakinya dengan gelisah. Dia menendang-nendang kerikil yang ia temui sepanjang jalan. Raut mukanya tampak cemas. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah baru di Indonesia. Keluarganya baru saja pindah dari Kyoto, Jepang, tempat ayahnya menyelesaikan pendidikan doktor. Sesampai di halaman sekolah yang rindang, Pak Rizal, ayahnya, menawari Hana untuk ikut menemaninya masuk ke kelas. Namun, Hana menolak. Meski khawatir,dia merasa malu kalau harus ditemani orang tuanya. Di Kyoto, dia bahkan sudah berangkat dan pulang sekolah sendiri sejak kelas 1 SD.

“Hana, kamu anak pemberani. Jangan khawatir, anak-anak Indonesia ramah - ramah. Mereka pasti akan senang punya teman baru.” Kata ayahnya.

Hana mengangguk.

“Nanti Ayah akan datang lagi menjemputmu ya. Ayah perlu pergi dulu ke tukang cukur, rambut ayah sudah gondrong begini,” tambah ayahnya lagi sambil menepuk pundak Hana.

Jarak rumah Hana dengan SDN Gaharu hanya lima ratus meter, sehingga dia bisa berjalan kaki ke sekolah. Begitu masuk melewati gerbang sekolah, bel berdentang. Semua siswa berlarian masuk ke kelas masing-masing. Hana mencari kelas dengan lambang VI di atas pintu. Begitu Hana masuk, Bu Pertiwi, guru kelas enam, menyambutnya dengan senyuman lebar.

“Ah, kamu pasti Hana. Ayo masuk. Ibu carikan tempat duduk dulu untuk meletakkan tasmu, lalu berkenalan dengan teman-teman sekelasmu.”

Hana mengangguk malu-malu. Dia merasa seluruh pasang mata di kelas ini sedang menatapnya. Dia mendengar bisik-bisik meski tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Dada Hana berdegup semakin kencang. Bu Pertiwi menyilakan Hana untuk berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.

“Selamat pagi teman-teman…” katanya mengawali perkenalan. Kemarin, Hana

sudah berlatih di depan cermin agar dia tidak canggung mengucapkan kata-kata perkenalan dalam bahasa Indonesia.

“Tolong suaranya lebih keras lagi, biar semuanya bisa mendengar,” kata Bu Pertiwi.

“Nama saya Hana. Saya berusia dua belas tahun. Saya pindah dari Kyoto, Jepang. Ayah saya baru menamatkan kuliahnya di sana. Kami pindah ke kota ini karena ayah saya akan bekerja di sini. Saya senang berkenalan dengan teman-teman semua. Arigato. Eh, terima kasih.” Hana mengakhiri perkenalannya dengan menjura, membungkukkan badannya.

Ketika kembali berdiri tegak, ia melihat senyum terkembang dari teman-teman sekelasnya. Hana lega, kecemasannya berkurang.

“Terima kasih Hana. Ada yang ingin kalian tanyakan pada Hana?” ujar Bu Pertiwi.

Seorang anak laki-laki mengacungkan tangan. “Kamu asalnya dari mana? Oh ya, namaku Arjuna, biasa dipanggil Juna.”

Teman-teman yang lain bersorak, “Huuu…” Sepertinya Juna memang anak yang suka mencari perhatian. Hana bingung, bagaimana harus menjawab pertanyaan Juna. Di Jepang, dia dengan mudah menjawab bahwa dia berasal dari Indonesia. Tapi di Indonesia, dia harus menjawab apa?

“Saya berasal dari Indonesia…” kata Hana pelan dan ragu.

Teman-teman tertawa. Bu Pertiwi menengahi, “Mungkin maksud Arjuna, Hana lahir di mana?”

“Oh… saya lahir di Makassar.”

“Berarti kamu asli Makassar,” sahut Juna dari bangku paling belakang.

“Tapi… ayah saya berasal dari Padang dan ibu saya berasal dari Sunda,” tambah Hana, menyanggah ucapan Juna itu.

Bu Pertiwi angkat bicara, “Sekarang ini memang susah kalau ditanya asalnya atau aslinya dari mana, karena manusia semakin terhubung dan juga berpindah - pindah. Seperti Hana, misalnya, yang punya orang tua dari daerah dan suku yang berbeda. Yang jelas, Hana adalah anak Indonesia. Betul kan, Hana?” Hana mengangguk.

“Jadi, apa yang membuat kalian mengaku sebagai anak Indonesia?” tanya Bu Pertiwi ke seluruh kelas.

“Karena kita lahir di Indonesia,” jawab Salim sambil mengacungkan tangannya.

“Tapi ... adikku, Naomi, lahir di Kyoto dan dia tetap anak Indonesia,” sanggah Hana, yang mulai berani menyampaikan pendapatnya.

“Hana benar. Aku lahir di Berlin. Orang tuaku Jawa. Aku tetap anak Indonesia,” sahut Agni, gadis berkacamata yang duduk paling depan.

“Kalian sama-sama benar. Anak Indonesia adalah anak-anak yang lahir atau tinggal di Indonesia, atau anak-anak yang ayah ibunya atau salah satu orang tuanya orang Indonesia. Apalagi yang membuat kita Indonesia?” lanjut Bu Pertiwi.

“Karena kita bisa berbahasa Indonesia, Bu,” kata Melodi dengan nada bicara

yang lembut.

Hati Hana menciut. Dia merasa belum mahir benar berbahasa Indonesia. Di sekolah lamanya, bahasa pengantar yang dipakai adalah bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Rupanya Bu Pertiwi melihat perubahan raut wajah Hana. Dia meminta Hana menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya. Setelah mendengar curahan hati Hana, Bu Pertiwi berusaha membesarkan hatinya.

“Jangan khawatir. Dulu Agni ketika pindah ke kelas dua juga belum lancar berbahasa Indonesia. Tapi, bapak ibu guru dan semua teman ikut membantu. Sekarang, Agni sudah mahir berbahasa Indonesia dan bahkan buku kumpulan cerpennya baru saja terbit.”

Agni tampak tersipu.

“Jangan khawatir, Hana. Nanti aku juga bisa ajari kamu bahasa Jawa,” timpal Juna. Seketika teriakan “huuu ... ” kembali bergema.

Tiba-tiba Salim berteriak sambil menunjuk ke jendela. “Hantuuu!” Semua mata menoleh ke arah yang ditunjuk Salim. Hana melihat ada kepala botak yang muncul dan tenggelam dari balik jendela yang kusennya dipasang tinggi, khas arsitektur. gedung peninggalan Belanda. Bu Pertiwi melangkah menuju pintu untuk melihat siapa yang ada di luar. Tidak mungkin ada hantu di siang bolong. Anak-anak ribut sambil menunjuk-nunjuk ke arah jendela. Ternyata itu adalah Pak Rizal, ayah Hana, yang rambutnya sudah habis tercukur.

“Maaf, Bu Pertiwi, saya mau menyusulkan oleh-oleh dari Jepang untuk teman-teman Hana. Tadi tidak sempat terbawa Hana karena dia terburu-buru,” Pak Rizal berkata dari jendela.

Hana baru sadar bahwa dia melupakan cendera mata yang sudah dia siapkan untuk teman-teman barunya. Kelas kembali riuh. Hana mengedarkan kantungkantung berisi permen Wagashi dan sisir Tsuge, buah tangan khas dari Tokyo. Hatinya menghangat karena teman-teman barunya memang ramah dan senang hati menerimanya sebagai penghuni kelas yang baru. Hana menyalami temannya satu per satu dan mencoba menghafalkan nama-nama mereka. Sampai di ujung kelas, siswa yang terakhir dia salami berkata, “Jangan sampai lupa, namaku Juna.”

Siapa tokoh utama dalam cerita ini ?

a)

Pak Rizal

b)

Hana

c)

Ibu Pertiwi

d)

Arjuna

12.

Apa yang dikhawatirkan oleh Hana saat perkenalan diri di sekolah barunya ?

a)

Tidak dimengerti oleh guru dan teman-teman di sekolah barunya

b)

Menjadi terlalu pintar di kelasnya

c)

Menjadi pribadi yang pemalu dan pesimis

d)

Tidak dapat diterima oleh teman-teman di sekolah barunya

13.

Mengapa teman-teman sekelas banyak yang menyuraki Juna ?

a)

Karena Juna aktif di kelas

b)

Karena Juna membuat ulah di kelas.

c)

Karena Juna sepertinya suka mencari perhatian

d)

Karena Juna merupakan anak yang sombong

14.

Salam pembuka dan salam penutup harus kita sesuaikan dengan orang yang kita tuju. Dengan teman sebaya kita bisa menuliskan sapaan informal seperti, ‘hai’ atau ‘halo’. Namun dengan orang yang lebih tua atau surel yang dikirimkan ke instansi, sebaiknya menggunakan sapaan yang lebih formal seperti....

a)

Halo

b)

Assalamualaikum

c)

Hai

d)

Apa Kabar ?

15.

Salah satu unsur surat pribadi adalah....

a)

Kop surat

b)

Nomor Surat

c)

Perihal Surat

d)

Tempat dan tanggal penulisan surat

16.

Apa yang dimaksud dengan wawancara ?

a)

Orang yang menjadi penanya dalam proses tanya jawab.

b)

Proses mendapatkan data, keterangan, dan pendapat tentang suatu hal melalui bedah buku.

c)

Proses tanya jawab antara pewawancara dan narasumber untuk mendapatkan data, keterangan, dan pendapat tentang suatu hal.

d)

Proses pengumpulan informasi melalui data yang sudah disediakan.

17.

Berikut langkah wawancara yang baik dan benar adalah ....

a)

 

Mengajukan pertanyaan yang bersifat menyerang personal.

b)

Tidak menuliskan hasil wawancara.

c)

Menghubungi narasaumber secara mendadak.

d)

Menyiapkan daftar pertanyaan untuk wawancara.

18.

Perhatikan teks wawancara berikut untuk menjawab soal nomor 18-19!

Panggung Dunia Eko Supriyanto

(Sumber gambar : https://festival.borobudurwriters.id/bio/eko-supriyanto)

  1. Bagaimana awal ketertarikan Mas Eko untuk menari?

Tadinya sih dipaksa bapak dan ibu untuk ikut menari bersama kakek. Setelah kakek meninggal, saya diberi les privat di tempat Pak Paijan. Kemudian dari Pak Paijan, saya beralih ke Pak Pahari di Karang Lor. Beliau salah satu tokoh tari juga yang ada di Magelang. Setelah itu, ketika masuk SMEA saya setengah berhenti menari karena maludibilang seperti cah wedok (anak perempuan) kalau menari. Tapi, di kelas tiga saya harus memilih antara bermain voli atau menari lagi. Akhirnya saya bertemu dengan tari lagi. Waktu itu saya bertemu dengan Bu Hartik, istri Pak Paijan yang mengajar di SMEA. Dari mereka, saya bertemu dengan Pak Alit Maryono,seorang tokoh tari di Magelang juga. Akhirnya saya mendapat motivasi dari PakAlit dan guru-guru sebelumnya.Kita mendirikan sanggar tari di Magelang, namanya Sanggar Pitaloka. Sanggarini tidak hanya melestarikan tapi juga mengajarkan regenerasi tarian-tariantradisi kita seperti gaya Surakarta, gaya Yogya, maupun gaya-gaya Pak Bagong.Mereka yang menari adalah anak-anak SD, SMP, dan SMA. Dari situlah cikalbakal saya memutuskan untuk terus di tari. Akhirnya saya ambil kuliah di STSISolo yang sekarang sudah menjadi ISI.

  1. Apa yang membuat Mas Eko yakin dengan pilihan berkarier sebagai penari?

Saya belajar silat Bima, budaya Indonesia Mataram. Kebetulan di keluarga kami anak-anak laki-laki diwajibkan untuk ikut silat. Tapi pada saat yang sama entah kenapa kakek itu ingin cucu-cucunya juga ikut belajar menari. Walaupun yang berhasil cuma saya sekarang ya. Dari awal satu keluarga itu lelaki semua latihan, ya latihan menari, ya latihan silat. Tapi yang menjadi penari sungguhan cuma saya, tidak ada yang lain. Saya pikir karena pada saat itu, tahun-tahun 80-an dan 90-an, konotasi tari masih dianggap sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan dan dipentaskan oleh perempuan. Saya masih merasa yakin saja kalau akhirnya tari dan silat itu saling berkaitan. Apalagi ketika saya masuk STSI, saya baru sadar ketika bertemu Pak Sardono dan tokoh tari yang lain. Saya merasa profesi saya sekarang dengan latar belakang yang sama dari keluarga yang sama, bagaimana Mas Don juga belajar silat dari kecil. Akhirnya saya justru merasa beruntung karena dituntun di jalan yang benar.

  1. Bisa diceritakan pengalaman menjadi penari latar di tur Madonna?

Saya rasa dari budaya yang bisa saya kenalkan dan tampilkan itulah yang pada akhirnya membawa saya dipilih di tur Madonna. Memang waktu itu saya menari memperagakan tarian Bali yang saya gabung dengan silat. Kemudian tarian Minang yang saya gabungkan dengan Halmahera Barat. Selanjutnya tarian Maluku yang saya gabungkan dengan tarian Aceh. Pada saat itu Madonna sangat mengakui bahwa Indonesia itu luar biasa keragaman keseniannya. Audisi yang saya ikuti di Los Angeles (LA) itu pesertanya ada sepuluh ribuan. Yang dipilih cuma enam yang dari LA. Kemudian yang dari New York (NY) itu juga sekitar enam ribuan, dipilih cuma empat. Kemudian digabung dari LA enam dan dari NY empat. Ditambah untuk cadangan dua orang. Penari yang paspornya non-Amerika cuma saya. Pengalaman itu pengalaman yang sangat berharga, sangat penting dalam karier dan hidup saya. Tapi saya harus melangkah maju. Mungkin dari situ saya justru bisa meneruskan dan membagikan pengalaman ini untuk teman-teman yang lain.

  1. Apa kesibukan Mas Eko sekarang?

Saya baru mengeluarkan buku. Judulnya Ikat Kait Impulsif Sarira. Buku ini dari disertasi saya tentang tari kontemporer Indonesia. Di dalam kesimpulan di buku ini, saya menulis bahwa proses kreatif dari tari kontemporer Indonesia ada tiga: mengunjungi kembali, mempertanyakan kembali, dan menginterpretasi kembali tradisi kita. Saya selalu bilang bahwa saya beruntung dalam hal tari tradisional, kita mempunyai seniman kontemporer. Kalau tidak, tarian tradisional itu hanya akan ada di museum, dan menjadi barang eksotis saja. Hanya akan dipuji, “Wah, cantik.” Lalu selesai begitu saja. Nah, tugas seniman tari kontemporer inilah yang menciptakan gagasan baru untuk menjembatani supaya tari tradisional kita tidak hanya dianggap sebagai barang eksotis melulu setiap saat.

Diolah dari:

https://lokadata.id/video/panggung-dunia-eko-supriyanto

Pak Eko Supriyanto merupakan seorang koreografer profesional asal Indonesia. Koreografer adalah...

a)

Orang yang ahli dalam mencipta dan

menggubah gerak tari

b)

Orang yang ahli dlama menciptakan seni rupa

c)

Orang yang ahli dalam membuat musik

d)

Orang yang ahli dalam membuat film

19.

Apa pengalaman Pak Eko yang paling berharga dan paling penting dalam karirnya ?

a)

Mempelajari silat

b)

Mengenalkan tari Indonesia di kancah dunia

c)

Menerbitkan buku

d)

Menjadi penari latar saat Tur Konser Madonna.

20.

Kita bisa menebak/memperkirakan isi informasi dari sebuah bacaan melalui kata kunci yang terdapat pada ….

a)

judul bacaan

b)

paragraf terakhir

c)

paragraf awal

d)

latar belakang bacaan