WorksheetsAssessment 2 Bahasa Indonesia Kelas 11
Total questions: 4
Worksheet time: 36mins
Bacalah cerpen dibawah ini!
Suatu ketika, ada seekor induk babi yang memiliki tiga anak babi kecil. Ia memiliki kesulitan untuk memberi mereka makan. Jadi, ketika mereka cukup dewasa, sang induk melepas mereka ke dunia untuk mencari peruntungan.
Ketiga babi itu kemudian membuat rumahnya masing-masing untuk bertahan hidup. Babi pertama hidup dengan malas, ia ingin membuat rumahnya dari jerami. Kemudian, ia bertemu dengan seorang pria yang membawa sedikit jerami.
“Permisi. Maukah anda menjual jerami ini agar saya bisa membuat rumah?”, tanya babi kecil pertama dengan sopan.
Pria itu langsung setuju dan babi kecil pertama pergi mencari tempat yang bagus untuk membangun rumahnya.
Babi kecil yang kedua juga hidup malas, namun ia tidak mau membuat rumah dari jerami. Ia terus berjalan di sepanjang jalan dan bertemu dengan seorang pria yang membawa seikat batang kayu.
“Permisi. Maukah anda menjual beberapa batang kayu itu agar saya bisa membangun rumah?” tanya babi kedua.
Penjual kayu itu langsung setuju dan babi kecil kedua mengucapkan selamat tinggal kepada saudaranya.
Berbeda dengan babi kecil bungsu yang tidak memikirkan ide-ide seperti kakaknya. “Aku akan membangun rumah yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat”, pikirnya.
Dia terus berjalan hingga bertemu dengan seorang pria dengan gerobak penuh batu bata.
“Permisi. Tolong, bisakah anda menjual beberapa batu bata ini agar saya bisa membangun rumah?”, tanya babi ketiga dengan sopan seperti yang diajarkan induknya.
“Oh, tentu saja! Dimana batu bata ini akan diletakkan?”, kata pria penjual batu bata itu.
Babi kecil ketiga melihat sekeliling dan melihat sebidang tanah yang bagus di bawah pohon. “Di sana”, dia menunjuk.
Ketiga babi kecil ini mulai bekerja dan pada malam hari rumah jerami dan rumah kayu telah selesai dibangun, tetapi rumah dari batu bata baru saja mulai berdiri di atas tanah. Babi kecil pertama dan kedua tertawa, mereka mengira saudara bungsunya benar-benar konyol karena harus bekerja sangat keras ketika kedua kakaknya sudah selesai.
Beberapa hari kemudian, rumah batu bata itu selesai dibangun dan terlihat sangat mewah dengan jendela mengkilap, cerobong asap kecil yang rapi, dan besi pengetuk pintu yang mengkilap.
Keesokan harinya, seekor serigala kebetulan melewati jalan setapak di mana tiga babi kecil itu tinggal, dan ia melihat rumah jerami dan mencium bau babi di dalamnya. Dia mengira babi itu akan menjadi makanan yang enak dan mulutnya mulai berair. Jadi, serigala itu mengetuk pintu dan berkata. “Babi kecil! Babi kecil! Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!”.
Tapi, babi kecil melihat cakar besar serigala melalui lubang kunci, jadi ia menjawab kembali, “Tidak! Tidak! Tidak! Aku akan tetap di sini!”.
Karena merasa kesal, kemudian serigala itu menunjukkan giginya dan berkata, “Dan aku akan menarik napasku, menghembuskannya, dan menghancurkan rumahmu!”.
Kemudian, serigala itu menarik napasnya dengan kuat, menghembuskan napasnya dengan kencang, dan ia menghancurkan rumah jerami si babi pertama. Serigala membuka rahangnya sangat lebar dan menggigit sekuat tenaga, tetapi babi kecil pertama lolos dan melarikan diri untuk bersembunyi bersama babi kecil kedua.
Serigala terus menyusuri jalan setapak dan ia melewati rumah babi kedua yang terbuat dari kayu. Ketika serigala melihat rumah itu, ia lagi-lagi mencium bau babi di dalamnya dan seketika mulutnya kembali berair saat memikirkan tentang makan malam enak yang akan ia buat.
Serigala pun kembali mengetuk pintu dan berkata, “Babi kecil! Babi Kecil! Biarkan aku masu! Biarkan aku masuk!”.
Babi kecil yang pertama mengatakan pada babi kedua untuk tidak membuka pintu itu. Jadi ia menjawab, “Tidak! Tidak! Tidak! Aku tak membiarkan ada bulu serigala masuk ke rumahku!”.
Serigala pun gusar dengan ucapan babi kecil kedua, ia kembali menunjukkan giginya dan berkata, “Dan aku akan menarik napasku, akan menghembuskannya, dan akan menghancurkan rumahmu!”.
Tanpa basa-basi, serigala itu menarik napasnya sekuat tenaga, ditiupkan ke rumah kayu itu, dan menghancurkannya hingga roboh. Namun, ketamakan dan kerakusan serigala yang mencoba menangkap kedua babi sekaligus membuatnya tidak berhasil mendapatkan keduanya.
Rahangnya yang besar tidak bisa menahan apapun kecuali udara karena kedua babi itu bergegas lari pergi secepat mungkin agar tidak ditangkap oleh serigala.
Tak tinggal diam, serigala mengejar kedua babi itu dan dia hampir menangkap mereka. Tapi, kedua babi itu berhasil sampai ke rumah babi ketiga yang terbuat dari bata, dan babi ketiga menutup pintu sebelum serigala bisa menangkap mereka.
Tiga babi kecil itu sangat ketakutan, mereka tak punya tempat untuk bersembunyi dari serigala yang ingin memakannya. Serigala menahan rasa laparnya sepanjang hari dan nafsu makannya tinggi untuk mengejar babi-babi dan sekarang ia bisa mencium bau ketiganya di dalamnya. Ia tahu bahwa ketiga babi itu akan menjadi pesta yang menyenangkan.
Jadi, serigala itu mengetuk dan berkata, “Babi kecil! Babi Kecil! Biarkan aku masuk! Biarkan aku masuk!”
Tapi, babi kecil ketiga mengintip dari lubang kunci dan melihat mata sipit serigala, ia pun ketakutan dan menjawab, “Tidak! Tidak! Tidak! Pergi kau dari sini!”.
Karena serigala berpikir bisa meruntuhkan dua rumah babi sebelumnya, ia pun melakukan hal yang sama pada rumah babi ketiga yang terbuat dari batu bata ini.
“Baiklah, aku akan menarik napasku lagi, menghembuskannya dengan sangat kencang, dan aku akan meledakkan rumahmu!”, ucap serigala mengancam babi kecil ketiga.
Serigala itu berulang kali menarik dan menghembuskan napasnya dengan kencang, berulang kali hingga akhirnya terengah-engah. Serigala tidak bisa meledakkan rumah itu. Akhirnya, ia kehabisan napas sehingga tidak bisa menarik napas dan tidak bisa menghembuskan napas lagi. Kemudian, ia berhenti untuk istirahat dan berpikir sebentar.
Ternyata serigala menemukan cara lain, yaitu lewat cerobong asap. Ia kemudian memanjat tangga yang ada di dekatnya untuk naik ke atap dan masuk lewat cerobong asap, tetapi babi kecil ketiga ini mendengar suara langkah kaki serigala di atapnya. Ia langsung bergegas memberitahu dua saudaranya untuk menyalakan api di tungku perapian untuk menghalangi serigala masuk.
Saat serigala masuk melalui cerobong asap rumah itu, ia merasakan sesuatu yang hangat di ekornya. Namun karena sangat lapar, ia tetap menuruni cerobong asap itu. Semakin dalam ia menuruninya, ekornya menjadi sangat panas dan tercium bau gosong.
Ternyata, ekor serigala itu terbakar api. Mengetahui ekornya terbakar, serigala itu memanjat keluar dari cerobong asap dan lari ke hutan.
Sejak saat itu, ketiga babi kecil bersaudara itu hidup bahagia bersama selamanya di rumah bata mereka yang tahan angin dan serigala jahat tak pernah kembali.
Tuliskan urutan alur dari cerpen tersebut!
Judul: Kesempurnaan Sejati
Karangan: Nur Hidayati Ilmi, SMPN 1 Puri
Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Bagaskara Narendra yang menempuh pendidikan di sebuah Universitas ternama di kotanya. Ia merupakan murid tampan yang memiliki ratusan ribu followers di sosmednya, yah bisa dibilang dia populer. Tidak hanya itu prestasinya yang cemerlang serta background keluarga yang cukup disegani membuat dia cukup akrab dengan kebanyakan dosen sampai kadang membuat orang yang melihatnya merasa minder. Dibalik itu semua ia tak pernah sekalipun bersyukur dan selalu tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu ingin jadi yang lebih sempurna lagi dalam segala hal.
Saat pertengahan semester datanglah dosen pengganti yang akan mengajar di salah satu mata kuliahnya, karena dosen yang mengajar cuti selama seminggu. Ia memperkenalkan diri dengan ramah dan santai, namanya adalah Asrar Adiwidia. Meskipun mahasiswa lain tengah menyambut kedatangan pak Adi, bukannya senang Aska malah bergumam "Kenapa sih itu dosen pake cuti segala kan jadi harus akting lagi, untung dosen penggantinya ramah pasti gampang nih gak ada seminggu juga itu dosen pasti luluh".
Namun tak seperti yang dia rencanakan ternyata pak Adi merupakan tipe dosen yang tegas, disiplin, dan adil. Sudah hampir lima hari berlalu namun tidak ada kemajuan malah Aska diperlakukan sama seperti mahasiswa lain, tidak seperti biasanya. Aska berpikir kalau seperti ini terus rencana dia untuk menjadi yang terbaik dan terlihat sempurna bisa bisa gagal. Semalaman ia merenungkan hal itu. Keesokan paginya ia datang menemui pak Adi yang berada di ruanganya.
"Permisi pak" ujar Aska.
"Iya Aska ada keperluan apa kamu datang menemui saya?" tanya pak Adi.
"Kebetulan ada yang ingin saya tanyakan, apakah bapak ada waktu?" jawab Aska.
"Iya tentu saja ada, apa yang mau kamu tanyakan?" sambung pak Adi.
Aska mulai berbincang-bincang dengan pak Adi, setelah agak berbasa-basi ia masuk ke inti percakapan secara alami.
"Pak, bagaimana sih caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?" tanya Aska.
Pak Adi menetap Aska sambil tersenyum, kemudian membawanya ke taman bunga yang ada didekat relief Universitas. Pak Adi lalu menyuruh Aska untuk berjalan di taman indah dengan bunga berwarna-warni itu jika ia ingin pertanyaannya terjawab.
"Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang menurutmu paling indah, namun jangan pernah kembali ke belakang!" perintah pak Adi.
Kemudian Aska berjalan lurus menyusuri taman bunga. Dipertengahan jalan ia menemukan bunga yang menurutnya indah, namun dia urungkan niatnya untuk memetik bunga itu, karena berpikir bahwa ada bunga yang lebih indah di depan sana. Dia pun terus berjalan dengan maksud memilih bunga yang jauh lebih indah. Maka sampailah Aska diujung taman, dengan tangan hampa tanpa sekuntum bunga yang dipetiknya. Disana Pak Adi sudah menantinya dan bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan satupun bunga?".
"Sebenarnya tadi saya sudah menemukannya tapi tidak saya petik, karena saya berpikir masih ada bunga yang lebih indah didepan sana. Ternyata ketika sudah sampai diujung saya baru sadar bahwa yang saya lihat tadi adalah yang terindah, itu semua tidak ada artinya karena saya tidak bisa kembali ke belakang". Jawab Aska setengah menyesal.
Pak Adi berkata sambil tersenyum, "Ya... itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tak akan pernah mendapatkannya. Maka dari itu janganlah mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah yang ada pada diri kita."
Aska pun akhirnya mengerti makna dari kesempurnaan sejati. Kini ia melanjutkan hidupnya dengan menyempurnakan apa yang ada dalam dirinya serta bersikap rendah hati. Karena ia tahu jika terus mengejar kesempurnaan pada akhirnya ia tidak akan mendapat apapun. Dan akhirnya ia bisa lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK yang sangat memuaskan. Tidak hanya itu, kini ia menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas nikmat Allah dan tidak sombong atas segala sesuatu yang dimilikinya.
lengkapnya https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6569063/15-teks-cerpen-singkat-beserta-pengertian-ciri-hingga-strukturnya. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Tuliskan unsur intrinsik dari cerpen diatas!
Judul: Kesempurnaan Sejati
Karangan: Nur Hidayati Ilmi, SMPN 1 Puri
Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Bagaskara Narendra yang menempuh pendidikan di sebuah Universitas ternama di kotanya. Ia merupakan murid tampan yang memiliki ratusan ribu followers di sosmednya, yah bisa dibilang dia populer. Tidak hanya itu prestasinya yang cemerlang serta background keluarga yang cukup disegani membuat dia cukup akrab dengan kebanyakan dosen sampai kadang membuat orang yang melihatnya merasa minder. Dibalik itu semua ia tak pernah sekalipun bersyukur dan selalu tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu ingin jadi yang lebih sempurna lagi dalam segala hal.
Saat pertengahan semester datanglah dosen pengganti yang akan mengajar di salah satu mata kuliahnya, karena dosen yang mengajar cuti selama seminggu. Ia memperkenalkan diri dengan ramah dan santai, namanya adalah Asrar Adiwidia. Meskipun mahasiswa lain tengah menyambut kedatangan pak Adi, bukannya senang Aska malah bergumam "Kenapa sih itu dosen pake cuti segala kan jadi harus akting lagi, untung dosen penggantinya ramah pasti gampang nih gak ada seminggu juga itu dosen pasti luluh".
Namun tak seperti yang dia rencanakan ternyata pak Adi merupakan tipe dosen yang tegas, disiplin, dan adil. Sudah hampir lima hari berlalu namun tidak ada kemajuan malah Aska diperlakukan sama seperti mahasiswa lain, tidak seperti biasanya. Aska berpikir kalau seperti ini terus rencana dia untuk menjadi yang terbaik dan terlihat sempurna bisa bisa gagal. Semalaman ia merenungkan hal itu. Keesokan paginya ia datang menemui pak Adi yang berada di ruanganya.
"Permisi pak" ujar Aska.
"Iya Aska ada keperluan apa kamu datang menemui saya?" tanya pak Adi.
"Kebetulan ada yang ingin saya tanyakan, apakah bapak ada waktu?" jawab Aska.
"Iya tentu saja ada, apa yang mau kamu tanyakan?" sambung pak Adi.
Aska mulai berbincang-bincang dengan pak Adi, setelah agak berbasa-basi ia masuk ke inti percakapan secara alami.
"Pak, bagaimana sih caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?" tanya Aska.
Pak Adi menetap Aska sambil tersenyum, kemudian membawanya ke taman bunga yang ada didekat relief Universitas. Pak Adi lalu menyuruh Aska untuk berjalan di taman indah dengan bunga berwarna-warni itu jika ia ingin pertanyaannya terjawab.
"Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang menurutmu paling indah, namun jangan pernah kembali ke belakang!" perintah pak Adi.
Kemudian Aska berjalan lurus menyusuri taman bunga. Dipertengahan jalan ia menemukan bunga yang menurutnya indah, namun dia urungkan niatnya untuk memetik bunga itu, karena berpikir bahwa ada bunga yang lebih indah di depan sana. Dia pun terus berjalan dengan maksud memilih bunga yang jauh lebih indah. Maka sampailah Aska diujung taman, dengan tangan hampa tanpa sekuntum bunga yang dipetiknya. Disana Pak Adi sudah menantinya dan bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan satupun bunga?".
"Sebenarnya tadi saya sudah menemukannya tapi tidak saya petik, karena saya berpikir masih ada bunga yang lebih indah didepan sana. Ternyata ketika sudah sampai diujung saya baru sadar bahwa yang saya lihat tadi adalah yang terindah, itu semua tidak ada artinya karena saya tidak bisa kembali ke belakang". Jawab Aska setengah menyesal.
Pak Adi berkata sambil tersenyum, "Ya... itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tak akan pernah mendapatkannya. Maka dari itu janganlah mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah yang ada pada diri kita."
Aska pun akhirnya mengerti makna dari kesempurnaan sejati. Kini ia melanjutkan hidupnya dengan menyempurnakan apa yang ada dalam dirinya serta bersikap rendah hati. Karena ia tahu jika terus mengejar kesempurnaan pada akhirnya ia tidak akan mendapat apapun. Dan akhirnya ia bisa lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK yang sangat memuaskan. Tidak hanya itu, kini ia menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas nikmat Allah dan tidak sombong atas segala sesuatu yang dimilikinya.
lengkapnya https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6569063/15-teks-cerpen-singkat-beserta-pengertian-ciri-hingga-strukturnya. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Tuliskan unsur ekstrinsik dari cerpen diatas!
Judul: Kesempurnaan Sejati
Karangan: Nur Hidayati Ilmi, SMPN 1 Puri
Alkisah ada seorang mahasiswa bernama Bagaskara Narendra yang menempuh pendidikan di sebuah Universitas ternama di kotanya. Ia merupakan murid tampan yang memiliki ratusan ribu followers di sosmednya, yah bisa dibilang dia populer. Tidak hanya itu prestasinya yang cemerlang serta background keluarga yang cukup disegani membuat dia cukup akrab dengan kebanyakan dosen sampai kadang membuat orang yang melihatnya merasa minder. Dibalik itu semua ia tak pernah sekalipun bersyukur dan selalu tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu ingin jadi yang lebih sempurna lagi dalam segala hal.
Saat pertengahan semester datanglah dosen pengganti yang akan mengajar di salah satu mata kuliahnya, karena dosen yang mengajar cuti selama seminggu. Ia memperkenalkan diri dengan ramah dan santai, namanya adalah Asrar Adiwidia. Meskipun mahasiswa lain tengah menyambut kedatangan pak Adi, bukannya senang Aska malah bergumam "Kenapa sih itu dosen pake cuti segala kan jadi harus akting lagi, untung dosen penggantinya ramah pasti gampang nih gak ada seminggu juga itu dosen pasti luluh".
Namun tak seperti yang dia rencanakan ternyata pak Adi merupakan tipe dosen yang tegas, disiplin, dan adil. Sudah hampir lima hari berlalu namun tidak ada kemajuan malah Aska diperlakukan sama seperti mahasiswa lain, tidak seperti biasanya. Aska berpikir kalau seperti ini terus rencana dia untuk menjadi yang terbaik dan terlihat sempurna bisa bisa gagal. Semalaman ia merenungkan hal itu. Keesokan paginya ia datang menemui pak Adi yang berada di ruanganya.
"Permisi pak" ujar Aska.
"Iya Aska ada keperluan apa kamu datang menemui saya?" tanya pak Adi.
"Kebetulan ada yang ingin saya tanyakan, apakah bapak ada waktu?" jawab Aska.
"Iya tentu saja ada, apa yang mau kamu tanyakan?" sambung pak Adi.
Aska mulai berbincang-bincang dengan pak Adi, setelah agak berbasa-basi ia masuk ke inti percakapan secara alami.
"Pak, bagaimana sih caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup ini?" tanya Aska.
Pak Adi menetap Aska sambil tersenyum, kemudian membawanya ke taman bunga yang ada didekat relief Universitas. Pak Adi lalu menyuruh Aska untuk berjalan di taman indah dengan bunga berwarna-warni itu jika ia ingin pertanyaannya terjawab.
"Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang menurutmu paling indah, namun jangan pernah kembali ke belakang!" perintah pak Adi.
Kemudian Aska berjalan lurus menyusuri taman bunga. Dipertengahan jalan ia menemukan bunga yang menurutnya indah, namun dia urungkan niatnya untuk memetik bunga itu, karena berpikir bahwa ada bunga yang lebih indah di depan sana. Dia pun terus berjalan dengan maksud memilih bunga yang jauh lebih indah. Maka sampailah Aska diujung taman, dengan tangan hampa tanpa sekuntum bunga yang dipetiknya. Disana Pak Adi sudah menantinya dan bertanya, "Mengapa kamu tidak mendapatkan satupun bunga?".
"Sebenarnya tadi saya sudah menemukannya tapi tidak saya petik, karena saya berpikir masih ada bunga yang lebih indah didepan sana. Ternyata ketika sudah sampai diujung saya baru sadar bahwa yang saya lihat tadi adalah yang terindah, itu semua tidak ada artinya karena saya tidak bisa kembali ke belakang". Jawab Aska setengah menyesal.
Pak Adi berkata sambil tersenyum, "Ya... itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin kita tak akan pernah mendapatkannya. Maka dari itu janganlah mencari kesempurnaan, tapi sempurnakanlah yang ada pada diri kita."
Aska pun akhirnya mengerti makna dari kesempurnaan sejati. Kini ia melanjutkan hidupnya dengan menyempurnakan apa yang ada dalam dirinya serta bersikap rendah hati. Karena ia tahu jika terus mengejar kesempurnaan pada akhirnya ia tidak akan mendapat apapun. Dan akhirnya ia bisa lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK yang sangat memuaskan. Tidak hanya itu, kini ia menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas nikmat Allah dan tidak sombong atas segala sesuatu yang dimilikinya.
lengkapnya https://www.detik.com/sulsel/berita/d-6569063/15-teks-cerpen-singkat-beserta-pengertian-ciri-hingga-strukturnya. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Tuliskan urutan alur dari cerpen diatas!
